12.6.09

Ilmu, Meditasi dan Karya

Sartono Kartodirdjo, sejarawan terkemuka itu pernah menyebutkan bahwa beberapa ilmuwan yang ada di Indonesia lahir karena bagi mereka, "hidup ini tidak ditentukan oleh nasi." Mereka mendalami sejarah karena mereka benar-benar cinta sejarah. Ia menceritakan beberapa orang yang hampir abai terhadap uang, mempelajari sejarah dengan ketekunan yang amat tinggi, hingga ilmu itu menjadi sebuah jalan lain untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.

Bukan hanya ilmuwan yang demikian. Bila kita menengok sejarah, para empu pembuat keris atau kitab pusaka melakukan hal yang sama. Mereka berpuasa, seraya merenung, mendekatkan diri dengan Penguasa, bereksperimen, juga berkarya. Hasilnya, karya-karya mereka tahan lama, terus menerus dipelajari, dan menginspirasi.

Karya yang besar tidak serta-merta lahir. Karya yang besar lahir karena sebuah ilmu benar-benar digeluti dengan intensitas dan pengorbanan tidak setengah-setengah, pula disertai meditasi. Tak banyak buku motivasi mengajarkan hal ini, karena hampir semuanya mengajarkan kesuksesan dalam cara yang mudah, waktu yang cepat dan tenaga yang sedikit.

Hakikat hidup adalah berkarya, yang bila dipadu dengan minat dan kemampuan yang memadai, akan menghasilkan sesuatu yang berarti dan berguna. Hasrat yang besar adalah nafas dari perpaduan itu. Dan hasrat itu semata-mata dapat terus berada di dalam diri kita bila kita mau selalu merenung: memaknai setiap jejak-langkah yang kita tempuh dalam kefanaan ini -- dalam terang petunjuk-Nya. (~s.n~)

9.6.09

Semoga Pelangi Itu Selalu Berseri

: Sebuah Esai atas Buku Kumpulan Cerpen "Pelangi Sastra Malang dalam Cerpen"

"Dead Poets Society" -- mungkin kita pernah menonton filmnya. Di sana ada seorang guru bahasa yang sangat bergairah dan dinamis mengajar: naik ke atas meja, penuh retorika, bahkan menggunakan pelajaran olahraga sebagai kegiatan pemantik semangat hidup. Sang guru -- diperankan memikat oleh Robin Williams -- disukai benar oleh murid-muridnya. Beberapa di antara mereka bahkan kemudian meniru-niru apa yang pernah dilakukan sang guru itu ketika ia masih muda: membentuk geng sastra!

Di sebuah tempat mirip gua yang jauh dari keramaian pada malam hari, berbekal cahaya remang-remang, mereka berkumpul, mengadakan perang sajak dan puisi. Jiwa muda yang penuh antusiasme dan kegairahan berekspresi -- tak akan terlupakan, bukan? Apalagi ketika cinta sedang menyapa, lalu puisi tercipta, dibacakan sambut-menyambut dalam bisikan hening, sesekali pekik, dan nuansa penuh dinamika: serasa lapang nian batin kita yang kecil ini memandangi keluasan semesta raya!

"Carpe diem", itulah salah satu ungkapan yang sering disebut dalam "Dead Poets Society". Artinya "seize the day", gunakan hari ini -- sebaik mungkin. Hidup memang indah jikalau kita berkarya dengan hati, tak sekedar disia-siakan. Hati pun akhirnya mencari kata-demi-kata, dalam rangka upaya memaknai keindahan -- juga bahkan penderitaan -- hidup. Kreator-kreator lalu tampil, dan seringkali mereka bersatu, membentuk komunitas, berbagi, dan bercengkerama.

Komunitas-komunitas sastra itu penting, paling tidak dalam dua hal berikut. Pertama, ia adalah ajang di mana para anggotanya bisa berbagi dan saling membangun. Kedua, ia menjadi bukti eksistensi keberadaan minat serupa para anggotanya. Dari kedua hal ini, hal kedualah yang sedang ditampakkan oleh Pelangi Sastra Malang lewat kumpulan cerpen "Pleidooi" ini.

Kumpulan cerpen ini dibuka dengan cerpen berjudul "Pinanglah Aku" karya Muyassaroh El-yasin. Penulis yang rajin menulis di majalah dinding ini membuat sebuah cerpen remaja Islami yang memikat dari segi dialog dan ekspresi tokoh-tokohnya. Ia mengisahkan seorang tokoh yang ingin hubungan lawan jenis berstatus jelas. Dengan lugas penulisnya menyampaikan pentingnya tujuan sebuah hubungan. Terkesan tradisional, mirip hubungan percintaan di desa-desa yang pernah saya dengar di warung kopi: bila kau mengajak seorang gadis keluar, orang tua si gadis akan memintamu untuk melamarnya. Terkesan sedikit asing alur dan ceritanya di tengah kehidupan yang makin bebas.

Cerpen-cerpen lain bertema cinta juga ada, setidaknya dalam cerpen-cerpen berikut: "Nausea" karya Yuni Kristianingsih, "Dua Laki-laki yang Meninggalkan Memori Nyeri" karya Yusri Fajar, "Tamu dari Austria" karya A Elwiq Pr dan "Dia Belum Juga Datang" karya Aga Herman. Cerpen-cerpen ini menampilkan beraneka dimensi tentang hubungan cinta, dengan jalinan kisahnya sendiri-sendiri. Dari keempat cerpen ini, yang agak eksentrik adalah cerpen "Dia Belum Juga Datang". Seorang wanita yang menunggu seorang pria hingga menghabiskan bergelas-gelas kopi di sebuah kafe ini terurai penuh gagasan hebat -- memuat penelusuran kondisi jiwa si wanita ketika menepis kegelisahannya dalam penantian.

Cinta memang tema yang tak pernah basi. Setiap orang mempunyai penafsiran, atau pengalaman, yang khas, tentang cinta. Namun ada juga cerita-cerita lain yang tidak mengangkat cinta sebagai tema utama dalam buku ini. Contohnya adalah "Negeri Dusta" karya Abdul Mukhid. Cerpen ini menarik: Paragraf-paragraf awalnya filosofis, harus dicermati amat serius, sementara akhirnya adalah ekspresi tawa yang lugu.

"Pleidooi" karya Azizah Hefni dan "Senja" karya Titik Qomariyah adalah cerpen-cerpen situasional. Azizah Hefni, yang akrab disapa Zizi, adalah pencerita berbakat. Cerpen "Pleidooi" yang dijadikan judul buku kumpulan cerpen ini pernah dibacakan pada ulang tahun kota Surabaya ke-715. Alur, penggambaran karakter dan dialog-dialognya matang.

Namun, sebuah cerpen situasional yang justru paling "nendang" rasanya adalah "Selamat Sore, Olivia!" karya Liga Alam Mukhtar. Sebabnya, cerpen ini sangat singkat dan bahasanya benar-benar efisien. Cerpen ini mengingatkan kita pada cerpen-cerpen Bondan Winarno dalam kumpulan cerpennya berjudul "Pada Sebuah Beranda" (yang sebelumnya, dalam jumlah cerpen lebih sedikit bertajuk "Café Opera"). Kehamilan Olivia, aborsi yang dilakukannya, gelak emosinya, benar-benar tergarap maksimal oleh penulisnya.

Dua cerpen yang satiris adalah "Desa Para Dukun" karya Wawan Eko Yulianto dan "Tangan Berkolam" karya Supriyadi Hamzah. Wawan Eko Yulianto menyajikan narasi yang begitu reflektif atas kondisi warga Sidoarjo, Porong khususnya, setelah lumpur panas Lapindo tak henti-hentinya muncrat -- hingga kini. Ini berhasil dilakukan Wawan karena ia memang asli orang Sidoarjo. Doa, mantra, keluh-kesah, serta haru-tangis terkisah elok dan mengharukan dalam cerpennya. Sementara itu, "Tangan Berkolam" lebih banyak memuat tema nasionalisme dalam hubungan cinta beda bangsa. Ya, selain satiris, kedua cerpen ini sama-sama reflektif. Bedanya, dalam "Tangan Berkolam" terdapat beberapa dialog yang cukup banyak mendukung jalinan kisah.

Cerpen "Tangan" karya Susanty Octavia berusaha memetakan kedalaman hubungan tokoh utamanya dengan Allah. Cerpen ini memuat nilai-nilai Islami yang kental. Mirip dengan cerpen "Tangan", cerpenis lain bernama Lubis Grafura menyajikan cerpen religius, yang mana nilai-nilai religiusitas dalam cerpennya itu ia sentuhkan dengan budaya sebuah masyarakat di Kabupaten Donggala. Judul cerpennya "Rilara Nuadanga" -- sebuah judul yang indah, bukan? Dengan bahasanya yang hening, Lubis mengisahkan tentang jembatan kematian, atau secara Islami disebut "sakratul maut", yang terjadi pada orang-orang Suku Kaili di sana.

Nah, demikianlah tinjauan atas cerpen-cerpen yang ada dalam kumpulan cerpen ini. Semoga hasil kerja kolaborasi ini tak berhenti sampai di sini. Penulis-penulisnya bisa dibilang semua berbakat menghasilkan karya-karya lain yang berkemungkinan besar dinikmati dan disukai lebih banyak orang. Pelangi Sastra Malang, komunitas ini -- dengan karya-karyanya yang mirip ragam warna pelangi -- kiranya terus berkarya. Dan kiranya karya-karya itu tidak sirna oleh terik panas surya, tidak tersembunyi di balik awan kelam, namun tampil -- lagi dan lagi -- seperti pelangi yang selalu berseri. ***

Sidoarjo, 8 Juni 2009, 23:56

Sidik Nugroho
Penikmat buku dan penyuka pelangi

7.6.09

perjumpaan pribadi dengan tuhan


ini adalah sebuah renungan di hari minggu. selamat hari minggu.


"TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." (Mazmur 25:14)

"Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu..." (Yakobus 4:8)

***

"semua orang datang dan pergi, aku tetap tegar. aku sering dikecewakan, tapi aku tidak kecewa berlarut-larut. aku sering disakiti, namun aku bangkit lagi. beberapa pria datang, mereka selingkuh, aku ditinggalkan, aku tetap tegar. semua ini mampu kutanggung karena aku pernah bertemu tuhan secara pribadi. pertemuan itu bagiku sangat luar biasa. aku seperti mendengar tuhan berkata kepadaku, 'aku sayang kamu'. dan aku berani menyimpulkan bahwa tidak ada hal yang lebih indah di dunia selain mendapat kesempatan bertemu tuhan secara pribadi. mendengar apa yang dikatakan tuhan padaku, rasanya akan jauh lebih manis daripada mendengar pria idamanku suatu saat berkata, 'aku mau melamarmu'."

itulah pengakuan seorang teman saya, seorang pendoa muda yang saleh. ketika mendengarnya saya benar-benar tertohok. bagaimana tidak, semua kata-katanya memang luar biasa. well, "bertemu tuhan"... luar biasa, bukan?

ya, kita dapat menyatakan dengan enteng bahwa kita dapat bertemu tuhan ketika doa sebelum makan, sebelum tidur, atau bahkan sambil menyetir dan bekerja. ya, ya, ya... tuhan omnipresent -- dia mahahadir! namun, bertemu secara intim dengan tuhan, lalu mendapat suatu pernyataan penting darinya, itu yang dimaksudkan teman saya. itulah saat kita melakukan doa bukan hanya sebagai rutinitas, tapi sebuah pencarian dan penjelajahan. doa menjadi cara di mana kita membawa diri mendekat kepada tuhan.

para motivator dan inspirator yang beberapa karyanya saya baca, umumnya menggunakan tuhan atau doa sebagai penghias yang manis dalam karya-karyanya. kita diingatkan untuk pasrah dan berserah pada tuhan lewat doa. tak salah memang, lewat mereka kita diingatkan juga akan keterbatasan daya-upaya juga asa yang kita miliki; lalu kita bergantung pada tuhan, sang pemilik hidup, untuk membimbing dan menuntun kita.

nah, yang menjadi masalahnya adalah: tuhan lebih dari sekedar pembimbing atau penuntun. ia bukan tuhan yang dogmatis. ia nyata. "ia lebih nyata daripada pakaian yang melekat di badanmu," kata kathryn kuhlman, seorang pendeta yang senantiasa menghadirkan keheningan manis dan sangat khidmat dalam ibadah-ibadah kesembuhannya.

ya, ia mau menjadi yang pertama kita hubungi ketika segala kepayahan mendera batin kita. ia mau menjadi sahabat kita. ia mau menghadirkan segenap kelimpahan sukacita dalam hati kita yang kerap dilanda gundah gulana dan gelombang ketidakpastian dalam hidup.

tuhan semesta alam, mau bergaul karib dengan manusia yang besarnya hanya sepersekian ukuran sebutir debu ketika ditilik dan dibandingkan dengan keluasan alam raya yang tak mampu terjelajah mata indrawi kita yang rawan penyakit rabun. itulah yang membuat kita semestinya bersyukur, dan rendah hati. seburuk apa pun pengalaman yang pernah kita alami, tuhan mampu angkat itu. sejelek apa pun masa lalu kita, tuhan tidak pernah menolak kita. dan di hari depan, ketika kegelisahan, kekecewaan dan ketidakpastian menyerang hidup kita, tuhan menjanjikan penghiburan dan masa depan yang penuh dengan harapan.

"nothing you can do, makes him love you more; nothing that you've done, makes him close the door," demikian bunyi dua bait sebuah lagu yang indah dari hillsong, yang pernah saya dengar suatu ketika. dan kata-kata itu juga hendak menyapa hati kita: ia mengasihi kita bukan karena apa yang sanggup kita lakukan; ia mengasihi kita apa adanya.

ia juga, kini, ingin membuka pintu rumahnya bagi kita. ia ingin kita mengetok-ngetok, masuk, minum teh, ngobrol-ngobrol, riang dalam keintiman dengannya.

***

sidik nugroho
malang, minggu, 7 juni 2009
pagi hari, sambil mendengar kicau burung dan riak air di akuarium

5.6.09

Katak yang Ingin Terbang Tinggi

Cerpen Anak oleh Sidik Nugroho

TARJO adalah katak yang cukup populer di sebuah hutan yang kecil. Sebabnya ia kenal dengan hewan-hewan yang ada di darat. Ia juga kenal dengan hewan-hewan yang ada di sungai. Teman dekatnya adalah kura-kura bernama Wawa.

“Wa, aku ingin bisa hidup di udara juga!” kata Tarjo suatu ketika.

“Kenapa begitu, Jo? Bukannya kita mesti bersyukur karena sudah bisa tinggal di darat dan sungai?” tanya Wawa.

“Bersyukur sih bersyukur, Wa. Tapi rasanya Jenny akan sangat bangga padaku kalau aku bisa melayang-layang di udara.”

Jenny adalah seekor katak betina yang menurut Tarjo sangat cantik. Wawa bingung harus berkata apa. Dia tahu kalau Tarjo sangat ingin mendapat perhatian Jenny. Selama ini Jenny memang agak sering menghindar dari Tarjo karena Tarjo dianggapnya sok tahu, sok sibuk dan sok akrab dengan semua hewan lain.

“Jo,” akhirnya Wawa mencoba memberi usul. “Kurasa Jenny tak tertarik kalau kau bisa terbang tinggi di udara. Selama ini kulihat kau jarang memberinya perhatian. Kau jarang menemaninya kalau ia ke mana-mana. Menurutku, kau tampaknya tak berusaha menjadi temannya. Kau tampaknya justru ingin tampil hebat di depannya.”

“Bukankah aku memang hebat, Wa?” tanya Tarjo dengan nada bicara yang angkuh.

“Nah, itulah masalahmu, Jo! Memang banyak hewan menganggap kau hebat. Kau tahu banyak hal, kau kenal semua hewan di sini, tapi kau kadang... sulit menjadi teman yang baik.”

Tarjo tersinggung dengan apa yang baru saja Wawa ucapkan. Setengah membentak ia berkata: “Apa selama ini aku bukan temanmu yang baik, Wa!?”

Tarjo meninggalkan Wawa ketika Wawa hendak menjelaskan maksud kata-katanya. Wawa hendak mengejar Tarjo dan berbaikan, tapi Tarjo telah melompat-lompat cepat tak terkejar, masuk ke dalam hutan.

***

DI hutan, benar-benar tak disangka, Tarjo bertemu Mas Igel, seekor elang muda yang sangat tampan. Ia menjadi pujaan banyak hewan di hutan. Ia baru saja mengunjungi saudaranya, seekor burung nuri yang baru saja sembuh dari sakit keras. Tarjo menyapanya dan mengajaknya berbicara soal aneka tetumbuhan yang berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Mas Igel amat terkesan dengan pengetahuan Tarjo.

“Mas, maukah kita menjadi teman baik?” tanya Tarjo kepadanya.

“Ya, aku mau, Tarjo.”

Tarjo merasa senang karena kini ia bersahabat dengan hewan yang sering hidup di udara. “Betapa banyak temanku!” katanya dengan bangga di dalam hati. Dan, betapa bahagia hatinya karena ketika ia meminta Mas Igel membawanya terbang di udara, Mas Igel setuju!

“Tapi, kau tidak boleh mengajakku berbicara, Jo. Selama terbang, kau akan kuletakkan di dalam paruhku dan kau harus diam. Mengerti?”

“Sip, bos!!!” kata Tarjo dengan penuh semangat.

Mereka kemudian membuat janji untuk bertemu esok hari di dekat sungai dan kemudian terbang bersama.

***

TARJO rasanya tak sabar menunggu sehari saja. Ia telah mengabari semua hewan yang ditemuinya apa yang akan terjadi. Tarjo, si katak populer, dan Mas Igel, sang elang tampan, akan terbang bersama! Seisi hutan benar-benar gempar!

Beberapa hewan yang sedang tidak sibuk menyaksikan pertemuan kedua hewan itu di tepi sungai pagi hari ini. Semuanya memandang keduanya dengan bangga, terutama kepada Mas Igel. Suasana menjadi hiruk-pikuk ketika Mas Igel mengapit badan Tarjo dengan kedua paruhnya dan siap-siap terbang. Keadaan menjadi kian ramai ketika... wusssh!!! dua hewan itu melaju ke angkasa. Kepergian keduanya dilepas dengan sorak-sorai dan siulan-siulan membahana.

Di sebuah batu yang agak jauh dari keramaian para hewan, duduklah seekor katak dan seekor kura-kura yang tak turut berhiruk-pikuk. Ya, kita tahu siapa mereka: Jenny dan Wawa.

***

TARJO benar-benar gembira dengan apa yang dialaminya saat ini. Rasanya ini adalah hal yang terindah sepanjang hidupnya. Kini dilihatnya sungai tempat ia tinggal dan bermain menjadi sangat kecil dan panjang, serta berkelok-kelok dengan begitu indah. Dedaunan pohon-pohon di hutan tampak hijau menggerombol bagaikan lumut di permukaan batu-batu dekat sungai. Ia dan Mas Igel terbang makin tinggi dan tinggi, setinggi puncak gunung terdekat dengan hutan tempat ia tinggal.

Nah, yang paling ajaib baginya adalah ketika ia memandang besi-besi besar yang bersambung-sambung. Besi-besi itu berjalan laju di dua buah besi kecil lain berwarna hitam yang terpasang sejajar. Tarjo amat heran dengan benda yang sesekali mengeluarkan asap dan bunyi tuuut!!! tuuut!!! dari bagian depannya dengan nyaring sekali.

Ia hendak bertanya kepada Mas Igel benda apakah itu tapi tak bisa. Ya, kesepakatan mereka berdua selama terbang adalah tak boleh bicara satu kata pun.

Hampir setengah jam berlalu. Tiba waktunya untuk pulang. Kini Tarjo dapat melihat lagi hutan tempatnya tinggal. Ketika sudah tak terlalu tinggi, Tarjo lupa akan kesepakatan itu. Ia masih penasaran dengan besi-besi berjalan yang tadi dilihatnya. Ia bertanya pada Mas Igel: “Benda apa itu tadi, Mas?”

Mas Igel, sama seperti Tarjo, juga lupa! “Kereta api,” katanya.

Nah, saat itulah Tarjo terjatuh dari paruh Mas Igel. Ia berteriak: “Tolooong!!!” Rasanya tak ada yang mendengarkan teriakan itu. Ia pun pasrah dan kemudian jatuh berdebum di sebuah rerumputan yang tak begitu jauh dari sungai.

***

“JO, Tarjo... sadar, Jo!” kata sebuah suara. Tarjo mengedip-ngedipkan matanya, mulai sadar. Suara itu ternyata milik Wawa yang mengamati kejatuhan Tarjo. Di samping Wawa ada Jenny yang wajahnya tampak gelisah. Di situ juga ada Mas Igel yang tampak merasa bersalah.

“Hei, semuanya,” kata Tarjo dengan sangat lemah.

Wawa berkata kepada Tarjo kalau tulang punggungnya patah. Ia harus dirawat selama beberapa hari sebelum dapat berenang dan melompat-lompat kembali dengan normal. Mas Igel meminta maaf karena lalai. Tarjo pun meminta maaf kepada Mas Igel.

Dan, yang paling membahagiakan buat Tarjo ialah apa yang Jenny katakan kepadanya, “Mas Tarjo, nanti aku juga akan merawatmu. Tapi jangan terbang-terbang lagi ya....” Tarjo terharu mendengar kata-kata Jenny yang tulus itu.

Sejak hari itu Tarjo menjadi sahabat Jenny. Ia kadang masih ingin terbang lagi bersama Mas Igel. Namun, perlahan-lahan niatnya itu makin lama makin surut. Ia mulai sadar kalau bisa hidup di darat dan di air saja sudah cukup luar biasa untuk seekor hewan. Ia tak perlu berusaha lebih hebat lagi di depan Jenny karena kini, ke mana-mana Jenny dan Wawa selalu beserta Tarjo!

***

4.6.09

Menjamu Malaikat

"Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat." (Ibrani 13:2)

Galatia 6:1-9

Seorang teman kos saya bercerita tentang mendiang ibunya yang dulu ketika hidup buka depot kecil. Suatu hari datang seorang pria muda yang kehausan. Ia sangat rapi. Ia meminta segelas air mineral. Ibu teman saya yang terkenal royal dan murah hati ini tak ambil pusing dengan kerapian pemuda itu, diberinya apa yang pemuda itu minta. Pemuda itu duduk sebentar, mengucapkan terima kasih, lalu pamit. Ketika ia baru keluar dari halaman rumah, si ibu keluar mencari pemuda itu, hendak menanyakan sesuatu. Namun, pemuda itu telah lenyap.

Dalam iman Kristen, perbuatan baik haruslah dilakukan tanpa pandang bulu. Kita tidak berbuat kebaikan karena orang berlaku baik pada kita. Kita tidak berbuat baik agar suatu ketika mendapat berkat. Kita bahkan diperintah oleh Tuhan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Lebih-lebih, kepada orang yang menderita, Yesus berpesan agar kita berbuat baik. Karena apa yang kita lakukan kepada orang yang menderita, kita lakukan juga kepada-Nya (Matius 25:40).

Nah, keterlibatan malaikat dalam perbuatan baik semestinya dipandang sebagai anugerah istimewa Tuhan bagi mereka yang budiman. Ini juga dapat dipandang sebagai perkenan Tuhan akan perbuatan baik yang kita lakukan bagi orang lain. Alih-alih berharap dikunjungi malaikat seperti cerita tersampaikan di atas, yang terpenting adalah perbuatan baik itu sendiri. Alkitab memerintahkan agar kita tak boleh jemu-jemu atau berhenti berbuat baik, karena kita akan menuai apa yang kita tabur (Galatia 6:9).

"Orang benar melakukan tiap perbuatan baik dalam kehidupannya sebagai salah satu cara memberi ucapan syukur kepada Tuhan."

1.6.09

Mengajarkan (Kembali) Pancasila

Pancasila di Zaman Presiden Soekarno

Setelah Jepang terhimpit akibat kekalahannya pada Perang Dunia ke-2, kita tahu Jepang membentuk BPUPKI, atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Dalam sebuah sidang yang berlangsung sejak 29 Mei hingga 1 Juni 1945, pertanyaan besar yang muncul ke permukaan dalam sidang adalah, "Bila Indonesia merdeka, apa yang akan menjadi dasar negara?"

Mr. Muhammad Yamin, pada sidang tanggal 29 Mei 1945 mengemukakan lima dasar negara, yaitu: Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat. Dua hari berikutnya, 31 Mei 1945, Dr. Supomo mengajukan lima dasar lain yang mirip, yaitu Persatuan, Kekeluargaan, Mufakat dan Demokrasi, Musyawarah, dan Keadilan Sosial.

Segenap peserta sidang kemudian mendapat pencerahan setelah Ir. Soekarno maju untuk berpidato tentang dasar negara yang digagasnya pada tanggal 1 Juni 1945. Lima dasar yang dikemukan oleh Sukarno adalah Kebangsaan, Kemanusiaan, Kerakyatan, Keadilan Sosial, dan Ketuhanan. Dasar-dasar itu diberi istilah Pancasila. Soekarno kemudian juga meringkas lagi lima hal itu menjadi tiga, atau disebut Trisila, yaitu Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan. Terakhir, ia memaktubkan kelima hal itu dalam Ekasila, yaitu Gotong Royong.

Apa yang Soekarno sampaikan dalam pidatonya sebenarnya merupakan kristalisasi pemikirannya sejak tahun 1926 ketika ia menulis buku bertajuk Nasionalisme, Islam dan Marxisme. Pidato Soekarno disambut baik, dikenang amat bersejarah; bahkan sempat tercatat bahwa pidatonya itu disambut dengan tepukan dan sorakan hadirin yang riuh-rendah.

Setelah Indonesia merdeka, yang menjadi tantangan berikutnya adalah ideologi yang memang sejak awal telah disinyalir oleh Soekarno sebagai kekuatan yang cukup besar dalam pidatonya, yaitu Islamisme. Bahkan antara tahun 1957 hingga 1959 ada pemikiran yang berkembang di Dewan Konstituante untuk merumuskan kembali dasar negara. Pilihannya ada tiga: Pancasila, Islam, atau Sosio-Demokrasi.

Namun Indonesia tetap menjunjung Pancasila sebagai dasar negara. Ini mengingatkan apa yang telah disampaikan Soekarno dalam pidatonya, "Baik saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang di sini, mau pun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat ... kita hendak mendirikan suatu negara 'semua buat semua'."

Pancasila di Zaman Orde Baru dan Reformasi

Di zaman Orde Baru, kita semua mengetahui suatu kenyataan pahit nan membosankan tentang kegiatan-kegiatan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Alih-alih menjunjung Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, Orde Baru lewat P4 malah menjadikan Pancasila sebagai dogma saja dengan cara yang begitu kaku. Posisi Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi mulai luntur akibat datarnya dan membosakannya sesi-sesi tentang Pancasila yang dikemas dalam P4.

Ketika Orde Baru ditumbangkan oleh mahasiswa, bangsa Indonesia mencari-cari lagi ideologi yang pas di era Reformasi. Buku-buku "haluan kiri" -- yang sebagian di antaranya memuat wacana filosofis dan ideologis yang liberal -- yang di masa Orde Baru dianggap mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara, diterbitkan di mana-mana, laris-manis seperti kacang goreng. Liberalisme, yang makin marak mewabah akibat arus globalisasi -- bahkan gaungnya terasa hingga kini -- membuat kita mulai berpikir ulang: apakah Pancasila tetap (dan akan terus) menjadi dasar negara?

Namun, Pancasila tetap menjadi ideologi bangsa dan dasar negara, walau kita mungkin masih samar bagaimana kedudukannya yang amat tinggi itu bisa mewujud-nyata dalam keseharian berbangsa dan bernegara. Presiden SBY, dalam pidatonya tiga tahun silam menghimbau agar kita hendaknya "... meletakkan Pancasila sebagai rujukan, sumber inspirasi dan jendela solusi untuk menjawab tantangan nasional.... Sebab Pancasila adalah falsafah, dasar negara dan ideologi terbuka." Hal ini amat sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Roeslan Abdulgani, bahwa Pancasila yang kita miliki bukan sekadar berisikan nilai-nilai statis, tetapi juga jiwa dinamis.

Tantangan bagi Dunia Pendidikan

Kini, di masa pengaruh kebudayaan asing semakin kuat terasa akibat globalisasi, perlu ada upaya untuk kembali menghadirkan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa yang kokoh. Kedinamisan jiwa Pancasila -- seperti yang disampaikan Roeslan Abdulgani itu -- dapat diwujudkan lewat pendidikan.

Dr. Anhar Gonggong, seorang sejarawan, menyatakan dengan gamblang pendidikan Pancasila mengambil peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai Pancasila dapat ditanamkan secara memadai "... lewat ilmu sejarah, dengan menerangkan secara benar proses kelahiran dan perumusannya. Atau lewat ilmu kenegaraan, bagaimana kita bernegara secara Pancasilais. Jadi, Pancasila bisa berkembang dan tidak hanya sekadar dikunyah-kunyah sebagai alat verbalistik. Pancasila harus menjadi ide realistik."

Guru, baik dalam taraf pendidikan dasar dan menengah, perlu men-transfer jiwa Pancasila yang dinamis dalam diri anak didik kalau kita tak rela melihat generasi penerus bangsa makin parah digerogoti budaya serba-instan-dan-mudah ala Barat. Di hari lahirnya Pancasila ini, semoga guru, sebagai salah satu ujung tombak kemajuan bangsa, dapat merenungi lagi sejarah panjang kelahiran dan eksistensi Pancasila, dan upaya-upaya kita ke depan untuk hidup berdasarkan dasar negara yang lahir dari cita-cita luhur bapak-bapak bangsa kita. (*)

*) Guru IPS dan Kewarganegaraan SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, alumnus jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang.

31.5.09

meminta maaf pada bapak

minggu sore, jam 5, di rumahku di malang, aku terbangun. baru setengah jam tidur. bapakku gelodakan memasang kayu tambahan di pintu dapur kami agar tidak ada ruang di bawah pintu itu. sebabnya, lewat ruang kecil yang sebelumnya ada di pintu itu, tikus-tikus yang berasal dari lahan kosong di belakang rumah, sering masuk ke dapur, keliaran sana-sini dan menyikat apa saja gak tahu malu.

palu yang dihantamkan bolak-balik ke paku yang dipasangkan di bagian bawah pintu bikin aku kaget. saat kaget, lalu terbangun, mukaku masam. aku ngomong ke bapakku, dengan nada suara agak tinggi, "mbrebeki wong turu wae (bikin terganggu orang tidur saja)."

bapakku cuma bilang, "lha iki wis sore kok (lha ini kan sudah sore)."

aku membalas lagi dengan nada marah, "mbok yo masange mbengi wae kan iso. aku lagi turu setengah jam (kalau memasang malam saja kan bisa. aku baru tidur setengah jam)."

bapakku hanya diam.

sebelum tidur aku merasa cukup lelah karena siangnya aku cukup banyak kegiatan, termasuk menghadiri acara bedah buku "simply amazing" karya j. sumardianta (buku ini sudah kubeli dan mau kuresensi dalam bulan juni). setelah pulang bedah buku aku onlen sebentar, mengecek beberapa situs koran kalau-kalau ada tulisanku yang dimuat. beberapa situs koran ternyata susah dibuka, internetnya lemot. informasi tulisanku ada yang dimuat atau tidak, gak berhasil kudapatkan.

begitulah, akhirnya, karena kesal dan terbangun akibat kaget, tanpa babibu, aku kemasi barang-barangku, pamitan seadanya, langsung balik ke sidoarjo. motor kutancap cukup laju, kesal di hati kurasa menumpuk-numpuk.

namun, dalam perjalanan, hatiku berbisik, "kelihatannya bapakmu tidak tahu kamu baru tidur setengah jam."

aku dicerahkan, ingat kalau pada saat pulang ke rumah dari onlen dari warnet, bapak-ibuku lagi tidur. aku melambatkan laju motorku, lalu berdoa agar perjalananku selamat, dan bapak-ibuku baik-baik saja di rumah. aku menyesal.

di perjalanan aku mengenang masa-masa kecil dulu. aku menyanyikan dalam hati lagu "ayah" garapan ada band. aku mengingat saat dulu bapak bercerita sering membawaku sore-sore naik bis tingkat waktu kami sempat tinggal di jakarta selama tiga tahun saat ia kuliah sambil bekerja. aku hampir lupa saat-saat itu, tapi ia bercerita sering menggendongku menyaksikan jalanan. tentang kegiatan ini, bapak bercerita kalau bapak, ibu, aku, dan abangku selalu menuju ke tingkat dua bis yang kami naiki, lalu ambil tempat duduk terdepan.

bapak juga orang pertama yang mengetahui adanya bakat menulis dalam diriku. ia orang yang bijaksana, sederhana, tak pernah mau disuap ketika bekerja, dan tak banyak bicara, walau sangat suka sekali bercanda.

masih banyak hal yang kuingat tentang bapak. bahkan minggu lalu dia mengantarku mencegat angkot yang menuju ke terminal hujan-hujan. sebelum nyegat angkot, tanpa kuduga ia mampir sebentar ke indomaret dekat rumah, membelikan aku obat batuk. aku memang lagi batuk waktu itu.

di antara semuanya, yang tak akan terlupakan adalah ketika ia akan dioperasi jantung di r.s. harapan kita. ketika memasuki ruang operasi dia memandangi mataku cukup lama dengan matanya yang berair, hanya menyatakan, "jogo sedulur-sedulurmu (jaga saudara-saudaramu)."

aku bersyukur memiliki seorang bapak -- hingga kini.

ketika sampai di sidoarjo aku menyesal tak menghabiskan waktu sejenak minum teh bersama bapak dan ibu -- hal yang seringkali kulakukan sebelum meninggalkan kota malang.

begitu sampai, aku segera meminta maaf kepada bapak. sungguh, aku gak berani telepon. aku hanya berani sms. aku, si pemarah ini, bersyukur untuk anugerah tuhan yang selalu menghadirkan kelembutan di hati, ketika amarah atau sakit hati mendera jiwa.

ketika menulis semua ini, aku berjanji akan membuat sebuah buku untuk bapakku -- walau itu tak akan pernah mampu membalas semua baktinya bagiku dan keluarga. jadi, tuhan, tolong aku agar dapat menunjukkan baktiku di saat-saat ini untuk bapakku -- dengan sepenuh kasih, ketulusan dan penghormatan.

sidoarjo, 31 mei 2009, 20.53

25.5.09

Pak Jingga di Negeri Janesia

JANESIA, negeri para pahlawan dan penulis. Di sinilah kini seorang pria buta berada, dengan baju lusuh mirip pengemis. Ia berjalan tertatih-tatih, sedikit sempoyongan karena tak makan-minum dua hari dua malam. "Heran juga," katanya dalam hati, "di Harigia aku begitu perkasa dan mampu melesat ke sana-sini tanpa kendala. Namun di sini... yah... semua berbeda!"

Tak ada seorang pun yang mempedulikannya, karena ia datang dengan pakaian tua yang serba lusuh, seperti beberapa pengemis yang masih ada di beberapa penjuru Janesia. Pria dan wanita di sini semuanya hanya mondar-mandir tanpa menghiraukan dirinya. Ia memutuskan bertahan dalam keasingan dan keacuhan para penghuni Negeri Janesia karena telah bermimpi kalau di negeri ini, paling lambat tiga hari sejak kedatangannya, ia akan bertemu dengan seseorang yang mengenali dirinya.

Orang-orang Janesia sangat acuh kepada orang asing. Bukan karena mereka sombong, namun semuanya tampak selalu bergegas dalam melakukan sesuatu. Apalagi di saat-saat ini, keberadaan orang asing sama sekali tak memiliki tempat untuk jadi bahan perhatian. Desas-desus tentang Negeri Harigia di seberang sudah mulai mewabah: arwah-arwah di sana tampil mengerikan dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya pasti merinding.

Ada arwah pemakan ulat dan cacing pembawa gada hendak melaju ke kota-kota di Harigia dengan tujuan membuat kekacauan dan mengadakan malapetaka. Ada arwah yang matanya selalu merah dan hidungnya menyatu dengan mulut, dengan jenis gigi semua taring, yang suka sekali memakan ayam-ayam dan babi-babi mentah. Dan masih banyak yang lain.

Arwah-arwah ini dikabarkan turun dari gunung-gunung di Pegunungan Arwah, diutus untuk mengacau di segenap penjuru Harigia, terutama di kota-kotanya!

Pak Jingga mendengar semua itu. Ia jadi turut gelisah dan berharap segera bertemu orang yang ia jumpai samar-samar dalam mimpi. Demi mengusir kegelisahannya, pria tua yang buta nan malang itu kemudian bertapa di atas sebuah batu yang ditutupi beberapa pohon. "Di sini aku akan lebih nyaman menyendiri," katanya dalam hati. Ia juga berpikir bahwa semua kabar meresahkan tentang berbagai arwah yang telah turun dari Pegunungan Arwah itu sirna dengan bertapa. Ia berharap Tuan Malam dan kawan-kawan petualang mampu mengatasi semua rintangan menuju ke Kolam Mukjizat, tempat di mana akhir petualangan tergapai -- semoga saja -- dengan gemilang.

Di dekat batu ia bertapa itu mengalirlah Sungai Hikma yang terkenal, yang melintasi Negeri Janesia. Bunga-bunga bakung tak layu di segala musimnya -- serasa abadi. Keteduhan cahaya dan daun-daun terbias dengan jernih nan cemerlang di setiap riak-riak kecil yang menggeliat dan dan sesekali menggelombang akibat dihembusi angin. Syair dan lagu-lagu dibuat tentangnya, mengisahkan berbagai penemuan atas pencarian manusia akan hikmat dan marifat.

Pak Jingga, resi yang yang tua itu, diam-diam menyanyikan sebuah lagu yang diingatnya tentang sungai ini:

Ada sidik jari dan tanda-tanda keberadaan Sang Khalik
Dalam lekuk dan aliran airmu yang merembesi hutan dan tanah-tanah
Ada hikmat dalam hembusan angin yang berhembus redakan terik
Ketika para pahlawan dan pujangga goreskan pena mencari marifat dengan resah

***

WANITA itu datang dalam kesenyapan malam.

Pak Jingga terlelap setelah seharian bertapa dan mendapat bisikan untuk menahan lapar-hausnya tiga hari tiga malam. Ia memutuskan untuk sama sekali tak menengadahkan tangannya, lalu meneguk beberapa tetes air Sungai Hikma yang lama nian dinantikannya. Tiba-tiba ia tergugah dari mimpinya yang samar, lalu saksikan kemilau cahaya cemerlang berwarna nila bersemu merahmuda. "Mataku buta, bagaimana mungkin aku dapat melihat perpaduan cahaya?"

"Berbahagialah kau, Pak Jingga, putra bumi yang penuh kesabaran. Pencarianmu berakhir dan kini... mari minum." Suara yang terdengar begitu lembut itu bagai merasuk ke dalam tulang, menyalakan kembali semangat seseorang yang berada di antara hidup dan mati. Pak Jingga merasa segar kembali. Tiba-tiba ia mengingat masa-masa di mana ia dulu jatuh hati kepada seorang putri yang pandai bernyanyi. Seorang putri yang mati di usia muda karena terserang penyakit mematikan. Tubuhnya bergetar pelan, lehernya sesak sedikit.

"Kau memiliki banyak kenangan, pria tua. Kini, ambillah air ini. Jangan ragu, akulah yang ada di mimpimu itu." Wanita itu lalu mengangkat tangannya, mengambil sebuah cangkir, lalu menyerahkannya kepada Pak Jingga. "Minumlah, air dari Sungai Hikma," katanya.

Pak Jingga meneguk air itu perlahan. Ketika kesejukan mengalir di setiap bagian leher dan perutnya, sesaat ingatannya pada putri bersuara merdu yang mati muda sirna. Bahkan, cahaya nila dan merahmuda yang tadi sempat terbias di matanya mengabur perlahan. Hitam, hanya itu yang kini bisa dilihatnya dengan mata tertutup.

"Kau sudah ada di negeri ini tiga hari. Mari, kini kita pergi mencari apa yang kaucari, Kawan!"

"Siapa kau?" tanya Pak Jingga dengan sedikit terbata.

"Yang jelas aku kawanmu, seperti aku memanggilmu. Mari kita beranjak dari sini, menuju Kota Pustaka. Orang-orang sudah menantimu di sana."

"O ya?"

"Ya! Tentu kau tidak bisa menutup telingamu tiga hari ini, bukan? Apa pun yang kaudengar kiranya tak membuatmu panik. Masih ada harapan di setiap kabar buruk tentang penyerangan arwah secara besar-besaran."

Pak Jingga manggut-manggut. Kini ia seperti berbicara dengan seorang wanita biasa. Ia masih belum tahu mengapa tadi ia menangkap secuil keindahan dan kemuliaan cahaya ketika wanita itu datang kepadanya -- seperti mimpi, seperti nyata. Siapa ia sebenarnya, Pak Jingga masih bertanya-tanya.

"Aku cuma merasa seperti ini, Putri...," kata Pak Jingga.

"Kawan. Kau sebaiknya memanggilku: kawan. Sepakat?"

"Ya, Kawan. Aku cuma merasa kekuatanku benar-benar lenyap. Dan aku..., aku mengingat masa-masa di mana dulu aku menjadi manusia biasa. Kini aku merasa seperti manusia biasa lagi, bukan resi. Manusia tua dan tak berdaya. Tapi aku yakin sedang disuruh berpuasa hingga kau datang, lalu menemukan sekilas bayangan samar yang sangat kurindukan sejak lama: cahaya nila bersemu merahmuda. Cahaya yang mirip dengan beberapa gaun yang dimiliki putri idamanku di masa lalu. Putri yang suka bernyanyi tentang lautan, sungai, gunung-gunung, burung-burung dan sawah-sawah di Harigia yang bagai emas."

"Kawan, aku tidak tahu apa maksud dari apa yang baru saja kausaksikan bersama kedatangan diriku. Aku hanya datang atas perintah kawan kita lainnya di Kota Pustaka yang melihatmu dalam mimpinya kalau kau sedang bertapa.

"Sekarang, marilah kita menuju ke Kota Pustaka dengan menggunakan dua kendaraan ini!"

Terdengar ringkikan dua ekor kuda yang membangkitkan gairah bertualang Pak Jingga. Ia tersenyum dalam kekelaman malam, walau tak lama kemudian dahinya berkerut, "Bagaimana bisa aku dibawa ke Kota Pustaka bila aku buta?"

"Aku sudah menyediakan seorang penolong bagimu." Ada suara orang meloncat turun dari atas kuda, lalu tapak kakinya terdengar melangkah pelan. "Perkenalkan, ini Barkaya. Ia akan menjadi abdimu, Kawan!"

"Aku Pak Jingga," kata Pak Jingga sambil mengulurkan tangan.

Barkaya menyambutnya dengan bersujud sambil memegangi dua paha Pak Jingga. "Hamba, Barkaya, siap mengantar Tuan Jingga."

Pak Jingga terpana mendengar suara tegas yang dimiliki pemuda itu. Ia lalu mengangkat tangan pemuda itu. "Sudah, panggil saja aku Pak Jingga. Jangan Tuan," katanya.

Suasana hening sesaat. "Sebentar, sebentar...," kali ini Pak Jingga mengagetkan dua temannya dengan berlagak seperti orang tua yang pikun. Ia berputar-putar, sedikit melompat-lompat, tampak diliputi sukacita yang besar. "Bagaimana jika aku mengambil beberapa liter air dari Sungai Hikma yang penuh kenangan ini? Aku tadi baru minum segelas, Kawan!"

"Kami rasa, kedua teman kita ini akan bermurah hati untukmu, Tuan. Silahkan!" kata si wanita sambil menepuk-nepuk perut kudanya.

Tanpa diperintah, Barkaya menuntun Pak Jingga menuju tepi sungai. Ia juga yang memasukkan beberapa liter air ke tempat minum Pak Jingga. "Sebentar, Nak. Dengarlah riak air ini," katanya kepada Barkaya sambil mengacungkan telunjuk ke samping telinga dan manggut-manggut sambil tersenyum kecil.

Barkaya tersenyum menyaksikan tingkah Pak Jingga. "Saya mendengarnya, Pak...."

Tiba-tiba Pak Jingga menenggelamkan dirinya ke dalam sungai itu. Byuuur! "Haaah...," katanya setengah berteriak setelah beberapa detik kemudian kepalanya muncul di permukaan air. "Kesegaran tiada tara, Nak! Kesegaran tiada tara!" Pak Jingga berenang sesaat, sementara si wanita menyaksikannya sambil geleng-geleng kepala. Diterangi cahaya bulan malam itu, Barkaya melihat seulas senyum manis yang tampak dari wajah si wanita. Ia pun ikut tersenyum.

Beberapa jenak kemudian Pak Jingga keluar dari air, ditolong dengan uluran tangan Barkaya. Ia tak henti-hentinya mengucap kekaguman dan menyanyikan lagu yang disukainya tentang sungai itu.

"Nak, kuharap kau tidak keberatan bajumu akan basah dikenai bajuku ya?" katanya sambil menggigil kedinginan.

"Tidak, Pak," kata Barkaya yang kini sudah siap.

"Mari!" kata si wanita.

Ringkikan kuda yang cukup nyaring membahana di sekitar mereka berada. Tak lama kemudian kuda-kuda itu melesat cepat dan meliuk-liuk lincah di sela-sela pepohonan. "Laju, terus! Maju... ayo! Hilangkan gigilku. Terus maju! Terus laju!" demikian Pak Jingga berteriak-teriak gaduh di sepanjang perjalanan, membuat sukacita dan keyakinan menguasai jiwa ketiga kawan-kawan kita ini.

Sidik Nugroho
Sidoarjo, 25 Mei 2009, 00.26

23.5.09

Jawaban yang Lain

"... aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku." (Mazmur 73:22-23)

Matius 6:5-15

"Jangan lupa doakan saya, ya?" Begitu sering kita mendengar kata-kata itu, terutama bila yang meminta didoakan sedang dalam suatu kesusahan atau menemui jalan buntu. Memang benar, dengan doa semua persoalan bisa diatasi. Namun, berapa banyak dari orang-orang yang sering minta didoakan itu -- mungkin juga termasuk kita -- tahu bahwa doa merupakan sarana untuk kita mengetahui kehendak Allah?

Sammy Tippit dalam bukunya The Prayer Factor menyatakan dengan gamblang, "Berdoa dengan kehendak yang diserahkan kepada Allah berarti meresikokan hidup kita kepada Allah. Terlalu banyak orang dalam generasi ini yang mencari kenyamanan. Terlalu banyak orang menggunakan doa untuk melarikan diri dari kesulitan."

Doa bukan sekedar kegiatan untuk memperoleh keyakinan bahwa apa yang kita minta atau niatkan mendapat jawaban, atau "jalan yang lurus", tapi juga sarana untuk menguji semua yang kita minta dan niat kita di hati dengan suatu pertanyaan: apakah itu semua sesuai kehendak Allah?

Tuhan pernah menyatakan bahwa sebelum kita berdoa, Bapa mengetahui apa yang akan kita minta (Matius 6:8). Jawaban Tuhan bisa "ya", "tidak", atau "tunggu". Namun, bila suatu ketika Tuhan serasa hanya diam, dan kita tak menemukan jawaban atas sesuatu yang kita minta dalam doa, kita sebenarnya sedang diminta Tuhan untuk menyadari sebuah jawaban yang lain -- sebuah jawaban mengapa doa kita tak dijawab: kita diminta untuk senantiasa bersabar dan bersandar kepada-Nya; karena Ia punya alasan terbaik untuk berdiam diri. (SN)

"Dalam kehidupan ini kita dituntut untuk sadar bahwa tidak semua jawaban atas suatu pertanyaan itu baik adanya."

21.5.09

sebuah catatan kecil tentang ibu

malam ini, setelah memberi ucapan selamat merayakan kenaikan yesus kristus, ibuku -- yang kupanggil mamah -- bercerita kalau dia baru saja membawa renungan di persekutuan oikumene di lingkungan perumahan kami. "deg-degan aku, sudah lima tahun gak bawa renungan," katanya. dia kemudian memintaku mengiriminya sebuah renungan tentang doa -- bila ada.

"sip, bu guru yang kini jadi bu pendeta. kalau ada nanti kukirim," kataku. terkait renungan yang dimintanya itu, aku spontan meminta agar ibuku senantiasa mendoakanku.

dan ia menjawab, "anakku, setiap pagi dan malam hari mamah selalu berdoa buatmu... mamah juga selalu berdoa buat tulisan-tulisanmu agar dibaca dan memberkati orang-orang lain."

membacanya, aku jadi sedih karena tidak mendoakan ibuku tiap pagi dan malam.

kasih ibu memang sepanjang jalan -- tiada duanya, tiada ujungnya. kini, di hari kristus naik ke surga, merenungi lagi dua anugerah terbesar dalam hidup -- yaitu keselamatan dan roh kudus yang telah tuhan berikan -- aku juga bersyukur untuk sebuah anugerah lain: kasih dan doa-doa tanpa putus seorang ibu.

malam makin larut, terlintas lagi masa-masa kecil dulu saat aku dibonceng ibuku naik sepeda di singkawang: dia mengajar, aku sekolah. kami beda sekolah. sekolah tempat dia mengajar dekat dengan sekolahku. dia mengajar di tk flora, sebuah tk katolik; aku di sd subsidi suster. ia sangat setia dan bersemangat menjadi guru, sampai-sampai pandai berbahasa "kek" (bahasa tionghoa orang-orang di singkawang) agar muridnya yang sebagian besar orang tionghoa paham maksudnya.

hingga kini ibuku masih setia menjadi guru. bukan hanya guru, ia pendoa yang setia dan sangat rajin berpuasa. tiap jam 4.30 pagi ia bangun, genjrang-genjreng main gitar sambil menyembah tuhan walau tak bisa satu kunci gitar pun, lalu berangkat pagi-pagi ke sekolah untuk mengajar. ia menjadi guru di tk mardiwiyata, di malang.

kini, hanya aku dari antara ketiga putranya yang mewarisi minat dan perjuangan hidupnya menjadi seorang guru. dan aku tidak pernah menyesal menjadi guru, salah satu alasan terkuatnya adalah:

karena ibuku juga guru.

sn, sidoarjo, 21 mei 2009, 21.47