3.12.09

Gajah, Pengharapan, dan Keyakinan

Judul Buku: Gajah Sang Penyihir (The Magician's Elephant)
Penulis: Kate DiCamillo
Ilustrasi: Yoko Tanaka
Penerjemah: Dini Pandia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: September, 2009
Tebal buku: 148 halaman

Peter Augustus Duchene adalah pria kecil yang malang. Dibesarkan di sebuah apartemen kumuh oleh Vilna Lutz, seorang mantan tentara tua yang suka membentak-bentak dan menyuruh-nyuruh, hidupnya terkesan muram. Sampai suatu ketika ia melihat seorang peramal, dan tertarik membayarkan satu florit untuk mendengar apa kata peramal itu. Padahal, seharusnya ia memakai satu florit itu untuk membeli ikan dan roti, seperti yang disuruhkan Vilna kepadanya.

Peramal itu, oleh Peter ditanyai sebuah hal yang paling meresahkan batinnya: apakah adiknya yang bernama Adele masih hidup? Jawaban yang diberikan sang peramal mengagetkannya: Adele masih hidup. Dan untuk menjumpai Adele, si peramal berkata: "Kau harus mengikuti gajahnya... gajah betina itu akan membawamu ke sana."

Harapan dalam diri Peter tersulut. Ia gembira, sekaligus bimbang dan bingung. Bagaimana tidak? Seekor gajah akan membawanya kepada Adele? Yang benar saja --gajah dari mana? Selain itu, Vilna Lutz tua yang sakit-sakitan itu, yang mengaku sebagai sahabat ayah Peter, menyatakan bahwa ramalan itu palsu. Sejak Peter hidup dengannya, Vilna telah menjejalkan kisah hidupnya yang lain: bahwa ayah Peter dulu adalah tentara yang hebat seperti dirinya, dan ia tak punya saudara lagi. Peter bahkan dilatih tiap hari dengan pelajaran seputar ketentaraan agar dapat menjadi tentara yang baik suatu ketika.

Namun, dengan cara yang ajaib, gajah itu benar-benar muncul, meresahkan segenap penduduk kota Baltese. Datangnya tak terduga pada sebuah acara yang digelar seorang penyihir. Penyihir itu, awalnya hendak membuat kejutan dengan menghadirkan hanya sebuket bunga lili dengan kemampuan sihirnya. Tak dinyana, ketika sihirnya ia mainkan, dari atas atap gedung opera seekor gajah yang besarnya bukan kepalang turun di tengah-tengah hadirin!

Gajah itu membuat remuk kaki seorang bangsawan bernama Madam LaVaughn. Ia harus duduk di kursi roda karena kecelakaan itu. Berita kedatangan gajah pun menyebar di seantero kota Baltese. Peter pun mendengarnya -- harapannya menemukan titik terang.

Dengan bantuan seorang polisi berbadan kecil bernama Leo Mattiene yang murah hati, seorang tukang batu pemberani yang suka tertawa sendiri bernama Bartok Whynn, Madam La Vaughn dan pelayannya yang bernama Hans Ickman, maka pencarian Peter akan Adele pun menjadi kisah yang menarik.

Kisah yang digarap Kate DiCamillo ini agak berbeda dari beberapa bukunya yang sebelumnya. Sebelum ini ia telah menulis beberapa cerita anak (yang juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Gramedia): The Tiger Rising, The Miraculous Journey of Edward Toulane, Because of Winn Dixie dan The Tale of Desperaux. Dua yang terakhir disebut sudah difilmkan. Bedanya adalah, baru ini Kate DiCamillo mengangkat hal berbau sihir dalam ceritanya. Ya, tetap juga ada kesamaan: tokoh berupa binatang tetap tampil sebagai tokoh dominan dalam bukunya kali ini. Namun, kisah-kisah di buku-bukunya yang sudah-sudah lebih banyak dibumbui dengan tema persahabatan, keluarga, atau kepahlawanan.

Apa pun tema yang digarap oleh Kate selalu menarik diikuti hingga tuntas, termasuk yang dilakukannya kali ini. Ini tak lain karena ia adalah seorang penulis yang berdedikasi penuh untuk menulis cerita anak-anak. Dalam sebuah wawancara ia mengaku menulis dua halaman dari hari Senin sampai Jumat sebelum bekerja di toko buku. Tulisan-tulisannya senantiasa tertutur rapi dan tak menjemukan. Ia pernah mendapatkan Newbery Medal, sebuah penghargaan untuk buku cerita anak-anak terbaik untuk bukunya The Tale of Desperaux.

Buku The Magician's Elephant merangkum kecerdasan Kate DiCamillo bercerita: runut, imajinatif, dan kaya akan frasa yang disebutkan beberapa kali untuk membentuk imajinasi pembaca agar menyelami situasi yang sedang terjadi di kota Baltese. Baltese adalah sebuah kota yang tak ada di belahan dunia mana pun -- sebuah negeri antah-berantah. Dalam sebuah wawancara lain, Kate menyebutkan setelah ia selesai menggarap bukunya ini, ia menonton sebuah film yang berlatar kota Bruges di Belgia. Ia menyatakan kota itu, Bruges, mirip dengan Baltese yang ia ciptakan.

Untuk melukiskan Baltese, juga para tokoh, dan situasi penting yang terjadi di sepanjang cerita, beruntunglah Kate mendapatkan Yoko Tanaka. Yoko, walau hanya mengandalkan nuansa hitam-putih dalam membuat ilustrasi, mampu mewakili imajinasi yang awalnya ada pada Kate. Gambar-gambar yang dibuatnya hampir semuanya terkesan muram. Ini mewakili situasi kota Baltese yang selalu mendung, namun tak kunjung disiram salju atau hujan.

Salah satu ilustrasi yang menarik adalah gambar yang dibuat Yoko ketika melukiskan sebuah kamar Rumah Yatim-Piatu Susteran Cahaya Abadi (halaman 56). Kamar tidur itu berlangit-langit tinggi dan artistik. Di sana ada 14 tempat tidur yang semuanya ditiduri oleh anak-anak yang sedang lelap, kecuali sebuah tempat tidur. Seorang gadis kecil terjaga di tempat tidur itu, duduk di tepi tempat tidurnya. Rambutnya yang dikepang dua dengan lucu, membuat kita yang mengamatinya ingin memeluknya. Dialah Adele, adik Peter yang di suatu malam resah tak bisa tidur akibat mimpi yang baru saja dialaminya.

Mimpi Adele hadir dalam tidurnya, bagai membawa harapan yang ada di benak Peter, abangnya, untuk bertemu dengannya. Namun, Adele yang masih belum genap tujuh tahun dan tidak tahu dengan lengkap jati-dirinya hanya bisa meraba-raba apakah mimpi itu akan mengubah hidupnya. Ia hanya tahu bahwa mimpi itu aneh, namun menyenangkan dan membahagiakannya.

Nah, akan bertemukah dua kakak beradik ini nantinya? Ke manakah gajah itu nantinya akan dibawa? Buku ini terlalu bagus untuk Anda lewatkan, bila Anda menyukai imajinasi yang sering melintasi benak anak-anak kecil. Yang jelas, Peter dikisahkan tak setengah-setengah berjuang menemukan Adele. Walau tak pernah dilihatnya, Peter menyayangi adiknya itu sepenuh hatinya. Perjuangan Peter ini, pada akhirnya membidikkan pertanyaan yang membongkar kesejatian pengharapan dan keyakinan kita akan sesuatu hal yang hendak kita gapai: Sudah sungguh-sungguhkah kita mengejarnya sejauh ini? ***

Sidik Nugroho, guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo yang menyukai cerita anak-anak
Malang, 30 November 2009

1.12.09

Hidup Enggan, Mati Enggak Nolak

: Sebuah refleksi berdasarkan film, bukan resensi film

Judul: The Sea Inside (Mar adentro)
Sutradara dan Penulis Skenario: Alejandro Amenábar
Aktor: Javier Bardem, Belén Rueda, Lola Dueñas
Asal/Tahun: Spanyol, 2004

Feby Indirani, seorang teman saya, menulis sebuah review film yang menarik di Multiply. Sebuah film tentang kehidupan dan kematian. Di akhir review-nya yang bernas itu ia menyatakan mungkin akan jatuh hati kepada tokoh utama di film itu. Sebab utamanya karena Ramon, tokoh itu, memiliki kearifan dan selera humor yang tinggi.

Review itu kemudian membuat saya mencari-cari film itu untuk mengisi waktu luang di akhir minggu yang sering saya lalui sendirian. Saya sedang perlu film yang menghadirkan renungan yang subtil. Dan saya merasa, mungkin ini filmnya. Saya benar-benar penasaran dengan sosok Ramon: Seorang pria yang lumpuh, namun disukai banyak wanita. Bagaimana bisa?

Ramon Sampedra, mantan pelaut yang sudah berkeliling dunia sejak berusia 19 tahun, suatu ketika mengalami kecelakaan yang bisa dibilang memilukan, sekaligus menggelikan. Bagaimana tidak, sebagai seorang pelaut yang tentunya berpengalaman menerka kedalaman pantai, ia bisa saja menghindari kecelakaan itu. Namun, inilah yang justru terjadi: ia terjun bebas dari sebuah gundukan tanah yang cukup tinggi di tepi pantai, padahal pantai itu tak cukup dalam; kepalanya membentur dasar pantai dengan cukup kuat, lehernya patah seketika.

Selama 28 tahun setelah kecelakaan itu ia menghabiskan waktu berbaring di tempat tidur, mendengarkan siaran radio, menonton televisi, dan menulis dengan menggunakan mulut. Ia tampak murah senyum dan rileks menjalani hidup, walau akhirnya ia bosan dengan apa yang dihadapinya. Ia kemudian mengajukan diri untuk disuntik mati.

Pengajuan ini membawanya bertemu dengan Julia, seorang pengacara yang memiliki sakit lumpuh di kaki. Berbeda dengan Ramon yang selalu tampil penuh senyum di tiap kesempatan, Julia adalah sosok yang muram. Pertemuannya dengan Ramon mengubah hidupnya. Ia mendapatkan penghiburan dalam beban yang menghimpit hidupnya. Upayanya berjuang sebagai pengacara yang hendak memperjuangkan pengajuan Ramon disuntik mati jadi setengah-setengah. Ia lebih menyukai kebersamaannya dengan Ramon, daripada harus berjuang secara hukum agar Ramon bisa disuntik mati.

Apa yang Ramon perjuangkan akhirnya mendapat perhatian media. Televisi meliput kabar tentang dirinya. Seorang wanita lain, Rosa namanya, yang tinggal tak jauh dari rumah Ramon, datang menjenguknya. Rosa seorang ibu dua anak yang telah ditinggal suaminya, bekerja sebagai seorang penyiar radio. Seperti Julia, Rosa merasa aman dekat Ramon. Hadiah pertamanya buat Ramon adalah sebuah lagu romantis yang diputarnya lewat radio ketika ia sedang membawakan acara.

Julia dan Rosa selalu datang dalam kehidupan Ramon. Bahkan, konon, ada lima atau enam wanita yang memberi perhatian khusus buat Ramon dalam kehidupan Ramon yang sebenarnya. Di film ini, mereka disederhanakan menjadi dua. Dari setiap pembicaraan Ramon dengan mereka, juga dengan keluarganya, Ramon tetap kukuh dengan niatnya: disuntik mati. Ramon menganggap hidup adalah hak, bukan kewajiban. Keluarganya sangat menentang hal ini, terutama abangnya.

Sisi lain yang sebenarnya tak dapat dipungkiri Ramon adalah keberadaan harapan dalam hati kecilnya -- harapan untuk sembuh. Harapan itulah yang kemudian membuatnya berimajinasi dengan indah. Dalam film ini, ditunjukkan paling tidak dua kali, harapan Ramon yang akan disukai para penonton. Pertama adalah ketika Ramon mengimajinasi dirinya bisa terbang. Ia membayangkan dirinya keluar dari jendela kamarnya, terbang dengan laju melintasi perbukitan yang hijau di sekitar rumahnya. Dan mengakhirinya di pantai, sambil menyaksikan debur ombak dan merasakan angin laut menerpa tubuhnya.

Kedua adalah harapannya bercinta dengan Julia. Dalam suatu kunjungan Julia, Ramon menyatakan ia menyukai bau air laut yang kadang sampai ke kamarnya. Selain itu ia juga menyukai -- bahkan selalu mengingat -- parfum yang dipakai Julia. Julia kesengsem mendengarnya; dan ia bertanya apa saja yang Ramon akan lakukan seandainya Ramon tidak sakit dan Julia ada di sisinya. Ramon dengan lembut menyatakan apa-apa saja yang akan dilakukannya. Dan itu membuat Julia mabuk kepayang.

Tapi Ramon tak bisa terbang; dan ia tak bisa bercinta sepenuhnya dengan wanita. Karena itulah, saat atau kenangan yang paling sering melintasi benaknya adalah saat kepalanya membentur dasar pantai 28 tahun lalu itu. Ia berharap tak ada orang yang menyelamatkannya lagi. Ia berharap terbenam di dasar lautan dan menghadap Sang Khalik. Harapan itulah yang menjadi pemupus harapannya yang lain untuk terus hidup. Ramon menjadi sosok yang hidup dalam keputusasaan, namun bukan dengan semboyan "hidup enggan, mati tak mau". Ia lebih memilih "hidup enggan, mati enggak nolak".

Ketika merenungkan ketahanan dan kesabaran hidup Ramon selama 28 tahun, saya jadi teringat sebuah film lain yang sudah saya tonton berulang-ulang. Sebuah film tentang harapan juga -- harapan untuk bebas dan merdeka. Shawshank Redemption judulnya.

Shawshank Redemption mengisahkan kehidupan para napi kelas berat di penjara Shawshank. Dua orang napi, Red dan Andy, bersahabat dalam film ini. Red pernah menyatakan kalau Andy jangan berharap bebas. Andy merasa harus terus berharap, apalagi mengingat sebuah fakta bahwa ia ada di Shawshank karena sebuah kesalahan: Andy bukan pembunuh istrinya, sementara ia didakwa atas tuduhan membunuh istrinya.

Andy yang memupuk harapannya selama bertahun-tahun mendapatkan buah yang adil. "Harapan adalah sesuatu yang baik, bahkan mungkin sesuatu yang terbaik. Dan segala sesuatu yang baik tidak akan pernah punah," katanya di dalam sebuah surat kepada Red.

Andy adalah sebuah tokoh fiktif, ciptaan Stephen King. Sementara Ramon adalah tokoh yang nyata. Andy dan Ramon sama-sama terbelenggu -- satu oleh penjara, satu oleh kelumpuhan. Dua-duanya juga sama-sama menyukai pantai. Menjelang akhir kedua film itu, dikisahkan Andy menyukai pantai di daerah Zihuatanejo di Mexico, sementara Ramon menyukai pantai di daerah Boiro, Galicia, di Spanyol. Pantai-pantai yang indah.

The Sea Inside telah berhasil mendatangkan perenungan yang penting akan hakikat hidup. Sosok Ramon yang selalu tampil begitu santai sebenarnya merupakan gambaran jiwa yang berani. Ia tak tampil seperti, misalnya, William Wallace dalam Braveheart yang selalu bertempik-sorak, namun keyakinannya bahwa hidup adalah sebuah hak yang berharga begitu kuat terpancar dari wajah dan ekspresinya. Itulah yang membuatnya disukai orang-orang, terutama para wanita yang menawarkan diri untuk menemani dia dan mendengarkan apa saja darinya.

Mungkin kita tidak sepakat dengannya bahwa penderitaan yang terlampau berat harus diakhiri dengan kematian sebelum waktunya atau bunuh diri. Namun, Ramon memiliki banyak alasan yang cukup kuat -- logis dan manusiawi, tidak mengada-ada -- untuk melakukannya. Dan itulah yang menjadi cermin bagi kita yang tak lumpuh seperti Ramon saat ini: Berapa banyak alasan yang cukup kuat bagi kita untuk terus bertahan dan melanjutkan hidup ini?

Sidik Nugroho
Malang, 30 November 2009

Catatan: Review oleh Feby Indirani bisa dilihat di sini.

26.11.09

Ketika Irman Maju ke Depan

Sinta maju ke depan kelas, memainkan pianikanya dengan baik sekali. Lagu Apuse ia selesaikan dengan tuntas. Nilainya seratus. Kemudian ia menyanyi. Lagunya Garuda Pancasila. Suaranya merdu dan bening. Seisi kelas terpana mendengarnya. Kelas yang tadi lemas, kini senyap beberapa kejap -- dibius kemerduan.

Sinta telah membuat perbedaan pada ujian praktek Kesenian hari ini. Tepukan tangan terdengar riuh rancak ketika ia selesai menyanyi.

Setelah Sinta maju, ada Ina, Adi, Anton, Abduh dan Yohanes. Permainan pianika mereka ada yang baik, ada yang buruk. Nyanyian mereka ada yang sumbang, ada yang merdu.

Tibalah giliran Irman. Ia berada pada urutan absen ke-11 dari 25 anak, namun memilih diuji terakhir. Ia berkata semalam tak bisa tidur. "Ibuku sakit keras, Bu Trisya," katanya padaku dengan lirih. Ia adalah anak yang telapak tangannya selalu berkeringat ketika berpikir. Ia mudah sekali mengantuk. Ia susah berkonsentrasi untuk sesuatu yang dikerjakannya. Ia pergi ke kantin sendirian setiap istirahat. Ia jarang tersenyum, kecuali padaku -- senyumnya pun tipis sekali. Ia membiarkan ejekan beberapa teman yang suka mengatainya penakut dan banci. Sesekali kulihat matanya merah menahan tangis. Namun demikian, ia tak banyak bicara; tak pernah juga mengadu ketidakadilan yang tampaknya sering mendera jiwanya. Dan kudengar-dengar, ibunya sendirian membesarkan Irman. Pekerjaannya tidak jelas, walau uang sekolahnya tak pernah terlambat dibayar. Kata orang-orang, ibunya bekerja di luar kota. Ia tinggal bersama pembantunya di dekat sekolahku di Sidoarjo.

Ketika nama Irman kupanggil, aku segera mengingat saat sebulan lalu ketika ia maju untuk bernyanyi. Begitu kecil suaranya, namun tak tega aku membentaknya untuk menyaringkan suaranya setelah memintanya berkali-kali agar bernyanyi lebih keras. Ia memandang ke arah langit-langit kelas ketika bernyanyi. Ia menuntaskan lagu Garuda Pancasila tanpa ada satu pun nada sumbang terkeluarkan. Namun, pada waktu itu, ia mendiamkan seluruh kelas dengan cara yang jauh lebih hebat daripada yang dilakukan Sinta barusan.

Kini, aku tak sabar melihatnya memainkan pianika dan bernyanyi. Ketika ia maju, aku melihat beberapa tetes air jatuh dari tangan kanannya yang sedang tidak memegang pianika. Aku tertunduk seketika setelah melihat tetesan-tetesan itu. Betapa ia terlihat seperti orang tua -- lemah, ringkih, dan tanpa daya.

Ia kemudian memasangkan tangan kirinya pada bagian bawah pianikanya. Dipasangkan peniupnya, lalu hendak ditiupnya pianika itu. Aku memandang bibir dan jarinya bergantian selama beberapa detik, menunggunya meniup pianika itu. Ia melirik sebentar ke arahku, aku mengangguk. Ditiupnya pianika itu, akhirnya.

Tak ada kesalahan sama sekali. Sempurna. Seisi kelas bahkan bertepuk tangan demi mendengar nada-nada itu tersuarakan. Sementara di depan kelas, pianika Irman dan lantai di sekitar ia berdiri penuh tetesan keringat.

Namun bagian yang kuharapkan menjadi bagian terbaik belum tiba. Aku menunggu Irman memperdengarkan suara merdunya -- dengan lebih lantang -- kali ini. Aku memintanya mengambil nafas beberapa saat sebelum ia bernyanyi. Aku membesarkan hatinya dengan menyatakan suaranya bagus dan merdu. Seisi kelas bahkan kini sabar menunggu.

Ketika Irman sudah siap mengangkat suara untuk bernyanyi, tiba-tiba, dari jendela kelas aku melihat seseorang yang kukenal datang menuju kelasku. Pembantu Irman yang datang. Dari kejauhan tampak matanya sembab. Ada apa gerangan?

"Ibu Irman ada di rumah sakit, Bu Trisya," katanya kepadaku.

"Dan kini dia sedang...." Ia tak melanjutkan apa yang hendak dikatakannya. Ia memohon ijin kepadaku agar membawa Irman ke rumah sakit. Irman tiba-tiba menangis. Isakannya pelan, namun air matanya deras mengalir.

Aku melepas kepergian keduanya tanpa banyak bicara.

***

Waktu ujian praktek telah berlalu. Irman tak lagi menjadi muridku. Ia datang di awal semester ini, dan menghilang menjelang akhir semester ini. Ia menghilang begitu cepat -- seperti hawa sejuk yang buru-buru pergi di Sidoarjo ketika pagi beranjak siang.

Ibunya telah menghadap Sang Khalik ketika Irman maju ke depan kelas untuk bernyanyi, atau mungkin sebelum memainkan pianika, atau mungkin juga sebelum ia dipanggil maju ke depan kelas. Seorang pria telah berlaku kejam pada ibunya di malam sebelum Irman diuji bernyanyi dan memainkan pianika. Seorang pria yang jadi pelanggannya. Ibu Irman, yang ternyata bekerja sebagai wanita penghibur di Tretes, sedang tidak sehat, namun memaksa diri tetap bekerja malam itu.

Akhir tahun akan segera datang. Ujian akhir semester akan segera digelar. Irman masih menyisakan jejak yang dapat kutelusuri. Aku berharap dapat menemukannya.

***

Sidik Nugroho
Sidoarjo, satu hari setelah Hari Guru 2009

23.11.09

sidoarjo

untuk cak oke, wong krembung

embun tak hanya menyisakan uap samar,
ketika diambung hangat cahaya mentari di pagi kelam,
di sekuntum atau hanya sekelopak bunga merah muda.
namun di segenap penjuru kota
: jejak mereka berupa kabut putih menggantung di angkasa!

uh la la... pemandangan beda, cak!

di pagi yang belum jangkep ini,
terasa air di bak mandi lebih hangat
mengena kaki yang telah terhembus angin beberapa menit

wajah-wajah sumringah mencari nafkah
bagai lupa pada segala kesah
akibat debu dan panas yang bikin gerah

"... and i think to myself, what a wonderful world,"
kunyanyikan kali ini; padahal biasanya,
kunyanyikan lagu malaysia itu
: "suci dalam debu"

sidoarjo, 23.11.2009
isuk-isuk, sak durunge budal kerjo

19.11.09

Waktu: Sang Penguji Cinta

Di suatu pulau kecil, Cinta tinggal bersama-sama dengan Kesedihan, Kekayaan, Kebahagiaan dan Kecantikan. Suatu hari ada banjir besar datang.

Kekayaan lewat, dan Cinta dibiarkannya dengan alasan perahunya sudah penuh harta benda. Kebahagiaan lewat, juga menaiki sebuah perahu. Namun, teriakan minta tolong Cinta tak didengarnya -- saking bahagianya ia menemukan perahu. Kecantikan kemudian lewat. Tatkala dilihatnya Cinta yang basah kuyup dan kotor, ia tak peduli. Terakhir, lewatlah Kesedihan. Ketika melihat Cinta, ia menyatakan dirinya sedang terlalu sedih atas banjir yang sedang terjadi.

Cinta sendirian -- tanpa teman. Saat pulau itu hampir tenggelam total, lewatlah sebuah perahu. Cinta dibawanya serta... diselamatkannya. Ternyata, pendayung perahu itu bernama Waktu. Mengapa Cinta diselamatkan Waktu?

"Sebab, hanya Waktu yang tahu seberapa besar nilai sebuah Cinta," kata seseorang.

"L'uomo misura il tempo e il tempo misura l'oumo," kata sebuah pepatah Italia. Manusia mengukur waktu dan waktu mengukur manusia. Demikian pula keberadaan cinta dalam diri seseorang -- hanya waktu yang bisa mengukurnya.

Saudara, dalam dunia yang serba instan seperti sekarang ini, kita semakin gamang menerka sebuah cinta yang asli. Banyak kejahatan dilakukan atas nama cinta. Banyak bukti diminta demi meyakinkan sebuah keberadaan cinta. Tanpa kesetiaan dan komitmen cinta kerap diumbar demi memuaskan nafsu. Namun, pada akhirnya, hanya cinta yang disertai ketulusan yang akan tetap bertahan ketika waktu mengujinya. (~s.n~)

"Cinta yang asli tahan uji; sementara yang palsu tak mampu menahan diri."

Catatan: Terima kasih untuk Iqbal Dawami yang sudah menghadirkan ilustrasi menarik tentang cinta dan waktu dalam bukunya berjudul Cita-cita. Terima kasih untuk Pak Johannes Sumardianta yang telah menampilkan adagium Italia yang kukutip. Kubuat renungan ini untuk Blessing, dan Wahyu Indah, seorang anggota FPKM (Forum Penulis Kota Malang) yang akan segera mengakhiri masa lajangnya.

14.11.09

Petualangan Karena Kenangan Itu

"Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka." (Pengkhotbah 4:9)

Sepasang insan sejak kecil membangun kebersamaan hingga salah satu dari mereka meninggal. Di masa-masa mereka hidup bersama setelah menikah, kesahajaan dan kesetiaan mewarnai hari-hari hidup mereka. Namun sayang, mereka tak mempunyai seorang putra. Si pria yang telah tua, suatu hari, karena kesepian yang mengusik hidupnya, akhirnya memutuskan berpetualang dengan cara yang aneh.

Ia mengikatkan ribuan balon gas pada rumahnya. Rumahnya terangkat dan petualangan ke belahan dunia lain pun bermula. Bekal dan pemantik niat si pria berpetualang adalah sebuah buku diari peninggalan istrinya. Di sana terdapat sebuah gambar air terjun yang sangat ia harapkan untuk dikunjunginya suatu ketika. Harapan yang gagal -- si istri telah meninggal duluan.

Pada akhirnya, si pria tua berhasil sampai ke air terjun itu. Air terjun yang jauh dari tempat tinggalnya. Sebuah air terjun yang indah. Sebuah air terjun yang berhasil ia capai karena ia tak mau melupakan impian orang yang paling ia kasihi -- yang telah lama menjadi impiannya juga. Walau istrinya telah tiada, ia jelajah dunia untuk menyatakan kasihnya.

Film kartun berjudul Up ini mengetuk naluri kita untuk senantiasa mengasihi. Kenangan akan orang yang dikasihi, dipadu dengan memori akan kebersamaan dengannya yang membuat kita tahu apa isi hati terdalamnya, ternyata membuat hidup ini amat bermakna. Ya, kebersamaan kita dengan seseorang, yang menyatukan mimpi-mimpi kita dengannya, akan menjadi hal yang paling membentuk kehidupan kita. (~s.n~)

Baca resensi yang indah dari film Up di sini.

12.11.09

Yang Diharapkan Ketika Kembali

Hampir tiap akhir pekan saya pulang ke Malang sejak dua setengah tahun lalu. Saya bekerja di Sidoarjo, sementara kedua orang tua saya tinggal di Malang. Ada saat-saat yang selalu saya tunggu setiap akhir pekan ketika kembali bertemu dengan keluarga. Saat-saat ketika saya dan orang tua saling bercerita di meja makan tentang kehidupan kami masing-masing.

Juga, saat-saat ketika seorang keponakan saya yang masih balita dulu selalu menyambut saya ketika mendengar bunyi pagar rumah dibuka. Dia akan berlari keluar, menyerukan nama saya, lalu minta digendong. Dia senang kalau saya ajak melihati kambing-domba dan beberapa ikan di kolam yang ada di dekat sawah di sekitar perumahan kami.

"Setiap orang yang baru tiba dari bepergian jauh selalu mengharapkan seseorang menunggunya di stasiun atau bandara. Setiap orang ingin menceritakan kisahnya dan membagi kepedihan hati atau sukacitanya dengan keluarganya, yang menunggunya untuk pulang," kata seorang yang bijaksana.

Hal itu memang benar. Itulah yang membuktikan bahwa manusia tak dapat hidup sendiri. Manusia mengharapkan adanya orang lain ketika ia kembali dari suatu tempat. Ketika kita menutup diri untuk diterima orang lain, sesungguhnya tindakan ini akan mengecilkan arti diri kita yang sesungguhnya. Jurang yang dalam berupa prinsip atau tujuan hidup memang dapat menjadi pemisah sebuah relasi. Namun, kita tetap dapat dikasihi, meskipun kadang orang yang mengasihi kita tak selalu sejalan-sepikiran dengan kita. (~s.n~)

9.11.09

Kepahlawanan Maximilian Kolbe

"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:13)

Bila Anda pernah membolak-balik buku sejarah, atau menonton film "Schindler's List", "Life is Beautiful", atau "Anne Frank", Anda mungkin akan tahu bagaimana situasi pada zaman Nazi berkuasa. Serba muram, tanpa harapan.

Seorang pria yang menganggap dirinya sebagai "Penerus Tugas-tugas Martin Luther yang Belum Selesai" dan menebarkan ajaran bahwa semua orang Yahudi itu perlu dibasmi karena merekalah bangsa yang membunuh Yesus, tampil menguasai dunia. Adolf Hitler namanya. Kamp-kamp konsentrasi dibangun. Kamp-kamp untuk menampung mereka yang suatu saat akan dibunuh.

Juli 1941, seorang tahanan perang menghilang dari Auschwitz, sebuah kamp konsentrasi Nazi bagi orang Yahudi di sebelah selatan Polandia. Para Nazi berang. Jika dalam waktu 24 jam tahanan itu tak ditemukan, 10 orang dari 600 orang di sana akan secara acak dipilih untuk dibunuh.

Waktu itu tiba. Seorang mantan serdadu akan turut dibunuh. Francis Gajowniczek namanya. Ketika menerima hukuman itu, Gajowniczek berteriak, "Oh anak-anakku, istriku yang malang!"

Keributan lalu muncul. Seorang pria yang dikenal suka membagi makanannya, ringkih, dan suka membimbing orang lain mengucapkan doa pengakuan dosa tampil ke depan. Ya, dia seorang imam Katolik. Dia berkata, "Saya ingin menggantikan tempat salah satu dari para tahanan ini." Dia menunjuk kepada Gajowniczek. "Yang itu."

Pria itu bernama Maximilian Kolbe. Ia seorang pria yang terbiasa hidup menderita sejak kecil.

Maximilian Kolbe dan 9 tahanan itu lalu dibawa ke sel bawah tanah, di sebuah blok. Di sana mereka disiksa dengan tidak diberi makan dan pakaian yang layak. Hingga dua minggu, hanya empat dari sepuluh orang yang bertahan hidup. Dan Pastor Kolbe meninggal terakhir, di hari ke-15, setelah disuntik mati.

Maximilian Kolbe, pria asal Polandia yang ringkih namun cerdas itu telah menggenapkan ajaran Kristus tentang kasih. Seorang pahlawan yang tak berjuang dengan senjata, namun menyerahkan dirinya sebagai pengganti orang lain. Mungkin, beberapa orang menganggap perbuatannya adalah tindakan putus-asa. Tidak. Dia tidak berputus-asa, namun hidup dengan penuh harapan.

Dia telah menentang Nazi lewat tulisan-tulisannya di Ksatria Immakulata, sebuah majalah yang dipimpinnya, yang telah terbit puluhan ribu eksemplar. Majalah itu merupakan produk dari sebuah gerakan yang dipimpinnya bernama Milisi Maria Immakulata. Gerakan ini lebih banyak memfokuskan perhatian kepada keimanan dan perubahan sosial. Sebuah gerakan yang bagi sebagian rohaniwan Katolik disayangkan untuk dipilih Kolbe, karena bisa saja ia memiliki karir cemerlang -- mengingat ia sudah mendapat gelar doktor filosofi di usia 21 tahun, dan kemudian gelar doktor teologi di usia 22 tahun.

Sejak ditangkap oleh Nazi pada tanggal 17 Februari 1941 karena telah dicap sebagai penentang paham Nazi, ia sering mengalami siksaan berat. Bersama 320 tahanan ia dijejalkan dalam sebuah gerbong yang panas ketika ditangkap. Suatu hari ia terantuk dan jatuh ketika sedang memikul kayu. Ia harus dirawat dan hanya mendapat jatah makanan setengah dari biasanya. Jatah setengah itu pun masih sering dibaginya lagi untuk beberapa tahanan lainnya.

Mengenang kepahlawanan, kasih, dan segenap hidupnya, seorang pria lain akhirnya menggelarinya Santo pada tanggal 10 Oktober 1982. Ia digelari "Santo Pelindung dari Abad Kesulitan Kita". Pria yang menggelarinya adalah Paus Yohanes Paulus II, yang semasa hidupnya juga merasakan panggilan Allah ketika Nazi mengobrak-abrik Polandia, negerinya, pada tahun 1939. Dalam sebuah film berjudul "Karol, a Man who Became Pope", diceritakan dengan indah panggilan yang menjamah hati Karol Wojtyla, sehingga ia akhirnya menjadi Paus.

Kekejaman rasialis telah membangkitkan para pahlawan. Sebagian pahlawan bersenjata, namun sebagian tak bersenjata. Yang terakhir berjuang dengan keberanian yang lebih besar -- walau kerap tidak populer dan tampak kurang maskulin. Maximilian Kolbe adalah satu di antaranya. Tentang hidupnya, Paus Yohanes Paulus II berkata:

"Berjuta-juta orang telah dikorbankan oleh kesombongan dari kekuasaan dan kegilaan dari rasialisme. Tetapi di tengah-tengah kegelapan tersebut bersinarlah tokoh Maximilian Kolbe. Di atas ruang kematian yang besar tersebut melayang-layanglah firman kehidupan-Nya yang ilahi dan kekal: kasih yang penuh penebusan."

Sidik Nugroho, 9 November 2009
Dari beberapa sumber

4.11.09

Dua Baju untuk Boneka Jessica

Pengantar: Cerpen anak ini pertama-tama ditulis untuk Jessica Lestari, keponakanku, saat dia berusia hampir tiga tahun dan mulai lancar bicara. Ke mana-mana Jessica selalu membawa sebuah boneka Teddy warna putih yang ia beri nama Pepeng.

JESSICA ulang tahun! Kini dia berusia tiga tahun! Sebagai hadiah ulang tahunnya, aku memberikan sebuah boneka Teddy Bear yang agak besar. Betapa ia senang dengan pemberian itu. Setiap hari ia tidur sambil memeluk boneka itu. Aku dan ibu senang sekali bila melihatnya tertidur pulas.

Seminggu setelah ulang tahunnya, aku, Ibu dan Jessica pergi ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan kami. Ketika kami mampir ke toko pakaian, Jessica memperhatikan sebuah baju kecil untuk bayi yang dipajang di etalase toko itu. Ia tak mengatakan apa-apa. Ibu membelikan Jessica beberapa pakaian baru untuk di rumah.

"Kak...," kata Jessica ketika ia mau tidur di malam hari.

"Ada apa, Dik?" kataku.

"Bonekaku kelihatannya kalau malam kedinginan. Kacian ya.... Mau tidak Kakak belikan baju untuknya?"

Oh tahulah aku mengapa tadi siang ia memperhatikan baju itu. Aku berpikir sejenak. Ya, anak kecil memang pikirannya kadang-kadang tak bisa ditebak.

"Boneka kan benda mati, Jessica. Boneka tidak bisa kedinginan," kataku menjelaskan.

Tapi Jessica berkilah. "Manucia caja bica kedinginan, apalagi boneka!"

Aku menjelaskan juga kepadanya bahwa boneka tak mempunyai nyawa dan perasaan, tapi ia tetap berkilah. Akhirnya, ia tidur juga, walaupun dengan wajah agak merengut.

Malang, kotaku, memang dingin, apalagi di awal musim hujan seperti sekarang. Jessica baru saja sembuh dari sakit. Salah satu penyebab sakitnya juga hawa dingin di kota ini. Jessica tampaknya tak ingin bonekanya sakit.

Ketika bangun di pagi hari Jessica merengut. Ibu juga telah mengetahui kalau Jessica ingin bonekanya dipasangi baju. Tapi, ibu mengatakan kalau belum sempat pergi ke pasar.

Ibuku menjadi guru di sebuah SD swasta. Ayahku kerja di luar kota, seminggu sekali baru pulang ke Malang. Aku sendiri sudah sekolah kelas 5 SD sekarang. Bila kami semua pergi, Jessica diasuh oleh nenekku.

"Nanti ibu belikan baju yang cocok buat adikmu ya," kata Ibu pagi itu.

"Benelan? Nanti Jeci tunggu lho...."

"Iya, pasti ibu belikan. Biar tidak kedinginan."

"Aciiik.... Bonekaku cayang... jangan cakit ya.... Kakak akan celalu melindungimu," kata Jessica kepada boneka itu sambil memeluknya dan membawanya ke mana-mana. Ia selalu menganggap boneka itu adiknya. Aku dan ibu berpandangan sambil tersenyum melihat tingkah Jessica.

Ketika ibu kembali ke rumah, ternyata ibu lupa membelikan baju untuk boneka Jessica. Ibu pulang agak terlambat karena rapat. Setelah rapat, ia lupa ke pasar! Jessica menangis tersedu-sedu. Kasihan sekali, dia kecewa. Tapi untunglah ia segera mengantuk, dan kemudian tidur. Sore harinya ibu tak sempat membelikan baju kecil itu untuk Jessica karena arisan. Ibu merasa bersalah.

"Sayang, ibu minta maaf ya. Besok pasti ibu belikan."

"Benelan? Jangan lupa lagi lho.... Nanti kacian bonekanya nangic."

"Ya, pasti ibu belikan, Nak."

Malam itu Jessica tidur dengan riang setelah sebelumnya ia berkata, "Dik, becok kamu gak kedinginan lagi. Malam ini tidul dengan tenang ya...."

***

KETIKA pulang sekolah, aku mendapati Jessica sedang memotong-motong kain lap yang ada di dapur seorang diri. Nenek sedang memasak di dapur.

"Untuk apa ini, Dik?"

"Untuk bikin baju Teddy," katanya.

"Jessica dari tadi mengguntingi lap itu. Tadi nenek sudah mencegahnya, tapi dia selalu melawan," kata Nenek. "Dia takut mamanya lupa lagi; terus nanti malam bonekanya kedinginan."

Aku berpikir sejenak. Dan... aku dapat ide!

"Kakak dulu punya kain yang tidak terpakai lho. Kainnya berwarna-warni. Ini kan kainnya jelek kalau untuk Teddy. Nanti Teddy kasihan karena bau kainnya enggak sedap."

"Maca cih? Mana kainnya?"

"Ada di lemari. Yuk kita lihat!"

Mata Jessica berbinar-binar ketika kain itu kutunjukkan kepadanya. Berwarna biru, merah dan hijau dengan garis-garis oranye. Ada juga gambar hati merah muda bertaburan acak di seluruh kain. Kain itu dulu akan kupakai untuk membuat celana pendek, tapi tidak jadi.

"Waaah, kita buat baju Teddy pakai kain ini? Wiiih, baguc cekaleee. Yuk kita buat!" katanya penuh semangat.

"Jangan kita yang buat, kan ada Pak Sodik yang bisa menjahit."

"Oh iya, ya.... Kita ke cana yuk!"

Siang itu aku dan Jessica membawa Teddy dan kain itu ke Pak Sodik, tukang jahit yang tinggal dekat perumahan kami. Kami berdua berjalan kaki. Kugandeng tangan adikku itu dengan sepenuh rasa sayang. Untunglah Pak Sodik cukup sabar sehingga ia mau saja ketika diminta membuatkan baju untuk boneka Jessica.

"Nanti malam paling sudah jadi. Datanglah ke sini. Ongkosnya lima ribu saja."

Kami lalu pulang. Ketika sampai di rumah, ibu juga datang dari sekolah.

"Bu... Bu... tadi aku cama kakak menjahit baju untuk adik!" katanya riang menyambut ibu.

"Oh ya? Ini ibu juga membawa sebuah baju kecil untuk adikmu."

"Mana, Bu?" tanya Jessica tak sabar.

Lalu ibuku menunjukkan sebuah baju kecil yang berwarna merah muda dan biru. Dan, aku ingat, itulah baju yang dipandangi Jessica ketika beberapa hari lalu kami pergi ke pasar.

"Ohhh, ini kan baju yang aku lihat dulu! Baguc cekaaaleee!"

Ibu dan aku berpandangan sambil tersenyum. Ah, ternyata ibu juga tahu kalau waktu itu Jessica melihati baju itu.

"Telima kacih, Bu! Telima kacih!"

"Nah, berarti adik kita ini sekarang punya dua baju. Nanti kalau salah satu bajunya kotor harus diganti dengan yang lain. Ingat itu, Jessi?" kata ibu.

Jessica tak menjawab apa-apa, hanya mengangguk dengan wajah senang. Ia lalu masuk ke kamar dan berteriak, "Hole!" berulang-ulang. Ia gembira sekali. Ibu dan aku hanya geleng-geleng kepala.

Beberapa saat kemudian Jessica menyanyikan lagu yang ia karang sendiri: "Betapa cenang hatiku, adikku punya dua baju."

***

Sidik Nugroho, Malang, 2007

1.11.09

Ke Pujon, ke Selorejo

Pujon, Kecamatan 1000 Sapi

Tidak seperti perjalananku ke Jembatan Suramadu dua minggu lalu, kali ini aku memang telah membuat rencana jauh-jauh hari sebelum pergi ke Pujon. Awalnya aku berencana ke Pujon dan Coban Rondo, sebuah tempat wisata air terjun, namun urung karena aku ingin sekali melihat sawah-sawah yang ada di Ngantang.

Jam 10 pagi aku berangkat dari Malang. Perjalanan ke Pujon yang melintasi kota Batu kutempuh sekitar sejam. Jarak Malang-Batu 17 kilometer, sementara Batu-Pujon sekitar 6 kilometer. Sebenarnya bisa lebih cepat dari sejam; ini karena sebelum ke Pujon aku mampir dulu di sebuah warung di Payung.

Payung adalah nama kompleks warung tenda permanen yang ada di sepanjang jalan Kota Batu bagian atas hingga mendekati Pujon. Beberapa warung di sini kebanyakan membuat betah pengunjungnya karena dari sini tampak pemandangan Kota Batu. Banyak orang pacaran di sini kalau malam Minggu. Di warung ini aku menggunakan kekerku melihat motor dan mobil yang berjalan dari Batu menuju Pujon yang berliuk-liuk dan mendaki.

Ada pemandangan yang menarik ketika aku berada di Payung: Beberapa pria muda sepertiku mengendarai sepeda gunung di sepanjang jalan di Payung. Gear yang memutar rantai sepeda mereka disetel pada yang paling kecil, untuk memudahkan genjotan-genjotan mereka. Aku salut pada semangat dan kekuatan mereka. Mengingatkanku pada Forrest Gump yang suka lari-lari.

Selama satu jam berikutnya aku berkeliling di wilayah Pujon. Pujon adalah sebuah kecamatan yang 75% penduduknya bermatapencarian sebagai peternak sapi perah. Selain peternakan, Pujon juga sebuah daerah pertanian. Banyak orang menanam kopi di Pujon.

Ketika hendak mengunjungi kantor pusat koperasi susu, aku dikabari kalau para karyawan dan pimpinannya sedang ada acara syukuran pada hari ini. Aku akhirnya berbincang-bincang dengan Pak Bambang, satpam yang menjaga sebuah kantor unit (cabang) koperasi susu di Pujon. Selain satpam, dia juga seorang peternak sapi perah.

Pak Bambang bercerita kalau dalam sehari bisa didapatkan 100 ton susu perah dari seluruh penduduk Pujon yang dijual ke koperasi. Koperasi kemudian menjual susu itu ke Nestle. Penduduk menyetor susu dua kali sehari: jam 6 pagi dan jam 4 sore. Seekor sapi perah yang sehat dapat menghasilkan 15 liter susu sehari, sementara harga susu per liter yang dibeli koperasi adalah Rp.3000,oo. Namun, keuntungan sekitar Rp.45.000,oo per hari untuk seekor sapi itu belum dipotong biaya perawatan dan makanan sapi.

Dalam bulan-bulan tertentu (biasanya di awal tahun) juga ada musim perah. Pada saat ini produksi susu biasanya meningkat agak drastis. Selain musim ini, para peternak mendapatkan perahan yang cukup banyak ketika sapi yang mereka miliki baru melahirkan.

Begitulah cerita-cerita tentang susu dan sapi dari Pak Bambang, seorang satpam yang tampak bijak, ramah dan senang bicara. Pak Bambang kemudian memberitahuku kalau tak jauh dari kantornya ada sebuah kandang besar yang dihuni banyak sapi. Kandang itu milik koperasi. Namun aku tak berhasil melihat kandang itu karena dikunci. Orang-orang yang menjaga kandang itu turut diundang acara syukuran yang diadakan koperasi.

Kutancap gas sepeda motorku menuju Ngantang, yang berjarak sekitar 14 kilometer dari Pujon. Ya, di Ngantang-lah Waduk Selorejo itu berada.

Selorejo, Waduk di Lahan yang Subur

Tak sampai setengah jam dari Pujon, aku sampai di Ngantang. Sama seperti di Pujon, udara di sini terasa sejuk. Aku tak langsung menuju ke Selorejo, namun berkendara satu kilometer lebih jauh, menuju sebuah warung persinggahan di Desa Sidorejo yang berpemandangan indah.

Di warung persinggahan ini aku ngopi sejenak. Aku ngopi di Warung Bu Renggo. Dari warung-warung persinggahan di sini, kita dapat melihat hampir seluruh bagian Waduk Selorejo dan lahan pertanian yang sangat luas. Hijau dan subur. Lahan pertanian ini, hampir seluruhnya ditanami padi.

Waduk Selorejo terbagi menjadi dua bagian besar. Keduanya tapi tetap menyatu dengan adanya sebuah bagian waduk mirip sungai. Waduk ini dibangun pada tahun 1963, dengan memanfaatkan sumber air dan sungai-sungai lebar yang mengalir di wilayah Pujon dan Ngantang. Sungai-sungai lebar itu oleh penduduk setempat dinamai "konto". Tujuh tahun kemudian, pada tahun 1970, bendungan yang menghadang aliran air dari sebuah konto terbesar jadi. Perlu waktu dua bulan untuk mengairi wilayah Waduk Selorejo di seberang bendungan agar tertutup air. Waduk ini memiliki luas sekitar 640 hektar. Di musim kemarau, luas itu dapat berkurang karena air menguap.

Aku sempat tidur hampir sejam di warung Bu Renggo. Di sana ada tikar lesehan disediakan. Padahal habis ngopi, kok ngantuk ya?

Setelah bangun tidur, aku memutar arah, menuju ke Waduk Selorejo.

Waduk Selorejo tampak agak sepi Sabtu ini. Kali ini, yang lebih banyak berkunjung adalah bapak-ibu dari beberapa rombongan yang tidak aku kenal. Bapak-ibu ini tampak senang, terutama mereka yang habis berkeliling waduk naik perahu motor. Bila menggunakan perahu dayung, daya tampung maksimalnya tiga sampai empat orang. Perahu motor bisa menampung selusinan orang. Namun, selain bapak-ibu itu, dalam kunjunganku beberapa kali ke sini, selalu ada saja para muda-mudi yang pacaran -- ya, kali ini pun ada. Aku mengeker mereka yang lagi asyik pacaran. Kelihatannya mesra sekali, pacaran di pinggir waduk. Asyik.

Dan yang juga mengasyikkan adalah ketenangan dan keheningan air di waduk ini. Nyaris tak ada gelombang di sini, kecuali bila sebuah perahu motor lewat. Aku sempat mengarang beberapa baris puisi untuk mengenang keheningan ini, namun puisi itu rasanya kurang kuat. Kutinggalkan saja akhirnya. Kurang asyik.

Di sekitar waduk ini banyak orang berjualan ikan bakar dan goreng. Ikan-ikan ini sebagian besar didapat dari memancing di Waduk Selorejo. Di waduk ini tersedia ikan nila, mujaer, tombro, wader, dan udang yang kecil-kecil. Dalam sehari bisa didapatkan 5 kuintal ikan dari Waduk Selorejo. Para nelayan di sini menangkap ikan menggunakan jaring yang lebar dan perahu dayung. "Ikan-ikan di sini tak pernah habis," kata seorang bapak yang berjualan minuman dan topi. "Orang-orang di pasar Ngantang kadang sampai nolak-nolak kalau ditawari ikan."

Karena hari masih siang, akhirnya aku tidur lagi di Waduk Selorejo. Aku mencari lokasi tidur di sebuah tempat yang agak sepi, di dekat cottage-cottage, di bagian timur lokasi wisata, dengan tujuan agar nantinya dapat mengambil gambar yang mantap kala mentari turun di barat. Cottage, atau rumah menginap di pinggir waduk ini, tampak anggun. Harga sewanya berkisar antara 400 ribu sampai 750 ribu per hari-malam. Perjalanan menuju ke sana melewati sebuah jembatan gantung yang cukup panjang, sekitar 50-60 meter. Jembatan gantung itu, bila dilewati, akan bergoyang-goyang. Ketika aku melintasinya, ada beberapa cewek yang juga lewat. Mereka teriak-teriak. "Wah, ndeso tenan," canda batinku.

Hari hampir sore ketika aku terbangun. Sayang, cuaca mendung. Aku hanya berhasil membuat beberapa gambar yang bagus. Hujan bahkan sempat turun sebelum waktu salat azhar. Ketika senja hampir usai, beberapa nelayan datang dengan perahu dayung mereka di sekitar tempat aku tadi berbaring dan tidur. Para nelayan inilah yang paling sering kukeker. Mereka tampak sabar sekali mencari ikan. Bersamaan dengan kedatangan para nelayan, hujan pun datang.

Untunglah hujan tidak lama mengguyur wilayah Ngantang. Hanya setengah jam. Saat hujan turun aku sempat kesal karena tak mendapatkan beberapa foto yang bagus. Padahal aku sudah menunggu momen itu. Ya, ini karena kameraku kamera lama. Foto bisa jadi bagus, kalau cuaca pun bagus. Tapi, tak apalah. Aku tetap bersyukur dengan apa yang kudapatkan pada perjalanan kali ini.

Sebelum pulang ke Malang, aku mampir lagi ke warung persinggahan di Sidorejo.

Hawa masih dingin, aku memesan segelas kopi lagi. Kali ini, aku tak lagi mengambil foto, hanya memandangi Waduk Selorejo dan sawah-sawah hijau yang perlahan-lahan gelap. Hanya beberapa lampu menyala, karena hanya sedikit rumah di sekitar Waduk Selorejo. Aku menikmati kopiku santai-santai hingga akhirnya kekelaman menjalari segenap angkasa yang terbentang di depan sepasang mataku -- kali ini tanpa keker.

Sidik Nugroho
Selorejo-Malang-Sidoarjo, 31 Oktober-1 November 2009

Catatan: Foto bisa di-klik untuk melihat gambar dengan lebih lega. Enjoy!