Mari nikmati malam, yang diciptakan untuk jadi teman bagi renungan, juga teman menjelang mimpi.
4.3.09
kemarin hujan, sekarang mendung
sidoarjo, hujan juga kemarin malam. kurenungi paman yang telah menyatu dengan tanah dua hari lalu. masih muda, 45 tahun. adik ayahku, tinggal di trenggalek. seseorang yang dulu di-phk. keluarganya hidup sederhana, anak-anaknya masih kecil-kecil.
kemarin malam, dalam hujan, aku coba maknai segala rasa yang bertaut-taut membayangkan kepergian, kesakitan dan kehilangan. renunganku pupus, kala lelap tanpa kuundang datang menghadirkan mimpi.
sidoarjo mendung sekarang. mungkinkah, nanti malam, ada sebuah kehilangan dan kepergian lagi? ada sebuah kesakitan lagi?
tapi, ah... semoga tidak. damai di bumi, damai di surga.
~s.n~
: sidoarjo, sd pembangunan jaya 2, 4 maret, senja yang muram
2.3.09
Ketika Aku Mengoleskan Minyak Urapan
Nah, oleh dua temanku itu, aku didaulat untuk memimpin doa memasuki rumah baru. Hal yang amat jarang aku lakukan selama dua-tiga tahun terakhir. Agak canggung aku menerimanya, tapi puji Tuhan doa lancar kuucapkan.
Kami bertiga berdoa sambil mengelilingi lilin kecil yang menyala di tengah-tengah kami dan sebotol minyak urapan yang akan kami gunakan untuk dioleskan di beberapa bagian rumah -- yang dalam keyakinan kami sebagai orang Kristen menjadi simbol perlindungan Tuhan atas berbagai (kemungkinan) serangan kuasa kegelapan yang termanifestasi lewat sakit-penyakit, konflik, atau petaka lainnya.
Ketika selesai memimpin doa, aku lalu menumpahkan beberapa tetes minyak di tanganku. Dan ketika mengoleskan minyak itu ke beberapa bagian rumah sambil berkata, "Dalam nama Yesus", aku mengenang masa-masa di mana Tuhan kulayani dengan sepenuh cinta.
***
17 April 1997. "Jesus... Lord Jesus... Lord Jesus, You're my first love, how I love You...." Begitu lagu yang aku dengar di suatu petang menjelang malam di sebuah kelas Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro di Tembalang, Semarang. Aku masih remaja 17 tahun saat itu. Aku masih ingat benar jaket yang kukenakan. Dalam sebuah acara bertajuk Hell's Bells, aku menemukan cinta pertamaku. Aku lahir baru.
Sejak hari itu aku selalu melayani Tuhan dengan semangat di Gereja Kristen Baithany Jubilee di Semarang. Mula-mula aku menjadi penginjil jalanan dan pemain gitar di gereja. Aku bersemangat mendoakan siapa pun orang dan teman-temanku. Tanpa disuruh siapa pun, aku pergi ke rumah-rumah sakit seorang diri pakai sepeda, mendoakan kesembuhan orang-orang yang mau kudoakan dengan caraku. (Belakangan, kudengar beberapa jemaat JKI (Jemaat Kristen Injili) Injil Kerajaan gembalaan Pdt. Petrus Agung Purnomo yang terkenal itu juga gencar melakukan penginjilan dan pelayanan holistik.)
Satu tahun lebih berlalu, aku pindah ke Malang. Aku tamat SMU. Di Malang, aku pertama-tama menjadi pendoa di GPdI (Gereja Pentakosta di Indonesia) Elohim di Batu. Karena kejauhan, aku pindah gereja di Gereja Anugerah Pembaharuan (GAP) di Malang. Aku langsung dipercaya melayani sebagai ketua Tim Musik dan Penyembahan, sebabnya gereja ini satu pergerakan dengan gerejaku dulu yang di Semarang. Gereja ini sangat kecil. Kami hanya menggunakan sebuah rumah kontrakan untuk beribadah. Melihat gerejaku kekurangan bahan bacaan, kusumbang semua buku dan kaset rohani yang kumiliki, lalu kusulap sebuah ruangan di sekretariat gerejaku menjadi perpustakaan. Tanpa diminta aku juga membuat warta gereja yang disambut antusias oleh teman-temanku waktu itu. Aku juga mulai melatih anak-anak memainkan gitar, bas dan ketipung. Lahirlah sebuah tim musik yang sedikit amburadul tapi penuh semangat. Kami amat senang ketika jemaat makin banyak. Kami harus menyewa gedung. Tiap hari Minggu kami selalu menggotong alat musik dan sound system sebelum ibadah. Kami senang walau pun lelah. Rasanya tim musik ini akhirnya tampil lebih keren!
Di GAP Malang aku banyak dilatih memimpin. Pernah, dalam suatu ketika aku memimpin dua buah kelompok sel bersamaan. Namun, sisi negatifnya adalah: karena terlalu banyaknya kegiatan gereja, kuliahku jadi agak terbengkalai.
Banyak sekali kesan selama aku pelayanan di GAP, salah satunya adalah mendoakan seorang gadis remaja yang kerasukan setan di sebuah kos putri jam 2 malam! Selama aku pelayanan, inilah salah satu pengalaman yang mengajarkan kepadaku bentuk manifestasi kuasa kegelapan yang nyata dalam diri seseorang: gadis itu matanya merah, dan suaranya berubah menjadi suara laki-laki!
Karena perbedaan visi pribadiku tentang pergerakan anak muda dengan visi jemaat yang ada di GAP, di bulan Februari tahun 2002 aku memutuskan keluar dari GAP. Sama sekali tidak ada konflik, apalagi kudeta -- aku keluar baik-baik. Bahkan hingga saat ini aku dan GAP -- yang kini berubah nama menjadi MSI (Morning Star Indonesia) -- masih berteman sangat baik dan cukup akrab.
Keluar dari GAP aku mulai menekuni dunia tulis-menulis. November 2002, aku jadi pemenang ketiga lomba cerpen di kampus. Di tahun ini aku tak banyak mengambil pelayanan, hanya menjadi pendoa di Gereja Bethany Indonesia. Aku terkenal sebagai "Pendoa Jam Empat Pagi" di Menara Doa. Menara Doa di gerejaku diadakan 24 jam, dibagi 12 sesi -- tiap sesi dua jam. Dari Senin sampai Jumat selama hampir setahun aku mengambil jadwal berdoa di sesi jam 4 sampai jam 6 pagi. Sebuah sesi yang kuamati paling sepi. Namun, aku mencoba gigih karena saat itu terilhami kuat dengan seorang tokoh kebangunan rohani bernama John Wesley yang selalu berdoa jam 4 pagi.
Dari Ruang Menara Doa yang sepi, terdengarlah berita tentangku di Gereja Bethany Indonesia yang besar. Orang-orang kemudian memintaku jadi pengajar di gereja. Aku ditarik ke Youth Bethany Malang, dan tak lama kemudian menjadi ketua Dewasa Muda. Di tahun 2003, dalam usiaku yang masih lebih muda dari sebagian besar jemaat Dewasa Muda, aku diminta menjadi ketuanya -- sebuah beban yang berat!
Pada saat yang bersamaan, Youth Bethany Malang mereorganisasi setiap departemennya: dari Sekolah Minggu, Remaja, Pemuda hingga Dewasa Muda untuk disolidkan. Nah, yang paling diutamakan dalam membangun kesolidan itu adalah pengadaan pengajaran. Dan akulah yang ditunjuk menjadi ketuanya. Kususun bahan pengajarannya, kuberi nama pengajaran itu Firm Foundations (F2), dengan ayat utama Mazmur 11:3. Pesertanya cukup banyak. Di F2 angkatan ke-2, tema yang kuusung adalah "The unshakable Shaker", sebuah julukan yang diberikan kepada tokoh bernama John Fox. Aku sangat berkesan dengan murid-muridku di F2, yang sebagian besar lebih muda 5-7 tahun dari aku. Sabtu sore aku mengoordinasi Dewasa Muda, Minggu pagi mengoordinasi atau mengajar di F2. Aku semakin sering mengajar dan berkhotbah.
Aku hampir menjadi pendeta. Tinggal ikut sebuah ujian, gelar Pdp (Pendeta Pembantu) sebenarnya bisa kudapatkan saat itu. Tapi, aku tak berniat jadi full-timer di gereja walau orang-orang memulai memanggilku Pak Pendeta. Aku bahkan berkhotbah sampai ke luar kota. Dalam beberapa kesempatan aku sempat ikut pelayanan misi ke Sumberpucung dan Wates yang masuk di Kabupaten Blitar.
Selain mengajar dan berkhotbah, aku juga terlibat dalam pelayanan gelandangan. Tiap Jumat malam aku dan beberapa teman berkeliling di Pasar Besar kota Malang, membagikan nasi-nasi bungkus dan susu untuk beberapa gelandangan. Beberapa dari antara mereka ada yang sering minta didoakan juga. Aku tak pernah lupa pernah dua kali berkhotbah di antara para gelandangan Nasrani yang kita angkut sebulan sekali untuk beribadah ke sebuah gereja. Ini benar-benar usaha berkomunikasi yang menantang.
Kegiatan-kegiatan pelayanan ini akhirnya menjadi tambahan alasanku mengapa kuliahku terbengkalai. Belum lagi, selama aku melayani di gereja, aku juga memberi les privat kepada anak-anak, dan seminggu dua kali jualan telur puyuh rebus yang kutitipkan di warung-warung kopi dan STMJ. Aku juga mulai getol menulis, dan beberapa tulisanku mulai dimuat di media cetak. Orang tuaku masih mampu membayari aku kuliah, tapi aku yang suka dengan kemandirian dan lebih merasa nyaman bila membeli buku dengan hasil jerih payahku sendiri, berusaha mencari tambahan penghasilan.
Tak lama setelah F2 angkatan ke-2 diwisuda mendekati akhir tahun 2004, gembala sidang memutuskan penggabungan departemen Pemuda dan Dewasa Muda. Aku dipilih menjadi ketuanya. Namun, gembala sidang yang tahu aku suka menulis malah memintaku meninggalkan pelayanan di Pemuda yang digabung dengan Dewasa Muda itu waktu aku belum sampai setengah tahun memimpin di sana. Aku diminta mengurusi tabloid gereja yang bernama Menorah.
Namun, Menorah hanya terbit satu kali di tahun 2005. Tim redaksi yang direncanakan tak terbentuk. Aku memutuskan merampungkan skripsiku, hingga diwisuda bulan Maret 2006. Di masa-masa ini, hingga mendekati akhir tahun 2007 aku mulai lebih banyak berkaryatulis, dan memutuskan untuk menjadi guru sekolah minggu di gereja. Sempat aku diminta lagi untuk mengajar beberapa kelas pengajaran di gereja, namun tak sesering dulu.
Bulan Maret 2007 aku mendapat panggilan wawancara di Sidoarjo. Diterima. 20 Maret sampai 20 Juni aku jadi guru magang. 2 Juli aku menjadi guru di SD Pembangunan Jaya 2. Hingga kini.
Beberapa orang bertanya sekarang aku melayani di bidang apa dan di mana. Aku kadang agak bingung menjawabnya karena sering malang-melintang gereja akibat kalau akhir minggu tak tentu -- kadang ada di Malang, kadang di Sidoarjo. Sebenarnya hingga kini aku masih melayani Tuhan, dengan membuat renungan-renungan yang terbit tiap bulan. Namun, bukan hanya itu, kini aku memiliki pandangan yang lebih luas tentang pelayanan: menjadi guru pun juga melayani Dia. Pelayanan tidak harus selalu ada dalam gereja dan/atau berkaitan secara langsung dengan hal-hal yang gerejawi.
Hampir semua temanku di masa aku remaja menebak kalau tidak jadi pemusik, aku mungkin jadi pendeta. Tebakan mereka salah semua. Kini aku menjadi guru dan penulis lepas. Dan ketika merenungkan jalan hidupku yang terbentang hampir 12 tahun sejak aku mengalami cinta pertamaku pada Tuhanku, betapa aku bersyukur:
Semua kenangan itu tak lalu dan tak layu. Hari-hari di mana aku memeras keringat mengangkat alat musik dan sound system yang berat kadang masih melintas. Pagi-pagi di mana aku menghaturkan doa sambil diiringi petikan gitarku di Menara Doa yang sepi kadang masih ingin kuulang lagi. Betapa mengharukan bila mengingat saat-saat di mana aku benar-benar merasa pengajaran yang kusampaikan menyemangati para muridku hingga kadang beberapa di antaranya mengepalkan tinju tanda setuju.
Semua karena anugerah Tuhan.
***
Malam ini, aku pun bersyukur ketika esok, saat mentari bersinar lagi, aku akan menemui murid-muridku: yang sebagian manis, dan sebagian bengal. Aku bersyukur untuk apa pun keadaan mereka. Menjadi guru ternyata tak kalah hebat dibandingkan menjadi seorang pendeta. Murid-murid adalah anugerah dari Tuhan.
Dan malam ini, aku juga bersyukur, ketika esok, dan seterusnya, malam-malam yang kulalui dapat kujalani dengan hadirnya inspirasi yang tiada henti. Selalu saja ada bahan untuk kutulis setiap hari -- dan kuyakin itu semua karena campur tangan-Nya. Itu juga anugerah-Nya.
Nah, ketika aku mengoleskan minyak urapan malam ini, aku menyadari, tak ada yang lebih indah selain hidup senantiasa dalam anugerah-Nya yang ajaib!
"TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau anugerah; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera." (Bilangan 6:25-26)
***
~s.n~
Sidoarjo, 2 Maret 2009, hampir subuh
27.2.09
Ketika Tulisan Tak Layak Muat dan Kalah Lomba
Tulisan ini kubuat tahun 2006, setelah menerima kabar aku kalah dalam lomba cerpen Femina. Ku-posting ke beberapa milis kepenulisan dan sastra. Respon sangat banyak kuterima. Sampai-sampai artikel ini dimuat di situs penerbit Escaeva -- sampai sekarang masih jadi lima artikel terbanyak di-klik pembaca (lihat bagian Populer di situs Escaeva). Sempat juga menjadi ulasan di Ruang Baca Koran Tempo edisi Mei 2007.
-- Stephen King, penulis cerita horor
Saya kalah dalam sebuah lomba yang baru-baru ini diumumkan para pemenangnya. Ya, lomba mengarang cerpen Femina. Guru saya dalam menulis, Arie Saptaji, menjadi salah satu pemenang penghargaan di lomba itu. Cerpennya memang hebat. Saya sempat membacanya sebelum di-online-kan di situsnya waktu saya berkunjung ke rumahnya di Yogyakarta lebih dari setengah tahun silam. Namun, yang saya tulis berikut bukan hanya soal lomba itu. Yang saya alami selama empat tahun berkecimpung di dunia kepenulisan adalah kekalahan semata-mata.
Tulisan saya amat jarang dimuat media cetak. Padahal saya sudah membaca buku sastra sebanyak mungkin: dari tentang menulis, novel, kumpulan cerpen, atau resensi buku. "Sebanyak mungkin" yang tadi saya tulis adalah dalam ukuran saya: 1 buku 1 minggu. Dan buku-buku itu tentulah bukan buku anak-anak yang kadangkala hanya memuat 1 kalimat dalam 1 halaman -- sisanya digunakan gambar ilustrasi. Seingat saya, buku-buku yang saya baca kebanyakan berjumlah halaman lebih dari 200 halaman. Dan halaman-halaman itu kalau bisa disimpulkan berisi tulisan yang dapat disamakan dengan huruf Times New Roman berukuran 10 dan berspasi tunggal.
Saya sudah membaca sebanyak mungkin dan menulis sebanyak mungkin, tapi selalu saja: ditolak. Bukan hanya ditolak, saya pernah juga di-sms-i dengan sms yang seolah memuat gelegar amukan oleh salah satu redaktur koran terkemuka ketika saya menanyakan cerpen saya layak muat atau tidak: ditulis dengan huruf-huruf besar dan diakhiri dengan tanda seru lebih dari satu. Saya memang salah karena amat terburu-buru menanyakan cerpen itu. Baru sekitar seminggu dikirim, ditanyai layak muat atau tidak. Ya jelaslah... diamuk!
Apa yang saya alami mungkin juga dialami oleh penulis lain. Karya kita tak kunjung dimuat dan kita tak sabar menunggu hasil. Kita kerap melihat-lihat koran di kios terdekat dengan rumah tanpa membelinya, juga tanpa memperhatikan halaman muka namun langsung menuju ke ruang di mana kemungkinan tulisan kita akan dimuat. Keadaan ini saya muat dalam cerpen saya yang berjudul Kembali Pada Sepi: bagaimana hidup seorang pengarang yang terus berkarya, rajin membaca, namun selalu menghasilkan karya yang hanya pantas menuju ke tong sampah dalam kantor redaksi atau "trash" dalam mailbox e-mail redaksi?
Ada orang yang mungkin akan mengurangi intensitas menulisnya ketika mengalami hal ini. Orang-orang ini dalam pembenaran anggapannya mulai berangan-angan memiliki karya serupa Harper Lee yang buku semata wayangnya memenangkan Pulitzer. Mereka mungkin akan berpikir: kalau bisa aku akan menulis 1 buku atau karya saja seumur hidupku, sesuatu yang benar-benar hebat, sebagai pembuktian bahwa aku penulis hebat, dan kemudian aku baru mati. Dengan cara demikian mereka berharap akan dikenang sebagai pengubah sejarah.
Tapi saya lebih memilih bersikap lain. Saya menulis bukan karena ingin diaku sebagai penulis hebat pada nantinya. Saya menulis karena saya mencintai menulis. Oleh karena itu tak masalah bagi saya bila karya-karya saya dimuat majalah yang menurut orang amat kacangan: Sahabat Pena, misalnya. Bila dibandingkan dengan Kompas atau Koran Tempo mungkin 1:100 bobot sastranya. (Kau hendak mengubah sejarah lewat cerpenmu di Sahabat Pena? Yang benar saja, gundul!)
Saya kerap membayangkan -- saya rasa semua penulis suka membayangkan sesuatu -- adanya majalah-majalah gendeng pengimbang yang sudah ada, yang mungkin mau memuat tulisan saya: Kartono (bila cerpen saya ditolak Kartini), Maskulin (bila ditolak Femina), MuSuhmu (bila ditolak KaWanku) atau Perjaka (bila ditolak Gadis). Kalau Kompas mungkin enaknya diganti Senter (sama-sama menjadi alat para pendaki gunung).
Diaku sebagai penulis hebat atau tidak adalah anggapan orang. Bahkan karya kita yang dilemparkan ke keranjang sampah oleh redaktur bisa dianggap amat hebat oleh orang lain, setidaknya pacar kita. Inilah yang pada akhirnya menjadi batu uji bagi para penulis. Masihkah kita akan menulis ketika orang tak membaca karya kita? Dan masihkah kita mau belajar lewat membaca dan menumbuhkan kepekaan agar tulisan kita menjadi lebih baik? Seperti yang dikatakan Budi Darma bahwa banyak cerpenis Indonesia yang mengarang cerpen semata-mata karena bergabung dengan suatu komunitas sastra atau dipesan tulisannya oleh suatu media. Ia menambahkan bahwa bila penulis itu dilepas sendiri, masihkah ia akan berkarya?
Karya-karya Kafka diterbitkan anumerta, begitu juga sebagian karya Tolkien. Tolkien sendiri merilis buku yang ia karang sendiri, The Hobbit (bukunya yang pertama ia karang bersama E.V. Gordon dkk. pada tahun 1936 berjudul "Songs for the Philologists"), saat ia berusia 45 tahun. Ia menulis keseluruhan trilogi "The Lord of the Rings" (LotR) selama kurang lebih tiga belas tahun (yang baru diterbitkan tahun 1954-1955). Tolkien bahkan pernah mengaku kalau dirinya bukan penulis hebat. Inilah karya-karya yang digarap dengan cinta kepada aksara. Inilah yang membuatnya mempelajari bahasa Anglo-Saxon kuno yang kemudian dimodifikasinya sendiri sebagai bahasa peri dalam LotR. Kecintaan pada bahasa, saya rasa adalah satu landasan yang bagus untuk membangun dunia kepenulisan.
Memang, Tolkien lebih beruntung daripada Kafka karena namanya sudah dikenal luas sebelum ia meninggal sehingga beberapa karyanya diterbitkan anumerta. Tapi, poin yang saya ingin tegaskan adalah kecintaan Tolkien pada bahasa. Itulah yang membuatnya mengarang setiap karya-karyanya dengan sesempurna mungkin. (Saya tidak tahu apakah dia lebih gila dalam soal kesempurnaan dibandingkan Tolstoy yang konon mengedit "Anna Karenina" sebanyak lebih dari 120 kali sebelum naik ke penerbitan.)
Tanpa bermaksud menjadi naif, saya rasa bila rasa cinta itu sudah ada, rasanya kok mau kalah lomba, ditolak redaksi, tak terlalu masalah. Sing penting (sinau lan) nulis, kalah (utawa ora dimuat) yo wis!*) ***
*) Terjemahan: Yang penting (belajar dan) menulis, kalah (atau tak dimuat) ya tidak apa-apa!
24.2.09
Menjadi Sastrawan? Halah!
Penulis Artikel Sastra
Tidak sampai seminggu yang lalu, aku dapat kabar dari Pak Purwanto Setiadi, redaktur utama Koran Tempo, kalau artikel sastra yang kubuat -- tentang kebiasaan menulis dan proses kreatif beberapa penulis -- kemungkinan besar akan diturunkan di Ruang Baca Koran Tempo edisi Maret 2009.
Beliau menilai artikelku cukup menarik. Bila memang jadi dimuat, aku akan sangat bersyukur. Dan, untuk satu hal ini aku juga berterima kasih kepada Feby Indirani yang telah memberitahu alamat e-mail Pak Purwanto.***
Pembicara Sastra
Sabtu lalu, 21 Februari, diundang jadi pembicara. Undangan benar-benar tak resmi, hanya lewat sms seorang teman: tolong sampaikan sharing untuk memotivasi siswa-siswi jurnalis SMUK Cor Jesu di Malang. Kupikir lesehan, sambil ngopi atau makan gedang goreng gitulah. Namun, begitu waktunya tiba, betapa aku kaget: aku harus mengajar di depan kelas layaknya seorang guru!
Padahal aku datang tanpa persiapan: bajuku agak lecek dan pakai sandal. Terpaksa, aku pinjam jaket temanku yang mengundangku, Jemmy Sugianto, alumnus SMUK Cor Jesu. Anak-anak yang datang kalau tidak salah ada 9 orang cewek dan 1 orang cowok. Kesannya semua anak manis -- kalem-kalem dan pendengar yang baik. Mereka semua kupanggil adik. Terima kasih, adik-adik! Terima kasih Jemmy sudah mengundangku!
Dua guru pendamping, yaitu Bu Endang (Bahasa Indonesia) dan Bu Agnes (Guru BK -- trims Jemmy untuk koreksinya) juga turut hadir. Kesanku, mereka tampak antusias. Bahkan Bu Endang sampai-sampai menjadikan momen ini untuk pengambilan nilai UTS: anak-anak diminta membuat laporan dari apa yang kusampaikan, lalu dinilai. Terima kasih, ibu-ibu guru!
Materi lebih banyak berkisar pada proses kreatif seorang penulis -- fiksi utamanya -- dalam menghasilkan karya-karyanya. Kami membahas dan berdiskusi tentang J.R.R. Tolkien, C.S. Lewis, J.K. Rowling, Soekarno, hingga Stephenie Meyer yang lagi naik daun. Aku menekankan pentingnya komitmen, dedikasi dan loyalitas yang berujung pada konsistensi dalam berkaryatulis.
Nah, yang tak kuduga: aku yang datang dengan sandal dan tampil dengan jaket pinjaman, mendapat sejumlah uang, tiga edisi majalah sekolah Basisco (Bacaan Siswa Cor Jesu) dan sebuah cangkir berlogo SMUK Cor Jesu. Betapa aku bersyukur, juga agak malu!
Selain itu, ada satu momen juga yang membahagiakan. Aku berkenalan dengan Angel, ilustrator Basisco. Rencananya, dia bersedia untuk menjadi ilustrator di naskah novel yang sedang kugarap.***
Dua kejadian di minggu lalu ini kadang membuatku berpikir sampai hari ini: Apakah sudah waktunya aku menjadi sastrawan?
Halah!
19.2.09
Serigala-serigala yang Keji
"Tari," kata Pak Wahyu. "Walau kau lihat bapak ini sudah tua, bapak sebenarnya masih mahir memainkan pedang."
Mata Tari yang tadinya menatapi kekelaman, kini membelalak menatap Pak Wahyu ketika mendengar sebuah kata. "Pedang, Pak?" Benaknya diliputi kegentaran.
"Ya, bapak membawanya dalam tas itu," kata Pak Wahyu menunjuk tas yang ia letakkan agak jauh dari api unggun. Ketika berkata-kata ia tampak agak resah.
"Maksud saya, apakah itu akan digunakan dalam waktu dekat ini? Saat ini? Sekarang? Untuk apa?" tanya Tari bertubi-tubi.
Pak Wahyu bimbang hendak menjawab apa. "Entahlah, Tari... dari pembicaraan tadi, aku menangkap adanya... yah... tanda-tanda bahaya di sekitar sini. Kurasa...," Pak Wahyu memotong kata-katanya, beranjak menuju ke tas yang ia bawa sambil melanjutkan kata-katanya, "Kurasa... yah... Tuan Badrika merasakan hal yang sa...."
"Auuuuuuwww...." Suara panjang bagai membelah langit terdengar, memutus pembicaraan Tari dan Pak Wahyu.
"Paaak!" teriak Tari sambil melompat dari tempat ia duduk, lalu minta digendong Pak Wahyu.
"Auuuuuuwww...."
"Nah... yang kurasakan sangat tepat, Tari. Ingatkah kau, dan tahukah kau bunyi apa itu?"
"Ingat, Pak. Itu dari cerita Tuan Badrika. Bunyi serigaaalaaa...." katanya dengan gemetar.
"Aku harus menghadapinya, Tari. Kau, berdirilah saja di balik pohon itu," kata Pak Wahyu menunjuk sebuah pohon yang agak jauh.
Suara auman serigala tampak makin keras dan bahkan bertambah jumlahnya. Di balik pohon Tari menggigil dan memanggil-manggil, "Tuan Badrika... Si Buta Berseruling... Tuan Badrikaaa... Si Buta Berseruliiing... selamatkan kami! Selamatkan kamiii!!!"
"Hei, serigala-serigala jahanam! Keluar kalian!" begitu Pak Wahyu berteriak. Teriakannya sangat keras. Namun selama beberapa saat hanya suara auman yang kian lama kian dekat saja yang terdengar.
"Keluar kaliaaan!!!" teriak Pak Wahyu. "Dan kau, Tari, diamlah!"
Ia menghunus pedang yang telah ia ambil dari tas bawaannya. Hampir bersamaan, seekor serigala melompat ke arahnya. Untung saja serigala itu bukan berasal dari belakang, tapi sampingnya. Serigala itu melompat cukup tinggi. Pak Wahyu kini telah siap menghadapinya. Keduanya saling berhadapan kini, sama-sama melangkah pelan-pelan. "Hmmm," serigala itu menggumam seram, menampakkan sebagian giginya yang sangar. Pak Wahyu tapi tampak tak gentar.
"Majulah," kata Pak Wahyu, seolah-olah menganggap bahwa hewan keji itu bisa bicara.
Dan hewan itu pun melompat, menyerang pundak kanannya. Pak Wahyu berhasil mengelak, berguling di tanah. Selama beberapa saat kemudian, tampak keduanya saling serang dan bertahan. Dari balik pohon Tari memberanikan dirinya untuk melihat pertarungan sengit itu. Dia sangat berharap Tuan Badrika lekas datang memberikan pertolongan.
Pak Wahyu dengan lincah telah berhasil menancapkan pedangnya di leher serigala pertama. Ketika mencabut pedangnya itu, serigala-serigala lain lalu muncul. Jumlahnya ada tiga ekor, dan mereka kini sedang menatap Pak Wahyu geram, seolah-olah hendak menuntut balas kematian temannya. Pak Wahyu mundur beberapa langkah, dan kini tampak gentar.
"Tuan Badrika...," desah Tari di balik pohon. "Maukah kau datang menolong Pak Wahyu?" Ia sedih melihat pria yang hampir tua dan perutnya agak buncit itu mengumpulkan segenap taktik dan kekuatan menghadapi serigala-serigala yang ganas.
Serigala kedua melompat menerjang kaki kanan Pak Wahyu. Dengan satu gerakan cepat Pak Wahyu menyingkir, sambil sekuat tenaga menghunus pedangnya menghantam kaki serigala itu sampai putus. Tanpa pikir panjang, Pak Wahyu menusukkan pedang itu ke dalam perut serigala si kaki putus. Lolongan panjang nan pilu terdengar di udara, disusul dua lolongan lain yang menyiratkan kegeraman, dan amarah yang amat ngeri.
Seekor serigala lain menyerang dengan ganas dan cepat. Serangannya tak main-main: ia selalu membuka mulutnya untuk menerkam dada Pak Wahyu. Pak Wahyu hanya bisa menghindar. Pak Wahyu tampak gelagapan ketika seekor serigala berikutnya juga turut membantu temannya -- kali ini menyerang-nyerang tangannya.
Mungkin telah ada setengah jam Pak Wahyu bertarung melawan empat serigala ini -- dua telah terbunuh tadi. Dan kini ia terpojok, tumitnya menyentuh sebuah batang pohon. Ia bersandar, meletakkan pedang di belakang kakinya. Ya, ia sedang memancing mereka. Tertarik pancingan itu, serigala yang selalu menyerang dadanya melompat cepat. Pak Wahyu tak mengelak, namun dengan sigap menyandarkan tangan kanannya di batang pohon tempat ia bersandar, lalu memegang pedang itu dengan kedua tangannya, dan....
Pedang yang berkilauan itu masuk menusuk jantung serigala itu.
Tari berpolah seperti anak yang hendak buang air: ia menggetarkan badannya ketika melihat serigala yang ganas itu melolong dahsyat menjemput maut. Menggelikan, namun sekaligus menggetarkan: hidung serigala itu menempel di hidung Pak Wahyu!
"Pak Wahyu, awas!" kata Tari begitu melihat serigala terakhir datang mendekatinya. "Lari, Pak, lari!" katanya. Pak Wahyu segera menyingkirkan serigala yang mati sambil menciumnya itu, tapi tak sempat mencabut pedangnya. Kini, Tari benar-benar tak merasa geli! Ia takut, benar-benar takut karena melihat Pak Wahyu dikejar-kejar serigala itu. Karena lelah, akhirnya Pak Wahyu jatuh tertelungkup. Ia membalikkan badannya, dan pasrah ketika serigala itu perlahan-lahan mendekati dirinya.
Tibalah saat yang paling menggentarkan dalam hidup Tari. Ia melihat serigala itu mulai berlari kecil menuju tubuh Pak Wahyu yang terkapar. Ia lalu melompat, seakan-akan hendak mencabik-cabik tubuh pria yang telah menyalakan amarah tak terkata di dalam dadanya.
Namun, amarah dalam dada serigala itu berujung petaka.
"Wuuus... wuuus...!!!" Dua tombak dengan amat laju kini bersarang di perutnya, tembus hingga ke sisi perutnya yang lain.
Ia tak sempat melolong -- mati dalam diam. Dan kini, Pak Wahyu pingsan ketika tubuh serigala yang cukup berat itu menimpa tubuhnya.
Tuan Badrika datang. Ia melayang turun dari sela-sela pepohonan dengan sangat santai. "Kasihan, Pak Wahyu. Ayo, Tari, bantu angkat serigala sialan ini dari tubuh Pak Wahyu yang tersayang."
Tari yang masih diliputi ketakutan sekaligus kelegaan bertanya, "Ke mana saja tadi, Tuan Badrika?"
"Aku tadi juga memburu serigala-serigala yang lain. Mereka agak jauh dari sini, dan kuyakin mereka akan ke sini. Namun, kini semuanya sudah aman. Mari kita minum teh dulu malam ini. Pak Wahyu juga butuh banyak minum. Tari, ambillah air," kata Tuan Badrika sambil menyerahkan panci yang mereka gunakan untuk merebus air.
Tari menurut walau takut. Ketakutannya selalu berhasil ia kalahkan sejak ia memutuskan untuk maju, berpetualang, dan berharap menemukan keajaiban dari tiap petualangan yang ia alami kali ini.
"Tuhan, terima kasih untuk perlidunganmu bagi Pak Wahyu," katanya berbisik. Dan kini ia mengingat Nina, adiknya yang manis. Ia mampu menahan kangennya, hingga tak ada satu air mata pun yang menetes ketika panci yang dibawanya kini sudah penuh dengan air. Saat itulah ia makin sadar, bahwa ia kini sedang benar-benar ada dalam petualangan! Ia melihat pertarungan, bahaya, manusia setengah resi yang bisa terbang, dan kejadian-kejadian lainnya yang dahsyat. Betapa ia bersyukur!
Ia pun kembali kepada Pak Wahyu dan Tuan Badrika dengan sukacita.
~s.n~
Sidoarjo, 18 Februari 2009, hampir tengah malam
17.2.09
beberapa temanku, malam ini
langit kelam tanpa bintik-bintik cahaya putih nan agung
petikan gitar yang melantunkan melodi tentang
: caya samar lampu merkuri jingga pucat
ah, ehm, seekor semut melintas,
tak bergerak sesaat, kini bagai menatapku
"mari kita lanjutkan cerita kita," katanya
"sebelum jamur menggerayangi...."
katanya lagi, sedikit tercekat kini, lalu sunyi
"menggerayangi apa sih?" tanyaku penasaran
"sela-sela keyboard laptop tuamu!"
jawabnya lugas, lalu pergi
melangkah santai namun yakin ia,
menuju kekelaman, menuju hidup tanpa sinar
tanpa hiraukan
: teman-temanku yang lain
sidoarjo,
16 februari 2009, 23.28
13.2.09
Komitmen akan Menjaganya
Penolakan itu, diramu dengan nafsu tertahan dan mungkin juga panik, membuat si pria malah menggebuki pacarnya itu hingga tewas.
Cinta, nafsu, dan komitmen. Dari sinilah segala hal tersebut di atas dipulangkan. Kita dapat mencintai seseorang dengan alasan apa pun karena di dunia ini banyak sekali definisi dan upaya memaknai cinta. Namun, cinta tak luput dari nafsu, karena manusia normal, ketika mencintai seseorang, pasti suatu ketika berhasrat mencumbunya. Cumbu-rayu, persetubuhan, dan segala hubungan fisik lainnya akan menyakitkan jika dilakukan tanpa komitmen.
Kini, marilah kita renungkan: apa pun yang membuat kita jatuh hati di masa lalu terhadap seseorang, akan diuji dengan keberadaan komitmen.
Mata yang indah, paras yang memikat, sebuah perjumpaan yang istimewa dapat menjadi sebab-sebab berseminya cinta. Namun, ketika cinta itu tak lagi bersemi, dilanda musim kering dan badai, kita kadang tidak siap. Kita abai terhadap segala kenangan yang kita miliki dengan yang kita kasihi, juga rasa dan aroma yang terkandung dalam kenangan itu -- seindah apa pun. Nah, di saat itu, komitmenlah yang akan menjaganya, sampai akhir nanti. (~s.n~)
12.2.09
Totalitas: Eksplorasi Bakat

Jubing Kristianto, mantan pimpinan redaksi sebuah media ternama di negeri ini, beberapa tahun lalu memutuskan jadi gitaris sepenuh waktu. Ia mengeluarkan album solo Becak Fantasy pada bulan Februari 2007 dan Hujan Fantasy di tahun 2008 yang dipuji banyak pengamat musik.
Yang unik dari album musik ini adalah aransemen dan variasi nada yang ditampilkan Jubing. Ia membuat Becak karya Ibu Sud dan Burung Kakatua terdengar lebih nikmat dengan komposisi nada, akor dan irama yang lain dari yang selama ini kita dengar. Harian Kompas memuji kalau Jubing "... bukan saja membuat aransemen yang serius ... tapi juga memainkannya dengan sangat apik, sangat alamiah...."
Jubing telah empat kali jadi juara pertama Yamaha Festival Gitar Indonesia, sehingga keputusan Jubing untuk total bermusik memang bukan sembarang keputusan. Dan darinya kita belajar bahwa konsekuensi dari sebuah totalitas dalam menekuni sesuatu adalah eksplorasi yang tiada henti.
Nah, itulah yang kerap jadi persoalan bagi kita: eksplorasi. Ketika berbicara tentang totalitas, begitu banyak orang yang di awal ingin terjun total menekuni suatu bidang. Sayangnya, kadang kita terjun bebas, tidak terarah. Pembelajaran kita tak teratur, setengah-setengah dan membuat semangat kita perlahan-lahan kendur. Akhirnya kita babak belur. Mungkin, kini sudah saatnya memperbaiki totalitas kita dengan eksplorasi pembelajaran yang tertata dan berencana. Dengan cara inilah kita menghargai bakat yang Tuhan berikan kepada kita untuk kita gunakan, kelola dan juga bagikan. (~s.n~)
11.2.09
Rahasia Kemesraan yang Langgeng
John Gottman, salah satu peneliti ternama tentang perkawinan dan relasi-relasi, dalam sebuah penelitiannya, menyebutkan bahwa salah satu hal dalam perkawinan yang membuatnya tetap langgeng adalah hal-hal kecil yang dikomunikasikan.
Hal-hal kecil seperti apa? Hal-hal kecil yang seolah tampak tak berarti, namun di dalamnya momen-momen keakraban dapat terbuhulkan. Hal-hal yang dibicarakan kali ini bukanlah tentang hal yang menggegerkan; sebuah berita besar; atau mungkin saling memberikan kata-kata yang romantis, rumit nan mengerutkan dahi. Menyaksikan suatu pemandangan berlama-lama sambil ngobrol tentang apa saja, misalnya, justru dapat membuat sebuah pasangan tambah mesra.
8.2.09
Keceriaan dan Kebimbangan di Empat Musim
Judul: JunoDari sinilah kemudian kita bertanya-tanya: akan tetap diserahkankah si bayi kepada keluarga Loring? Bagaimana dengan hubungan Paulie dan Juno? Apakah kisah ini akan menjadi kisah tiga keluarga? Kita lihat saja. Sebuah pesan dari ayah Juno yang bijaksana menyatakan bahwa hubungan yang harus kita pertahankan adalah hubungan dengan orang yang menyayangi kita apa adanya. "Ketika kau cantik, atau jelek, bahagia, atau kesal, kau akan tetap menjadi matahari baginya," begitu kira-kira ia berkata.
Tak lama berselang setelah kata-kata ini diucapkan, si bayi lahir! Ia kemudian menjadi pelita bagi jiwa remaja Juno yang walau selalu ceria, namun juga serba diliputi kebimbangan selama empat musim dalam suatu babak hidupnya. Ia kini tampak lebih dewasa dan bersahaja. Perpaduan dan gejolak aneka rasa di jiwa remaja ini telah tuntas terkisahkan dengan cerdas dan manis di sepanjang film.
Sidik Nugroho
Ralat (9 Februari 2009): Jennifer Garner tidak main di Freedom Writers, tapi Hillary Swank. Wah, memang mirip keduanya di mataku. Maaf.