Showing posts with label Gereja. Show all posts
Showing posts with label Gereja. Show all posts

22.5.11

Gereja-gereja yang Membentuk Kehidupan Saya (3-habis)

Pandangan Pribadi tentang Gereja-gereja

Dalam dua bagian tulisan yang lebih awal (dengan judul yang sama) saya telah mengisahkan persinggahan dan petualangan saya dalam gereja-gereja. Saya membuat catatan itu dengan pertimbangan yang semasak-masaknya agar -- sedapat mungkin -- tidak ada satu pihak pun yang dirugikan. Saya -- dengan kejujuran dan tentunya subjektivitas pribadi -- mengemukakan kelebihan dan kekurangan yang saya temui dalam gereja.

Di sisi lain, selalu saja ada pihak-pihak yang membangun suatu generalisasi yang payah atas persoalan yang kompleks. Dalam kasus saya ada yang berkomentar gereja bukan gedung. Gereja adalah umat Nasrani secara individu, di mana saja kita adalah gereja, dan komentar-komentar lain yang senada. Saya tidak menganggap remeh pemikiran-pemikiran tersebut, cuma, pemikiran-pemikiran demikian tidak menyentuh pada persoalan yang sebenarnya ingin saya ketengahkan.

Namun, saya juga tidak tengah mengharapkan pemikiran yang berbelit-belit atau rumit. Setidaknya, saya berharap lahir sebuah diskusi tentang gereja yang membuat kita memahami hal-hal yang harus diperhatikan dan diabaikan dalam gereja. Dalam catatan terakhir ini saya lebih menyoroti berbagai hal yang menurut saya perlu dibenahi dalam gereja.

Hal terutama yang hendak saya ketengahkan dalam catatan penutup ini (juga catatan-catatan sebelum ini) adalah: setiap lembaga -- bahkan di luar gereja -- memiliki tradisi dan pengajaran yang berbeda-beda. Gereja, sebagai lembaga di mana Allah mempercayakan pesan tentang kasih dan kuasa-Nya, tidak salah memelihara berbagai tradisi yang masing-masing ada padanya. Namun, janganlah kiranya tradisi itu yang dikedepankan. Kristus yang harus dikedepankan.

***

Sebuah contoh tentang pengedepanan tradisi yang begitu mengganggu saya, saya temui dalam sebuah ibadah KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) di auditorium Universitas Merdeka Malang beberapa tahun silam. KKR itu bertepatan dengan perayaan Natal. Penyelenggaranya adalah gereja beraliran Reformed-Injili. Menjelang akhir KKR, seorang solois menyanyikan sebuah lagu berjudul Haleluya karya Frederich Handel. Sang pembicara KKR baru saja selesai khotbah, dan ia tengah berada di bagian belakang gereja.

Saya yang duduk di bagian belakang sangat kaget. Sebabnya, tiba-tiba sang pembicara teriak-teriak, "Berdiri! Berdiri!" di belakang. Sambil teriak-teriak ia berjalan maju, naik lagi ke mimbar, memberi penjelasan bahwa lagu yang tengah dinyanyikan adalah sebuah lagu mahakarya tingkat tinggi, yang tidak bisa dinyanyikan sembarang orang. Ia kemudian menjelaskan kondisi yang ada di negara-negara lain di Eropa dan Amerika: tiap kali orang mendengar lagu itu, mereka langsung berdiri. Nah, masalahnya sekarang, sekarang saya di Indonesia, saya tidak tahu tradisi itu.

Saya kurang suka membangkang. Saya pun berdiri, mendengar lagi lagu itu dinyanyikan ulang. Saya akan lebih suka berdiri kalau band kesukaan saya, Mr. Big, menyanyikan lagu Daddy, Brother, Lover, or Little Boy yang hingar-bingar. Saya tahu lagu itu, dan sangat saya sukai.

Masih begitu banyak contoh yang membuat saya terganjal. Kali ini soal berkat. Di beberapa gereja Karismatik, pengajaran tentang berkat sudah demikian kelewatan bagi saya. Saya sudah hampir lelah mendengar: "Bila Anda beriman, pasti Anda diberkati. Bila Anda mengikut Kristus, pasti Anda akan kaya, sejahtera, sembuh dari penyakit Anda, dan mengalami terobosan-terobosan baru dalam hidup Anda," dan kata-kata motivatif lainnya yang disampaikan dengan meledak-ledak dari balik mimbar.

Kisah-kisah di Alkitab sendiri bahkan mencatat banyak orang yang keadaannya tidak berubah dan mengalami terobosan dramatis apa pun setelah mengikut Tuhan. Bahkan ada yang keadaannya jadi lebih buruk setelah mengikuti Tuhan. Setelah Injil mulai menyebar di wilayah Asia, di abad-abad awal Masehi banyak orang Kristen yang harus menjadi martir karena setia mengikuti Tuhan. Ada yang menyatakan, martir-martir kini sudah tidak ada lagi. Tunggu dulu! Saya pernah mendengar dari sumber yang terpercaya bahwa jumlah martir di abad 20 dan 21 (hanya dalam dua abad) lebih banyak daripada jumlah martir yang ada di sepanjang abad 1-19.

Penganiayaan terhadap orang Kristen terus berlangsung dari masa ke masa. Gereja tak bisa hanya bicara lantang soal kesuksesan finansial. Bila orang-orang dari gereja Karismatik terus dijejali dengan khotbah demikian, suatu saat akan lahir generasi mereka yang benar-benar lupa sejarah gereja. Dan mereka tentu akan menganggap gila seorang tokoh yang bernama Martin Luther. (Sekarang saja, sudah saya temui beberapa kali orang Kristen yang salah kaprah membedakan Martin Luther dan Martin Luther King, Jr.) Demi menemukan kehendak Allah dalam hidupnya, sosok seperti Martin Luther malah menjauhkan diri dari segala kesenangan duniawi -- yang tentu membuatnya tak mengejar kesuksesan finansial dengan cara apa pun.

Baiklah, melupakan sejarah Martin Luther mungkin tak menjadi masalah. Tapi, bila yang terus-menerus dikhotbahkan adalah uang, para jemaat akan berpikir bahwa kekurangan adalah dosa. Padahal tidak demikian. Kini, masih adakah khotbah-khotbah tentang kasih karunia Tuhan, hidup yang berkenan pada-Nya, atau pengabdian untuk kemuliaan nama-Nya, yang semuanya itu tak selalu berhubungan dengan uang?

Ya, masih banyak hal yang membuat saya terganjal. Di dalam dua catatan saya sebelumnya, saya mengisahkan adanya gereja yang melarang jemaatnya berpacaran dan mendengarkan-memainkan musik rock (silahkan simak kedua catatan itu di link yang saya sertakan di bawah, yang memuat alasan bagi pelarangan itu, agar Anda tidak salah memahami atau menanggapi).

Ada juga gereja yang sangat antipati terhadap rokok, sementara di gereja lain ada jemaat (bahkan pendeta) yang santai saja merokok di halaman gereja setelah selesai ibadah. Untuk masalah yang satu ini, saya senang dengan pandangan seorang pendeta yang suatu ketika menyatakan bahwa tubuh kita perlu dijaga bukan hanya dengan tidak merokok. Jadi, bila dalam sebulan Anda hanya merokok tiga batang karena alasan pergaulan, misalnya, Anda jauh lebih baik daripada orang Kristen yang suka makan jeroan, lemak, dan menimbun sampah dan kotoran lain dalam tubuhnya dengan nafsu makan yang tidak bisa dikendalikan.

Ya, masalahnya tidak ada ayat yang secara tersurat melarang kita merokok, bukan? Alkitab cukup menyatakan agar kita menjaga dan memelihara tubuh kita. Saya mengenal seorang pendeta lain yang tidak merokok, tapi sangat mengagumi C.S. Lewis dan J.R.R. Tolkien yang keduanya suka menghisap pipa bertembakau. Lewis dan Tolkien orang Nasrani. Kebetulan saya juga mengagumi keduanya. C.S. Lewis dianggap sebagai salah satu tokoh Kristen terkemuka, hingga kini terus dikenang. Sementara Tolkien dianggap salah satu pendongeng terbaik sepanjang masa.

Nah, sekarang, bagaimana dengan gereja-gereja itu, yang antipati terhadap rokok? Apakah nanti mereka akan berdalih, kalau Lewis dan Tolkien adalah kasus lain? Jadi, Lewis dan Tolkien bisa diterima, sementara perokok lain harus dijauhi? Ah, yang benar saja. Lewis dan Tolkien kan juga manusia, Bung!

***

Begitulah, dalam perjalanan saya dari gereja ke gereja, saya menemui banyak hal yang masih mengganjal. Seperti yang saya tegaskan, hal-hal yang mengganjal itu utamanya berkaitan dengan tradisi yang dibangun oleh gereja-gereja itu -- sesuai alirannya, sesuai organisasinya. Hal-hal lain seperti soal tata-cara baptisan, persembahan persepuluhan, doktrin baptisan Roh Kudus, alat musik drum dilarang dimainkan dalam gereja, dan sederet hal lain, semuanya merupakan tradisi dan pengajaran yang kadang disejajarkan -- atau malah dilebihutamakan -- daripada pesan-pesan di dalam Injil.

Semasa Yesus Kristus melayani di dunia ini, ia membongkar tradisi Yahudi. Tradisi itu dipelihara dengan memperhatikan kitab-kitab Musa dan para nabi yang hidup sebelum Kristus. Kristus, sebaliknya, tidak menciptakan tradisi apa pun. Ia tidak mewariskan buku, hanya sekali Ia dikisahkan menulis -- menulis di tanah. Tulisan itu, bila kena angin dan hujan, sirnalah.

Kristus tidak pernah membenci Musa, tapi Ia sangat membenci orang-orang Farisi, para penjunjung tinggi hukum dan peraturan Musa yang tidak berbelas kasih, tidak berempati, dan tidak toleran. Kristus menjadi sahabat pelacur, pemabuk, dan penilap pajak. Ia tidak pernah mencoba berkuasa dengan mendekati orang-orang di pemerintahan, melakukan lobi-lobi politik secara diam-diam.

Apa yang dilakukan Kristus semasa melayani tiga setengah tahun telah mengubah kehidupan orang-orang di zaman-Nya dan sekitar-Nya. Gereja, yang kepadanya diamanatkan meneruskan pesan Kristus, sayangnya, mengulangi apa yang dilakukan oleh orang-orang Farisi. Berbagai telaah teologis atas baptisan, persepuluhan, iman, kesuksesan, dan hal-hal lain untuk melanggengkan tradisi dan pengajaran gerejawi dibuat. Dan bila dijadikan buku, ditumpuk, semua itu akan jadi jauh lebih tebal daripada Taurat orang-orang Farisi.

***

Pada akhirnya, seperti yang saya sampaikan di bagian paling awal (bagian 1), semua hal yang saya tulis ini berpulang pada saya. Saya sudah empat tahun tidak bergereja secara tetap. Janganlah meminta saya untuk tidak bergereja karena (mengutip sepenggal lirik lagu Sekolah Minggu): "Aku gereja, kau pun gereja."

Saya tidak sedang membahas gereja dalam tataran individu -- bahwa tiap orang Nasrani adalah gereja itu sendiri -- namun gereja sebagai suatu organisasi berikut tradisi dan pengajaran yang dibangun di dalamnya. Semua itu telah membentuk kehidupan saya. Saya pernah sangat membenci musik rock, antipati terhadap orang yang merokok, memutuskan pacar saya -- semuanya karena tradisi dan pengajaran yang dibangun gereja-gereja tertentu.

Seiring berjalannya waktu dan perjalanan saya dari gereja ke gereja, sikap-sikap saya mulai berubah. Saya belajar untuk lebih toleran, tanpa meninggalkan pengajaran-pengajaran yang bagi saya lebih penting dan hakiki, terutama yang disampaikan oleh Kristus sendiri dalam keempat Injil. Ya, catatan ini memang menyoroti banyak kekurangan dalam gereja. Namun, percayalah, di gereja pula saya belajar bagaimana memiliki kehidupan yang berarti.

Ke depan, saya ingin beribadah lagi dengan tetap di sebuah gereja. Saya tahu, begitu banyak kekurangan akan saya temui di gereja mana pun yang nantinya akan saya kunjungi dengan tetap, sebagaimana orang-orang terdekat saya menemukan banyak kekurangan dalam diri saya. (*)

Malang, 20-21 Mei 2011

Catatan:

Tulisan sebelum tulisan ini:

Bagian 1: http://tuanmalam.blogspot.com/2011/05/gereja-gereja-yang-membentuk-kehidupan.html

Bagian 2: http://tuanmalam.blogspot.com/2011/05/gereja-gereja-yang-membentuk-kehidupan_12.html

12.5.11

Gereja-gereja yang Membentuk Kehidupan Saya (2)

4. GAP -- Masa-masa Kuliah di UM

Saya bergabung dengan Gereja Anugerah Pembaharuan (GAP) pada tahun 1999. Saya meninggalkan GPdI Elohim yang ada di kota Batu karena jaraknya yang terlalu jauh dari tempat tinggal saya di Malang, hampir 20 kilometer. Namun, saya tetap berkunjung dan berhubungan dengan beberapa teman di GPdI.

Saat-saat ini juga saya amat kagum dengan seorang pendeta yang bernama Roberts Liardon. Ia menulis banyak buku, termasuk beberapa buku yang berkaitan dengan biografi beberapa pendeta dari kalangan Pentakosta. Semua buku Roberts Liardon yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia saya baca. Gara-gara membaca buku-bukunya, juga beberapa buku-buku bertema sosial lain, tahun 1999 saya ikut UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) lagi, mengambil jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang. Saya diterima. Waktu itu saya yakin benar dengan pilihan saya -- ada dua pilihan jurusan dalam tiap UMPTN, tapi saya hanya memilih satu jurusan, yaitu Pendidikan Sejarah, dan pilihan keduanya saya kosongkan.

Kembali ke GAP. GAP adalah gereja yang satu pergerakan (walaupun tidak satu denominasi) dengan GKB Jubilee di Semarang. Keduanya adalah gereja yang mayoritas jemaatnya kaum muda. GAP di Malang jauh beda dengan GKB Jubilee di Semarang dalam soal jumlah jemaat. Waktu saya pertama kali ke sini, gereja ini masih kecil, jemaatnya tidak lebih dari dua puluh orang.

Di GAP saya banyak dibentuk untuk menjadi rendah hati dan belajar menjadi perintis. Dengan beberapa teman saya mulai membuat warta gereja. Saya dan beberapa teman juga merelakan buku dan kaset-kaset rohani yang kami miliki untuk membuat perpustakaan kecil-kecilan. Lalu saya juga membentuk tim musik yang kecil, namun sangat gaduh dan bersemangat. Di GAP kami pindah-pindah tempat ibadah, menyewa gedung-gedung untuk kebaktian. Hampir tiap Minggu saya dan beberapa teman mengangkuti alat-alat musik dan sound-system. Tiada hari tanpa ke gereja.

Sama seperti di GKB Jubilee, pengajaran di gereja ini juga radikal. Saya sempat dekat dengan satu orang gadis di sana. Namun, karena tidak boleh pacaran, lagi-lagi hubungan asmara saya harus kandas di tengah jalan.

Awal tahun 2002, saya merasa ada beberapa pengajaran yang tak saya setujui di gereja ini. Bulan Februari 2002 saya menulis surat yang sifatnya hampir resmi untuk teman-teman dan pemimpin di GAP. Dengan jelas saya utarakan beberapa alasan pengunduran diri saya dari gereja ini, dan itu semuanya tidak perlu dijadikan sebagai sumber konflik berkepanjangan.

Saya tetap mengunjungi GAP beberapa kali setelah saya mundur dari sana. Saya tetap berhubungan baik dengan semua anggota gereja di sana. Gereja ini juga sempat berganti nama menjadi MSI (Morning Star Indonesia). Namun sayang, saya mendapati kabar kalau beberapa tahun yang lalu -- kalau tidak salah empat tahun yang lalu -- gereja ini sudah tutup. Saya maklum, karena gereja ini adalah gereja kaum muda, banyak mahasiswanya. Jemaatnya datang dan pergi.

5. Gereja Bethany -- Masa-masa Kuliah di UM dan Pasca Kuliah

Setelah keluar dari GAP, saya diajak tetangga saya untuk ikut dalam doa pagi yang diadakan Gereja Bethany Malang tiap jam 04.30 pagi. Seringkali saya bangun lebih awal, maka saya pun berangkat duluan. Tetangga saya ini, yang usianya jauh lebih tua daripada saya, juga suka mengajak saya pelayanan ke mana-mana. Dia meminta saya bermain gitar dan berkhotbah di kelompok-kelompok persekutuan keluarga (dinamakan Family Altar) tiap hari Selasa. Beberapa kali saya juga diajak pelayanan bermain gitar di ibadah-ibadah kematian.

Selain tetangga saya, saya mengenal dengan baik seorang fulltimer di Gereja Bethany. Dia seorang pendoa. Mengetahui kesukaan saya berdoa jam 04.00 pagi, dia pun menawari saya menjadi penjaga Menara Doa, menjaga sesi doa pukul 04.00 sampai 06.00 pagi.

Menara Doa adalah kegiatan pelayanan doa di Gereja Bethany. Tiap anggota jemaat boleh ambil bagian. Di Menara Doa ada doa nonstop 24 jam sehari, dibagi dalam 12 sesi, satu sesi 2 jam. Dari Senin sampai Jumat saya dijadwal untuk menjaga Menara Doa itu. Sesi ini sangat sepi pengunjungnya. Saya lebih sering berdoa sendirian di Menara Doa. Alasan mengapa saya suka berdoa jam 04.00 pagi ada dua. Pertama adalah kisah hidup seorang pendeta yang bernama John Wesley, pelopor pergerakan Metodis, dia selalu berdoa jam 4 pagi. Pendeta lain yang juga suka berdoa pagi-pagi adalah George Muller yang dikenal sebagai bapak bagi kaum yatim piatu.

Saya senang sekali berdoa di Menara Doa. Ada saat-saat ketika inspirasi datang begitu deras. Saya menulis beberapa puisi karena senang dengan suasana pagi yang hening. Namun, kenyataannya, saya tidak selalu berada di Menara Doa yang berada di bagian paling belakang gereja. Saya diminta untuk melayani di Dewasa Muda. Dan tak tanggung-tanggung, saya diminta untuk menjadi ketua Dewasa Muda.

Saya merasa umur saya lebih muda daripada sebagian jemaat Dewasa Muda. Saya masih kuliah; saya merasa belum pantas memimpin Dewasa Muda yang lebih berorientasi menjangkau kaum profesi dan keluarga-keluarga muda di gereja. Namun, pemimpin yang lama menyatakan saya orang yang tepat.

Tak lama setelah menjadi ketua Dewasa Muda, beberapa pemimpin kaum muda gereja juga meminta saya menjadi ketua pengajaran untuk kaum muda. Dalam hal pengajaran ini, saya bersemangat sekali. Saya punya banyak bahan untuk diajarkan. Saya buat sendiri buku pengajarannya, dan saya beri nama pengajaran itu Firm Foundations (F2). Saya sempat meluluskan siswa-siswi F2 sebanyak dua angkatan.

F2 berjalan cukup antusias. Anak-anak murid di sana senang dengan pengajaran yang diadakan. Namun, sebuah masalah muncul. Tapi bukan di F2. Dewasa Muda yang saya pegang tak banyak mengalami perkembangan. Saya kehabisan akal bagaimana membuat ibadah di Dewasa Muda bisa lebih menarik minat banyak orang untuk datang. Akhirnya, gembala sidang memutuskan agar pelayanan Pemuda dan Dewasa Muda digabung. Saat penggabungan, saya yang diminta untuk jadi ketuanya.

Terakhir, gembala sidang mengetahui minat saya dalam dunia penulisan. Itu serta-merta membuatnya menjadikan saya pimpinan redaksi tabloid internal gereja. Saya melepas pelayanan saya di Pemuda dan Dewasa Muda yang sudah digabung tadi. Saya hanya menjadi ketua atas gabungan itu dalam beberapa bulan. Namun, tabloid yang dipercayakan pada saya itu hanya jadi satu edisi. Saya sudah menyiapkan bahan untuk tiga edisi, namun tim yang direncanakan untuk bekerja bersama saya tak kunjung terbentuk.

Semua ini saya alami dalam waktu tiga tahun, dari tahun 2002 hingga 2005. Entah berlebihan atau tidak, saya merasakan kalau begitu banyak hal yang saya lakukan selama di gereja ini. Mau tak mau hal ini membuat kuliah saya terbengkalai. Begitu tabloid itu semakin tidak jelas mau terbit lagi atau tidak, saya mengambil keputusan untuk melayani sebagai guru Sekolah Minggu.

Guru Sekolah Minggu. Ya, itulah pelayanan terakhir saya di gereja yang gedungnya besar ini. Saya merasa, di antara semua pelayanan yang lain, menjadi guru Sekolah Minggu, menjadi gitaris di kelompok-kelompok persekutuan yang kecil, dan menjadi pendoa di Menara Doa, adalah tiga pelayanan yang paling saya sukai di gereja ini. Saya bersyukur dan berterima kasih sudah diberi kepercayaan untuk semua pelayanan di gereja ini. Namun, saya akui pelayanan saya untuk memimpin tidak banyak yang berhasil.

Mungkin saya salah, namun -- saya juga tidak tengah membela diri -- kegagalan yang saya rasakan tak semuanya karena ketidakmampuan saya untuk memimpin. Gereja yang gedungnya besar ini memang lebih cenderung bergaya selebritas. Kepemimpinan dan penggembalaan kurang dikembangkan dengan baik. Acara demi acara gereja dibuat semewah mungkin dan seheboh mungkin, namun penggembalaan dan pemberdayaan jemaat di dalam gereja kurang mendapat perhatian.

Karena itu, sejak menjadi guru Sekolah Minggu, saya berhenti untuk semua kegiatan pelayanan yang berbau kepemimpinan dan penggembalaan. Saya lebih suka duduk di bagian belakang gereja, menerima apa yang Tuhan mau sampaikan dalam ibadah demi ibadah di gereja ini lewat khotbah. Saya pun menata lagi kuliah saya yang terbengkalai.

6. GNS (Gereja Nomaden Suka-suka) -- Masa-masa Bekerja

25 Februari 2006, akhirnya saya lulus kuliah. Saya nyaris drop-out, karena kuliah dari tahun 1999 -- 13 semester saya jalani. Saya tidak menyalahkan gereja. Saya sendirilah yang salah, yang bersedia untuk melakukan berbagai pelayanan -- juga bekerja sebagai guru les privat, bahkan berjualan camilan sambil kuliah.

Setahun setelah itu saya lebih banyak mengurung diri di kamar, menulis berbagai tulisan. Saya tetap menjadi guru Sekolah Minggu, namun membatasi pelayanan saya. Saya mulai memantapkan diri untuk memuliakan Tuhan lewat tulisan yang saya buat dan menjadi seorang guru. Sampai suatu hari di bulan Februari saya mendapat panggilan wawancara di Yayasan Pendidikan Jaya.

Tanggal 20 Maret hingga 20 April 2007 saya dimagangkan oleh yayasan ini. Saya menjadi guru magang di SD Pembangunan Jaya Bintaro, Tangerang. Saat magang, tiap Minggu saya beribadah di sebuah gereja Katolik di Bintaro. Gereja Katolik inilah yang kemudian mengubah berbagai paradigma saya tentang gereja. Dulu, sama seperti beberapa orang Kristen lain, saya sempat menganggap orang-orang Katolik kurang beriman. Kurang beriman -- dalam istilah yang kami pakai -- menunjuk pada kebiasaan mereka yang tidak pernah membawa Alkitab kalau ke gereja (hanya membawa buku pujian), dan tidak bisa merangkai kata-kata doa spontan secara lancar karena hampir semua doa orang Katolik sudah dibuatkan dalam buku doa yang dirilis gereja.

Saat saya menyaksikan keheningan di dalam gereja Katolik itu, saya merasakan kekhidmatan yang membuat saya betah di sana. Saya merasa ibadah -- yang rata-rata hanya sejam -- berlangsung terlalu cepat. Di bangku -- yang selalu di bagian belakang -- saya meresapi keagungan dan kasih Tuhan. Tidak ada orang yang saya kenal, atau menyapa saya. Saya jadi lebih leluasa meresapi makna ibadah. Saya menirukan membuat tanda salib dengan air suci, berdoa sambil bertelut di depan bangku, dan merasakan damai yang besar.

Saya awalnya berpikir, ah, damai ini hanya euforia, hanya suatu perasaan sementara saja. Bukankah itu hal yang biasa -- suasana baru, ritual baru, gedung baru, dan segala lainnya yang baru? Sesuatu yang baru bagi saya, yang tidak saya temui dalam gereja-gereja sebelumnya yang cenderung hingar-bingar dan ramai?

Namun, walaupun itu hanya euforia, saya juga punya anggapan dan kesimpulan lain. Mulai dari saat itu, saya tidak lagi melihat gereja sebagai sesuatu yang harus dibeda-bedakan. Saya pun mulai keranjingan menjelajah gereja demi gereja. Pulang dari magang di Jakarta saya bertekad pergi ke gereja-gereja. Gereja apa saja. Di Malang dan Sidoarjo saya pun mengunjungi beberapa gereja GPdI, Gereja Baptis Indonesia, beberapa Gereja Bethel Indonesia, Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), Gereja Kristen Indonesia (GKI), GPIB (Gereja Protestan Indonesia bagian Barat), juga Gereja Bala Keselamatan.

Hal-hal yang menarik saya temukan ketika menghadiri ibadah dengan suasana yang berbeda-beda. Saya jadi tahu, di tengah-tengah berbagai perbedaan itu, gereja-gereja tetap hidup demi menjadi saksi Kristus, walau sayangnya banyak juga gereja yang masih suka menyalahkan satu sama lain. Namun, saya tidak pernah -- dan tidak akan pernah mau -- mencoba-coba menginjakkan kaki di gereja yang beraliran sesat seperti Mormon atau Saksi Yehova.

Soalnya saya kuatir, kalau saya ke sana malah nantinya saya dijadikan gembala sidang.

***

Sidoarjo, Mei 2011

Bersambung:

7. Pandangan Pribadi tentang Gereja-gereja

11.5.11

Gereja-gereja yang Membentuk Kehidupan Saya

Orang Kristen yang ideal tentunya memiliki gereja yang dikunjunginya secara tetap Minggu demi Minggu. Namun, saya bukan tipe yang ideal, setidaknya untuk beberapa tahun belakangan ini. Sejak empat tahun lalu, saya pindah-pindah gereja terus.

Beberapa hari lalu, di dalam bis Malang-Surabaya, saat saya merenungkan lagi gereja-gereja itu, saya tergerak untuk membuat sebuah catatan yang mengisahkan persinggahan saya dari gereja ke gereja. Banyak kenangan yang sayang bila dilupakan begitu saja. Dan sayangnya, saya ini pelupa. Akhirnya, lahirlah catatan ini. Catatan yang saya buat, pertama-tama untuk saya sendiri, agar saya tidak melupakan gereja, salah satu tempat di mana kasih dan kuasa Tuhan dinyatakan bagi umat-Nya — terlepas dari segala kekurangan yang ada di dalamnya.

1. GPKM — Masa-masa SMP

Saya mulai merasa senang bergereja saat SMP. Bapak saya membelikan saya beberapa buku cerita rohani, dan saya suka sekali membacanya. Saya ingin mendengar lebih banyak cerita rohani di gereja. Sebelumnya, waktu SD, saya sangat malas ke gereja. Salah satu penyebab kemalasan itu adalah ejekan yang pernah saya dengar suatu ketika.

Waktu itu saya masih SD. Saya ke gereja, ke Sekolah Minggu, naik becak sama abang saya. Begitu sampai di gereja, seorang anak mengejeki saya terus. Dia bilang saya Si Hitam. Saya tidak berani melawan atau balas mengejeknya. Dan karenanya, saya jadi tak mau lagi ke gereja, kecuali bersama bapak atau ibu saya.

Waktu SMP, saya bertemu dengan teman-teman gereja yang lebih baik di Gereja Protestan Kristus Mulia (GPKM) di Singkawang, Kalimantan Barat. Saya bahkan diangkat oleh salah satu guru Sekolah Minggu menjadi ketua untuk kaum remaja. Saya menjadi gitaris di gereja, mengiringi teman-teman saya tampil paduan suara hampir tiap ibadah Minggu. Beberapa retreat atau camping yang diadakan di gereja membuat saya senang sekali menjadi warga gereja.

2. GKII dan GKB Jubilee — Masa-masa SMA

17 April 1997. Saya seorang remaja 17 tahun waktu itu. Hari itu saya menyadari saya perlu pengampunan Tuhan setelah mengikuti sebuah acara bertajuk Hell’s Bells. Di dalam acara itu saya mendapat penjelasan tentang beberapa musik rock yang diklaim oleh gereja penyelenggara acara — GKB (Gereja Kristen Baithani) Jubilee — sebagai musik-musik satanis.

Sebagai penyuka musik rock, saya merasa perlu diselamatkan. Di sebuah ruangan kecil di Undip Tembalang, Semarang, saya sadar akan dosa-dosa saya (namun bukan hanya dosa karena suka musik rock), berjanji mau hidup bagi Tuhan. Walaupun suka nge-rock, saya bukan remaja bandel dan urakan. Namun, saya sadar kebaikan dan kesalehan saya bukanlah jaminan bahwa Tuhan menerima saya. Saya mengalami sebuah titik balik: saya mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya dengan sepenuh hati saya. Saya ingat lagu yang mengantar saya menuju kesadaran itu, dinyanyikan David Meece:

We are the reason, that He gave His life
We are the reason, that He suffered and died

Saya juga suka nge-band waktu itu. Sebenarnya, sejak SMP, sejak umur 14 tahun, saya sudah ikut festival band, dan masuk final dalam festival itu walau tak meraih juara. Di festival-festival band selanjutnya, saya — bersama grup band saya tentunya — berhasil meraih beberapa juara. Oleh didikan yang diberikan para pemimpin di GKB Jubilee, saya diharuskan untuk meninggalkan semua musik rock yang dulu amat saya sukai.

Seorang pemimpin di gereja itu bersaksi bahwa kaset-kaset musik rock yang dimilikinya dibakarnya semua. Ia meminta saya melakukan hal yang sama. Namun saya bersikukuh bahwa tidak semua musik rock itu satanis. Saya tidak mau membakar kaset-kaset saya. Saya setuju menyingkirkan kaset-kaset saya yang berjumlah sekitar 50 buah. Kaset-kaset itu kemudian saya jual — tapi lebih banyak yang saya berikan — ke teman-teman saya.

Saya juga diminta untuk meninggalkan GKII (Gereja Kristen Indonesia Injili) di Semarang yang sebelumnya saya kunjungi tiap Minggu bersama nenek saya. GKB Jubilee mengajarkan bahwa orang Kristen perlu memiliki komitmen pada satu gereja. Saya tak serta-merta melakukannya karena sudah terbiasa mendampingi nenek saya bergereja di GKII tiap Minggu jam 6 pagi. Saya makin sering mengikuti berbagai kegiatan di GKB Jubilee, walau kadang masih menemani nenek ke GKII. Saya senang dengan semangat anak-anak muda di GKB Jubilee. Di GKII para pemudanya kurang bersemangat. Di GKB Jubilee saya dilatih menjalani kehidupan rohani yang disiplin. Saya jadi rajin berdoa, menamatkan pembacaan Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu tak sampai setahun.

Teman-teman saya di luar gereja heran dengan perubahan saya. Saya hanya mau menyanyikan lagu rohani, dan hanya menjadi gitaris di gereja. Saya sempat mengalami konflik yang besar dengan grup band saya karena ajaran pemimpinnya yang mengharamkan musik rock. Apalagi waktu SMA saya memiliki tiga grup band: satu band dengan teman sekampung (Flatus), satu band dengan teman sekelas (Visioner), dan satu band bentukan guru ekskul musik SMA (Neo-Six). Konflik terbesar saya alami dengan grup band Visioner karena sayalah yang menggagas berdirinya grup band itu, namun saya juga yang keluar pertama kali.

Belakangan, saya merasa ajaran yang ada di gereja ini kelewat radikal, walau radikalismenya bersifat internal dan bertujuan baik untuk warga gereja. Ada juga ajaran radikal lainnya: warga gereja yang masih SMA atau baru kuliah di semester awal tidak boleh berpacaran. Pacaran benar-benar dilakukan bila sudah siap menikah. Waktu SMA saya sudah punya pacar, dan saya pun patuh pada pimpinan saya. Dengan berat hati, saya memutuskan hubungan dengan pacar saya.

3. GPdI Elohim — Masa-masa Kuliah di Brawijaya

Setelah tamat SMA, saya pindah ke Malang. Waktu SMA saya tinggal dengan nenek saya di Semarang, sementara orang tua saya masih di Singkawang, Kalimantan Barat. Setelah saya naik kelas 3 SMA, orang tua saya pindah dari Kalimantan Barat ke Malang. Di Malang saya senang dengan suasananya, jauh berbeda dengan Semarang yang panas.

Saya dibelikan Honda CB 100 tahun 1978 oleh bapak saya. Harganya satu juta lebih sedikit. Bapak saya sebenarnya ingin membelikan motor yang lebih baru, namun saya bersikeras minta CB 100, karena sejak SMA saya menyukai model motor itu. Sampai sekarang pun saya masih menyukainya.

Dengan CB 100 itu saya suka bepergian ke mana-mana kalau pulang kuliah. Saya kuliah di Universitas Brawijaya Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, hanya setahun, dari tahun 1998 sampai 1999. Cukup banyak aktivitas perkuliahan yang berkaitan dengan pengamatan tanaman. Gara-gara aktivitas ini saya suka melihati tanaman apa saja. Kesukaan ini membuat saya sering pergi ke kota Batu, melihat kebun-kebun apel, dan kadangkala mengajak petani-petani apel mengobrol seputar penyakit tanaman atau kehidupan sehari-harinya.

Suatu ketika saya menemukan toko buku Kristen yang lumayan lengkap di Batu, toko buku Imanuel. Di sebelahnya ternyata ada sebuah gereja, GPdI (Gereja Pentakosta di Indonesia) Elohim.

Saya pun mencoba ikut dalam ibadah pemuda di situ. Saya mudah akrab dengan beberapa teman. Bahkan saya seringkali tinggal di beberapa rumah teman di Batu selama beberapa hari. Seringkali, dari hari Jumat sore sampai Minggu siang saya ada di Batu, dan baru pulang ke Malang di hari Minggu sore atau malam. Walaupun tidak sampai setahun di sini, banyak kenangan yang menyenangkan dari gereja ini.

Di gereja ini saya memiliki seorang sahabat yang sangat gemuk, beratnya hampir 130 kilogram. Suatu hari dia memberi saya hadiah sepasang sarung tangan agar saya tidak kedinginan naik motor dari Malang ke Batu. Kami berdua sering menaiki motor CB saya sampai Pujon, sebuah kecamatan yang lebih tinggi dari kota Batu, kecamatan penghasil susu sapi terbanyak di Jawa Timur. Di Pujon kami mengunjungi teman-teman gereja lainnya. Beberapa orang heran dengan kekuatan motor CB saya itu, dinaiki dua orang yang total beratnya hampir 200 kilo, masih kuat saja menanjak dan meliuk-liuk.

Sayangnya, sahabat saya yang baik ini meninggal di usia muda karena diabetes. (Bersambung)

Malang-Sidoarjo, Mei 2011

***

Rencananya akan saya sambung dengan cerita dan pembahasan:
4. GAP — Masa-masa Kuliah di UM
5. Gereja Bethany — Masa-masa Kuliah di UM dan Pasca Kuliah
6. GNS (Gereja Nomaden Suka-suka) — Masa-masa Bekerja
7. Pandangan Pribadi tentang Gereja-gereja