3.2.10

delapan tahun yang lalu

jakarta dilanda banjir besar delapan tahun lalu pada bulan januari. sebulan kemudian, aku lupa tanggalnya, aku membuat cerpen berjudul "surat kakakku".

cerpen pertamaku itu kubuat di rumah kecil di jalan tembaga yang kutinggali dengan keluargaku dulu. seorang sahabatku, albert alexander namanya, menyebut rumah itu "pondok tembaga".

cerpenku kutulis menggunakan komputer tua yang dimiliki abangku. aku melantai ketika mengetik di depan monitor komputer, sambil membayangkan dua orang kakak-beradik yang kehilangan orang tua mereka karena banjir. entah kenapa, bayangan itu tiba-tiba membuat aku menangis. aku menangis sambil mengarang ceritaku.

itu pengalaman yang aneh buatku: aku menangisi imajinasiku sendiri! namun, aku merasa lega sekali merampungkan cerpenku.

sejak hari itu aku belajar juga menulis artikel dan renungan-renungan pendek. beberapa artikel yang kubuat diminta seorang teman dipasang di mading jurusan di mana aku kuliah. wah, betapa senang aku mendapati kenyataan masih sedikit teman seangkatan-sejurusan yang mau menulis. aku bahkan bebas menempelkan sendiri tulisanku di mading itu.

nah, suatu ketika aku menempelkan sendiri sebuah tulisanku yang berjudul "kasih, komitmen dan kematian". judul itu ternyata cukup kuat menyapa para pembaca. dua minggu setelah tulisanku itu kutempel, seorang teman yang aku ingat betul namanya (dwi harya andihamsyah) menempelkan tulisannya yang berisi balasan atas tulisanku.

saat-saat itu aku merasa seperti martin luther yang menempelkan 95 dalil teologinya di pintu gereja wittenberg. uh...

waktu terus berlalu, suatu hari di bulan september 2002 ada kabar yang aku terima kalau kampusku mengadakan lomba menulis dalam rangka merayakan bulan bahasa. setengah iseng kuikutkan cerpen "surat kakakku" yang kukarang tujuh bulan lalu.

nah, pada suatu hari di bulan november 2002, seorang temanku yang lain, yang masih kuingat juga namanya (fety latifatul) menepuk pundakku. ia menyuruhku melihat papan pengumuman di fakultas. kutanyakan ada apa, dia bilang lihat saja.

oh la la... ternyata aku menjadi pemenang ketiga dalam lomba penulisan cerpen di kampusku! betapa senang aku mendapat uang 75ribu dan sebuah sertifikat.

pengalaman itu membuat aku yang sejak sma tidak pernah suka menulis, makin keranjingan menulis. kebutuhanku akan bacaan yang bisa kujadikan acuan dalam menulis semakin besar jadinya.

demi membeli buku, koran, majalah, dan sesekali menonton film, aku bekerja sebagai guru les privat, menitipkan jualan telur puyuh matang ke beberapa warung stmj (tiap plastik kuisi lima butir) dan teratur menulis cerpen atau artikel.

di saat-saat itu aku sering menulis cerpen di dapur rumahku, karena rumah kecil tempat tinggal keluargaku diisi banyak saudaraku. kamar-kamar penuh sesak. aku memasang sebuah papan dengan bantuan dua siku besi untuk menulis. aku membuat sebuah lemari yang menempel di dinding dari beberapa papan bekas untuk meletakkan buku-buku yang kubeli. beberapa cerpenku yang kubuat dari dapur rumahku sempat nyangkut di majalah-majalah anak muda.

sayangnya, semua kegiatan ini membuat kuliahku jadi molor. belum lagi pelayanan di gereja yang cukup banyak, membuatku makin kesulitan membagi waktu. dan pelayanan yang kupegang seringkali tak sederhana. dalam rentang tahun 1997 hingga 2006 aku lebih sering diminta jadi ketua atau sebutlah pemimpin (ketua pengajaran pemuda, ketua tim musik, gembala kelompok sel, ketua perpustakaan, ketua pemuda, pimpinan redaksi tabloid internal gereja, bahkan ketua dewasa muda).

namun, semua kesibukan pelayanan ini anehnya tak pernah membuat minatku pada dunia tulis-menulis turun. selalu saja ada yang kutulis. tulisanku makin banyak dan banyak. kalau sekarang kau masuk ke kamar kosku, aku bisa menunjukkan tumpukan naskah dengan tinggi sekitar 20 cm yang semuanya pernah ditolak. gara-gara membaca "bag of bones"-nya stephen king, aku masih menyimpan naskah-naskahku itu.

ada naskah cerpen, artikel, novelet, novel, dan puisi dalam tumpukan itu. belum lagi yang tak kubuatkan versi print-out-nya, yang nempel di hard-disk laptop tuaku. atau bahkan yang sudah tidak bisa lagi dibuka karena kusimpan dalam bentuk cd dan cd-nya sudah tergores.

kadang aku sendiri heran mengapa aku masih menulis hingga sekarang.

sejak aku bekerja sebagai guru pada tahun 2007, aku tidak lagi terlibat dalam pelayanan di gereja. sekolah di mana aku bekerja sekarang memiliki agenda dan acara yang cukup padat -- maklum sekolah swasta. para guru bekerja dari jam 7 pagi hingga 4 sore, kecuali guru honor. seorang teman pernah terheran-heran kok masih sempat saja aku menulis; apalagi mengingat tulisan-tulisan yang kubuat selama ini lebih banyak gagal terpublikasikan di media cetak atau dibukukan, sehingga otomatis tak banyak mendatangkan uang.

namun, aku sudah terlanjur menyukai tulis-menulis. aku akan terus menulis. mungkin penyebab utamanya: pengalaman delapan tahun lalu itu, ketika aku pertama kali menuliskan cerpenku di pondok tembaga sambil melantai, tak akan pernah terlupakan.

sidoarjo, 2.2.2010

No comments: