24.10.09

Catatan Kepala Tiga

"Tiga puluh tahun yang lalu, Mamah sangat kesakitan ketika melahirkan kamu. Tapi Tuhan selalu menjagamu, melindungimu, dan memberkatimu. Sukses ya anakku, dalam segala hal di hidupmu."

Itu sms dari ibuku yang kupanggil Mamah pagi tadi.

Tiga puluh tahun lalu ibuku melahirkan aku dengan sangat menderita. Aku tidak lahir selama tiga hari di rumah sakit; padahal selama tiga hari itu, ibuku telah kesakitan. Aku akhirnya lahir dengan bantuan sedot. Dulu, dokter kuatir kalau bayi yang lahir disedot bisa mengalami gangguan otak.

Ternyata, aku tidak demikian. Aku sehat-sehat saja sekarang. Aku baik-baik saja hingga kini. Puji Tuhan. Kalau pun ada orang yang menganggap otakku kurang waras, kupastikan dia sedang sakit hati padaku.

Terima kasih, Tuhan, kau telah membawaku masuk dan mengenal dunia. Kubalas sms ibuku: "Terima kasih, Mah. Doa dan restu ibu sepanjang jalan, hidup indah tak terkatakan."

***

Nah, hingga tadi malam, aku lupa kalau hari ini aku ultah. Dengan beberapa teman, semalam aku karaoke-an di sebuah tempat karaoke. Pulang dari tempat karaoke, seorang teman mampir ke tempat kosku. Setelah dia pulang, dan ketika aku merenung seorang diri di depan kos sambil menyaksikan lampu merkuri di depan kos -- aku baru sadar: besok (hari ini) aku sudah kepala tiga. Ya, usiaku genap tiga puluh kini.

Bagiku, tak ada yang istimewa dengan sebuah ulang tahun. Aku lebih memilih orang tidak tahu kapan ulang tahunku. Sebabnya aku terhitung jarang mengikuti atau mengadakan acara-acara ulang tahun. Paling-paling, di keluargaku, kalau ada yang ulang tahun, kami doa bersama; atau membuat beberapa nasi bungkus untuk dibagikan ke gelandangan di Pasar Besar Kota Malang.

Namun, kali ini aku sudah kepala tiga. Momen ini -- kalau dipikir-pikir -- rasanya penting juga bagi hidupku. Penting, sehingga pagi ini aku mengambil sedikit waktu untuk merefleksikan apa saja yang harus kuperbuat untuk masa depanku selanjutnya.

Aku tidak bisa menuliskan dengan detil apa yang kuharapkan terjadi di masa depanku. Namun, bertolak dari apa yang kualami di masa kini, tampaknya aku akan tetap menggeluti dunia pendidikan dan penulisan.

Pertama, pendidikan. Mendidik seorang anak begitu berat, bagiku. Tugas seorang guru beda dengan dosen. Dosen lebih banyak mengajar, guru lebih banyak mendidik. Dalam mendidik anak, begitu banyak suka-duka yang telah kujalani selama ini. Ada anak yang hampir di tiap pagi minta digendong kalau bertemu denganku; ada juga anak yang kelakuannya selalu bikin aku kesal karena tak pernah mau taat.

Yang bikin aku bertahan dalam mendidik adalah pengenanganku akan beberapa guru dalam hidupku di masa lalu. Guru-guru yang telah mengubah jalan hidupku. Tanpa mereka, aku tak akan pernah menjadi seperti yang sekarang. Dan mungkin, aku juga ditentukan seperti beberapa guruku di masa lalu itu -- bagi anak-anak yang sekarang harus kudidik.

Tentang dunia kepenulisan, hanya satu alasan yang membuat aku bertahan: aku tak bisa tak menulis. Sebagai seorang muda yang sangat rindu bisa beraktualisasi, aku seperti penulis-penulis muda lainnya: rajin berkarya, rajin pula berusaha mempublikasikan karya-karyaku. Sejauh ini aku telah menulis sebuah buku yang sudah terbit dan beberapa renungan yang terbit bulanan. Ada pula beberapa tulisanku yang nyangkut di koran dan majalah.

Namun, yang belum terpublikasikan masih banyak. Ada dua buah novel, tiga buah novelet, puluhan cerpen, puluhan artikel/opini, puluhan resensi, bahkan ratusan puisi yang hampir semuanya pernah ditolak untuk diterbitkan oleh penerbit buku, koran, atau majalah. Semua ini dapat membuatku menemukan puluhan alasan mengapa aku harus berhenti menulis.

Namun, aku tetap bertahan pada alasan "aku tak bisa tak menulis" ketika merenungi lagi bahwa kegagalan publikasi yang kubuat semata-mata hanyalah kepanjangan dari dua hal: itu semua adalah ujian dan pembelajaran. Aku diuji untuk sabar; aku membelajari diri untuk berkarya lebih baik, juga membelajari diri untuk menemukan cara lain dalam mempublikasikan karya-karyaku.

***

Begitulah...

Oh, ulang tahun! Haha, aku sudah kepala tiga. Orang bilang aku harus segera cari pacar. Cari istri tepatnya. Aku sepakat, walau kadang kurang bersemangat menjalaninya. Ya, pe-er ini memang harus kuanggap penting, kalau aku tak mau melakukan apa yang dulu pernah ingin kulakukan: menjadi biarawan. Ya, selama beberapa tahun, aku sempat juga ingin jadi biarawan -- mereka kelihatan keren.

Tapi, yang terakhir, entah belum atau sudah mendapat istri, sepuluh, dua puluh, bahkan beberapa puluh tahun dari sekarang, tampaknya aku akan tetap menjadi seorang guru dan penulis -- di mana pun aku berada.

Enjoying life, loving peace, and rock and roll -- always!

Sidoarjo, 24 Oktober 2009, 06.30-07.15
Sidik Nugroho

7 comments:

Iik J said...

met ulang tahun ya

Vicky Laurentina said...

Selamat jalan! Kau bukan anggota klubku lagi!

*menari-nari a la klub 20-an*

eha said...

menjejakkan kaki ke dekade baru memang mendebarkan. Selamat memulai petualangan baru!

Sidik Nugroho said...

trims ya... semoga di dekade dan klub yang baru aku bisa struggle lebih mantap.

yans'dalamjeda' said...

Karaoke, boleh juga. Hiburan melepaskan kepergian kepala dua. hehehe.

masmpep said...

selamat mas. selamat. semoga aktualisasi diri terus lancar....

Sidik Nugroho said...

trims yans dan masmpep. waktu berjalan, dan imaji kita (kadang) tak kuasa mengimbangi petualangan-petualangan baru yang (sebenarnya) siap terpetakan.

tabik,
sn