: catatan tentang j
kini aku kembali pada catatan lama
yang tercipta di sebuah kamar kecil di kaki bukit
tentang mentari yang biru, hujan yang jingga,
dan udara yang selalu merah muda
dinding kamar yang lembab
meja dan kursi yang reyot
kabut dan gerimis yang tak kunjung sirna
menjadi kawan-kawan yang melahirkannya
: catatan itu, kenangan itu
dan kau, yang kucatat bersama jalinan kenangan
kini kau menjauh, dan tak bisa lagi kugapai
namun aku ingin melanjutkan catatan ini
bersama secangkir kopi malam ini
walau aku bimbang, hendak merangkai kisah apa lagi?
mungkin, tentang ini saja
tentang hari-hari yang lebih lampau
: hari-hari ketika aku belum mengenalmu
sidoarjo, mei 2011
Mari nikmati malam, yang diciptakan untuk jadi teman bagi renungan, juga teman menjelang mimpi.
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts
9.5.11
11.8.10
kertas kado merah muda
aku suka melihat kertas kado yang lucu itu:
bergambar bayi botak yang bibirnya nyengir
badannya hanya terbungkus sehelai popok
dalam berbagai posisi ia menjadi motif
yang begitu riang-gembira dan tanpa beban
kubungkuskan dua buah buku cerita
juga dua buah puzzle yang sederhana
saat mengamati bayi botak di kertas kado itu
tiba-tiba kuingat kau di masa lalu:
kau mengajak sapi dan kambing bicara
kau berdoa bagi pepaya agar ia cepat tumbuh-besar
kau teriaki ikan-ikan kecil yang berenang di parit
kau amati jalan kura-kura dengan mata berbinar
kaulah itu, dua-tiga tahun yang lalu
rambutmu kini panjang walaupun tipis
kau lancar bicara, pandai menari, dan suka tertawa
nanti, ketika kertas kado itu kaurobek
lalu kautemukan hadiahku di dalamnya
semoga matamu berbinar menyambut hadiahku
: selamat ulang tahun, usiamu lima tahun!
***
sidoarjo, sehari sebelum ramadhan 2010
bergambar bayi botak yang bibirnya nyengir
badannya hanya terbungkus sehelai popok
dalam berbagai posisi ia menjadi motif
yang begitu riang-gembira dan tanpa beban
kubungkuskan dua buah buku cerita
juga dua buah puzzle yang sederhana
saat mengamati bayi botak di kertas kado itu
tiba-tiba kuingat kau di masa lalu:
kau mengajak sapi dan kambing bicara
kau berdoa bagi pepaya agar ia cepat tumbuh-besar
kau teriaki ikan-ikan kecil yang berenang di parit
kau amati jalan kura-kura dengan mata berbinar
kaulah itu, dua-tiga tahun yang lalu
rambutmu kini panjang walaupun tipis
kau lancar bicara, pandai menari, dan suka tertawa
nanti, ketika kertas kado itu kaurobek
lalu kautemukan hadiahku di dalamnya
semoga matamu berbinar menyambut hadiahku
: selamat ulang tahun, usiamu lima tahun!
***
sidoarjo, sehari sebelum ramadhan 2010
24.2.10
dik, maukah kau?
dik, maukah kau
menikmati senja terindah?
sebuah gunung harus kita taklukkan
belukar dan ilalang akan kita terjang
pendakian jarang istirahat akan kita adakan
hingga puncak gunung itu tergapai
dan matamu yang lelah-teduh
tentunya akan berubah indah
membaur dengan senyummu
dan ujar-ujarmu yang riang dan manja
: senja, oh, senja!
dik, maukah kau
menikmati senja terindah lagi?
sebuah hutan akan kita terabas
menuju pantai perawan itu
di tepi pulau kita yang sunyi
yang mungkin dihuni binatang buas
tak ada turis di sana
tak ada warkop dan persewaan pakaian renang
namun kau harus memikul kayu bakar
dan aku membawa perlengkapan tenda
berat dik? tak masalah, katamu
hingga peluh yang ada di keningmu kelak kuhapus
dan matamu kembali bersinar
bibirmu kembali bergetar
: senja, oh, senja!
dik, maukah kau
menikmati senja terindah...
lagi?
tolong buatkan aku secangkir teh
maka nanti akan kukisahkan kepadamu
sebentuk kisah yang mengantarmu menjelang malam
tanpa pernah melupakan
: senja kali ini
malang-sidoarjo, dalam bis, menjelang senja
21.02.2010
menikmati senja terindah?
sebuah gunung harus kita taklukkan
belukar dan ilalang akan kita terjang
pendakian jarang istirahat akan kita adakan
hingga puncak gunung itu tergapai
dan matamu yang lelah-teduh
tentunya akan berubah indah
membaur dengan senyummu
dan ujar-ujarmu yang riang dan manja
: senja, oh, senja!
dik, maukah kau
menikmati senja terindah lagi?
sebuah hutan akan kita terabas
menuju pantai perawan itu
di tepi pulau kita yang sunyi
yang mungkin dihuni binatang buas
tak ada turis di sana
tak ada warkop dan persewaan pakaian renang
namun kau harus memikul kayu bakar
dan aku membawa perlengkapan tenda
berat dik? tak masalah, katamu
hingga peluh yang ada di keningmu kelak kuhapus
dan matamu kembali bersinar
bibirmu kembali bergetar
: senja, oh, senja!
dik, maukah kau
menikmati senja terindah...
lagi?
tolong buatkan aku secangkir teh
maka nanti akan kukisahkan kepadamu
sebentuk kisah yang mengantarmu menjelang malam
tanpa pernah melupakan
: senja kali ini
malang-sidoarjo, dalam bis, menjelang senja
21.02.2010
21.1.10
anak itu dan kripik tempenya
"kula kelas gangsal, pak."
demikian ia menjawabku ketika kutanya
ia masih sekolah apa tidak
rambutnya klimis
senyumnya selalu tipis
dengan sepeda mini yang ia kayuh
santai ia membuat malu
para bajingan yang korup
yang menghiasi
lembar-lembar koran
akan kutunggu kripik tempemu
nikmat, mungkin buatan ayahmu
titip salam buatnya
ingin kuyakinkan dia
bahwa hidupnya bermartabat
memiliki anak sepertimu
yang tak pernah malu
menitipkan kripik tempe
di warkop itu buatku
kriuk kriuk, renyah sekali
ah, teman kecilku
segeralah datang lagi
kopi, koran, buku
dan lagu-lagu dangdut
yang selalu sertaiku
di warkop itu
kurang asoi tanpa
kripik tempemu
***
sepulang dari warkop cak min, 20 jan 2010;
di warkop melihat kripik tempe yg tgl 1 bungkus
demikian ia menjawabku ketika kutanya
ia masih sekolah apa tidak
rambutnya klimis
senyumnya selalu tipis
dengan sepeda mini yang ia kayuh
santai ia membuat malu
para bajingan yang korup
yang menghiasi
lembar-lembar koran
akan kutunggu kripik tempemu
nikmat, mungkin buatan ayahmu
titip salam buatnya
ingin kuyakinkan dia
bahwa hidupnya bermartabat
memiliki anak sepertimu
yang tak pernah malu
menitipkan kripik tempe
di warkop itu buatku
kriuk kriuk, renyah sekali
ah, teman kecilku
segeralah datang lagi
kopi, koran, buku
dan lagu-lagu dangdut
yang selalu sertaiku
di warkop itu
kurang asoi tanpa
kripik tempemu
***
sepulang dari warkop cak min, 20 jan 2010;
di warkop melihat kripik tempe yg tgl 1 bungkus
19.1.10
aku tadi merokok, tuhan
aku tadi merokok, tuhan
kata seorang teman gerejaku itu dosa
itu merusak bait allah
tapi teman gerejaku itu hobi makan anjing dan babi
sampai kolesterolnya tinggi sekali
masuk rumah sakit karenanya
jadi, bait allahnya rusak sekali
aku tadi merokok, tuhan
tapi tidak kecanduan kok
hanya mengisapnya sesekali
ditemani buku yang indah sekali
sehingga malam mingguku yang sepi
jadi sedikit berseri
aku tadi merokok, tuhan
dan waktu merokok ingin minum bir
kata temanku itu juga dosa
padahal aku tidak mabuk
bahkan tidak pernah mabuk
hanya ingin menghangatkan badan
pada malam di kota malang yang sejuk
aku tadi merokok, tuhan
dan mendengarkan musik rock
temanku bilang lagi-lagi itu dosa
padahal musik itu membangkitkan semangat
dan mengusir kepedihan hati
aku tadi merokok, tuhan
bolehkah aku besok tetap ke gereja?
aku takut diusir temanku
yang gendutnya mirip babi itu
tapi kalau aku diusir
ya tidak apa-apalah, tuhan
mungkin aku akan ke warkop lagi
nyumet rokok, membuka firmanmu
dan merenungkannya
bersama iringan musik rock
dan ditemani sekaleng bir dingin
malang, 16 januari 2010
kata seorang teman gerejaku itu dosa
itu merusak bait allah
tapi teman gerejaku itu hobi makan anjing dan babi
sampai kolesterolnya tinggi sekali
masuk rumah sakit karenanya
jadi, bait allahnya rusak sekali
aku tadi merokok, tuhan
tapi tidak kecanduan kok
hanya mengisapnya sesekali
ditemani buku yang indah sekali
sehingga malam mingguku yang sepi
jadi sedikit berseri
aku tadi merokok, tuhan
dan waktu merokok ingin minum bir
kata temanku itu juga dosa
padahal aku tidak mabuk
bahkan tidak pernah mabuk
hanya ingin menghangatkan badan
pada malam di kota malang yang sejuk
aku tadi merokok, tuhan
dan mendengarkan musik rock
temanku bilang lagi-lagi itu dosa
padahal musik itu membangkitkan semangat
dan mengusir kepedihan hati
aku tadi merokok, tuhan
bolehkah aku besok tetap ke gereja?
aku takut diusir temanku
yang gendutnya mirip babi itu
tapi kalau aku diusir
ya tidak apa-apalah, tuhan
mungkin aku akan ke warkop lagi
nyumet rokok, membuka firmanmu
dan merenungkannya
bersama iringan musik rock
dan ditemani sekaleng bir dingin
malang, 16 januari 2010
11.1.10
catatan porong 2
untuk wawan eko yulianto dan denmas marto
kini tak tersisa panas dan sengat
namun hujan penuh deru dan hawa yang bikin menggigil
mereka membawa cerita masa lalu
ketika hujan yang mesra mengguyuri atap rumah
dan menghadirkan lelap atau mimpi malam
kini lumpur berbaur dengan air hujan
mengalir melalui celah-celah tanggul di tepian jalan
pada aliran-aliran itu, aku kini mencari-cari
adakah mimpi yang masih tersisa di sini?
porong-sda, 10 jan 2010
kini tak tersisa panas dan sengat
namun hujan penuh deru dan hawa yang bikin menggigil
mereka membawa cerita masa lalu
ketika hujan yang mesra mengguyuri atap rumah
dan menghadirkan lelap atau mimpi malam
kini lumpur berbaur dengan air hujan
mengalir melalui celah-celah tanggul di tepian jalan
pada aliran-aliran itu, aku kini mencari-cari
adakah mimpi yang masih tersisa di sini?
porong-sda, 10 jan 2010
7.1.10
rumah kecil
di dalam rumah kecil kita
ya kekasih
selalu ada roti yang segar
dan air yang tak pernah berhenti memancar
di rumah kecil kita
ya kekasih
ada bunga bakung yang indah
dan burung pipit
yang selalu mampir usir kuatir
di rumah kecil kita
ya kekasih
sayangnya tak ada bantal untukmu
atau kasur empuk penghalau lelah
sudahlah kawan
katamu ya kekasih
biar aku melipat-lipat rumah ini
menyelipkannya dalam hatimu
dalam relung hatimu
sn, sidoarjo, 040110, stlh ibdh pghbrn
ya kekasih
selalu ada roti yang segar
dan air yang tak pernah berhenti memancar
di rumah kecil kita
ya kekasih
ada bunga bakung yang indah
dan burung pipit
yang selalu mampir usir kuatir
di rumah kecil kita
ya kekasih
sayangnya tak ada bantal untukmu
atau kasur empuk penghalau lelah
sudahlah kawan
katamu ya kekasih
biar aku melipat-lipat rumah ini
menyelipkannya dalam hatimu
dalam relung hatimu
sn, sidoarjo, 040110, stlh ibdh pghbrn
20.12.09
simpang tiga
jalan remang
kesunyian
menjalarkan resah
di benak dan kaki
di kaki langit ini
kueja lagi
segala...
jejak-langkah
sidoarjo, 19.12.2009
kesunyian
menjalarkan resah
di benak dan kaki
di kaki langit ini
kueja lagi
segala...
jejak-langkah
sidoarjo, 19.12.2009
8.12.09
terima kasih, telah menganggap hidupku tak penting
: dua fragmen pengabaian
terima kasih, karena kau membuatku sadar
hidup ini tak sekedar mengejar mimpi
namun juga menakar arti caci-maki
dalam menyejatikan jati-diri
terima kasih, karena dalam tiap doamu
aku tak pernah kausebut dan kauingat
walau aku pernah memintamu sesekali bersyafaat
kaulupakan aku... aku tak melintas-lewat
terima kasih, karena kau selalu diam saja
dan menganggap sepi semua kemurahanku
kau tahu bahwa itu semua tak penting bagimu
dan bahwa hidupmu akan jauh lebih berwarna tanpaku
terima kasih, karena kau menyadarkanku pada kuasa waktu
yang mengurai makna derai tawa dan tangisku yang bising
kususur jejak-langkah yang sebelumnya hening
dan kini aku bersyukur, seraya sedikit merinding
: terima kasih, telah menganggap hidupku tak penting
***
lalu kulihat sebidang tanah di bumi terkoyak malam ini
dari sana muncul wajah-wajah buas hitam dan merah
mata membara, badan penuh luka, dan seringai amarah
menyatu dalam sosok-sosok tanpa raga yang tampak gerah
aku mengenal satu orang di antara mereka
: ada di buku sejarah! ada di buku pelajaran!
terkenal pekikannya, singa muda julukannya
dan ia kini membariskan para wajah: "maju jalan!"
para wajah menghentakkan kaki dengan seragam
langkah mereka terayun cepat, makin cepat, dan terbang!
di sebuah istana di pusat kota mereka berada sekarang
kunantikan apa yang akan dilakukan mereka dalam berang
"jikalau mereka yang hidup lupa memperjuangkan keadilan,
biarlah kami yang sudah mati bangkit menentang kesewenangan!"
demi tuhan, ngeri namun bergairah kudengar sorak dan riuh
yang membahana, kisruh, bising dan menggemuruh!
terima kasih, telah menganggap hidupku tak penting
tapi kini, aku tak lagi hanya menyusur jejak-langkah yang hening
aku pun memadu bising bersama sederetan wajah gerah
: "sialan kau penguasa! becuslah sedikit menangani resah!"
***
sidoarjo, 7 desember 2009, menjelang tengah malam
catatan: awalnya ingin membuat puisi ini diiringi lagunya afgan: "terima kasih cinta" -- tapi kok gak pas. nah, akhirnya, puisi ini lahir ditemani lagunya metallica: "sad but true" -- pas banget.
terima kasih, karena kau membuatku sadar
hidup ini tak sekedar mengejar mimpi
namun juga menakar arti caci-maki
dalam menyejatikan jati-diri
terima kasih, karena dalam tiap doamu
aku tak pernah kausebut dan kauingat
walau aku pernah memintamu sesekali bersyafaat
kaulupakan aku... aku tak melintas-lewat
terima kasih, karena kau selalu diam saja
dan menganggap sepi semua kemurahanku
kau tahu bahwa itu semua tak penting bagimu
dan bahwa hidupmu akan jauh lebih berwarna tanpaku
terima kasih, karena kau menyadarkanku pada kuasa waktu
yang mengurai makna derai tawa dan tangisku yang bising
kususur jejak-langkah yang sebelumnya hening
dan kini aku bersyukur, seraya sedikit merinding
: terima kasih, telah menganggap hidupku tak penting
***
lalu kulihat sebidang tanah di bumi terkoyak malam ini
dari sana muncul wajah-wajah buas hitam dan merah
mata membara, badan penuh luka, dan seringai amarah
menyatu dalam sosok-sosok tanpa raga yang tampak gerah
aku mengenal satu orang di antara mereka
: ada di buku sejarah! ada di buku pelajaran!
terkenal pekikannya, singa muda julukannya
dan ia kini membariskan para wajah: "maju jalan!"
para wajah menghentakkan kaki dengan seragam
langkah mereka terayun cepat, makin cepat, dan terbang!
di sebuah istana di pusat kota mereka berada sekarang
kunantikan apa yang akan dilakukan mereka dalam berang
"jikalau mereka yang hidup lupa memperjuangkan keadilan,
biarlah kami yang sudah mati bangkit menentang kesewenangan!"
demi tuhan, ngeri namun bergairah kudengar sorak dan riuh
yang membahana, kisruh, bising dan menggemuruh!
terima kasih, telah menganggap hidupku tak penting
tapi kini, aku tak lagi hanya menyusur jejak-langkah yang hening
aku pun memadu bising bersama sederetan wajah gerah
: "sialan kau penguasa! becuslah sedikit menangani resah!"
***
sidoarjo, 7 desember 2009, menjelang tengah malam
catatan: awalnya ingin membuat puisi ini diiringi lagunya afgan: "terima kasih cinta" -- tapi kok gak pas. nah, akhirnya, puisi ini lahir ditemani lagunya metallica: "sad but true" -- pas banget.
23.11.09
sidoarjo
untuk cak oke, wong krembung
embun tak hanya menyisakan uap samar,
ketika diambung hangat cahaya mentari di pagi kelam,
di sekuntum atau hanya sekelopak bunga merah muda.
namun di segenap penjuru kota
: jejak mereka berupa kabut putih menggantung di angkasa!
uh la la... pemandangan beda, cak!
di pagi yang belum jangkep ini,
terasa air di bak mandi lebih hangat
mengena kaki yang telah terhembus angin beberapa menit
wajah-wajah sumringah mencari nafkah
bagai lupa pada segala kesah
akibat debu dan panas yang bikin gerah
"... and i think to myself, what a wonderful world,"
kunyanyikan kali ini; padahal biasanya,
kunyanyikan lagu malaysia itu
: "suci dalam debu"
sidoarjo, 23.11.2009
isuk-isuk, sak durunge budal kerjo
embun tak hanya menyisakan uap samar,
ketika diambung hangat cahaya mentari di pagi kelam,
di sekuntum atau hanya sekelopak bunga merah muda.
namun di segenap penjuru kota
: jejak mereka berupa kabut putih menggantung di angkasa!
uh la la... pemandangan beda, cak!
di pagi yang belum jangkep ini,
terasa air di bak mandi lebih hangat
mengena kaki yang telah terhembus angin beberapa menit
wajah-wajah sumringah mencari nafkah
bagai lupa pada segala kesah
akibat debu dan panas yang bikin gerah
"... and i think to myself, what a wonderful world,"
kunyanyikan kali ini; padahal biasanya,
kunyanyikan lagu malaysia itu
: "suci dalam debu"
sidoarjo, 23.11.2009
isuk-isuk, sak durunge budal kerjo
5.10.09
menghitung jerawatmu, kala senja itu
: mengenang sebuah adegan di sebuah warung di payung, batu, beberapa tahun silam
punggung tanganku hangat banget
akibat sepoi nafasmu,
ketika sebuah jariku menghitung beberapa bintik jerawat
di sekitar pipimu.
kita telah lelah mengisi jeda dialog dengan desah panjang,
atau sesekali lirikan
: aku meliriki tangan kananmu, kau meliriki tangan kiriku.
"dua belas biji," kataku. "kayak jumlah murid yesus. tapi kecil-kecil kok jerawatmu, dik."
tadi di hitungan kesembilan,
jariku akhirnya kusentuhkan ke pipimu.
di hitungan kesepuluh,
kau terpejam.
di hitungan kesebelas,
aku menggeser dudukku.
dekat-dekat ah...
di hitungan keduabelas,
senja usai
dan, lho... hujan kok tiba-tiba turun?
"lampu-lampu menyala!" kataku dua kali.
matamu terbuka, wajahmu pun bagai bercahaya.
di pundakku aku mengendus bau sampo.
sebagian rambutmu bikin geli sebagian leherku.
"sekarang gantian, mas," katamu sambil memegang tanganku. "aku ingin menghitung jumlah rambut di tanganmu. boleh kan?"
aneh, aku jadi mecucu sambil tersenyum.
sidoarjo, hari abri 2009
punggung tanganku hangat banget
akibat sepoi nafasmu,
ketika sebuah jariku menghitung beberapa bintik jerawat
di sekitar pipimu.
kita telah lelah mengisi jeda dialog dengan desah panjang,
atau sesekali lirikan
: aku meliriki tangan kananmu, kau meliriki tangan kiriku.
"dua belas biji," kataku. "kayak jumlah murid yesus. tapi kecil-kecil kok jerawatmu, dik."
tadi di hitungan kesembilan,
jariku akhirnya kusentuhkan ke pipimu.
di hitungan kesepuluh,
kau terpejam.
di hitungan kesebelas,
aku menggeser dudukku.
dekat-dekat ah...
di hitungan keduabelas,
senja usai
dan, lho... hujan kok tiba-tiba turun?
"lampu-lampu menyala!" kataku dua kali.
matamu terbuka, wajahmu pun bagai bercahaya.
di pundakku aku mengendus bau sampo.
sebagian rambutmu bikin geli sebagian leherku.
"sekarang gantian, mas," katamu sambil memegang tanganku. "aku ingin menghitung jumlah rambut di tanganmu. boleh kan?"
aneh, aku jadi mecucu sambil tersenyum.
sidoarjo, hari abri 2009
27.8.09
potret
: untuk dua anugerah terbesar selain keselamatan
mencoba kueja
arti hening dan remang
yang diresahi nyanyian wanita itu sesekali
dengan sedikit bising dan sumbang
bersama hadirat suci pagi demi pagi
yang mengurai yakinnya yang teguh:
"anak-anakku dalam memori,
serah kuhaturkan dalam genggamanMu,
senantiasa"
coba-coba kupetakan
segala rekam-jejak
lelah tubuh dan daya-juang pria itu di masa lalu
ketika angin pagi mendesiri raganya sambil pergi
sunyi, dari kota ke kota, pagi demi pagi
resah dan asa berpadu di jiwa:
"anak-anakku dalam angan,
sejahteralah masa depan mereka,
selalu"
sidoarjo, 27 agustus 2009
: malam, setelah memandangi sebuah potret dua manusia
mencoba kueja
arti hening dan remang
yang diresahi nyanyian wanita itu sesekali
dengan sedikit bising dan sumbang
bersama hadirat suci pagi demi pagi
yang mengurai yakinnya yang teguh:
"anak-anakku dalam memori,
serah kuhaturkan dalam genggamanMu,
senantiasa"
coba-coba kupetakan
segala rekam-jejak
lelah tubuh dan daya-juang pria itu di masa lalu
ketika angin pagi mendesiri raganya sambil pergi
sunyi, dari kota ke kota, pagi demi pagi
resah dan asa berpadu di jiwa:
"anak-anakku dalam angan,
sejahteralah masa depan mereka,
selalu"
sidoarjo, 27 agustus 2009
: malam, setelah memandangi sebuah potret dua manusia
23.7.09
Amour pour la vie || Cinta untuk selamanya
J'étais curieux
Je ferai ce qu'il vous plaira
Ah, pourquoi ? À quoi bon ? Qu'importe ? a-t-il réplique
Je l'avoue, j'espérais encore
Je gardais le silence
Je suis calme et pétrifie
Je pense, que je ne penserai plus ce soir
Tout est fini, bien fini ...
Maintenant, Dieu merci, je n'espère plus
J'avais le paradis dans le coeur
Je compris, Je me suis dit
Un jour viendra
: Amour pour la vie
===
Aku penasaran
Aku melakukan semua demi menyenangkanmu
Ah, kenapa? Apa gunanya? Apa pentingnya? jawabmu
Kuakui, saat itu aku masih berharap
Aku diam dalam keheningan
Aku sunyi dan terpaku
Kupikir, aku tidak akan berpikir lagi malam ini
Semua telah selesai, benar-benar selesai ...
Sekarang, terima kasih Tuhan, aku tidak berharap lagi
Di dadaku ada surga
Aku mengerti, aku berkata pada diriku sendiri
Suatu hari akan tiba
: Cinta untuk selamanya
~sn. 2008~
Je ferai ce qu'il vous plaira
Ah, pourquoi ? À quoi bon ? Qu'importe ? a-t-il réplique
Je l'avoue, j'espérais encore
Je gardais le silence
Je suis calme et pétrifie
Je pense, que je ne penserai plus ce soir
Tout est fini, bien fini ...
Maintenant, Dieu merci, je n'espère plus
J'avais le paradis dans le coeur
Je compris, Je me suis dit
Un jour viendra
: Amour pour la vie
===
Aku penasaran
Aku melakukan semua demi menyenangkanmu
Ah, kenapa? Apa gunanya? Apa pentingnya? jawabmu
Kuakui, saat itu aku masih berharap
Aku diam dalam keheningan
Aku sunyi dan terpaku
Kupikir, aku tidak akan berpikir lagi malam ini
Semua telah selesai, benar-benar selesai ...
Sekarang, terima kasih Tuhan, aku tidak berharap lagi
Di dadaku ada surga
Aku mengerti, aku berkata pada diriku sendiri
Suatu hari akan tiba
: Cinta untuk selamanya
~sn. 2008~
14.5.09
1 pembuka dan 3 cuplik romantika
1.
cinta yang digdaya
menitis dalam lelaku dan kata-kata
getar-rinding berhamburan dalam imaji
: tampakkan awan merahmuda bersemu nila
2.
trotoar dirindangi beringin-beringin tua
malam sunyi, dua jiwa gandengan tangan,
: saling mengelus lembut; pun dua pundak tak lelah bertaut
di trotoar sepanjang setengah kilo, satu jam berlalu
3.
payung digenggam erat tangan si kekar
hujan berderai di senja yang muram, tibakan gulita prematur
si manis mendengar nyata irama denyut jantung
sentosa-sejahtera pun teracik dalam helai-helai dingin
4.
lampu-lampu kota tersaksikan dari sebuah bukit
menyala satu-satu, dua-dua, atau tiga-tiga
rembulan nongol lambat-lambat, datangkan nyenyat
satu, dua, tiga... si manis dan si kekar kian merapat
sidoarjo, 12 mei 2009
: merayakan romantika, setelah sekian lama
cinta yang digdaya
menitis dalam lelaku dan kata-kata
getar-rinding berhamburan dalam imaji
: tampakkan awan merahmuda bersemu nila
2.
trotoar dirindangi beringin-beringin tua
malam sunyi, dua jiwa gandengan tangan,
: saling mengelus lembut; pun dua pundak tak lelah bertaut
di trotoar sepanjang setengah kilo, satu jam berlalu
3.
payung digenggam erat tangan si kekar
hujan berderai di senja yang muram, tibakan gulita prematur
si manis mendengar nyata irama denyut jantung
sentosa-sejahtera pun teracik dalam helai-helai dingin
4.
lampu-lampu kota tersaksikan dari sebuah bukit
menyala satu-satu, dua-dua, atau tiga-tiga
rembulan nongol lambat-lambat, datangkan nyenyat
satu, dua, tiga... si manis dan si kekar kian merapat
sidoarjo, 12 mei 2009
: merayakan romantika, setelah sekian lama
5.5.09
Sahabat-sahabat Kecil
: untuk adik-adikku di Desa Gadingkulon
Aku mengingat-ingat dan mengenang-ngenangmu
Yang kini hampir meniada dalam renung pencarianku
Dalam kabut dan dingin yang mengangakan resah
Aku menghirup lagi makna pemberianmu: tawa dan desah
Tiada duka nelangsa yang tertuang dalam senandung
Aku hanya ingin uraikan kangen dalam untaian renung
Menepis rasa ini akan kian memanjangkan gelisah
Menuangkannya dalam puisi hilangkan jengah
Padamu, ya sahabat-sahabat kecil yang suka bernyanyi
Kunyanyikan lirik tentang awan yang pernah kita saksikan
Juga bulan yang suka kita agungkan dan puja-puji
Tentang alam, yang membuat kita hilang penderitaan
Kini, didesahi rindu yang dalam, kunyanyikan lagu
Satu-satu Aku Sayang Ibu, Indonesia Raya
Tek Otek-otek Jambu, Balonku Ada Lima
Bintang Kecil di Langit yang Biru, Berkibarlah Benderaku!
© Sidik Nugroho, 2006
Pernah dimuat di Suara Pembaruan: 30 Juli 2006
15.4.09
gadis cantik
dia mengenakan baju cokelat muda
bersenyum wajar
di sidoarjo yang panas, benakku seketika adem mendengar suaranya
: "pesan apa, mas?"
mesra nian bagiku, hingga ingin kujawab
:"pesan kamu boleh?"
"telur dan tempe saja," kataku
dia menggoreng dua pesananku dengan santai
dia, gadis penjual aneka lalapan itu,
sekali waktu mengerling; aku pun bimbang-bingung
: kenapa harus kutatapi lama-lama lentik bulu matanya?
"ibu! ibu!" kata seorang anak kecil
oh, ternyata dia bukan gadis lagi!
dirangkulnya anak itu, ditanyanya ada apa
"pengen digendong..."
dan ketika dia mengangkat anaknya,
sekali lagi dia mengerling kepadaku
sambil melempar mesra sebuah bonus
: senyum manis dari wajah juwitanya!
ah, sialan, aku benar-benar ingin main mata,
andai tadi tak ada suara mungil: "ibu! ibu!"
gedangan-buduran, maret 2009
puisi oleh-oleh buat ko ardian dan ko fredy
bersenyum wajar
di sidoarjo yang panas, benakku seketika adem mendengar suaranya
: "pesan apa, mas?"
mesra nian bagiku, hingga ingin kujawab
:"pesan kamu boleh?"
"telur dan tempe saja," kataku
dia menggoreng dua pesananku dengan santai
dia, gadis penjual aneka lalapan itu,
sekali waktu mengerling; aku pun bimbang-bingung
: kenapa harus kutatapi lama-lama lentik bulu matanya?
"ibu! ibu!" kata seorang anak kecil
oh, ternyata dia bukan gadis lagi!
dirangkulnya anak itu, ditanyanya ada apa
"pengen digendong..."
dan ketika dia mengangkat anaknya,
sekali lagi dia mengerling kepadaku
sambil melempar mesra sebuah bonus
: senyum manis dari wajah juwitanya!
ah, sialan, aku benar-benar ingin main mata,
andai tadi tak ada suara mungil: "ibu! ibu!"
gedangan-buduran, maret 2009
puisi oleh-oleh buat ko ardian dan ko fredy
9.4.09
Darah
darah adalah buah luka
yang didera oleh derita
ia adalah merahnya merah
yang meredakan amuk amarah
darah adalah penebusan abadi
yang bangkitkan manusia mati
ia mengaum pada setan-setan
memercikkan terang pada kegelapan
yang didera oleh derita
ia adalah merahnya merah
yang meredakan amuk amarah
darah adalah penebusan abadi
yang bangkitkan manusia mati
ia mengaum pada setan-setan
memercikkan terang pada kegelapan
17.2.09
beberapa temanku, malam ini
getar dan deru-guruh kereta-kereta yang laju
langit kelam tanpa bintik-bintik cahaya putih nan agung
petikan gitar yang melantunkan melodi tentang
: caya samar lampu merkuri jingga pucat
ah, ehm, seekor semut melintas,
tak bergerak sesaat, kini bagai menatapku
"mari kita lanjutkan cerita kita," katanya
"sebelum jamur menggerayangi...."
katanya lagi, sedikit tercekat kini, lalu sunyi
"menggerayangi apa sih?" tanyaku penasaran
"sela-sela keyboard laptop tuamu!"
jawabnya lugas, lalu pergi
melangkah santai namun yakin ia,
menuju kekelaman, menuju hidup tanpa sinar
tanpa hiraukan
: teman-temanku yang lain
sidoarjo,
16 februari 2009, 23.28
langit kelam tanpa bintik-bintik cahaya putih nan agung
petikan gitar yang melantunkan melodi tentang
: caya samar lampu merkuri jingga pucat
ah, ehm, seekor semut melintas,
tak bergerak sesaat, kini bagai menatapku
"mari kita lanjutkan cerita kita," katanya
"sebelum jamur menggerayangi...."
katanya lagi, sedikit tercekat kini, lalu sunyi
"menggerayangi apa sih?" tanyaku penasaran
"sela-sela keyboard laptop tuamu!"
jawabnya lugas, lalu pergi
melangkah santai namun yakin ia,
menuju kekelaman, menuju hidup tanpa sinar
tanpa hiraukan
: teman-temanku yang lain
sidoarjo,
16 februari 2009, 23.28
31.12.08
Sebelum Nisanmu Tertancap
: puisi tahun baru
sebelum nisanmu tertancap,
sudah kau perjuangkankah harap?
menjadi pribadi yang tak lemah semangat,
ketika hidup dan nyawa lambatlaun didekati karat?
sebelum nisanmu tertancap,
adakah hati yang selalu siap,
menjadikan impianmu bukan sekedar gembargembor,
tapi terus bersemayam di dada walau kau tak tersohor?
sebelum nisanmu tertancap,
sudah kauampunikah mereka yang silap,
yang kerap membuat dirimu jadi tak berdaya,
akibat dusta, maki, fitnah dan cela yang menusuk jiwa?
sebelum nisanmu tertancap,
pernahkah kemulianNya kautangkap?
kausimpankah di hatimu janjiNya dan perintahNya?
hingga kelak kau dapat yakin kembali dalam pelukanNya?
semarang-malang, 2008
sebelum nisanmu tertancap,
sudah kau perjuangkankah harap?
menjadi pribadi yang tak lemah semangat,
ketika hidup dan nyawa lambatlaun didekati karat?
sebelum nisanmu tertancap,
adakah hati yang selalu siap,
menjadikan impianmu bukan sekedar gembargembor,
tapi terus bersemayam di dada walau kau tak tersohor?
sebelum nisanmu tertancap,
sudah kauampunikah mereka yang silap,
yang kerap membuat dirimu jadi tak berdaya,
akibat dusta, maki, fitnah dan cela yang menusuk jiwa?
sebelum nisanmu tertancap,
pernahkah kemulianNya kautangkap?
kausimpankah di hatimu janjiNya dan perintahNya?
hingga kelak kau dapat yakin kembali dalam pelukanNya?
semarang-malang, 2008
23.12.08
Cinta di Mata Seorang Pelacur
cinta adalah kentut busuk yang diterbangkan angin
baunya najis, membuat kau jadi ingin muntah
kala itu hasrat-gejolak hanya berisi paduan nafsu dan ingin
yang terbungkus dalam kata-kata asmara yang pongah
cinta adalah nafsu serakah nan buas-beringas
manusia jadi diledakkan oleh gairah yang panas
ia tak lagi kenal kasih sayang dan perhatian
yang ia inginkan semata-mata persetubuhan
cinta terserak-serak di sana-sini, di mana-mana
ia diucapkan, dihambarkan waktu, lalu menghilang
ia wujud derita-sengsara manusia yang hatinya luka
ia mencari gelap pada kisar terang-benderang
cinta membuat manusia yang memilikinya bagai babi
seruduk sana-sini tanpa hitung-hitung harga diri
dia yang mengaku mencinta penuh tipu daya dan manja
lalu rupanya tampak bagai seonggok sampah dicampur tinja
sidik nugroho, 2005-2008
baunya najis, membuat kau jadi ingin muntah
kala itu hasrat-gejolak hanya berisi paduan nafsu dan ingin
yang terbungkus dalam kata-kata asmara yang pongah
cinta adalah nafsu serakah nan buas-beringas
manusia jadi diledakkan oleh gairah yang panas
ia tak lagi kenal kasih sayang dan perhatian
yang ia inginkan semata-mata persetubuhan
cinta terserak-serak di sana-sini, di mana-mana
ia diucapkan, dihambarkan waktu, lalu menghilang
ia wujud derita-sengsara manusia yang hatinya luka
ia mencari gelap pada kisar terang-benderang
cinta membuat manusia yang memilikinya bagai babi
seruduk sana-sini tanpa hitung-hitung harga diri
dia yang mengaku mencinta penuh tipu daya dan manja
lalu rupanya tampak bagai seonggok sampah dicampur tinja
sidik nugroho, 2005-2008
Subscribe to:
Posts (Atom)

