Showing posts with label Catatan. Show all posts
Showing posts with label Catatan. Show all posts

22.5.11

Gereja-gereja yang Membentuk Kehidupan Saya (3-habis)

Pandangan Pribadi tentang Gereja-gereja

Dalam dua bagian tulisan yang lebih awal (dengan judul yang sama) saya telah mengisahkan persinggahan dan petualangan saya dalam gereja-gereja. Saya membuat catatan itu dengan pertimbangan yang semasak-masaknya agar -- sedapat mungkin -- tidak ada satu pihak pun yang dirugikan. Saya -- dengan kejujuran dan tentunya subjektivitas pribadi -- mengemukakan kelebihan dan kekurangan yang saya temui dalam gereja.

Di sisi lain, selalu saja ada pihak-pihak yang membangun suatu generalisasi yang payah atas persoalan yang kompleks. Dalam kasus saya ada yang berkomentar gereja bukan gedung. Gereja adalah umat Nasrani secara individu, di mana saja kita adalah gereja, dan komentar-komentar lain yang senada. Saya tidak menganggap remeh pemikiran-pemikiran tersebut, cuma, pemikiran-pemikiran demikian tidak menyentuh pada persoalan yang sebenarnya ingin saya ketengahkan.

Namun, saya juga tidak tengah mengharapkan pemikiran yang berbelit-belit atau rumit. Setidaknya, saya berharap lahir sebuah diskusi tentang gereja yang membuat kita memahami hal-hal yang harus diperhatikan dan diabaikan dalam gereja. Dalam catatan terakhir ini saya lebih menyoroti berbagai hal yang menurut saya perlu dibenahi dalam gereja.

Hal terutama yang hendak saya ketengahkan dalam catatan penutup ini (juga catatan-catatan sebelum ini) adalah: setiap lembaga -- bahkan di luar gereja -- memiliki tradisi dan pengajaran yang berbeda-beda. Gereja, sebagai lembaga di mana Allah mempercayakan pesan tentang kasih dan kuasa-Nya, tidak salah memelihara berbagai tradisi yang masing-masing ada padanya. Namun, janganlah kiranya tradisi itu yang dikedepankan. Kristus yang harus dikedepankan.

***

Sebuah contoh tentang pengedepanan tradisi yang begitu mengganggu saya, saya temui dalam sebuah ibadah KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) di auditorium Universitas Merdeka Malang beberapa tahun silam. KKR itu bertepatan dengan perayaan Natal. Penyelenggaranya adalah gereja beraliran Reformed-Injili. Menjelang akhir KKR, seorang solois menyanyikan sebuah lagu berjudul Haleluya karya Frederich Handel. Sang pembicara KKR baru saja selesai khotbah, dan ia tengah berada di bagian belakang gereja.

Saya yang duduk di bagian belakang sangat kaget. Sebabnya, tiba-tiba sang pembicara teriak-teriak, "Berdiri! Berdiri!" di belakang. Sambil teriak-teriak ia berjalan maju, naik lagi ke mimbar, memberi penjelasan bahwa lagu yang tengah dinyanyikan adalah sebuah lagu mahakarya tingkat tinggi, yang tidak bisa dinyanyikan sembarang orang. Ia kemudian menjelaskan kondisi yang ada di negara-negara lain di Eropa dan Amerika: tiap kali orang mendengar lagu itu, mereka langsung berdiri. Nah, masalahnya sekarang, sekarang saya di Indonesia, saya tidak tahu tradisi itu.

Saya kurang suka membangkang. Saya pun berdiri, mendengar lagi lagu itu dinyanyikan ulang. Saya akan lebih suka berdiri kalau band kesukaan saya, Mr. Big, menyanyikan lagu Daddy, Brother, Lover, or Little Boy yang hingar-bingar. Saya tahu lagu itu, dan sangat saya sukai.

Masih begitu banyak contoh yang membuat saya terganjal. Kali ini soal berkat. Di beberapa gereja Karismatik, pengajaran tentang berkat sudah demikian kelewatan bagi saya. Saya sudah hampir lelah mendengar: "Bila Anda beriman, pasti Anda diberkati. Bila Anda mengikut Kristus, pasti Anda akan kaya, sejahtera, sembuh dari penyakit Anda, dan mengalami terobosan-terobosan baru dalam hidup Anda," dan kata-kata motivatif lainnya yang disampaikan dengan meledak-ledak dari balik mimbar.

Kisah-kisah di Alkitab sendiri bahkan mencatat banyak orang yang keadaannya tidak berubah dan mengalami terobosan dramatis apa pun setelah mengikut Tuhan. Bahkan ada yang keadaannya jadi lebih buruk setelah mengikuti Tuhan. Setelah Injil mulai menyebar di wilayah Asia, di abad-abad awal Masehi banyak orang Kristen yang harus menjadi martir karena setia mengikuti Tuhan. Ada yang menyatakan, martir-martir kini sudah tidak ada lagi. Tunggu dulu! Saya pernah mendengar dari sumber yang terpercaya bahwa jumlah martir di abad 20 dan 21 (hanya dalam dua abad) lebih banyak daripada jumlah martir yang ada di sepanjang abad 1-19.

Penganiayaan terhadap orang Kristen terus berlangsung dari masa ke masa. Gereja tak bisa hanya bicara lantang soal kesuksesan finansial. Bila orang-orang dari gereja Karismatik terus dijejali dengan khotbah demikian, suatu saat akan lahir generasi mereka yang benar-benar lupa sejarah gereja. Dan mereka tentu akan menganggap gila seorang tokoh yang bernama Martin Luther. (Sekarang saja, sudah saya temui beberapa kali orang Kristen yang salah kaprah membedakan Martin Luther dan Martin Luther King, Jr.) Demi menemukan kehendak Allah dalam hidupnya, sosok seperti Martin Luther malah menjauhkan diri dari segala kesenangan duniawi -- yang tentu membuatnya tak mengejar kesuksesan finansial dengan cara apa pun.

Baiklah, melupakan sejarah Martin Luther mungkin tak menjadi masalah. Tapi, bila yang terus-menerus dikhotbahkan adalah uang, para jemaat akan berpikir bahwa kekurangan adalah dosa. Padahal tidak demikian. Kini, masih adakah khotbah-khotbah tentang kasih karunia Tuhan, hidup yang berkenan pada-Nya, atau pengabdian untuk kemuliaan nama-Nya, yang semuanya itu tak selalu berhubungan dengan uang?

Ya, masih banyak hal yang membuat saya terganjal. Di dalam dua catatan saya sebelumnya, saya mengisahkan adanya gereja yang melarang jemaatnya berpacaran dan mendengarkan-memainkan musik rock (silahkan simak kedua catatan itu di link yang saya sertakan di bawah, yang memuat alasan bagi pelarangan itu, agar Anda tidak salah memahami atau menanggapi).

Ada juga gereja yang sangat antipati terhadap rokok, sementara di gereja lain ada jemaat (bahkan pendeta) yang santai saja merokok di halaman gereja setelah selesai ibadah. Untuk masalah yang satu ini, saya senang dengan pandangan seorang pendeta yang suatu ketika menyatakan bahwa tubuh kita perlu dijaga bukan hanya dengan tidak merokok. Jadi, bila dalam sebulan Anda hanya merokok tiga batang karena alasan pergaulan, misalnya, Anda jauh lebih baik daripada orang Kristen yang suka makan jeroan, lemak, dan menimbun sampah dan kotoran lain dalam tubuhnya dengan nafsu makan yang tidak bisa dikendalikan.

Ya, masalahnya tidak ada ayat yang secara tersurat melarang kita merokok, bukan? Alkitab cukup menyatakan agar kita menjaga dan memelihara tubuh kita. Saya mengenal seorang pendeta lain yang tidak merokok, tapi sangat mengagumi C.S. Lewis dan J.R.R. Tolkien yang keduanya suka menghisap pipa bertembakau. Lewis dan Tolkien orang Nasrani. Kebetulan saya juga mengagumi keduanya. C.S. Lewis dianggap sebagai salah satu tokoh Kristen terkemuka, hingga kini terus dikenang. Sementara Tolkien dianggap salah satu pendongeng terbaik sepanjang masa.

Nah, sekarang, bagaimana dengan gereja-gereja itu, yang antipati terhadap rokok? Apakah nanti mereka akan berdalih, kalau Lewis dan Tolkien adalah kasus lain? Jadi, Lewis dan Tolkien bisa diterima, sementara perokok lain harus dijauhi? Ah, yang benar saja. Lewis dan Tolkien kan juga manusia, Bung!

***

Begitulah, dalam perjalanan saya dari gereja ke gereja, saya menemui banyak hal yang masih mengganjal. Seperti yang saya tegaskan, hal-hal yang mengganjal itu utamanya berkaitan dengan tradisi yang dibangun oleh gereja-gereja itu -- sesuai alirannya, sesuai organisasinya. Hal-hal lain seperti soal tata-cara baptisan, persembahan persepuluhan, doktrin baptisan Roh Kudus, alat musik drum dilarang dimainkan dalam gereja, dan sederet hal lain, semuanya merupakan tradisi dan pengajaran yang kadang disejajarkan -- atau malah dilebihutamakan -- daripada pesan-pesan di dalam Injil.

Semasa Yesus Kristus melayani di dunia ini, ia membongkar tradisi Yahudi. Tradisi itu dipelihara dengan memperhatikan kitab-kitab Musa dan para nabi yang hidup sebelum Kristus. Kristus, sebaliknya, tidak menciptakan tradisi apa pun. Ia tidak mewariskan buku, hanya sekali Ia dikisahkan menulis -- menulis di tanah. Tulisan itu, bila kena angin dan hujan, sirnalah.

Kristus tidak pernah membenci Musa, tapi Ia sangat membenci orang-orang Farisi, para penjunjung tinggi hukum dan peraturan Musa yang tidak berbelas kasih, tidak berempati, dan tidak toleran. Kristus menjadi sahabat pelacur, pemabuk, dan penilap pajak. Ia tidak pernah mencoba berkuasa dengan mendekati orang-orang di pemerintahan, melakukan lobi-lobi politik secara diam-diam.

Apa yang dilakukan Kristus semasa melayani tiga setengah tahun telah mengubah kehidupan orang-orang di zaman-Nya dan sekitar-Nya. Gereja, yang kepadanya diamanatkan meneruskan pesan Kristus, sayangnya, mengulangi apa yang dilakukan oleh orang-orang Farisi. Berbagai telaah teologis atas baptisan, persepuluhan, iman, kesuksesan, dan hal-hal lain untuk melanggengkan tradisi dan pengajaran gerejawi dibuat. Dan bila dijadikan buku, ditumpuk, semua itu akan jadi jauh lebih tebal daripada Taurat orang-orang Farisi.

***

Pada akhirnya, seperti yang saya sampaikan di bagian paling awal (bagian 1), semua hal yang saya tulis ini berpulang pada saya. Saya sudah empat tahun tidak bergereja secara tetap. Janganlah meminta saya untuk tidak bergereja karena (mengutip sepenggal lirik lagu Sekolah Minggu): "Aku gereja, kau pun gereja."

Saya tidak sedang membahas gereja dalam tataran individu -- bahwa tiap orang Nasrani adalah gereja itu sendiri -- namun gereja sebagai suatu organisasi berikut tradisi dan pengajaran yang dibangun di dalamnya. Semua itu telah membentuk kehidupan saya. Saya pernah sangat membenci musik rock, antipati terhadap orang yang merokok, memutuskan pacar saya -- semuanya karena tradisi dan pengajaran yang dibangun gereja-gereja tertentu.

Seiring berjalannya waktu dan perjalanan saya dari gereja ke gereja, sikap-sikap saya mulai berubah. Saya belajar untuk lebih toleran, tanpa meninggalkan pengajaran-pengajaran yang bagi saya lebih penting dan hakiki, terutama yang disampaikan oleh Kristus sendiri dalam keempat Injil. Ya, catatan ini memang menyoroti banyak kekurangan dalam gereja. Namun, percayalah, di gereja pula saya belajar bagaimana memiliki kehidupan yang berarti.

Ke depan, saya ingin beribadah lagi dengan tetap di sebuah gereja. Saya tahu, begitu banyak kekurangan akan saya temui di gereja mana pun yang nantinya akan saya kunjungi dengan tetap, sebagaimana orang-orang terdekat saya menemukan banyak kekurangan dalam diri saya. (*)

Malang, 20-21 Mei 2011

Catatan:

Tulisan sebelum tulisan ini:

Bagian 1: http://tuanmalam.blogspot.com/2011/05/gereja-gereja-yang-membentuk-kehidupan.html

Bagian 2: http://tuanmalam.blogspot.com/2011/05/gereja-gereja-yang-membentuk-kehidupan_12.html

12.5.11

Gereja-gereja yang Membentuk Kehidupan Saya (2)

4. GAP -- Masa-masa Kuliah di UM

Saya bergabung dengan Gereja Anugerah Pembaharuan (GAP) pada tahun 1999. Saya meninggalkan GPdI Elohim yang ada di kota Batu karena jaraknya yang terlalu jauh dari tempat tinggal saya di Malang, hampir 20 kilometer. Namun, saya tetap berkunjung dan berhubungan dengan beberapa teman di GPdI.

Saat-saat ini juga saya amat kagum dengan seorang pendeta yang bernama Roberts Liardon. Ia menulis banyak buku, termasuk beberapa buku yang berkaitan dengan biografi beberapa pendeta dari kalangan Pentakosta. Semua buku Roberts Liardon yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia saya baca. Gara-gara membaca buku-bukunya, juga beberapa buku-buku bertema sosial lain, tahun 1999 saya ikut UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) lagi, mengambil jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang. Saya diterima. Waktu itu saya yakin benar dengan pilihan saya -- ada dua pilihan jurusan dalam tiap UMPTN, tapi saya hanya memilih satu jurusan, yaitu Pendidikan Sejarah, dan pilihan keduanya saya kosongkan.

Kembali ke GAP. GAP adalah gereja yang satu pergerakan (walaupun tidak satu denominasi) dengan GKB Jubilee di Semarang. Keduanya adalah gereja yang mayoritas jemaatnya kaum muda. GAP di Malang jauh beda dengan GKB Jubilee di Semarang dalam soal jumlah jemaat. Waktu saya pertama kali ke sini, gereja ini masih kecil, jemaatnya tidak lebih dari dua puluh orang.

Di GAP saya banyak dibentuk untuk menjadi rendah hati dan belajar menjadi perintis. Dengan beberapa teman saya mulai membuat warta gereja. Saya dan beberapa teman juga merelakan buku dan kaset-kaset rohani yang kami miliki untuk membuat perpustakaan kecil-kecilan. Lalu saya juga membentuk tim musik yang kecil, namun sangat gaduh dan bersemangat. Di GAP kami pindah-pindah tempat ibadah, menyewa gedung-gedung untuk kebaktian. Hampir tiap Minggu saya dan beberapa teman mengangkuti alat-alat musik dan sound-system. Tiada hari tanpa ke gereja.

Sama seperti di GKB Jubilee, pengajaran di gereja ini juga radikal. Saya sempat dekat dengan satu orang gadis di sana. Namun, karena tidak boleh pacaran, lagi-lagi hubungan asmara saya harus kandas di tengah jalan.

Awal tahun 2002, saya merasa ada beberapa pengajaran yang tak saya setujui di gereja ini. Bulan Februari 2002 saya menulis surat yang sifatnya hampir resmi untuk teman-teman dan pemimpin di GAP. Dengan jelas saya utarakan beberapa alasan pengunduran diri saya dari gereja ini, dan itu semuanya tidak perlu dijadikan sebagai sumber konflik berkepanjangan.

Saya tetap mengunjungi GAP beberapa kali setelah saya mundur dari sana. Saya tetap berhubungan baik dengan semua anggota gereja di sana. Gereja ini juga sempat berganti nama menjadi MSI (Morning Star Indonesia). Namun sayang, saya mendapati kabar kalau beberapa tahun yang lalu -- kalau tidak salah empat tahun yang lalu -- gereja ini sudah tutup. Saya maklum, karena gereja ini adalah gereja kaum muda, banyak mahasiswanya. Jemaatnya datang dan pergi.

5. Gereja Bethany -- Masa-masa Kuliah di UM dan Pasca Kuliah

Setelah keluar dari GAP, saya diajak tetangga saya untuk ikut dalam doa pagi yang diadakan Gereja Bethany Malang tiap jam 04.30 pagi. Seringkali saya bangun lebih awal, maka saya pun berangkat duluan. Tetangga saya ini, yang usianya jauh lebih tua daripada saya, juga suka mengajak saya pelayanan ke mana-mana. Dia meminta saya bermain gitar dan berkhotbah di kelompok-kelompok persekutuan keluarga (dinamakan Family Altar) tiap hari Selasa. Beberapa kali saya juga diajak pelayanan bermain gitar di ibadah-ibadah kematian.

Selain tetangga saya, saya mengenal dengan baik seorang fulltimer di Gereja Bethany. Dia seorang pendoa. Mengetahui kesukaan saya berdoa jam 04.00 pagi, dia pun menawari saya menjadi penjaga Menara Doa, menjaga sesi doa pukul 04.00 sampai 06.00 pagi.

Menara Doa adalah kegiatan pelayanan doa di Gereja Bethany. Tiap anggota jemaat boleh ambil bagian. Di Menara Doa ada doa nonstop 24 jam sehari, dibagi dalam 12 sesi, satu sesi 2 jam. Dari Senin sampai Jumat saya dijadwal untuk menjaga Menara Doa itu. Sesi ini sangat sepi pengunjungnya. Saya lebih sering berdoa sendirian di Menara Doa. Alasan mengapa saya suka berdoa jam 04.00 pagi ada dua. Pertama adalah kisah hidup seorang pendeta yang bernama John Wesley, pelopor pergerakan Metodis, dia selalu berdoa jam 4 pagi. Pendeta lain yang juga suka berdoa pagi-pagi adalah George Muller yang dikenal sebagai bapak bagi kaum yatim piatu.

Saya senang sekali berdoa di Menara Doa. Ada saat-saat ketika inspirasi datang begitu deras. Saya menulis beberapa puisi karena senang dengan suasana pagi yang hening. Namun, kenyataannya, saya tidak selalu berada di Menara Doa yang berada di bagian paling belakang gereja. Saya diminta untuk melayani di Dewasa Muda. Dan tak tanggung-tanggung, saya diminta untuk menjadi ketua Dewasa Muda.

Saya merasa umur saya lebih muda daripada sebagian jemaat Dewasa Muda. Saya masih kuliah; saya merasa belum pantas memimpin Dewasa Muda yang lebih berorientasi menjangkau kaum profesi dan keluarga-keluarga muda di gereja. Namun, pemimpin yang lama menyatakan saya orang yang tepat.

Tak lama setelah menjadi ketua Dewasa Muda, beberapa pemimpin kaum muda gereja juga meminta saya menjadi ketua pengajaran untuk kaum muda. Dalam hal pengajaran ini, saya bersemangat sekali. Saya punya banyak bahan untuk diajarkan. Saya buat sendiri buku pengajarannya, dan saya beri nama pengajaran itu Firm Foundations (F2). Saya sempat meluluskan siswa-siswi F2 sebanyak dua angkatan.

F2 berjalan cukup antusias. Anak-anak murid di sana senang dengan pengajaran yang diadakan. Namun, sebuah masalah muncul. Tapi bukan di F2. Dewasa Muda yang saya pegang tak banyak mengalami perkembangan. Saya kehabisan akal bagaimana membuat ibadah di Dewasa Muda bisa lebih menarik minat banyak orang untuk datang. Akhirnya, gembala sidang memutuskan agar pelayanan Pemuda dan Dewasa Muda digabung. Saat penggabungan, saya yang diminta untuk jadi ketuanya.

Terakhir, gembala sidang mengetahui minat saya dalam dunia penulisan. Itu serta-merta membuatnya menjadikan saya pimpinan redaksi tabloid internal gereja. Saya melepas pelayanan saya di Pemuda dan Dewasa Muda yang sudah digabung tadi. Saya hanya menjadi ketua atas gabungan itu dalam beberapa bulan. Namun, tabloid yang dipercayakan pada saya itu hanya jadi satu edisi. Saya sudah menyiapkan bahan untuk tiga edisi, namun tim yang direncanakan untuk bekerja bersama saya tak kunjung terbentuk.

Semua ini saya alami dalam waktu tiga tahun, dari tahun 2002 hingga 2005. Entah berlebihan atau tidak, saya merasakan kalau begitu banyak hal yang saya lakukan selama di gereja ini. Mau tak mau hal ini membuat kuliah saya terbengkalai. Begitu tabloid itu semakin tidak jelas mau terbit lagi atau tidak, saya mengambil keputusan untuk melayani sebagai guru Sekolah Minggu.

Guru Sekolah Minggu. Ya, itulah pelayanan terakhir saya di gereja yang gedungnya besar ini. Saya merasa, di antara semua pelayanan yang lain, menjadi guru Sekolah Minggu, menjadi gitaris di kelompok-kelompok persekutuan yang kecil, dan menjadi pendoa di Menara Doa, adalah tiga pelayanan yang paling saya sukai di gereja ini. Saya bersyukur dan berterima kasih sudah diberi kepercayaan untuk semua pelayanan di gereja ini. Namun, saya akui pelayanan saya untuk memimpin tidak banyak yang berhasil.

Mungkin saya salah, namun -- saya juga tidak tengah membela diri -- kegagalan yang saya rasakan tak semuanya karena ketidakmampuan saya untuk memimpin. Gereja yang gedungnya besar ini memang lebih cenderung bergaya selebritas. Kepemimpinan dan penggembalaan kurang dikembangkan dengan baik. Acara demi acara gereja dibuat semewah mungkin dan seheboh mungkin, namun penggembalaan dan pemberdayaan jemaat di dalam gereja kurang mendapat perhatian.

Karena itu, sejak menjadi guru Sekolah Minggu, saya berhenti untuk semua kegiatan pelayanan yang berbau kepemimpinan dan penggembalaan. Saya lebih suka duduk di bagian belakang gereja, menerima apa yang Tuhan mau sampaikan dalam ibadah demi ibadah di gereja ini lewat khotbah. Saya pun menata lagi kuliah saya yang terbengkalai.

6. GNS (Gereja Nomaden Suka-suka) -- Masa-masa Bekerja

25 Februari 2006, akhirnya saya lulus kuliah. Saya nyaris drop-out, karena kuliah dari tahun 1999 -- 13 semester saya jalani. Saya tidak menyalahkan gereja. Saya sendirilah yang salah, yang bersedia untuk melakukan berbagai pelayanan -- juga bekerja sebagai guru les privat, bahkan berjualan camilan sambil kuliah.

Setahun setelah itu saya lebih banyak mengurung diri di kamar, menulis berbagai tulisan. Saya tetap menjadi guru Sekolah Minggu, namun membatasi pelayanan saya. Saya mulai memantapkan diri untuk memuliakan Tuhan lewat tulisan yang saya buat dan menjadi seorang guru. Sampai suatu hari di bulan Februari saya mendapat panggilan wawancara di Yayasan Pendidikan Jaya.

Tanggal 20 Maret hingga 20 April 2007 saya dimagangkan oleh yayasan ini. Saya menjadi guru magang di SD Pembangunan Jaya Bintaro, Tangerang. Saat magang, tiap Minggu saya beribadah di sebuah gereja Katolik di Bintaro. Gereja Katolik inilah yang kemudian mengubah berbagai paradigma saya tentang gereja. Dulu, sama seperti beberapa orang Kristen lain, saya sempat menganggap orang-orang Katolik kurang beriman. Kurang beriman -- dalam istilah yang kami pakai -- menunjuk pada kebiasaan mereka yang tidak pernah membawa Alkitab kalau ke gereja (hanya membawa buku pujian), dan tidak bisa merangkai kata-kata doa spontan secara lancar karena hampir semua doa orang Katolik sudah dibuatkan dalam buku doa yang dirilis gereja.

Saat saya menyaksikan keheningan di dalam gereja Katolik itu, saya merasakan kekhidmatan yang membuat saya betah di sana. Saya merasa ibadah -- yang rata-rata hanya sejam -- berlangsung terlalu cepat. Di bangku -- yang selalu di bagian belakang -- saya meresapi keagungan dan kasih Tuhan. Tidak ada orang yang saya kenal, atau menyapa saya. Saya jadi lebih leluasa meresapi makna ibadah. Saya menirukan membuat tanda salib dengan air suci, berdoa sambil bertelut di depan bangku, dan merasakan damai yang besar.

Saya awalnya berpikir, ah, damai ini hanya euforia, hanya suatu perasaan sementara saja. Bukankah itu hal yang biasa -- suasana baru, ritual baru, gedung baru, dan segala lainnya yang baru? Sesuatu yang baru bagi saya, yang tidak saya temui dalam gereja-gereja sebelumnya yang cenderung hingar-bingar dan ramai?

Namun, walaupun itu hanya euforia, saya juga punya anggapan dan kesimpulan lain. Mulai dari saat itu, saya tidak lagi melihat gereja sebagai sesuatu yang harus dibeda-bedakan. Saya pun mulai keranjingan menjelajah gereja demi gereja. Pulang dari magang di Jakarta saya bertekad pergi ke gereja-gereja. Gereja apa saja. Di Malang dan Sidoarjo saya pun mengunjungi beberapa gereja GPdI, Gereja Baptis Indonesia, beberapa Gereja Bethel Indonesia, Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), Gereja Kristen Indonesia (GKI), GPIB (Gereja Protestan Indonesia bagian Barat), juga Gereja Bala Keselamatan.

Hal-hal yang menarik saya temukan ketika menghadiri ibadah dengan suasana yang berbeda-beda. Saya jadi tahu, di tengah-tengah berbagai perbedaan itu, gereja-gereja tetap hidup demi menjadi saksi Kristus, walau sayangnya banyak juga gereja yang masih suka menyalahkan satu sama lain. Namun, saya tidak pernah -- dan tidak akan pernah mau -- mencoba-coba menginjakkan kaki di gereja yang beraliran sesat seperti Mormon atau Saksi Yehova.

Soalnya saya kuatir, kalau saya ke sana malah nantinya saya dijadikan gembala sidang.

***

Sidoarjo, Mei 2011

Bersambung:

7. Pandangan Pribadi tentang Gereja-gereja

11.5.11

Gereja-gereja yang Membentuk Kehidupan Saya

Orang Kristen yang ideal tentunya memiliki gereja yang dikunjunginya secara tetap Minggu demi Minggu. Namun, saya bukan tipe yang ideal, setidaknya untuk beberapa tahun belakangan ini. Sejak empat tahun lalu, saya pindah-pindah gereja terus.

Beberapa hari lalu, di dalam bis Malang-Surabaya, saat saya merenungkan lagi gereja-gereja itu, saya tergerak untuk membuat sebuah catatan yang mengisahkan persinggahan saya dari gereja ke gereja. Banyak kenangan yang sayang bila dilupakan begitu saja. Dan sayangnya, saya ini pelupa. Akhirnya, lahirlah catatan ini. Catatan yang saya buat, pertama-tama untuk saya sendiri, agar saya tidak melupakan gereja, salah satu tempat di mana kasih dan kuasa Tuhan dinyatakan bagi umat-Nya — terlepas dari segala kekurangan yang ada di dalamnya.

1. GPKM — Masa-masa SMP

Saya mulai merasa senang bergereja saat SMP. Bapak saya membelikan saya beberapa buku cerita rohani, dan saya suka sekali membacanya. Saya ingin mendengar lebih banyak cerita rohani di gereja. Sebelumnya, waktu SD, saya sangat malas ke gereja. Salah satu penyebab kemalasan itu adalah ejekan yang pernah saya dengar suatu ketika.

Waktu itu saya masih SD. Saya ke gereja, ke Sekolah Minggu, naik becak sama abang saya. Begitu sampai di gereja, seorang anak mengejeki saya terus. Dia bilang saya Si Hitam. Saya tidak berani melawan atau balas mengejeknya. Dan karenanya, saya jadi tak mau lagi ke gereja, kecuali bersama bapak atau ibu saya.

Waktu SMP, saya bertemu dengan teman-teman gereja yang lebih baik di Gereja Protestan Kristus Mulia (GPKM) di Singkawang, Kalimantan Barat. Saya bahkan diangkat oleh salah satu guru Sekolah Minggu menjadi ketua untuk kaum remaja. Saya menjadi gitaris di gereja, mengiringi teman-teman saya tampil paduan suara hampir tiap ibadah Minggu. Beberapa retreat atau camping yang diadakan di gereja membuat saya senang sekali menjadi warga gereja.

2. GKII dan GKB Jubilee — Masa-masa SMA

17 April 1997. Saya seorang remaja 17 tahun waktu itu. Hari itu saya menyadari saya perlu pengampunan Tuhan setelah mengikuti sebuah acara bertajuk Hell’s Bells. Di dalam acara itu saya mendapat penjelasan tentang beberapa musik rock yang diklaim oleh gereja penyelenggara acara — GKB (Gereja Kristen Baithani) Jubilee — sebagai musik-musik satanis.

Sebagai penyuka musik rock, saya merasa perlu diselamatkan. Di sebuah ruangan kecil di Undip Tembalang, Semarang, saya sadar akan dosa-dosa saya (namun bukan hanya dosa karena suka musik rock), berjanji mau hidup bagi Tuhan. Walaupun suka nge-rock, saya bukan remaja bandel dan urakan. Namun, saya sadar kebaikan dan kesalehan saya bukanlah jaminan bahwa Tuhan menerima saya. Saya mengalami sebuah titik balik: saya mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya dengan sepenuh hati saya. Saya ingat lagu yang mengantar saya menuju kesadaran itu, dinyanyikan David Meece:

We are the reason, that He gave His life
We are the reason, that He suffered and died

Saya juga suka nge-band waktu itu. Sebenarnya, sejak SMP, sejak umur 14 tahun, saya sudah ikut festival band, dan masuk final dalam festival itu walau tak meraih juara. Di festival-festival band selanjutnya, saya — bersama grup band saya tentunya — berhasil meraih beberapa juara. Oleh didikan yang diberikan para pemimpin di GKB Jubilee, saya diharuskan untuk meninggalkan semua musik rock yang dulu amat saya sukai.

Seorang pemimpin di gereja itu bersaksi bahwa kaset-kaset musik rock yang dimilikinya dibakarnya semua. Ia meminta saya melakukan hal yang sama. Namun saya bersikukuh bahwa tidak semua musik rock itu satanis. Saya tidak mau membakar kaset-kaset saya. Saya setuju menyingkirkan kaset-kaset saya yang berjumlah sekitar 50 buah. Kaset-kaset itu kemudian saya jual — tapi lebih banyak yang saya berikan — ke teman-teman saya.

Saya juga diminta untuk meninggalkan GKII (Gereja Kristen Indonesia Injili) di Semarang yang sebelumnya saya kunjungi tiap Minggu bersama nenek saya. GKB Jubilee mengajarkan bahwa orang Kristen perlu memiliki komitmen pada satu gereja. Saya tak serta-merta melakukannya karena sudah terbiasa mendampingi nenek saya bergereja di GKII tiap Minggu jam 6 pagi. Saya makin sering mengikuti berbagai kegiatan di GKB Jubilee, walau kadang masih menemani nenek ke GKII. Saya senang dengan semangat anak-anak muda di GKB Jubilee. Di GKII para pemudanya kurang bersemangat. Di GKB Jubilee saya dilatih menjalani kehidupan rohani yang disiplin. Saya jadi rajin berdoa, menamatkan pembacaan Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu tak sampai setahun.

Teman-teman saya di luar gereja heran dengan perubahan saya. Saya hanya mau menyanyikan lagu rohani, dan hanya menjadi gitaris di gereja. Saya sempat mengalami konflik yang besar dengan grup band saya karena ajaran pemimpinnya yang mengharamkan musik rock. Apalagi waktu SMA saya memiliki tiga grup band: satu band dengan teman sekampung (Flatus), satu band dengan teman sekelas (Visioner), dan satu band bentukan guru ekskul musik SMA (Neo-Six). Konflik terbesar saya alami dengan grup band Visioner karena sayalah yang menggagas berdirinya grup band itu, namun saya juga yang keluar pertama kali.

Belakangan, saya merasa ajaran yang ada di gereja ini kelewat radikal, walau radikalismenya bersifat internal dan bertujuan baik untuk warga gereja. Ada juga ajaran radikal lainnya: warga gereja yang masih SMA atau baru kuliah di semester awal tidak boleh berpacaran. Pacaran benar-benar dilakukan bila sudah siap menikah. Waktu SMA saya sudah punya pacar, dan saya pun patuh pada pimpinan saya. Dengan berat hati, saya memutuskan hubungan dengan pacar saya.

3. GPdI Elohim — Masa-masa Kuliah di Brawijaya

Setelah tamat SMA, saya pindah ke Malang. Waktu SMA saya tinggal dengan nenek saya di Semarang, sementara orang tua saya masih di Singkawang, Kalimantan Barat. Setelah saya naik kelas 3 SMA, orang tua saya pindah dari Kalimantan Barat ke Malang. Di Malang saya senang dengan suasananya, jauh berbeda dengan Semarang yang panas.

Saya dibelikan Honda CB 100 tahun 1978 oleh bapak saya. Harganya satu juta lebih sedikit. Bapak saya sebenarnya ingin membelikan motor yang lebih baru, namun saya bersikeras minta CB 100, karena sejak SMA saya menyukai model motor itu. Sampai sekarang pun saya masih menyukainya.

Dengan CB 100 itu saya suka bepergian ke mana-mana kalau pulang kuliah. Saya kuliah di Universitas Brawijaya Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, hanya setahun, dari tahun 1998 sampai 1999. Cukup banyak aktivitas perkuliahan yang berkaitan dengan pengamatan tanaman. Gara-gara aktivitas ini saya suka melihati tanaman apa saja. Kesukaan ini membuat saya sering pergi ke kota Batu, melihat kebun-kebun apel, dan kadangkala mengajak petani-petani apel mengobrol seputar penyakit tanaman atau kehidupan sehari-harinya.

Suatu ketika saya menemukan toko buku Kristen yang lumayan lengkap di Batu, toko buku Imanuel. Di sebelahnya ternyata ada sebuah gereja, GPdI (Gereja Pentakosta di Indonesia) Elohim.

Saya pun mencoba ikut dalam ibadah pemuda di situ. Saya mudah akrab dengan beberapa teman. Bahkan saya seringkali tinggal di beberapa rumah teman di Batu selama beberapa hari. Seringkali, dari hari Jumat sore sampai Minggu siang saya ada di Batu, dan baru pulang ke Malang di hari Minggu sore atau malam. Walaupun tidak sampai setahun di sini, banyak kenangan yang menyenangkan dari gereja ini.

Di gereja ini saya memiliki seorang sahabat yang sangat gemuk, beratnya hampir 130 kilogram. Suatu hari dia memberi saya hadiah sepasang sarung tangan agar saya tidak kedinginan naik motor dari Malang ke Batu. Kami berdua sering menaiki motor CB saya sampai Pujon, sebuah kecamatan yang lebih tinggi dari kota Batu, kecamatan penghasil susu sapi terbanyak di Jawa Timur. Di Pujon kami mengunjungi teman-teman gereja lainnya. Beberapa orang heran dengan kekuatan motor CB saya itu, dinaiki dua orang yang total beratnya hampir 200 kilo, masih kuat saja menanjak dan meliuk-liuk.

Sayangnya, sahabat saya yang baik ini meninggal di usia muda karena diabetes. (Bersambung)

Malang-Sidoarjo, Mei 2011

***

Rencananya akan saya sambung dengan cerita dan pembahasan:
4. GAP — Masa-masa Kuliah di UM
5. Gereja Bethany — Masa-masa Kuliah di UM dan Pasca Kuliah
6. GNS (Gereja Nomaden Suka-suka) — Masa-masa Bekerja
7. Pandangan Pribadi tentang Gereja-gereja

3.2.10

delapan tahun yang lalu

jakarta dilanda banjir besar delapan tahun lalu pada bulan januari. sebulan kemudian, aku lupa tanggalnya, aku membuat cerpen berjudul "surat kakakku".

cerpen pertamaku itu kubuat di rumah kecil di jalan tembaga yang kutinggali dengan keluargaku dulu. seorang sahabatku, albert alexander namanya, menyebut rumah itu "pondok tembaga".

cerpenku kutulis menggunakan komputer tua yang dimiliki abangku. aku melantai ketika mengetik di depan monitor komputer, sambil membayangkan dua orang kakak-beradik yang kehilangan orang tua mereka karena banjir. entah kenapa, bayangan itu tiba-tiba membuat aku menangis. aku menangis sambil mengarang ceritaku.

itu pengalaman yang aneh buatku: aku menangisi imajinasiku sendiri! namun, aku merasa lega sekali merampungkan cerpenku.

sejak hari itu aku belajar juga menulis artikel dan renungan-renungan pendek. beberapa artikel yang kubuat diminta seorang teman dipasang di mading jurusan di mana aku kuliah. wah, betapa senang aku mendapati kenyataan masih sedikit teman seangkatan-sejurusan yang mau menulis. aku bahkan bebas menempelkan sendiri tulisanku di mading itu.

nah, suatu ketika aku menempelkan sendiri sebuah tulisanku yang berjudul "kasih, komitmen dan kematian". judul itu ternyata cukup kuat menyapa para pembaca. dua minggu setelah tulisanku itu kutempel, seorang teman yang aku ingat betul namanya (dwi harya andihamsyah) menempelkan tulisannya yang berisi balasan atas tulisanku.

saat-saat itu aku merasa seperti martin luther yang menempelkan 95 dalil teologinya di pintu gereja wittenberg. uh...

waktu terus berlalu, suatu hari di bulan september 2002 ada kabar yang aku terima kalau kampusku mengadakan lomba menulis dalam rangka merayakan bulan bahasa. setengah iseng kuikutkan cerpen "surat kakakku" yang kukarang tujuh bulan lalu.

nah, pada suatu hari di bulan november 2002, seorang temanku yang lain, yang masih kuingat juga namanya (fety latifatul) menepuk pundakku. ia menyuruhku melihat papan pengumuman di fakultas. kutanyakan ada apa, dia bilang lihat saja.

oh la la... ternyata aku menjadi pemenang ketiga dalam lomba penulisan cerpen di kampusku! betapa senang aku mendapat uang 75ribu dan sebuah sertifikat.

pengalaman itu membuat aku yang sejak sma tidak pernah suka menulis, makin keranjingan menulis. kebutuhanku akan bacaan yang bisa kujadikan acuan dalam menulis semakin besar jadinya.

demi membeli buku, koran, majalah, dan sesekali menonton film, aku bekerja sebagai guru les privat, menitipkan jualan telur puyuh matang ke beberapa warung stmj (tiap plastik kuisi lima butir) dan teratur menulis cerpen atau artikel.

di saat-saat itu aku sering menulis cerpen di dapur rumahku, karena rumah kecil tempat tinggal keluargaku diisi banyak saudaraku. kamar-kamar penuh sesak. aku memasang sebuah papan dengan bantuan dua siku besi untuk menulis. aku membuat sebuah lemari yang menempel di dinding dari beberapa papan bekas untuk meletakkan buku-buku yang kubeli. beberapa cerpenku yang kubuat dari dapur rumahku sempat nyangkut di majalah-majalah anak muda.

sayangnya, semua kegiatan ini membuat kuliahku jadi molor. belum lagi pelayanan di gereja yang cukup banyak, membuatku makin kesulitan membagi waktu. dan pelayanan yang kupegang seringkali tak sederhana. dalam rentang tahun 1997 hingga 2006 aku lebih sering diminta jadi ketua atau sebutlah pemimpin (ketua pengajaran pemuda, ketua tim musik, gembala kelompok sel, ketua perpustakaan, ketua pemuda, pimpinan redaksi tabloid internal gereja, bahkan ketua dewasa muda).

namun, semua kesibukan pelayanan ini anehnya tak pernah membuat minatku pada dunia tulis-menulis turun. selalu saja ada yang kutulis. tulisanku makin banyak dan banyak. kalau sekarang kau masuk ke kamar kosku, aku bisa menunjukkan tumpukan naskah dengan tinggi sekitar 20 cm yang semuanya pernah ditolak. gara-gara membaca "bag of bones"-nya stephen king, aku masih menyimpan naskah-naskahku itu.

ada naskah cerpen, artikel, novelet, novel, dan puisi dalam tumpukan itu. belum lagi yang tak kubuatkan versi print-out-nya, yang nempel di hard-disk laptop tuaku. atau bahkan yang sudah tidak bisa lagi dibuka karena kusimpan dalam bentuk cd dan cd-nya sudah tergores.

kadang aku sendiri heran mengapa aku masih menulis hingga sekarang.

sejak aku bekerja sebagai guru pada tahun 2007, aku tidak lagi terlibat dalam pelayanan di gereja. sekolah di mana aku bekerja sekarang memiliki agenda dan acara yang cukup padat -- maklum sekolah swasta. para guru bekerja dari jam 7 pagi hingga 4 sore, kecuali guru honor. seorang teman pernah terheran-heran kok masih sempat saja aku menulis; apalagi mengingat tulisan-tulisan yang kubuat selama ini lebih banyak gagal terpublikasikan di media cetak atau dibukukan, sehingga otomatis tak banyak mendatangkan uang.

namun, aku sudah terlanjur menyukai tulis-menulis. aku akan terus menulis. mungkin penyebab utamanya: pengalaman delapan tahun lalu itu, ketika aku pertama kali menuliskan cerpenku di pondok tembaga sambil melantai, tak akan pernah terlupakan.

sidoarjo, 2.2.2010

1.11.09

Ke Pujon, ke Selorejo

Pujon, Kecamatan 1000 Sapi

Tidak seperti perjalananku ke Jembatan Suramadu dua minggu lalu, kali ini aku memang telah membuat rencana jauh-jauh hari sebelum pergi ke Pujon. Awalnya aku berencana ke Pujon dan Coban Rondo, sebuah tempat wisata air terjun, namun urung karena aku ingin sekali melihat sawah-sawah yang ada di Ngantang.

Jam 10 pagi aku berangkat dari Malang. Perjalanan ke Pujon yang melintasi kota Batu kutempuh sekitar sejam. Jarak Malang-Batu 17 kilometer, sementara Batu-Pujon sekitar 6 kilometer. Sebenarnya bisa lebih cepat dari sejam; ini karena sebelum ke Pujon aku mampir dulu di sebuah warung di Payung.

Payung adalah nama kompleks warung tenda permanen yang ada di sepanjang jalan Kota Batu bagian atas hingga mendekati Pujon. Beberapa warung di sini kebanyakan membuat betah pengunjungnya karena dari sini tampak pemandangan Kota Batu. Banyak orang pacaran di sini kalau malam Minggu. Di warung ini aku menggunakan kekerku melihat motor dan mobil yang berjalan dari Batu menuju Pujon yang berliuk-liuk dan mendaki.

Ada pemandangan yang menarik ketika aku berada di Payung: Beberapa pria muda sepertiku mengendarai sepeda gunung di sepanjang jalan di Payung. Gear yang memutar rantai sepeda mereka disetel pada yang paling kecil, untuk memudahkan genjotan-genjotan mereka. Aku salut pada semangat dan kekuatan mereka. Mengingatkanku pada Forrest Gump yang suka lari-lari.

Selama satu jam berikutnya aku berkeliling di wilayah Pujon. Pujon adalah sebuah kecamatan yang 75% penduduknya bermatapencarian sebagai peternak sapi perah. Selain peternakan, Pujon juga sebuah daerah pertanian. Banyak orang menanam kopi di Pujon.

Ketika hendak mengunjungi kantor pusat koperasi susu, aku dikabari kalau para karyawan dan pimpinannya sedang ada acara syukuran pada hari ini. Aku akhirnya berbincang-bincang dengan Pak Bambang, satpam yang menjaga sebuah kantor unit (cabang) koperasi susu di Pujon. Selain satpam, dia juga seorang peternak sapi perah.

Pak Bambang bercerita kalau dalam sehari bisa didapatkan 100 ton susu perah dari seluruh penduduk Pujon yang dijual ke koperasi. Koperasi kemudian menjual susu itu ke Nestle. Penduduk menyetor susu dua kali sehari: jam 6 pagi dan jam 4 sore. Seekor sapi perah yang sehat dapat menghasilkan 15 liter susu sehari, sementara harga susu per liter yang dibeli koperasi adalah Rp.3000,oo. Namun, keuntungan sekitar Rp.45.000,oo per hari untuk seekor sapi itu belum dipotong biaya perawatan dan makanan sapi.

Dalam bulan-bulan tertentu (biasanya di awal tahun) juga ada musim perah. Pada saat ini produksi susu biasanya meningkat agak drastis. Selain musim ini, para peternak mendapatkan perahan yang cukup banyak ketika sapi yang mereka miliki baru melahirkan.

Begitulah cerita-cerita tentang susu dan sapi dari Pak Bambang, seorang satpam yang tampak bijak, ramah dan senang bicara. Pak Bambang kemudian memberitahuku kalau tak jauh dari kantornya ada sebuah kandang besar yang dihuni banyak sapi. Kandang itu milik koperasi. Namun aku tak berhasil melihat kandang itu karena dikunci. Orang-orang yang menjaga kandang itu turut diundang acara syukuran yang diadakan koperasi.

Kutancap gas sepeda motorku menuju Ngantang, yang berjarak sekitar 14 kilometer dari Pujon. Ya, di Ngantang-lah Waduk Selorejo itu berada.

Selorejo, Waduk di Lahan yang Subur

Tak sampai setengah jam dari Pujon, aku sampai di Ngantang. Sama seperti di Pujon, udara di sini terasa sejuk. Aku tak langsung menuju ke Selorejo, namun berkendara satu kilometer lebih jauh, menuju sebuah warung persinggahan di Desa Sidorejo yang berpemandangan indah.

Di warung persinggahan ini aku ngopi sejenak. Aku ngopi di Warung Bu Renggo. Dari warung-warung persinggahan di sini, kita dapat melihat hampir seluruh bagian Waduk Selorejo dan lahan pertanian yang sangat luas. Hijau dan subur. Lahan pertanian ini, hampir seluruhnya ditanami padi.

Waduk Selorejo terbagi menjadi dua bagian besar. Keduanya tapi tetap menyatu dengan adanya sebuah bagian waduk mirip sungai. Waduk ini dibangun pada tahun 1963, dengan memanfaatkan sumber air dan sungai-sungai lebar yang mengalir di wilayah Pujon dan Ngantang. Sungai-sungai lebar itu oleh penduduk setempat dinamai "konto". Tujuh tahun kemudian, pada tahun 1970, bendungan yang menghadang aliran air dari sebuah konto terbesar jadi. Perlu waktu dua bulan untuk mengairi wilayah Waduk Selorejo di seberang bendungan agar tertutup air. Waduk ini memiliki luas sekitar 640 hektar. Di musim kemarau, luas itu dapat berkurang karena air menguap.

Aku sempat tidur hampir sejam di warung Bu Renggo. Di sana ada tikar lesehan disediakan. Padahal habis ngopi, kok ngantuk ya?

Setelah bangun tidur, aku memutar arah, menuju ke Waduk Selorejo.

Waduk Selorejo tampak agak sepi Sabtu ini. Kali ini, yang lebih banyak berkunjung adalah bapak-ibu dari beberapa rombongan yang tidak aku kenal. Bapak-ibu ini tampak senang, terutama mereka yang habis berkeliling waduk naik perahu motor. Bila menggunakan perahu dayung, daya tampung maksimalnya tiga sampai empat orang. Perahu motor bisa menampung selusinan orang. Namun, selain bapak-ibu itu, dalam kunjunganku beberapa kali ke sini, selalu ada saja para muda-mudi yang pacaran -- ya, kali ini pun ada. Aku mengeker mereka yang lagi asyik pacaran. Kelihatannya mesra sekali, pacaran di pinggir waduk. Asyik.

Dan yang juga mengasyikkan adalah ketenangan dan keheningan air di waduk ini. Nyaris tak ada gelombang di sini, kecuali bila sebuah perahu motor lewat. Aku sempat mengarang beberapa baris puisi untuk mengenang keheningan ini, namun puisi itu rasanya kurang kuat. Kutinggalkan saja akhirnya. Kurang asyik.

Di sekitar waduk ini banyak orang berjualan ikan bakar dan goreng. Ikan-ikan ini sebagian besar didapat dari memancing di Waduk Selorejo. Di waduk ini tersedia ikan nila, mujaer, tombro, wader, dan udang yang kecil-kecil. Dalam sehari bisa didapatkan 5 kuintal ikan dari Waduk Selorejo. Para nelayan di sini menangkap ikan menggunakan jaring yang lebar dan perahu dayung. "Ikan-ikan di sini tak pernah habis," kata seorang bapak yang berjualan minuman dan topi. "Orang-orang di pasar Ngantang kadang sampai nolak-nolak kalau ditawari ikan."

Karena hari masih siang, akhirnya aku tidur lagi di Waduk Selorejo. Aku mencari lokasi tidur di sebuah tempat yang agak sepi, di dekat cottage-cottage, di bagian timur lokasi wisata, dengan tujuan agar nantinya dapat mengambil gambar yang mantap kala mentari turun di barat. Cottage, atau rumah menginap di pinggir waduk ini, tampak anggun. Harga sewanya berkisar antara 400 ribu sampai 750 ribu per hari-malam. Perjalanan menuju ke sana melewati sebuah jembatan gantung yang cukup panjang, sekitar 50-60 meter. Jembatan gantung itu, bila dilewati, akan bergoyang-goyang. Ketika aku melintasinya, ada beberapa cewek yang juga lewat. Mereka teriak-teriak. "Wah, ndeso tenan," canda batinku.

Hari hampir sore ketika aku terbangun. Sayang, cuaca mendung. Aku hanya berhasil membuat beberapa gambar yang bagus. Hujan bahkan sempat turun sebelum waktu salat azhar. Ketika senja hampir usai, beberapa nelayan datang dengan perahu dayung mereka di sekitar tempat aku tadi berbaring dan tidur. Para nelayan inilah yang paling sering kukeker. Mereka tampak sabar sekali mencari ikan. Bersamaan dengan kedatangan para nelayan, hujan pun datang.

Untunglah hujan tidak lama mengguyur wilayah Ngantang. Hanya setengah jam. Saat hujan turun aku sempat kesal karena tak mendapatkan beberapa foto yang bagus. Padahal aku sudah menunggu momen itu. Ya, ini karena kameraku kamera lama. Foto bisa jadi bagus, kalau cuaca pun bagus. Tapi, tak apalah. Aku tetap bersyukur dengan apa yang kudapatkan pada perjalanan kali ini.

Sebelum pulang ke Malang, aku mampir lagi ke warung persinggahan di Sidorejo.

Hawa masih dingin, aku memesan segelas kopi lagi. Kali ini, aku tak lagi mengambil foto, hanya memandangi Waduk Selorejo dan sawah-sawah hijau yang perlahan-lahan gelap. Hanya beberapa lampu menyala, karena hanya sedikit rumah di sekitar Waduk Selorejo. Aku menikmati kopiku santai-santai hingga akhirnya kekelaman menjalari segenap angkasa yang terbentang di depan sepasang mataku -- kali ini tanpa keker.

Sidik Nugroho
Selorejo-Malang-Sidoarjo, 31 Oktober-1 November 2009

Catatan: Foto bisa di-klik untuk melihat gambar dengan lebih lega. Enjoy!

24.10.09

Catatan Kepala Tiga

"Tiga puluh tahun yang lalu, Mamah sangat kesakitan ketika melahirkan kamu. Tapi Tuhan selalu menjagamu, melindungimu, dan memberkatimu. Sukses ya anakku, dalam segala hal di hidupmu."

Itu sms dari ibuku yang kupanggil Mamah pagi tadi.

Tiga puluh tahun lalu ibuku melahirkan aku dengan sangat menderita. Aku tidak lahir selama tiga hari di rumah sakit; padahal selama tiga hari itu, ibuku telah kesakitan. Aku akhirnya lahir dengan bantuan sedot. Dulu, dokter kuatir kalau bayi yang lahir disedot bisa mengalami gangguan otak.

Ternyata, aku tidak demikian. Aku sehat-sehat saja sekarang. Aku baik-baik saja hingga kini. Puji Tuhan. Kalau pun ada orang yang menganggap otakku kurang waras, kupastikan dia sedang sakit hati padaku.

Terima kasih, Tuhan, kau telah membawaku masuk dan mengenal dunia. Kubalas sms ibuku: "Terima kasih, Mah. Doa dan restu ibu sepanjang jalan, hidup indah tak terkatakan."

***

Nah, hingga tadi malam, aku lupa kalau hari ini aku ultah. Dengan beberapa teman, semalam aku karaoke-an di sebuah tempat karaoke. Pulang dari tempat karaoke, seorang teman mampir ke tempat kosku. Setelah dia pulang, dan ketika aku merenung seorang diri di depan kos sambil menyaksikan lampu merkuri di depan kos -- aku baru sadar: besok (hari ini) aku sudah kepala tiga. Ya, usiaku genap tiga puluh kini.

Bagiku, tak ada yang istimewa dengan sebuah ulang tahun. Aku lebih memilih orang tidak tahu kapan ulang tahunku. Sebabnya aku terhitung jarang mengikuti atau mengadakan acara-acara ulang tahun. Paling-paling, di keluargaku, kalau ada yang ulang tahun, kami doa bersama; atau membuat beberapa nasi bungkus untuk dibagikan ke gelandangan di Pasar Besar Kota Malang.

Namun, kali ini aku sudah kepala tiga. Momen ini -- kalau dipikir-pikir -- rasanya penting juga bagi hidupku. Penting, sehingga pagi ini aku mengambil sedikit waktu untuk merefleksikan apa saja yang harus kuperbuat untuk masa depanku selanjutnya.

Aku tidak bisa menuliskan dengan detil apa yang kuharapkan terjadi di masa depanku. Namun, bertolak dari apa yang kualami di masa kini, tampaknya aku akan tetap menggeluti dunia pendidikan dan penulisan.

Pertama, pendidikan. Mendidik seorang anak begitu berat, bagiku. Tugas seorang guru beda dengan dosen. Dosen lebih banyak mengajar, guru lebih banyak mendidik. Dalam mendidik anak, begitu banyak suka-duka yang telah kujalani selama ini. Ada anak yang hampir di tiap pagi minta digendong kalau bertemu denganku; ada juga anak yang kelakuannya selalu bikin aku kesal karena tak pernah mau taat.

Yang bikin aku bertahan dalam mendidik adalah pengenanganku akan beberapa guru dalam hidupku di masa lalu. Guru-guru yang telah mengubah jalan hidupku. Tanpa mereka, aku tak akan pernah menjadi seperti yang sekarang. Dan mungkin, aku juga ditentukan seperti beberapa guruku di masa lalu itu -- bagi anak-anak yang sekarang harus kudidik.

Tentang dunia kepenulisan, hanya satu alasan yang membuat aku bertahan: aku tak bisa tak menulis. Sebagai seorang muda yang sangat rindu bisa beraktualisasi, aku seperti penulis-penulis muda lainnya: rajin berkarya, rajin pula berusaha mempublikasikan karya-karyaku. Sejauh ini aku telah menulis sebuah buku yang sudah terbit dan beberapa renungan yang terbit bulanan. Ada pula beberapa tulisanku yang nyangkut di koran dan majalah.

Namun, yang belum terpublikasikan masih banyak. Ada dua buah novel, tiga buah novelet, puluhan cerpen, puluhan artikel/opini, puluhan resensi, bahkan ratusan puisi yang hampir semuanya pernah ditolak untuk diterbitkan oleh penerbit buku, koran, atau majalah. Semua ini dapat membuatku menemukan puluhan alasan mengapa aku harus berhenti menulis.

Namun, aku tetap bertahan pada alasan "aku tak bisa tak menulis" ketika merenungi lagi bahwa kegagalan publikasi yang kubuat semata-mata hanyalah kepanjangan dari dua hal: itu semua adalah ujian dan pembelajaran. Aku diuji untuk sabar; aku membelajari diri untuk berkarya lebih baik, juga membelajari diri untuk menemukan cara lain dalam mempublikasikan karya-karyaku.

***

Begitulah...

Oh, ulang tahun! Haha, aku sudah kepala tiga. Orang bilang aku harus segera cari pacar. Cari istri tepatnya. Aku sepakat, walau kadang kurang bersemangat menjalaninya. Ya, pe-er ini memang harus kuanggap penting, kalau aku tak mau melakukan apa yang dulu pernah ingin kulakukan: menjadi biarawan. Ya, selama beberapa tahun, aku sempat juga ingin jadi biarawan -- mereka kelihatan keren.

Tapi, yang terakhir, entah belum atau sudah mendapat istri, sepuluh, dua puluh, bahkan beberapa puluh tahun dari sekarang, tampaknya aku akan tetap menjadi seorang guru dan penulis -- di mana pun aku berada.

Enjoying life, loving peace, and rock and roll -- always!

Sidoarjo, 24 Oktober 2009, 06.30-07.15
Sidik Nugroho

18.10.09

Suramadu, W.R. Supratman, dan Refleksi Romantika dan Imajinasi

Sabtu siang, 17 Oktober 2009, setelah lelah menggarap dua buah naskah seharian, aku akhirnya tertidur. Paginya, sebenarnya ada rencana pulang ke Malang, namun karena banyaknya tugas yang harus kukerjakan di Sidoarjo, rencana itu urung. Jam tiga sore, ketika bangun, aku merasa harus pergi ke suatu tempat. Aku ingin pergi sendirian -- mencari inspirasi. Aku tidak tahu mau ke mana. Namun, di dalam tas kecil yang kucangklong, kubawa kamera digitalku.

Kukendarai terus motorku, sampai akhirnya terlintas pikiran itu: Suramadu! Ya, ke jembatan Suramadu, ke Madura. Kelihatannya asyik juga!

***

Surabaya-Madura P.P.

Aku menghubungi temanku yang punya rumah dan keluarga di Madura. Ah, dia lagi sibuk mau malam mingguan di Surabaya ternyata. Padahal aku ingin sekali menjelajah Madura, terutama melihat orang-orang yang tidur pakai alas pasir itu. Salahku memang, mendadak mengabarinya. Keinginan itu batal. Aku memutuskan jalan terus.

Daerah Kenjeran yang kulalui sebelum jembatan Suramadu ramai sekali. Setelah membayar karcis tol 3000 rupiah, aku takjub melihat panjangnya jembatan itu. Panjaaang sekali. Jembatan tol itu dibagi dua bagian. Bagian timur untuk pelintas dari Madura; bagian selatan untuk pelintas dari Surabaya. Masing-masing bagian jalan dibagi lagi: para pengendara sepeda motor diberi bagian khusus di bagian tepi. Ketika melintas di atasnya, angin cukup kuat menerpa badanku. Di sebelah kiri dan kananku membentang Selat Madura yang kali ini berlangit muram. Cuaca tidak sedang mendung, namun awan putih pekat menggantung di sebelah barat dan timur jembatan itu.

Sampailah aku pada gundukan tertinggi di jembatan itu. Di gundukan itu ada tiang-tiang tinggi yang dibangun. Tiang-tiang itu tampak gagah dan dari jauh kelihatan bagai menara. Ketika melintasinya, banyak orang yang melambatkan laju sepeda motornya, mengamat-amati panorama dan keadaan sekeliling. Di bagian inilah banyak orang yang menghentikan kendaraannya barang sesaat untuk berfoto-ria. Termasuk aku.

Madura akhirnya sampai. Tanah di sana tampak gersang. Lahan berpasir putih kecokelatan di sepanjang tepi jalan menuju Bangkalan (kota yang berada sekitar tujuh kilometer dari ujung pulau), dipenuhi banyak tenda temporer yang menyediakan beraneka jualan. Aku mampir beli pulsa. Kukabari beberapa teman aku ada di Madura. Mereka kaget.

Setelah melalui jembatan ini, sambil minum es di sebuah warung, aku jadi teringat pada jembatan-jembatan bernama hubungan yang pernah kubangun di masa lalu. Tak jarang beberapa hubungan itu kandas karena sulit sekali menyatukan berbagai perbedaan, walau ada pula jembatan berupa hubungan persahabatan yang hingga kini kujalani dengan penuh semangat.

Ada pula jembatan yang pernah kubangun dengan begitu indah. Di sepanjang tepi jembatan kupasang lampu merkuri dan lampu hias penuh warna. Sebuah jembatan bernama romantika yang sayangnya harus terputus akibat berbagai tantangan hidup.

Jembatan Suramadu yang menyatukan dua pulau telah dibangun dengan biaya besar, perencanaan besar, dan pemikiran-pemikiran besar. Ketika mengaitkannya dengan hidupku, sambil mengingat dan merenungkan apa yang dikatakan teman, keluarga dan sahabat-sahabatku, aku merasa masih tertinggal jauh. Aku masih belum banyak berdaya-juang dan berpengorbanan untuk membangun sebuah jembatan yang kokoh: Jembatan dengan bahan dasar kasih-sayang, komitmen, dan dedikasi yang tulus untuk seseorang.

Aku menunggu senja tiba di Madura.

Namun, senja di langit Pulau Garam ini tak bagus. Sunset-nya kurang ciamik kali ini. Ah, sudahlah, tidak apa-apa, yang penting aku sudah ke Madura. Dan jembatan ini telah memberiku sebuah ilham.

***

Makam W.R. Supratman

Ketika sampai lagi di Surabaya, di Jalan Kenjeran, aku melihat sebuah tulisan di tepi jalan: makam W.R. Supratman. Aku pernah melihat makam ini ketika ke Kenjeran beberapa bulan lalu. Waktu itu aku ingin sekali ke sini. Nah, kesempatan itu tiba!

Seorang pria di pinggir jalan memberitahu bahwa juru kunci makam ini ada di belakang makam. Rumahnya kutuju, lalu aku pun diantarnya masuk ke dalam makam. Di makam ini, ada tiga bangunan yang penting: makam itu sendiri, patung W.R. Supratman yang sedang memainkan biola, dan monumen yang memuat sejarah singkat hidupnya.

Bagian di monumen yang membuat aku tertarik adalah kisah yang menyebutkan bahwa W.R. Supratman, selain sebagai musisi jazz yang berbakat di zamannya, juga pernah menjadi wartawan di surat kabar Kaoem Moeda. Wah, dia suka menulis juga ternyata. Bagian lain yang penting adalah cerita yang menyebutkan kalau lagu yang diciptakannya seringkali mengundang amukan orang Belanda.

Terlepas dari desas-desus yang menyatakan Indonesia Raya adalah lagu jiplakan, W.R. Supratman yang mati muda ini, dalam kisah hidupnya yang dituturkan dengan singkat di monumen batu di situ, bagiku adalah sosok yang imajinatif. Dan imajinasinya ia gunakan untuk sesuatu yang mewakili visi bangsa Indonesia ketika itu. Imajinasinya adalah imajinasi yang bervisi. Visi dalam imajinasinya merupakan representasi dan akumulasi hasrat hidup orang banyak: Indonesia merdeka.

Itulah sebabnya ia selalu dikenang.

Ketika dia meninggal di usia muda, Indonesia belum merdeka; baru 7 tahun setelah itu. Namun, sebelum meninggal ia berkata: "Saya toh sudah beramal, berjuang dengan caraku, berjuang dengan biolaku. Saya yakin Indonesia pasti merdeka." Akhirnya, pejuang yang menyatakan diri berjuang dengan biolanya itu, kini pun memiliki makam yang agak unik: ruang untuk menabur bunga di makamnya dibentuk mirip biola.

***

Hari sudah malam. Sudah hampir jam delapan. Aku pulang ke Sidoarjo, dan menuliskan kisah ini.

Ketika menuliskannya, aku berpikir: Mungkin, di akhir-minggu lainnya, aku ingin membuat catatan seperti ini lagi. Mungkin sebulan sekali atau dua kali. Rasanya, di sekitarku masih banyak tempat yang menarik untuk ditulis. Ada museum, panti asuhan, candi, dan tempat-tempat lainnya -- tempat-tempat yang dapat melahirkan refleksi yang indah dan wajar, tidak perlu mengada-ada. Sayangnya, banyak orang hanya bersemangat menuliskan cerita liburannya ke Eropa, daripada menceritakan kunjungannya ke candi atau museum yang ada di dekat rumahnya.

Arthur Rimbaud, penyair dan petualang itu pernah bilang:

Perlu ada upaya melihat,
upaya melihat dengan menjungkirbalikkan segala makna yang sudah ada,
untuk sampai pada yang tak dikenal,
hidup sejati yang berada di tempat lain...


Akan selalu ada "tempat lain" untuk memaknai hidup. Ya, kadangkala, tempat itu dekat kok dengan kita.

Sidoarjo, 17-18 Oktober 2009

25.9.09

Ke Yogya, Semarang, dan Dua Warung Soto

: Catatan Perjalanan Liburan, 20-25 September 2009

Malioboro, Parang Tritis, dan Jatimulyo

Malioboro di dini hari Lebaran hari pertama lalu sepi sekali.

Aku, Ko Ardian dan Ko Phillip akhirnya sampai di sini. Keliling Yogya, lalu menuju ke sebuah hotel di Jalan Surokarsan. Tidur beberapa jam.

Dua hari kami tinggal di sini. Belanja beberapa oleh-oleh di Malioboro, juga mampir ke Parang Tritis. Malioboro agak ramai di hari pertama Lebaran. Kemudian sangat ramai di hari kedua Lebaran. Parang Tritis, sayang, kotor sekali.

Selama di Yogya aku juga sempat bertemu dengan guru menulisku, Arie Saptaji. Aku ke rumahnya di Jatimulyo. Di rumah ini aku sempat disuguhi tontonan apik. (Matur nuwun, Denmas!) Judul film itu adalah Psycho, garapan Alfred Hitchcock. Disebut-sebut sebagai masterpiece, karena mampu membangun suspense yang tampaknya bikin tempat duduk penonton panas, akibat gelisah menanti jawaban: "Uuuh, siapakah pembunuh Marion?"

Terima kasih kuhaturkan juga untuk Josua Sirait -- yang tampak lebih gemuk sejak kali terakhir aku ketemu dengannya 4 tahunan lalu -- yang telah mengantar-jemput aku ke kediaman sang guru di Jatimulyo. (Kapan-kapan jumpa lagi, Bro!)

Borobudur, Pandanaran, Sam Po Kong, dan Wihara Watugong

Dari Yogyakarta, kami bertiga menuju ke Borobudur. Kami pergi bersama dua teman kami, sepasang kekasih yang lagi kasmaran: Kwarta dan Siska. (Mereka juga menemani kami ke Parang Tritis sebelumnya.) Tampak mesra keduanya, bergandengan tangan di banyak kesempatan -- sesekali berangkulan. Duuuh!

Borobudur ramai sekali pada hari ini. Aku dan keempat kawanku juga kepanasan di sini. Aku membeli beberapa oleh-oleh untuk keluargaku.

Setelah dari Borobudur, kami kembali lagi ke Yogya. Di hari ketiga kami ada di Yogya, kami menyempatkan diri mampir ke rumah adik sepupu Ko Ardian. Tanpa rencana, adik sepupunya itu mengajak kami ke kuil orang Konghucu yang bermenara tinggi di Semarang. "Apakah itu Sam Po Kong?" tanyaku. Ia tidak tahu.

Aku yang pernah tinggal tiga tahun di Semarang, selama SMA, tidak pernah banyak mencari tahu tempat-tempat seperti kuil, masjid, gereja, atau apa pun yang diminati para peziarah spiritualis.

Kami berangkat. Yogya-Semarang hampir empat jam kami tempuh karena jalanan sedang sangat macet. Untunglah saat itu cuaca tak begitu panas. Cuaca agak mendung. Aku melihat Bukit Menoreh dengan kagum. Indah sekali: sawah-sawah di kaki bukit sedang mengemas.

Sampai di Semarang, kami mampir dulu ke Jalan Pandanaran, pusat oleh-oleh khas Semarang: bandeng presto, wingko babat, dan lumpia.

Di belakang Jalan Pandanaran ada kampung bernama Randusari, dekat dengan kuburan tengah kota bernama Bergota. Di Randusari-lah aku tinggal waktu SMA dulu, bersama mendiang nenekku. Aku bahkan kenal dengan beberapa orang yang jual oleh-oleh di Jalan Pandanaran. Aku menyempatkan diri selama beberapa menit menginjakkan kaki ke kampungku dulu, berdiri di depan rumahku. Rasa kangen pada masa lalu mencuat-cuat kembali.

Ku-sms ibuku, kuberitahu aku sedang berada di depan rumah itu. Ia menangis, mengingat kenangan-kenangan yang ia lalui selama puluhan tahun di sana. Ya, bapak dan ibuku berasal dari satu kampung itu. Rumah keduanya berdekatan. Namun, aku tidak sempat melihat ke rumah kakek-nenek dari pihak bapak karena hari sudah malam, dan kami harus segera kembali ke Yogya malam itu juga.

***

Ya, selama SMA, aku sama sekali tak pernah ke Sam Po Kong. Aku cuma tahu nama itu menjadi judul novel Remy Sylado, dan itu adalah sebuah kelenteng. Itu saja.

Begitu masuk, dan berbincang-bincang dengan penjaga kelenteng itu, aku cukup takjub. Betapa tidak. Sam Po Kong dalam kisahnya adalah seorang pembawa ajaran Islam di pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, mulai pada tahun 1405 M. Walau Sam Po Kong seorang Konghucu, namun dia tertarik dengan ajaran Islam -- kemudian turut menyebarkannya. Di dalam kuil ini juga ada makam dari tiga pendamping Sam Po Kong: juru masak, juru mudi (kapal), dan yang satunya aku lupa juru apanya.

Ya, kuil Sam Po Kong yang berada di daerah Gedongbatu di Semarang ini, ternyata menyimpan catatan sejarah yang panjang. Tampaknya, kuil ini merupakan representasi dan simbol akulturasi masa lalu melihat catatan penggagas-pendirinya. Kuil Sam Po Kong terbuka untuk dikunjungi siapa saja -- orang dari agama mana saja.

Lampion-lampion merah, palang-palang tinggi penyangga kuil beratap merah yang indah, dan lilin-lilin raksasa yang kulihat pada malam yang gelap di kuil ini terkesan angker, namun romantis.

***

Namun, tujuan utama kami bukan kuil Sam Po Kong. Setelah bertanya-tanya pada penjaga kuil di Sam Po Kong, ternyata "kuil orang Konghucu yang bermenara tinggi" yang kami hendak tuju dari Yogya tadi ada di daerah Watugong, Srondol, dekat Ungaran. Tancap gas, kami menuju ke sana, sekalian pulang ke Yogya.

Menara itu ternyata tinggi sekali, ada tujuh tingkat. Ia mirip pagoda-pagoda yang ada di Thailand -- kalau tidak salah -- yang pernah aku lihat di sebuah kalender. Ia diletakkan di samping wihara yang dibangun di sekitar tempat itu. Di depannya ada patung Buddha yang sedang bertapa mencari kesempurnaan jiwa di bawah sebuah pohon yang rindang. Begitu hening tatapan Buddha yang tampak sedang bermeditasi di patung itu.

Kata Ko Phillip, menara itu fungsinya untuk mengurung para dewa-dewi yang berbuat jahat. Ia juga dibuat sebagai pengagungan terhadap Dewi Langit yang aku lupa siapa namanya.

Setelah menilik wihara dan pagoda-menara itu kami pulang ke Yogya. Selain dua tempat itu, aku masih penasaran dengan dua-tiga tempat ibadah atau pemujaan di Semarang.

Pertama adalah kuil atau kelenteng di sekitar daerah Anjasmoro yang katanya cantik banget. Kedua adalah Masjid Agung yang berada di daerah Dokter Cipto yang katanya bermenara sangat tinggi, bisa dinaiki, bahkan memiliki sebuah teropong yang bisa digunakan untuk mengamati seantero Semarang.

Yang ketiga, sebenarnya aku sudah tahu, cuma ingin sekali lihat dalamnya: Gereja Blenduk. Gereja ini bangunan Belanda di kawasan Pasar Johar Semarang yang terkenal dengan bangunan-bangunan lawasnya. Menurut seorang blogger yang kukenal, bagian dalam bangunan ini artistik sekali.

Kadang aku menyesal: mengapa tidak sejak SMA dulu suka dengan yang beginian?

Dan aku juga menyesal: datang ke Sam Po Kong dan ke Wihara Watugong saat malam hari -- langit tampak mendung dan gelap. Kami tidak bisa memfotonya.

Prambanan, BNS, dan Sedikit Catatan Tambahan tentang Dua Warung Soto

Sehari setelah dari Semarang, atau hari keempat perjalanan kami, akhirnya tibalah waktu untuk kembali. Kembali lewat Solo, Sragen, dan seterusnya, menuju kota Malang. Kami mampir ke Prambanan.

Di Prambanan juga banyak sekali orang datang -- seperti Borobudur. Ramai, dan panas. Namun, di sini aku merasa beruntung melihat candi ini dari dekat kali pertama dalam hidupku. Sebelumnya sudah pernah sih ke sini sendirian beberapa tahun lalu, namun waktu itu sudah menjelang maghrib, dan pintu masuk sudah tertutup.

Prambanan, bagiku adalah candi yang anggun. Walau sayang, batu-batu masih banyak berserakan. Memang, sekilas tampaknya susah sekali merekonstruksi reruntuhan batu yang amat banyak di sekitar kompleks candi itu menjadi candi-candi secara utuh -- satu demi satu.

Dari Prambanan kami bertiga kembali ke Jawa Timur. Ingin mampir ke Solo, tapi tidak jadi. Di daerah Ngawi dan Nganjuk jalanan macet. Karena macet, Ko Ardian yang menyupir mobil tak jadi langsung ke Malang. Dia agak lelah, selain jalan menuju ke Malang yang melewati Batu berkelok-kelok.

Kami kembali ke Sidoarjo. Tidur satu malam. Paginya menancap gas lagi ke Batu. Di Batu, aku sudah agak bosan dengan tempat-tempat wisatanya. Mungkin karena sudah 11 tahun aku tinggal di Malang hingga kini, dan cukup sering mengantar teman atau saudara ke situ.

Ko Ardian penasaran dengan tempat wisata Batu Night Spectacular alias BNS. Aku sih kurang suka dengan tempat ini -- kurang ada unsur budayanya gitu. Ko Ardian dan Ko Phillip, begitu melihat orang-orang tumplek-blek di tempat ini, juga beberapa wahana yang tampak dari pintu masuk rasa-rasanya lebih banyak ditujukan untuk anak-anak, mengurungkan niat untuk masuk ke dalam. Kami turun dari Batu, jalan-jalan ke kota Malang.

Dari Malang kami kembali ke Batu lagi, namun tidak langsung ke hotel di Songgoriti. Kami mampir ke Payung. Aku sudah berkali-kali ke tempat ini, dan tidak ada yang berubah. Menunggu tengah malam datang, kami ngobrol-ngobrol.

Saat ngobrol, terlintaslah di benak kami bertiga, sesuatu yang sama. Apakah itu? Cewek! Ya, semua perjalanan memang rasanya nikmat kalau dijalani bersama seorang kekasih. Nah, kami tiga pria malang yang kesepian, sepakat: dalam perjalanan ini, memang akan lebih indah disertai makhluk yang satu itu. Dan yang paling malang di antara ketiganya, dalam hal ini, mungkin, aku.

Ko Ardian sudah punya calon pendamping hidup yang sedang liburan ke Bandung. Ko Phillip sudah beristri dan beranak dua -- semuanya ada di Bangka. Sementara aku, aku tidak punya seorang pasangan. Tapi, bagaimana pun, aku menikmati perjalanan ini. Sungguh, aku menikmatinya, bukan sekedar ngabang-ngabangi lambe lho!

Malam itu kulalui dengan ucapan syukur. Kami tidur. Seorang dari kami tidur mendengkur. Berakhir sudah perjalanan ini.

***

Terus, catatan tambahan tentang warung soto?

Begini. Ketika pulang dari Borobudur menuju ke Yogya, ada sebuah warung soto dan bakso. (Soto Bakso, demikian disebut di Magelang dan sekitarnya dengan cukup terkenal.) Di warung soto itu seorang gadis manis melayani kami dengan senyum yang sulit kulupakan. Kuputuskan untuk tidak kulihat sering-sering senyum itu, takut jerawat batu keluar di pipiku.

Gadis itu kemudian lenyap dari ingatanku. Untuk sementara.

Namun, tak sampai situ. Ketika perjalanan liburan ini hampir berakhir, kami mampir ke warung soto di dekat sebuah persimpangan di Batu. Olala, kali ini seorang gadis manis melayani kami dengan senyum yang juga tak kalah sulit dilupakan. Seorang gadis yang lain, dengan senyum yang tak kalah wadohai.

Ah, kedua gadis itu kini masih membekas dalam ingatan. Lahirlah puisi ini:

Dua warung soto
Dua kota berbeda
Dua gadis
Dua senyuman
Dua kenangan

Satu pria kesepian
Gundah memamah soto

Ah, lain kali kalau jalan-jalan, aku ingin cari warung soto lagi! Siapa yang mau ikut? Yuuuk.

Malang, 25 September 2009

9.9.09

52 Bungkus Nasi Bungkus

: renungan diri spontan tentang perbuatan baik di hari ulang tahun seorang ibu

9 September 2009, alias 9-9-09. Banyak orang menganggapnya sebagai hari baik, hari hoki. Entah benar, entah tidak, yang jelas saya punya sukacita lain. Bukan berawal dari anggapan banyak orang itu; tapi karena ibu saya ulang tahun pada hari ini.

Di ulang tahunnya kali ini, ibu saya membuat 52 nasi bungkus untuk gelandangan yang ada di sekitar Pasar Besar kota Malang. Sedari dulu, ia selalu menekankan pada anak-anaknya: kedermawanan tak ditentukan dari seberapa besar kekayaan seseorang; memberi kepada orang lain sebaiknya bukan ajang pamer atau berharap diberkati oleh Tuhan.

Saya masih bergumul untuk benar-benar bisa melakukan dua pemahaman itu. Saya kadang urung memberi bantuan dengan dalih hidup pas-pasan, padahal uangnya dipakai untuk hal-hal yang tak perlu. Saya masih susah untuk memberi dengan tulus; masih berharap ada orang yang tahu saya sedang berbuat baik, dipuji, Tuhan (rasanya) senang, lalu dapat berkat.

Kembali pada ibu saya. 52 tahun usianya hari ini, 52 bungkus nasi bungkus dibuatnya---untuk 52 gelandangan. Kami sekeluarga memang hampir selalu merayakan ulang tahun dengan cara begini. (Tapi bukan dengan mencocokkan jumlah nasi bungkus dan usia; hanya kali ini saja yang sama.) Sempat saya berpikir, apakah benar hal ini ada manfaatnya? Apakah benar kebaikan ini mendapatkan suatu balasan? Apakah benar semua ini dilakukan dengan ketulusan, bukan untuk pamer?

Ketika melakukan suatu perbuatan baik, melihat suatu perbuatan baik, atau bahkan menerima suatu perbuatan baik, saya suka merefleksikan motivasinya. Dan, sejauh ini, refleksi saya berakhir pada suatu titik kesimpulan: perbuatan baik hanyalah salah satu bentuk ucapan syukur, tak lebih. Kita tidak serta-merta jadi lebih mulia ketika bisa melakukan suatu perbuatan baik. "Semua pahlawan akan jadi membosankan pada akhirnya," kata seorang bijak yang saya lupa siapa namanya; dan ingin saya tambahkan:

"Semua pahlawan akan jadi membosankan pada akhirnya---bila ia terus menerus hidup dan (hanya) berbuat baik."

Ya, demikian saya menyimpulkan sejauh ini. Karena manusia tidak ada yang diciptakan begitu baik---begitu sempurna. Ketika merenungi lagi hal ini kali ini sekali lagi, betapa sering saya susah bersikap biasa dalam melakukan perbuatan baik. Juga ketika saya merenungi bahwa sesungguhnya, dalam hidup kita yang singkat ini, tampaknya jauh (dan akan jauh) lebih banyak perbuatan jahat yang kita lakukan daripada perbuatan baik.

Kini, saya bersyukur kepada Tuhan membayangkan ibu saya yang nanti malam akan membagi nasi bungkus, sama seperti saya bersyukur dapat menulis, dapat bernafas dan menuangkan isi kepala saya pada saat ini.

Caci-maki, dusta, olok-olok, nafsu tamak, nafsu birahi salah pelampiasan, dan amarah, dan lain-lain yang lebih kurang ajar dan memalukan untuk disebutkan, rasanya berpeluang lebih besar untuk masih ada dalam kehidupan saya di masa datang, karena isi kepala saya yang tak selalu dipenuhi dengan pikiran untuk berbuat baik. Kiranya, perbuatan baik yang hanya sesekali saya lakukan menjadikan hidup ini penuh warna yang lebih harmonis---gelap dan terang.

Dan kiranya, kegelapan itu juga semakin pudar. Karena, di hari ini, di hari ulang tahunnya, saya dikabari ibu saya bahwa ia akan selalu mendoakan saya---untuk menjadi pria yang lebih baik. Bukan agar siap mendapatkan jodoh. Bukan agar jadi orang yang terkenal mulia. Bukan, tapi kelihatannya, agar lebih sedap dilihat orang lain mana-mana---biar tak selalu cengengesan di mana-mana.

Begitulah, Ibu (dan sidang pembaca---bila memang ada yang membaca lamunan dan renungan singkat ini). Selamat merayakan ulang tahun bersama 52 bungkus nasi bungkus buatanmu, Ibu, yang tentunya lezat-nikmat dinikmati dalam malam yang mengelam kian pekat---kelak!

Sidoarjo, 9 September 2009, 19.10-20.15

26.7.09

Porong, Senja, dan Pengharapan

"Ketik Reg, spasi Mama, spasi Porong... kirim ke tit tut tit tut...."

Mama Lauren turut meramalkan kalau bencana lumpur di Porong akan berlangsung selama puluhan tahun. Entah benar entah tidak. Kata Mama, wilayah yang tergenang lumpur bakal mencapai Waru, yang jaraknya sekitar 20 kilometer ke utara dari pusat semburan lumpur. Mama mia! Jauh juga ternyata. Memang, sejak 29 Mei 2006 hingga kini belum ada tanda-tanda lumpur panas akan berhenti muncrat.

26 Juli 2009, udara sangat cerah pada sore hari. Dari Malang yang sejuk aku berangkat jam 15.45 menuju Porong. Sampai di Porong sekitar jam 16.45. Di Porong hawa juga terasa tak terlalu panas. Aku sempat kaget melihat sebagian wilayah yang dulunya tertutup lumpur mengeras dan padat dari Siring Kuning (sebuah titik yang sering dijadikan perhentian bis dan angkot) ke bagian selatan -- sekarang sudah tertutup tanah coklat.

Orang bebas mengendarai motor menuju ke "kawah" yang dulunya merupakan kawasan tertutup lumpur. Namun, kebebasan itu tak penuh. Di jalan turun menuju "kawah", beberapa preman bilang, "Mas, rong ewu, Mas." Ya, biaya untuk menikmati jalan-jalan di kawah lumpur dua ribu rupiah.

Genangan (juga termasuk "kawah") lumpur kini sudah sangat luas. Sejauh ini diperkirakan 530 hektar (data pada bulan Mei 2009). Tiga tahun lumpur menyembur, belum ada hasil yang maksimal dalam penanganan semburan; selain dua upaya utama: pengalihan semburan lumpur ke Kali Porong di bagian selatan menuju laut, dan pembangunan tanggul-tanggul dalam beberapa bagian untuk mencegah luapan lumpur menjalar ke pemukiman penduduk.

Pada akhir Mei lalu, tepat ketika usia bencana lumpur ini tiga tahun, ribuan warga yang sebagian besar berasal dari perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (TAS) menggelar aksi demo ke Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) di Surabaya. Demo mereka memuat penolakan atas pemotongan uang ganti rugi. Masalah penggantirugian hingga kini masih saja jadi kemelut panjang, belum selesai-selesai. Diperkirakan ada sepuluh ribu rumah yang terendam, juga belasan pabrik dan beberapa sekolah SD hingga SMA. Namun, Pemprov Jatim tak berpangku tangan. Pada 8 Juni lalu sudah dibangun jalan tol pengganti jalur yang terputus akibat semburan lumpur. Direncanakan, jalan tol baru itu selesai pada tengah tahun 2010.

Langkah ini dianggap sangat tepat diambil mengingat salah satu hambatan -- utamanya kegiatan ekonomi -- terbesar di jalur Surabaya-Malang adalah kemacetan di sekitar Pasar Porong. Kemacetan terutama terjadi hampir di tiap akhir minggu (hari Jumat sore sampai Minggu pagi). Walaupun bagian jalan yang ada di dekat Siring Kuning ke utara sudah dibangun sedmikian lebar dalam dua ruas (satu ruas bisa dilewati empat mobil pada ruas utara menuju selatan), tetap saja kemacetan di Pasar Porong terjadi -- karena lebar jalan makin kecil.

Solusi demi solusi digagas dalam mengubah image Porong yang mengerikan sebagai pusat bencana -- kini menjadi tempat wisata. Wisata Lumpur, demikian kini orang-orang menyebut "kawah" yang terbentuk akibat semburan lumpur panas itu. Kata "wisata" seakan-akan menggantikan kata "bencana" yang dulu merebak bagai teror. Kenangan pahit akan rumah-rumah yang terendam lumpur, demonstrasi-demonstrasi massa yang cukup intens, juga pengungsian demi pengungsian yang harus terjadi akibat bencana semburan lumpur, rasa-rasanya perlahan-lahan pudar. Orang-orang dari segenap penjuru Indonesia, bahkan mancanegara, menikmati pemandangan yang indah di "kawah" akibat bencana ini.

Bahkan, para pemuda setempat main sepakbola di "kawah" bekas semburan lumpur itu. Mereka bermain bola di dekat atap masjid, satu-satunya bangunan dekat jalan raya yang masih ada sisanya akibat genangan lumpur. Ya, karena masjid itu cukup tinggi.

Masih ada pengharapan di balik tiap bencana. Demikian pula di Porong. Dan senja kali ini menghaturkan pengharapan itu dalam canda dan riang para pemain bola, juga dalam wajah mesra sepasang muda-mudi dari Malang yang asyik berfoto di "kawah" bekas semburan lumpur. Beruntung mereka, bertemu denganku yang dengan senang hati mau memfoto mereka berdua. Entah kenapa, keduanya malu bergandengan tangan atau berangkulan mesra ketika kufoto. Mama mia!

16.45, kini sudah bergerak lambat-lambat.... Ya, kini senja makin tua. Dan matahari tampak semakin merah, udara makin dingin. Sayup-sayup terdengar suara adzan. Beberapa burung yang aku tak tahu namanya melintas-lintas di bagian utara "kawah" kering yang kupijak: sebuah bagian lain yang tampak bagai danau.

Kunyalakan starter motor Smash-ku. Kutinggalkan "kawah" yang sebenarnya tak jauh-jauh amat dari tempat kosku ini -- sekitar 10 kilometer. Dalam perjalanan aku mengingat-ingat sebuah puisi yang dulu pernah kubuat ketika melintasi Porong pada bulan Agustus-September tahun lalu:

Catatan Porong

kusam, gosong
lemah jiwa, angan kosong
siang-malam: bolong
lapar-haus: tolong!

harapan sunyi
tak dapat ternyanyi

di sini
tapi masih ada mimpi

***

Sidik Nugroho, 26 Juli 2009
Untuk milis Apresiasi Sastra

11.7.09

c'est la vie vue de près

kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di hari depan. dalam hitungan detik, segalanya dapat berubah.

9 juli malam aku dapat kabar bapakku sakit. ia pingsan setelah ikut kelas pengajaran di gereja.

dia lagi duduk di meja makan, mengukur tensinya, pakai pengukur tensi digital di rumah. kepalanya pusing waktu itu. hasil pengukuran ternyata sangat rendah, hanya 60. ia kaget, seketika tak sadarkan diri. ibuku panik, teriak-teriak memohon bantuan orang di sekitar rumah kami. tapi karena ruang makan kami ada di belakang, tak ada yang mendengar teriakan itu.

ibuku segera akan bergegas menuju depan rumah. saat mau melangkah, sebuah "tangan" ajaib memegang tangannya, menghentikan niatnya berlari. ibuku melihat bapakku tak memegangnya. bapak sudah terbaring di kursi tanpa daya sekitar semenit. ibuku seketika itu diingatkan oleh suatu pengalamannya dulu kalau orang pingsan tidak boleh didudukkan. ia langsung menggeser kursi yang diduduki bapakku sekuat tenaga, sambil kedua tangannya menidurkan bapakku di lantai.

saat ini mobil di rumah kami sedang dipinjam saudara. ibuku sudah bingung mau diapakan nih bapakku. untunglah, pada saat ia menuju ke depan rumah setelah membaringkan bapak, ada tetangga yang lewat, pakai mobil, baru saja pulang dari mal. bersyukurlah, tetangga itu murah hati. ia segera mengantarkan ibu dan bapakku ke seorang dokter kepercayaan bapakku.

oleh dokter itu bapak kemudian disuruh untuk opname di r.s. panti nirmala. dan, puji tuhan, semua hasil pemeriksaan dari laboratorium menyatakan kondisinya baik. semula ada indikasi gejala stroke ringan, tapi hasil ct scan menyatakan kondisinya baik-baik saja, sejauh ini.

jadi, sebab utama sakit ini karena pagi hari, 9 juli, bapakku berjalan kaki lebih jauh daripada rute biasanya. maklum, bapakku ini orang yang suka jalan sendirian untuk cari hawa segar, selain menanam-merawat berbagai tanaman hias di belakang rumah.

aku mendapat kabar bapak dibawa ke rumah sakit jam 10-an malam. aku bimbang pulang atau tidak. tidak bisa tidur, jam setengah satu malam aku putuskan ke terminal bungurasih, dapat bis ke malang jam 2 pagi.

ketika menjagai bapak yang sakit, pikiranku semata-mata tertuju pada berbagai penderitaan yang dialami macam-macam orang. cerita yang paling menohok adalah ketika aku mendengar seorang penunggu pasien di rumah sakit: ia sedang menunggui ibunya yang rusuknya sedang dipasangi 16 buah pipa alumunium akibat kecelakaan. sebuah kecelakaan yang mengerikan: 9 orang di dalam sebuah mobil jatuh ke jurang dalam perjalanan dari pacitan. 2 orang meninggal.

ketika pikiranku dilintasi berbagai penderitaan, pagi hari aku senantiasa merenung: betapa fana kehidupan ini. betapa bersyukur aku untuk kehidupan yang ada. kebetulan, r.s. panti nirmala ada di dekat pusat keramaian di kota malang; dekat pasar besar di malang.

pagi hari saat mencari makan aku melihat tukang becak tua yang rantainya selalu lepas dari gear ketika mengangkut ibu yang membawa dagangan sayur. ada mbah tua berambut putih yang menghidangkan teh untuk satu orang gila yang hitam-legam. ada seorang pria paruh baya yang rambutnya gundul dan menempelkan kepalanya di sebuah tiang yang menjadi penyangga rambu lalu lintas, dengan wajah memelas.

dan ada ibuku, yang kesetiaannya tak pernah kuragukan, untuk suami dan anak-anaknya. yang bikin aku heran adalah keputusannya untuk berpuasa saat badannya kini sudah tak lagi muda, dan ia harus riwa-riwi ke sana kemari untuk mengurus askes, peralatan-perawatan bapakku yang sakit, dll. aku berusaha mencegahnya, namun ia merasa masih cukup kuat untuk puasa.

dan masih banyak lagi.

***

aku menghayati: selain ibadah pemakaman, rumah sakit mungkin tempat lain yang menarik untuk menjadi pemantik renungan. di rumah sakit aku berpikir lebih jernih dalam menghadapi berbagai kesialan yang kualami akhir-akhir ini.

"pergi ke rumah duka lebih baik daripada ke rumah pesta," kata nabi sulaiman. "orang yang berbahagia adalah orang yang mengingat hari kematiannya setiap saat," kata nabi muhammad. dan bicara tentang kematian, aku juga tidak akan pernah lupa novel "hari terakhir seorang terpidana mati" karya victor hugo. di sana ia dengan mantap membahasakan pikiran seorang yang menganggap berarti apa pun yang ia lihat menjelang detik-detik terakhir hari eksekusinya.

mungkin beberapa bagian terakhir yang kutulis ini agak berlebihan jikalau ada yang membacanya dalam keadaan sibuk. aku mohon maaf jikalau kesannya hiperbolis. namun, saat ini aku sama seperti hugo, merasa bahwa setiap waktu berarti; dan kehidupan (utamanya yang kini baru kusaksikan: kesahajaan orang-orang sederhana di sebuah keramaian pasar), dengan segala yang terjadi di dalamnya mampu mendatangkan perenungan yang menuntun kepada kedamaian.

itulah yang disebut oleh victor hugo: "c'est la vie vue de près".

"inilah kehidupan yang dilihat dari dekat".

kantor pos alun-alun kota malang, 11 juli, sebelum jam 9 pagi

7.7.09

Proses Kurang Kreatif Mencatati Hal-hal yang Ada-ada Saja

Proses Kreatif Catatan Perjalanan untuk Milis Apresiasi Sastra

Pengumuman diadakannya apresiasi catatan perjalanan oleh milis Apresiasi Sastra di Yahoogroups kutemukan saat aku lagi ada di Bandung. Sebelum ke Bandung, aku ada di Jakarta dalam rangka studi banding dengan guru-guru seyayasan tempatku bekerja. Sebelum aku berangkat studi banding ke Jakarta, Arie Saptaji melayangkan sebuah komen di facebook atas status yang kutulis -- status yang intinya menyatakan kalau aku akan ke luar Sidoarjo selama beberapa hari. Tanyanya: "berapa banyak tulisan/renungan yang akan kauhasilkan dalam perjalananmu itu?"

Dari situ, aku yang sebelumnya tidak pernah menulis catatan perjalanan, jadi berhasrat menulis. Sebagai seorang yang setiap bulan menulis renungan-renungan rohani pendek, tulisanku pun akhirnya jadi bersifat reflektif. Sekedar memetik hikmah, dangkal, masih dalam taraf pembelajaran, walaupun hasilnya cukup panjang: 14 halaman kuarto dengan ketikan 1 spasi.

Hal-hal yang kutulis dalam catatan perjalanan lebih banyak bukan mengenai sebuah tempat, apalagi budaya atau sejarahnya; tapi interaksi dengan beberapa orang, percakapan, dan kejadian-kejadian yang kuanggap dramatis. Bobotnya sangat jauh di bawah Mas Sigit Susanto yang menulis catatan perjalanan dengan memasukkan unsur-unsur politik, sastra dan budaya dari tempat-tempat yang dikunjunginya; atau Mas Wawan Eko Yulianto, penulis kocak yang tampaknya bakal menyajikan cerita-cerita seru dan lucu dari pengamatannya yang detil atas kehidupan berbahasa orang-orang yang dijumpainya.

Sempat merasa keder, memberanikan diri ikut dalam ajang penuh tantangan dan berkelas "wadoh!" seperti ini. Apalagi kalau mengingat-ingat yang aku tulis cuma tentang pertemuan dengan pakdeku yang sudah sepuh, mantan drumer-ku yang akan punya anak, kangenku pada seorang wanita yang ditanggapi dengan dingin, dan kecoa yang menggerayangi punggungku ketika aku berada di atas Bianglala -- wahana kereta gantung yang berputar-putar di Dufan itu lho. Semua terkesan agak mengada-ada -- ada-ada saja. "Isooo' ae," kata orang Jawa Timur.

Namun, ya... kuanggap ini semua sebagai pembelajaran lah. Suatu ketika aku ingin juga bisa menulis catatan perjalanan dengan memasukkan beberapa unsur budaya yang menjadikannya lebih berbobot, seperti tulisan terbaru J. Sumardianta, Pak Guru yang hobi tracking itu, ketika menulis tentang keheningan di Watu Wayang, sebuah lembah dekat Yogya. Tempatnya tidak jauh dari tempat ia tinggal, namun tulisan itu disajikan dengan bahasa yang apik dan filosofis, menjadikan tulisannya menarik disimak di Kompas.

Mungkin, dalam waktu dekat aku juga ingin menulis sesuatu tentang Porong. Mungkin setelah Pemilu ini. Sebabnya, bila Anwar Holid alias Wartax dengan bersahaja mampu menghadirkan tulisan-tulisan jujur tentang apa yang ia lakukan sehari-hari dalam ruang kehidupan yang memang ia tinggali, aku jadi merasa bersalah karena selama ini hanya melintas-lintas saja di daerah semburan lumpur Lapindo yang dekat dengan tempat kosku, yang kalau diamati lebih sungguh, rasanya akan memberikan banyak sekali bahan untuk ditulis dan direnungkan.

Begitulah, kawan-kawan sekalian, sekilas pengantar dan pemanasan dariku. Selamat mengapresiasi. Terima kasih bila sudah membaca.

Oya, omong-omong, adakah kutipan penting yang perlu dipakai untuk menutup tulisan ini sehingga membuatnya ketularan tampak penting? Belum ada, kelihatannya. Kalau ada, nanti aku dikira mengada-ada.

Tabik dan senyum lebar,
Sidik Nugroho

Pesan sponsor: Beberapa tulisan kurang mutu yang kadang mengada-ada bisa diakses di http://tuanmalam.blogspot.com, termasuk catatan perjalanan dalam label Catatan.

30.6.09

Perjalanan Liburan, Perjalanan Spiritual (4)

27 Juni 2009

Pagi hari, aku dikabari Widho kalau siang ini jadi ketemuan. Aku begitu senang karena Widho adalah salah satu sahabat terbaik dan musisi sealiran waktu aku SMP.

Sekitar jam 11 lewat Widho datang ke rumah. Kami lalu bernostalgia dengan penuh tawa dan semangat. Kami dulu punya grup band bernama Cuex Band. Pada waktu itu aku masih kelas 2 SMP, dan Widho kelas 1 SMP. Kota kami, Singkawang, menghelat acara festival musik rock. Dari tiga puluh lebih peserta, grup band kami masuk final. Padahal, kami adalah grup band dengan anggota-anggota termuda.

Salah satu musuh kami namanya Virendica, anggota-anggotanya sudah berusia kepala tiga. Tapi, prestasi kami waktu itu tak memalukan. Kami menempati urutan ke-5. Lagu yang kami bawakan adalah Cita yang Tersita karya Power Metal dan 'Til Death do us Part karya White Lion.

Obrolan dengan Widho ngalor-ngidul, ke mana-mana. Yang paling membahagiakan buatku adalah obrolan tentang istrinya yang sedang hamil 5 bulan. Berita ini sangat menyenangkan: seorang putra akan lahir lagi ke bumi! Yeah, seorang putra rocker!

Menjelang jam dua siang, aku dan Widho pergi ke Bandung Indah Plaza (BIP). Di sana, cewek cantik berhamburan di sana-sini. Widho terkikik-kikik melihat aku yang seperti orang udik melihat cewek-cewek. "Dulu, Dik... Yang lebih parah dari kau waktu jalan ke sini Si Cecep. Cecep itu kalau melihat cewek cantik lehernya sampai mutar ke mana-mana. Aku bilang sama Cecep: 'Awas lehermu patah, Cep!'"

Cecep adalah vokalis kami. Dia juga tinggal di Bandung, tapi sayangnya dia sedang tidak ada di Bandung kali ini, sedang mengajar musik di Jakarta. Kalau dia ada, pastinya kegiatan jalan-jalan ini akan lebih seru. (Halo, Cep, kapan-kapan jumpa lagi ya?)

Dari BIP aku dan Widho jalan-jalan ke Dago, pusat aneka distro di Bandung. Aku berniat untuk membelikan sesuatu lagi buat gadis manis yang benar-benar kurindukan selama aku di sini. Kami masuk ke enam distro, tapi aku tidak menemukan sesuatu yang pas untuk si dia. Widho, yang sudah berkeluarga, juga memberi masukan: "Sudahlah, Dik, kau sudah beli sesuatu untuk dia. Itu cukup, karena dia bukan siapa-siapamu untuk saat ini."

Dari Dago kami kembali lagi ke BIP, pesan dua gelas minuman di food-court lantai tiga. Obrolan kami seputar idealisme bermusik, upaya menembak pasar dengan cara jitu lewat sebuah karya, dan beberapa orang Singkawang yang sudah sukses jadi pemusik. Dari pembicaraan ini aku mengenang lagi saat-saat SMP yang penuh kenangan dulu. Saat-saat di mana musik rock berjaya. Dan, kami para rocker yang masih muda, diperlakukan dengan hormat ketika memainkan musik cadas di panggung. Jayalah rock and roll sepanjang zaman! Hidup God Bless!

Jam empat sore kami turun, lalu berbincang-bincang di depan mall. Aku merasa cukup berat waktu meninggalkan Widho. Namun, perpisahan itu harus terjadi juga. Aku naik angkot, dan dari dalam angkot aku masih melihat Widho melihat ke arahku. Saat itu aku berharap agar Widho menjadi pemusik dan ayah yang sukses dan hidup bermartabat.

Sampai di rumah pakde, aku melihat raut wajah sedihnya. Ibuku sms aku waktu aku masih di mall sama Widho: Pakde tidak ingin kita pulang ke Malang. Dia benar-benar masih kangen sama kita. Mendengarnya, hatiku semakin berat meninggalkan kota Bandung.

Pakde Put, pekdeku yang kusayang, dia hanya duduk membungkuk di atas tempat tidur, mengeluarkan suara kecil, "Hati-hati," ketika aku pamitan sambil memeluk badannya. Betapa dia tampak kehilangan aku. Matanya merah ketika ia mengangguk-angguk, merelakan kami kembali ke Malang.

Di atas kereta, ibuku membuka rahasia, kalau ternyata aku adalah seorang yang sangat disayangi pakde. Di masa kecil dulu, saat ia belum memiliki seorang putra, ia suka menggendongku dan melindungiku. Aku sering disuruh-suruh abangku memegang layang-layang yang mau ia naikkan, sementara layang-layang itu sering tidak berhasil naik. Ketika lelah berlari ke sana kemari memungut layang-layang untuk dipegangi sebelum dinaikkan, aku mendekat ke Pakde Put. Nah, kalau abangku melihat aku ada di dekat pakde, ia akan berhenti menyuruh-nyuruhku.

Jam 7 malam kereta Turangga akhirnya berangkat. Aku, bapak dan ibuku, dilanda keheningan, lalu kami terlelap. Tengah malam aku bangun, menuju ke gerbong makan. Aku pesan teh panas satu gelas. Seorang pria di sampingku menawariku rokok A Mild. Kupikir, sekali-sekali tidak apalah. Aku kan orang Kristen Interdenominasi, bukan lagi orang Kristen Kharismatik yang suka melarang orang merokok. Kusulut rokok itu, kunikmati asapnya yang menari-nari ketika keluar dari mulut dan hidungku, sambil kupandangi kekelaman malam yang sesekali dicerahi beberapa lampu rumah dari balik jendela.

28-30 Juni 2009: Penutup

Surabaya, akhirnya tiba juga. Jam delapan lewat sedikit kami sampai di kota Pahlawan ini. Di Surabaya ada jadwal kereta Malang Express jam sepuluh. Kami menunggunya, menumpanginya. Sampai di Stasiun Tugu sekitar jam 12. Sampai di rumah jam 12.30 siang. "Nah, aku sudah pulang," kataku meniru Samwise Gamgee begitu halaman rumahku tampak.

Malam ini aku ingin menyampaikan kangenku pada si gadis yang kurindukan sepanjang perjalanan liburanku. Kutelepon dia, tapi tidak diangkat. Ku-sms dia, juga tidak dibalas. Aku mulai kesal. Kesal, karena selama aku sedang liburan, hampir semua teleponku tidak pernah diangkat. Sms-ku juga tidak pernah dibalasnya. Aku tidak habis pikir kenapa dia bertingkah seperti itu. Aku juga tidak tahu sedang berbuat salah apa.

Dua hari berlalu dan keadaan seperti itu sama saja, tidak berubah. Ia tidak menggubrisku. Bahkan ketika sama-sama online di Facebook, kuajak chatting, ia diam saja. Pada tanggal 29 Juni 2009 aku memutuskan untuk stop melakukan pendekatan ke dia. "Aku telah salah berharap," kataku padanya lewat sms, "aku memang tidak pantas untuk kaudengar atau perhatikan. Mohon maaf bila sms dan teleponku mengganggumu."

Nah, akhirnya aku memutuskan untuk menyerahkan baju buatnya yang telah kubeli dengan segenap kekangenan dan rasa sayang untuk seorang anak yatim, yaitu adik angkatku. Aku juga akan berhenti berharap mendapatkan dia sebagai kekasih. Selain itu, mungkin juga, baju itu memang tidak layak untuk ia kenakan, karena ia selama ini tampaknya selalu memakai baju yang mahal-mahal dan berselera tinggi.

Akhirnya, aku kembali lagi ke Sidoarjo, 30 Juni 2009, siang hari. Di bis aku merenung: sepanjang perjalanan ini aku telah sangat bahagia bisa menemui pakdeku yang semakin berusia senja, juga menemui sahabat lamaku yang sebentar lagi akan mempunyai putra. Ya, mungkin dua hal itu yang menjadi kebahagiaan terbesarku dalam perjalanan kali ini. Aku merenunginya dan menikmatinya bersama senja yang berlalu sore ini.

Sebenarnya aku dan bapak-ibuku hendak lanjut perjalanan ke Bali, tapi sudah terlalu capek. Di Bali ada acara sepupuku menikah. Nah, aku beruntung ketika mendapat kabar ternyata acara pernikahan mereka juga akan diadakan di Malang pada tanggal 4 Juli 2009. Dan, nanti di hari yang sama, tanggal 4 Juli 2009, ada pembakaran mayat di krematorium di Batu. Yang meninggal adalah abang ipar dari besan perempuan orang tuaku. Aku tidak akan melewatkan keduanya, walau kutahu acara pembakaran mayat rasanya akan jauh lebih maknawi daripada sebuah pernikahan buatku -- saat ini.

Oh iya, aku baru ingat, ketika aku sampai di rumah kosku, ternyata cucianku cukup banyak. Sebentar lagi aku mau mencucinya. Aku juga baru ingat belum membayar uang kos yang semestinya kubayar tanggal 25 tiap bulan -- sebentar lagi aku akan membayarnya. Dan sebentar lagi, aku akan cari kaset atau CD God Bless yang baru.

Hidup Ian Antono, hidup God Bless! (Tamat)

Malang-Sidoarjo, 29-30 Juni 2009