Showing posts with label Kepenulisan. Show all posts
Showing posts with label Kepenulisan. Show all posts

4.11.10

Daya Tahan Penulis Opini

Tony Widiastono, mantan redaktur opini harian Kompas, bercerita kalau suatu ketika ia mendapat kiriman e-mail dari seorang penulis yang gigih luar biasa. "Ini adalah tulisan saya yang ke-150," kata penulis itu. "Saya sudah mengirim 149 opini selama ini. Bila naskah ini pun tetap ditolak, saya tak akan pernah berhenti menulis." E-mail itu serta-merta membuat Pak Tony terpana. Ia pun membalas e-mail itu, menyertakan beberapa pengarahan yang penting untuk diperhatikan si penulis.

Inilah kisah yang disampaikan Pak Tony dalam seminar Guru Menulis di Media Massa yang dihelat Kompas, Surya, dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) pada tanggal 31 Oktober 2010 lalu di gedung PDAM Surabaya. Dalam ceritanya, ada satu pengarahan yang diberikannya kepada penulis itu, yang penting untuk disimak bersama. Itu berkaitan dengan fokus penulis yang perlu diasah oleh setiap penulis pemula.

Bapak Sunarko, Wakil Pimpinan Redaksi Surya, yang turut menjadi pemateri juga menegaskan kalau seorang penulis pemula perlu memiliki self-branding yang baik. Self-branding ini adalah proses yang terbentuk lewat proses yang cukup lama karena si penulis terus bertekun dan melakukan penelusuran yang mendalam atas suatu tema, atau bahkan sub-tema yang spesifik. "Semakin spesifik tema dan bahasan tulisan Anda, maka Anda akan menjadi penulis yang membangun self-branding yang baik."

Hal ini dapat dilihat dengan para tokoh yang kemudian dikenal luas karena sering menulis tema yang sama seperti Effendi Ghazali (komunikasi-politik), J. Sumardianta (resensi buku), atau Samuel Mulia (parodi dan gaya hidup). Para penulis ini dikenal luas karena sejak awal telah membangun dunia atau bidang penulisan yang khusus. Begitulah para penulis dan karya-karyanya bisa sedemikian besar merebut hati para pembaca: mereka menelurkan dan mengurai gagasan yang unik.

Namun, perlu diingat, bahwa tiap penulis pasti pernah mengalami kegagalan. Apalagi para penulis artikel opini, sebuah tulisan dengan usia pendek. Berbeda dengan karya yang tak harus memuat isi yang aktual seperti cerpen atau puisi, atau resensi buku yang mungkin masih bisa dibuat setelah setengah tahun bukunya terbit, opini adalah tulisan yang dibuat berdasarkan pengamatan atas situasi yang aktual dan masih hangat diperbincangkan. Bukan hanya aktual, opini tak jarang juga membutuhkan riset berupa pemikiran tokoh lain atau data-data pendukung.

Baik Pak Tony, Pak Sunarko, bahkan Ibu Endah Imawati (redaktur opini harian Surya) yang turut pula menjadi pemateri, bersaksi bahwa artikel opini yang dikirim ke desk redaktur bisa mencapai puluhan dalam sehari. Resiko tulisan ditolak tentunya tak terabaikan. Karena itu, para penulis opini perlu memiliki daya tahan yang lebih tinggi dibandingkan penulis cerpen dan puisi, misalnya. Cerpenis yang karyanya ditolak bisa mengirimkan karyanya ke koran atau majalah lain; sementara penulis opini yang karyanya ditolak, karyanya yang bersifat aktual itu akan basi bila dicobanya untuk dikirimkan ke media lain -- karena tema yang aktual mudah berganti dalam hitungan hari. ***

Sidik Nugroho
Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo dan penulis lepas

31.8.10

sedikit cerita proses kreatif membuat novel

awalnya, suatu malam aku iseng menggambar sebuah peta di kertas. peta dari hasil imajinasiku sendiri. lalu aku beri nama kota, pegunungan, hutan, sungai, dan lain-lain di peta itu. setengah jadi, peta itu membuatku teringat pada sebuah naskah ceritaku yang baru kubuat 4 bab di tahun 2007.

ceritaku itu berkisah tentang seorang tokoh bernama tuan malam. cerita itu pun kutambahi dengan setting yang menggunakan peta itu. (awalnya, blog-ku yang kubuat di tuanmalam.blogspot.com akan kuisi dengan cuplikan-cuplikan dari novelku itu; kini blog itu malah berisi berbagai tulisan campur-aduk.)

peta itu, yang kugarap pada september 2008, membuatku mulai menggarap beberapa bab cerita lagi. namun penggarapan itu terhenti di tengah jalan. laptopku sempat rusak beberapa bulan, dan beberapa pekerjaan lain membuatku tidak konsentrasi mengerjakan novelku.

bulan maret atau april 2009, aku bertemu dengan seorang cewek di smuk cor jesu. waktu itu aku diminta mengisi materi jurnalistik. di situlah aku mengenal angelia lionardi (orange skyline). di sma itu angelia sering membuat ilustrasi untuk majalah sekolahnya. setelah kuceritakan tentang novel yang tengah kubuat, ia sangat antusias ingin menggarap ilustrasinya.

angelia membuat semangat menulisku muncul lagi. selama beberapa bulan akhirnya novel ini menjadi 12 bab. namun, karena di waktu-waktu ini aku juga masih menggarap renungan, esai, cerpen, dan kadang meresensi buku, fokus kepenulisanku mulai tak terarah.

kalau tak salah, menjelang akhir tahun 2009, novel itu tergarap 18 bab. aku ada rencana merampungkan novel itu di bulan februari 2010, namun lagi-lagi karena konsentrasiku menulis tidak fokus, akhirnya tertunda-tunda lagi. (beberapa tulisanku di saat-saat ini bisa disimak di blog tuanmalam.blogspot.com, ulasansastra.blogspot.com, dan kajiansosialdanbudaya.blogspot.com.) sampai bulan april 2010, kalau tidak salah, novel ini baru jadi 21 bab.

suatu malam, kalau tak salah bulan mei 2010, angelia sms aku. dia bertanya kapan novelku rampung. dia juga bercerita kalau adiknya yang masih kelas 6 sd sangat menyukai ceritaku. nah, kesukaan adiknya pada novelku inilah yang pada akhirnya membuatku sangat bersemangat merampungkan novelku.

setelah pulang liburan kenaikan kelas bulan juni lalu, kurampungkan novel itu hingga mencapai 25 bab. jumlah halamannya ada 160, ketikan 1,5 spasi. angelia kemudian merampungkan ilustrasi yang kuminta untuk dibuatkan di tiap bab. akhir juli, novel ini dan ilustrasi-ilustrasinya benar-benar selesai.

aku sangat lega merampungkan ceritaku kali ini. ini adalah karya yang kubuat dengan sangat serius dan hati-hati. ini kali kedua aku membuat novel. aku mencetak naskahku beberapa kali demi memudahkan proses editing (aku kadang masih membuat salah kalau mengedit naskah di depan layar komputer). aku juga memberikan bayaran untuk ilustratorku karena walaupun awalnya dia tidak minta bayaran, hasil kerjanya sungguh baik dan pantas dihargai dengan sejumlah uang. aku juga sempat kehilangan flashdisk yang sudah memuat 21 bab novel ini dan beberapa puluh tulisanku yang lain (untungnya aku punya back-up-annya).

aku memeriksa keseluruhan naskahku berkali-kali di akhir juli, sehingga tadi siang, saat naskahku ini kukirimkan ke penerbit lewat pos, aku sudah lega karena bagiku sudah tidak ada lagi kesalahan tulis yang kutemukan.

pelajaran penting yang kupetik dari membuat novel kali ini adalah kontinyuitas. melanjutkan novel setelah meninggalkannya beberapa bulan benar-benar menguras energi. kita bisa lupa dengan apa yang sudah kita tulis; kita bahkan mungkin kehilangan emosi atau semangat untuk melanjutkan cerita lagi. untuk kontinyuitas itulah diperlukan totalitas dan stamina yang mantap. menulis novel adalah pekerjaan yang tidak ada satu orang pun yang menyuruh dan mengawasi. pekerjaan ini sepenuhnya berbekal kebulatan tekad. menulis novel seperti menggeser kenyamanan, menaklukkan diri sendiri, dan belajar hidup konsisten. makanya, stephen king dalam "on writing" memberi saran agar para penulis novel hanya boleh beristirahat sehari dalam seminggu.

nah, pada akhirnya, aku berharap novel ini bisa diterbitkan. aku sudah menyiapkan enam seri lanjutan dari novel ini. namun, kalau pun penerbit tidak ada yang mau menerbitkan novelku, aku akan tetap menggarap keseluruhan serial novelku tentang tuan malam yang ada di negeri imajinasiku bernama harigia.

suatu saat, cepat atau lambat, kuyakin akan ada penerbit yang tertarik untuk menerbitkannya.***

sidoarjo, 5 agustus 2010

catatan:

bagi yang berminat, untuk melihat beberapa cuplikan novel, silahkan mampir ke blog tuanmalam.blogspot.com, lalu klik label/kategori yang berjudul "tuan malam" (http://tuanmalam.blogspot.com/search/label/Tuan%20Malam)

9.6.09

Semoga Pelangi Itu Selalu Berseri

: Sebuah Esai atas Buku Kumpulan Cerpen "Pelangi Sastra Malang dalam Cerpen"

"Dead Poets Society" -- mungkin kita pernah menonton filmnya. Di sana ada seorang guru bahasa yang sangat bergairah dan dinamis mengajar: naik ke atas meja, penuh retorika, bahkan menggunakan pelajaran olahraga sebagai kegiatan pemantik semangat hidup. Sang guru -- diperankan memikat oleh Robin Williams -- disukai benar oleh murid-muridnya. Beberapa di antara mereka bahkan kemudian meniru-niru apa yang pernah dilakukan sang guru itu ketika ia masih muda: membentuk geng sastra!

Di sebuah tempat mirip gua yang jauh dari keramaian pada malam hari, berbekal cahaya remang-remang, mereka berkumpul, mengadakan perang sajak dan puisi. Jiwa muda yang penuh antusiasme dan kegairahan berekspresi -- tak akan terlupakan, bukan? Apalagi ketika cinta sedang menyapa, lalu puisi tercipta, dibacakan sambut-menyambut dalam bisikan hening, sesekali pekik, dan nuansa penuh dinamika: serasa lapang nian batin kita yang kecil ini memandangi keluasan semesta raya!

"Carpe diem", itulah salah satu ungkapan yang sering disebut dalam "Dead Poets Society". Artinya "seize the day", gunakan hari ini -- sebaik mungkin. Hidup memang indah jikalau kita berkarya dengan hati, tak sekedar disia-siakan. Hati pun akhirnya mencari kata-demi-kata, dalam rangka upaya memaknai keindahan -- juga bahkan penderitaan -- hidup. Kreator-kreator lalu tampil, dan seringkali mereka bersatu, membentuk komunitas, berbagi, dan bercengkerama.

Komunitas-komunitas sastra itu penting, paling tidak dalam dua hal berikut. Pertama, ia adalah ajang di mana para anggotanya bisa berbagi dan saling membangun. Kedua, ia menjadi bukti eksistensi keberadaan minat serupa para anggotanya. Dari kedua hal ini, hal kedualah yang sedang ditampakkan oleh Pelangi Sastra Malang lewat kumpulan cerpen "Pleidooi" ini.

Kumpulan cerpen ini dibuka dengan cerpen berjudul "Pinanglah Aku" karya Muyassaroh El-yasin. Penulis yang rajin menulis di majalah dinding ini membuat sebuah cerpen remaja Islami yang memikat dari segi dialog dan ekspresi tokoh-tokohnya. Ia mengisahkan seorang tokoh yang ingin hubungan lawan jenis berstatus jelas. Dengan lugas penulisnya menyampaikan pentingnya tujuan sebuah hubungan. Terkesan tradisional, mirip hubungan percintaan di desa-desa yang pernah saya dengar di warung kopi: bila kau mengajak seorang gadis keluar, orang tua si gadis akan memintamu untuk melamarnya. Terkesan sedikit asing alur dan ceritanya di tengah kehidupan yang makin bebas.

Cerpen-cerpen lain bertema cinta juga ada, setidaknya dalam cerpen-cerpen berikut: "Nausea" karya Yuni Kristianingsih, "Dua Laki-laki yang Meninggalkan Memori Nyeri" karya Yusri Fajar, "Tamu dari Austria" karya A Elwiq Pr dan "Dia Belum Juga Datang" karya Aga Herman. Cerpen-cerpen ini menampilkan beraneka dimensi tentang hubungan cinta, dengan jalinan kisahnya sendiri-sendiri. Dari keempat cerpen ini, yang agak eksentrik adalah cerpen "Dia Belum Juga Datang". Seorang wanita yang menunggu seorang pria hingga menghabiskan bergelas-gelas kopi di sebuah kafe ini terurai penuh gagasan hebat -- memuat penelusuran kondisi jiwa si wanita ketika menepis kegelisahannya dalam penantian.

Cinta memang tema yang tak pernah basi. Setiap orang mempunyai penafsiran, atau pengalaman, yang khas, tentang cinta. Namun ada juga cerita-cerita lain yang tidak mengangkat cinta sebagai tema utama dalam buku ini. Contohnya adalah "Negeri Dusta" karya Abdul Mukhid. Cerpen ini menarik: Paragraf-paragraf awalnya filosofis, harus dicermati amat serius, sementara akhirnya adalah ekspresi tawa yang lugu.

"Pleidooi" karya Azizah Hefni dan "Senja" karya Titik Qomariyah adalah cerpen-cerpen situasional. Azizah Hefni, yang akrab disapa Zizi, adalah pencerita berbakat. Cerpen "Pleidooi" yang dijadikan judul buku kumpulan cerpen ini pernah dibacakan pada ulang tahun kota Surabaya ke-715. Alur, penggambaran karakter dan dialog-dialognya matang.

Namun, sebuah cerpen situasional yang justru paling "nendang" rasanya adalah "Selamat Sore, Olivia!" karya Liga Alam Mukhtar. Sebabnya, cerpen ini sangat singkat dan bahasanya benar-benar efisien. Cerpen ini mengingatkan kita pada cerpen-cerpen Bondan Winarno dalam kumpulan cerpennya berjudul "Pada Sebuah Beranda" (yang sebelumnya, dalam jumlah cerpen lebih sedikit bertajuk "Café Opera"). Kehamilan Olivia, aborsi yang dilakukannya, gelak emosinya, benar-benar tergarap maksimal oleh penulisnya.

Dua cerpen yang satiris adalah "Desa Para Dukun" karya Wawan Eko Yulianto dan "Tangan Berkolam" karya Supriyadi Hamzah. Wawan Eko Yulianto menyajikan narasi yang begitu reflektif atas kondisi warga Sidoarjo, Porong khususnya, setelah lumpur panas Lapindo tak henti-hentinya muncrat -- hingga kini. Ini berhasil dilakukan Wawan karena ia memang asli orang Sidoarjo. Doa, mantra, keluh-kesah, serta haru-tangis terkisah elok dan mengharukan dalam cerpennya. Sementara itu, "Tangan Berkolam" lebih banyak memuat tema nasionalisme dalam hubungan cinta beda bangsa. Ya, selain satiris, kedua cerpen ini sama-sama reflektif. Bedanya, dalam "Tangan Berkolam" terdapat beberapa dialog yang cukup banyak mendukung jalinan kisah.

Cerpen "Tangan" karya Susanty Octavia berusaha memetakan kedalaman hubungan tokoh utamanya dengan Allah. Cerpen ini memuat nilai-nilai Islami yang kental. Mirip dengan cerpen "Tangan", cerpenis lain bernama Lubis Grafura menyajikan cerpen religius, yang mana nilai-nilai religiusitas dalam cerpennya itu ia sentuhkan dengan budaya sebuah masyarakat di Kabupaten Donggala. Judul cerpennya "Rilara Nuadanga" -- sebuah judul yang indah, bukan? Dengan bahasanya yang hening, Lubis mengisahkan tentang jembatan kematian, atau secara Islami disebut "sakratul maut", yang terjadi pada orang-orang Suku Kaili di sana.

Nah, demikianlah tinjauan atas cerpen-cerpen yang ada dalam kumpulan cerpen ini. Semoga hasil kerja kolaborasi ini tak berhenti sampai di sini. Penulis-penulisnya bisa dibilang semua berbakat menghasilkan karya-karya lain yang berkemungkinan besar dinikmati dan disukai lebih banyak orang. Pelangi Sastra Malang, komunitas ini -- dengan karya-karyanya yang mirip ragam warna pelangi -- kiranya terus berkarya. Dan kiranya karya-karya itu tidak sirna oleh terik panas surya, tidak tersembunyi di balik awan kelam, namun tampil -- lagi dan lagi -- seperti pelangi yang selalu berseri. ***

Sidoarjo, 8 Juni 2009, 23:56

Sidik Nugroho
Penikmat buku dan penyuka pelangi

29.3.09

Segera Memulai, Lalu Menata

Pengantar

Puji Tuhan, kali ini rasanya perlu dengan tepukan di dada tiga kali sambil memandang cermin saja, juga sujud tiga kali semenit: tulisanku masuk lagi di koran. Yap, dalam sebulan, tiga kali masuk koran!

Kali ini yang masuk adalah artikel kepenulisan/sastra di Ruang Baca Koran Tempo. Aku membahas tentang proses menulis para penulis. Aku berterima kasih untuk Feby Indirani yang telah memberitahu aku alamat e-mail Pak Purwanto Setiadi. Terima kasih juga untuk Pak Purwanto Setiadi yang telah meloloskan tulisanku.

Terakhir, terima kasihku kepada seorang sahabat lama: Albert Alexander. Dengan kebaikan hatinya yang besar, dia membelikan aku Koran Tempo yang beredar di Jakarta, yang masih bersuplemen Ruang Baca, lalu akan mengirimkannya buatku. Di Malang, suplemen Ruang Baca tidak dilampirkan lagi.

Ruang Baca bisa ditilik online: www.ruangbaca.com. Tapi, waktu aku menulis ini, Ruang Baca belum di-update, masih yang bulan Februari. Jadi, aku posting di sini artikel itu dalam versi awal -- biasanya editor koran mengubahnya sedikit-sedikit sebelum dimuat.

Demikian pengantarku. Selamat menyimak. Oya, artikel ini kubuat pertama-tama untuk teman-teman Forum Penulis Kota Malang (FPKM). Selanjutnya, juga untuk Anda. ***

Segera Memulai, Lalu Menata

Memulai dengan Sederhana

"Saya tidak pernah memutuskan untuk menjadi penulis. Pada awalnya saya tidak berharap mendapatkan nafkah dengan dibacanya karya saya. Saya menulis sebagai seorang anak yang gembira ketika memahami hidup lewat pikiran saya...," demikian Nadine Gordimer berujar ketika menerima anugerah Nobel Sastra.

Ia menulis sejak kecil, berusaha memetakan apa yang ia lihat, cium dan rasa dalam berbagai hal, hingga suatu ketika cerita pertamanya diterbitkan saat berusia 15 tahun.

Beberapa orang menemukan panggilan hidupnya ketika mereka memulai sesuatu yang mengasyikkan. Begitu sederhana. Mereka tak menunggu mimpi, penglihatan supernatural, atau bisikan magis di telinga rohani mereka. Mereka, seperti Nadine Gordimer: memulai, menekuni, lalu menemukan keajaiban di kemudian hari.

Sayangnya, mungkin beberapa dari kita kadang abai terhadap kesederhanaan. Saya mengenal seorang yang mengaku kutu buku, suka membeli banyak buku, suka pergi ke perpustakaan untuk membaca buku; tapi banyak bukunya yang sudah ia beli tidak dijamah-jamah, apalagi tuntas terbaca.

Dalam konteks proses kreatif, keadaan di muka rasanya dapat menjadi cermin para pekerja kreatif: mungkinkah kita juga kadang terlalu sibuk dalam memikirkan banyak hal untuk kreasi yang kita buat -- seperti teman saya yang mengaku doyan buku tapi tak tuntas-tuntas membaca buku itu -- tapi tanpa melakukan suatu langkah kreatif apa pun? Segalanya jadi rumit kalau sudah begini.

Inspirasi datang ketika kita mau memulai sesuatu, bukan hanya berpangku tangan dan murung merenung. Mari kita mulai berkarya. Sejelek apa pun karya kita, dan apa pun bentuknya, kita semua memiliki peluang untuk menemukan keajaiban dari karya itu. Nah, berkaitan dengan hal-ihwal di atas, yang kemudian menjadi persoalan utama dalam berkarya adalah tentang kesegeraan memulai. Seringkali penulis muda bingung: kapan aku harus mulai menulis?

Pembelajaran dari Beberapa Penulis

John Steinbeck, yang dipuja-puja karena keberhasilan novelnya The Grapes of Wrath yang memenangkan penghargaan bergengsi Pulitzer, mempunyai kebiasaan menulis yang sangat menarik.

Pagi hari, begitu bangun tidur, ia langsung bergegas menuju meja kerjanya. Apa pun pikiran yang melintas di kepalanya untuk dituliskan di pagi itu, ia tulis saja. Ia tulis dan tulis, tanpa mempertimbangkan akan jadi apa karya itu. Itu bisa sebuah karya baru, sebuah halaman atau episode lanjutan dari novel yang sedang dibuatnya, atau apa saja. Intinya, ia segera memulai, tanpa banyak pertimbangan.

Kemudian, ia istirahat, lalu membersihkan diri. Setelah mandi, ia duduk lagi di meja kerja yang sama, menghadapi tulisan yang tadi telah dibuatnya, menata lagi tulisan yang dibuatnya itu menjadi tulisan yang baik.

Penulis lain, Stephen King, dalam memoarnya yang terkenal On Writing mengulas secara gamblang kebiasaan atau proses kreatifnya dalam menulis novel-novelnya. Salah satunya adalah yang ia sebut-sebut dengan istilah Pintu Tertutup dan Pintu Terbuka. Pintu Tertutup adalah suatu kerja menulis di mana kita benar-benar mengasingkan diri. Ia menyarankan agar bila perlu kita mengunci kamar, menutup semua korden -- intinya memutuskan semua hubungan dengan dunia luar. Garap novelmu tiap hari, menulislah sebanyak-banyaknya dalam Pintu Tertutup itu, begitu kurang lebih King berpesan.

Terkait dengan konsistensi dalam istilah Pintu Tertutup King ini, setiap orang dapat berbeda pandangan dan kebiasaan. Kate DiCamillo, pemenang penghargaan Newbery Medal untuk bukunya The Tale of Desperaux tampak santai, tidak ngoyo. Kalau King bersaksi bahwa ia akan menggarap novelnya tiap hari tanpa istirahat -- dan menganjurkan kita beristirahat hanya sehari dalam seminggu serta menggarap naskah kalau bisa belasan atau puluhan halaman tiap hari -- DiCamillo menggarap novelnya dua halaman sehari dari hari Senin sampai Jumat. Ia melakukannya pada waktu subuh sebelum berangkat kerja di toko buku.

Ya, tiap pengarang memiliki kebiasaan berbeda dalam hal di atas karena, mungkin, sedikit banyak, hal itu dipengaruhi oleh jenis, bentuk dan tebal-tipisnya karya yang mereka buat. Yang penting dalam penerapan konsistensi ini adalah keyakinan yang selalu ada dalam benak penulis bahwa ia sedang membuat sesuatu yang benar-benar layak untuk dibaca, paling tidak untuk menghargai dirinya sendiri, seperti yang pernah diucapkan oleh Toni Morrison, bahwa jikalau kita tidak menemukan sebuah buku yang ingin kita baca, maka sebenarnya diri kitalah yang seharusnya membuat buku itu. Kerap jadi kendala, dalam soal keyakinan ini, adalah kebimbangan yang menghinggapi benak penulis ketika berada di tengah-tengah proses pembuatan karyanya. Akmal Nasery Basral, penulis novel Imperia, dalam sebuah bincang-bincangnya dengan saya di kota Malang pernah menyatakan, "Mengawali novel dengan keyakinan bahwa apa yang akan kita tulis adalah sesuatu yang luar biasa itu pasti terjadi pada diri tiap penulis. Kita bersemangat dibuatnya. Namun, apakah keyakinan itu tetap ada ketika kita sedang menggarap novel tersebut di tengah jalan, itu soal lain -- itu butuh perjuangan tersendiri."

Kemudian, begitu tiba waktunya menulis novel selesai, King menyarankan agar kita istirahat selama beberapa hari atau minggu. "Tutup novelmu, jangan sentuh sama sekali," katanya. Ia bahkan bercerita, pernah memanfaatkan waktu-waktu istirahat ini dengan menggarap novel pendek lainnya. Salah satu yang terkenal adalah The Girl Who Loved Tom Gordon. Tujuan istirahat ini, paling tidak akan membuat kita sanggup untuk merenungi kembali tujuan kita menulis novel, sambil mengumpulkan kembali gagasan-gagasan hebat yang jadi pemantik kita dalam menuliskan karya tersebut, dan yang paling utama adalah merehatkan pikiran yang suntuk setelah sekian waktu berjuang menghasilkan sebuah karya.

Setelah istirahat itu, mari kita tilik lagi karya yang sudah kita buat. Inilah saat-saat di mana kita kemudian hidup dalam Pintu Terbuka. Di sini perlu kita berbenah, menata segalanya jadi lebih baik. Ia menyarankan bahwa yang lebih perlu dilakukan bukan menambah-nambahi halaman novel, tapi sebaliknya: memangkas bagian-bagian tak penting. Kita juga bisa belajar dari Leo Tolstoy dalam hal ini. Sempat dikisahkan bahwa novel Anna Karenina karyanya dieditnya berkali-kali. Ini terjadi karena ia selalu butuh mengubah apa yang telah ditulisnya. Konon ada yang mengatakan hingga lebih dari seratus kali ia mengeditnya. Bukankah ini menjadi bukti bahwa penulis besar pun kadang dapat memulai segala sesuatu dengan tidak sempurna?

Segera Memulai

Selama ini, hal yang terbalik mungkin dijalani oleh sebagian dari kita -- terutama yang dijuluki perfeksionis. Dalam membuat segala sesuatu, kita ingin segenap proses yang ada di dalamnya berjalan sempurna. Ya, moga-moga beberapa penulis hebat yang saya sebut di atas bisa jadi teladan bagi kita untuk tidak selalu harus mengawali segala sesuatu dengan sesempurna mungkin. Memang ada penulis yang sekali berkarya, ia langsung memberi dampak dan pengaruh yang luar biasa, dan kemudian lenyap bagai ditelan bumi. Contohnya adalah Harper Lee, yang mendapatkan Pulitzer untuk novelnya To Kill a Mockingbird, karya pertama dan terakhirnya. Karyanya itu hingga kini masih dipelajari, dan dianggap sebagai novel yang berpesan moral amat tinggi -- utamanya dalam soal saling memahami dalam hubungan antar-manusia.

Namun sayangnya, tidak banyak orang yang, meminjam puisi Chairil Anwar, "Sekali berarti. Sudah itu mati."

Melihat keragaman proses kreatif para penulis tadi, kembali kita merenungi lagi persoalan awal yang jadi pembahasan utama di tulisan ini. Apa yang kita anggap sempurna di suatu waktu, nyatanya bisa kita anggap tak ada apa-apanya di kemudian hari, setelah pembelajaran kita makin banyak, dan wawasan kita makin luas.

Bahkan, nyatanya juga, jikalau kita ada dalam suatu proses hendak menghasilkan suatu karya selalu ingin selalu sempurna, seringkali kita tidak memulai-mulainya. Memang, awal yang sempurna dan akhir yang sempurna itu luar biasa hebat. Namun, bukankah hidup ini tak selalu berjalan sempurna? Awal yang kacau tapi berakhir sempurna, saya yakin jauh lebih baik daripada tidak memiliki awal sama sekali akibat selalu ingin mengawali segala sesuatu dengan sempurna.

Selamat memulai, selamat berkarya!

Sidik Nugroho, penulis lepas dan guru SD Pembangunan Jaya 2
http://tuanmalam.blogspot.com

27.3.09

Tentang Resensi yang Dimuat Jawa Pos

Tentang resensi yang dimuat di Jawa Pos minggu lalu, cukup banyak teman yang mengucapkan selamat dan pujian. Yang aku senangi dan tak terduga, ada seorang ibu yang tertarik ingin belajar menulis resensi buku. Ibu ini ingin belajar menulis, tapi tidak show-up, seperti yang ia sebut dalam e-mailnya yang kulampirkan di bawah. Ini korespondensi kami. Semoga secuil pengisahan proses kreatif ini bisa bermanfaat.

***

E-mail dari Ibu itu:

Pak, apa yang perlu diketahui pertama kali agar bisa menulis resensi buku? Jok (jangan) di jawab beli bukunya dulu & dibaca lo ya, kalo itu ya dah pastilah... Saya pingin bisa, pingin belajar tentang tulis menulis, tapi belajarnya tdk show up... Kalo pak sidik tdk keberatan jawab... thanks banget....

***

Jawaban saya:

Bu,

Terima kasih sudah mau sharing. Untuk menulis resensi, sebenarnya tidak ada panduan khusus. Apalagi sekarang pola resensi sangat dinamis, tidak banyak mengikuti aturan (dalam hal ini bentuk atau isi) model lawas. Kebetulan, saya dulu baca bukunya Daniel Samad berjudul Dasar-dasar Meresensi Buku. Buku itu cukup membantu. Ada beberapa contoh resensi buku di buku itu: dari nonfiksi hingga fiksi.

Namun, hal yang justru paling penting adalah belajar dari para resensor yang karya-karyanya sudah sering dimuat di media massa -- saat ini. Saya kemarin bolak-balik belajar dari Hernadi Tanzil (http://bukuygkubaca.blogspot.com) dan Nur Mursidi (http://etalasebuku.blogspot.com). Saya tidak minta arahan dari mereka, ya... cuma menyimak blog mereka gitu. Saya perhatikan aspek-aspek apa yang biasa mereka sampaikan dalam resensi buku -- bisa kelebihan-kekurangan buku, tema yang diangkat, kualitas bahasa/tata-bahasa, latar belakang penulis, target pembaca, dan lain-lain.

Kemudian saya tentukan buku untuk diresensi. Saya ambil buku yang saya rasa bisa saya resensi. Dalam hal ini saya menilik kemampuan saya. Untuk latihan, saya tidak mungkin ambil buku tentang filsafat, politik, atau apa pun jenis yang di luar minat atau kemampuan saya. Saya pun tidak langsung beli buku baru. Saya latihan meresensi buku lawas. Kalau Ibu lihat di blog saya (http://tuanmalam.blogspot.com) ada beberapa buku lawas yang saya jadikan ajang latihan menulis resensi. Begitu saya merasa resensi saya sudah cukup bagus, saya memberanikan diri menulis resensi buku baru, lalu mengirimkannya ke koran. Eh, ndilalah kok ya dimuat, hehehe....

Begitulah, Bu. Semoga bisa membantu. Kalau ada yang mau ditanyakan, silahkan menghubungi lagi. Saya akan jawab semampu dan sesempat saya.

Salam,
Pak Sidik

22.3.09

Lagi, Tulisanku Masuk Jawa Pos

Ya, lagi, tulisanku masuk Jawa Pos, Minggu, 22 Maret 2009. Ini kali kedua. Puji Tuhan, aku senang sekali. Kali ini yang masuk adalah resensi buku. Untuk pengalaman ini aku mengucapkan terima kasih kepada pertama-tama, Arie Saptaji, yang dulu -- kini dia agak jarang menulis resensi lagi -- resensi-resensi filmnya selalu kusimak. Kedua, Wawan Eko Yulianto, teman sharing soal perbukuan-kepenulisan yang juga sering menulis resensi. Ketiga, dua teman di dunia maya: Hernadi Tanzil dan Nur Mursidi, yang resensi-resensinya sering aku baca dan pelajari.

Terima kasih juga buat Pak Arief Santosa dan Taufik Lamade, dua redaktur di Jawa Pos yang sudah meloloskan resensi ini.

Ini resensinya. Selamat menyimak!

+++

Kasih Sepanjang Jalan, Mukjizat Sejauh Doa

Judul buku: Ma Yan
Penulis: Sanie B. Kuncoro
Penerbit: Bentang Jogjakarta
Cetakan: I, Januari 2009
Tebal: viii + 254 halaman
---

TAHUN lalu Tiongkok sukses besar menjadi tuan rumah olimpiade. Mata dunia terbelalak ketika pesta skala dunia itu tergarap apik nan gemilang. Namun, negara mahabesar itu masih menyimpan warga yang hidup dalam penderitaan dan kelaparan. Masih ada sebuah desa, Zhangjiashu namanya, yang di abad 21 ini membawa kisah perjuangan sebuah keluarga yang layak nian untuk dihayati.

Ma Yan, gadis beranjak remaja di Desa Zhangjiashu, suatu ketika dimarahi habis-habisan oleh ibunya karena gagal dalam ujian bahasa Tiongkok, mata pelajaran terutama di sekolahnya. ''Setelah semua kerja keras yang kita lakukan, hanya inikah hasilmu?'' tanya ibunya dengan sengit.

Ibunya kemudian memarahi dia dengan kata-kata yang bagi Ma Yan cukup pedas di telinga. ''Kalimat-kalimat kemarahan ibu, alangkah tajamnya, barangkali lebih tajam dari pisau pengerat daging terkeras sekalipun,'' cerita Ma Yan.

Dalam kekesalannya, sang ibu sempat berujar kalau Ma Yan sebenarnya tak layak mendapat roti buatan ibunya. Nilai ujian Ma Yan tak sebanding dengan pengorbanan ibunya. Namun, tak terduga, ibunya malah bersikap lain tak lama setelah amarah besar itu. Diam-diam, lewat bibi Ma Yan, ibunya mengirimkan beberapa buah donat yang nikmat, dan baju hangat untuk melindungi Ma Yan dari hawa dingin.

Ketika melihat donat dan baju hangat itu, Ma Yan tak kuasa menahan diri dari tangis. Betapa besar kasih seorang ibu. Anak yang benar-benar dimarahi, benar-benar disayangi pula!

Kisah-kisah yang menyentuh seperti di atas menghiasi banyak halaman novel ini. Hanya saja, hampir selalu dilampiri dengan khotbah tentang hakikat hidup dan perjuangan meraih mimpi oleh penulisnya. Itulah yang sedikit mengganggu, sehingga iming-iming di sampul belakang buku yang menyatakan bahwa ''novel ini akan membuat Anda berurai air mata'', terkesan sedikit berlebihan. Kita tampaknya --tentunya tanpa sengaja dilakukan oleh penulis-- diberi ruang terbatas untuk tenggelam dalam imaji yang penuh, karena muatan yang hampir sama besar dengan jalinan kisah di sepanjang buku ini adalah khotbah dan renungan dari para pencerita.

Para pencerita di novel ini ada tiga. Pertama, Ma Yan. Ia tekun menulis catatan perjuangannya meraih pendidikan. Kedua, ibunya. Ketiga, penulis sendiri, yang dalam hal ini lewat pemetaan renungan dan pemikiran Pierre Haski, jurnalis Prancis yang suatu ketika mampir ke Zhangjiashu. Nah, bila novel ini memang merupakan suatu kisah nyata, pilihan penulis untuk memasukkan tiga pencerita agak berlebihan. Sebab, kisah ini awalnya adalah catatan-catatan Ma Yan. Setelah mengalami konflik yang cukup berat untuk bertahan sekolah, ibunya bertemu dengan Pierre Haski. Ia serahkan catatan-catatan itu, lalu jadilah kisah ini.

Bila catatan-catatan itu kemudian dirajut menjadi sebuah tulisan dari sudut pandang Pierre Haski dan Ma Yan saja, tentu akan lebih pas. Ibu Ma Yan tak memiliki catatan apa pun, bahkan tidak bisa baca-tulis, bagaimana mungkin penulis bisa menggambarkan isi benaknya sedemikian banyak di dalam novel?

Juga, yang menjadi tanya besar: bagaimana kisah ini sampai di tangan Sanie B. Kuncoro? Apakah Sanie bertemu dengan Pierre Haski di Prancis, lalu mereka kemudian ke Tiongkok mewawancarai lagi Ma Yan dan keluarganya? Kita tidak tahu. Sangat disayangkan, proses kreatif ini tidak disampaikan dalam bab awal, prolog, atau catatan akhir, atau apalah. Hingga bagian akhir, yang ada hanyalah adegan manis kala Pierre Haski mengikuti seorang ibu dan anak yang berjalan bergandengan tangan. Gandengan tangan yang mengingatkannya pada tangan ibu Ma Yan, yang terkisah di dalam novel sebagai tangan berwarna tembaga, akibat lelah dan panas ditempa kerja keras dan sinar mentari.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan itu, novel ini tergarap dengan bahasa yang sangat rapi. Detail-detail tentang kondisi alam, pergantian musim, dan mata pencaharian para penduduk Zhangjiashu dikisahkan dengan menarik dan wajar.

Selain itu, cerita perjuangan ibu dan ayah Ma Yan di novel ini menyentuh hati. Rasanya banyak orang telah tahu kegigihan orang-orang Tiongkok. Mereka terkenal tegar, selain gigih, dalam menghadapi berbagai kemelut hidup. Bila Anda pernah menyaksikan film indah besutan Zhang Yimou berjudul Not One Less yang mengisahkan kegigihan dan ketegaran seorang guru muda dalam mendidik anak-anaknya yang nakal di suatu pedalaman Tiongkok, maka Ma Yan mengisahkan kegigihan dan ketegaran seorang gadis beranjak remaja dalam menempuh pendidikan.

Dan, kekuatan niat menempuh pendidikan itu juga dirangkai dengan kisah kekuatan doa. Suatu malam Ma Yan menjalankan salat tahajud ketika menyerahkan ibunya kepada Tuhan, agar senantiasa dilindungi. Ibunya harus menempuh perjalanan 400 kilometer menuju perbatasan Ning Xia dan Mongolia Dalam, diangkut dengan traktor, mencari uang untuk anaknya itu. Kasih ibu sepanjang jalan, membuat Ma Yan menghaturkan doanya dengan sujud syukur nan penuh harapan.

Dan, ketika kasih ibu sepanjang jalan dinyatakan, mukjizat demi mukjizat pun terjadi dalam kehidupan Ma Yan dan keluarganya lewat doa-doa yang dihaturkan kepada Sang Pemilik Hidup. (*)

*) Sidik Nugroho, Guru Sekolah Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo

19.3.09

Memulai, Menekuni, Lalu Menemukan Keajaiban

"Saya tidak pernah memutuskan untuk menjadi penulis. Pada awalnya saya tidak berharap mendapatkan nafkah dengan dibacanya karya saya. Saya menulis sebagai seorang anak yang gembira ketika memahami hidup lewat pikiran saya...," demikian Nadine Gordimer berujar ketika menerima Nobel Sastra.

Ia menulis sejak kecil, berusaha memetakan apa yang ia lihat, cium dan rasa dalam berbagai hal, hingga suatu ketika cerita pertamanya diterbitkan saat berusia 15 tahun.

Beberapa orang menemukan panggilan hidupnya ketika mereka memulai sesuatu yang mengasyikkan. Begitu sederhana. Mereka tak menunggu mimpi, penglihatan supernatural, atau bisikan magis di telinga rohani mereka. Mereka, seperti Nadine Gordimer: memulai, menekuni, lalu menemukan keajaiban di kemudian hari.

Sayangnya, mungkin beberapa dari kita kadang abai terhadap kesederhanaan. Saya mengenal seorang yang mengaku kutu buku, suka membeli banyak buku, suka pergi ke perpustakaan untuk membaca buku; tapi banyak bukunya yang sudah ia beli tidak dijamah-jamah, apalagi tuntas terbaca. Keadaan ini rasanya dapat menjadi cermin para pekerja kreatif: kita kadang terlalu sibuk dalam memikirkan banyak hal untuk kreasi yang kita buat, tapi tanpa melakukan suatu langkah kreatif apa pun.

Inspirasi datang ketika kita mau memulai sesuatu, bukan hanya berpangku tangan dan murung merenung. Mari kita berkarya. Sejelek apa pun karya kita, dan apa pun bentuknya, kita semua memiliki peluang untuk menemukan keajaiban dari karya itu. Selamat berkarya! (~s.n~)

"Keajaiban yang datang tiba-tiba hanya ada di dongeng; di dunia ini kita mendapatkannya dengan kerja keras dan pengerahan segenap daya-upaya."

27.2.09

Ketika Tulisan Tak Layak Muat dan Kalah Lomba

Catatan Pengantar:

Tulisan ini kubuat tahun 2006, setelah menerima kabar aku kalah dalam lomba cerpen Femina. Ku-posting ke beberapa milis kepenulisan dan sastra. Respon sangat banyak kuterima. Sampai-sampai artikel ini dimuat di situs penerbit Escaeva -- sampai sekarang masih jadi lima artikel terbanyak di-klik pembaca (lihat bagian Populer di situs Escaeva). Sempat juga menjadi ulasan di Ruang Baca Koran Tempo edisi Mei 2007.

Ku-posting lagi. Selamat menyimak!

+++===+++

"Aku dapat tidur di suatu hari dengan nyenyak bila telah menyelesaikan jadwal menulis yang kubuat untukku di hari itu."
-- Stephen King, penulis cerita horor

Saya kalah dalam sebuah lomba yang baru-baru ini diumumkan para pemenangnya. Ya, lomba mengarang cerpen Femina. Guru saya dalam menulis, Arie Saptaji, menjadi salah satu pemenang penghargaan di lomba itu. Cerpennya memang hebat. Saya sempat membacanya sebelum di-online-kan di situsnya waktu saya berkunjung ke rumahnya di Yogyakarta lebih dari setengah tahun silam. Namun, yang saya tulis berikut bukan hanya soal lomba itu. Yang saya alami selama empat tahun berkecimpung di dunia kepenulisan adalah kekalahan semata-mata.

Tulisan saya amat jarang dimuat media cetak. Padahal saya sudah membaca buku sastra sebanyak mungkin: dari tentang menulis, novel, kumpulan cerpen, atau resensi buku. "Sebanyak mungkin" yang tadi saya tulis adalah dalam ukuran saya: 1 buku 1 minggu. Dan buku-buku itu tentulah bukan buku anak-anak yang kadangkala hanya memuat 1 kalimat dalam 1 halaman -- sisanya digunakan gambar ilustrasi. Seingat saya, buku-buku yang saya baca kebanyakan berjumlah halaman lebih dari 200 halaman. Dan halaman-halaman itu kalau bisa disimpulkan berisi tulisan yang dapat disamakan dengan huruf Times New Roman berukuran 10 dan berspasi tunggal.

Saya sudah membaca sebanyak mungkin dan menulis sebanyak mungkin, tapi selalu saja: ditolak. Bukan hanya ditolak, saya pernah juga di-sms-i dengan sms yang seolah memuat gelegar amukan oleh salah satu redaktur koran terkemuka ketika saya menanyakan cerpen saya layak muat atau tidak: ditulis dengan huruf-huruf besar dan diakhiri dengan tanda seru lebih dari satu. Saya memang salah karena amat terburu-buru menanyakan cerpen itu. Baru sekitar seminggu dikirim, ditanyai layak muat atau tidak. Ya jelaslah... diamuk!

Apa yang saya alami mungkin juga dialami oleh penulis lain. Karya kita tak kunjung dimuat dan kita tak sabar menunggu hasil. Kita kerap melihat-lihat koran di kios terdekat dengan rumah tanpa membelinya, juga tanpa memperhatikan halaman muka namun langsung menuju ke ruang di mana kemungkinan tulisan kita akan dimuat. Keadaan ini saya muat dalam cerpen saya yang berjudul Kembali Pada Sepi: bagaimana hidup seorang pengarang yang terus berkarya, rajin membaca, namun selalu menghasilkan karya yang hanya pantas menuju ke tong sampah dalam kantor redaksi atau "trash" dalam mailbox e-mail redaksi?

Ada orang yang mungkin akan mengurangi intensitas menulisnya ketika mengalami hal ini. Orang-orang ini dalam pembenaran anggapannya mulai berangan-angan memiliki karya serupa Harper Lee yang buku semata wayangnya memenangkan Pulitzer. Mereka mungkin akan berpikir: kalau bisa aku akan menulis 1 buku atau karya saja seumur hidupku, sesuatu yang benar-benar hebat, sebagai pembuktian bahwa aku penulis hebat, dan kemudian aku baru mati. Dengan cara demikian mereka berharap akan dikenang sebagai pengubah sejarah.

Tapi saya lebih memilih bersikap lain. Saya menulis bukan karena ingin diaku sebagai penulis hebat pada nantinya. Saya menulis karena saya mencintai menulis. Oleh karena itu tak masalah bagi saya bila karya-karya saya dimuat majalah yang menurut orang amat kacangan: Sahabat Pena, misalnya. Bila dibandingkan dengan Kompas atau Koran Tempo mungkin 1:100 bobot sastranya. (Kau hendak mengubah sejarah lewat cerpenmu di Sahabat Pena? Yang benar saja, gundul!)

Saya kerap membayangkan -- saya rasa semua penulis suka membayangkan sesuatu -- adanya majalah-majalah gendeng pengimbang yang sudah ada, yang mungkin mau memuat tulisan saya: Kartono (bila cerpen saya ditolak Kartini), Maskulin (bila ditolak Femina), MuSuhmu (bila ditolak KaWanku) atau Perjaka (bila ditolak Gadis). Kalau Kompas mungkin enaknya diganti Senter (sama-sama menjadi alat para pendaki gunung).

Diaku sebagai penulis hebat atau tidak adalah anggapan orang. Bahkan karya kita yang dilemparkan ke keranjang sampah oleh redaktur bisa dianggap amat hebat oleh orang lain, setidaknya pacar kita. Inilah yang pada akhirnya menjadi batu uji bagi para penulis. Masihkah kita akan menulis ketika orang tak membaca karya kita? Dan masihkah kita mau belajar lewat membaca dan menumbuhkan kepekaan agar tulisan kita menjadi lebih baik? Seperti yang dikatakan Budi Darma bahwa banyak cerpenis Indonesia yang mengarang cerpen semata-mata karena bergabung dengan suatu komunitas sastra atau dipesan tulisannya oleh suatu media. Ia menambahkan bahwa bila penulis itu dilepas sendiri, masihkah ia akan berkarya?

Karya-karya Kafka diterbitkan anumerta, begitu juga sebagian karya Tolkien. Tolkien sendiri merilis buku yang ia karang sendiri, The Hobbit (bukunya yang pertama ia karang bersama E.V. Gordon dkk. pada tahun 1936 berjudul "Songs for the Philologists"), saat ia berusia 45 tahun. Ia menulis keseluruhan trilogi "The Lord of the Rings" (LotR) selama kurang lebih tiga belas tahun (yang baru diterbitkan tahun 1954-1955). Tolkien bahkan pernah mengaku kalau dirinya bukan penulis hebat. Inilah karya-karya yang digarap dengan cinta kepada aksara. Inilah yang membuatnya mempelajari bahasa Anglo-Saxon kuno yang kemudian dimodifikasinya sendiri sebagai bahasa peri dalam LotR. Kecintaan pada bahasa, saya rasa adalah satu landasan yang bagus untuk membangun dunia kepenulisan.

Memang, Tolkien lebih beruntung daripada Kafka karena namanya sudah dikenal luas sebelum ia meninggal sehingga beberapa karyanya diterbitkan anumerta. Tapi, poin yang saya ingin tegaskan adalah kecintaan Tolkien pada bahasa. Itulah yang membuatnya mengarang setiap karya-karyanya dengan sesempurna mungkin. (Saya tidak tahu apakah dia lebih gila dalam soal kesempurnaan dibandingkan Tolstoy yang konon mengedit "Anna Karenina" sebanyak lebih dari 120 kali sebelum naik ke penerbitan.)

Tanpa bermaksud menjadi naif, saya rasa bila rasa cinta itu sudah ada, rasanya kok mau kalah lomba, ditolak redaksi, tak terlalu masalah. Sing penting (sinau lan) nulis, kalah (utawa ora dimuat) yo wis!*) ***

*) Terjemahan: Yang penting (belajar dan) menulis, kalah (atau tak dimuat) ya tidak apa-apa!

24.2.09

Menjadi Sastrawan? Halah!


Penulis Artikel Sastra


Tidak sampai seminggu yang lalu, aku dapat kabar dari Pak Purwanto Setiadi, redaktur utama Koran Tempo, kalau artikel sastra yang kubuat -- tentang kebiasaan menulis dan proses kreatif beberapa penulis -- kemungkinan besar akan diturunkan di Ruang Baca Koran Tempo edisi Maret 2009.

Beliau menilai artikelku cukup menarik. Bila memang jadi dimuat, aku akan sangat bersyukur. Dan, untuk satu hal ini aku juga berterima kasih kepada Feby Indirani yang telah memberitahu alamat e-mail Pak Purwanto.***

Pembicara Sastra

Sabtu lalu, 21 Februari, diundang jadi pembicara. Undangan benar-benar tak resmi, hanya lewat sms seorang teman: tolong sampaikan sharing untuk memotivasi siswa-siswi jurnalis SMUK Cor Jesu di Malang. Kupikir lesehan, sambil ngopi atau makan gedang goreng gitulah. Namun, begitu waktunya tiba, betapa aku kaget: aku harus mengajar di depan kelas layaknya seorang guru!

Padahal aku datang tanpa persiapan: bajuku agak lecek dan pakai sandal. Terpaksa, aku pinjam jaket temanku yang mengundangku, Jemmy Sugianto, alumnus SMUK Cor Jesu. Anak-anak yang datang kalau tidak salah ada 9 orang cewek dan 1 orang cowok. Kesannya semua anak manis -- kalem-kalem dan pendengar yang baik. Mereka semua kupanggil adik. Terima kasih, adik-adik! Terima kasih Jemmy sudah mengundangku!

Dua guru pendamping, yaitu Bu Endang (Bahasa Indonesia) dan Bu Agnes (Guru BK -- trims Jemmy untuk koreksinya) juga turut hadir. Kesanku, mereka tampak antusias. Bahkan Bu Endang sampai-sampai menjadikan momen ini untuk pengambilan nilai UTS: anak-anak diminta membuat laporan dari apa yang kusampaikan, lalu dinilai. Terima kasih, ibu-ibu guru!

Materi lebih banyak berkisar pada proses kreatif seorang penulis -- fiksi utamanya -- dalam menghasilkan karya-karyanya. Kami membahas dan berdiskusi tentang J.R.R. Tolkien, C.S. Lewis, J.K. Rowling, Soekarno, hingga Stephenie Meyer yang lagi naik daun. Aku menekankan pentingnya komitmen, dedikasi dan loyalitas yang berujung pada konsistensi dalam berkaryatulis.

Nah, yang tak kuduga: aku yang datang dengan sandal dan tampil dengan jaket pinjaman, mendapat sejumlah uang, tiga edisi majalah sekolah Basisco (Bacaan Siswa Cor Jesu) dan sebuah cangkir berlogo SMUK Cor Jesu. Betapa aku bersyukur, juga agak malu!

Selain itu, ada satu momen juga yang membahagiakan. Aku berkenalan dengan Angel, ilustrator Basisco. Rencananya, dia bersedia untuk menjadi ilustrator di naskah novel yang sedang kugarap.***

Dua kejadian di minggu lalu ini kadang membuatku berpikir sampai hari ini: Apakah sudah waktunya aku menjadi sastrawan?

Halah!

29.1.09

Dicari: Ilustrator Buku

Tugasnya membuat gambar-gambar pendukung yang sudah ditentukan penulis novel untuk dibuat. Ilustrasi yang dibuat diupayakan bergaya seperti yang dibuat Pauline Baynes dalam buku cerita Kisah-kisah dari Narnia. Jumlah gambar berkisar 30 sampai 40 buah.

Bila penerbit yang akan dituju penulis novel nantinya menyetujui menerbitkan novel tersebut, tentunya berikut ilustrasinya, maka ilustrator akan mendapat jatah seperempat royalti yang diterima penulis dari penerbit selama empat semester (semester ke-1 sampai ke-4).

Ilustrastor yang dicari berdomisili di kota Surabaya, Sidoarjo atau Malang. Keterangan lebih lanjut silahkan hubungi email di puisimbeling@gmail.com. Dalam e-mail yang disampaikan mohon menyebutkan nama, nomor telp/hp yang bisa dihubungi dan sedikit informasi tentang pengalaman membuat gambar/ilustrasi.

Terima kasih.

UPDATE:

2 Maret 2009 -- Ilustrator sudah didapatkan. Pencarian ditutup. Terima kasih.

12.1.09

Jadwal Menulis Mingguan Januari-Juni 2009

Tahun lalu tak banyak karya tulis kuhasilkan. Alasannya karena pekerjaanku sebagai guru cukup berat. Aku sampai di tempat kos rata-rata jam lima sore tiap hari, sejak jam enam limabelas hingga setengah tujuh pagi berangkat. Sebenarnya, bagiku, aku terlalu lelah. Tapi, aku akan mengatur jadwalku lebih baik. Mungkin, dengan membuat rencana seperti di bawah, segalanya bisa teratasi.

Intinya, aku ingin mengubahnya tahun ini.

Selain menggarap delapan atau sembilan renungan rohani tiap bulan, aku ingin merampungkan novel baruku yang baru tiga bab tergarap. Untuk novel kurencanakan kubuat sepuluh halaman tiap minggu. Novel ini kutargetkan selesai akhir Juni 2008. Selain menulis renungan dan menggarap novel, aku juga akan menulis cerpen, resensi, artikel dan puisi. Untuk puisi, tak kubuat jadwal khusus. Alasannya karena, sejauh ini, dalam pengalamanku, kemunculan puisi susah diperkirakan.

Nah, ini dia jadwalku. Kupukul rata tiap bulan ada 4 minggu.

Minggu 1:
10 halaman novel baru
1 cerpen

Minggu 2:
10 halaman novel baru
1 resensi film/buku

Minggu 3:
10 halaman novel baru
1 artikel, utamanya pendidikan

Minggu 4:
10 halaman novel baru
1 resensi film/buku, atau 1 cerpen, atau 1 artikel

Ya... semoga saja, semuanya bisa terlaksana dengan baik dan sesuai rencana.

Tuhan, kuatkan aku, demi minatku.

~s.n~

26.12.08

Jumpa Penulis dan Bedah Buku

Mari datang beramai-ramai...

Acara jumpa penulis dan bedah buku teenlit Warrior - Sepatu untuk Sahabat karya Arie Saptaji. Sebuah teenlit yang lain daripada yang lain, yang mengangkat unsur budaya Jawa di dalamnya, seperti komentar berikut:
"Akhirnya ada juga teenlit yang berlatar belakang budaya Indonesia... yang saya beri label BRILIYAN."
(Sitta Karina, Penulis)

Perpustakaan Kota Malang
Minggu, 28 Desember 200811.00 s.d. selesai

Jangan lupa ya...Dijamin pasti seru dan asyik!

Dengarkan juga bedah buku ini di Mas FM
Sabtu, 27 Desember, 11.00-12.00

Diselenggarakan atas kerjasama:
Perpustakaan Kota Malang, Radio Mas FM, dan Forum Penulis Kota Malang (FPKM)