18.10.10

Rekam-Jejak Pengembaraan Buku 2008-2010

Sekitar awal tahun 2008, niat untuk mengulas sebuah buku mulai muncul dalam diri saya. Niat itu muncul karena sebelumnya saya suka membuat semacam catatan reflektif setelah menonton film. Ya, karena tak tahu banyak dengan hal-hal yang berhubungan dengan hal-hal teknis perfilman, sampai sekarang saya lebih suka menyebut catatan yang saya buat tentang film sebagai suatu refleksi berdasarkan film, bukan ulasan film. Melihat ulasan-ulasan di majalah film seperti Cinemags atau Movie Monthly saya yakin kalau catatan saya tentang film memang belum pas disebut ulasan film.

Nah, pada saat berhadapan dengan buku, saya tak menemukan banyak hal teknis yang terlalu membebani saya untuk mengulasnya. Kebetulan, beberapa tahun silam saya juga pernah membeli buku karya Daniel Samad yang berjudul Dasar-dasar Meresensi Buku. Setelah menemukan buku ini (kalau tidak salah sekitar tahun 2005-2006), saya pernah meresensi dua buku yaitu Di Bawah Sinar Lampu Merkuri karya Slamat P. Sinambela dan Diciptakan Seperti Sebuah Tarian karya Arie Saptaji untuk saya pajang di situs gratisan Geocities (fasilitas dari Yahoo!). Namun, saya tak banyak menekuni resensi buku. Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menulis renungan atau refleksi berdasarkan film.

Tak seperti film, buku membuat saya lebih nyaman menyusun sebuah ulasan. Tantangan pertama datang dari guru menulis saya, Arie Saptaji. Dia bilang kalau saya sempat, buatlah sebuah resensi untuk sebuah bukunya, Warrior: Sepatu untuk Sahabat. Selama beberapa hari kemudian saya membaca buku itu, lalu meresensinya. Saya mencoba untuk mempublikasikan resensi itu di koran, tapi gagal dimuat.

Kegagalan itu mendorong saya untuk meresensi buku lebih baik lagi. Saya akhirnya bertemu dengan tiga guru lain, para resensor, yaitu Nur Mursidi, Hernadi Tanzil, dan Iqbal Dawami. Saya membaca dan mempelajari resensi-resensi mereka di blog mereka masing-masing. Saya belajar bagaimana cara mengirimkan resensi yang baik ke koran. Saya juga belajar satu hal yang menyenangkan, yaitu bagaimana memohon kiriman buku ke penerbit untuk dikirimkan buat saya, agar saya tidak selalu membeli buku yang mau diresensi. Saya jadi lumayan sering dapat buku gratis -- asyik lho!

Nah, sejak awal tahun 2008 hingga Oktober 2010, inilah buku yang pernah saya buatkan resensi. Judul-judul di bawah ini tidak saya susun berdasarkan waktu pembuatan resensi, tapi secara acak. Bila berminat membaca, semua resensi ini dapat Anda temukan di blog saya, atau silahkan googling saja.

Buku-buku Fiksi:

1. Warrior, Sepatu untuk Sahabat - Arie Saptaji
2. Novel Pangeran Diponegoro, Menggagas Ratu Adil - Remy Sylado
3. Pria Cilik Merdeka - Terry Pratchett
4. My Life as a Fake - Peter Carey
5. Kembang Jepun - Remy Sylado
6. Ma Yan - Sanie B. Kuncoro
7. Gajah Sang Penyihir - Kate DiCamillo
8. Tangan untuk Utik - Bamby Cahyadi
9. Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia - Agus Noor
10. Garis Perempuan - Sanie B. Kuncoro
11. Kumpulan Budak Setan - Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad
12. Ciuman di Bawah Hujan - Lan Fang
13. Teman Empat Musim - Ida Ahdiah
14. Bob Marley - Kumpulan cerita Sriti.com
15. Mata Keenam - Melody Carlson
16. Guardians of Ga'Hoole (Diculik!) - Kathryn Lasky
17. Olenka - Budi Darma
18. Rani dan Tiga Harta Peri (Tinker Bell) - Kimberly Morris
19. Demi Allah, Aku Jadi Teroris - Damien Dematra
20. The Highest Tide - Jim Lynch
21. Life of Pi - Yann Martel
22. Sang Pencerah - Akmal Nasery Basral

Buku-buku Nonfiksi:

1. Pacaran Asyik dan Cerdas - Arie Saptaji
2. Simply Amazing - J. Sumardianta
3. I Can (Not) Hear - Feby Indriani dan San C. Wirakusuma
4. Cita-cita - Iqbal Dawami
5. Dari Kepompong Menjadi Kupu-kupu - H.D. Iriyanto
6. Peta 50 - Tempat Makan Makanan Favorit di Malang - Haryo Bagus Handoko
7. Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya - Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace
8. Sukses Wirausaha Laundry di Rumah - Haryo Bagus Handoko
9. It's a Wonderful Life - Arie Saptaji
10. Amira and Three Cups of Tea - Greg Mortenson
11. Darah-Daging Sastra Indonesia - Damhuri Muhammad
12. The Power of Creativity - Peng Kheng Sun

Tiap buku memiliki kekhasan masing-masing. Ada buku yang begitu menyentuh seperti I Can (Not) Hear, It's a Wonderful Life, Teman Empat Musim atau Garis Perempuan. Ada buku yang tegang, imajinatif, dan membuat penasaran seperti Kumpulan Budak Setan, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia, Olenka, Tangan untuk Utik, atau Life of Pi. Ada yang begitu inspiratif seperti Cita-cita dan Amira and Three Cups of Tea. Ada yang begitu ringan seperti dua buku yang ditulis oleh Haryo Bagus Handoko. Ada juga yang lumayan berat dicerna dan menantang seperti Ciuman di Bawah Hujan, Darah-Daging Sastra Indonesia, atau Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya. Ada juga yang isinya campur-baur, namun tiap bagiannya memiliki keasyikan dan kenikmatan yang berbeda ketika dibaca seperti Bob Marley. Tidak bisa saya sebutkan semua kesan saya untuk semua buku di atas. Silahkan mampir ke resensi-resensi saya bila hendak tahu lebih jauh buku yang pernah saya ulas.

Masih ada enam buku, yaitu Keep Your Hand Moving karya Anwar Holid, The Ninth karya Ferenc Barnas, Beginning Theory karya Peter Barry, Bulan Celurit Api karya Benny Arnas, Musim yang Menggugurkan Daun karya Yetti A.Ka dan sebuah buku kumpulan puisi delapan penyair muda (disunting oleh Pringadi Abdi Surya) berjudul Teka-teki tentang Tubuh dan Kematian yang resensinya sudah saya buat, sedang saya buat, atau sedang saya rencanakan untuk diresensi sampai akhir Oktober. Buku yang sudah saya resensi belum bisa saya tampilkan secara online karena beberapa pertimbangan.

Dari pengalaman ini, saya beranggapan kalau meresensi buku tak selalu mudah. Kadang melelahkan. Saya mengindahkan prinsip yang dimiliki oleh Hernadi Tanzil, guru saya itu. Ia berkata suatu waktu kepada saya saat kami chatting, "Saya tidak akan meresensi buku sebelum saya selesai membacanya." Buku yang tebalnya ratusan halaman, dibaca beberapa minggu, lalu dibuatkan resensinya, belum tentu dimuat koran. Membacanya saja kadang melalahkan bila kondisi pikiran dan tubuh lagi tak menentu. Belum lagi mendapat kenyataan kalau resensi itu ditolak. Tapi, itulah yang sering saya alami: resensi yang sudah saya buat di atas lebih banyak yang ditolak koran daripada yang dimuat. Mungkin analisis saya kurang tajam, atau bahasanya kurang mantap, atau apalah. Yang jelas dan pasti, keputusan memuat resensi ada di redaktur koran, dan mereka yang lebih tahu jawaban mengapa sebuah resensi layak dimuat atau ditolak.

Namun, terlepas dari semua penolakan yang pernah saya terima, saya menganggap meresensi buku sebagai pekerjaan yang mengasyikkan. Saya suka melakukannya di warung kopi. Ruang kamar kos saya kadang begitu tampak membosankan: empat tembok yang sama selalu saya hadapi. Di warkop ada suasana berbeda yang asyik buat meresensi buku. Nah, pekerjaan apa lagi yang dapat saya lakukan di warkop selain meresensi buku -- daripada tengak-tenguk seperti orang stres?

Oya, satu hal yang terakhir, gara-gara saya suka meresensi buku-buku sastra sejak awal tahun ini, beberapa orang menjuluki saya esais, bahkan ada yang menyebut saya kritikus sastra. Duh, rasanya kok berat ya julukan itu? Jujur, saya tidak tahu apa beda esai, kritik, atau resensi. Identitas yang saya cantumkan di akhir resensi biasanya "Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo", atau "pembaca dan penikmat sastra Indonesia". Bagi saya, tulisan yang saya buat sebagai ulasan atas sebuah karya sedapat mungkin saya ulas dengan apreasiasi dan timbangan yang memadai. Bila ada wacana dan ilustrasi yang termuat di dalamnya (yang tampaknya menjadi salah satu syarat bagi esai atau kritik), saya menganggap itu sebagai selingan atau pemanis ulasan.

Bulan depan, rencananya saya akan berhenti meresensi buku dulu. Saya ingin melakukan variasi sedikit. Seperti yang saya sebutkan, kadang melelahkan mencerna sebuah karya, mengapresiasinya, lalu menganalisisnya. Mungkin sampai bulan Maret 2011, saya berhenti sejenak mengulas buku, dan beralih mengerjakan karya-karya kreatif saya sendiri yang belum saya ketahui apa itu -- mungkin menulis cerpen, puisi, novel, atau buku, atau apalah yang lainnya.

Demikianlah catatan ini dibuat. Kiranya dunia perbukuan dan sastra Indonesia selalu marak dengan ulasan dan apresiasi dari para pembacanya.

Malang-Sidoarjo, 17-18 Oktober 2010
Sidik Nugroho

16.10.10

Potret Pengucapan Syukur yang Bersahaja

Judul buku: It's a Wonderful Life
Penulis: Arie Saptaji
Penerbit: Gloria Graffa
Tebal: 184 halaman
Cetakan pertama, 2010

"Les hommes sont tous condamnés à mort avec des sursis indéfinis."

~ Victor Hugo

"Semua orang telah dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan yang tidak ditentukan," demikian yang tertulis dalam buku klasik karya Victor Hugo, Hari Terakhir Seorang Terpidana Mati. Hidup adalah kefanaan, dan tiap manusia tidak pernah tahu kapan menjemput ajalnya masing-masing. Sayangnya, tak jarang begitu banyak orang yang menyia-nyiakan hidupnya karena merasa mendapat banyak hal yang tidak pantas.

Kekecewaan, kehilangan dan segala kepahitan yang dialami seseorang bisa terjadi sedemikian parah. Tak jarang, segala hal tak baik tersebut membuat seseorang memutuskan mandek untuk meraih hal yang berharga dalam hidup ini, bahkan mengakhiri hidupnya. Lewat bukunya, Arie Saptaji ingin menunjukkan hal-hal yang semestinya membuat kita bersyukur.

"It's a wonderful life," kata-kata yang menjadi judul buku ini sama persis dengan judul sebuah film klasik yang melegenda. Kisahnya tentang seorang bankir, George Bailey, yang hampir kehilangan segalanya karena hutang dan kealpaan asistennya. Semasa kecil ia juga mengalami kecelakaan yang membuat sebuah telinganya tuli. Di masa muda ia juga mengurungkan niat untuk menjelajah dunia karena ayahnya menghendaki ia meneruskan bisnis keluarga.

Namun, keluarga yang ia miliki adalah anugerah terbaiknya. Titik balik terbesar dalam hidupnya ia dapatkan ketika menyadari betapa istri, keempat anaknya dan orang-orang di sekelilingnya adalah anugerah-anugerah yang tak bisa ditukar dengan apa pun. Nah, seperti George Bailey yang tak luput dirundung malang, Arie Saptaji mengisahkan banyak hal yang pribadi dalam bukunya ini: hal-hal yang membuat hidupnya pantas disyukuri.

Dalam sebuah bagian, Arie mengisahkan Amadeus Aaron, anaknya yang meninggal hanya lima jam setelah ia lahir prematur. Dengan lugas dan tegar Arie menuliskan catatan dan renungannya tentang kepergian Amadeus yang mendadak dan tidak diharapkan siapa pun. "Sepanjang kebaktian penghiburan, saya hanya bisa menatap langit Yogya yang biru cerah bertabur serpihan awan putih," tulisnya dengan lirih dan indah. Di masa lalu, seorang penyair terkenal bernama J.E. Tatengkeng juga menuliskan puisi yang begitu lirih atas kepergian anaknya yang baru saja lahir:

Anak kami Tuhan berikan
Anak kami Tuhan panggilkan
Hati kami Tuhan hiburkan
Nama Tuhan kami pujikan

Seperti itulah sebuah potret pengucapan syukur yang Arie suguhkan. Tulisannya membuat kita terpana dan merenung: betapa kehidupan dapat ditilik dari sisi yang lain. Tulisannya membuka mata batin yang tertutup oleh kedegilan hati, dan menjelaskan daya lihat kita yang kabur untuk memahami maksud dan rencana Tuhan.

Dalam bagian-bagian lain Arie mengisahkan dan mengajak pembaca merenungkan banyak hal seputar kehidupan sehari-hari dalam keluarga: hal-hal yang bersahaja dan terkesan remeh-temeh seperti bagaimana memilih tayangan yang baik di televisi, meluangkan waktu berjalan-jalan bersama anak-anak, mensyukuri berkat yang diberikan Tuhan dalam keluarga lewat pekerjaannya sebagai seorang penulis dan penerjemah.

Ibarat lagu, apa yang Arie tuliskan sama seperti yang pernah dinyanyikan Welyar Kauntu, "Bila Engkau tak besertaku, kami tak mau berjalan. Kuperlu Tuhan pimpin langkahku dengan kasih karunia-Mu." Nyanyian yang dikembangkan dari beberapa ayat di Keluaran 33 ini mewakili butir-butir renungan yang Arie sampaikan.

SELAIN hal-hal di atas, Arie juga menceritakan sebuah kisah yang menggugah tentang pertemuannya dengan sahabatnya di dalam penjara. Sahabatnya ini adalah salah satu contoh kegigihan hidup yang nyata. Ia mengingatkan kita pada sosok Rubin Carter yang diperankan Denzel Washington dalam film Hurricane. Di dalam penjara si sahabat ini tidak mandek dan bersedih hati. Ia malah suka menulis. Suatu hari ia menulis sebuah resensi atas buku The Impact (karya Arie Saptaji juga) dan menjadi pemenang.

Ada tiga hal lain dalam buku ini yang awalnya terasa agak melenceng dari bagian-bagian lain. Itu adalah bagian tentang Paskah, Natal, dan Kenaikan Kristus. Terasa agak melenceng, karena tiga bagian ini tak membahas hal-hal yang terjadi sehari-hari. Terutama pada bagian tentang Kenaikan Kristus, Arie menghadirkan bahasan yang agak teologis.

Namun, dengan menyertakan bagian-bagian ini, agaknya Arie hendak menggarisbawahi bahwa kelahiran, kematian-kebangkitan dan kenaikan Kristus adalah peristiwa-peristiwa yang penting. Dari ketiganya kita memperoleh alasan mengapa kita perlu senantiasa bersyukur dalam hidup dan yakin bahwa nantinya, setelah kita menjalani kehidupan yang fana ini, ada upah yang akan kita terima dalam kerajaan Allah dan kehidupan kekal.

BEGITULAH Arie Saptaji menyampaikan catatan-catatannya yang reflektif tentang kehidupan. Di antara dua puluh lebih buku lain yang sudah ia tulis, baru buku ini yang terasa begitu pribadi. Di dalamnya juga ada foto-foto pribadi yang disertakan: foto keluarga, foto pernikahan, foto ketika ia mengantar anaknya bersekolah, juga foto ketika ia menimang Amadeus Aaron, putranya yang telah tiada.

"Lewat hidupmu yang hanya lima jam, engkau memperlihatkan betapa kasih Allah itu adalah gunung kekuatan kita. Kami akan meneruskan perjalanan. Di depan tak ayal masih akan ada badai," demikian beberapa bagian "surat perpisahan" yang Arie tuliskan untuk Amadeus Aaron.

Dum vita est, spes est. Ketika masih ada kehidupan, di situ pula masih ada harapan, demikian Cicero pernah menulis suatu ketika. (*)

Sidoarjo, 1-2 Oktober 2010

1.10.10

Fabel yang Digarap Penuh Kesungguhan

Judul Buku: Guardians of Ga’ Hoole (Diculik!)
Penulis: Kathryn Lasky
Penerjemah: T. Dewi Wulansari
Tebal buku: 338 halaman
Cetakan pertama, 2010

Aku telah menyelamatkan diriku dengan memberi kepercayaan kepada sayap-sayap muda. Terberkatilah mereka yang percaya, mereka pasti terbang.
~ Doa kuno burung hantu, Diculik!, halaman 245

BILA kita memperhatikan buku-buku untuk anak dan remaja yang dijual di toko-toko buku besar, maka tampak jelas bahwa dongeng dan epik-fantasi cukup digandrungi akhir-akhir ini. Cerita-cerita tentang manusia yang hidup di negeri khayalan – atau pun di planet Bumi – dikisahkan dengan antusias oleh para pencerita. Namun, masih banyak kisah yang melulu menghadirkan makhluk-makhluk yang sama seperti peri, kurcaci, kuda sembrani, raksasa, dan sejenisnya.

Sebaliknya, cerita-cerita tentang hewan atau fabel, tampaknya masih digarap kurang maksimal. Banyak penulis yang menghadirkan fabel dalam bentuk cerita bergambar atau kumpulan cerita pendek yang tipis-tipis. Ada juga cerita yang ditambahi dengan berbagai pesan moral secara tersurat, seakan-akan para pembaca tidak dapat memetik sendiri pesan itu.

Lewat bukunya Guardians of Ga’ Hoole – dalam edisi Indonesia diterjemahkan dengan judul Diculik! – Kathryn Lasky melakukan penelusuran yang total atas burung hantu: dari cara bertelurnya, perkembangan bentuk tubuhnya, jenis-jenis burung hantu, juga perilaku dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Lewat drama yang cukup menghentak sejak awal cerita, Kathryn menyuguhkan bacaan yang menarik disimak hingga tuntas.

Cerita di buku ini menghadirkan seorang burung hantu muda bernama Soren. Ia baru saja sangat gembira karena memiliki adik perempuan yang manis bernama Eglantine. Dia sangat menyukai nama itu. Ketika melihat adiknya lahir, betapa ia sayang padanya. Tak lama setelah kelahiran itu, kedua orang tua Soren memutuskan untuk pergi berburu, mencari makanan untuk persediaan di musim dingin yang akan segera tiba.

Soren mendadak terjatuh dari atas pohon ketika sedang berdiri di pinggir lubang sarangnya. Ia sedang mengintip keluar, menunggu kedatangan kedua orang tuanya yang sebenarnya masih lama tiba. Soren yang masih belum bisa berjalan di dahan apalagi terbang, meminta abangnya, Kludd, untuk menolongnya. Bukannya menolong, Kludd yang sinis malah menyalah-nyalahkannya dan menertawakannya.

Tiba-tiba Soren diculik! Ia dibawa ke sebuah tempat bernama Sekolah untuk Burung Hantu Yatim Piatu. Di sekolah itu ia bertemu dengan Gylfie, seekor burung hantu perempuan yang selalu punya rasa ingin tahu. Persahabatan mereka terjalin begitu alami dan manis. Mereka berdua selalu saling mengingatkan bahwa saat itu pikiran mereka sedang dikacaukan oleh pimpinan sekolah yang jahat.

Di sekolah itu ada semacam penomoran dan penggantian nama yang membingungkan para burung hantu yang diculik dan ditawan. Nah, di sinilah cerita tentang kedua burung hantu ini jadi agak membingungkan. Selain karena terjemahan dalam edisi Indonesia dilakukan kurang luwes, pada bagian ini, konflik utama yang mau dijadikan fokus cerita agak bercabang-cabang. Bagian yang sebenarnya bisa tampil lebih menggigit, malah jadi terasa bertaring tumpul.

Namun, pada intinya, penculikan yang dilakukan terhadap Soren, Gylfie, dan bahkan ribuan anak burung hantu lainnya di sana, membuat mereka lupa akan jati-dirinya. Mereka dibuat bingung sehingga perlahan-lahan lupa bahwa mereka adalah makhluk-makhluk istimewa yang diciptakan untuk terbang tinggi di malam hari. Soren dan Gylfie menolak untuk melupakan diri mereka.

Dengan bantuan Grimble, seekor burung hantu yang nyaris lupa-diri akibat dibingungkan, mereka berhasil terbang dan melarikan diri pada akhirnya. Mereka terbang bersama doa turun-temurun para burung hantu, seperti yang dikutip dalam pembukaan di atas.

DALAM waktu dekat, film adaptasi atas buku ini juga akan ditayangkan di bioskop-bioskop di Indonesia dengan judul Legend of the Guardians: The Owls Of Ga' Hoole. Bila disimak di situs legendoftheguardians.warnerbros.com, visualisasi yang dibuat atas beberapa karakter dari buku ini sangat manis dan lucu. Film ini akan diangkat dari tiga buku awal yang dikarang oleh Kathryn Lasky: The Capture, The Journey dan The Rescue; sementara buku ini adalah terjemahan dari seri pertama, The Capture.

Jadi, buku ini nantinya mungkin hanya akan teradaptasi menjadi sepertiga kisah dalam keseluruhan film, walau kita semua tentunya tahu, bahwa sebuah buku atau novel, ketika diadaptasi menjadi sebuah film, lebih cenderung menjadi lebih pendek akibat terjadinya beberapa pemangkasan. Berbeda dengan adaptasi atas novelet atau cerpen, yang justru terjadi sebaliknya. Apalagi buku ini terhitung tebal, nantinya mungkin akan banyak bagian yang hilang.

Terlepas dari bagaimana film itu nantinya hadir di hadapan para penyuka kisah fantasi, totalitas yang ditunjukkan Kathryn Lasky dalam penggarapan buku tentang kisah Soren dan kawan-kawannya ini sungguh besar. Dalam fantasticfiction.co.uk/l/kathryn-lasky dicatat, masih ada 16 judul lain yang menjadi sekuel buku pertama ini. Kathryn Lasky selama ini memang menghabiskan waktunya untuk mengamati perilaku dan morfologi burung hantu. Awalnya ia berencana menulis buku nonfiksi tentang burung hantu, namun kemudian menyadari bahwa tugas itu tidak mudah: burung hantu baru muncul di malam hari, dan mereka suka sekali bersembunyi. ***

Sidik Nugroho
Malang, 25 September 2010

30.9.10

"keluarga tetaplah keluarga"

: catatan kecil setelah menyaksikan aftershock.

"sudah banyak musibah yang kita alami. sudah banyak orang yang mati. baiklah kita tetap bersama." ~ aftershock

awalnya, aku merasa apes pergi ke bioskop sutos xxi di sby yang jaraknya 15 km dr rumah kosku: begitu sampai di sana, karcis utk film aftershock yang tayang jam 20.00 tinggal 1 biji, dan bangku itu ada di barisan paling depan, di bagian tengah!

namun, itulah bagianku. dan hingga film berakhir, aku tidak merasa menyesal pernah duduk di bangku depan menyaksikan film ini.

setidaknya aku mencatat ada 4 hal yang membuatku beranggapan kalau aftershock pantas dapat 4 dari 4 bintang yang tersedia, atau 10 dari 10 bintang yang tersedia.

pertama adalah potret film ini yang tersaji begitu utuh atas kemalangan sebuah keluarga. negeri yang luluh-lantak, nyawa-nyawa yang habis melayang, dan kepedihan yang besar di china akibat gempa tektonik itu tak membuat para sineas kehilangan fokus untuk menyajikan banyak kisah atau banyak keluarga. ya, hanya satu keluarga yang disorot.

inilah yang membuatku sadar: penderitaan sehebat apa pun yang terjadi di sebuah masyarakat atau bangsa, justru bisa dimaknai lebih dalam saat melihat satu keluarga yang mengalaminya, tidak secara keseluruhan memandangnya.

kedua adalah solidaritas yang terbentuk dalam diri seseorang karena ia pernah mengalami hal yang sama. lewat film ini aku diingatkan dengan begitu banyak orang -- bahkan kadang juga terjadi pada diriku sendiri -- yang kulihat acuh dan tak ambil pusing dengan penderitaan orang lain. bila seseorang sudah pernah tergoncang begitu hebat, dan orang itu masih memiliki hati nurani yang lembut, maka ia akan tergerak untuk menjadi relawan dan penolong untuk meringankan orang lain yang terkena goncangan serupa.

ketiga adalah jalinan kasih di antara para tokohnya. tanpa terlalu banyak bumbu romantika yang kelewatan, film ini menghadirkan kisah kasih yang membumi. terutama, aku terkesima dengan kasih-sayang sepasang suami-istri tentara yang begitu besar terhadap seorang anak yatim.

terakhir adalah kasih ibu yang kadang disalahmengerti oleh anak-anaknya. di dalam aftershock aku dibuat terpana bagaimana seorang ibu tetap bertahan pada tradisi dan keyakinan yang dimilikinya, juga ketabahannya untuk menanggung penderitaan pasca gempa raksasa yang terjadi. pergulatan batin seorang ibu yang bimbang dan diliputi trauma benar-benar ditampilkan maksimal.

***

inilah sebuah film yang pantas menjadi teman refleksi bagi orang-orang yang pernah mengalami penderitaan akibat malapetaka atau kehilangan. aku tidak bisa membayangkan perasaan mereka yang selamat dari tsunami aceh -- atau mereka yang rumahnya terendam lumpur lapindo -- bila menonton film ini.

sebuah keluarga tercerai-berai akibat malapetaka. waktu terus berjalan, trauma akibat malapetaka susah dihapuskan... namun pada akhirnya, hasrat untuk kembali lagi bersama satu keluarga terus ada. kisah-kasih dalam keluarga dengan segala kenangan dan penderitaan yang ada di dalamnya adalah bahasa yang kurasa akan selalu indah untuk disimak. karena, seperti yang dinyatakan salah satu tokohnya:

"keluarga tetaplah keluarga."

sidoarjo, 29 sept 2010

23.9.10

Ratna Telah Pergi

Tadi siang, pas nongkrong di warkop, aku dan beberapa yang turut nongkrong bersama di sana, terpana melihat seorang TKW yang habis digebuki dan diperkosa dalam sebuah siaran berita. Ia merintih dari atas ranjang. Lalu aku teringat renungan ini, yang pernah kubuat beberapa tahun silam, tentang seorang TKW.

***

"Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya." (Mazmur 116:15)

7 September 2008. Hari masih pagi, hampir jam tujuh. Hari itu Minggu, dan saya sedang menyetrika baju untuk pergi ke sebuah gereja yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya di Surabaya. Saya diundang teman saya untuk pergi ke sana.

Ketika menyetrika, dengan jelas saya mendengar siaran televisi dari kamar teman kos saya. Berita menyebutkan seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang baru saja meninggal dunia. Namanya Ratna.

Yang menarik dari berita itu: tidak ada satu pun saudara Ratna yang mengantarkan kepergiannya saat ia sakit beberapa hari hingga menuju ke liang lahat. Hanya beberapa temannya seprofesi. Sejenak kegiatan menyetrika saya hentikan, dan merenung: betapa pedih hatinya ketika saat-saat menjelang kematiannya. Sebatang kara, menderita.

Beberapa minggu kemudian, saya mendengar kata-kata menarik dari seorang pendeta. Ia mengutipnya dari D.L. Moody, seorang pendeta kenamaan di masa lalu. Kurang-lebih Moody menyatakan, "Betapa banyak karangan bunga yang kita berikan bagi seseorang ketika ia meninggal. Betapa mulia kata-kata yang kita pujikan bagi orang-orang yang telah pergi. Dan kita lupa, bahkan enggan, untuk melakukan hal yang sama semasa mereka masih hidup."

Memang, Ratna kasus yang lain -- ia pergi sendiri. Nah, pernahkah kita berpikir tentang orang-orang terdekat kita yang suatu saat juga akan pergi? Ketika membayangkan mereka suatu saat tak lagi dapat membuka matanya, sebaiknyalah di saat ini kita membahagiakannya, dengan cara apa pun yang dapat kita lakukan. ***

"Semua penyakit berakar pada ketiadaan atau keringnya cinta." (Dr. Bernie Siegel)

31.8.10

sedikit cerita proses kreatif membuat novel

awalnya, suatu malam aku iseng menggambar sebuah peta di kertas. peta dari hasil imajinasiku sendiri. lalu aku beri nama kota, pegunungan, hutan, sungai, dan lain-lain di peta itu. setengah jadi, peta itu membuatku teringat pada sebuah naskah ceritaku yang baru kubuat 4 bab di tahun 2007.

ceritaku itu berkisah tentang seorang tokoh bernama tuan malam. cerita itu pun kutambahi dengan setting yang menggunakan peta itu. (awalnya, blog-ku yang kubuat di tuanmalam.blogspot.com akan kuisi dengan cuplikan-cuplikan dari novelku itu; kini blog itu malah berisi berbagai tulisan campur-aduk.)

peta itu, yang kugarap pada september 2008, membuatku mulai menggarap beberapa bab cerita lagi. namun penggarapan itu terhenti di tengah jalan. laptopku sempat rusak beberapa bulan, dan beberapa pekerjaan lain membuatku tidak konsentrasi mengerjakan novelku.

bulan maret atau april 2009, aku bertemu dengan seorang cewek di smuk cor jesu. waktu itu aku diminta mengisi materi jurnalistik. di situlah aku mengenal angelia lionardi (orange skyline). di sma itu angelia sering membuat ilustrasi untuk majalah sekolahnya. setelah kuceritakan tentang novel yang tengah kubuat, ia sangat antusias ingin menggarap ilustrasinya.

angelia membuat semangat menulisku muncul lagi. selama beberapa bulan akhirnya novel ini menjadi 12 bab. namun, karena di waktu-waktu ini aku juga masih menggarap renungan, esai, cerpen, dan kadang meresensi buku, fokus kepenulisanku mulai tak terarah.

kalau tak salah, menjelang akhir tahun 2009, novel itu tergarap 18 bab. aku ada rencana merampungkan novel itu di bulan februari 2010, namun lagi-lagi karena konsentrasiku menulis tidak fokus, akhirnya tertunda-tunda lagi. (beberapa tulisanku di saat-saat ini bisa disimak di blog tuanmalam.blogspot.com, ulasansastra.blogspot.com, dan kajiansosialdanbudaya.blogspot.com.) sampai bulan april 2010, kalau tidak salah, novel ini baru jadi 21 bab.

suatu malam, kalau tak salah bulan mei 2010, angelia sms aku. dia bertanya kapan novelku rampung. dia juga bercerita kalau adiknya yang masih kelas 6 sd sangat menyukai ceritaku. nah, kesukaan adiknya pada novelku inilah yang pada akhirnya membuatku sangat bersemangat merampungkan novelku.

setelah pulang liburan kenaikan kelas bulan juni lalu, kurampungkan novel itu hingga mencapai 25 bab. jumlah halamannya ada 160, ketikan 1,5 spasi. angelia kemudian merampungkan ilustrasi yang kuminta untuk dibuatkan di tiap bab. akhir juli, novel ini dan ilustrasi-ilustrasinya benar-benar selesai.

aku sangat lega merampungkan ceritaku kali ini. ini adalah karya yang kubuat dengan sangat serius dan hati-hati. ini kali kedua aku membuat novel. aku mencetak naskahku beberapa kali demi memudahkan proses editing (aku kadang masih membuat salah kalau mengedit naskah di depan layar komputer). aku juga memberikan bayaran untuk ilustratorku karena walaupun awalnya dia tidak minta bayaran, hasil kerjanya sungguh baik dan pantas dihargai dengan sejumlah uang. aku juga sempat kehilangan flashdisk yang sudah memuat 21 bab novel ini dan beberapa puluh tulisanku yang lain (untungnya aku punya back-up-annya).

aku memeriksa keseluruhan naskahku berkali-kali di akhir juli, sehingga tadi siang, saat naskahku ini kukirimkan ke penerbit lewat pos, aku sudah lega karena bagiku sudah tidak ada lagi kesalahan tulis yang kutemukan.

pelajaran penting yang kupetik dari membuat novel kali ini adalah kontinyuitas. melanjutkan novel setelah meninggalkannya beberapa bulan benar-benar menguras energi. kita bisa lupa dengan apa yang sudah kita tulis; kita bahkan mungkin kehilangan emosi atau semangat untuk melanjutkan cerita lagi. untuk kontinyuitas itulah diperlukan totalitas dan stamina yang mantap. menulis novel adalah pekerjaan yang tidak ada satu orang pun yang menyuruh dan mengawasi. pekerjaan ini sepenuhnya berbekal kebulatan tekad. menulis novel seperti menggeser kenyamanan, menaklukkan diri sendiri, dan belajar hidup konsisten. makanya, stephen king dalam "on writing" memberi saran agar para penulis novel hanya boleh beristirahat sehari dalam seminggu.

nah, pada akhirnya, aku berharap novel ini bisa diterbitkan. aku sudah menyiapkan enam seri lanjutan dari novel ini. namun, kalau pun penerbit tidak ada yang mau menerbitkan novelku, aku akan tetap menggarap keseluruhan serial novelku tentang tuan malam yang ada di negeri imajinasiku bernama harigia.

suatu saat, cepat atau lambat, kuyakin akan ada penerbit yang tertarik untuk menerbitkannya.***

sidoarjo, 5 agustus 2010

catatan:

bagi yang berminat, untuk melihat beberapa cuplikan novel, silahkan mampir ke blog tuanmalam.blogspot.com, lalu klik label/kategori yang berjudul "tuan malam" (http://tuanmalam.blogspot.com/search/label/Tuan%20Malam)

30.8.10

kali pertama mendengar yohanes menangis

"adikku, willy, meninggal hari ini."

***

aku punya seorang teman baik. dia bernama yohanes. yohanes tak seperti orang normal lainnya. dia memiliki sedikit gangguan kejiwaan. waktu bayi ia kejang-kejang akibat panas tinggi. ibunya pernah cerita kepadaku kalau gara-gara panas tinggi, sumsum tulang belakangnya disedot.

yohanes adalah orang yang sangat rajin ke gereja. di gereja bethany di malang, semua jadwal kebaktian minggu di gereja itu (sebanyak empat kali) ia ikuti. dia pergi ke gereja sambil membawa helm, tapi berjalan kaki. helmnya ia bawa buat jaga-jaga, barangkali ada yang mau memberinya tumpangan waktu pergi atau pulang dari gereja. bukan hanya ibadah minggu, tapi di hari-hari lain (kecuali hari senin) yohanes selalu ke gereja.

yohanes ferry purwonegoro, sahabatku, doyan banget sama sms ke artis2 pake 9090. kalo gak salah, malam ini dia lagi sms ke agnes monica. :-)

aku mengenal yohanes sejak tahun 2005. saat itu aku menjadi ketua dewasa muda di bethany, dan ketua pengajaran untuk youth bethany. perkenalanku dengan yohanes begitu unik. dia menunjukkan beberapa diktat teologi dari kampus saat (seminari alkitab asia tenggara) waktu kenalan denganku; dan aku mengira kalau orang ini rohaniwan awalnya!

tak sampai dua jam setelah perkenalan itu aku segera tahu kalau orang ini tidak seperti orang normal. dia bercerita kalau pacarnya bernama agnes monica, omongannya melantur ke mana-mana, dan wajahnya selalu nyengir.

kami kemudian akrab karena rumahku berada di dekat gereja bethany. di tahun 2005-2006, hampir tiap minggu yohanes tidur di rumahku kalau pulang dari gereja. keesokan paginya ia kuantarkan pulang ke rumahnya. kadang kalau aku tak sibuk kuliah atau menulis kuajak dia minum kopi atau jalan-jalan lihat pemandangan di kota batu. yohanes sangat suka dengan susu segar yang dijual di dekat alun-alun kota batu.

selama ia bersamaku di saat-saat ini, aku beberapa kali mengajarinya lagi berhitung, dan menulis menggunakan spasi antar-kata. namun aku tak pernah berhasil. yohanes, yang usianya lebih tua dua tahun dari aku, tak pernah bisa berubah lebih baik motoriknya untuk memahami penjumlahan, pengurangan, perkalian, juga memisah kata demi kata.

yohanes juga susah diajari logika. suatu hari handphone-nya ia jual dengan harga murah karena uangnya dipakai untuk membeli dua botol oli mesran yang sedang mengadakan undian berhadiah.

ia juga mempunyai khayalan yang unik dan kelewatan. gara-gara layanan sms artis dibuka di televisi lewat 9090 beberapa tahun silam, ia keranjingan menggunakan handphone-ku untuk meng-sms arie wibowo, laudya cintya bella, agnes monica, revalina temat, dll. dia meng-sms para artis itu karena minta dikirimi duit 2 milyar atau bahkan 1 trilyun.

karena susah menjelaskan kalau artis mau membaca sms-nya, mengirimi duit betulan buatnya, dan lain-lain dan sebagainya, aku biarkan saja kalau waktu dia di rumahku mengetik-ngetik sendiri apa yang mau dimintanya untuk para artis itu. ketikannya tidak kukirim ke 9090, tapi kusimpan sebagai draft. jujur, aku kadang berbohong kepadanya karena kehabisan akal untuk menjelaskan bahwa artis tak semudah itu mau memberi uang buat orang asing.

tapi dia tetap ngeyel dan berkata kalau artis banyak duitnya, pasti mau mengirimi dia duit. nah, akhirnya yang ketularan "edan" malah aku. suatu kali aku malah sempat mengarang cerita kalau ari wibowo rumahnya kebakaran; dan agnes monica kecurian. uang mereka ludes. uang yang dipakai buat dikirim ke dia jadi batal. dia percaya pada ceritaku.

di balik semua kekurangannya, yohanes membuatku belajar tentang pentingnya menepati janji. dia tidak pernah terlambat satu kali pun untuk acara-acara yang sudah ia jadwalkan untuk dihadiri. ia juga selalu ceria. bila ada di gereja ia selalu menyanyi penuh semangat.

***

nah, hari ini, baru pertama kali aku mendengar yohanes menangis. siang tadi ia mengabari kalau adiknya yang bernama willy telah meninggal dunia. adiknya itu masih muda, usianya baru 20-an tahun. ia meninggal karena tabrakan. tabrakan itu terjadi kemarin.

mendengar yohanes menangis, seketika leherku sesak. belum pernah aku melihatnya atau mendengarnya menangis. paling banter selama ini ia hanya cerita kalau ada orang-orang yang menggodai dia sampai keterlaluan.

mendengar yohanes menangis membuatku berpikir bahwa manusia dengan kekurangan seperti yohanes pun bisa merasakan arti sebuah kehilangan.

malam ini, aku berharap, yohanes dan keluarganya bisa ikhlas merelakan kepergian adiknya.

***

sidoarjo, 6 agustus 2010

25.8.10

pertobatan seorang budak iblis

ulasan film: solomon kane

bila anda sedang mencari tontonan yang menghibur sekaligus reflektif, nah, solomon kane adalah salah satu pilihan yang pas. solomon kane adalah sebuah film kepahlawanan yang dikemas dengan apik. solomon kane adalah tokoh yang diciptakan oleh robert howard dalam sebuah novel awalnya. kisahnya kemudian diadaptasi dalam bentuk komik, juga film ini.

ketika remaja, solomon dituntut ayahnya untuk menjadi seorang biarawan. namun ia menolak tuntutan itu. ia meninggalkan ayahnya; dan ayahnya mengutuknya karena pembangkangan itu. sebelum ia meninggalkan ayahnya, ia bahkan membuat terluka abangnya yang hendak memperkosa seorang wanita.

demikianlah solomon kane menjadi petualang dan pencari harta yang beringas. ia tumbuh-besar di berbagai tempat, memimpin sekelompok pasukan yang berlaku sangat jahat terhadap musuh-musuh mereka. ia bahkan menyebut dirinya iblis. tubuhnya penuh tato dan sayatan. di punggungnya ada sebuah sayatan besar bekas luka yang berbentuk salib.

saya jadi teringat sebuah film lain, constantine, yang dibintangi keanu reeves, saat menonton film ini. ada kesamaan di antara keduanya: tentang bagaimana seseorang menjadi budak setan karena tipu-muslihat, dan sebuah jalan yang harus ditempuh untuk lepas dari perbudakan itu.

suatu ketika solomon bertobat dari dosa-dosanya. inilah yang menjadi adegan awal di film ini. solomon tak berhasil mengalahkan seorang penyihir. ia terlempar dari sebuah menara yang tinggi, lalu hidup membiara dengan sekelompok orang suci.

pertobatan solomon memakan waktu satu tahun. kita diajak untuk melihat begitu drastis hidupnya berubah. ia jadi lebih pengalah, sabar, dan tampak lebih kalem. namun, kehidupan lamanya terus membayanginya. tangannya yang prigel membunuh dan lincah bermain pedang, kesukaannya berkelahi, akhirnya menjadi bagian hidupnya lagi setelah ia bertemu dengan sebuah keluarga yang malang.

di dalam keluarga ini ada seorang gadis bernama meredith yang ditawan oleh orang-orang biadab yang terkena pengaruh sihir. ayah, adik, dan abang meredith telah dibunuh dengan kejam oleh orang-orang biadab itu. nah, perjuangan solomon untuk mendapatkan meredith kembali, menjadi inti cerita ini.

kita kemudian akan dihibur dengan adegan-adegan pertarungan yang seru dan tak hiperbolis. film ini berupaya menghadirkan adegan-adegan pertarungan dengan masuk akal -- tidak seperti film-film kungfu mandarin, misalnya, yang di dalamnya ada tendangan seribu bayangan, atau gerakan super-cepat lainnya.

ada pula adegan-adegan horor yang membuat merinding, terutama saat solomon harus berhadapan dengan manusia-manusia yang wajahnya jadi mirip monster akibat terkena pengaruh sihir.

beberapa dialog dan ekspresi para aktor di film ini bahkan terkesan teatrikal. ada beberapa adegan yang sarat dengan muatan rohani kristiani: adegan saat solomon berdoa di sebuah gereja tua yang ujung-ujungnya menjadi sebuah pertempuran seru; atau adegan saat solomon digantung di salib saat hujan.

bagian yang tak terlupakan adalah pertarungan-pertarungan menjelang akhir cerita. di sini sutradara mengolah adegan demi adegan dengan amat menggugah. salah satunya adalah saat solomon harus berhadapan dengan sebuah monster mirip robot dalam film transformers yang besarnya sekitar 10 kali ukuran manusia dewasa.

dengan latar belakang amerika pada abad ke-16, solomon kane adalah film yang layak ditonton -- tapi lebih baik tidak ditonton bersama anak kecil. beberapa adegan di dalam film ini cukup brutal, walau tak sebrutal film lain, yaitu expendables, yang kini di indonesia tengah ramai digandrungi para pecinta film. penebusan atas dosa, pengorbanan, dan pertobatan, adalah muatan yang begitu gamblang disodorkan kepada penonton dalam solomon kane.

sidoarjo, 24-25 agustus 2010

16.8.10

mereka yang meninggal, dan renungan-renunganku

pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.
- pengkhotbah 7:2

kehilangan kakak lelaki berarti kehilangan orang yang mestinya bisa diajak berbagi pengalaman pada masa tua, yang mestinya membawa ipar perempuan, keponakan laki-laki dan perempuan ke dalam keluarga, orang-orang untuk meramaikan pohon kehidupanmu dan memberinya cabang-cabang baru. kehilangan ayah berarti kehilangan orang yang nasihat dan pertolongannya kaubutuhkan, yang menopangmu seperti batang pohon menopang cabang-cabangnya. kehilangan ibu... yah... rasanya seperti kehilangan matahari di atas sana. rasanya seperti kehilangan... maaf, lebih baik tidak aku teruskan.
- yann martel, life of pi, hlm 188

sejak dulu aku tak suka pesta-pesta. aku selalu menghindari keramaian dan kemewahan di dalam suatu acara. aku hampir tak pernah merayakan ultah, bahkan natal di gereja pun kadang ogah-ogahan kuikuti. terserah bila ada yang menganggapku bukan kristen sejati. toh semua orang tahu, kristus tidak lahir tanggal 25 desember.

sebuah kejadian yang menjadi salah satu titik balik dalam hal ini adalah ketika aku sering menjadi gitaris di gereja untuk ibadah pemakaman. beberapa kali aku mendampingi pendetaku untuk mengantar jenazah ke peristirahatan terakhir di yayasan gotong royong, dekat gereja bethany di malang.

suatu hari kulihat peti mati yang sangat indah. peti mati itu, di salah satu sisinya diukir dengan apik adegan perjamuan terakhir yang dulu pertama kali dilukis leonardo da vinci.

saat itu hatiku berbisik, "peti mati yang mahal, atau sebuah kehidupan yang mahal, yang menjadi bagianmu?" pengalaman itu kutuangkan dalam sebuah renungan pendek, bahwa kehidupan yang mahal adalah kehidupan yang kita isi dengan kesetiaan pada panggilan allah.

nah, kemarin, 14 agustus, aku pergi ke rumah temanku yang adiknya meninggal. adik temanku ini meninggal karena tabrakan. saat tabrakan, helmnya lepas dari kepalanya karena tak dikancing. ibu temanku begitu menyesali peristiwa ini. "anak muda zaman sekarang. susaaahnya dikasih tahu," katanya berulang-ulang.

begitu mendengar ibu temanku bercerita, segera aku teringat di suatu malam ketika aku nyaris mengalami hal serupa.

waktu itu aku tengah mengajari seorang teman naik sepeda motor. dia belum bisa sama sekali. dia menancap gas begitu laju sehingga aku yang ada di belakang langsung mengerem sepeda motor itu. motor berputar dengan cepat. seketika aku jatuh dan kepalaku menghantam tanah dengan begitu keras.

untungnya aku memakai helm. aku tidak bisa membayangkan bila aku -- yang saat itu tengah mengajarinaik motor -- melepas helmku. aku bergetar mengenang kejadian ini. begitu cepat ia melintas di benakku, mendatangkan trauma seketika.

kedua adalah berita yang jam 17.30 tadi baru saja kudengar dari guru dan sahabatku. ayahnya meninggal. ayahnya itu berusia 80 tahun lebih. selama ini selalu sehat walafiat, jarang sakit, bahkan masih kuat melakukan berbagai kerja berat.

beberapa minggu yang lalu aku dikabari kalau ayah sahabatku itu sakit, sempat diopname di rumah sakit. namun, pada akhirnya usia harus kalah pada kefanaan hidup. dalam usianya yang cukup panjang, bapak temanku itu kini berpulang.

mendengar berita ini aku merasa sedih, karena sahabatku ini mempunyai pengalaman yang mirip denganku. saat ia dulu belajar menulis, ia meminjam mesin ketik ayahnya. sementara aku, orang yang pertama kali berbicara soal menulis adalah bapakku.

waktu itu ayahku berkata kepadaku kurang lebih demikian, "nug, cobalah sekali-sekali kamu nulis. coba kirim ke koran atau majalah. bapak lihat-lihat, kamu punya bakat menulis."

aku ingat, saat itu, aku sedang ada masalah kecil dengan bapakku. aku malah menyanggah anggapannya. "untuk apa menulis segala? itu membuang-buang waktu," kataku. aku ingat, aku menyatakan hal itu dengan sengit.

minggu demi minggu berlalu, dan apa yang dikatakan ayahku selalu terngiang-ngiang di benakku. suatu saat kucoba. tahun-tahun berlalu, dan aku sampai sekarang masih belum bisa berhenti menulis. sampai sekarang, aku selalu bersyukur bisa menulis sesuatu. bapakku juga kadang memberi koreksi atas beberapa tulisanku, terutama renungan-renungan yang pernah kutulis beberapa tahun lalu

***

malam ini, aku tentu akan merenung panjang. kepergian dua orang -- satu masih berusia dua puluhan dan satunya berusia delapan puluhan -- jelas-jelas menjadi bukti bahwa manusia tak tahu kapan maut menjemput.

semoga keduanya tentram di alam baka; dan tentunya keluarga yang ditinggalkan ikhlas, tabah, dan rela.

namun, dua peristiwa ini telah menghadirkan dalam benakku kenangan-kenangan yang lain. kenangan akan pemeliharaan tuhan, kenangan akan kepedulian seorang bapak. terpujilah tuhan, yang membuat hidup ini indah karena ia menciptakan manusia dengan hati nurani yang bisa dipakai buat merenung.

sidoarjo, 15 agustus 2010

11.8.10

kertas kado merah muda

aku suka melihat kertas kado yang lucu itu:
bergambar bayi botak yang bibirnya nyengir
badannya hanya terbungkus sehelai popok
dalam berbagai posisi ia menjadi motif
yang begitu riang-gembira dan tanpa beban

kubungkuskan dua buah buku cerita
juga dua buah puzzle yang sederhana

saat mengamati bayi botak di kertas kado itu
tiba-tiba kuingat kau di masa lalu:

kau mengajak sapi dan kambing bicara
kau berdoa bagi pepaya agar ia cepat tumbuh-besar
kau teriaki ikan-ikan kecil yang berenang di parit
kau amati jalan kura-kura dengan mata berbinar
kaulah itu, dua-tiga tahun yang lalu

rambutmu kini panjang walaupun tipis
kau lancar bicara, pandai menari, dan suka tertawa

nanti, ketika kertas kado itu kaurobek
lalu kautemukan hadiahku di dalamnya
semoga matamu berbinar menyambut hadiahku

: selamat ulang tahun, usiamu lima tahun!

***

sidoarjo, sehari sebelum ramadhan 2010