13.2.10

Resensiku Dijiplak di Surabaya Post

Mungkin ini pengalamanku paling apes sejauh ini dalam hal meresensi buku. Seorang redaktur koran memintaku meresensi buku Mendongkel Yesus dari TahtaNya. Aku mau minta ke penerbitnya takut kelamaan. Aku beli di Surabaya, kubaca dua minggu, kubuat resensinya.

Setelah resensi itu kukirim, redaktur tersebut menganggap tulisanku masih kurang apik dan maknyus. Akhirnya kuubah sampai dua kali. Kukirimkan tiga versi tulisanku, tapi masih belum layak muat. Bagiku tak masalah dengan keputusan itu. Tiap editor atau redaktur punya selera. Tapi masalah lain datang:

Malam ini, kutemukan berita ini waktu aku mau cari bahan nulis renungan. Kaget aku: serasa membaca tulisanku sendiri! Tulisan ini dimuat di Surabaya Post.

Ini linknya: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=40d670477ea432dea2ee336c54d03a9b&jenis=d41d8cd98f00b204e9800998ecf8427e.

Kukutipkan sekalian resensinya:

Menjernihkan Pengeruhan Iman Kristen

Judul Buku: Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya
Penulis: Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace
Penerjemah: Helda Siahaan
Tebal: 285 halaman, 2009
Peresensi: Supriyanto
(Peminat buku keagamaan tinggal di Surabaya)

Pada kelahiran Yesus, sebuah nubuat tersabadakan. Seorang tua bernama Simeon menubuatkan Yesus akan selalu menjadi titik perbantahan. Takhta-Nya sebagai Mesias selalu digoyang dan diserang. Dan tak salah, jika belakangan kita akan terus melihat guncangan dan serangan itu.

Kini, di berbagai kampus di seluruh dunia, dikaji tentang bagaimana takhta Yesus terus digoyang. Yang mutakhir, dikembangkan sebuah konsep pengajaran baru yang bertolak belakang dengan Kristianitas. Yesusanitas atau Jesusanity sebuah pengajaran yang tak mendudukkan Yesus sebagai Juruselamat. Secara konseptual Yesusanitas merupakan ideologi untuk menempatkan Yesus sebagai tokoh politik radikal, atau guru yang agung dan hebat, dan menolak posisi Yesus sebagai Kristus, atau Mesias.

Novel dan film Da Vinci Code laris-manis di masyarakat global. Serangan atas iman Kristen dilancarkan dengan gencar dan banyaknya buku yang mengguncang iman Kristen seolah menjawab nubuat Simeon. Berbagi buku dan film itu pun diakui oleh para kreatornya didasarkan atas hasil riset mendalam. Hal ini tak pelak menjadikan seseorang terdorong menjadi penganut Yesusanitas. Konsep ini semakin menyedot perhatian publik.

Dua penulis buku Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya dengan judul asli Dethroning Jesus, Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace, mencoba melakukan klasifikasi beberapa klaim seputar Yesus ”yang lain.” Mereka melakukan pemilhan dalam enam bagian. Klaim pertama adalah tentang kitab-kitab dalam Perjanjian Baru (PB) yang dianggap dirusak oleh para penyalin hingga tak terpulihkan.

Klaim tersebut dimotori buku karya Bart Ehrman berjudul Misquoting Jesus. Buku bernada provokasi ini menjadikan orang pesimis akan kondisi naskah-naskah yang menjadi acuan penulisan Injil, dengan mengisyaratkan tak adanya naskah asli yang menjadi sumber atau acuan penulisan Injil.

Klaim kedua dan ketiga terkait eksistensi berbagai Injil dari kelompok Gnostik rahasia, seperti Injil Yudas dan Injil Tomas. Berbagai kelomopk Gnostik memberi penekanan berlebihan mengenai wahyu ilahi rahasia terhadap orang-orang tertentu saja. Injil Yudas disebut-sebut menjadi kitab bagi versi Kristianitas alternatif di abad-abad pertama Masehi.

Dalam kasus tersebut, Bart Ehrman berkomentar di sini Injil Yudas menjungkirbalikkan Kristianitas. Yudas yang dianggap pemberontak karena mengkhianati Yesus dalam Kristianitas, justru menjadi pembuka jalan bagi penyaliban. Intinya, justru karena "pengkhianatan" Yudas, Yesus bisa mati tersalib. Dengan tersalibnya Yesus maka dibukalah penyelamatan bagi umat manusia.

Klaim yang keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap hanya bermuatan sosial dan politik. Klaim ini muncul dengan adanya buku karya Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week tentang minggu terakhir Yesus sebelum disalib. Saat itu Yesus ada di Yerusalem. Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai muda. Ia mengucapkan sesuatu tentang pajak dan kekaisaran, berhadapan dengan mahkamah agama Yahudi, hingga mati disalib dengan tuduhan pemberontakan. Semuanya tampak memuat hal berbau politik.

Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan. Ia kemudian menitikberatkan gagasannya pada rencana Yesus untuk membangun sebuah dinasti Yahudi bersama Yakobus, Petrus dan Yohanes. Sebuah rencana yang kemudian gagal karena tampilnya Paulus yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam PB dan meletakkan dasar bagi Kristianitas lewat ajaran-ajarannya tentang Yesus Kristus.

Klaim keenam, berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel membuat film dokumenter tentang ini. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak. Istri, anak, dan beberapa saudara Yesus dimakamkan selokasi dengan Yesus. Namun, hasil uji DNA telah menyatakan bahwa antara makam Yesus dan sebuah makam di situ—yaitu makam Mariamne, yang diduga adalah Maria ibu Yesus—tidak memiliki hubungan darah. Selain itu, nama Yesus cukup populer pada masa itu. Josephus, seorang ahli sejarah menyebut ada 10 orang bernama Yesus saat Yesus Kristus hidup.

Buku ini tepat dibaca oleh semua kalangan yang mengikuti maraknya perdebatan seputar iman Kristen belakangan ini, yang membenturkan logika dan keyakinan atas Yesus yang selama ini dikenal dari doktrin gerejawi. Buku ini mencoba menawarkan pemikiran kritis atas klaim-klaim itu. Buku ini menjadi semacam apologetika yang dikemas dengan meramu beragam wacana seputar perdebatan iman Kristiani.

*******

Bandingkan dengan resensiku Versi Pertama: http://tuanmalam.blogspot.com/2009/04/yesusanitas-dan-kristianitas-dalam.html dan Versi Ketiga:
http://www.facebook.com/sidiknugroho?v=app_2347471856&ref=profile#!/note.php?note_id=128128037770. Yang kedua lupa kusimpan.

Kukutipkan ya: Versi Pertama

Yesusanitas dan Kristianitas dalam Sebuah Buku Apologetika

Judul Buku: Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya
Penulis: Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace
Penerjemah: Helda Siahaan
Penerbit: Gramedia
Tebal: 285 halaman
Cetakan pertama, 2009

Yesusanitas -- apakah itu? Diterjemahkan dari bahasa Inggris Jesusanity, Yesusanitas adalah suatu ideologi yang sedang diajarkan di berbagai perguruan tentang kedudukan dan identitas Yesus sebagai tokoh politik radikal, atau guru yang agung dan hebat. Dalam Yesusanitas, posisi Yesus sebagai Kristus, atau Mesias, tidak diakui. Karenanya, Yesusanitas bertolak belakang dengan Kristianitas, pengajaran yang menjunjung tinggi kedudukan Yesus sebagai Juruselamat.

Yesusanitas muncul, kemudian kian merebak, karena adanya beberapa klaim seputar Yesus "yang lain", yang semakin menyedot perhatian publik. Dua penulis buku ini, Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace, memilah klaim-klaim tersebut dalam enam bagian.

Klaim pertama adalah tentang kitab-kitab dalam Perjanjian Baru yang dianggap telah sangat dirusak oleh para penyalin hingga tak terpulihkan. Klaim ini dimotori oleh buku karya Bart Ehrman berjudul Misquoting Jesus. Buku yang ditulis dengan gaya amat provokatif ini membuat orang pesimis akan kondisi naskah-naskah yang menjadi acuan penulisan Injil. Ehrman membuat pernyataan-pernyataan yang mengisyaratkan ketiadaan naskah asli yang menjadi sumber atau acuan penulisan Injil.

Padahal, dibandingkan dengan berbagai jenis manuskrip lain berbahasa Latin dan Yunani yang ditemukan, Perjanjian Baru memiliki jumlah manuskrip yang sangat jauh lebih banyak. Dalam kurun waktu 50 tahun (100-150 M) saja, ada 5700 manuskrip Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani, lebih dari 10.000 manuskrip berbahasa Latin, lebih dari 1 juta kutipan bapa gereja, dan belum termasuk sumber-sumber tertulis lain. Klaim Ehrman, kemudian menjadi begitu memukau, sekaligus meragukan, utamanya karena ia cenderung untuk berfokus pada perubahan-perubahan drastis dalam sejarah teks -- yang jumlahnya hanya segelintir. Perubahan-perubahan ini semestinya diperlakukan memadai dengan menakarnya ulang lewat kritik teks yang diupayakan menyeluruh dan terpadu dari sumber-sumber yang ada.

Klaim kedua adalah keberadaan Injil-Injil Gnostik rahasia, seperti Injil Yudas yang disebut-sebut menjadi kitab bagi versi Kristianitas alternatif di abad-abad pertama Masehi. Aliran Gnostik memberi penekanan berlebihan mengenai wahyu ilahi rahasia terhadap orang-orang tertentu saja. Dalam kasus ini, lagi-lagi ada Bart Ehrman juga yang berkomentar di sini bahwa Injil Yudas menjungkirbalikkan Kristianitas yang sejati: Yudas yang dianggap pemberontak dalam Kristianitas, justru menjadi pembuka jalan bagi penyaliban.

Klaim kedua ini lemah kedudukannya mengingat manuskrip Injil Yudas diindasikan ditulis pada akhir abad ketiga, dan naskah aslinya diperkirakan ditulis abad kedua. Jadi, jelas di sini bahwa Yudas bukan penulisnya. Ia mati menggantung diri tak lama setelah Yesus disalib. Jadi, semua yang ada di sini hanya rekaan: Yudas fiktif dan Yesus fiktif.

Klaim ketiga datang dari Injil Gnostik lain, yaitu Injil Tomas. Dalam Injil yang hanya memuat 114 pernyataan Yesus ini, Tomas menampilkan Yesus sebagai seorang guru. Ia tidak melakukan mukjizat, tidak memenuhi nubuat apa pun, dan tidak melakukan penebusan dosa. Injil Tomas menekankan pengetahuan, namun mengabaikan iman.

Klaim keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap intinya bermuatan sosial dan politik. Klaim ini muncul dengan adanya buku karya Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week tentang minggu terakhir Yesus sebelum disalib. Saat itu Yesus ada di Yerusalem. Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai muda. Ia menyucikan Bait Allah dengan cara yang radikal, mengucapkan sesuatu tentang pajak dan kekaisaran, berhadapan dengan mahkamah agama Yahudi, hingga mati disalib dengan tuduhan pemberontakan. Semuanya tampak memuat hal-hal berbau politik.

Borg dan Crossan kemudian menganalogikan secara politis sejarah Yesus dengan kondisi Amerika saat ini. Yesus dianggap politisi unggul yang "dibunuh karena impian-Nya", dan kemudian dibenarkan oleh Tuhan. Dalam Kristianitas, Yesus tidak melakukan semuanya karena bertujuan politis. Ia tak sekedar memenuhi impian-Nya, tapi kehendak Tuhan.

Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan. Ia kemudian menitikberatkan gagasannya pada rencana Yesus untuk membangun sebuah dinasti Yahudi bersama Yakobus, Petrus dan Yohanes. Sebuah rencana yang kemudian gagal karena tampilnya Paulus yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam Perjanjian Baru dan meletakkan dasar bagi Kristianitas lewat ajaran-ajarannya tentang Yesus Kristus.

Tampak di sini bahwa Tabor berusaha mempertahankan ke-Yahudi-an Yesus dengan mengabaikan Paulus, seorang rasul -- yang justru "sangat Yahudi" -- yang menyebarkan berita Injil ke bangsa-bangsa bukan Yahudi.

Klaim keenam datang dari berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel bahkan sudah membuat film dokumenter tentang ini dengan James Tabor sebagai penasihat sejarah utama. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak. Istri, anak, dan beberapa saudara Yesus dimakamkan selokasi dengan Yesus. Namun, hasil uji DNA telah menyatakan bahwa antara makam Yesus dan sebuah makam di situ -- yaitu makam Mariamne, yang diduga adalah Maria ibu Yesus atau Maria Magdalena -- tidak memiliki hubungan darah. Selain itu, nama Yesus cukup populer pada masa itu. Josephus, seorang ahli sejarah menyebut ada 10 orang bernama Yesus saat Yesus Kristus hidup.

Klaim-klaim di atas menantang logika dan keyakinan kita atas keabsahan jati-diri Yesus yang selama ini dikenal dari Alkitab atau doktrin gerejawi. Buku apologetika yang dikemas dengan meracik sumber-sumber sejarah terpilih dan wacana-wacana terkini ini layak untuk dijadikan pegangan yang standar dan bersifat umum.

Judul buku ini (asli: Dethroning Jesus), tepat benar untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi -- dan kemungkinan besar akan terus terjadi -- sesuai sebuah nubuat di masa silam: bahwa Yesus Kristus akan selalu menjadi biang perbantahan. Takhta-Nya sebagai Mesias selalu digoyang dan diserang. Kristianitas, kini tak sekedar memuat ibadah dan pengagungan, namun tampaknya juga mencakup upaya menelusuri dan memetik hikmah dari beraneka perbantahan itu. ***

Sidik Nugroho,
Peminat sejarah gereja, alumnus jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang, guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, punya blog di http://tuanmalam.blogspot.com.

********

Kukutipkan Versi Kedua:

Yesus Kristus atau Yesus Saja?

Sidik Nugroho*)

Judul Buku: Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya
Penulis: Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace
Penerjemah: Helda Siahaan
Penerbit: Gramedia
Tebal: 285 halaman
Cetakan pertama, 2009

Dalam sebuah film dikisahkan Yesus ingin tidak mati disalib. Ia berandai-andai memiliki keluarga, hidup bahagia sebagai manusia biasa. Kehidupannya "yang lain" ini ada dalam sebuah film bertajuk The Last Temptation arahan sutradara Martin Scorsese yang sempat memicu kontroversi. Namun, film Scorsese itu bisa dikatakan tak terlalu telak -- bahkan bisa dikatakan tak bermaksud -- menyerang iman Kristen, karena Yesus yang digambarkan dalam film itu hanya Yesus yang berandai-andai.

Belakangan ini, ada juga buku -- yang kemudian juga difilmkan -- yang membuat banyak orang tertohok. Sejak novel dan film Da Vinci Code laris-manis di masyarakat global, serangan atas iman Kristen dilancarkan dengan gencar dan bertubi-tubi dengan adanya buku-buku yang menggoncang iman. Buku-buku dan film-film yang diakui oleh para kreatornya didasarkan atas hasil riset mendalam, bukan lagi berandai-andai, yang cukup menyerang keutuhan teologi Kristen.

Teologi Kristen mengajarkan bahwa Yesus, yang populer juga dengan nama Isa, adalah Yesus Kristus. Kristus menunjukkan eksistensi Yesus yang bukan hanya seorang nabi. Kata Kristus berarti "yang diurapi oleh Allah" atau Mesias. Kata ini menekankan penjelasan penting dalam teologi Kristen bahwa ia adalah juruselamat yang diutus oleh Tuhan untuk menebus dosa-dosa manusia. Bahkan, ia adalah Tuhan yang mewujud jadi manusia.

Karena sulitnya peran dan kedudukan Yesus dicerna akal sehat manusia -- ia disebut seratus persen Tuhan dan seratus persen manusia -- maka beraneka perdebatan tentangnya berkembang sepanjang sejarah. Perdebatan, juga klaim, yang menimbulkan aneka penafsiran, akhirnya dapat bermuara pada sebuah ideologi yang disebut Yesusanitas.

Yesusanitas -- apakah itu? Diterjemahkan dari bahasa Inggris Jesusanity, Yesusanitas adalah suatu ideologi yang sedang diajarkan di berbagai perguruan tentang kedudukan dan identitas Yesus sebagai tokoh politik radikal, atau guru yang agung dan hebat. Dalam Yesusanitas, posisi Yesus sebagai Kristus, atau Mesias, tidak diakui. Karenanya, Yesusanitas berseberangan dengan Kristianitas, pengajaran yang menjunjung tinggi kedudukan Yesus sebagai Juruselamat dalam agama Kristen.

Yesusanitas muncul, kemudian kian merebak, karena adanya beberapa klaim seputar Yesus "yang lain", yang semakin menyedot perhatian publik. Dua penulis buku ini, Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace, memilah klaim-klaim tersebut dalam enam bagian.

Klaim pertama hingga kelima dalam buku ini disimpulkan Bock dan Wallace dari buku-buku yang menyanggah keabsahan dan keakuratan jati-diri Yesus. Pertama, tentang kitab-kitab dalam Perjanjian Baru yang dianggap telah sangat dirusak oleh para penyalin hingga tak terpulihkan. Klaim ini dimotori oleh buku karya Bart Ehrman berjudul Misquoting Jesus. Klaim kedua dan ketiga adalah keberadaan Injil-Injil Gnostik rahasia, seperti Injil Yudas dan Injil Tomas. Klaim keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap hanya bermuatan sosial dan politik, seperti yang diuraikan Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week. Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan dan dianggapnya berniat mendirikan suatu dinasti.

Klaim keenam cukup menghebohkan karena datang dari berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel bahkan sudah membuat film dokumenter tentang ini dengan James Tabor sebagai penasihat sejarah utama. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak.

Klaim-klaim di atas menantang logika dan keyakinan umat Kristen atas keabsahan jati-diri Yesus yang selama ini dikenal dari Alkitab atau doktrin gerejawi. Buku ini mencoba menawarkan pemikiran kritis atas klaim-klaim itu. Buku apologetika yang dikemas dengan meracik berbagai wacana terkini seputar perdebatan iman Kristiani ini layak untuk dijadikan pegangan yang standar dan bersifat umum. Bukan hanya bagi umat Kristen, buku ini juga tepat dibaca oleh semua kalangan yang mengikuti maraknya perdebatan seputar iman Kristen belakangan ini.

Buku ini secara garis besar membela iman Kristen. Kehadiran buku-buku yang disebut dalam enam klaim di atas -- juga film dari Discovery Channel yang tadi telah disebut -- mau tak mau dapat menimbulkan efek yang luas bagi umat Kristen. Sudah barang tentu, semua klaim ini bisa membuat banyak umat Kristen sangsi atas keabsahan iman yang selama ini mereka anut. Perlu ada sebuah buku, dari teolog yang berkompeten dalam menangkal serangan-serangan itu.

Darell L. Bock adalah seorang yang tepat; ia tercatat sebagai penulis buku laris Breaking the Da Vinci Code. Ia juga menjadi kontributor di ChristianityToday.com, sebuah situs yang sangat aktif dalam membahas isu-isu yang berkembang seputar kekristenan di masa kini. Rekannya, Daniel B. Wallace, adalah penulis yang produktif, seorang ahli-kritik teks Perjanjian Baru. Kedua penulis ini adalah profesor di Dallas Theological Seminary di Texas.

Untunglah, status mereka sebagai profesor tak membuat pembaca awam mengerutkan dahi. Bahasa yang dipergunakan dalam buku ini cenderung populer, dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia cukup nyaman diikuti. Gramedia Pustaka Utama sebagai penerbit yang menerbitkan beberapa buku terjemahan yang telah disebut dalam klaim-klaim di atas tadi, mengambil tindakan jitu menerbitkan buku terjemahan ini pula. Ini menjadi sebuah keputusan yang tampak berimbang, sekaligus market-oriented: dari penerbit yang sama, keluar buku yang saling bertentangan.

Pertentangan demi pertentangan yang terjadi seputar iman Kristen rasanya terus akan berlanjut. Yesus yang tertulis dalam Injil dan disembah orang Kristen selalu berpeluang untuk ditentang kedudukannya sebagai Yesus Kristus. Bagi para penentang dia bukanlah Yesus Kristus; dia hanya Yesus, tak lebih dari itu. Nah, setelah pertentangan demi pertentangan itu terjadi, juga demi bersiaga sebelum pertentangan-pertentangan lain muncul, buku ini patut dijadikan pegangan. Buku ini, pada akhirnya mengajak pembaca merenung sebuah hal yang penting: Kristianitas, kini tak sekedar memuat ibadah dan pengagungan, namun tampaknya juga mencakup upaya menelusuri dan memetik hikmah dari berbagai pertentangan itu. ***

*) Sidik Nugroho, alumnus jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang, guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, dan peminat sejarah gereja


********

Kesulitan menemukan penjiplakan? Ini kukutipkan beberapa bagian yang nyaris mirip.

Klaim yang keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap hanya bermuatan sosial dan politik. Klaim ini muncul dengan adanya buku karya Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week tentang minggu terakhir Yesus sebelum disalib. Saat itu Yesus ada di Yerusalem. Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai muda. Ia mengucapkan sesuatu tentang pajak dan kekaisaran, berhadapan dengan mahkamah agama Yahudi, hingga mati disalib dengan tuduhan pemberontakan. Semuanya tampak memuat hal berbau politik. (Versi Penjiplak)

Klaim keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap intinya bermuatan sosial dan politik. Klaim ini muncul dengan adanya buku karya Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week tentang minggu terakhir Yesus sebelum disalib. Saat itu Yesus ada di Yerusalem. Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai muda. Ia menyucikan Bait Allah dengan cara yang radikal, mengucapkan sesuatu tentang pajak dan kekaisaran, berhadapan dengan mahkamah agama Yahudi, hingga mati disalib dengan tuduhan pemberontakan. Semuanya tampak memuat hal-hal berbau politik. (Versi Sidik Nugroho)

******

Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan. Ia kemudian menitikberatkan gagasannya pada rencana Yesus untuk membangun sebuah dinasti Yahudi bersama Yakobus, Petrus dan Yohanes. Sebuah rencana yang kemudian gagal karena tampilnya Paulus yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam PB dan meletakkan dasar bagi Kristianitas lewat ajaran-ajarannya tentang Yesus Kristus. (Versi Penjiplak)

Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan. Ia kemudian menitikberatkan gagasannya pada rencana Yesus untuk membangun sebuah dinasti Yahudi bersama Yakobus, Petrus dan Yohanes. Sebuah rencana yang kemudian gagal karena tampilnya Paulus yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam Perjanjian Baru dan meletakkan dasar bagi Kristianitas lewat ajaran-ajarannya tentang Yesus Kristus. (Versi Sidik Nugroho)

******

Dalam kasus tersebut, Bart Ehrman berkomentar di sini Injil Yudas menjungkirbalikkan Kristianitas. Yudas yang dianggap pemberontak karena mengkhianati Yesus dalam Kristianitas, justru menjadi pembuka jalan bagi penyaliban. Intinya, justru karena "pengkhianatan" Yudas, Yesus bisa mati tersalib. Dengan tersalibnya Yesus maka dibukalah penyelamatan bagi umat manusia. (Versi Penjiplak)

Dalam kasus ini, lagi-lagi ada Bart Ehrman juga yang berkomentar di sini bahwa Injil Yudas menjungkirbalikkan Kristianitas yang sejati: Yudas yang dianggap pemberontak dalam Kristianitas, justru menjadi pembuka jalan bagi penyaliban. (Versi Sidik Nugroho)


******

Klaim keenam, berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel membuat film dokumenter tentang ini. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak. Istri, anak, dan beberapa saudara Yesus dimakamkan selokasi dengan Yesus. Namun, hasil uji DNA telah menyatakan bahwa antara makam Yesus dan sebuah makam di situ—yaitu makam Mariamne, yang diduga adalah Maria ibu Yesus—tidak memiliki hubungan darah. Selain itu, nama Yesus cukup populer pada masa itu. Josephus, seorang ahli sejarah menyebut ada 10 orang bernama Yesus saat Yesus Kristus hidup.(Versi Penjiplak)

Klaim keenam datang dari berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel bahkan sudah membuat film dokumenter tentang ini dengan James Tabor sebagai penasihat sejarah utama. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak. Istri, anak, dan beberapa saudara Yesus dimakamkan selokasi dengan Yesus. Namun, hasil uji DNA telah menyatakan bahwa antara makam Yesus dan sebuah makam di situ -- yaitu makam Mariamne, yang diduga adalah Maria ibu Yesus atau Maria Magdalena -- tidak memiliki hubungan darah. Selain itu, nama Yesus cukup populer pada masa itu. Josephus, seorang ahli sejarah menyebut ada 10 orang bernama Yesus saat Yesus Kristus hidup. (Versi Sidik Nugroho)


*******

PELAJARAN BERHARGA: Jangan asal memasang resensi Anda di notes atau blog! Semoga kita semua para peresensi tetap semangat. Tetap tersenyum juga. Hihihi...

2 comments:

ahmad said...

minta klarifikasi aja om, biar jelas.

hastiyanto said...

sip mas. mas bisa jadi peresensi hebat. dipikir positif aja mas. berarti resensi mas kelasnya surabaya post. eh, ya. siapa yang menjiplak, redaktur itu?