15.7.09

Persahabatan dan Mimpi-mimpi Kami

: Naskah drama siswa-siswi kelas 4 SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo

PEMBUKAAN

Ini adalah sebuah drama tentang persahabatan dan perjuangan hidup. Kita hidup, berjuang, meraih mimpi… (Aji)

… karena kita yakin bahwa nafas hidup adalah anugerah yang patut disyukuri. Selamat menikmati, dan mari kita menghayati hidup dan kehidupan ini! (Anin)

Cocok… cocok cocok cocok cocok cocok mimpinya!
Mimpi… mimpi mimpi mimpi emang mimpi apaan?
Cocok… cocok cocok cocok cocok cocok mimpinya!
Mimpi… mimpi mimpi mimpi emang mimpi apaan?


(Nyanyian oleh Varell, Aldo, Alief, Ratu, Joseph)

BABAK 1

Aditya – (Bangun dari tidur, mengerjap-ngerjapkan mata.) “Wah, aku mimpi ngeri banget semalam! Uhhh… aku harap mimpi ini nggak jadi kenyataan!” (Dengan wajah tampak bingung dan sedih.)
Amira – (Menghampiri Adit.) “Mimpi apa to, Pak? Santai… santai. Kalem, Pak!”
Aditya – “Anak kita, Farhan… dia seperti masuk dalam ruangan yang gelap… lalu teriak-teriak minta tolong gitu! Aku jadi sedih!” (Tampak resah dan mengerutkan dahi.)
Farhan – (Masuk ke dalam ruangan.) “Pak, Bu… aku berangkat sekolah dulu ya… Dadah!” (Farhan meninggalkan orang tuanya. Lalu percakapan terjadi antara Aditya dan Amira.)
Amira – “Semoga anak kita baik-baik saja, Pak.”
Aditya – “Ya… semoga saja! Semoga mimpiku bukan jadi pertanda buruk.”

Farhan adalah anak yang sabar. Dia sering membantu ibunya jualan klepon. Dititipkannya klepon-klepon itu di warung sekolah. Namun, beberapa temannya yang nakal suka mengejeknya. (Jenny)

Ada kodok trekotrek trekotrek di pinggir kali trekotrek trekotrek
Mencari makan trekotrek trekotrek lucu sekali
Ada Farhan trekotrek trekotrek membawa klepon trekotrek trekotrek
Sambil sekolah trekotrek trekotrek lucu sekali


(Nyanyian oleh Nadhira, Ian, Owen, Axcel)

Azka – “Sudahlah, Farhan. Jangan kamu pedulikan mereka yang suka ngolokin kamu itu.”
Caraka – “Iya, kamu kan bukan pencuri atau perampok. Yang jelas kamu sudah membantu ibumu. Itu bagus!”
Farhan – “Iya, kawan-kawan. Aku senang kalian bisa bersahabat denganku.”
Diva – “Kami juga senang bersahabat denganmu!”
Fefe – “Kita kan lima sekawan yang tak terpisahkan!”

Kelima orang itu lalu menuju ke kantin Mbah Ezra. Mbah Ezra jualan berbagai macam makanan dan minuman di kantin sekolah. Ia disukai anak-anak karena lucu. Di sanalah Farhan menitipkan klepon buatan ibunya. (Viola)

Ezra – (Dengan suara serak.) “Oh, Farhan cucuku… apa kabarmu, Nak? Bawa berapa klepon hari ini?”
Farhan – “Bawa tiga puluh, Mbah. Gimana kabarnya, Mbah? Sehat kan, Mbah?”
Ezra – “Mbah agak sakit flu. Pusing, dan masuk angin, kelihatannya.”
Diva – “Pusing, kesel dan masuk angin ya, Mbah?”
Ezra – “Iya. Lho kok kamu tahu mbah juga sering kesel?”
Vida – “Kalo Mbah sakit pusing, kesel-kesel dan masuk angin, ke Puskesmas aja.”
Caraka – “Iya, Mbah. Puskesmas: Pusing, Kesel-kesel dan Masuk Angin.”
Ezra – “Iya, ya… Ntar deh saya ke sana.”

Mereka kemudian meninggalkan Mbah Ezra seorang diri. Di perjalanan menuju kelas mereka saling berbicara. (Jenny)

Caraka – “Omong-omong Mbah Ezra tadi sakit flu bukan ya?”
Farhan – “Bukan, dia cuma udah tua. Kasihan ya.”
Vida – “Kalo flu hati-hati lho… Jangan-jangan dia kena flu babi!”
Diva – “Hus! Ngawur kamu!”

BABAK 2

Suatu hari setelah pulang sekolah, Farhan berjalan seorang diri. Saat itu ia sedang melamun nasibnya yang tidak bahagia, seperti teman-temannya yang lain. (Viola)

Farhan – “Kadang aku ingin punya mobil, tidak selalu jalan kaki ke sekolah. Betapa teman-temanku beruntung… sementara aku sering malang dan hidup kekurangan. Tapi nggak apa-apalah. Yang penting enjoy…”

Farhan tidak sadar ketika sedang melamun ia berjalan menuju ke tengah jalan, ada seorang pengendara sepeda motor yang lagi mengendarai motornya dengan laju. (Jenny)

Daffa – (Sambil kaget karena melihat Farhan di tengah jalan.) “Woi, woi, wooooi! Awas oi! Jalan kok nengah-nengah sih! Piye to kon iki!” (Farhan ditabrak… Hidungnya berdarah.) “Hah! Haaah! Tolong toloooong. Lontooong, eh toloooong! Ada orang ketabrak! Ada orang ketabrak!”

Untunglah, saat itu ada Fanie dan Ehud yang lagi jalan-jalan siang. Mereka kaget mendengar teriakan. (Viola)

Fanie – “Eh, ada orang ditabrak! Yuk tolongi yuk!”
Ehud – “Yuk, kita tolong!”

Mereka segera menolong, lalu membawa ke rumah sakit. Di rumah sakit ada suster Esther yang menyambut mereka. (Jenny)

(Di rumah sakit terjadi percakapan biasa antara suster dan pasien.)

Farhan kemudian dirawat. Ia lalu tertidur pulas… Saat tidur ia bermimpi dirinya sedang ditinggalkan seorang diri. Ia kesepian. Orang tuanya belum tahu kejadian yang menimpa dirinya. Dalam mimpinya, ia tiba-tiba mendengar sebuah nyanyian yang indah… (Viola)

You’re not alone, for I’m here with you…
Though we’re apart, you’re always in my heart…


(Fefe, Aretha)

BABAK 3

Saat lagu itu selesai dinyanyikan, ayah, ibu, dan keempat teman Farhan datang di sampingnya. (Jenny)

Adit – “Ternyata… ini arti mimpiku… Anakku dirawat di rumah sakit!” (Adit menangis tersedu-sedu.)
Amira – “Sudahlah, Pak… Kalem saja. Dia nggak apa-apa. Kepalanya cuma benjol sedikit. Besok juga sudah pulang kan?

(Diva, Vida, Caraka dan Azka menghibur Farhan dengan kata-kata spontan. Intinya supaya Farhan tidak sedih.)

Farhan – “Aku dengar dari Ibu kalau Bapak mungkin bermimpi buruk tentang aku. Tapi aku punya mimpi yang lain, Pak.”
Adit – “Apa itu, Nak?”
Farhan – “Aku mendengar suara yang indah dalam mimpiku tadi. Mungkin, kita dapat mengubah mimpi kita: dari buruk menjadi baik.”
Azka – “Dan ada kami, teman-temannya, yang akan mewujudkan mimpi itu bersama-sama!”

Hari ini, di sebuah rumah sakit, telah terjadi sebuah sukacita. Saat semua sedang tersenyum bahagia, masuklah seorang pria tua yang cukup mengagetkan semuanya. (Viola)

Mbah Ezra – “Saya dengar-dengar, Farhan masuk rumah sakit ya?”
Diva – “Lho Mbah Ezra datang!”
Vida, Caraka, Azka, Farhan – “Mbah Ezra datang!”
Mbah Ezra – (Sambil memeluk Farhan yang terbaring lemah.) “Cucuku, Mbah kemarin dari Puskesmas, sekarang kok gantian kamu to yang masuk rumah sakit?” (Suaranya sedih.)
Farhan – “Sudahlah, Pak. Saya tidak apa-apa kok. Sebentar lagi saya akan titip klepon lagi kok!”

PENUTUPAN

Semua siswa kelas 4 tampil menyanyikan lagu:

Menarilah dan terus tertawa,
walau dunia tak seindah surga.
Walau dia cuma jual klepon,
tapi kisah hidupnya…semangat!

Kelas 4: Semangat!!!


Nah, inilah sebuah drama tentang persahabatan dan perjuangan hidup. Kita hidup, berjuang, meraih mimpi… (Aji)

… karena kita yakin bahwa nafas hidup adalah anugerah yang patut disyukuri. Semoga menikmati, dan mari kita menghayati hidup dan kehidupan ini! (Anin)

Drama Assembly kelas 4 tahun ajaran baru 2009-2010.
Sidik Nugroho, wali kelas 4, 14-15 Juli 2009

3 comments:

Vicky Laurentina said...

Pak Guru, mbok tutur bahasanya yang rada alamiah, jangan kaku, napa?

Sidik Nugroho said...

ini sekalian ngajar mereka bahasa indonesia, yang b dan b. :-)

eha said...

Bikin naskah itu pusing. Lebih pusing lagi melatih anak-anak untuk mementaskannya. Aku tertarik sekali bila ada versi 'behind the scenes-nya.