1.8.09

Surat Kakakku

Pengantar:

Cerpen pertamaku. Kubuat Februari 2002, dengan tujuan mengenang banjir di Jakarta. Iseng kuikutkan lomba menulis cerpen di kampusku bulan Oktober 2002. Eh, ternyata menang juara ketiga. Aku ingat betul detil momen kemenangan itu. Akhirnya menjadi cerpen yang memantikku menulis, lagi dan lagi, hingga kini. Cerpen ini sudah dijadikan satu dalam kumpulan cerpen pertamaku dengan Arie Saptaji, guru menulisku, berjudul "Never be Alone", Penerbit Andi, 2005 (sekarang sudah cetakan keempat).


“Gedebuk!” Bunyi itu terdengar begitu keras sehingga mengagetkan setiap orang yang ada pada sebuah daerah pinggiran Jakarta yang kumuh pada suatu pagi. Saat itu baru pukul lima.

Budi, rupanya dia terjatuh! Andi terkejut dan semua orang yang ada di situ langsung membopongnya. “Kak bangun, Kak. Bangun!” katanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya. Budi pingsan. Semua orang panik. Andi berteriak sambil menangis melihat keadaan kakaknya yang tiba-tiba menjadi seperti itu. “Kak bangun, Kak. Bangun!” katanya terus-menerus.

Semua orang panik. Mereka bingung. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Matahari sudah terbit dan Budi masih belum terjaga dari pingsannya.

“Bawa ke rumah sakit, bawa dia, ayo segera!” kata Pak Joko. Pak Joko adalah ketua pemulung warga Sukasari. Tiga orang anak muda segera bergegas pergi untuk mencari taksi.

Pukul tujuh pagi, Budi dibawa oleh serombongan pemulung untuk pergi ke rumah sakit. Mereka semua memang orang-orang yang sangat solider.

Budi segera diperiksa di UGD dan setelah itu ia diinfus dan kemudian dirawat di Rumah Sakit. Siang hari, ia mulai sadar. Andi selalu ada di sampingnya dan menjagai dia hingga malam menjelang. Malam itu, kala kesehatan Budi membaik ia pun bercerita.

“Andi, kakak pingsan karena kelelahan. Kakak terlalu banyak bekerja. Kamu sudah mau sekolah dan sampai sekarang uang tabungan kita masih belum cukup untuk biaya pendaftaranmu,” katanya lirih.

“Beberapa hari ini kakak memang lemah, An. Uang pendaftaran sekolahmu masih kurang lima puluh ribu. Tiga hari lagi kakak harus melunasinya. Sampai kemarin, kakak baru dapat dua puluh ribu. Yah, tinggal tiga puluh ribu lagi.”

“Kak, sudahlah. Jangan pikirkan Andi. Andi bisa kerja sendiri kok. Sekarang Andi bingung mencari uang untuk biaya obat Kakak. Kalau Kakak dirawat di sini, ‘kan biayanya mahal,” kata Andi menenangkan.

“Ya, An. Tapi kamu tetap butuh sekolah. Pokoknya jangan seperti kakak.”

Andi terharu dan dia berkata, “Sudahlah, Kak. Malam ini yang penting Kakak istirahat saja.”

Mereka berdua terdiam. Hari kian malam, bulan terus berjalan, cahaya bintang-bintang yang kelap-kelip membawa mereka berdua untuk tidur dengan tenang pada malam itu.

Mereka berdua adalah kakak-adik pemulung. Mereka tidak mempunyai papa dan mama lagi seperti anak-anak yang lainnya. Kedua orang tua mereka tewas pada saat banjir melanda kota mereka. Saat itu Budi masih berumur 5 tahun. Rumah dan harta mereka semuanya lenyap karena banjir yang melanda kota mereka pada saat itu. Mereka berdua selamat karena tertolong oleh seorang pria yang mendapatkan mereka sedang berpegangan pada sebuah pohon. Saat itu mereka saling berpegangan, berteriak dan menangis memohon pertolongan. Tuhan memang baik …

Budi, dia berumur 9 tahun. Dia adalah anak yang bertanggung jawab. Dia meninggalkan bangku sekolahnya dua tahun lalu. Saat itu ia memutuskan untuk bekerja menjadi pemulung supaya dapat membiayai hidupnya sendiri dan adiknya. Untunglah, ia bertemu dengan Pak Joko, seorang yang baik, yang mau menolong mereka untuk dapat bekerja.

Andi berumur 6 tahun dan kadang-kadang membantu kakaknya mencari barang-barang bekas. Kerasnya kehidupan yang mereka hadapi membuat mereka hidup bersahabat. Mereka selalu bersama.

Untuk pertama kalinya Budi masuk ke rumah sakit. Kemarin, seharian ia telah bekerja keras dari pagi sampai sore tanpa istirahat barang sesaatpun. Hal ini terus menerus dilakukannya selama beberapa hari terakhir ini. Akhirnya, ia jatuh sakit.

Pagi pun tiba. Matahari, seperti biasanya, bersinar kembali membawa hari yang baru.

Andi terjaga. Ia langsung mendatangi kakaknya dan menyapanya. “Kak, bangun. Kak, bangun. Sudah pagi, Kak.” Kakaknya terlihat pucat, lemah dan sangat kaku, tubuhnya dingin sekali. Andi makin kuat menggoncang tubuh Kakaknya. “Kak, bangun, Kak. Kak, bangun!” Kakaknya masih diam.

Andi pun segera tahu ... ia telah pergi untuk selamanya.

Budi, seorang anak kecil berusia 9 tahun. Seorang anak yang hidup dalam kesedihan, penderitaan dan kesusahan telah pergi. Ia telah melewati hidupnya yang sangat singkat dengan tanggung jawab dan kasih yang besar bagi seseorang yang sangat dikasihinya, Andi.

Andi tidak tahan menahan tangisnya. Ia menjerit, menjerit dan menjerit sekuat-kuatnya ... Pedih benar bagi setiap hati bila menyaksikan pemandangan itu. Dokter membawanya ke Ruang Mayat dan siang harinya, seluruh warga pemulung Sukasari, di bawah pimpinan Pak Joko, turut meratapinya. Mereka bersama-sama menangis. Ibu Sri, istri Pak Joko menggendong Andi, membelainya, dan terus menghiburnya. Setelah pemakaman, mereka bubar. Sepetak tanah sisa dengan sebuah patok sederhana menjadi tanda bagi Budi, bahwa ia berada di situ. Di situlah, seorang yang begitu singkat kisah hidupnya telah pergi.

“Budi, selamat jalan,” kata mereka saat mereka meninggalkan tempat itu, dan kata Andi.

Sore itu, Andi kembali ke Rumah Sakit untuk mengemasi barang-barang bawaannya. Pihak Rumah sakit memberinya keringanan dengan membebaskannya sama sekali dari ongkos apapun. Saat ia mengemasi barang-barangnya, ia menemukan sebuah surat yang tertulis dengan acak-acakan. Ia segera tahu itu tulisan kakaknya. Ia tidak bisa membacanya. Segera ia meninggalkan Rumah Sakit itu dan bergegas menuju ke rumah Pak Joko.

“Pak! Pak Joko! Pak, ada surat, Pak!” kata Andi. Pak Joko kaget dan ia berkata, “Apa, Nak Andi? Surat apa? Sini, biar Bapak bacakan.” Pak Joko membuka lipatan surat itu, mengambil kacamatanya dan mulai membacanya, “Dengar ya, Nak Andi.” Semua telinga di ruang itu memperhatikan dengan sangat.

“Kakak kelihatannya tidak kuat lagi menahan ini. Kakak akan pergi. Kamu sekolahlah. Cari uang sendiri. Jangan bergantung siapapun, termasuk Pak Joko. Berusahalah, Dik dan ...” Setiap mata di tempat itu mulai basah. Demikian pula Pak Joko. Di dekapan Ibu Sri, Andi mulai menangis. “Dan ...” kata Pak Joko, “Jagalah kesehatanmu baik-baik. Kakakmu, Budi.” Semua hening selama beberapa saat. Beberapa orang menundukkan diri mereka dan air mata mereka perlahan-lahan ada yang jatuh, menetes di lantai.

Andi, seorang anak sebatang kara. Ia memang cukup pantas dikasihani. Ia diam, tak bicara. Menjelang tidur ia hanya berkata, “Saya ingin tidur sendiri, Pak, Bu.”

“Baiklah, Nak. Di sini saja.” Mereka lalu menyediakan bantal, guling, kasur, sprei dan selimut untuk Andi. Ia tidur di ruang tamu, seorang diri.

Malam itu, ia hanya bisa berdoa, memohon sesuatu kepada Tuhan. Sambil menangis, ia hanya bisa berkata, “Tuhan, Engkau telah menolong saya dan Kak Budi waktu banjir. Sekarang, tolong saya lagi. Saya tidak bisa apa-apa. Saya mau marah sama Tuhan karena Tuhan membuat Kak Budi meninggal, tapi saya takut. Tuhan, mengapa semua ini terjadi? Mengapa saya seorang diri? Tuhan, saya percaya kalau Tuhan ada. Jadi tolong saya untuk berusaha, Tuhan. Andi percaya, Tuhan beserta Andi, Amin.”

Ia tidak bisa langsung tidur. Terkenang olehnya saat-saat yang indah bersama kakaknya saat mereka hidup bersama, bekerja mencari barang bekas.

Ia ingat, suatu waktu kakaknya membelikannya es krim yang sangat diinginkannya. Kakaknya sendiri tidak menikmati es krim itu, karena uangnya hanya cukup untuk satu orang. Andi menangis.

Ia ingat, suatu waktu karena tidak punya sepatu lagi, ia dan kakaknya memakai sepatu berlainan warna saat bekerja mencari barang bekas. Ia tersenyum mengingat tingkahnya dan kakaknya.

Ia juga ingat pada suatu waktu saat mereka melintasi sebuah Sekolah Dasar dan bertemu dengan serombongan anak sekolah yang baru pulang dari sekolah. Seorang anak putri mendekati mereka dan memberi mereka uang Rp. 3000,-. Betapa mereka senang dengan pemberian itu. Karena usia anak itu yang mungkin tidak jauh beda dengannya, maka Budi menjadi salah tingkah dan tertarik dengan gadis kecil itu. Andi tersenyum.

Yang paling tidak bisa dilupakannya adalah saat ia dan kakaknya pada suatu waktu telah selesai bekerja. Mereka bicara sambil menikmati jagung rebus. Waktu itu, kakaknya berpesan, “Dik, kita harus bangga dengan keadaan kita. Kita memang dilahirkan demikian dan patut bersyukur. Kamu jangan pernah marah atau kecewa sama Tuhan. Walaupun kita hanya berdua dan tidak punya saudara lagi, kita harus percaya ... kita bisa sekolah lagi dan punya masa depan yang indah.” Dia bangun sebentar, menunduk dan merenungkan kembali kata-kata itu. Sungguh, ia berjanji akan memegangnya. Ia pun tidur lagi dan kemudian, terlelap.

Pagi pun tiba ...

Andi bangun dari tidurnya. Masih jelas terlihat kesedihan dari matanya yang sembab. Mungkin, semalaman ia tidak dapat tidur tenang. Tapi, ia telah bertekad dengan suatu keputusan yang bulat. Ia akan bekerja seorang diri. Walaupun ia merasa takut untuk melakukannya, ia akan mencoba.

Pak Joko, Bu Sri dan beberapa pemulung mendekatinya dan menguatkan hatinya. Ia merasa sangat terdukung oleh kehadiran mereka. Sebenarnya, Andi merasa sangat bersyukur mempunyai keluarga seperti mereka. Ia segera minta ijin ke Pak Joko untuk mencari barang bekas sendiri. Semula, Pak Joko tidak mengijinkannya berhubung usia Andi yang masih terlalu muda untuk melakukan tugas seberat itu. Namun, Andi terus mendesaknya dan karena ia merasa harus melakukan komitmen yang telah ia buat semalam. Pak Joko pun akhirnya mengijinkannya. Ia akan ditemani beberapa pemulung yang lain, karena akan sangat berbahaya bagi Andi jikalau ia melakukannya sendiri, pikir Pak Joko.

Andi bersiap-siap, dan ia pun pergi bersama beberapa pemulung lainnya pada hari itu. Hari masih pagi saat ia pergi untuk bekerja. Dan ia melangkahkan kakinya dengan mantap, bersama sebuah pengaharapan baru yang menyertainya.

Hingga sore Andi bekerja ...

Dan, malam pun tiba. Andi istirahat sebentar seorang diri sambil menghitung berapa besar hasil yang diperolehnya. “Lumayan,” katanya dalam hati, “Lima ribu.” Ia cukup senang karena ia merasa telah berhasil berjuang sediri tanpa kakaknya. Setelah itu, ia memutuskan untuk pergi ke tempat dimana kakaknya dibaringkan.

Sampai di tempat itu, diambillah surat kakaknya, diletakkan di atas tanah makam, dan ia berkata-kata seorang diri, “Kak, aku telah berusaha hari ini. Aku menunjukkan kalau aku mampu. Tapi itu bukan karena aku dan kekuatanku sendiri. Tapi karena Kakak sudah memberikan surat ini buat aku dan ... karena Tuhan memampukan aku untuk melakukannya,” katanya sambil meneteskan air mata. Lama ia merenung dan kemudian ia berkata lagi.

“Kak, aku tidak akan kecewa dan marah kepada Tuhan. Aku percaya bahwa aku pasti bisa sekolah. Kakak pernah katakan kalau Tuhan punya rencana yang indah buat kita dan tidak meninggakan kita. Aku percaya, sungguh aku percaya,” demikianlah dikatakannya sambil terisak. Lama ia merenung, berkata-kata dalam hati. Tidak terasa, dua jam telah berlalu. Akhirnya Andi memutuskan untuk pulang.

Kala melangkah pulang, ia menoleh ke belakang dan berkata, “Kak, aku yakin, tahun depan, aku akan sekolah. Selamat malam!”


Sidik Nugroho, Februari 2002

No comments: