Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

10.1.11

kisah remaja yang ditinggal ayahnya bunuh diri

7 januari 2011, iseng-iseng aku baca novel "after" karya francis chalifour. bercerita tentang francis, remaja 17 tahun yang susah menghapus kenangan tentang ayahnya yang meninggal bunuh diri. kubaca tak sampai dua jam, namun meninggalkan kesan yang dalam.

novel tipis terbitan gpu ini dilabeli teenlit. sosok francis, tokoh utama dalam novel ini, seorang remaja 17 tahun, digambarkan begitu hidup. aku jadi teringat pada holden caulfield dalam novel "catcher in the rye" karya sallinger. francis digambarkan sebagai remaja penurut dari luar, namun suara batinnya penuh dengan pikiran yang konfrontatif, mirip holden. novel dengan gaya pengisahan dari sudut pandang orang pertama ini mengajak pembaca menyusuri ruang batin seorang remaja yang jiwanya tengah merana.

bagi francis, kehilangan ayahnya membuat hidupnya berantakan. apalagi ayahnya meninggal dengan cara bunuh diri. ia kehabisan ide dan cara untuk menjelaskan kepada orang-orang di sekitarnya -- perasaannya, kejadian bunuh diri itu, dan sebagainya.

novel ini penuh dengan kisah berupa adegan-adegan pendek. adegan-demi-adegan itu adalah berbagai kenangan francis pada mendiang ayahnya. sekilas aku teringat pada novel "for one more day" karya mitch albom yang mengisahkan hal yang mirip. bila mitch menggunakan mimpi dan berbagai adegan surealis untuk menggambarkan kerinduan seorang anak pada ibunya yang telah meninggal, maka francis dalam novel ini mengandalkan kenangan yang dapat melintasi benak seorang remaja tentang mendiang ayahnya: kenangan-kenangan itu dituturkan dengan lirih.

untunglah francis memiliki adik laki-laki berusia 4 tahun yang polos bernama luc. saat francis dihinggapi kesedihan yang panjang, luc membuatnya memandang kehidupan dengan cara yang berbeda. ia belajar dari luc bahwa kehidupan yang mereka alami masih panjang. dan berbagai tantangan serta kemungkinan masih terus membentang.

inilah sebuah novel remaja yang lain dari teenlit kebanyakan. walaupun bukan remaja lagi, aku bersyukur bisa membacanya. aku terhitung jarang membaca novel-novel teenlit. dari sekilas pengamatanku, teenlit lebih banyak mengurai cerita tentang asmara dan kehidupan serba metropolis.

"after" juga mengisahkan sebuah bagian tentang asmara, saat francis bertemu seorang gadis yang memiliki nasib mirip dengannya, kehilangan salah satu orang tua. namun pada akhirnya asmara itu hanya bermuara pada pertemanan biasa, walau francis sebenarnya berharap menjalin hubungan yang lebih dari sekedar berteman. jadilah francis belajar untuk menata hidupnya lagi bersama dukungan keluarga dan teman- teman dekatnya -- berusaha tegar, tabah, dan optimis menjalani hidupnya.

kesimpulanku, novel ini menyuguhkan satu sisi kehidupan yang berbeda -- satu sisi yang jarang ditilik, namun tak jarang dialami banyak remaja masa kini. dan satu hal yang asyik lainnya adalah profil pengarangnya: ia adalah seorang guru kelas tujuh dan delapan di sebuah sekolah di kanada, dan kini ia tengah melanjutkan pendidikannya dengan fokus penelitian pengaruh kondisi hati remaja yang berduka terhadap prestasi belajar mereka. ya, penulisnya sedang merangkai cerita yang tak jauh- jauh dari dunianya.

***

after (luc dan aku), francis chalifour, penerjemah alexandra karina, gpu, 2007, 183 halaman

sidoarjo, 7 januari 2011

18.10.10

Rekam-Jejak Pengembaraan Buku 2008-2010

Sekitar awal tahun 2008, niat untuk mengulas sebuah buku mulai muncul dalam diri saya. Niat itu muncul karena sebelumnya saya suka membuat semacam catatan reflektif setelah menonton film. Ya, karena tak tahu banyak dengan hal-hal yang berhubungan dengan hal-hal teknis perfilman, sampai sekarang saya lebih suka menyebut catatan yang saya buat tentang film sebagai suatu refleksi berdasarkan film, bukan ulasan film. Melihat ulasan-ulasan di majalah film seperti Cinemags atau Movie Monthly saya yakin kalau catatan saya tentang film memang belum pas disebut ulasan film.

Nah, pada saat berhadapan dengan buku, saya tak menemukan banyak hal teknis yang terlalu membebani saya untuk mengulasnya. Kebetulan, beberapa tahun silam saya juga pernah membeli buku karya Daniel Samad yang berjudul Dasar-dasar Meresensi Buku. Setelah menemukan buku ini (kalau tidak salah sekitar tahun 2005-2006), saya pernah meresensi dua buku yaitu Di Bawah Sinar Lampu Merkuri karya Slamat P. Sinambela dan Diciptakan Seperti Sebuah Tarian karya Arie Saptaji untuk saya pajang di situs gratisan Geocities (fasilitas dari Yahoo!). Namun, saya tak banyak menekuni resensi buku. Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menulis renungan atau refleksi berdasarkan film.

Tak seperti film, buku membuat saya lebih nyaman menyusun sebuah ulasan. Tantangan pertama datang dari guru menulis saya, Arie Saptaji. Dia bilang kalau saya sempat, buatlah sebuah resensi untuk sebuah bukunya, Warrior: Sepatu untuk Sahabat. Selama beberapa hari kemudian saya membaca buku itu, lalu meresensinya. Saya mencoba untuk mempublikasikan resensi itu di koran, tapi gagal dimuat.

Kegagalan itu mendorong saya untuk meresensi buku lebih baik lagi. Saya akhirnya bertemu dengan tiga guru lain, para resensor, yaitu Nur Mursidi, Hernadi Tanzil, dan Iqbal Dawami. Saya membaca dan mempelajari resensi-resensi mereka di blog mereka masing-masing. Saya belajar bagaimana cara mengirimkan resensi yang baik ke koran. Saya juga belajar satu hal yang menyenangkan, yaitu bagaimana memohon kiriman buku ke penerbit untuk dikirimkan buat saya, agar saya tidak selalu membeli buku yang mau diresensi. Saya jadi lumayan sering dapat buku gratis -- asyik lho!

Nah, sejak awal tahun 2008 hingga Oktober 2010, inilah buku yang pernah saya buatkan resensi. Judul-judul di bawah ini tidak saya susun berdasarkan waktu pembuatan resensi, tapi secara acak. Bila berminat membaca, semua resensi ini dapat Anda temukan di blog saya, atau silahkan googling saja.

Buku-buku Fiksi:

1. Warrior, Sepatu untuk Sahabat - Arie Saptaji
2. Novel Pangeran Diponegoro, Menggagas Ratu Adil - Remy Sylado
3. Pria Cilik Merdeka - Terry Pratchett
4. My Life as a Fake - Peter Carey
5. Kembang Jepun - Remy Sylado
6. Ma Yan - Sanie B. Kuncoro
7. Gajah Sang Penyihir - Kate DiCamillo
8. Tangan untuk Utik - Bamby Cahyadi
9. Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia - Agus Noor
10. Garis Perempuan - Sanie B. Kuncoro
11. Kumpulan Budak Setan - Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad
12. Ciuman di Bawah Hujan - Lan Fang
13. Teman Empat Musim - Ida Ahdiah
14. Bob Marley - Kumpulan cerita Sriti.com
15. Mata Keenam - Melody Carlson
16. Guardians of Ga'Hoole (Diculik!) - Kathryn Lasky
17. Olenka - Budi Darma
18. Rani dan Tiga Harta Peri (Tinker Bell) - Kimberly Morris
19. Demi Allah, Aku Jadi Teroris - Damien Dematra
20. The Highest Tide - Jim Lynch
21. Life of Pi - Yann Martel
22. Sang Pencerah - Akmal Nasery Basral

Buku-buku Nonfiksi:

1. Pacaran Asyik dan Cerdas - Arie Saptaji
2. Simply Amazing - J. Sumardianta
3. I Can (Not) Hear - Feby Indriani dan San C. Wirakusuma
4. Cita-cita - Iqbal Dawami
5. Dari Kepompong Menjadi Kupu-kupu - H.D. Iriyanto
6. Peta 50 - Tempat Makan Makanan Favorit di Malang - Haryo Bagus Handoko
7. Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya - Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace
8. Sukses Wirausaha Laundry di Rumah - Haryo Bagus Handoko
9. It's a Wonderful Life - Arie Saptaji
10. Amira and Three Cups of Tea - Greg Mortenson
11. Darah-Daging Sastra Indonesia - Damhuri Muhammad
12. The Power of Creativity - Peng Kheng Sun

Tiap buku memiliki kekhasan masing-masing. Ada buku yang begitu menyentuh seperti I Can (Not) Hear, It's a Wonderful Life, Teman Empat Musim atau Garis Perempuan. Ada buku yang tegang, imajinatif, dan membuat penasaran seperti Kumpulan Budak Setan, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia, Olenka, Tangan untuk Utik, atau Life of Pi. Ada yang begitu inspiratif seperti Cita-cita dan Amira and Three Cups of Tea. Ada yang begitu ringan seperti dua buku yang ditulis oleh Haryo Bagus Handoko. Ada juga yang lumayan berat dicerna dan menantang seperti Ciuman di Bawah Hujan, Darah-Daging Sastra Indonesia, atau Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya. Ada juga yang isinya campur-baur, namun tiap bagiannya memiliki keasyikan dan kenikmatan yang berbeda ketika dibaca seperti Bob Marley. Tidak bisa saya sebutkan semua kesan saya untuk semua buku di atas. Silahkan mampir ke resensi-resensi saya bila hendak tahu lebih jauh buku yang pernah saya ulas.

Masih ada enam buku, yaitu Keep Your Hand Moving karya Anwar Holid, The Ninth karya Ferenc Barnas, Beginning Theory karya Peter Barry, Bulan Celurit Api karya Benny Arnas, Musim yang Menggugurkan Daun karya Yetti A.Ka dan sebuah buku kumpulan puisi delapan penyair muda (disunting oleh Pringadi Abdi Surya) berjudul Teka-teki tentang Tubuh dan Kematian yang resensinya sudah saya buat, sedang saya buat, atau sedang saya rencanakan untuk diresensi sampai akhir Oktober. Buku yang sudah saya resensi belum bisa saya tampilkan secara online karena beberapa pertimbangan.

Dari pengalaman ini, saya beranggapan kalau meresensi buku tak selalu mudah. Kadang melelahkan. Saya mengindahkan prinsip yang dimiliki oleh Hernadi Tanzil, guru saya itu. Ia berkata suatu waktu kepada saya saat kami chatting, "Saya tidak akan meresensi buku sebelum saya selesai membacanya." Buku yang tebalnya ratusan halaman, dibaca beberapa minggu, lalu dibuatkan resensinya, belum tentu dimuat koran. Membacanya saja kadang melalahkan bila kondisi pikiran dan tubuh lagi tak menentu. Belum lagi mendapat kenyataan kalau resensi itu ditolak. Tapi, itulah yang sering saya alami: resensi yang sudah saya buat di atas lebih banyak yang ditolak koran daripada yang dimuat. Mungkin analisis saya kurang tajam, atau bahasanya kurang mantap, atau apalah. Yang jelas dan pasti, keputusan memuat resensi ada di redaktur koran, dan mereka yang lebih tahu jawaban mengapa sebuah resensi layak dimuat atau ditolak.

Namun, terlepas dari semua penolakan yang pernah saya terima, saya menganggap meresensi buku sebagai pekerjaan yang mengasyikkan. Saya suka melakukannya di warung kopi. Ruang kamar kos saya kadang begitu tampak membosankan: empat tembok yang sama selalu saya hadapi. Di warkop ada suasana berbeda yang asyik buat meresensi buku. Nah, pekerjaan apa lagi yang dapat saya lakukan di warkop selain meresensi buku -- daripada tengak-tenguk seperti orang stres?

Oya, satu hal yang terakhir, gara-gara saya suka meresensi buku-buku sastra sejak awal tahun ini, beberapa orang menjuluki saya esais, bahkan ada yang menyebut saya kritikus sastra. Duh, rasanya kok berat ya julukan itu? Jujur, saya tidak tahu apa beda esai, kritik, atau resensi. Identitas yang saya cantumkan di akhir resensi biasanya "Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo", atau "pembaca dan penikmat sastra Indonesia". Bagi saya, tulisan yang saya buat sebagai ulasan atas sebuah karya sedapat mungkin saya ulas dengan apreasiasi dan timbangan yang memadai. Bila ada wacana dan ilustrasi yang termuat di dalamnya (yang tampaknya menjadi salah satu syarat bagi esai atau kritik), saya menganggap itu sebagai selingan atau pemanis ulasan.

Bulan depan, rencananya saya akan berhenti meresensi buku dulu. Saya ingin melakukan variasi sedikit. Seperti yang saya sebutkan, kadang melelahkan mencerna sebuah karya, mengapresiasinya, lalu menganalisisnya. Mungkin sampai bulan Maret 2011, saya berhenti sejenak mengulas buku, dan beralih mengerjakan karya-karya kreatif saya sendiri yang belum saya ketahui apa itu -- mungkin menulis cerpen, puisi, novel, atau buku, atau apalah yang lainnya.

Demikianlah catatan ini dibuat. Kiranya dunia perbukuan dan sastra Indonesia selalu marak dengan ulasan dan apresiasi dari para pembacanya.

Malang-Sidoarjo, 17-18 Oktober 2010
Sidik Nugroho

16.10.10

Potret Pengucapan Syukur yang Bersahaja

Judul buku: It's a Wonderful Life
Penulis: Arie Saptaji
Penerbit: Gloria Graffa
Tebal: 184 halaman
Cetakan pertama, 2010

"Les hommes sont tous condamnés à mort avec des sursis indéfinis."

~ Victor Hugo

"Semua orang telah dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan yang tidak ditentukan," demikian yang tertulis dalam buku klasik karya Victor Hugo, Hari Terakhir Seorang Terpidana Mati. Hidup adalah kefanaan, dan tiap manusia tidak pernah tahu kapan menjemput ajalnya masing-masing. Sayangnya, tak jarang begitu banyak orang yang menyia-nyiakan hidupnya karena merasa mendapat banyak hal yang tidak pantas.

Kekecewaan, kehilangan dan segala kepahitan yang dialami seseorang bisa terjadi sedemikian parah. Tak jarang, segala hal tak baik tersebut membuat seseorang memutuskan mandek untuk meraih hal yang berharga dalam hidup ini, bahkan mengakhiri hidupnya. Lewat bukunya, Arie Saptaji ingin menunjukkan hal-hal yang semestinya membuat kita bersyukur.

"It's a wonderful life," kata-kata yang menjadi judul buku ini sama persis dengan judul sebuah film klasik yang melegenda. Kisahnya tentang seorang bankir, George Bailey, yang hampir kehilangan segalanya karena hutang dan kealpaan asistennya. Semasa kecil ia juga mengalami kecelakaan yang membuat sebuah telinganya tuli. Di masa muda ia juga mengurungkan niat untuk menjelajah dunia karena ayahnya menghendaki ia meneruskan bisnis keluarga.

Namun, keluarga yang ia miliki adalah anugerah terbaiknya. Titik balik terbesar dalam hidupnya ia dapatkan ketika menyadari betapa istri, keempat anaknya dan orang-orang di sekelilingnya adalah anugerah-anugerah yang tak bisa ditukar dengan apa pun. Nah, seperti George Bailey yang tak luput dirundung malang, Arie Saptaji mengisahkan banyak hal yang pribadi dalam bukunya ini: hal-hal yang membuat hidupnya pantas disyukuri.

Dalam sebuah bagian, Arie mengisahkan Amadeus Aaron, anaknya yang meninggal hanya lima jam setelah ia lahir prematur. Dengan lugas dan tegar Arie menuliskan catatan dan renungannya tentang kepergian Amadeus yang mendadak dan tidak diharapkan siapa pun. "Sepanjang kebaktian penghiburan, saya hanya bisa menatap langit Yogya yang biru cerah bertabur serpihan awan putih," tulisnya dengan lirih dan indah. Di masa lalu, seorang penyair terkenal bernama J.E. Tatengkeng juga menuliskan puisi yang begitu lirih atas kepergian anaknya yang baru saja lahir:

Anak kami Tuhan berikan
Anak kami Tuhan panggilkan
Hati kami Tuhan hiburkan
Nama Tuhan kami pujikan

Seperti itulah sebuah potret pengucapan syukur yang Arie suguhkan. Tulisannya membuat kita terpana dan merenung: betapa kehidupan dapat ditilik dari sisi yang lain. Tulisannya membuka mata batin yang tertutup oleh kedegilan hati, dan menjelaskan daya lihat kita yang kabur untuk memahami maksud dan rencana Tuhan.

Dalam bagian-bagian lain Arie mengisahkan dan mengajak pembaca merenungkan banyak hal seputar kehidupan sehari-hari dalam keluarga: hal-hal yang bersahaja dan terkesan remeh-temeh seperti bagaimana memilih tayangan yang baik di televisi, meluangkan waktu berjalan-jalan bersama anak-anak, mensyukuri berkat yang diberikan Tuhan dalam keluarga lewat pekerjaannya sebagai seorang penulis dan penerjemah.

Ibarat lagu, apa yang Arie tuliskan sama seperti yang pernah dinyanyikan Welyar Kauntu, "Bila Engkau tak besertaku, kami tak mau berjalan. Kuperlu Tuhan pimpin langkahku dengan kasih karunia-Mu." Nyanyian yang dikembangkan dari beberapa ayat di Keluaran 33 ini mewakili butir-butir renungan yang Arie sampaikan.

SELAIN hal-hal di atas, Arie juga menceritakan sebuah kisah yang menggugah tentang pertemuannya dengan sahabatnya di dalam penjara. Sahabatnya ini adalah salah satu contoh kegigihan hidup yang nyata. Ia mengingatkan kita pada sosok Rubin Carter yang diperankan Denzel Washington dalam film Hurricane. Di dalam penjara si sahabat ini tidak mandek dan bersedih hati. Ia malah suka menulis. Suatu hari ia menulis sebuah resensi atas buku The Impact (karya Arie Saptaji juga) dan menjadi pemenang.

Ada tiga hal lain dalam buku ini yang awalnya terasa agak melenceng dari bagian-bagian lain. Itu adalah bagian tentang Paskah, Natal, dan Kenaikan Kristus. Terasa agak melenceng, karena tiga bagian ini tak membahas hal-hal yang terjadi sehari-hari. Terutama pada bagian tentang Kenaikan Kristus, Arie menghadirkan bahasan yang agak teologis.

Namun, dengan menyertakan bagian-bagian ini, agaknya Arie hendak menggarisbawahi bahwa kelahiran, kematian-kebangkitan dan kenaikan Kristus adalah peristiwa-peristiwa yang penting. Dari ketiganya kita memperoleh alasan mengapa kita perlu senantiasa bersyukur dalam hidup dan yakin bahwa nantinya, setelah kita menjalani kehidupan yang fana ini, ada upah yang akan kita terima dalam kerajaan Allah dan kehidupan kekal.

BEGITULAH Arie Saptaji menyampaikan catatan-catatannya yang reflektif tentang kehidupan. Di antara dua puluh lebih buku lain yang sudah ia tulis, baru buku ini yang terasa begitu pribadi. Di dalamnya juga ada foto-foto pribadi yang disertakan: foto keluarga, foto pernikahan, foto ketika ia mengantar anaknya bersekolah, juga foto ketika ia menimang Amadeus Aaron, putranya yang telah tiada.

"Lewat hidupmu yang hanya lima jam, engkau memperlihatkan betapa kasih Allah itu adalah gunung kekuatan kita. Kami akan meneruskan perjalanan. Di depan tak ayal masih akan ada badai," demikian beberapa bagian "surat perpisahan" yang Arie tuliskan untuk Amadeus Aaron.

Dum vita est, spes est. Ketika masih ada kehidupan, di situ pula masih ada harapan, demikian Cicero pernah menulis suatu ketika. (*)

Sidoarjo, 1-2 Oktober 2010

1.10.10

Fabel yang Digarap Penuh Kesungguhan

Judul Buku: Guardians of Ga’ Hoole (Diculik!)
Penulis: Kathryn Lasky
Penerjemah: T. Dewi Wulansari
Tebal buku: 338 halaman
Cetakan pertama, 2010

Aku telah menyelamatkan diriku dengan memberi kepercayaan kepada sayap-sayap muda. Terberkatilah mereka yang percaya, mereka pasti terbang.
~ Doa kuno burung hantu, Diculik!, halaman 245

BILA kita memperhatikan buku-buku untuk anak dan remaja yang dijual di toko-toko buku besar, maka tampak jelas bahwa dongeng dan epik-fantasi cukup digandrungi akhir-akhir ini. Cerita-cerita tentang manusia yang hidup di negeri khayalan – atau pun di planet Bumi – dikisahkan dengan antusias oleh para pencerita. Namun, masih banyak kisah yang melulu menghadirkan makhluk-makhluk yang sama seperti peri, kurcaci, kuda sembrani, raksasa, dan sejenisnya.

Sebaliknya, cerita-cerita tentang hewan atau fabel, tampaknya masih digarap kurang maksimal. Banyak penulis yang menghadirkan fabel dalam bentuk cerita bergambar atau kumpulan cerita pendek yang tipis-tipis. Ada juga cerita yang ditambahi dengan berbagai pesan moral secara tersurat, seakan-akan para pembaca tidak dapat memetik sendiri pesan itu.

Lewat bukunya Guardians of Ga’ Hoole – dalam edisi Indonesia diterjemahkan dengan judul Diculik! – Kathryn Lasky melakukan penelusuran yang total atas burung hantu: dari cara bertelurnya, perkembangan bentuk tubuhnya, jenis-jenis burung hantu, juga perilaku dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Lewat drama yang cukup menghentak sejak awal cerita, Kathryn menyuguhkan bacaan yang menarik disimak hingga tuntas.

Cerita di buku ini menghadirkan seorang burung hantu muda bernama Soren. Ia baru saja sangat gembira karena memiliki adik perempuan yang manis bernama Eglantine. Dia sangat menyukai nama itu. Ketika melihat adiknya lahir, betapa ia sayang padanya. Tak lama setelah kelahiran itu, kedua orang tua Soren memutuskan untuk pergi berburu, mencari makanan untuk persediaan di musim dingin yang akan segera tiba.

Soren mendadak terjatuh dari atas pohon ketika sedang berdiri di pinggir lubang sarangnya. Ia sedang mengintip keluar, menunggu kedatangan kedua orang tuanya yang sebenarnya masih lama tiba. Soren yang masih belum bisa berjalan di dahan apalagi terbang, meminta abangnya, Kludd, untuk menolongnya. Bukannya menolong, Kludd yang sinis malah menyalah-nyalahkannya dan menertawakannya.

Tiba-tiba Soren diculik! Ia dibawa ke sebuah tempat bernama Sekolah untuk Burung Hantu Yatim Piatu. Di sekolah itu ia bertemu dengan Gylfie, seekor burung hantu perempuan yang selalu punya rasa ingin tahu. Persahabatan mereka terjalin begitu alami dan manis. Mereka berdua selalu saling mengingatkan bahwa saat itu pikiran mereka sedang dikacaukan oleh pimpinan sekolah yang jahat.

Di sekolah itu ada semacam penomoran dan penggantian nama yang membingungkan para burung hantu yang diculik dan ditawan. Nah, di sinilah cerita tentang kedua burung hantu ini jadi agak membingungkan. Selain karena terjemahan dalam edisi Indonesia dilakukan kurang luwes, pada bagian ini, konflik utama yang mau dijadikan fokus cerita agak bercabang-cabang. Bagian yang sebenarnya bisa tampil lebih menggigit, malah jadi terasa bertaring tumpul.

Namun, pada intinya, penculikan yang dilakukan terhadap Soren, Gylfie, dan bahkan ribuan anak burung hantu lainnya di sana, membuat mereka lupa akan jati-dirinya. Mereka dibuat bingung sehingga perlahan-lahan lupa bahwa mereka adalah makhluk-makhluk istimewa yang diciptakan untuk terbang tinggi di malam hari. Soren dan Gylfie menolak untuk melupakan diri mereka.

Dengan bantuan Grimble, seekor burung hantu yang nyaris lupa-diri akibat dibingungkan, mereka berhasil terbang dan melarikan diri pada akhirnya. Mereka terbang bersama doa turun-temurun para burung hantu, seperti yang dikutip dalam pembukaan di atas.

DALAM waktu dekat, film adaptasi atas buku ini juga akan ditayangkan di bioskop-bioskop di Indonesia dengan judul Legend of the Guardians: The Owls Of Ga' Hoole. Bila disimak di situs legendoftheguardians.warnerbros.com, visualisasi yang dibuat atas beberapa karakter dari buku ini sangat manis dan lucu. Film ini akan diangkat dari tiga buku awal yang dikarang oleh Kathryn Lasky: The Capture, The Journey dan The Rescue; sementara buku ini adalah terjemahan dari seri pertama, The Capture.

Jadi, buku ini nantinya mungkin hanya akan teradaptasi menjadi sepertiga kisah dalam keseluruhan film, walau kita semua tentunya tahu, bahwa sebuah buku atau novel, ketika diadaptasi menjadi sebuah film, lebih cenderung menjadi lebih pendek akibat terjadinya beberapa pemangkasan. Berbeda dengan adaptasi atas novelet atau cerpen, yang justru terjadi sebaliknya. Apalagi buku ini terhitung tebal, nantinya mungkin akan banyak bagian yang hilang.

Terlepas dari bagaimana film itu nantinya hadir di hadapan para penyuka kisah fantasi, totalitas yang ditunjukkan Kathryn Lasky dalam penggarapan buku tentang kisah Soren dan kawan-kawannya ini sungguh besar. Dalam fantasticfiction.co.uk/l/kathryn-lasky dicatat, masih ada 16 judul lain yang menjadi sekuel buku pertama ini. Kathryn Lasky selama ini memang menghabiskan waktunya untuk mengamati perilaku dan morfologi burung hantu. Awalnya ia berencana menulis buku nonfiksi tentang burung hantu, namun kemudian menyadari bahwa tugas itu tidak mudah: burung hantu baru muncul di malam hari, dan mereka suka sekali bersembunyi. ***

Sidik Nugroho
Malang, 25 September 2010

20.7.10

Perayaan yang Megah atas Hidup, Petualangan, dan Ketuhanan

Judul buku: Life of Pi (Kisah Pi)
Penulis: Yann Martel
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2004
Tebal buku: 446 halaman

"Tidak perlu khotbah mengguntur dari mimbar, tidak perlu segala macam cercaan dari gereja-gereja yang payah, tidak perlu tekanan dari rekan-rekan sebaya, cukup satu kitab suci menunggu untuk menyampaikan salam, lembut sekaligus ampuh, bagai kecupan gadis kecil di pipi."

-- Life of Pi, halaman 298

Piscine Molitor Patel. Nama yang unik itu disingkat dengan panggilan Pi. Dan novel ini adalah kisah hidupnya. Kisah hidupnya yang menggetarkan karena penuh gejolak, sekaligus mengharukan. Hidupnya penuh liku karena ia adalah seorang remaja yang sedang memasuki masa puber. Namun, ia merayakan pubertasnya dengan pencarian akan Tuhan. Bagi Pi, Tuhan adalah misteri yang senantiasa menggugah rasa ingin tahunya.

Yann Martel mengisahkan kehidupan Pi dengan narasi yang amat detil. Ia adalah seorang pencerita yang mengalir, tak terlalu terikat pada urutan waktu. Sebuah contoh, ada kisah saat Pi sedang berada di Montreal yang dikisahkannya lebih dulu daripada di Pondicherry -- padahal Montreal adalah saat-saat dewasa Pi, sementara Pondicherry adalah tempat Pi menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya. Hal ini tidak bisa dipandang sebagai kelemahan; kadangkala orang bernostalgia dengan melompat-lompati segala batasan waktu.

Yann Martel juga seorang pencerita yang lucu. Ini terutama tampak di bagian-bagian awal cerita ini. Pertemuan Pi dengan beberapa guru spiritualnya adalah salah satunya. Nanti kita akan melihat bagaimana Pi bisa memiliki lebih dari satu keyakinan. Ia juga seorang yang realistis; ia mempertanyakan lagi romantika yang selama ini mungkin diperjuangkan para pecinta satwa: biarkan makhluk hidup bebas, biarkanlah mereka hidup dalam alam terbuka.

Padahal, binatang tak jauh beda dengan manusia yang selalu ingin rumah yang nyaman untuk ditinggali dan makanan yang terhidang tepat waktu. Dua hal ini, bila oleh seorang pemilihara hewan diperhatikan dengan baik akan membuat hewan-hewan tinggal lebih nyaman dalam peliharaan daripada dilepaskan di alam terbuka yang penuh dengan persaingan dan perkelahian.

Tentang Ketuhanan, dan Keberagamaan Pi

Hal yang pertama kali membuat kisah ini menjadi memiliki daya tarik adalah apa yang dinyatakan oleh seorang tokoh di dalamnya, yaitu Francis Adirubasamy, bahwa kisah yang akan diceritakannya ini akan "membuat orang percaya kepada Tuhan." Tuan Adirubasamy kemudian menghadirkan Pi sebagai tokoh ceritanya. Pi kemudian bercerita kepada si penulis, jadilah cerita ini sebagai sebuah kisah nostalgia dengan sudut pandang aku sebagai pencerita.

Dulu, sempat tersiar kabar bahwa novel ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Namun, kemudian beredar kabar bahwa Kisah Pi adalah novel fiktif. Walaupun fiktif, hal yang menarik untuk disimak adalah bagaimana Yann Martel membangun kisah ini sehingga menjadi benar-benar hidup -- sehingga tampak seperti betulan terjadi. Inilah yang tampaknya membuat ia akhirnya diganjar penghargaan Man Booker Prize untuk novelnya ini.

Pi dikisahkan sebagai seorang anak remaja yang benar-benar haus akan siraman rohani. Di sebuah bagian, Yann Martel menggambarkan Pi sebagai seorang remaja yang "... suka lari ke mana-mana dan ingin tahu segala sesuatu" (halaman 60). Karena hal ini, Pi menganut tiga agama sekaligus karena memiliki pengalaman yang terhitung supranatural atas tiga agama tersebut. Ia memiliki keyakinan sebagai seorang Hindu karena terpesona dengan kisah-kisah para dewa-dewi yang ia yakini bersangkut-paut dengan segala yang terjadi dalam kosmos; ia terpesona dengan filsafat yang dimuat dalam ajaran-ajaran Hindu.

Ia terpikat pada Kristus yang awalnya ia sangsikan mengapa mau mati di kayu salib demi menebus dosa manusia. Setelah bertanya-tanya, ia kemudian terpesona akan kasih Kristus itu. "Sebab kalau Allah di salib itu adalah Allah yang bersandiwara menampilkan tragedi manusia, maka Kasih Kristus menjadi Sandiwara Kristus belaka" (halaman 91). Dan ia pun memutuskan yakin bahwa apa yang Kristus lakukan bukan sekedar sandiwara.

Ia juga tertarik pada cara-cara orang Islam mengadakan salat. Ia suka sekali membaca Qur'an, dan mendapati suatu keyakinan bulat bahwa Islam adalah ajaran perdamaian. "Aku berani mengatakan bahwa siapa pun yang telah belajar memahami Islam dan semangat yang terkandung di dalamnya, pasti akan mencintai ajaran ini. Islam agama yang indah, yang mengajarkan persaudaraan dan ketaatan" (halaman 101).

Apa yang Pi terus gumuli akhirnya membuat ia tampil sebagai remaja yang berbeda dari remaja sebayanya. Suatu ketika tiga guru agamanya bertemu dan masing-masing dengan cara yang lucu berdebat tentang agama siapa yang paling benar. Ketiga guru ini saling menyindir dan mempertahankan bahwa agamanya yang paling benar. Justru Pi yang tampil sebagai pendamai, mencengangkan mereka bertiga dengan menyatakan ia akan memeluk ketiga keyakinan itu.

Pi suka sekali dengan hal-hal seputar ketuhanan, tapi ia juga mempunyai seorang guru yang tidak percaya pada Tuhan. Guru yang sangat dia kagumi itu bernama Mr. Kumar. Mr. Kumar yang gemuk dan berkaki kecil membuat Pi takjub karena memiliki berbagai penjelasan yang logis atas segala sesuatu yang terjadi dalam kebun binatang. Mereka membicarakan genetika, hal-hal tentang hewan, dan berbagai hal tentang sains lainnya saat Mr. Kumar berkunjung di kebun binatang milik ayah Pi.

Petaka Terbesar dalam Hidup Pi

Februari 1976, pemerintahan Tamil Nadu digulingkan oleh Delhi. Saat itu terjadi pergolakan politik, dan Mrs Gandhi semakin menjadi-jadi kediktatorannya. Akibat hal ini, Santosh Patel, ayah Pi, berniat memindahkan semua hewan milik mereka menuju ke sebuah negeri lain: Kanada. Dari Madras kapal itu berlayar tanggal 21 Juni 1977, dan pada tanggal 2 Juli, kapal itu tenggelam di Samudera Pasifik. Apa penyebabnya, tak diceritakan. Kisah beranjak ke bagian dua, saat Pi terombang-ambing di Samudera Pasifik.

Di sinilah Yann Martel menunjukkan kehebatannya sebagai seorang pencerita. Ia dengan sangat tekun dan teliti mengisahkan apa saja yang terjadi pada Pi. Ia mengisahkan dengan detil bentuk sekoci Pi (ilustrasi yang ada di sampul depan berbeda jauh dengan penggambaran Yann Martel), perilaku hewan yang beserta dengan Pi, suasana di laut, perasaan yang terus berkecamuk dalam diri remaja Pi, juga kisah-kisahnya yang unik tentang cara-cara bertahan hidup.

Pi selamat dalam sebuah sekoci yang panjangnya delapan meter. Awalnya, seekor hyena, zebra, dan orang utan bernama Orange Juice beserta dengannya. Seekor hewan lain, seekor harimau Bengal seberat 225 kg, bernama Richard Parker, justru baru diketahui keberadaannya oleh Pi di bawah terpal sekoci setelah hewan-hewan yang lainnya satu per satu mati karena berkelahi dalam sekoci.

Bagaimana Pi menaklukkan dan bisa hidup bersama harimau buas yang bisa memangsanya kapan saja menjadi bagian yang sangat menarik diikuti. Yann Martel tampak mempunyai pengetahuan yang luas dalam ilmu perilaku hewan. Ia menyebutkan, setidaknya tiga hal, yang membuat seekor harimau bernama Richard Parker dapat takluk pada manusia bernama Pi. Pertama adalah suara -- dalam hal ini Pi menggunakan peluit yang ia tiup keras-keras demi menunjukkan superioritasnya. Kedua adalah keberanian Pi untuk tahan beradu tatapan mata dengan Richard Parker sampai ia mennjukkan tatapan yang tak fokus pada mata Pi. Dan ketiga adalah bagaimana Pi mencoba masuk ke teritori yan dimiliki Richard Parker.

Bagian ketiga terkisah amat menarik. Demi upayanya menerobos benteng berupa teritori yang dibangun si harimau, Pi seringkali berada di teritori hewan itu sambil membunyikan peluitnya. (Hewan sering menandai teritorinya dengan air seni dan kotorannya.) Pi bahkan suatu ketika iseng mengambil kotoran hewan itu karena tertarik pada bentuknya. Pi mendapati kotoran itu sangat keras, sekeras batu karang. Awalnya ia malah berencana hendak memakan kotoran itu, namun ia merasa kotoran itu lebih cocok dijadikan peluru senapan untuk berburu badak.

Mungkin memakan kotoran hewan adalah gagasan yang terlampau dilebih-lebihkan, tapi bila kita membayangkan bagaimana Pi terkatung-katung di tengah Samudera Pasifik selama tujuh bulan lebih, dan kemudian menyimak apa saja yang dimakannya, kita jadi tahu bahwa Yann Martel tak hanya sedang bercanda. Pi jadi terbiasa memakan ikan mentah, darah penyu, dan bahkan sempat memakan daging manusia. (Manusia yang ia makan dagingnya dikisahkan menjelang akhir kisah, saat Pi nyaris mati dan tidak lagi memiliki kekuatan untuk bertahan hidup. Tiba-tiba ada seorang manusia yang juga menggunakan sekoci muncul di sebelahnya, tapi kemudian dihabisi oleh Richard Parker. Daging manusia itu disantap oleh Richard Parker dan Pi, walau Pi hanya memakannya bebrapa cuil untuk bertahan dari kelaparannya.)

Ratusan halaman digunakan Yann Martel untuk menggambarkan apa saja yang terjadi dalam hidup Pi saat ia berada di tengah lautan. Namun, membaca buku ini tak bisa disamakan dengan menonton film Cast Away yang dibintangi Tom Hanks -- bila Anda yang pernah menontonnya merasa ada kesamaan di dalamnya. Cast Away lebih banyak mengisahkan petualangan seorang pria tersesat di sebuah pulau; namun Kisah Pi sebagian besar terjadi di Samudera Pasifik.

Dari keseluruhan kisah di lautan mahaluas itu, setidaknya ada dua hal yang paling mengesankan dari Pi. Pertama adalah persahabatan yang terbentuk dalam diri Pi dan Richard Parker. Mulanya ia sangat ketakutan dengan Richard Parker. Bahkan sepanjang kebersamaan mereka, Pi selalu didera rasa takut. Ia kuatir kalau-kalau Richard Parker tiba-tiba mengoyak-ngoyak badannya sampai hancur -- bisa saja hal itu terjadi. Namun, hal itu tak terjadi -- bukan semata-mata karena dikarang-karang tidak terjadi -- karena Pi selalu belajar bagaimana memahami perilaku hewan itu.

Ketika akhirnya Pi selamat sampai di sebuah pantai di Meksiko, ia sedih kehilangan Richard Parker yang pergi begitu saja dari hidupnya. Richard Parker, yang selalu membuatnya waspada, akhirnya ia sadari sebagai sosok yang membuatnya bertahan hidup.

Kedua adalah bagaimana Yann Martel mengaitkan masa remaja Pi yang sarat dengan pencarian akan Tuhan sebagai bagian yang turut menentukan kelangsungan hidup Pi saat terombang-ambing di tengah samudera. Ada saat-saat ketika Pi memandangi bintang-bintang di langit, kesepian, bersembahyang di dalam sekoci kecil yang berada di lautan mahaluas, yang membuat kita jadi merenung tentang keajaiban semesta.

Ada satu bagian yang mengisahkan saat Pi mengalami kilat dan guruh yang terasa begitu dekat sehingga lautan yang berada di sekitarnya menjadi putih seketika. Saat itu hatinya takjub, namun merasa tidak berdaya. Saat-saat itu, kita jadi merasa kesia-siaan rasanya lebih pas untuk dijadikan sebagai makna bagi hidup yang dipertahankan. Saat-saat yang dramatis itu selalu membuat Pi mengenang Tuhan, merindukan kitab-kitab suci untuk dibaca seperti yang dikutip pada bagian di muka, bukannya membaca puluhan ribu kali buku panduan keselamatan yang ia temukan dalam sekoci.

Saran Pembacaan dan Sedikit Perbandingan

Ada novel yang bisa dibaca dengan cepat; ada novel yang mesti dibaca dengan pelan. Kisah Pi adalah jenis kedua. Kita tidak bisa menikmati novel ini dengan membacanya tergesa-gesa. Jadi, jikalau Anda mengharapkan sebuah petualangan yang ingin Anda nikmati setiap detilnya, Kisah Pi pas buat Anda.

Membaca Kisah Pi saya teringat pada The Highest Tide karya Jim Lynch. Setidaknya ada tiga hal yang mirip atas kedua novel ini. Pertama adalah kedua tokohnya sama-sama seorang remaja pria yang beranjak dewasa: Pi menyukai hal-hal yang berbau ketuhanan, sementara Miles dalam The Highest Tide lebih penasaran dengan binatang-binatang laut dan sesekali anatomi tubuh wanita. Kedua adalah keduanya sama-sama bercerita tentang laut: The Highest Tide lebih banyak membahas keindahan laut dan kisahnya sebagian besar ada di pantai, sementara Kisah Pi lebih banyak membahas tentang perjuangan dan petualangan Pi yang bertahan hidup di lautan mahaluas. Ketiga, kedua tokoh utamanya (dianggap) memiliki semacam kekuatan supernatural yang membuat mereka tampak ajaib bagi para pembaca: Pi, seperti yang disebut tadi, membuat orang percaya kepada Tuhan, sementara Miles nyaris dianggap sebagai dewa karena orang-orang menganggap alam sedang mengatakan sesuatu kepadanya.

Ya, tampaknya kisah-kisah tentang laut dan petualangan di dalamnya selalu menggugah kesadaran kita betapa luasnya alam raya, dan betapa kecil arti dan keberdayaan kita saat menjadi salah satu penghuni di dalamnya. Bila dalam The Highest Tide kita dibuat takjub dengan berbagai narasi yang digunakan Jim Lynch untuk menggambarkan berbagai spesies laut, Yann Martel dalam Kisah Pi membuat kita tercengang akan berbagai kisah petualangannya yang penuh gejolak, yang dikisahkan dengan amat hati-hati. Nah, lewat novelnya ini, ia telah berupaya dengan semegah mungkin merayakan hidup, petualangan, dan ketuhanan dalam kisah seorang pria kecil bernama Pi.***

Sidik Nugroho
Malang-Sidoarjo, 17-19 Juli 2010

11.6.10

Keindahan Laut dan Dinamika Masa Puber

Judul Buku: The Highest Tide (Pasang Laut)
Penulis: Jim Lynch
Penerjemah: Arif Subiyanto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 328 halaman
Cetakan pertama, tahun 2007

Miles O'Malley seorang remaja berusia 13 tahun yang menderita insomnia berat. Ia sering menjelajah teluk di Puget Sound dengan kayaknya untuk mengisi malam-malamnya. Di malam hari ia menyaksikan keindahan laut dengan segala makhluk hidup yang hidup dan tumbuh di dalamnya. Ada remis, siput, bintang laut, dan berbagai makhluk laut lain yang menarik minatnya. Ia juga tergila-gila pada Rachel Carson, penulis buku Under the Sea, seorang ilmuwati yang memutuskan hidup melajang karena jatuh cinta kepada laut.

Minatnya yang besar pada laut juga mendatangkan keuntungan bagi Miles. Beberapa tangkapannya laku dijual. Sampai suatu malam Miles mendapati seekor cumi-cumi raksasa terdampar di Puget Sound. Cumi-cumi raksasa itu telah mati, dan ia memang bukan hidup di perairan yang dangkal. Ia tentunya berasal dari suatu tempat yang jauh, dari laut atau samudera lain yang lebih dalam. Berita ini membuat Miles tenar. Namanya diliput oleh koran dan stasiun-stasiun televisi lokal. Dan yang membuat Miles kemudian disegani adalah pernyataannya atas kejadian itu: "Mungkin bumi ingin mengatakan sesuatu kepada kita."

Tiga minggu setelah penemuan cumi-cumi raksasa itu, ia menemukan ragfish yang besar dan mirip binatang purba. Akibat hal ini ia semakin menjadi sasaran reporter dan wartawan. Namanya kemudian menjadi bahasan di berbagai surat kabar dan televisi, bahkan ada yang mulai menyembah-nyembahnya.

Kisah Miles dalam novel ini diramu dengan indah oleh Jim dengan menghadirkan beberapa tokoh lain yang sebaya. Jim Lynch yang jelas tampak memiliki wawasan yang luas tentang laut, tak terjebak menghadirkan novel yang melulu bersifat ensiklopedis. Ia memilih menghadirkan seorang remaja puber, Miles, yang mulai suka pada lawan jenis. Miles mempunyai sahabat bernama Kenny Phelps yang sangat tergila-gila dengan wanita. Miles juga mempunyai pujaan hati bernama Angela Rosemary Stagner atau sering dipanggil Angie.

Dua tokoh pendamping ini sangat jauh beda karakter dengan Miles. Miles tampak selalu serius dan penuh rasa ingin tahu; Phelps tak bisa serius dan selalu membicarakan organ-organ kelamin; sementara Angie seorang gadis yang urakan, kecanduan obat bius dan memiliki kelainan psikologis. Jadilah kisah ini tertutur kocak di banyak halamannya; namun Jim tetap ajeg menarasikan berbagai hal tentang laut sebagai menu utama.

Narasi-narasi yang dibangun Jim dalam lembar-lembar novel ini mewakili kemampuannya bercerita dengan lihai. Tak banyak orang yang mau tahu dengan laut, namun kehidupan di Puget Sound yang ia kisahkan amat merangsang setiap orang untuk ingin tahu lebih banyak tentang laut. Ia mengisahkan berbagai hal yang terjadi di laut dengan filmis.

Saat Miles dan Angie menyaksikan cumi-cumi kecil yang disebut cumi-cumi kupu-kupu menetaskan telur, misalnya, kita akan terpesona dengan narasi yang menggambarkan perubahan warna yang terjadi pada telur-telur itu dalam sekejap. Atau saat Miles mengayuh kayaknya malam-malam, lalu ia melihat berbagai binatang dan tumbuhan laut yang berwarna-warni di tengah kegelapan malam, kita serasa diajak untuk menghampiri misteri laut. Jim mengisahkan semua itu dengan sangat hati-hati. Ia mengajak kita melihat dari dekat seperti apa kehidupan di laut itu.

Terjemahan atas novel ini juga dilakukan dengan sangat teliti. Kita nyaris tak menemukan kesalahan tulis yang berarti. Terjemahan atas novel ini dibuat dengan pilihan diksi yang indah dan mudah dicerna. Di beberapa bagian malah ditambahkan catatan kaki untuk memperjelas apa yang sedang diterjemahkan -- contohnya seperti apa itu ragfish; apa itu kelainan bipolar yang diidap oleh Angie; dan masih banyak penjelasan lainnya. Penerjemah telah berhasil menghadirkan bacaan yang nyaman diikuti dalam bahasa kita.

Jim juga menambahkan bumbu cinta dan romantika dalam novel ini. Tentunya, hal-hal ini berkaitan dengan Miles dan Phelps yang sama-sama sedang bertumbuh menjadi remaja. Miles memiliki cinta yang hening dan tulus -- baginya cinta sejati kita miliki kalau kita mau mengorbankan apa saja untuk yang kita cintai meski kita tak mendapatkan balasan. Sementara Phelps beranggapan bahwa bila kita membawa seikat bunga untuk seseorang yang kita cintai, maka ia harus membuka bajunya.

Bukan hanya cinta, dua remaja ini, terutama Phelps, suka sekali membahas tentang organ-organ wanita dan seksualitas seperti g-spot, payudara, posisi persetubuhan, dan lain-lain. Namun, perlu dicatat bahwa semua itu disampaikan dengan penuh canda dan sebagai selingan; bukan seperti novel stensilan Nick Carter masa silam, misalnya, yang menjadikan itu sebagai menu sampingan yang porsinya juga besar.

Dinamika psikologis yang terjadi di masa puber Miles dan Phelps, yang berkaitan dengan perkembangan rasa ingin tahu mereka atas seksualitas, terkisahkan begitu gamblang, bahkan terbilang cukup vulgar di beberapa bagian. Inilah yang tampaknya membuat Gramedia selaku penerbit memberikan label "novel dewasa" di sampul belakang novel ini, padahal The Highest Tide dibuat untuk dibaca remaja. Tak bisa dimungkiri, ini terjadi karena perbedaan kultur yang ada di negeri kita dengan Amerika.

Selain kisah cinta dan hal-hal erotis, Jim juga mengisahkan tentang seorang peramal tua bernama Florence. Florence yang menjadi sahabat Miles suatu ketika membuat pernyataan yang detil tentang kapan akan terjadi pasang laut tertinggi. Ramalan inilah yang sebenarnya menjadi awal bagi terbentuknya konflik utama di novel ini -- selain beberapa konflik kecil lainnya. Miles mengucapkan ramalan Florence setelah ia semakin populer. Saat itu ia sedang diundang untuk berbicara tentang hal-hal yang ia ketahui tentang laut. Ia bahkan diundang dalam acara-acara yang digagas beberapa profesor kelautan, bahkan menjadi sosok yang disembah-sembah oleh sebuah kelompok pemujaan.

Begitulah Miles, sosok remaja yang tinggi badannya susah bertambah, tak berdaya untuk menyatakan cinta kepada Angie, merasa diri tak tampan dan penuh kekurangan, pada akhirnya menjadi sosok yang akan disukai para pembaca.

Tak banyak orang atau remaja seperti Miles. Hingga kini kehidupan di laut rasanya tak banyak mengundang rasa ingin tahu banyak orang. Mungkin penyebab utamanya adalah karena kita sendiri bukan spesies-spesies yang menjadikan laut sebagai habitat. Namun tak dapat dipungkiri bahwa dua pertiga bagian bumi ini ditutupi air laut dan begitu banyak asal-muasal kehidupan yang berasal dari laut. Keragaman spesies di laut jumlahnya jauh lebih tinggi daripada di darat atau di udara.

Rasa ingin tahu yang mendalam atas sesuatu yang masih menyimpan banyak misteri tampaknya menjadi obsesi terdalam Jim untuk menulis kisah tentang laut. Setelah membaca novel ini kita akan sepakat dengan pernyataan Rachel Carson, seseorang yang telah mendedikasikan hidupnya buat laut: "Kalau Anda temukan puisi dalam buku-buku tulisanku, itu bukan karena aku sengaja menulis puisi, tapi karena tak seorang pun mampu menulis dengan jujur tentang lautan, tanpa menorehkan puisi." (*)

Sidik Nugroho
Sidoarjo, 10 Juni 2010

Resensi lain oleh Wawan Eko Yulianto bisa dibaca di sini

5.5.10

Balas Budi Seorang Pecinta Alam

Sidik Nugroho*)

Judul: Amira and Three of Cups of Tea
Penulis: Greg Mortenson dan David Oliver Relin
Penyadur: Sarah Thomson
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Emi Kusmiati
Penerbit: Qanita
Tebal: 250 halaman
Cetakan pertama, November 2009

***

Perlu ada upaya melihat,
upaya melihat dengan menjungkirbalikkan segala makna yang sudah ada,
untuk sampai pada yang tak dikenal,
hidup sejati yang berada di tempat lain
~ Arthur Rimbaud, penyair Prancis (1854-1891)


Puisi Arthur Rimbaud, penyair yang suka berkelana itu, rasanya tepat benar mewakili jiwa petualang seorang pria bernama Greg Mortenson ketika suatu hari ia memandangi anak-anak di sebuah pedalaman Pakistan menulis dengan ranting di tanah. Saat itu mereka tengah belajar dan menuntut ilmu.

Betapa jauh kondisi yang dilihatnya itu dengan negeri dari mana ia berasal, Amerika. Niatnya pun bulat: ia ingin membangun sekolah bagi anak-anak itu. Selain karena kejadian itu, hal ini juga disebabkan karena ia telah ditolong oleh seorang Pakistan ketika hampir mati di Gunung Korakoram di Pegunungan Himalaya.

Saat itu Greg sedang tersesat dan nyaris binasa. Penolongnya itu bernama Haji Ali. Di rumah Haji Ali di Korphe, sebuah desa di sana, Greg dirawat hingga pulih. Suatu ketika, oleh Haji Ali ia diberi tiga cangkir teh yang melambangkan penerimaan, persaudaran dan ikatan sehidup-semati.

Tak sedikit rintangan yang ditemui Greg untuk mewujudkan niat balas budinya membangun sekolah pertamanya di Pakistan, sampai akhirnya ia mendapat bantuan dana dari seorang pengusaha Prancis yang kaya bernama Jean Hornie.

Kisah Greg Mortenson yang ditulis ulang (disadur) oleh Sarah Thomson dalam buku ini ditujukan bagi pembaca muda. Buku aslinya yang jauh lebih tebal, Three Cups of Tea, yang ditulis oleh Greg sendiri bersama seorang rekan bernama David Oliver Relin, telah rilis pertama kali pada Januari 2007 (diterbitkan Penguin) dan menjadi sebuah buku laris yang diterjemahkan berbagai bahasa. Kisahnya yang dramatis dan penuh dedikasi membangun sekolah tanpa menguatirkan kondisi politik yang sedang penuh gejolak di masa itu, perbedaan agama, dan berbagai tantangan lain akan selalu dikenang banyak orang.

Sarah Thomson menyadur buku asli itu menjadi lebih ringkas, mengisahkan hidup Greg dari sudut pandang orang ketiga. Ia pun menyertakan wawancara dengan Amira, putri Greg yang kini berusia 14 tahun. Dalam wawancara itu dikisahkan bagaimana Amira memandang sosok ayahnya, dan apa-apa saja yang ia lakukan untuk membantu ayahnya membangun lebih banyak lagi sekolah: Ia menyanyi pada beberapa kesempatan, ikut ayahnya presentasi, dan membantu ayahnya mengumpulkan banyak recehan -- programnya dinamai Pennies for Peace -- untuk dijadikan salah satu sumber dana bagi misi Greg membangun sekolah.

Inilah kelebihan utama yang didapatkan oleh sidang pembaca (muda) ketika membaca versi buku ini. Kita dapat mengenal sosok Greg dari kacamata Amira, anaknya, yang disampaikan oleh penulis dalam sebuah bab khusus. Lewat bab inilah para pembaca (muda) dapat memahami lebih realistis -- bukan dari kacamata dan pemikiran Greg -- bahwa tugas dan panggilan yang dilakukan dalam hidup Greg Mortenson adalah tugas yang bahaya sekaligus penuh tantangan dan maknawi.

Daerah-daerah yang ia dirikan sekolah di Pakistan -- dan kemudian Afghanistan -- tak jauh dari tempat-tempat tinggal dan keliaran para Taliban yang radikal. Namun, Greg yakin radikalisme yang keliru dapat diubah lewat pendidikan. Seorang anak yang hidupnya dipenuhi dengan pengetahuan dan kebijaksanaan, saat besar nanti dapat hidup dengan bijak, dan menyongsong hari depan dengan lebih baik.

Buku yang juga dilengkapi foto-foto berwarna ini tepat dibaca oleh para guru, pemerhati pendidikan, bahkan para pecinta alam yang kerap mencari jati-diri. Golongan terakhir, rasanya memang membutuhkan buku ini, yang dapat memberikan pencerahan dan pemaknaan yang menjadi sisi lain suatu pengembaraan atau petualangan. Greg sendiri adalah seorang yang sangat terpengaruh oleh para pecinta alam yang menginspirasi hidupnya. Salah satunya Edmund Hillary.

"Aku hanya pendaki gunung bersemangat dengan kemampuan biasa yang mau bekerja cukup keras, serta punya imajinasi dan tekad yang diperlukan. Aku hanya orang biasa. Medialah yang mencoba mengubahku menjadi sesosok pahlawan. Tapi, aku telah belajar banyak selama bertahun-tahun. Selama kau tak mempercayai banyak omong kosong tentang dirimu sendiri, kau tidak akan terlalu dirugikan."

Kata-kata di atas diucapkan Edmund Hillary, penakluk pertama Mount Everest, puncak tertinggi di Pegunungan Himalaya, pada tanggal 13 September 1995. Greg mendengarnya secara langsung ketika kata-kata itu diucapkan. Kata-kata itu terus membakar semangatnya, terus membuat hidupnya bergairah untuk menaklukkan alam yang keras seraya membuat perubahan dengan mendirikan sekolah-sekolah.

Sebagaimana Greg membangun sekolahnya, Amira menyanyi dan giat mengajak banyak pihak mengumpulkan recehan, buku ini serasa mengajak kita untuk berbuat sesuatu bagi sesama. Ada kesan yang kuat, yang menyentuh nurani kita untuk memiliki sebuah pengabdian atau perbuatan bagi sesama -- terutama bagi mereka yang diabaikan dan kurang beruntung. Lewat buku ini kita disadarkan bahwa hidup bukan hanya sebuah perjalanan menjadi dewasa, mendapat kerja, mendapat istri, mempunyai anak, mencari nafkah, lalu mati. Ada sesuatu yang dapat kita lakukan, lebih daripada semua itu. Inilah yang tampaknya menjadi kekuatan buku ini, yang masih jarang dimiliki oleh buku-buku motivatif atau inspiratif lainnya. ***

*) Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo dan pemerhati pendidikan

13.2.10

Resensiku Dijiplak di Surabaya Post

Mungkin ini pengalamanku paling apes sejauh ini dalam hal meresensi buku. Seorang redaktur koran memintaku meresensi buku Mendongkel Yesus dari TahtaNya. Aku mau minta ke penerbitnya takut kelamaan. Aku beli di Surabaya, kubaca dua minggu, kubuat resensinya.

Setelah resensi itu kukirim, redaktur tersebut menganggap tulisanku masih kurang apik dan maknyus. Akhirnya kuubah sampai dua kali. Kukirimkan tiga versi tulisanku, tapi masih belum layak muat. Bagiku tak masalah dengan keputusan itu. Tiap editor atau redaktur punya selera. Tapi masalah lain datang:

Malam ini, kutemukan berita ini waktu aku mau cari bahan nulis renungan. Kaget aku: serasa membaca tulisanku sendiri! Tulisan ini dimuat di Surabaya Post.

Ini linknya: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=40d670477ea432dea2ee336c54d03a9b&jenis=d41d8cd98f00b204e9800998ecf8427e.

Kukutipkan sekalian resensinya:

Menjernihkan Pengeruhan Iman Kristen

Judul Buku: Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya
Penulis: Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace
Penerjemah: Helda Siahaan
Tebal: 285 halaman, 2009
Peresensi: Supriyanto
(Peminat buku keagamaan tinggal di Surabaya)

Pada kelahiran Yesus, sebuah nubuat tersabadakan. Seorang tua bernama Simeon menubuatkan Yesus akan selalu menjadi titik perbantahan. Takhta-Nya sebagai Mesias selalu digoyang dan diserang. Dan tak salah, jika belakangan kita akan terus melihat guncangan dan serangan itu.

Kini, di berbagai kampus di seluruh dunia, dikaji tentang bagaimana takhta Yesus terus digoyang. Yang mutakhir, dikembangkan sebuah konsep pengajaran baru yang bertolak belakang dengan Kristianitas. Yesusanitas atau Jesusanity sebuah pengajaran yang tak mendudukkan Yesus sebagai Juruselamat. Secara konseptual Yesusanitas merupakan ideologi untuk menempatkan Yesus sebagai tokoh politik radikal, atau guru yang agung dan hebat, dan menolak posisi Yesus sebagai Kristus, atau Mesias.

Novel dan film Da Vinci Code laris-manis di masyarakat global. Serangan atas iman Kristen dilancarkan dengan gencar dan banyaknya buku yang mengguncang iman Kristen seolah menjawab nubuat Simeon. Berbagi buku dan film itu pun diakui oleh para kreatornya didasarkan atas hasil riset mendalam. Hal ini tak pelak menjadikan seseorang terdorong menjadi penganut Yesusanitas. Konsep ini semakin menyedot perhatian publik.

Dua penulis buku Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya dengan judul asli Dethroning Jesus, Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace, mencoba melakukan klasifikasi beberapa klaim seputar Yesus ”yang lain.” Mereka melakukan pemilhan dalam enam bagian. Klaim pertama adalah tentang kitab-kitab dalam Perjanjian Baru (PB) yang dianggap dirusak oleh para penyalin hingga tak terpulihkan.

Klaim tersebut dimotori buku karya Bart Ehrman berjudul Misquoting Jesus. Buku bernada provokasi ini menjadikan orang pesimis akan kondisi naskah-naskah yang menjadi acuan penulisan Injil, dengan mengisyaratkan tak adanya naskah asli yang menjadi sumber atau acuan penulisan Injil.

Klaim kedua dan ketiga terkait eksistensi berbagai Injil dari kelompok Gnostik rahasia, seperti Injil Yudas dan Injil Tomas. Berbagai kelomopk Gnostik memberi penekanan berlebihan mengenai wahyu ilahi rahasia terhadap orang-orang tertentu saja. Injil Yudas disebut-sebut menjadi kitab bagi versi Kristianitas alternatif di abad-abad pertama Masehi.

Dalam kasus tersebut, Bart Ehrman berkomentar di sini Injil Yudas menjungkirbalikkan Kristianitas. Yudas yang dianggap pemberontak karena mengkhianati Yesus dalam Kristianitas, justru menjadi pembuka jalan bagi penyaliban. Intinya, justru karena "pengkhianatan" Yudas, Yesus bisa mati tersalib. Dengan tersalibnya Yesus maka dibukalah penyelamatan bagi umat manusia.

Klaim yang keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap hanya bermuatan sosial dan politik. Klaim ini muncul dengan adanya buku karya Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week tentang minggu terakhir Yesus sebelum disalib. Saat itu Yesus ada di Yerusalem. Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai muda. Ia mengucapkan sesuatu tentang pajak dan kekaisaran, berhadapan dengan mahkamah agama Yahudi, hingga mati disalib dengan tuduhan pemberontakan. Semuanya tampak memuat hal berbau politik.

Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan. Ia kemudian menitikberatkan gagasannya pada rencana Yesus untuk membangun sebuah dinasti Yahudi bersama Yakobus, Petrus dan Yohanes. Sebuah rencana yang kemudian gagal karena tampilnya Paulus yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam PB dan meletakkan dasar bagi Kristianitas lewat ajaran-ajarannya tentang Yesus Kristus.

Klaim keenam, berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel membuat film dokumenter tentang ini. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak. Istri, anak, dan beberapa saudara Yesus dimakamkan selokasi dengan Yesus. Namun, hasil uji DNA telah menyatakan bahwa antara makam Yesus dan sebuah makam di situ—yaitu makam Mariamne, yang diduga adalah Maria ibu Yesus—tidak memiliki hubungan darah. Selain itu, nama Yesus cukup populer pada masa itu. Josephus, seorang ahli sejarah menyebut ada 10 orang bernama Yesus saat Yesus Kristus hidup.

Buku ini tepat dibaca oleh semua kalangan yang mengikuti maraknya perdebatan seputar iman Kristen belakangan ini, yang membenturkan logika dan keyakinan atas Yesus yang selama ini dikenal dari doktrin gerejawi. Buku ini mencoba menawarkan pemikiran kritis atas klaim-klaim itu. Buku ini menjadi semacam apologetika yang dikemas dengan meramu beragam wacana seputar perdebatan iman Kristiani.

*******

Bandingkan dengan resensiku Versi Pertama: http://tuanmalam.blogspot.com/2009/04/yesusanitas-dan-kristianitas-dalam.html dan Versi Ketiga:
http://www.facebook.com/sidiknugroho?v=app_2347471856&ref=profile#!/note.php?note_id=128128037770. Yang kedua lupa kusimpan.

Kukutipkan ya: Versi Pertama

Yesusanitas dan Kristianitas dalam Sebuah Buku Apologetika

Judul Buku: Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya
Penulis: Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace
Penerjemah: Helda Siahaan
Penerbit: Gramedia
Tebal: 285 halaman
Cetakan pertama, 2009

Yesusanitas -- apakah itu? Diterjemahkan dari bahasa Inggris Jesusanity, Yesusanitas adalah suatu ideologi yang sedang diajarkan di berbagai perguruan tentang kedudukan dan identitas Yesus sebagai tokoh politik radikal, atau guru yang agung dan hebat. Dalam Yesusanitas, posisi Yesus sebagai Kristus, atau Mesias, tidak diakui. Karenanya, Yesusanitas bertolak belakang dengan Kristianitas, pengajaran yang menjunjung tinggi kedudukan Yesus sebagai Juruselamat.

Yesusanitas muncul, kemudian kian merebak, karena adanya beberapa klaim seputar Yesus "yang lain", yang semakin menyedot perhatian publik. Dua penulis buku ini, Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace, memilah klaim-klaim tersebut dalam enam bagian.

Klaim pertama adalah tentang kitab-kitab dalam Perjanjian Baru yang dianggap telah sangat dirusak oleh para penyalin hingga tak terpulihkan. Klaim ini dimotori oleh buku karya Bart Ehrman berjudul Misquoting Jesus. Buku yang ditulis dengan gaya amat provokatif ini membuat orang pesimis akan kondisi naskah-naskah yang menjadi acuan penulisan Injil. Ehrman membuat pernyataan-pernyataan yang mengisyaratkan ketiadaan naskah asli yang menjadi sumber atau acuan penulisan Injil.

Padahal, dibandingkan dengan berbagai jenis manuskrip lain berbahasa Latin dan Yunani yang ditemukan, Perjanjian Baru memiliki jumlah manuskrip yang sangat jauh lebih banyak. Dalam kurun waktu 50 tahun (100-150 M) saja, ada 5700 manuskrip Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani, lebih dari 10.000 manuskrip berbahasa Latin, lebih dari 1 juta kutipan bapa gereja, dan belum termasuk sumber-sumber tertulis lain. Klaim Ehrman, kemudian menjadi begitu memukau, sekaligus meragukan, utamanya karena ia cenderung untuk berfokus pada perubahan-perubahan drastis dalam sejarah teks -- yang jumlahnya hanya segelintir. Perubahan-perubahan ini semestinya diperlakukan memadai dengan menakarnya ulang lewat kritik teks yang diupayakan menyeluruh dan terpadu dari sumber-sumber yang ada.

Klaim kedua adalah keberadaan Injil-Injil Gnostik rahasia, seperti Injil Yudas yang disebut-sebut menjadi kitab bagi versi Kristianitas alternatif di abad-abad pertama Masehi. Aliran Gnostik memberi penekanan berlebihan mengenai wahyu ilahi rahasia terhadap orang-orang tertentu saja. Dalam kasus ini, lagi-lagi ada Bart Ehrman juga yang berkomentar di sini bahwa Injil Yudas menjungkirbalikkan Kristianitas yang sejati: Yudas yang dianggap pemberontak dalam Kristianitas, justru menjadi pembuka jalan bagi penyaliban.

Klaim kedua ini lemah kedudukannya mengingat manuskrip Injil Yudas diindasikan ditulis pada akhir abad ketiga, dan naskah aslinya diperkirakan ditulis abad kedua. Jadi, jelas di sini bahwa Yudas bukan penulisnya. Ia mati menggantung diri tak lama setelah Yesus disalib. Jadi, semua yang ada di sini hanya rekaan: Yudas fiktif dan Yesus fiktif.

Klaim ketiga datang dari Injil Gnostik lain, yaitu Injil Tomas. Dalam Injil yang hanya memuat 114 pernyataan Yesus ini, Tomas menampilkan Yesus sebagai seorang guru. Ia tidak melakukan mukjizat, tidak memenuhi nubuat apa pun, dan tidak melakukan penebusan dosa. Injil Tomas menekankan pengetahuan, namun mengabaikan iman.

Klaim keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap intinya bermuatan sosial dan politik. Klaim ini muncul dengan adanya buku karya Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week tentang minggu terakhir Yesus sebelum disalib. Saat itu Yesus ada di Yerusalem. Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai muda. Ia menyucikan Bait Allah dengan cara yang radikal, mengucapkan sesuatu tentang pajak dan kekaisaran, berhadapan dengan mahkamah agama Yahudi, hingga mati disalib dengan tuduhan pemberontakan. Semuanya tampak memuat hal-hal berbau politik.

Borg dan Crossan kemudian menganalogikan secara politis sejarah Yesus dengan kondisi Amerika saat ini. Yesus dianggap politisi unggul yang "dibunuh karena impian-Nya", dan kemudian dibenarkan oleh Tuhan. Dalam Kristianitas, Yesus tidak melakukan semuanya karena bertujuan politis. Ia tak sekedar memenuhi impian-Nya, tapi kehendak Tuhan.

Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan. Ia kemudian menitikberatkan gagasannya pada rencana Yesus untuk membangun sebuah dinasti Yahudi bersama Yakobus, Petrus dan Yohanes. Sebuah rencana yang kemudian gagal karena tampilnya Paulus yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam Perjanjian Baru dan meletakkan dasar bagi Kristianitas lewat ajaran-ajarannya tentang Yesus Kristus.

Tampak di sini bahwa Tabor berusaha mempertahankan ke-Yahudi-an Yesus dengan mengabaikan Paulus, seorang rasul -- yang justru "sangat Yahudi" -- yang menyebarkan berita Injil ke bangsa-bangsa bukan Yahudi.

Klaim keenam datang dari berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel bahkan sudah membuat film dokumenter tentang ini dengan James Tabor sebagai penasihat sejarah utama. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak. Istri, anak, dan beberapa saudara Yesus dimakamkan selokasi dengan Yesus. Namun, hasil uji DNA telah menyatakan bahwa antara makam Yesus dan sebuah makam di situ -- yaitu makam Mariamne, yang diduga adalah Maria ibu Yesus atau Maria Magdalena -- tidak memiliki hubungan darah. Selain itu, nama Yesus cukup populer pada masa itu. Josephus, seorang ahli sejarah menyebut ada 10 orang bernama Yesus saat Yesus Kristus hidup.

Klaim-klaim di atas menantang logika dan keyakinan kita atas keabsahan jati-diri Yesus yang selama ini dikenal dari Alkitab atau doktrin gerejawi. Buku apologetika yang dikemas dengan meracik sumber-sumber sejarah terpilih dan wacana-wacana terkini ini layak untuk dijadikan pegangan yang standar dan bersifat umum.

Judul buku ini (asli: Dethroning Jesus), tepat benar untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi -- dan kemungkinan besar akan terus terjadi -- sesuai sebuah nubuat di masa silam: bahwa Yesus Kristus akan selalu menjadi biang perbantahan. Takhta-Nya sebagai Mesias selalu digoyang dan diserang. Kristianitas, kini tak sekedar memuat ibadah dan pengagungan, namun tampaknya juga mencakup upaya menelusuri dan memetik hikmah dari beraneka perbantahan itu. ***

Sidik Nugroho,
Peminat sejarah gereja, alumnus jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang, guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, punya blog di http://tuanmalam.blogspot.com.

********

Kukutipkan Versi Kedua:

Yesus Kristus atau Yesus Saja?

Sidik Nugroho*)

Judul Buku: Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya
Penulis: Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace
Penerjemah: Helda Siahaan
Penerbit: Gramedia
Tebal: 285 halaman
Cetakan pertama, 2009

Dalam sebuah film dikisahkan Yesus ingin tidak mati disalib. Ia berandai-andai memiliki keluarga, hidup bahagia sebagai manusia biasa. Kehidupannya "yang lain" ini ada dalam sebuah film bertajuk The Last Temptation arahan sutradara Martin Scorsese yang sempat memicu kontroversi. Namun, film Scorsese itu bisa dikatakan tak terlalu telak -- bahkan bisa dikatakan tak bermaksud -- menyerang iman Kristen, karena Yesus yang digambarkan dalam film itu hanya Yesus yang berandai-andai.

Belakangan ini, ada juga buku -- yang kemudian juga difilmkan -- yang membuat banyak orang tertohok. Sejak novel dan film Da Vinci Code laris-manis di masyarakat global, serangan atas iman Kristen dilancarkan dengan gencar dan bertubi-tubi dengan adanya buku-buku yang menggoncang iman. Buku-buku dan film-film yang diakui oleh para kreatornya didasarkan atas hasil riset mendalam, bukan lagi berandai-andai, yang cukup menyerang keutuhan teologi Kristen.

Teologi Kristen mengajarkan bahwa Yesus, yang populer juga dengan nama Isa, adalah Yesus Kristus. Kristus menunjukkan eksistensi Yesus yang bukan hanya seorang nabi. Kata Kristus berarti "yang diurapi oleh Allah" atau Mesias. Kata ini menekankan penjelasan penting dalam teologi Kristen bahwa ia adalah juruselamat yang diutus oleh Tuhan untuk menebus dosa-dosa manusia. Bahkan, ia adalah Tuhan yang mewujud jadi manusia.

Karena sulitnya peran dan kedudukan Yesus dicerna akal sehat manusia -- ia disebut seratus persen Tuhan dan seratus persen manusia -- maka beraneka perdebatan tentangnya berkembang sepanjang sejarah. Perdebatan, juga klaim, yang menimbulkan aneka penafsiran, akhirnya dapat bermuara pada sebuah ideologi yang disebut Yesusanitas.

Yesusanitas -- apakah itu? Diterjemahkan dari bahasa Inggris Jesusanity, Yesusanitas adalah suatu ideologi yang sedang diajarkan di berbagai perguruan tentang kedudukan dan identitas Yesus sebagai tokoh politik radikal, atau guru yang agung dan hebat. Dalam Yesusanitas, posisi Yesus sebagai Kristus, atau Mesias, tidak diakui. Karenanya, Yesusanitas berseberangan dengan Kristianitas, pengajaran yang menjunjung tinggi kedudukan Yesus sebagai Juruselamat dalam agama Kristen.

Yesusanitas muncul, kemudian kian merebak, karena adanya beberapa klaim seputar Yesus "yang lain", yang semakin menyedot perhatian publik. Dua penulis buku ini, Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace, memilah klaim-klaim tersebut dalam enam bagian.

Klaim pertama hingga kelima dalam buku ini disimpulkan Bock dan Wallace dari buku-buku yang menyanggah keabsahan dan keakuratan jati-diri Yesus. Pertama, tentang kitab-kitab dalam Perjanjian Baru yang dianggap telah sangat dirusak oleh para penyalin hingga tak terpulihkan. Klaim ini dimotori oleh buku karya Bart Ehrman berjudul Misquoting Jesus. Klaim kedua dan ketiga adalah keberadaan Injil-Injil Gnostik rahasia, seperti Injil Yudas dan Injil Tomas. Klaim keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap hanya bermuatan sosial dan politik, seperti yang diuraikan Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week. Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan dan dianggapnya berniat mendirikan suatu dinasti.

Klaim keenam cukup menghebohkan karena datang dari berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel bahkan sudah membuat film dokumenter tentang ini dengan James Tabor sebagai penasihat sejarah utama. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak.

Klaim-klaim di atas menantang logika dan keyakinan umat Kristen atas keabsahan jati-diri Yesus yang selama ini dikenal dari Alkitab atau doktrin gerejawi. Buku ini mencoba menawarkan pemikiran kritis atas klaim-klaim itu. Buku apologetika yang dikemas dengan meracik berbagai wacana terkini seputar perdebatan iman Kristiani ini layak untuk dijadikan pegangan yang standar dan bersifat umum. Bukan hanya bagi umat Kristen, buku ini juga tepat dibaca oleh semua kalangan yang mengikuti maraknya perdebatan seputar iman Kristen belakangan ini.

Buku ini secara garis besar membela iman Kristen. Kehadiran buku-buku yang disebut dalam enam klaim di atas -- juga film dari Discovery Channel yang tadi telah disebut -- mau tak mau dapat menimbulkan efek yang luas bagi umat Kristen. Sudah barang tentu, semua klaim ini bisa membuat banyak umat Kristen sangsi atas keabsahan iman yang selama ini mereka anut. Perlu ada sebuah buku, dari teolog yang berkompeten dalam menangkal serangan-serangan itu.

Darell L. Bock adalah seorang yang tepat; ia tercatat sebagai penulis buku laris Breaking the Da Vinci Code. Ia juga menjadi kontributor di ChristianityToday.com, sebuah situs yang sangat aktif dalam membahas isu-isu yang berkembang seputar kekristenan di masa kini. Rekannya, Daniel B. Wallace, adalah penulis yang produktif, seorang ahli-kritik teks Perjanjian Baru. Kedua penulis ini adalah profesor di Dallas Theological Seminary di Texas.

Untunglah, status mereka sebagai profesor tak membuat pembaca awam mengerutkan dahi. Bahasa yang dipergunakan dalam buku ini cenderung populer, dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia cukup nyaman diikuti. Gramedia Pustaka Utama sebagai penerbit yang menerbitkan beberapa buku terjemahan yang telah disebut dalam klaim-klaim di atas tadi, mengambil tindakan jitu menerbitkan buku terjemahan ini pula. Ini menjadi sebuah keputusan yang tampak berimbang, sekaligus market-oriented: dari penerbit yang sama, keluar buku yang saling bertentangan.

Pertentangan demi pertentangan yang terjadi seputar iman Kristen rasanya terus akan berlanjut. Yesus yang tertulis dalam Injil dan disembah orang Kristen selalu berpeluang untuk ditentang kedudukannya sebagai Yesus Kristus. Bagi para penentang dia bukanlah Yesus Kristus; dia hanya Yesus, tak lebih dari itu. Nah, setelah pertentangan demi pertentangan itu terjadi, juga demi bersiaga sebelum pertentangan-pertentangan lain muncul, buku ini patut dijadikan pegangan. Buku ini, pada akhirnya mengajak pembaca merenung sebuah hal yang penting: Kristianitas, kini tak sekedar memuat ibadah dan pengagungan, namun tampaknya juga mencakup upaya menelusuri dan memetik hikmah dari berbagai pertentangan itu. ***

*) Sidik Nugroho, alumnus jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang, guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, dan peminat sejarah gereja


********

Kesulitan menemukan penjiplakan? Ini kukutipkan beberapa bagian yang nyaris mirip.

Klaim yang keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap hanya bermuatan sosial dan politik. Klaim ini muncul dengan adanya buku karya Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week tentang minggu terakhir Yesus sebelum disalib. Saat itu Yesus ada di Yerusalem. Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai muda. Ia mengucapkan sesuatu tentang pajak dan kekaisaran, berhadapan dengan mahkamah agama Yahudi, hingga mati disalib dengan tuduhan pemberontakan. Semuanya tampak memuat hal berbau politik. (Versi Penjiplak)

Klaim keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap intinya bermuatan sosial dan politik. Klaim ini muncul dengan adanya buku karya Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week tentang minggu terakhir Yesus sebelum disalib. Saat itu Yesus ada di Yerusalem. Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai muda. Ia menyucikan Bait Allah dengan cara yang radikal, mengucapkan sesuatu tentang pajak dan kekaisaran, berhadapan dengan mahkamah agama Yahudi, hingga mati disalib dengan tuduhan pemberontakan. Semuanya tampak memuat hal-hal berbau politik. (Versi Sidik Nugroho)

******

Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan. Ia kemudian menitikberatkan gagasannya pada rencana Yesus untuk membangun sebuah dinasti Yahudi bersama Yakobus, Petrus dan Yohanes. Sebuah rencana yang kemudian gagal karena tampilnya Paulus yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam PB dan meletakkan dasar bagi Kristianitas lewat ajaran-ajarannya tentang Yesus Kristus. (Versi Penjiplak)

Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan. Ia kemudian menitikberatkan gagasannya pada rencana Yesus untuk membangun sebuah dinasti Yahudi bersama Yakobus, Petrus dan Yohanes. Sebuah rencana yang kemudian gagal karena tampilnya Paulus yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam Perjanjian Baru dan meletakkan dasar bagi Kristianitas lewat ajaran-ajarannya tentang Yesus Kristus. (Versi Sidik Nugroho)

******

Dalam kasus tersebut, Bart Ehrman berkomentar di sini Injil Yudas menjungkirbalikkan Kristianitas. Yudas yang dianggap pemberontak karena mengkhianati Yesus dalam Kristianitas, justru menjadi pembuka jalan bagi penyaliban. Intinya, justru karena "pengkhianatan" Yudas, Yesus bisa mati tersalib. Dengan tersalibnya Yesus maka dibukalah penyelamatan bagi umat manusia. (Versi Penjiplak)

Dalam kasus ini, lagi-lagi ada Bart Ehrman juga yang berkomentar di sini bahwa Injil Yudas menjungkirbalikkan Kristianitas yang sejati: Yudas yang dianggap pemberontak dalam Kristianitas, justru menjadi pembuka jalan bagi penyaliban. (Versi Sidik Nugroho)


******

Klaim keenam, berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel membuat film dokumenter tentang ini. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak. Istri, anak, dan beberapa saudara Yesus dimakamkan selokasi dengan Yesus. Namun, hasil uji DNA telah menyatakan bahwa antara makam Yesus dan sebuah makam di situ—yaitu makam Mariamne, yang diduga adalah Maria ibu Yesus—tidak memiliki hubungan darah. Selain itu, nama Yesus cukup populer pada masa itu. Josephus, seorang ahli sejarah menyebut ada 10 orang bernama Yesus saat Yesus Kristus hidup.(Versi Penjiplak)

Klaim keenam datang dari berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel bahkan sudah membuat film dokumenter tentang ini dengan James Tabor sebagai penasihat sejarah utama. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak. Istri, anak, dan beberapa saudara Yesus dimakamkan selokasi dengan Yesus. Namun, hasil uji DNA telah menyatakan bahwa antara makam Yesus dan sebuah makam di situ -- yaitu makam Mariamne, yang diduga adalah Maria ibu Yesus atau Maria Magdalena -- tidak memiliki hubungan darah. Selain itu, nama Yesus cukup populer pada masa itu. Josephus, seorang ahli sejarah menyebut ada 10 orang bernama Yesus saat Yesus Kristus hidup. (Versi Sidik Nugroho)


*******

PELAJARAN BERHARGA: Jangan asal memasang resensi Anda di notes atau blog! Semoga kita semua para peresensi tetap semangat. Tetap tersenyum juga. Hihihi...

26.1.10

Demi Masa Depan Anak

Judul Buku: I Can (Not) Hear
Penulis: Feby Indirani dan San C. Wirakusuma
Editor: Christian C. Simamora
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 352 halaman
Cetakan pertama, Oktober 2009

***

Memiliki seorang anak yang normal secara fisik dan psikis, kemungkinan (besar) tak akan mendatangkan banyak masalah, terutama dalam mengajaknya berkomunikasi, belajar, bahkan bermain. Para orang tua tinggal menentukan suatu pola pembelajaran dan pendidikan yang tepat, maka kemungkinan (besar) anak itu akan baik-baik saja. Sebuah keluarga yang bahagia pun terbentuklah. Namun, berbeda dengan Sansan, panggilan akrab San C. Wirakusuma. Ia memiliki anak yang tuli karena sebuah serangan virus. Anaknya itu bernama Gwen.

Oleh keterangan Dokter Goh yang ada di Queen Mary Hospital Hongkong, penyebab ketulian Gwen adalah sebuah virus bernama CMV (cytomegalovirus). Begitu mendapatkan kabar ini, maka Sansan dengan segenap daya-upayanya mencari kesembuhan. Ia dan suaminya telah mencoba berbagai pengobatan alternatif, berdoa memohon kesembuhan, menghadapi seorang dokter yang ketus, mengurusi tugas-tugas rumah tangga yang berat dan anak yang susah diajak berkomunikasi dan mengerti. Namun kesembuhan tetap tak terjadi pada Gwen.

Pada usia 17 bulan, akhirnya Gwen dipasangi cochlear implant, sebuah alat bantu pendengaran yang canggih, yang membuatnya kian mahir berkomunikasi. Namun, tantangan tak berhenti di situ. Gwen perlu banyak berlatih memperhatikan, mendengarkan dan berbicara. Sebelum itu, beberapa alat bantu pendengaran telah dipasang, namun hasilnya tidak maksimal. Upaya mendatangkan kesembuhan bagi Gwen pada akhirnya membuat Sansan mengambil keputusan membawa Gwen ke Australia, berpisah dari suaminya, membesarkan anak itu seorang diri.

Kisah-kisah bagaimana Sansan mendidik putrinya ini dihadirkan cukup menyentuh oleh kedua penulis. Tidak diceritakan sekilas proses kreatif penulisannya: apakah buku ini ditulis dengan cara Sansan menuturkannya kepada Febi Indirani, atau mereka menuliskannya bersama-sama. Namun, tanggal, kejadian, ekspresi orang-orang, cuaca dan situasi di hampir semua kejadian yang ada di buku ini terkisahkan dengan cukup detil dan menarik. Pembaca dibawa untuk masuk dalam kehidupan keluarga Sansan.

Kisah-kisah Sansan dan Gwen akan menginspirasi para pembaca, utamanya para guru Sekolah Luar Biasa, para pendidik, dan para ibu tentunya. Kisah ini sudah cukup baik tergarap dari awal hingga akhir, namun sayang dalam beberapa halaman masih tampak beberapa kesalahan penulisan berupa tanda baca dan ejaan. Editor dan penulis kiranya dapat memperhatikan dan memperbaiki kesalahan-kesalahan ini bila nantinya buku ini dicetak ulang.

Hal-hal yang berkaitan dengan dunia kedokteran, pendidikan, atau psikologi tak banyak dikisahkan dengan detil dalam buku ini. Porsi terbesar adalah penggambaran kondisi sebuah keluarga yang memiliki anak yang "tak sama" seperti anak yang lain. Dari sinilah buku ini memiliki keunikannya tersendiri. Kita diajak untuk menghayati dan belajar bagaimana mendidik seorang anak yang tak bisa mendengar; juga memahami perasaan ibu yang melahirkan dan membesarkannya.

Contohnya ketika suatu hari Gwen diundang pada pesta ulang tahun temannya bernama Aaron. Waktu itu Gwen masih menggunakan alat bantu pendengaran yang lebih sederhana daripada cochlear implant. Oleh terapisnya yang bernama Ivy, Sansan diminta untuk selalu mengenakan alat itu pada Gwen. Namun, karena alat itu tentunya akan mengundang berbagai reaksi dan pertanyaan dari orang di sekitar Gwen, Sansan tak memasangkan alat tersebut di pesta ulang tahun Aaron.

Suasana pesta yang riuh dan penuh keriangan tak dinikmati oleh Gwen yang tak bisa mendengarkan apa-apa. Sansan tidak memasangkan alat bantu pedengarannya karena ingin Gwen tampak seperti anak normal lainnya. Namun, keinginan ini justru membuat Gwen tampak tak seperti anak lain: Gwen tidak menikmati pesta yang sedang berlangsung, sementara mereka yang lain bergembira ria. Sansan mengalami dilema.

Ya, pergulatan batin seorang ibu dikisahkan dengan baik dalam buku ini. Demi cintanya kepada si anak, Sansan mengambil lagi kuliah S2 jurusan Special Education, sebuah jurusan yang banyak mempelajari tentang pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Saat-saat ia membesarkan anaknya sendirian sambil kuliah, ia mengenang: "Masa-masa itu saya harus benar-benar disiplin, membagi waktu antara kuliah, mengerjakan tugas-tugas makalah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan mengurus serta melatih Gwen."

Dengan lugas Sansan juga menguraikan argumen-argumennya yang penting tentang perlakuan yang harus kita berikan kepada tiap anak agar memperoleh kesempatan yang sama untuk bertumbuh-kembang menjadi pribadi yang seutuhnya. Anak-anak adalah anugerah Tuhan, dan para orang tua yang berbahagia adalah mereka yang menghargai anugerah itu dengan berjerih lelah mendatangkan kebahagiaan dan masa depan yang indah bagi mereka.

***

Sidoarjo, 8-9 Januari 2010

Sidik Nugroho
Guru anak-anak SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo

***

Resensi ini dimuat di koran Jawa Pos, 24 Januari 2010

3.12.09

Gajah, Pengharapan, dan Keyakinan

Judul Buku: Gajah Sang Penyihir (The Magician's Elephant)
Penulis: Kate DiCamillo
Ilustrasi: Yoko Tanaka
Penerjemah: Dini Pandia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: September, 2009
Tebal buku: 148 halaman

Peter Augustus Duchene adalah pria kecil yang malang. Dibesarkan di sebuah apartemen kumuh oleh Vilna Lutz, seorang mantan tentara tua yang suka membentak-bentak dan menyuruh-nyuruh, hidupnya terkesan muram. Sampai suatu ketika ia melihat seorang peramal, dan tertarik membayarkan satu florit untuk mendengar apa kata peramal itu. Padahal, seharusnya ia memakai satu florit itu untuk membeli ikan dan roti, seperti yang disuruhkan Vilna kepadanya.

Peramal itu, oleh Peter ditanyai sebuah hal yang paling meresahkan batinnya: apakah adiknya yang bernama Adele masih hidup? Jawaban yang diberikan sang peramal mengagetkannya: Adele masih hidup. Dan untuk menjumpai Adele, si peramal berkata: "Kau harus mengikuti gajahnya... gajah betina itu akan membawamu ke sana."

Harapan dalam diri Peter tersulut. Ia gembira, sekaligus bimbang dan bingung. Bagaimana tidak? Seekor gajah akan membawanya kepada Adele? Yang benar saja --gajah dari mana? Selain itu, Vilna Lutz tua yang sakit-sakitan itu, yang mengaku sebagai sahabat ayah Peter, menyatakan bahwa ramalan itu palsu. Sejak Peter hidup dengannya, Vilna telah menjejalkan kisah hidupnya yang lain: bahwa ayah Peter dulu adalah tentara yang hebat seperti dirinya, dan ia tak punya saudara lagi. Peter bahkan dilatih tiap hari dengan pelajaran seputar ketentaraan agar dapat menjadi tentara yang baik suatu ketika.

Namun, dengan cara yang ajaib, gajah itu benar-benar muncul, meresahkan segenap penduduk kota Baltese. Datangnya tak terduga pada sebuah acara yang digelar seorang penyihir. Penyihir itu, awalnya hendak membuat kejutan dengan menghadirkan hanya sebuket bunga lili dengan kemampuan sihirnya. Tak dinyana, ketika sihirnya ia mainkan, dari atas atap gedung opera seekor gajah yang besarnya bukan kepalang turun di tengah-tengah hadirin!

Gajah itu membuat remuk kaki seorang bangsawan bernama Madam LaVaughn. Ia harus duduk di kursi roda karena kecelakaan itu. Berita kedatangan gajah pun menyebar di seantero kota Baltese. Peter pun mendengarnya -- harapannya menemukan titik terang.

Dengan bantuan seorang polisi berbadan kecil bernama Leo Mattiene yang murah hati, seorang tukang batu pemberani yang suka tertawa sendiri bernama Bartok Whynn, Madam La Vaughn dan pelayannya yang bernama Hans Ickman, maka pencarian Peter akan Adele pun menjadi kisah yang menarik.

Kisah yang digarap Kate DiCamillo ini agak berbeda dari beberapa bukunya yang sebelumnya. Sebelum ini ia telah menulis beberapa cerita anak (yang juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Gramedia): The Tiger Rising, The Miraculous Journey of Edward Toulane, Because of Winn Dixie dan The Tale of Desperaux. Dua yang terakhir disebut sudah difilmkan. Bedanya adalah, baru ini Kate DiCamillo mengangkat hal berbau sihir dalam ceritanya. Ya, tetap juga ada kesamaan: tokoh berupa binatang tetap tampil sebagai tokoh dominan dalam bukunya kali ini. Namun, kisah-kisah di buku-bukunya yang sudah-sudah lebih banyak dibumbui dengan tema persahabatan, keluarga, atau kepahlawanan.

Apa pun tema yang digarap oleh Kate selalu menarik diikuti hingga tuntas, termasuk yang dilakukannya kali ini. Ini tak lain karena ia adalah seorang penulis yang berdedikasi penuh untuk menulis cerita anak-anak. Dalam sebuah wawancara ia mengaku menulis dua halaman dari hari Senin sampai Jumat sebelum bekerja di toko buku. Tulisan-tulisannya senantiasa tertutur rapi dan tak menjemukan. Ia pernah mendapatkan Newbery Medal, sebuah penghargaan untuk buku cerita anak-anak terbaik untuk bukunya The Tale of Desperaux.

Buku The Magician's Elephant merangkum kecerdasan Kate DiCamillo bercerita: runut, imajinatif, dan kaya akan frasa yang disebutkan beberapa kali untuk membentuk imajinasi pembaca agar menyelami situasi yang sedang terjadi di kota Baltese. Baltese adalah sebuah kota yang tak ada di belahan dunia mana pun -- sebuah negeri antah-berantah. Dalam sebuah wawancara lain, Kate menyebutkan setelah ia selesai menggarap bukunya ini, ia menonton sebuah film yang berlatar kota Bruges di Belgia. Ia menyatakan kota itu, Bruges, mirip dengan Baltese yang ia ciptakan.

Untuk melukiskan Baltese, juga para tokoh, dan situasi penting yang terjadi di sepanjang cerita, beruntunglah Kate mendapatkan Yoko Tanaka. Yoko, walau hanya mengandalkan nuansa hitam-putih dalam membuat ilustrasi, mampu mewakili imajinasi yang awalnya ada pada Kate. Gambar-gambar yang dibuatnya hampir semuanya terkesan muram. Ini mewakili situasi kota Baltese yang selalu mendung, namun tak kunjung disiram salju atau hujan.

Salah satu ilustrasi yang menarik adalah gambar yang dibuat Yoko ketika melukiskan sebuah kamar Rumah Yatim-Piatu Susteran Cahaya Abadi (halaman 56). Kamar tidur itu berlangit-langit tinggi dan artistik. Di sana ada 14 tempat tidur yang semuanya ditiduri oleh anak-anak yang sedang lelap, kecuali sebuah tempat tidur. Seorang gadis kecil terjaga di tempat tidur itu, duduk di tepi tempat tidurnya. Rambutnya yang dikepang dua dengan lucu, membuat kita yang mengamatinya ingin memeluknya. Dialah Adele, adik Peter yang di suatu malam resah tak bisa tidur akibat mimpi yang baru saja dialaminya.

Mimpi Adele hadir dalam tidurnya, bagai membawa harapan yang ada di benak Peter, abangnya, untuk bertemu dengannya. Namun, Adele yang masih belum genap tujuh tahun dan tidak tahu dengan lengkap jati-dirinya hanya bisa meraba-raba apakah mimpi itu akan mengubah hidupnya. Ia hanya tahu bahwa mimpi itu aneh, namun menyenangkan dan membahagiakannya.

Nah, akan bertemukah dua kakak beradik ini nantinya? Ke manakah gajah itu nantinya akan dibawa? Buku ini terlalu bagus untuk Anda lewatkan, bila Anda menyukai imajinasi yang sering melintasi benak anak-anak kecil. Yang jelas, Peter dikisahkan tak setengah-setengah berjuang menemukan Adele. Walau tak pernah dilihatnya, Peter menyayangi adiknya itu sepenuh hatinya. Perjuangan Peter ini, pada akhirnya membidikkan pertanyaan yang membongkar kesejatian pengharapan dan keyakinan kita akan sesuatu hal yang hendak kita gapai: Sudah sungguh-sungguhkah kita mengejarnya sejauh ini? ***

Sidik Nugroho, guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo yang menyukai cerita anak-anak
Malang, 30 November 2009

30.10.09

Panduan Lengkap Memulai Bisnis Laundry

Judul Buku: Sukses Wirausaha Laundry di Rumah
Penulis: Haryo Bagus Handoko
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: xi + 138 halaman
Cetakan pertama, September 2009

Bulan Oktober 2009 ditandai dengan maraknya pemberitaan seputar penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) seantero Nusantara. Tak ayal, pemberitaan ini memancing ratusan ribu, bahkan jutaan orang, untuk berlomba-lomba mengejar status CPNS. Sebuah pola hidup yang bagi kebanyakan orang aman -- bahkan identik nyaman -- melekat pada status ini. Namun, berapa banyak orang yang nantinya gagal dalam ujian itu? Kita semua tahu: sangat banyak. Persaingan begitu ketat; sebuah posisi atau kebutuhan jabatan bisa diperebutkan oleh ratusan orang.

Nah, tiap orang sebenarnya diberi daya-kreatif agar mampu menghasilkan sesuatu. Dengan imajinasi, kreatifitas, dan kompetensi-kompetensi lainnya, setiap orang dapat berdaya-guna dan berhasil-guna menghidupi hidupnya. Tentunya, hal ini didukung pula dengan rangkaian sumber-daya yang memadai.

Hal inilah yang diuraikan dengan gamblang di bagian awal buku karya Haryo Bagus Handoko ini (dalam bab 1). Buku ini menyingkap dengan jitu di bagian awalnya: bahwa sebuah bisnis -- yang dulu tampaknya dimiliki segelintir orang berduit -- dapat dilakukan dengan manajemen sederhana dan modal kecil. Ya, bisnis laundry kini bertebaran di mana-mana. Semua orang, dengan modal yang tak terlalu besar, dapat memulai bisnis ini, dan berpeluang menemukan suatu kesuksesan finansial dalam hidupnya.

Haryo Bagus Handoko adalah penulis telaten. Ia adalah pencatat yang detil sekaligus fotografer yang andal. Dalam bukunya ini ia tak hanya bicara serangkaian kiat atau suntikan motivasi yang penuh buih. Bahasanya lugas, pun deskripsi dan pembahasannya senantiasa menuju poin-poin yang memang patut diberi perhatian oleh sidang pembaca. Ia dengan lihai dan wajar menyampaikan hal-hal yang memang perlu dilakukan dalam mengemas sebuah paket usaha bernama laundry.

Buku ini dibagi menjadi sembilan bab. Setelah bab pertama yang mencelikkan sidang pembaca tentang kemungkinan besar peraihan sukses dari bisnis ini, Haryo kemudian mengurai dengan apik bagaimana dan apa saja persiapan yang perlu dilakukan dalam memulai sebuah usaha laundry; pengelolaan usaha ini; dan kemudian detil pengoperasian usaha ini. Hingga di sini, bahasan yang disampaikan Haryo berbaur dengan beberapa motivasi yang kerap tersirat.

Pada dua bagian berikutnya, Haryo mulai membahas hal yang bersifat teknis dan operasional. Ini berkaitan dengan bagaimana kita menangani bermacam noda yang ada pada sebuah pakaian -- atau produk selain pakaian yang dapat ditangani dengan usaha laundry. Kemudian, dengan gamblang pula ia menguraikan bentuk dan pola administrasi (pembukuan) yang bisa dilakukan dalam usaha laundry. Di dua poin inilah tampak benar kelebihan buku ini: penjabarannya tak hanya motivatif nan inspiratif, namun memuat beragam deskripsi yang perlu dan vital. Haryo bahkan menuliskan beberapa software yang dapat diunduh dari internet untuk kepentingan administratif perusahaan laundry.

Tak berhenti sampai di situ, Haryo menambahkan beberapa bahasan seputar upaya-upaya memperbesar usaha. Dengan teliti dan amat deskriptif ia menguraikan apa saja yang dapat pembaca lakukan agar bisnis ini dapat berkembang dan meluas wilayah pemasarannya. Dan demi menguatkan pembahasannya, Haryo mengusung beberapa kisah inspiratif tentang beberapa wirausahawan laundry yang dapat ditelusuri jejaknya. Kisah-kisah ini tertutur jujur -- mereka yang dikisahkan semuanya memiliki alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi.

Di bagian akhir, Haryo menutup bukunya dengan melampirkan analisis usaha yang akan jadi panutan utama bagi para pemula bisnis ini. Dengan lugas ia menyampaikan tentang peran modal, biaya operasional, payback period (waktu pengembalian modal), hingga penghitungan rugi-laba. Semua ini merupakan rangkaian langkah taktis sekaligus teknis bagi pembaca yang memang berniat menekuni bidang usaha ini.

Buku ini terhitung lengkap sebagai sebuah acuan bagi para usahawan yang tertarik menekuni bisnis laundry. Bahkan, buku ini tampak seperti sebuah buku teks. Kita dapat saja membacanya dari awal sampai akhir seperti membaca novel; namun mengingat bentuk pembahasannya yang memuat beraneka poin taktis dan teknis, tak dapat dielakkan: buku ini perlu dibuka lagi -- dan lagi -- oleh para pebisnis laundry yang mengharapkan kemajuan dan perkembangan usaha.

Namun, yang menjadi kelemahan buku ini adalah desain dan lay-out-nya. Gambar di sampul depan buku ini tampak kurang ceria dan kurang menarik. Terlalu minimalis: hanya memuat empat baris judul, gambar setumpuk pakaian di dalam sebuah keranjang, dan nama penulis. Selain itu, foto-foto yang ada di halaman-halaman buku ini, beberapa di antaranya tampil kurang maksimal karena pengecilan yang agak berlebihan. Seharusnya, foto-foto di dalam buku ini bisa menjadi ilustrasi yang lebih hidup bila ditampilkan lebih proporsional.

Terlepas dari kelemahan itu, buku ini sangat patut dikoleksi oleh para wirausahawan muda. Bisnis laundry, dalam pembahasan yang ada di buku ini, tampak menjanjikan prospek bagus. Seperti yang telah disampaikan di bagian depan tulisan ini, banyak orang mungkin akan pupus harapan ketika tidak lolos CPNS -- atau tidak diterima setelah melamar kerja di sebuah perusahaan impian. Tak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru. Tak ada salahnya pula mencoba usaha laundry. Ya, karena buku petunjuknya kini sudah tersedia bagi Anda semua.

Sidoarjo, Kamis Kliwon (ngeri nggak!?), 29 Oktober 2009, 21.00-22.30
Sidik Nugroho (Pria yang belum punya modal -- padahal pengen -- bikin bisnis laundry.)