31.8.10

sedikit cerita proses kreatif membuat novel

awalnya, suatu malam aku iseng menggambar sebuah peta di kertas. peta dari hasil imajinasiku sendiri. lalu aku beri nama kota, pegunungan, hutan, sungai, dan lain-lain di peta itu. setengah jadi, peta itu membuatku teringat pada sebuah naskah ceritaku yang baru kubuat 4 bab di tahun 2007.

ceritaku itu berkisah tentang seorang tokoh bernama tuan malam. cerita itu pun kutambahi dengan setting yang menggunakan peta itu. (awalnya, blog-ku yang kubuat di tuanmalam.blogspot.com akan kuisi dengan cuplikan-cuplikan dari novelku itu; kini blog itu malah berisi berbagai tulisan campur-aduk.)

peta itu, yang kugarap pada september 2008, membuatku mulai menggarap beberapa bab cerita lagi. namun penggarapan itu terhenti di tengah jalan. laptopku sempat rusak beberapa bulan, dan beberapa pekerjaan lain membuatku tidak konsentrasi mengerjakan novelku.

bulan maret atau april 2009, aku bertemu dengan seorang cewek di smuk cor jesu. waktu itu aku diminta mengisi materi jurnalistik. di situlah aku mengenal angelia lionardi (orange skyline). di sma itu angelia sering membuat ilustrasi untuk majalah sekolahnya. setelah kuceritakan tentang novel yang tengah kubuat, ia sangat antusias ingin menggarap ilustrasinya.

angelia membuat semangat menulisku muncul lagi. selama beberapa bulan akhirnya novel ini menjadi 12 bab. namun, karena di waktu-waktu ini aku juga masih menggarap renungan, esai, cerpen, dan kadang meresensi buku, fokus kepenulisanku mulai tak terarah.

kalau tak salah, menjelang akhir tahun 2009, novel itu tergarap 18 bab. aku ada rencana merampungkan novel itu di bulan februari 2010, namun lagi-lagi karena konsentrasiku menulis tidak fokus, akhirnya tertunda-tunda lagi. (beberapa tulisanku di saat-saat ini bisa disimak di blog tuanmalam.blogspot.com, ulasansastra.blogspot.com, dan kajiansosialdanbudaya.blogspot.com.) sampai bulan april 2010, kalau tidak salah, novel ini baru jadi 21 bab.

suatu malam, kalau tak salah bulan mei 2010, angelia sms aku. dia bertanya kapan novelku rampung. dia juga bercerita kalau adiknya yang masih kelas 6 sd sangat menyukai ceritaku. nah, kesukaan adiknya pada novelku inilah yang pada akhirnya membuatku sangat bersemangat merampungkan novelku.

setelah pulang liburan kenaikan kelas bulan juni lalu, kurampungkan novel itu hingga mencapai 25 bab. jumlah halamannya ada 160, ketikan 1,5 spasi. angelia kemudian merampungkan ilustrasi yang kuminta untuk dibuatkan di tiap bab. akhir juli, novel ini dan ilustrasi-ilustrasinya benar-benar selesai.

aku sangat lega merampungkan ceritaku kali ini. ini adalah karya yang kubuat dengan sangat serius dan hati-hati. ini kali kedua aku membuat novel. aku mencetak naskahku beberapa kali demi memudahkan proses editing (aku kadang masih membuat salah kalau mengedit naskah di depan layar komputer). aku juga memberikan bayaran untuk ilustratorku karena walaupun awalnya dia tidak minta bayaran, hasil kerjanya sungguh baik dan pantas dihargai dengan sejumlah uang. aku juga sempat kehilangan flashdisk yang sudah memuat 21 bab novel ini dan beberapa puluh tulisanku yang lain (untungnya aku punya back-up-annya).

aku memeriksa keseluruhan naskahku berkali-kali di akhir juli, sehingga tadi siang, saat naskahku ini kukirimkan ke penerbit lewat pos, aku sudah lega karena bagiku sudah tidak ada lagi kesalahan tulis yang kutemukan.

pelajaran penting yang kupetik dari membuat novel kali ini adalah kontinyuitas. melanjutkan novel setelah meninggalkannya beberapa bulan benar-benar menguras energi. kita bisa lupa dengan apa yang sudah kita tulis; kita bahkan mungkin kehilangan emosi atau semangat untuk melanjutkan cerita lagi. untuk kontinyuitas itulah diperlukan totalitas dan stamina yang mantap. menulis novel adalah pekerjaan yang tidak ada satu orang pun yang menyuruh dan mengawasi. pekerjaan ini sepenuhnya berbekal kebulatan tekad. menulis novel seperti menggeser kenyamanan, menaklukkan diri sendiri, dan belajar hidup konsisten. makanya, stephen king dalam "on writing" memberi saran agar para penulis novel hanya boleh beristirahat sehari dalam seminggu.

nah, pada akhirnya, aku berharap novel ini bisa diterbitkan. aku sudah menyiapkan enam seri lanjutan dari novel ini. namun, kalau pun penerbit tidak ada yang mau menerbitkan novelku, aku akan tetap menggarap keseluruhan serial novelku tentang tuan malam yang ada di negeri imajinasiku bernama harigia.

suatu saat, cepat atau lambat, kuyakin akan ada penerbit yang tertarik untuk menerbitkannya.***

sidoarjo, 5 agustus 2010

catatan:

bagi yang berminat, untuk melihat beberapa cuplikan novel, silahkan mampir ke blog tuanmalam.blogspot.com, lalu klik label/kategori yang berjudul "tuan malam" (http://tuanmalam.blogspot.com/search/label/Tuan%20Malam)

30.8.10

kali pertama mendengar yohanes menangis

"adikku, willy, meninggal hari ini."

***

aku punya seorang teman baik. dia bernama yohanes. yohanes tak seperti orang normal lainnya. dia memiliki sedikit gangguan kejiwaan. waktu bayi ia kejang-kejang akibat panas tinggi. ibunya pernah cerita kepadaku kalau gara-gara panas tinggi, sumsum tulang belakangnya disedot.

yohanes adalah orang yang sangat rajin ke gereja. di gereja bethany di malang, semua jadwal kebaktian minggu di gereja itu (sebanyak empat kali) ia ikuti. dia pergi ke gereja sambil membawa helm, tapi berjalan kaki. helmnya ia bawa buat jaga-jaga, barangkali ada yang mau memberinya tumpangan waktu pergi atau pulang dari gereja. bukan hanya ibadah minggu, tapi di hari-hari lain (kecuali hari senin) yohanes selalu ke gereja.

yohanes ferry purwonegoro, sahabatku, doyan banget sama sms ke artis2 pake 9090. kalo gak salah, malam ini dia lagi sms ke agnes monica. :-)

aku mengenal yohanes sejak tahun 2005. saat itu aku menjadi ketua dewasa muda di bethany, dan ketua pengajaran untuk youth bethany. perkenalanku dengan yohanes begitu unik. dia menunjukkan beberapa diktat teologi dari kampus saat (seminari alkitab asia tenggara) waktu kenalan denganku; dan aku mengira kalau orang ini rohaniwan awalnya!

tak sampai dua jam setelah perkenalan itu aku segera tahu kalau orang ini tidak seperti orang normal. dia bercerita kalau pacarnya bernama agnes monica, omongannya melantur ke mana-mana, dan wajahnya selalu nyengir.

kami kemudian akrab karena rumahku berada di dekat gereja bethany. di tahun 2005-2006, hampir tiap minggu yohanes tidur di rumahku kalau pulang dari gereja. keesokan paginya ia kuantarkan pulang ke rumahnya. kadang kalau aku tak sibuk kuliah atau menulis kuajak dia minum kopi atau jalan-jalan lihat pemandangan di kota batu. yohanes sangat suka dengan susu segar yang dijual di dekat alun-alun kota batu.

selama ia bersamaku di saat-saat ini, aku beberapa kali mengajarinya lagi berhitung, dan menulis menggunakan spasi antar-kata. namun aku tak pernah berhasil. yohanes, yang usianya lebih tua dua tahun dari aku, tak pernah bisa berubah lebih baik motoriknya untuk memahami penjumlahan, pengurangan, perkalian, juga memisah kata demi kata.

yohanes juga susah diajari logika. suatu hari handphone-nya ia jual dengan harga murah karena uangnya dipakai untuk membeli dua botol oli mesran yang sedang mengadakan undian berhadiah.

ia juga mempunyai khayalan yang unik dan kelewatan. gara-gara layanan sms artis dibuka di televisi lewat 9090 beberapa tahun silam, ia keranjingan menggunakan handphone-ku untuk meng-sms arie wibowo, laudya cintya bella, agnes monica, revalina temat, dll. dia meng-sms para artis itu karena minta dikirimi duit 2 milyar atau bahkan 1 trilyun.

karena susah menjelaskan kalau artis mau membaca sms-nya, mengirimi duit betulan buatnya, dan lain-lain dan sebagainya, aku biarkan saja kalau waktu dia di rumahku mengetik-ngetik sendiri apa yang mau dimintanya untuk para artis itu. ketikannya tidak kukirim ke 9090, tapi kusimpan sebagai draft. jujur, aku kadang berbohong kepadanya karena kehabisan akal untuk menjelaskan bahwa artis tak semudah itu mau memberi uang buat orang asing.

tapi dia tetap ngeyel dan berkata kalau artis banyak duitnya, pasti mau mengirimi dia duit. nah, akhirnya yang ketularan "edan" malah aku. suatu kali aku malah sempat mengarang cerita kalau ari wibowo rumahnya kebakaran; dan agnes monica kecurian. uang mereka ludes. uang yang dipakai buat dikirim ke dia jadi batal. dia percaya pada ceritaku.

di balik semua kekurangannya, yohanes membuatku belajar tentang pentingnya menepati janji. dia tidak pernah terlambat satu kali pun untuk acara-acara yang sudah ia jadwalkan untuk dihadiri. ia juga selalu ceria. bila ada di gereja ia selalu menyanyi penuh semangat.

***

nah, hari ini, baru pertama kali aku mendengar yohanes menangis. siang tadi ia mengabari kalau adiknya yang bernama willy telah meninggal dunia. adiknya itu masih muda, usianya baru 20-an tahun. ia meninggal karena tabrakan. tabrakan itu terjadi kemarin.

mendengar yohanes menangis, seketika leherku sesak. belum pernah aku melihatnya atau mendengarnya menangis. paling banter selama ini ia hanya cerita kalau ada orang-orang yang menggodai dia sampai keterlaluan.

mendengar yohanes menangis membuatku berpikir bahwa manusia dengan kekurangan seperti yohanes pun bisa merasakan arti sebuah kehilangan.

malam ini, aku berharap, yohanes dan keluarganya bisa ikhlas merelakan kepergian adiknya.

***

sidoarjo, 6 agustus 2010

25.8.10

pertobatan seorang budak iblis

ulasan film: solomon kane

bila anda sedang mencari tontonan yang menghibur sekaligus reflektif, nah, solomon kane adalah salah satu pilihan yang pas. solomon kane adalah sebuah film kepahlawanan yang dikemas dengan apik. solomon kane adalah tokoh yang diciptakan oleh robert howard dalam sebuah novel awalnya. kisahnya kemudian diadaptasi dalam bentuk komik, juga film ini.

ketika remaja, solomon dituntut ayahnya untuk menjadi seorang biarawan. namun ia menolak tuntutan itu. ia meninggalkan ayahnya; dan ayahnya mengutuknya karena pembangkangan itu. sebelum ia meninggalkan ayahnya, ia bahkan membuat terluka abangnya yang hendak memperkosa seorang wanita.

demikianlah solomon kane menjadi petualang dan pencari harta yang beringas. ia tumbuh-besar di berbagai tempat, memimpin sekelompok pasukan yang berlaku sangat jahat terhadap musuh-musuh mereka. ia bahkan menyebut dirinya iblis. tubuhnya penuh tato dan sayatan. di punggungnya ada sebuah sayatan besar bekas luka yang berbentuk salib.

saya jadi teringat sebuah film lain, constantine, yang dibintangi keanu reeves, saat menonton film ini. ada kesamaan di antara keduanya: tentang bagaimana seseorang menjadi budak setan karena tipu-muslihat, dan sebuah jalan yang harus ditempuh untuk lepas dari perbudakan itu.

suatu ketika solomon bertobat dari dosa-dosanya. inilah yang menjadi adegan awal di film ini. solomon tak berhasil mengalahkan seorang penyihir. ia terlempar dari sebuah menara yang tinggi, lalu hidup membiara dengan sekelompok orang suci.

pertobatan solomon memakan waktu satu tahun. kita diajak untuk melihat begitu drastis hidupnya berubah. ia jadi lebih pengalah, sabar, dan tampak lebih kalem. namun, kehidupan lamanya terus membayanginya. tangannya yang prigel membunuh dan lincah bermain pedang, kesukaannya berkelahi, akhirnya menjadi bagian hidupnya lagi setelah ia bertemu dengan sebuah keluarga yang malang.

di dalam keluarga ini ada seorang gadis bernama meredith yang ditawan oleh orang-orang biadab yang terkena pengaruh sihir. ayah, adik, dan abang meredith telah dibunuh dengan kejam oleh orang-orang biadab itu. nah, perjuangan solomon untuk mendapatkan meredith kembali, menjadi inti cerita ini.

kita kemudian akan dihibur dengan adegan-adegan pertarungan yang seru dan tak hiperbolis. film ini berupaya menghadirkan adegan-adegan pertarungan dengan masuk akal -- tidak seperti film-film kungfu mandarin, misalnya, yang di dalamnya ada tendangan seribu bayangan, atau gerakan super-cepat lainnya.

ada pula adegan-adegan horor yang membuat merinding, terutama saat solomon harus berhadapan dengan manusia-manusia yang wajahnya jadi mirip monster akibat terkena pengaruh sihir.

beberapa dialog dan ekspresi para aktor di film ini bahkan terkesan teatrikal. ada beberapa adegan yang sarat dengan muatan rohani kristiani: adegan saat solomon berdoa di sebuah gereja tua yang ujung-ujungnya menjadi sebuah pertempuran seru; atau adegan saat solomon digantung di salib saat hujan.

bagian yang tak terlupakan adalah pertarungan-pertarungan menjelang akhir cerita. di sini sutradara mengolah adegan demi adegan dengan amat menggugah. salah satunya adalah saat solomon harus berhadapan dengan sebuah monster mirip robot dalam film transformers yang besarnya sekitar 10 kali ukuran manusia dewasa.

dengan latar belakang amerika pada abad ke-16, solomon kane adalah film yang layak ditonton -- tapi lebih baik tidak ditonton bersama anak kecil. beberapa adegan di dalam film ini cukup brutal, walau tak sebrutal film lain, yaitu expendables, yang kini di indonesia tengah ramai digandrungi para pecinta film. penebusan atas dosa, pengorbanan, dan pertobatan, adalah muatan yang begitu gamblang disodorkan kepada penonton dalam solomon kane.

sidoarjo, 24-25 agustus 2010

16.8.10

mereka yang meninggal, dan renungan-renunganku

pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.
- pengkhotbah 7:2

kehilangan kakak lelaki berarti kehilangan orang yang mestinya bisa diajak berbagi pengalaman pada masa tua, yang mestinya membawa ipar perempuan, keponakan laki-laki dan perempuan ke dalam keluarga, orang-orang untuk meramaikan pohon kehidupanmu dan memberinya cabang-cabang baru. kehilangan ayah berarti kehilangan orang yang nasihat dan pertolongannya kaubutuhkan, yang menopangmu seperti batang pohon menopang cabang-cabangnya. kehilangan ibu... yah... rasanya seperti kehilangan matahari di atas sana. rasanya seperti kehilangan... maaf, lebih baik tidak aku teruskan.
- yann martel, life of pi, hlm 188

sejak dulu aku tak suka pesta-pesta. aku selalu menghindari keramaian dan kemewahan di dalam suatu acara. aku hampir tak pernah merayakan ultah, bahkan natal di gereja pun kadang ogah-ogahan kuikuti. terserah bila ada yang menganggapku bukan kristen sejati. toh semua orang tahu, kristus tidak lahir tanggal 25 desember.

sebuah kejadian yang menjadi salah satu titik balik dalam hal ini adalah ketika aku sering menjadi gitaris di gereja untuk ibadah pemakaman. beberapa kali aku mendampingi pendetaku untuk mengantar jenazah ke peristirahatan terakhir di yayasan gotong royong, dekat gereja bethany di malang.

suatu hari kulihat peti mati yang sangat indah. peti mati itu, di salah satu sisinya diukir dengan apik adegan perjamuan terakhir yang dulu pertama kali dilukis leonardo da vinci.

saat itu hatiku berbisik, "peti mati yang mahal, atau sebuah kehidupan yang mahal, yang menjadi bagianmu?" pengalaman itu kutuangkan dalam sebuah renungan pendek, bahwa kehidupan yang mahal adalah kehidupan yang kita isi dengan kesetiaan pada panggilan allah.

nah, kemarin, 14 agustus, aku pergi ke rumah temanku yang adiknya meninggal. adik temanku ini meninggal karena tabrakan. saat tabrakan, helmnya lepas dari kepalanya karena tak dikancing. ibu temanku begitu menyesali peristiwa ini. "anak muda zaman sekarang. susaaahnya dikasih tahu," katanya berulang-ulang.

begitu mendengar ibu temanku bercerita, segera aku teringat di suatu malam ketika aku nyaris mengalami hal serupa.

waktu itu aku tengah mengajari seorang teman naik sepeda motor. dia belum bisa sama sekali. dia menancap gas begitu laju sehingga aku yang ada di belakang langsung mengerem sepeda motor itu. motor berputar dengan cepat. seketika aku jatuh dan kepalaku menghantam tanah dengan begitu keras.

untungnya aku memakai helm. aku tidak bisa membayangkan bila aku -- yang saat itu tengah mengajarinaik motor -- melepas helmku. aku bergetar mengenang kejadian ini. begitu cepat ia melintas di benakku, mendatangkan trauma seketika.

kedua adalah berita yang jam 17.30 tadi baru saja kudengar dari guru dan sahabatku. ayahnya meninggal. ayahnya itu berusia 80 tahun lebih. selama ini selalu sehat walafiat, jarang sakit, bahkan masih kuat melakukan berbagai kerja berat.

beberapa minggu yang lalu aku dikabari kalau ayah sahabatku itu sakit, sempat diopname di rumah sakit. namun, pada akhirnya usia harus kalah pada kefanaan hidup. dalam usianya yang cukup panjang, bapak temanku itu kini berpulang.

mendengar berita ini aku merasa sedih, karena sahabatku ini mempunyai pengalaman yang mirip denganku. saat ia dulu belajar menulis, ia meminjam mesin ketik ayahnya. sementara aku, orang yang pertama kali berbicara soal menulis adalah bapakku.

waktu itu ayahku berkata kepadaku kurang lebih demikian, "nug, cobalah sekali-sekali kamu nulis. coba kirim ke koran atau majalah. bapak lihat-lihat, kamu punya bakat menulis."

aku ingat, saat itu, aku sedang ada masalah kecil dengan bapakku. aku malah menyanggah anggapannya. "untuk apa menulis segala? itu membuang-buang waktu," kataku. aku ingat, aku menyatakan hal itu dengan sengit.

minggu demi minggu berlalu, dan apa yang dikatakan ayahku selalu terngiang-ngiang di benakku. suatu saat kucoba. tahun-tahun berlalu, dan aku sampai sekarang masih belum bisa berhenti menulis. sampai sekarang, aku selalu bersyukur bisa menulis sesuatu. bapakku juga kadang memberi koreksi atas beberapa tulisanku, terutama renungan-renungan yang pernah kutulis beberapa tahun lalu

***

malam ini, aku tentu akan merenung panjang. kepergian dua orang -- satu masih berusia dua puluhan dan satunya berusia delapan puluhan -- jelas-jelas menjadi bukti bahwa manusia tak tahu kapan maut menjemput.

semoga keduanya tentram di alam baka; dan tentunya keluarga yang ditinggalkan ikhlas, tabah, dan rela.

namun, dua peristiwa ini telah menghadirkan dalam benakku kenangan-kenangan yang lain. kenangan akan pemeliharaan tuhan, kenangan akan kepedulian seorang bapak. terpujilah tuhan, yang membuat hidup ini indah karena ia menciptakan manusia dengan hati nurani yang bisa dipakai buat merenung.

sidoarjo, 15 agustus 2010

11.8.10

kertas kado merah muda

aku suka melihat kertas kado yang lucu itu:
bergambar bayi botak yang bibirnya nyengir
badannya hanya terbungkus sehelai popok
dalam berbagai posisi ia menjadi motif
yang begitu riang-gembira dan tanpa beban

kubungkuskan dua buah buku cerita
juga dua buah puzzle yang sederhana

saat mengamati bayi botak di kertas kado itu
tiba-tiba kuingat kau di masa lalu:

kau mengajak sapi dan kambing bicara
kau berdoa bagi pepaya agar ia cepat tumbuh-besar
kau teriaki ikan-ikan kecil yang berenang di parit
kau amati jalan kura-kura dengan mata berbinar
kaulah itu, dua-tiga tahun yang lalu

rambutmu kini panjang walaupun tipis
kau lancar bicara, pandai menari, dan suka tertawa

nanti, ketika kertas kado itu kaurobek
lalu kautemukan hadiahku di dalamnya
semoga matamu berbinar menyambut hadiahku

: selamat ulang tahun, usiamu lima tahun!

***

sidoarjo, sehari sebelum ramadhan 2010

20.7.10

Perayaan yang Megah atas Hidup, Petualangan, dan Ketuhanan

Judul buku: Life of Pi (Kisah Pi)
Penulis: Yann Martel
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2004
Tebal buku: 446 halaman

"Tidak perlu khotbah mengguntur dari mimbar, tidak perlu segala macam cercaan dari gereja-gereja yang payah, tidak perlu tekanan dari rekan-rekan sebaya, cukup satu kitab suci menunggu untuk menyampaikan salam, lembut sekaligus ampuh, bagai kecupan gadis kecil di pipi."

-- Life of Pi, halaman 298

Piscine Molitor Patel. Nama yang unik itu disingkat dengan panggilan Pi. Dan novel ini adalah kisah hidupnya. Kisah hidupnya yang menggetarkan karena penuh gejolak, sekaligus mengharukan. Hidupnya penuh liku karena ia adalah seorang remaja yang sedang memasuki masa puber. Namun, ia merayakan pubertasnya dengan pencarian akan Tuhan. Bagi Pi, Tuhan adalah misteri yang senantiasa menggugah rasa ingin tahunya.

Yann Martel mengisahkan kehidupan Pi dengan narasi yang amat detil. Ia adalah seorang pencerita yang mengalir, tak terlalu terikat pada urutan waktu. Sebuah contoh, ada kisah saat Pi sedang berada di Montreal yang dikisahkannya lebih dulu daripada di Pondicherry -- padahal Montreal adalah saat-saat dewasa Pi, sementara Pondicherry adalah tempat Pi menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya. Hal ini tidak bisa dipandang sebagai kelemahan; kadangkala orang bernostalgia dengan melompat-lompati segala batasan waktu.

Yann Martel juga seorang pencerita yang lucu. Ini terutama tampak di bagian-bagian awal cerita ini. Pertemuan Pi dengan beberapa guru spiritualnya adalah salah satunya. Nanti kita akan melihat bagaimana Pi bisa memiliki lebih dari satu keyakinan. Ia juga seorang yang realistis; ia mempertanyakan lagi romantika yang selama ini mungkin diperjuangkan para pecinta satwa: biarkan makhluk hidup bebas, biarkanlah mereka hidup dalam alam terbuka.

Padahal, binatang tak jauh beda dengan manusia yang selalu ingin rumah yang nyaman untuk ditinggali dan makanan yang terhidang tepat waktu. Dua hal ini, bila oleh seorang pemilihara hewan diperhatikan dengan baik akan membuat hewan-hewan tinggal lebih nyaman dalam peliharaan daripada dilepaskan di alam terbuka yang penuh dengan persaingan dan perkelahian.

Tentang Ketuhanan, dan Keberagamaan Pi

Hal yang pertama kali membuat kisah ini menjadi memiliki daya tarik adalah apa yang dinyatakan oleh seorang tokoh di dalamnya, yaitu Francis Adirubasamy, bahwa kisah yang akan diceritakannya ini akan "membuat orang percaya kepada Tuhan." Tuan Adirubasamy kemudian menghadirkan Pi sebagai tokoh ceritanya. Pi kemudian bercerita kepada si penulis, jadilah cerita ini sebagai sebuah kisah nostalgia dengan sudut pandang aku sebagai pencerita.

Dulu, sempat tersiar kabar bahwa novel ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Namun, kemudian beredar kabar bahwa Kisah Pi adalah novel fiktif. Walaupun fiktif, hal yang menarik untuk disimak adalah bagaimana Yann Martel membangun kisah ini sehingga menjadi benar-benar hidup -- sehingga tampak seperti betulan terjadi. Inilah yang tampaknya membuat ia akhirnya diganjar penghargaan Man Booker Prize untuk novelnya ini.

Pi dikisahkan sebagai seorang anak remaja yang benar-benar haus akan siraman rohani. Di sebuah bagian, Yann Martel menggambarkan Pi sebagai seorang remaja yang "... suka lari ke mana-mana dan ingin tahu segala sesuatu" (halaman 60). Karena hal ini, Pi menganut tiga agama sekaligus karena memiliki pengalaman yang terhitung supranatural atas tiga agama tersebut. Ia memiliki keyakinan sebagai seorang Hindu karena terpesona dengan kisah-kisah para dewa-dewi yang ia yakini bersangkut-paut dengan segala yang terjadi dalam kosmos; ia terpesona dengan filsafat yang dimuat dalam ajaran-ajaran Hindu.

Ia terpikat pada Kristus yang awalnya ia sangsikan mengapa mau mati di kayu salib demi menebus dosa manusia. Setelah bertanya-tanya, ia kemudian terpesona akan kasih Kristus itu. "Sebab kalau Allah di salib itu adalah Allah yang bersandiwara menampilkan tragedi manusia, maka Kasih Kristus menjadi Sandiwara Kristus belaka" (halaman 91). Dan ia pun memutuskan yakin bahwa apa yang Kristus lakukan bukan sekedar sandiwara.

Ia juga tertarik pada cara-cara orang Islam mengadakan salat. Ia suka sekali membaca Qur'an, dan mendapati suatu keyakinan bulat bahwa Islam adalah ajaran perdamaian. "Aku berani mengatakan bahwa siapa pun yang telah belajar memahami Islam dan semangat yang terkandung di dalamnya, pasti akan mencintai ajaran ini. Islam agama yang indah, yang mengajarkan persaudaraan dan ketaatan" (halaman 101).

Apa yang Pi terus gumuli akhirnya membuat ia tampil sebagai remaja yang berbeda dari remaja sebayanya. Suatu ketika tiga guru agamanya bertemu dan masing-masing dengan cara yang lucu berdebat tentang agama siapa yang paling benar. Ketiga guru ini saling menyindir dan mempertahankan bahwa agamanya yang paling benar. Justru Pi yang tampil sebagai pendamai, mencengangkan mereka bertiga dengan menyatakan ia akan memeluk ketiga keyakinan itu.

Pi suka sekali dengan hal-hal seputar ketuhanan, tapi ia juga mempunyai seorang guru yang tidak percaya pada Tuhan. Guru yang sangat dia kagumi itu bernama Mr. Kumar. Mr. Kumar yang gemuk dan berkaki kecil membuat Pi takjub karena memiliki berbagai penjelasan yang logis atas segala sesuatu yang terjadi dalam kebun binatang. Mereka membicarakan genetika, hal-hal tentang hewan, dan berbagai hal tentang sains lainnya saat Mr. Kumar berkunjung di kebun binatang milik ayah Pi.

Petaka Terbesar dalam Hidup Pi

Februari 1976, pemerintahan Tamil Nadu digulingkan oleh Delhi. Saat itu terjadi pergolakan politik, dan Mrs Gandhi semakin menjadi-jadi kediktatorannya. Akibat hal ini, Santosh Patel, ayah Pi, berniat memindahkan semua hewan milik mereka menuju ke sebuah negeri lain: Kanada. Dari Madras kapal itu berlayar tanggal 21 Juni 1977, dan pada tanggal 2 Juli, kapal itu tenggelam di Samudera Pasifik. Apa penyebabnya, tak diceritakan. Kisah beranjak ke bagian dua, saat Pi terombang-ambing di Samudera Pasifik.

Di sinilah Yann Martel menunjukkan kehebatannya sebagai seorang pencerita. Ia dengan sangat tekun dan teliti mengisahkan apa saja yang terjadi pada Pi. Ia mengisahkan dengan detil bentuk sekoci Pi (ilustrasi yang ada di sampul depan berbeda jauh dengan penggambaran Yann Martel), perilaku hewan yang beserta dengan Pi, suasana di laut, perasaan yang terus berkecamuk dalam diri remaja Pi, juga kisah-kisahnya yang unik tentang cara-cara bertahan hidup.

Pi selamat dalam sebuah sekoci yang panjangnya delapan meter. Awalnya, seekor hyena, zebra, dan orang utan bernama Orange Juice beserta dengannya. Seekor hewan lain, seekor harimau Bengal seberat 225 kg, bernama Richard Parker, justru baru diketahui keberadaannya oleh Pi di bawah terpal sekoci setelah hewan-hewan yang lainnya satu per satu mati karena berkelahi dalam sekoci.

Bagaimana Pi menaklukkan dan bisa hidup bersama harimau buas yang bisa memangsanya kapan saja menjadi bagian yang sangat menarik diikuti. Yann Martel tampak mempunyai pengetahuan yang luas dalam ilmu perilaku hewan. Ia menyebutkan, setidaknya tiga hal, yang membuat seekor harimau bernama Richard Parker dapat takluk pada manusia bernama Pi. Pertama adalah suara -- dalam hal ini Pi menggunakan peluit yang ia tiup keras-keras demi menunjukkan superioritasnya. Kedua adalah keberanian Pi untuk tahan beradu tatapan mata dengan Richard Parker sampai ia mennjukkan tatapan yang tak fokus pada mata Pi. Dan ketiga adalah bagaimana Pi mencoba masuk ke teritori yan dimiliki Richard Parker.

Bagian ketiga terkisah amat menarik. Demi upayanya menerobos benteng berupa teritori yang dibangun si harimau, Pi seringkali berada di teritori hewan itu sambil membunyikan peluitnya. (Hewan sering menandai teritorinya dengan air seni dan kotorannya.) Pi bahkan suatu ketika iseng mengambil kotoran hewan itu karena tertarik pada bentuknya. Pi mendapati kotoran itu sangat keras, sekeras batu karang. Awalnya ia malah berencana hendak memakan kotoran itu, namun ia merasa kotoran itu lebih cocok dijadikan peluru senapan untuk berburu badak.

Mungkin memakan kotoran hewan adalah gagasan yang terlampau dilebih-lebihkan, tapi bila kita membayangkan bagaimana Pi terkatung-katung di tengah Samudera Pasifik selama tujuh bulan lebih, dan kemudian menyimak apa saja yang dimakannya, kita jadi tahu bahwa Yann Martel tak hanya sedang bercanda. Pi jadi terbiasa memakan ikan mentah, darah penyu, dan bahkan sempat memakan daging manusia. (Manusia yang ia makan dagingnya dikisahkan menjelang akhir kisah, saat Pi nyaris mati dan tidak lagi memiliki kekuatan untuk bertahan hidup. Tiba-tiba ada seorang manusia yang juga menggunakan sekoci muncul di sebelahnya, tapi kemudian dihabisi oleh Richard Parker. Daging manusia itu disantap oleh Richard Parker dan Pi, walau Pi hanya memakannya bebrapa cuil untuk bertahan dari kelaparannya.)

Ratusan halaman digunakan Yann Martel untuk menggambarkan apa saja yang terjadi dalam hidup Pi saat ia berada di tengah lautan. Namun, membaca buku ini tak bisa disamakan dengan menonton film Cast Away yang dibintangi Tom Hanks -- bila Anda yang pernah menontonnya merasa ada kesamaan di dalamnya. Cast Away lebih banyak mengisahkan petualangan seorang pria tersesat di sebuah pulau; namun Kisah Pi sebagian besar terjadi di Samudera Pasifik.

Dari keseluruhan kisah di lautan mahaluas itu, setidaknya ada dua hal yang paling mengesankan dari Pi. Pertama adalah persahabatan yang terbentuk dalam diri Pi dan Richard Parker. Mulanya ia sangat ketakutan dengan Richard Parker. Bahkan sepanjang kebersamaan mereka, Pi selalu didera rasa takut. Ia kuatir kalau-kalau Richard Parker tiba-tiba mengoyak-ngoyak badannya sampai hancur -- bisa saja hal itu terjadi. Namun, hal itu tak terjadi -- bukan semata-mata karena dikarang-karang tidak terjadi -- karena Pi selalu belajar bagaimana memahami perilaku hewan itu.

Ketika akhirnya Pi selamat sampai di sebuah pantai di Meksiko, ia sedih kehilangan Richard Parker yang pergi begitu saja dari hidupnya. Richard Parker, yang selalu membuatnya waspada, akhirnya ia sadari sebagai sosok yang membuatnya bertahan hidup.

Kedua adalah bagaimana Yann Martel mengaitkan masa remaja Pi yang sarat dengan pencarian akan Tuhan sebagai bagian yang turut menentukan kelangsungan hidup Pi saat terombang-ambing di tengah samudera. Ada saat-saat ketika Pi memandangi bintang-bintang di langit, kesepian, bersembahyang di dalam sekoci kecil yang berada di lautan mahaluas, yang membuat kita jadi merenung tentang keajaiban semesta.

Ada satu bagian yang mengisahkan saat Pi mengalami kilat dan guruh yang terasa begitu dekat sehingga lautan yang berada di sekitarnya menjadi putih seketika. Saat itu hatinya takjub, namun merasa tidak berdaya. Saat-saat itu, kita jadi merasa kesia-siaan rasanya lebih pas untuk dijadikan sebagai makna bagi hidup yang dipertahankan. Saat-saat yang dramatis itu selalu membuat Pi mengenang Tuhan, merindukan kitab-kitab suci untuk dibaca seperti yang dikutip pada bagian di muka, bukannya membaca puluhan ribu kali buku panduan keselamatan yang ia temukan dalam sekoci.

Saran Pembacaan dan Sedikit Perbandingan

Ada novel yang bisa dibaca dengan cepat; ada novel yang mesti dibaca dengan pelan. Kisah Pi adalah jenis kedua. Kita tidak bisa menikmati novel ini dengan membacanya tergesa-gesa. Jadi, jikalau Anda mengharapkan sebuah petualangan yang ingin Anda nikmati setiap detilnya, Kisah Pi pas buat Anda.

Membaca Kisah Pi saya teringat pada The Highest Tide karya Jim Lynch. Setidaknya ada tiga hal yang mirip atas kedua novel ini. Pertama adalah kedua tokohnya sama-sama seorang remaja pria yang beranjak dewasa: Pi menyukai hal-hal yang berbau ketuhanan, sementara Miles dalam The Highest Tide lebih penasaran dengan binatang-binatang laut dan sesekali anatomi tubuh wanita. Kedua adalah keduanya sama-sama bercerita tentang laut: The Highest Tide lebih banyak membahas keindahan laut dan kisahnya sebagian besar ada di pantai, sementara Kisah Pi lebih banyak membahas tentang perjuangan dan petualangan Pi yang bertahan hidup di lautan mahaluas. Ketiga, kedua tokoh utamanya (dianggap) memiliki semacam kekuatan supernatural yang membuat mereka tampak ajaib bagi para pembaca: Pi, seperti yang disebut tadi, membuat orang percaya kepada Tuhan, sementara Miles nyaris dianggap sebagai dewa karena orang-orang menganggap alam sedang mengatakan sesuatu kepadanya.

Ya, tampaknya kisah-kisah tentang laut dan petualangan di dalamnya selalu menggugah kesadaran kita betapa luasnya alam raya, dan betapa kecil arti dan keberdayaan kita saat menjadi salah satu penghuni di dalamnya. Bila dalam The Highest Tide kita dibuat takjub dengan berbagai narasi yang digunakan Jim Lynch untuk menggambarkan berbagai spesies laut, Yann Martel dalam Kisah Pi membuat kita tercengang akan berbagai kisah petualangannya yang penuh gejolak, yang dikisahkan dengan amat hati-hati. Nah, lewat novelnya ini, ia telah berupaya dengan semegah mungkin merayakan hidup, petualangan, dan ketuhanan dalam kisah seorang pria kecil bernama Pi.***

Sidik Nugroho
Malang-Sidoarjo, 17-19 Juli 2010

29.6.10

Tak Selalu Menjadi Nomor Satu

"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37) ***

Sebuah buku yang memikat, mengajarkan tentang makna hidup, saya baca baru-baru ini. Judulnya Selasa Bersama Morrie. Mitch Albom, pengarang kisah nyata ini mengisahkan pertemuan-pertemuannya di beberapa hari Selasa dengan Morrie, mantan dosennya selama kuliah sebelum ia meninggal akibat Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Salah satu nasihat Morrie yang penting dalam salah satu Selasa pertemuan mereka adalah ketika ia menyatakan bahwa tak ada salahnya jikalau kita menjadi nomor dua.

Kita sering menyatakan diri sebagai lebih dari pemenang. Kita biasa berpikir kalau kita ditentukan menjadi nomor satu. Kita, orang Kristen, seolah-olah mengharamkan kekalahan. Anggapan ini ada salahnya. Perhatikanlah Alkitab. Ayat yang menyebut kita lebih dari orang yang menang itu disebabkan oleh Dia yang telah mengasihi kita. Kasih-Nya, bukan pencapaian kita, yang menjadikan kita lebih dari pemenang di hadapan Allah.

Di kancah dunia ini, sering kita kalah. Dunia ini kejam dan kerap tak adil memperlakukan siapa saja. Namun, itu tak semestinya membuat kita mengecilkan pengabdian kita. Morrie berkata: "Abdikan dirimu untuk mencintai sesama, abdikan dirimu untuk masyarakat sekitar dan abdikan dirimu untuk menciptakan sesuatu yang mempunyai makna dan tujuan bagimu."

Saat kita terus mengabdi dan memberikan yang terbaik, tapi dunia tak menjadikan kita nomor satu, tak apa-apa. Karena di dunia kita memang diciptakan untuk tak selalu menjadi nomor satu. (*)

"Pengabdian yang luar biasa tak selalu mendatangkan pengenangan yang luar biasa oleh dunia akan hidup seseorang."

Catatan tambahan:

Bila aku disuruh memilih novel terbaik yang memuat tentang renungan yang paling subtil tentang hakikat hidup, aku memilih "Tuesdays with Morrie". Darinya aku belajar bahwa kita tak selalu harus menjadi nomor satu; kita tak selalu mendapatkan apa yang kita harapkan; kita menghargai dan menganggap penting hal-hal seperti keluarga, persahabatan, dan keseharian yang dijalani dengan bersahaja dan penuh dedikasi.

Waktu ngubek-ngubek IMDb, aku menemukan bahwa ternyata Morrie sudah diflmkan*. Semoga suatu saat aku mendapatkan film ini. Ada bagian yang menarik dalam cuplikan film ini, di menit ke 4:08 sampai 4:20 di sebuah video di Youtube**. Bagian ini mengisahkan kepergian Morrie yang telah menderita akibat penyakitnya:

"I don't want you to die," kata Mitch. "We learn to love somebody, and they die or... we die... what's the point?" Mitch gamang menerima kenyataan Morrie akan pergi selamanya. Demikian pula yang kerap terjadi dalam diri kita.

Keterangan:

*) Link di IMDb: http://www.imdb.com/title/tt0207805
**) Link di Youtube (salah satu scene): http://www.youtube.com/watch?v=YNCxfFA1PsM

11.6.10

Keindahan Laut dan Dinamika Masa Puber

Judul Buku: The Highest Tide (Pasang Laut)
Penulis: Jim Lynch
Penerjemah: Arif Subiyanto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 328 halaman
Cetakan pertama, tahun 2007

Miles O'Malley seorang remaja berusia 13 tahun yang menderita insomnia berat. Ia sering menjelajah teluk di Puget Sound dengan kayaknya untuk mengisi malam-malamnya. Di malam hari ia menyaksikan keindahan laut dengan segala makhluk hidup yang hidup dan tumbuh di dalamnya. Ada remis, siput, bintang laut, dan berbagai makhluk laut lain yang menarik minatnya. Ia juga tergila-gila pada Rachel Carson, penulis buku Under the Sea, seorang ilmuwati yang memutuskan hidup melajang karena jatuh cinta kepada laut.

Minatnya yang besar pada laut juga mendatangkan keuntungan bagi Miles. Beberapa tangkapannya laku dijual. Sampai suatu malam Miles mendapati seekor cumi-cumi raksasa terdampar di Puget Sound. Cumi-cumi raksasa itu telah mati, dan ia memang bukan hidup di perairan yang dangkal. Ia tentunya berasal dari suatu tempat yang jauh, dari laut atau samudera lain yang lebih dalam. Berita ini membuat Miles tenar. Namanya diliput oleh koran dan stasiun-stasiun televisi lokal. Dan yang membuat Miles kemudian disegani adalah pernyataannya atas kejadian itu: "Mungkin bumi ingin mengatakan sesuatu kepada kita."

Tiga minggu setelah penemuan cumi-cumi raksasa itu, ia menemukan ragfish yang besar dan mirip binatang purba. Akibat hal ini ia semakin menjadi sasaran reporter dan wartawan. Namanya kemudian menjadi bahasan di berbagai surat kabar dan televisi, bahkan ada yang mulai menyembah-nyembahnya.

Kisah Miles dalam novel ini diramu dengan indah oleh Jim dengan menghadirkan beberapa tokoh lain yang sebaya. Jim Lynch yang jelas tampak memiliki wawasan yang luas tentang laut, tak terjebak menghadirkan novel yang melulu bersifat ensiklopedis. Ia memilih menghadirkan seorang remaja puber, Miles, yang mulai suka pada lawan jenis. Miles mempunyai sahabat bernama Kenny Phelps yang sangat tergila-gila dengan wanita. Miles juga mempunyai pujaan hati bernama Angela Rosemary Stagner atau sering dipanggil Angie.

Dua tokoh pendamping ini sangat jauh beda karakter dengan Miles. Miles tampak selalu serius dan penuh rasa ingin tahu; Phelps tak bisa serius dan selalu membicarakan organ-organ kelamin; sementara Angie seorang gadis yang urakan, kecanduan obat bius dan memiliki kelainan psikologis. Jadilah kisah ini tertutur kocak di banyak halamannya; namun Jim tetap ajeg menarasikan berbagai hal tentang laut sebagai menu utama.

Narasi-narasi yang dibangun Jim dalam lembar-lembar novel ini mewakili kemampuannya bercerita dengan lihai. Tak banyak orang yang mau tahu dengan laut, namun kehidupan di Puget Sound yang ia kisahkan amat merangsang setiap orang untuk ingin tahu lebih banyak tentang laut. Ia mengisahkan berbagai hal yang terjadi di laut dengan filmis.

Saat Miles dan Angie menyaksikan cumi-cumi kecil yang disebut cumi-cumi kupu-kupu menetaskan telur, misalnya, kita akan terpesona dengan narasi yang menggambarkan perubahan warna yang terjadi pada telur-telur itu dalam sekejap. Atau saat Miles mengayuh kayaknya malam-malam, lalu ia melihat berbagai binatang dan tumbuhan laut yang berwarna-warni di tengah kegelapan malam, kita serasa diajak untuk menghampiri misteri laut. Jim mengisahkan semua itu dengan sangat hati-hati. Ia mengajak kita melihat dari dekat seperti apa kehidupan di laut itu.

Terjemahan atas novel ini juga dilakukan dengan sangat teliti. Kita nyaris tak menemukan kesalahan tulis yang berarti. Terjemahan atas novel ini dibuat dengan pilihan diksi yang indah dan mudah dicerna. Di beberapa bagian malah ditambahkan catatan kaki untuk memperjelas apa yang sedang diterjemahkan -- contohnya seperti apa itu ragfish; apa itu kelainan bipolar yang diidap oleh Angie; dan masih banyak penjelasan lainnya. Penerjemah telah berhasil menghadirkan bacaan yang nyaman diikuti dalam bahasa kita.

Jim juga menambahkan bumbu cinta dan romantika dalam novel ini. Tentunya, hal-hal ini berkaitan dengan Miles dan Phelps yang sama-sama sedang bertumbuh menjadi remaja. Miles memiliki cinta yang hening dan tulus -- baginya cinta sejati kita miliki kalau kita mau mengorbankan apa saja untuk yang kita cintai meski kita tak mendapatkan balasan. Sementara Phelps beranggapan bahwa bila kita membawa seikat bunga untuk seseorang yang kita cintai, maka ia harus membuka bajunya.

Bukan hanya cinta, dua remaja ini, terutama Phelps, suka sekali membahas tentang organ-organ wanita dan seksualitas seperti g-spot, payudara, posisi persetubuhan, dan lain-lain. Namun, perlu dicatat bahwa semua itu disampaikan dengan penuh canda dan sebagai selingan; bukan seperti novel stensilan Nick Carter masa silam, misalnya, yang menjadikan itu sebagai menu sampingan yang porsinya juga besar.

Dinamika psikologis yang terjadi di masa puber Miles dan Phelps, yang berkaitan dengan perkembangan rasa ingin tahu mereka atas seksualitas, terkisahkan begitu gamblang, bahkan terbilang cukup vulgar di beberapa bagian. Inilah yang tampaknya membuat Gramedia selaku penerbit memberikan label "novel dewasa" di sampul belakang novel ini, padahal The Highest Tide dibuat untuk dibaca remaja. Tak bisa dimungkiri, ini terjadi karena perbedaan kultur yang ada di negeri kita dengan Amerika.

Selain kisah cinta dan hal-hal erotis, Jim juga mengisahkan tentang seorang peramal tua bernama Florence. Florence yang menjadi sahabat Miles suatu ketika membuat pernyataan yang detil tentang kapan akan terjadi pasang laut tertinggi. Ramalan inilah yang sebenarnya menjadi awal bagi terbentuknya konflik utama di novel ini -- selain beberapa konflik kecil lainnya. Miles mengucapkan ramalan Florence setelah ia semakin populer. Saat itu ia sedang diundang untuk berbicara tentang hal-hal yang ia ketahui tentang laut. Ia bahkan diundang dalam acara-acara yang digagas beberapa profesor kelautan, bahkan menjadi sosok yang disembah-sembah oleh sebuah kelompok pemujaan.

Begitulah Miles, sosok remaja yang tinggi badannya susah bertambah, tak berdaya untuk menyatakan cinta kepada Angie, merasa diri tak tampan dan penuh kekurangan, pada akhirnya menjadi sosok yang akan disukai para pembaca.

Tak banyak orang atau remaja seperti Miles. Hingga kini kehidupan di laut rasanya tak banyak mengundang rasa ingin tahu banyak orang. Mungkin penyebab utamanya adalah karena kita sendiri bukan spesies-spesies yang menjadikan laut sebagai habitat. Namun tak dapat dipungkiri bahwa dua pertiga bagian bumi ini ditutupi air laut dan begitu banyak asal-muasal kehidupan yang berasal dari laut. Keragaman spesies di laut jumlahnya jauh lebih tinggi daripada di darat atau di udara.

Rasa ingin tahu yang mendalam atas sesuatu yang masih menyimpan banyak misteri tampaknya menjadi obsesi terdalam Jim untuk menulis kisah tentang laut. Setelah membaca novel ini kita akan sepakat dengan pernyataan Rachel Carson, seseorang yang telah mendedikasikan hidupnya buat laut: "Kalau Anda temukan puisi dalam buku-buku tulisanku, itu bukan karena aku sengaja menulis puisi, tapi karena tak seorang pun mampu menulis dengan jujur tentang lautan, tanpa menorehkan puisi." (*)

Sidik Nugroho
Sidoarjo, 10 Juni 2010

Resensi lain oleh Wawan Eko Yulianto bisa dibaca di sini

5.5.10

Balas Budi Seorang Pecinta Alam

Sidik Nugroho*)

Judul: Amira and Three of Cups of Tea
Penulis: Greg Mortenson dan David Oliver Relin
Penyadur: Sarah Thomson
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Emi Kusmiati
Penerbit: Qanita
Tebal: 250 halaman
Cetakan pertama, November 2009

***

Perlu ada upaya melihat,
upaya melihat dengan menjungkirbalikkan segala makna yang sudah ada,
untuk sampai pada yang tak dikenal,
hidup sejati yang berada di tempat lain
~ Arthur Rimbaud, penyair Prancis (1854-1891)


Puisi Arthur Rimbaud, penyair yang suka berkelana itu, rasanya tepat benar mewakili jiwa petualang seorang pria bernama Greg Mortenson ketika suatu hari ia memandangi anak-anak di sebuah pedalaman Pakistan menulis dengan ranting di tanah. Saat itu mereka tengah belajar dan menuntut ilmu.

Betapa jauh kondisi yang dilihatnya itu dengan negeri dari mana ia berasal, Amerika. Niatnya pun bulat: ia ingin membangun sekolah bagi anak-anak itu. Selain karena kejadian itu, hal ini juga disebabkan karena ia telah ditolong oleh seorang Pakistan ketika hampir mati di Gunung Korakoram di Pegunungan Himalaya.

Saat itu Greg sedang tersesat dan nyaris binasa. Penolongnya itu bernama Haji Ali. Di rumah Haji Ali di Korphe, sebuah desa di sana, Greg dirawat hingga pulih. Suatu ketika, oleh Haji Ali ia diberi tiga cangkir teh yang melambangkan penerimaan, persaudaran dan ikatan sehidup-semati.

Tak sedikit rintangan yang ditemui Greg untuk mewujudkan niat balas budinya membangun sekolah pertamanya di Pakistan, sampai akhirnya ia mendapat bantuan dana dari seorang pengusaha Prancis yang kaya bernama Jean Hornie.

Kisah Greg Mortenson yang ditulis ulang (disadur) oleh Sarah Thomson dalam buku ini ditujukan bagi pembaca muda. Buku aslinya yang jauh lebih tebal, Three Cups of Tea, yang ditulis oleh Greg sendiri bersama seorang rekan bernama David Oliver Relin, telah rilis pertama kali pada Januari 2007 (diterbitkan Penguin) dan menjadi sebuah buku laris yang diterjemahkan berbagai bahasa. Kisahnya yang dramatis dan penuh dedikasi membangun sekolah tanpa menguatirkan kondisi politik yang sedang penuh gejolak di masa itu, perbedaan agama, dan berbagai tantangan lain akan selalu dikenang banyak orang.

Sarah Thomson menyadur buku asli itu menjadi lebih ringkas, mengisahkan hidup Greg dari sudut pandang orang ketiga. Ia pun menyertakan wawancara dengan Amira, putri Greg yang kini berusia 14 tahun. Dalam wawancara itu dikisahkan bagaimana Amira memandang sosok ayahnya, dan apa-apa saja yang ia lakukan untuk membantu ayahnya membangun lebih banyak lagi sekolah: Ia menyanyi pada beberapa kesempatan, ikut ayahnya presentasi, dan membantu ayahnya mengumpulkan banyak recehan -- programnya dinamai Pennies for Peace -- untuk dijadikan salah satu sumber dana bagi misi Greg membangun sekolah.

Inilah kelebihan utama yang didapatkan oleh sidang pembaca (muda) ketika membaca versi buku ini. Kita dapat mengenal sosok Greg dari kacamata Amira, anaknya, yang disampaikan oleh penulis dalam sebuah bab khusus. Lewat bab inilah para pembaca (muda) dapat memahami lebih realistis -- bukan dari kacamata dan pemikiran Greg -- bahwa tugas dan panggilan yang dilakukan dalam hidup Greg Mortenson adalah tugas yang bahaya sekaligus penuh tantangan dan maknawi.

Daerah-daerah yang ia dirikan sekolah di Pakistan -- dan kemudian Afghanistan -- tak jauh dari tempat-tempat tinggal dan keliaran para Taliban yang radikal. Namun, Greg yakin radikalisme yang keliru dapat diubah lewat pendidikan. Seorang anak yang hidupnya dipenuhi dengan pengetahuan dan kebijaksanaan, saat besar nanti dapat hidup dengan bijak, dan menyongsong hari depan dengan lebih baik.

Buku yang juga dilengkapi foto-foto berwarna ini tepat dibaca oleh para guru, pemerhati pendidikan, bahkan para pecinta alam yang kerap mencari jati-diri. Golongan terakhir, rasanya memang membutuhkan buku ini, yang dapat memberikan pencerahan dan pemaknaan yang menjadi sisi lain suatu pengembaraan atau petualangan. Greg sendiri adalah seorang yang sangat terpengaruh oleh para pecinta alam yang menginspirasi hidupnya. Salah satunya Edmund Hillary.

"Aku hanya pendaki gunung bersemangat dengan kemampuan biasa yang mau bekerja cukup keras, serta punya imajinasi dan tekad yang diperlukan. Aku hanya orang biasa. Medialah yang mencoba mengubahku menjadi sesosok pahlawan. Tapi, aku telah belajar banyak selama bertahun-tahun. Selama kau tak mempercayai banyak omong kosong tentang dirimu sendiri, kau tidak akan terlalu dirugikan."

Kata-kata di atas diucapkan Edmund Hillary, penakluk pertama Mount Everest, puncak tertinggi di Pegunungan Himalaya, pada tanggal 13 September 1995. Greg mendengarnya secara langsung ketika kata-kata itu diucapkan. Kata-kata itu terus membakar semangatnya, terus membuat hidupnya bergairah untuk menaklukkan alam yang keras seraya membuat perubahan dengan mendirikan sekolah-sekolah.

Sebagaimana Greg membangun sekolahnya, Amira menyanyi dan giat mengajak banyak pihak mengumpulkan recehan, buku ini serasa mengajak kita untuk berbuat sesuatu bagi sesama. Ada kesan yang kuat, yang menyentuh nurani kita untuk memiliki sebuah pengabdian atau perbuatan bagi sesama -- terutama bagi mereka yang diabaikan dan kurang beruntung. Lewat buku ini kita disadarkan bahwa hidup bukan hanya sebuah perjalanan menjadi dewasa, mendapat kerja, mendapat istri, mempunyai anak, mencari nafkah, lalu mati. Ada sesuatu yang dapat kita lakukan, lebih daripada semua itu. Inilah yang tampaknya menjadi kekuatan buku ini, yang masih jarang dimiliki oleh buku-buku motivatif atau inspiratif lainnya. ***

*) Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo dan pemerhati pendidikan

17.4.10

Kembali pada Pria Itu

"Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: 'Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,' dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku." (Mazmur 32:5)

Pria itu sedang menghadap para petugas penjara. Mereka menanyakan apakah hukumannya telah membuatnya sadar akan kejahatannya. Ia tidak segera menjawab "ya" atau "tidak". Ia malah berkata kurang lebih demikian, "Dulu aku hanyalah seorang anak muda yang tak punya banyak pertimbangan dan melakukan sebuah kesalahan besar. Andaikan aku dapat kembali pada pria itu dan mengatakan agar dia tidak melakukannya. Namun aku tak bisa...."

Jawaban itu kemudian mendapatkan imbalan stempel bertuliskan "approved". Ya, pembebasan bersyaratnya disetujui!

Pria itu bernama Ellis "Red" Redding. Diperankan oleh aktor ternama Morgan Freeman, pria dalam film The Shawshank Redemption itu menyadarkan saya tentang pentingnya untuk menjadi bijaksana.

Red telah mendekam puluhan tahun di penjara. Penjara sebagai institusi yang menghadirkan suasana statis mampu menghasilkan perenungan yang dinyatakannya. Namun, walaupun tak terpenjara seperti Red, pernahkah Anda berandai-andai untuk kembali menjadi muda? Pernahkah Anda mengingat sebuah kesalahan yang teramat konyol dan terlampau memalukan, dan rasanya berharap itu tidak pernah terjadi?

Jika pernah, sadarilah anugerah Allah. Anugerah itu memampukan kita menyadari keadaan ini: kesalahan kita di masa lalu tak lantas membuat hidup kita jadi berantakan di masa kini. Dalam anugerah-Nya Ia memberi pengampunan kepada kita. Anugerah itu membebaskan. Anugerah Allah itu membuat kita percaya diri. ***

"Tak ada perbuatan yang begitu baik untuk membuat Allah lebih mengasihi kita; tidak ada kesalahan yang begitu parah yang membuat Ia menutup pintu bagi kita."