Selasa sore, 31 Maret, pantatku sudah tidak karu-karuan rasanya. Setelah mengantar tiga naskah ke Penerbit Andi cabang Surabaya di daerah Tenggilis, gejala ambeien mulai terasa. Namun, aku masih tetap cuek. Malamnya -- nah lo, rasain! -- aku selalu kebelet buang air. Dan yang keluar darah, darah dan darah. Celana pendekku berlumuran darah di atas tempat tidur. Dengan sisa-sisa tenaga, kukendarai sepeda motorku, kubeli Ambeven di apotik terdekat. Tapi masih saja: darah terus keluar. Hingga jam tiga pagi aku tidak bisa tidur tenang.
Paginya, aku memaksakan diriku menyeterika baju seragam mengajar. Segera kukenakan, dan aku memang niat berangkat ke sekolah karena hari ini, tanggal 1, hingga tanggal 3, ada assessment (penilaian kinerja guru menggunakan tim penilai dari luar). Tapi, aku sudah tidak kuat. Aku putar arah, langsung menuju rumah sakit Siti Hajar.
Di UGD Siti Hajar dokternya cukup sigap. Dia suruh aku buka celana, njengking, lalu... ini dia bagian yang ngeri. Dia mengambil semacam tabung besar -- sebesar semprotan Baygon cair yang tradisional, bukan yang spray, kurasa kau tahu maksudku -- yang berbentuk seperti pensil. Di pangkal tabung itu ada bagian yang menjadi penyemprotnya. Ujungnya ia masukkan di pantatku lalu penyemprotnya ia tekan. Aku menjerit dan menangis saat itu. Edan tenan, benar-benar sakit!
Semprotan sabun yang dikeluarkan oleh alat itu ternyata bertujuan membantuku untuk memasukkan (maaf) duburku. "Nanti gunakan empat jarimu untuk menekan dan mendorong, sabun tadi akan membantunya masuk," kata dokter. Ketika berjalan menuju kamar mandi dari ruang UGD aku merasa seperti sudah berusia 80 tahun: aku berjalan pelan sekali. Langkah-langkah kakiku hanya mampu bergerak sejauh 10-15 sentimeter.
Celakanya, begitu sampai di kamar mandi, aku kebelet pup. Dan, aku melakukannya! Nah, amblaslah sabun pelicin tadi yang bertujuan melancarkan masuknya (maaf) duburku ke bagian dalam pantatku.
Keluar dari kamar mandi, aku berjalan pelan-pelan lagi. Begitu kuceritai aku pup, dokternya mesam-mesem. "Ya sudah, yang penting obat dari saya nanti diminum," katanya. Aku duduk-duduk dulu di situ beberapa menit, menunggu nyeri di pantatku sirna.
Aku berjalan menuju apotek rumah sakit, mengambil obat. Seorang asing yang baik hati membantuku mengambilkan obat dan membayar di apotek. Setelah mengambil obat, aku duduk-duduk lagi di koridor rumah sakit. Kutelepon beberapa teman. Ada yang tertawa mendengar sakitku, ada yang berduka. Tak lama kemudian dua temanku yang baik hati -- yang dulu satu kos denganku -- menawari aku untuk istirahat di rumah kontrakan mereka. Ya, rumah kontrakan mereka lebih dekat daripada kosku dari rumah sakit.
Akhirnya aku istirahat di rumah kontrakan itu dengan tenang. Siang bangun sekali, cari makan. Tidur lagi hingga lewat maghrib. Aku kemudian istirahat dua hari sesuai petunjuk dokter.
Tentang assessment-ku yang tertunda dua hari karena sakitku itu, puji Tuhan, aku mendapat anugerah khusus: akan ada tim yang akan meng-assess aku -- hanya aku! -- hari Selasa, tanggal 7 April nanti. Aku bersyukur untuk hal ini, walau kadang masih geli juga membayangkan:
Gara-gara (maaf) asshole sakit, assessment jadi tertunda! ***
Catatan:
Aku tidak sedang bermaksud memaki dengan menulis "asshole". "Asshole" dalam tulisanku ini kuartikan "dubur", walau orang barat sana lebih sering menggunakannya sebagai makian. Bagiku, sama seperti kata "anjing". Kata itu bisa jadi judul yang indah bila berbunyi: "Anjing yang Setia", namun juga berangasan bila "Dasar Orang itu Bagai Anjing". Mohon koreksi bila aku kelewatan dan ada di antara Anda yang tidak berkenan.
Mari nikmati malam, yang diciptakan untuk jadi teman bagi renungan, juga teman menjelang mimpi.
Showing posts with label Cerita Lucu. Show all posts
Showing posts with label Cerita Lucu. Show all posts
5.4.09
7.1.09
Tak Jadi Mengubur Mayat
Ini adalah cerita yang pernah saya dengar dari bapak saya belasan tahun silam. Seorang pria, namanya Amin, yang penakut dan agak tuli, suatu ketika diminta memakamkan mayat seorang nenek tua asal pantijompo. Bersama Budi, rekannya, ia memakamkan mayat itu di sebuah bukit.
Di perjalanan memakamkan mayat itu, Budi yang memegangi keranda dibagian belakang berkata kepada Amin, "Min, langitnya mendung ya...."
Si Amin, yang agak tuli nan penakut itu salah dengar! Ia mendengar Budi berkata, "Min, perut mayatnya kok melembung ya?" Ia pun mempercepat langkahnya, sehingga membuat Budi yang di belakangnya agak kerepotan.
Beberapa saat kemudian hujan turun rintik-rintik. Budi berkata kepada Amin, "Min, gerimis lho!"
Amin, salah dengar lagi: "Min, meringis lho!" Wah, dikira si Amin mayatnya meringis! Ia pun setengah berlari membawa mayat itu, membuat Budi kelabakan.
Tak lama kemudian hujan turun amat deras. Budi yang kelabakan membawa mayat karena Amin berlari kian cepat, juga karena ingin istirahat akibat hujan menderas, berteriak: "Min, berhenti!!!"
Nah, sayangnya lagi-lagi Amin salah dengar ucapan Budi. Didengarnya,"Min berdiri!!!" Dikira Amin mayatnya berdiri! Waduh, jantung Amin jadi tidak karu-karuan karena ini. Tanpa pikir panjang, ditinggalkannya Budi sendirian, lalu lari tunggang-langgang.
Di perjalanan memakamkan mayat itu, Budi yang memegangi keranda dibagian belakang berkata kepada Amin, "Min, langitnya mendung ya...."
Si Amin, yang agak tuli nan penakut itu salah dengar! Ia mendengar Budi berkata, "Min, perut mayatnya kok melembung ya?" Ia pun mempercepat langkahnya, sehingga membuat Budi yang di belakangnya agak kerepotan.
Beberapa saat kemudian hujan turun rintik-rintik. Budi berkata kepada Amin, "Min, gerimis lho!"
Amin, salah dengar lagi: "Min, meringis lho!" Wah, dikira si Amin mayatnya meringis! Ia pun setengah berlari membawa mayat itu, membuat Budi kelabakan.
Tak lama kemudian hujan turun amat deras. Budi yang kelabakan membawa mayat karena Amin berlari kian cepat, juga karena ingin istirahat akibat hujan menderas, berteriak: "Min, berhenti!!!"
Nah, sayangnya lagi-lagi Amin salah dengar ucapan Budi. Didengarnya,"Min berdiri!!!" Dikira Amin mayatnya berdiri! Waduh, jantung Amin jadi tidak karu-karuan karena ini. Tanpa pikir panjang, ditinggalkannya Budi sendirian, lalu lari tunggang-langgang.
Subscribe to:
Posts (Atom)