16.1.10

Sejarah yang Amburadul, Dunia Anak, dan Persahabatan yang Indah

Sebuah resensi dan refleksi film berjudul The Boy in the Striped Pyjamas. Sinopsis, aktor, dan data-data film lainnya bisa dicek di http://www.imdb.com/title/tt0914798

MUNGKIN hanya sedikit film yang berani menampilkan kemuraman hampir di sepanjang jalan cerita. Seperti film ini, The Boy in the Striped Pyjamas. Film ini menghadirkan tokoh anak-anak -- anak-anak yang indentik dengan kebahagiaan dan kemerdekaan. Film ini juga menghadirkan dialog dan adegan-adegan yang hampir secara keseluruhan bisa dipahami oleh anak-anak. Sejauh ini saya berpendapat bahwa sebuah cerita untuk anak-anak tak baik bila dikisahkan terlalu muram; namun di sisi lain film ini rasanya cukup beralasan untuk ditampilkan begitu muram mengingat latar belakang sejarahnya.

Tokoh utama dalam film ini adalah Bruno, seorang anak laki-laki usia delapan tahun, putra dari seorang komandan tentara Nazi Jerman. Seperti anak-anak lain, Bruno menyukai keceriaan dan kegembiraan. Suatu ketika ia harus pindah karena ayahnya dipindahtugaskan. Rumah baru mereka tampak terpencil, jauh dari keramaian. Dan tak jauh dari rumah baru itu, ada sebuah kamp konsentrasi untuk orang-orang Yahudi.

Di rumah barunya Bruno merasakan kesepian yang mendalam. Kakaknya, Gretel, yang mulai beranjak remaja, memiliki dunia yang lain, dunia yang mulai bertabur asmara. Bruno tak begitu cocok dengan kakaknya itu. Bruno tidak punya teman, bahkan sekolah pun tak ada di dekat rumahnya. Ia diajar oleh seorang guru tua yang mengenakan sepeda engkol, yang datang dua kali seminggu.

Sosok guru Bruno ini sangat kaku dan picik. Mata pelajaran yang berulang-ulang diajarkannya adalah Sejarah. Sejarah dan Sejarah. Sejarah kehebatan orang Jerman. Sejarah orang Yahudi yang semuanya merupakan bangsa terkutuk. Sejarah yang menjadi abdi penguasa untuk kelanggengan sebuah rezim dan kediktatoran Hitler. Sejarah yang amburadul.

Guru Sejarah ini, bandingkanlah sejenak dengan profesor tua yang ada dalam sebuah cerita Narnia -- begitu kontras. Dalam Sang Singa, Penyihir dan Lemari Ajaib dikisahkan seorang profesor tua yang lebih dari satu kali menanyakan kepada Peter, Edmund, Lucy dan Susan: Apakah yang diajarkan sekolah masa kini untuk anak-anak? Begitu terbuka pemikiran profesor tua itu, mengharapkan anak-anak mendapatkan sebuah pendidikan-pengajaran yang pantas bagi dirinya masing-masing.

Guru Bruno ini lambat laun menanamkan keraguan pada diri Bruno tentang orang-orang Yahudi. Padahal, karena kesepian yang mendera dirinya, ia memiliki seorang sahabat Yahudi! Ya, dengan nekat ia melanggar perintah orang tuanya untuk tak melewati batas-batas tertentu di rumah mereka. Dari pelanggaran itu, ia pun bertemu dengan Shmuel, seorang anak Yahudi berkepala botak, menggunakan baju dan celana bergaris-garis mirip piyama, bergigi ompong, namun begitu ia sayangi, di kamp konsentrasi dekat rumah barunya.

Shmuel si Yahudi suka makan. Hampir setiap hari Bruno si Jerman mengunjungi sahabat barunya itu. Bruno membawakan baginya cokelat, kue, dan sandwich dari rumah. Shmuel selalu lapar. Ia tiap hari harus bekerja keras bersama para tawanan di kamp konsentrasi. Hari demi hari Bruno mengunjunginya, dan ikatan persahabatan yang indah pun terbentuklah di antara mereka berdua.

Sayangnya, persahabatan ini dibatasi sebuah terali kawat yang tajam dengan tinggi sekitar dua meter. Mereka tak bisa berangkulan atau berkejar-kejaran. Bruno membawakan bola untuk bermain voli, raket badminton, dan papan catur agar mereka berdua bisa main bersama. Namun bermain voli dan badminton akan membahayakan keduanya, karena kamp konsentrasi tempat Shmuel tinggal dijaga ketat: Ada anak yang kedapatan bermain, nyawa mereka bisa melayang. Mereka berdua pun hanya bisa bermain catur menggunakan koin-koin plastik.

Dan inilah adegan yang memilukan namun juga mengundang tawa: Papan catur yang hanya bisa diletakkan di luar terali kawat, membuat Shmuel tak bisa meraih koin-koin plastik itu. Ia hanya menunjuk-nunjuk, dan Bruno yang menggerakkan koin-koin Shmuel seperti yang ditunjukkan kepadanya. Beberapa kali Bruno salah menggerakkan koin-koin itu, Shmuel tertawa-tawa lepas. Shmuel yang bergigi ompong, kotor, dan tentunya bau, kini sedang tertawa-tawa riang dengan Bruno, anak seorang komandan yang selalu tampil rapi dan tampan.

Di sini kita mungkin akan tertawa sejenak, pun sambil merenungkan: Betapa masa kanak-kanak adalah masa bermain, masa yang akan selalu tepat diisi dengan persahabatan yang ceria. Sejarah dengan segala kepalsuan dan kepentingannya tak dapat merenggut masa-masa ini. Anak-anak diciptakan untuk menikmati hidup, bukan merenung dengan kaku, disuapi ideologi yang tidak asyik, apalagi bermuram durja.

Anak-anak dalam film ini mengingatkan saya pada sebuah film lain, Schindler's List, yang juga berlatar masa Nazi Jerman. Ya, gadis kecil berbaju merah di film itu! Di sekujur film yang tertampil sepia, hanya satu warna yang cukup "menyilaukan": merah menyala. Gadis kecil yang tersesat di antara serangkaian pembantaian, mencari-cari, bersembunyi. Ia pun kemudian lenyap.

Hingga film ini berakhir, saya masih sangsi apakah film ini pas diputar untuk anak-anak. Persahabatan antara Shmuel dan Bruno terjalin begitu manis hingga akhir cerita. Porsi terbesar dalam film ini bahkan tentang Bruno, bukan tentang Nazi Jerman dan penyiksaan terhadap orang-orang Yahudi. Semua anak-anak akan memahami cerita persahabatan yang indah ini. Namun, karena jalan ceritanya yang muram, para pendamping -- baik guru atau orang tua -- harus menjelaskan latar belakang masa dan peristiwa besar dalam sejarah yang terjadi di balik film ini. Karena tanpa pendampingan kita, film ini akan menyisakan memori yang terlalu pilu untuk dikenang. Walaupun adegan dalam film tidak bisa dicium, namun asap yang mengepul dari sebuah gedung tinggi di kamp konsentrasi, yang mengganggu benak Bruno selama berhari-hari karena baunya tercium olehnya dengan begitu menyesakkan, dapat menyisakan memori yang kelam.

Ya, di film ini ada sebuah penggambaran yang cukup traumatik, yaitu holocaust, pembunuhan massal atas orang-orang Yahudi di sebuah kamar besar yang disemprot dengan gas. Elie Wiesel, seorang survivor holocaust (orang yang selamat dari pengalaman holosaust), dan pemenang hadiah Nobel, menyimpulkan pengalamannya: "Orang yang pada mulanya adalah seorang manusia menjadi tawanan dan tawanan itu menjadi nomor dan nomor itu menjadi abu."

Dan abu itu mendatangkan bau. Bau itu kemudian menebarkan kemuraman sepanjang cerita.

Ya, inilah film yang muram, namun tetap perlu dan penting untuk ditonton bagi Anda yang menghargai dinamika persahabatan, dan indahnya kenangan-kenangan di masa kecil dulu.

Sidik Nugroho
Malang, 15-16 Januari 2010

***

CATATAN: Terima kasih untuk Ibu Rini (Anggraini D. Natali) yang telah meminjamkan film ini buatku. Terima kasih buat Denmas Marto (Arie Saptaji) yang pernah menyampaikan kutipan Elie Wiesel dalam situs Geocities-nya dulu (Kelompok 1).

2 comments:

laurentina said...

Tidak selalu film yang dibintangi anak-anak pasti merupakan film anak. Ini adalah film untuk dewasa yang kebetulan tokoh utamanya adalah anak-anak.

Sidik Nugroho said...

begitulah adanya...