Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

19.5.09

Kedegilan dan Kesendirian yang Berujung Petaka

Bahaya Kedegilan Hati

SEAN PV, tokoh dalam cerita Remy Sylado Mimi lan Mintuna menunjukkan bagaimana proses kedegilan hati itu terjadi. Sean PV awalnya seorang yang beragama. Ketika dewasa, ia berbuat dosa dan tak mau tobat. Dosa-dosa yang dilakukannya kemudian bertumpuk-tumpuk dan kemudian menjadi makanan sehari-hari. Bahkan, "... dia menganggap dosa itu adalah matapencarian."

Karena dosa adalah matapencariannya, maka Sean mudah menipu, mudah bersandiwara, mudah menyiksa, mudah marah, bahkan mudah meletupkan senjata di kepala orang lain. Seorang musuhnya menyatakan kepadanya: "... saraf kasihan kita sama-sama sudah tidak ada."

Sean PV adalah seorang pedagang (sekaligus germo) gelap wanita-wanita yang dijadikan pelacur kelas atas dan bintang-bintang film porno di Bangkok, Hongkong, hingga Tokyo. Begitu hina apa yang dikerjakannya, begitu banyak petaka yang ditimbulkannya sepanjang cerita.

Dunia kini berlaku makin kejam pada kita. Dosa menantang untuk dicoba-diperbuat sehari-hari. "Dosa memperanakkan dosa," demikian kata seorang bijak yang saya dengar beberapa tahun silam. Ada benarnya. Ketika sebuah dosa sudah biasa kita lakukan, maka kita akan melakukan dosa lain. Dan seterusnya. Semua tumpukan dosa itu akhirnya membuat hati kita tumpul. Alias degil. ***

Bahaya Kesendirian

KESENDIRIAN: baik dan tidak baik. Saat sendiri kita bisa merenungi diri, mungkin sambil merenungi tulisan ini. Tapi bisa juga melahirkan niat jahat karena memberi makan pikiran kita ilusi yang ngeri-ngeri.

Itulah yang terjadi pada Travis Bickle, tokoh yang ditampilkan dalam film Taxi Driver besutan sutradara tenar Martin Scorsese. Travis (diperankan dengan mantap oleh Robert De Niro) kesepian -- sangat kesepian.

Gelisah mengusir kesepiannya, ia mencari-cari perbuatan yang membuat hidupnya berarti. Setelah cintanya ditolak oleh seorang wanita, ia membeli banyak senjata, latihan angkat berat dan berusaha jadi pahlawan -- entah bagi apa atau siapa. Di depan cermin ia berkata: "Are you talkin' to me?" kepada dirinya sendiri. Sebuah self-talks atau solilokui yang pedih benar rasanya terdengar.

Wanita yang menolak cintanya termasuk dalam salah satu tim sukses kandidat presiden. Entah ada hubungannya atau tidak, Travis kemudian berniat membunuh presiden itu, walau kemudian gagal. Cara lain dicoba untuk menunjukkan keberadaannya: ia berusaha menyelamatkan seorang pelacur remaja. Memang, pelacur ini akhirnya berhasil dia selamatkan, walau pada awalnya pelacur itu tampak sama sekali tak ingin diselamatkan.

Anda yang menyukai kesepian, tiliklah ulang kesepian yang Anda sering genggam selama ini. Kita juga butuh bergaul, bukan selalu murung-merenung. Semuanya perlu berimbang, untuk membuat hidup ini bervariasi, penuh makna.

"Are you talkin' to me?"

"Yes, I am," kata seseorang, seorang teman bicara Anda, bukan pantulan wajah Anda di cermin. Dan itu tampaknya lebih baik, lebih waras. ***

Badut Pembunuh yang Jenaka

BILA dua bagian di atas mengisahkan tokoh-tokoh fiktif -- walau pada kenyataannya mirip juga dengan apa yang terjadi di dunia kita -- yang satu ini benar-benar terjadi.

Pria ini terkenal sebagai pemain badut. Ia sangat ramah, suka menolong, cinta anak-anak, jenaka, dan dermawan. Suatu hari ia menawari pekerjaan kepada Robert Piest. Robert sebenarnya hendak pulang karena ibunya ulang tahun. Tawaran pria ramah yang menjanjikan uang lima dolar sejam ini menunda kepulangannya.

Nah, tanpa pernah terduga, ketidakjadian Robert Piest pulang ke rumah membuka kedok John Gacy yang ramah, santun nan jenaka ini. Di rumahnya, Robert Piest diperkosa dan dibunuh. Ketika polisi menggali tanah-tanah di sekitar rumah John Gacy, Robert Piest kemudian dinyatakan sebagai korban ke-27!

Wajah badut yang lucu ini ternyata dimiliki oleh seorang berwajah setan yang sangar. Berita yang dimuat di majalah Newsweek tanggal 8 Januri 1979 ini benar-benar menggemparkan Amerika, khususnya negara bagian Illinois, di mana John Gacy tinggal.

Di Indonesia, ada Ryan yang berkasus serupa. Dengan tampang yang kalem, keren dan modis, siapa pun mungkin tak pernah mengira orang seperti Ryan suka membunuh dengan cara-cara yang mengerikan. ***

MENGAITKAN kesendirian, kedegilan hati, juga kemunafikan dan kepalsuan yang tersamar serba lihai yang telah kita ulas tadi, Ki Dong Kim, pengajar dan sastrawan yang ternama menulis, "... orang yang suka memendam rasa dan pikirannya sendiri, gampang kerasukan roh jahat. Karena ia selalu terpaku pada pikirannya, dan apabila ia terpaku pada pikiran negatif, maka ia akan menjadi muram."

Apa yang Kim sebut sebagai roh jahat mungkin menakutkan. Tapi, hal-hal psikologis juga tak luput darinya. Dari sini kita telah melihat sebuah relasi vital: kedegilan hati yang tersemai akibat kesendirian dan self-taks ternyata dapat menjadi masalah kejiwaan yang serius. Ini membuat kita tidak mempunyai kepekaan akan dosa, tak punya belas kasihan, dan tak dapat mengecap kemuliaan dari kebenaran dan kasih-sayang. Kita hidup dalam jiwa yang egoistis: menganggap diri lebih penting dan lebih baik.

Saudara, dalam kehidupan ini, mari kita isi pikiran kita dengan hal-hal yang baik. Refleksi hidup itu perlu, namun bukan sarana bermuram-durja. Hellen Keller suatu ketika pernah berkata: "Rasa mengasihani diri adalah musuh kita yang paling buruk dan jika kita takluk padanya, kita tidak akan pernah melakukan sesuatu yang bijaksana di dunia ini."

Mari kita menjadi bijaksana, sekalipun hidup sudah terlalu berat untuk dijalani. Mungkin kita bisa mencari seseorang untuk berbagi isi hati. Andai seseorang itu pun nyatanya tidak ada, maka, sebuah pertanyaan hendak dilayangkan kepada hati Anda: kapankah kita mengoreksi diri kita di hadapan Tuhan terakhir kali? "Di pintu-Mu aku mengetuk, aku tak bisa berpaling," kata Chairil Anwar.

Sidik Nugroho
Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo dan penulis lepas

27.4.09

Dendam dan Stres yang Mengerikan

Kisah-kisah dalam Buku dan Film

Roger Ebert, kritikus film ternama itu, pernah menyatakan bahwa Hannibal Lecter adalah tokoh yang ditakuti, namun juga disayangi. Hannibal Lecter adalah tokoh dalam film Silence of the Lambs, Hannibal, Red Dragon, dan yang terakhir Hannibal Rising. Komentar Roger Ebert tak berlebihan. Hannibal Lecter memang sangat menakutkan karena otak manusia pun dimakannya, namun juga disayangi karena ia amat flamboyan dan romantis.

Hannibal Lecter menjadi sedemikian keji karena semasa kecil ia pernah menyaksikan beberapa tentara kelaparan semasa perang yang memakan adiknya, Mischa. Tentara-tentara itu sudah tak punya makanan lagi. Kebengisan mereka "menular" kepadanya akibat dendam.

Di dalam Hannibal Rising dikisahkan kalau ulah para tentara rakus nan bengis pada Mischa sering hadir dalam mimpi-mimpi Hannibal. Ia sangat menyayangi Mischa. Mimpi-mimpi itu, dipadu dengan kebencian, berbuntut pada pembalasan dendam yang tak kalah keji pada tentara-tentara itu.

Bukan hanya di film, bila kita memperhatikan buku-buku fiksi yang dijual akhir-akhir ini, maka salah satu yang cukup menyedot minat pembaca adalah buku-buku tentang psikopat. Jauh sebelum novel-novel ini marak, dulu, Sidney Sheldon menulis -- berdasarkan riset psikoanalisis yang cukup mendalam -- kisah seorang gadis yang memiliki tiga kepribadian lewat novelnya Tell Me Your Dreams.

Gadis yang suka murung merenung ini bisa menjadi anggun, funky, namun sekaligus kejam. Ia adalah seorang yang memiliki trauma masa lalu yang sulit terhapuskan. Ia hidup bergonta-gonti "baju" kepribadian, tanpa pernah menyadari apa yang sebenarnya sedang menimpa dirinya.

Cerita lain tentang dendam kesumat dan stres bahkan menjadi sebuah ajang bersejarah dalam dunia jurnalisme. In Cold Blood, buku karangan Truman Capote menjadi best-seller, disebut-sebut sebagai pelopor dalam jurnalisme sastrawi. Buku itu laku keras, dan filmnya sendiri sudah dibuat dalam beberapa versi.

In Cold Blood bercerita tentang seorang pria yang sangat memuja ayahnya. Sayangnya, di masa kecil ia jarang bersama ayahnya. Ayahnya seorang artis rodeo (penunggang kuda). Ketika ayahnya kehilangan pekerjaan, kehidupan mereka menjadi susah. Si ibu akhirnya meninggalkan si ayah seorang diri.

Pria ini bahkan beberapa kali bermimpi tentang ayahnya sambil memanggil-manggil namanya. Teman dekatnya yang bersaksi tentang hal ini. Dan, betapa ia bahagia, suatu saat ia bertemu ayahnya lagi ketika dewasa. Mereka berdua lalu membuka bar kecil dengan beberapa meja biliar.

Harapan pria ini untuk bersama ayahnya tergapai sudah. Namun, sayangnya, suatu ketika saat ia mendekor bar mereka dengan lukisan-lukisan buatannya, ayahnya datang sambil mabuk, mencerca anak ini sebagai anak yang tak berguna. Bar mereka sedang sepi pengunjung, dan si ayah menganggap bahwa lukisan-lukisan anaknya itulah yang menjadi penyebabnya.

Perry Smith, anak itu, kemudian memutuskan untuk membunuh ayahnya dengan cara yang keji dan mengerikan. Dan dia melakukannya dalam "kondisi jiwa tanpa bersalah", atau "in cold blood."

Kisah Perry tidak hanya berakhir di situ. Ia juga melakukan serangkaian pembunuhan berantai yang membuatnya dihukum gantung. Itu semua terjadi karena harapannya mendapat sosok ayah yang melindungi dan menyayanginya pupus dan terberai. Dan harapan itu kemudian berubah jadi amukan yang mengerikan. ***

Tantangan Hidup di Zaman Serba Susah

Di zaman ini, banyak orang hidup dalam kepahitan. Krisis global telah menjadi isu sentral yang berperan memantik stres dalam hidup setiap orang. Dalam sebuah bincang-bincang di televisi, diperkirakan krisis global mencapai puncaknya setelah Juli 2009. Kemunculan krisis, dibarengi dengan munculnya minat terhadap buku-buku psikopat yang tadi saya sebut -- membahayakankah gejala ini?

Kemurungan kita semestinya ditakar dengan cara menghadapi hidup sejujur-jujurnya. Setelah jujur, kita lalu mau rendah hati mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan kita menghadapi kesusahan hidup, kepahitan, dan beraneka masalah yang mendera batin kita. Dendam dan stres itu manusiawi. Kita bahkan mungkin turut bersorak-sorak ketika seorang tokoh protagonis di film berhasil membalas dendam. Namun, sadarkah kita bahwa menyimpan dendam akan membuat kita tak waras? Seperti Hannibal, ia dapat tampil romantis, namun sekaligus kanibal.

Bahkan tekanan hidup dapat membuat seseorang berlaku sadis kepada orang yang sama sekali tak ada kaitannya dengan sumber amarahnya.

Minggu siang, 9 November 2008, jam 12 lewat sedikit. Saya lagi santai menunggu pempek digoreng di sebuah warung, sambil menyaksikan acara televisi. Nah, berita ini melintas.

Seorang bayi, usia 3 bulan, kepalanya merah-merah. Mengerikan, mengundang tangis dan membuat selera makan sirna. Dia baru saja dipukuli sama ibunya yang stres. Untung tetangganya mengetahuinya, lalu merampas bayi itu. Bayi itu selamat, menutup mata, lelap, tampak lemah dalam dekapan si tetangga. Dia ditimang-timang, dan didekap erat oleh si tetangga penyelamat.

Hingga berita itu ditayangkan, tidak disebutkan alasan mengapa ibu tersebut jadi begitu. Stres akibat tekanan hidup memang kadang-kadang dilampiaskan mengerikan. Hidup ini sendiri, bagi beberapa orang sangatlah mengerikan. Bila kejadian yang diterima seseorang adalah malapetaka dan duka beruntut-runtutan dan sambung-menyambung -- siapa tahan? Mana tahan?

Kita dapat menemukan pertahanan lewat pengampunan. Apa pun kesalahan orang lain di masa lalu, ampunilah. Jikalau kita tidak mau mengampuni, maka -- walaupun tak sekeji Hannibal -- kita akan menjadi pribadi yang mempunyai dua jiwa yang berbeda. Pengampunan adalah kunci bagi kehidupan penuh syukur dan berkah. Dalam pengampunan, ucapan syukur dan kepasrahan, tersimpan rahasia kebahagiaan yang dapat ditemukan seseorang. Masalah boleh datang dan pergi, namun ketegaran dan sikap legawa akan selalu tentramkan jiwa yang penuh gejolak.

Dan akhirnya, dalam semua itu kita dapat hidup lega, karena, seperti yang dikatakan seorang bijak, "Kehidupan bukanlah hal-hal yang terjadi pada diri Anda, tapi sikap Anda terhadap hal-hal tersebut." ***

Sidik Nugroho, pemerhati perilaku sosial