<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292</id><updated>2012-01-13T09:44:38.712+07:00</updated><category term='Puisi'/><category term='Penjiplakan'/><category term='Perbukuan'/><category term='Suara Hati'/><category term='Cerita Anak'/><category term='Puisi Lucu'/><category term='Asmara'/><category term='Catatan'/><category term='Renungan'/><category term='Budaya'/><category term='Game'/><category term='Resensi Komik'/><category term='Pendidikan'/><category term='Film'/><category term='Tokoh'/><category term='Gereja'/><category term='Perjalanan'/><category term='Drama'/><category term='Tuan Malam'/><category term='Psikologi'/><category term='Cerita Lucu'/><category term='Pancasila'/><category term='Kepenulisan'/><category term='Resensi Buku'/><category term='Cerpen'/><category term='Wirausaha'/><category term='Musik'/><title type='text'>Si Tuan Malam</title><subtitle type='html'>Mari nikmati malam, yang diciptakan untuk jadi teman bagi renungan, juga teman menjelang mimpi.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>169</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-5725520147297301154</id><published>2011-12-08T08:09:00.000+07:00</published><updated>2011-12-08T08:11:56.774+07:00</updated><title type='text'>Pindah ke Penulis Gembira</title><content type='html'>Mulai bulan Desember 2011, catatan dan aktivitas blogging saya lainnya saya pindah ke:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://penulisgembira.wordpress.com"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0); font-family: trebuchet ms;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis Gembira&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-5725520147297301154?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/5725520147297301154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=5725520147297301154' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5725520147297301154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5725520147297301154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2011/12/pindah-ke-penulis-gembira.html' title='Pindah ke Penulis Gembira'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-4981837911017116173</id><published>2011-05-22T10:37:00.001+07:00</published><updated>2011-05-22T10:45:54.163+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gereja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Gereja-gereja yang Membentuk Kehidupan Saya (3-habis)</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pandangan Pribadi tentang Gereja-gereja &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam  dua bagian tulisan yang lebih awal (dengan judul yang sama) saya telah  mengisahkan persinggahan dan petualangan saya dalam gereja-gereja. Saya  membuat catatan itu dengan pertimbangan yang semasak-masaknya agar --  sedapat mungkin -- tidak ada satu pihak pun yang dirugikan. Saya --  dengan kejujuran dan tentunya subjektivitas pribadi -- mengemukakan  kelebihan dan kekurangan yang saya temui dalam gereja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di  sisi lain, selalu saja ada pihak-pihak yang membangun suatu generalisasi  yang payah atas persoalan yang kompleks. Dalam kasus saya ada yang  berkomentar gereja bukan gedung. Gereja adalah umat Nasrani secara  individu, di mana saja kita adalah gereja, dan komentar-komentar lain  yang senada. Saya tidak menganggap remeh pemikiran-pemikiran tersebut,  cuma, pemikiran-pemikiran demikian tidak menyentuh pada persoalan yang  sebenarnya ingin saya ketengahkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, saya juga tidak  tengah mengharapkan pemikiran yang berbelit-belit atau rumit.  Setidaknya, saya berharap lahir sebuah diskusi tentang gereja yang  membuat kita memahami hal-hal yang harus diperhatikan dan diabaikan  dalam gereja. Dalam catatan terakhir ini saya lebih menyoroti berbagai  hal yang menurut saya perlu dibenahi dalam gereja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal  terutama yang hendak saya ketengahkan dalam catatan penutup ini (juga  catatan-catatan sebelum ini) adalah: setiap lembaga -- bahkan di luar  gereja -- memiliki tradisi dan pengajaran yang berbeda-beda. Gereja,  sebagai lembaga di mana Allah mempercayakan pesan tentang kasih dan  kuasa-Nya, tidak salah memelihara berbagai tradisi yang masing-masing  ada padanya. Namun, janganlah kiranya tradisi itu yang dikedepankan.  Kristus yang harus dikedepankan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebuah  contoh tentang pengedepanan tradisi yang begitu mengganggu saya, saya  temui dalam sebuah ibadah KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) di  auditorium Universitas Merdeka Malang beberapa tahun silam. KKR itu  bertepatan dengan perayaan Natal. Penyelenggaranya adalah gereja  beraliran Reformed-Injili. Menjelang akhir KKR, seorang solois  menyanyikan sebuah lagu berjudul Haleluya karya Frederich Handel. Sang  pembicara KKR baru saja selesai khotbah, dan ia tengah berada di bagian  belakang gereja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya yang duduk di bagian belakang sangat  kaget. Sebabnya, tiba-tiba sang pembicara teriak-teriak, "Berdiri!  Berdiri!" di belakang. Sambil teriak-teriak ia berjalan maju, naik lagi  ke mimbar, memberi penjelasan bahwa lagu yang tengah dinyanyikan adalah  sebuah lagu mahakarya tingkat tinggi, yang tidak bisa dinyanyikan  sembarang orang. Ia kemudian menjelaskan kondisi yang ada di  negara-negara lain di Eropa dan Amerika: tiap kali orang mendengar lagu  itu, mereka langsung berdiri. Nah, masalahnya sekarang, sekarang saya di  Indonesia, saya tidak tahu tradisi itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya kurang suka  membangkang. Saya pun berdiri, mendengar lagi lagu itu dinyanyikan  ulang. Saya akan lebih suka berdiri kalau band kesukaan saya, Mr. Big,  menyanyikan lagu Daddy, Brother, Lover, or Little Boy yang  hingar-bingar. Saya tahu lagu itu, dan sangat saya sukai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masih  begitu banyak contoh yang membuat saya terganjal. Kali ini soal berkat.  Di beberapa gereja Karismatik, pengajaran tentang berkat sudah demikian  kelewatan bagi saya. Saya sudah hampir lelah mendengar: "Bila Anda  beriman, pasti Anda diberkati. Bila Anda mengikut Kristus, pasti Anda  akan kaya, sejahtera, sembuh dari penyakit Anda, dan mengalami  terobosan-terobosan baru dalam hidup Anda," dan kata-kata motivatif  lainnya yang disampaikan dengan meledak-ledak dari balik mimbar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kisah-kisah  di Alkitab sendiri bahkan mencatat banyak orang yang keadaannya tidak  berubah dan mengalami terobosan dramatis apa pun setelah mengikut Tuhan.  Bahkan ada yang keadaannya jadi lebih buruk setelah mengikuti Tuhan.  Setelah Injil mulai menyebar di wilayah Asia, di abad-abad awal Masehi  banyak orang Kristen yang harus menjadi martir karena setia mengikuti  Tuhan. Ada yang menyatakan, martir-martir kini sudah tidak ada lagi.  Tunggu dulu! Saya pernah mendengar dari sumber yang terpercaya bahwa  jumlah martir di abad 20 dan 21 (hanya dalam dua abad) lebih banyak  daripada jumlah martir yang ada di sepanjang abad 1-19.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penganiayaan  terhadap orang Kristen terus berlangsung dari masa ke masa. Gereja tak  bisa hanya bicara lantang soal kesuksesan finansial. Bila orang-orang  dari gereja Karismatik terus dijejali dengan khotbah demikian, suatu  saat akan lahir generasi mereka yang benar-benar lupa sejarah gereja.  Dan mereka tentu akan menganggap gila seorang tokoh yang bernama Martin  Luther. (Sekarang saja, sudah saya temui beberapa kali orang Kristen  yang salah kaprah membedakan Martin Luther dan Martin Luther King, Jr.)  Demi menemukan kehendak Allah dalam hidupnya, sosok seperti Martin  Luther malah menjauhkan diri dari segala kesenangan duniawi -- yang  tentu membuatnya tak mengejar kesuksesan finansial dengan cara apa pun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Baiklah,  melupakan sejarah Martin Luther mungkin tak menjadi masalah. Tapi, bila  yang terus-menerus dikhotbahkan adalah uang, para jemaat akan berpikir  bahwa kekurangan adalah dosa. Padahal tidak demikian. Kini, masih adakah  khotbah-khotbah tentang kasih karunia Tuhan, hidup yang berkenan  pada-Nya, atau pengabdian untuk kemuliaan nama-Nya, yang semuanya itu  tak selalu berhubungan dengan uang?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya, masih banyak hal  yang membuat saya terganjal. Di dalam dua catatan saya sebelumnya, saya  mengisahkan adanya gereja yang melarang jemaatnya berpacaran dan  mendengarkan-memainkan musik rock (silahkan simak kedua catatan itu di  link yang saya sertakan di bawah, yang memuat alasan bagi pelarangan  itu, agar Anda tidak salah memahami atau menanggapi).&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada  juga gereja yang sangat antipati terhadap rokok, sementara di gereja  lain ada jemaat (bahkan pendeta) yang santai saja merokok di halaman  gereja setelah selesai ibadah. Untuk masalah yang satu ini, saya senang  dengan pandangan seorang pendeta yang suatu ketika menyatakan bahwa  tubuh kita perlu dijaga bukan hanya dengan tidak merokok. Jadi, bila  dalam sebulan Anda hanya merokok tiga batang karena alasan pergaulan,  misalnya, Anda jauh lebih baik daripada orang Kristen yang suka makan  jeroan, lemak, dan menimbun sampah dan kotoran lain dalam tubuhnya  dengan nafsu makan yang tidak bisa dikendalikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya,  masalahnya tidak ada ayat yang secara tersurat melarang kita merokok,  bukan? Alkitab cukup menyatakan agar kita menjaga dan memelihara tubuh  kita. Saya mengenal seorang pendeta lain yang tidak merokok, tapi sangat  mengagumi C.S. Lewis dan J.R.R. Tolkien yang keduanya suka menghisap  pipa bertembakau. Lewis dan Tolkien orang Nasrani. Kebetulan saya juga  mengagumi keduanya. C.S. Lewis dianggap sebagai salah satu tokoh Kristen  terkemuka, hingga kini terus dikenang. Sementara Tolkien dianggap salah  satu pendongeng terbaik sepanjang masa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah, sekarang,  bagaimana dengan gereja-gereja itu, yang antipati terhadap rokok? Apakah  nanti mereka akan berdalih, kalau Lewis dan Tolkien adalah kasus lain?  Jadi, Lewis dan Tolkien bisa diterima, sementara perokok lain harus  dijauhi? Ah, yang benar saja. Lewis dan Tolkien kan juga manusia, Bung!&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitulah,  dalam perjalanan saya dari gereja ke gereja, saya menemui banyak hal  yang masih mengganjal. Seperti yang saya tegaskan, hal-hal yang  mengganjal itu utamanya berkaitan dengan tradisi yang dibangun oleh  gereja-gereja itu -- sesuai alirannya, sesuai organisasinya. Hal-hal  lain seperti soal tata-cara baptisan, persembahan persepuluhan, doktrin  baptisan Roh Kudus, alat musik drum dilarang dimainkan dalam gereja, dan  sederet hal lain, semuanya merupakan tradisi dan pengajaran yang kadang  disejajarkan -- atau malah dilebihutamakan -- daripada pesan-pesan di  dalam Injil.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semasa Yesus Kristus melayani di dunia ini,  ia membongkar tradisi Yahudi. Tradisi itu dipelihara dengan  memperhatikan kitab-kitab Musa dan para nabi yang hidup sebelum Kristus.  Kristus, sebaliknya, tidak menciptakan tradisi apa pun. Ia tidak  mewariskan buku, hanya sekali Ia dikisahkan menulis -- menulis di tanah.  Tulisan itu, bila kena angin dan hujan, sirnalah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kristus  tidak pernah membenci Musa, tapi Ia sangat membenci orang-orang Farisi,  para penjunjung tinggi hukum dan peraturan Musa yang tidak berbelas  kasih, tidak berempati, dan tidak toleran. Kristus menjadi sahabat  pelacur, pemabuk, dan penilap pajak. Ia tidak pernah mencoba berkuasa  dengan mendekati orang-orang di pemerintahan, melakukan lobi-lobi  politik secara diam-diam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang dilakukan Kristus  semasa melayani tiga setengah tahun telah mengubah kehidupan orang-orang  di zaman-Nya dan sekitar-Nya. Gereja, yang kepadanya diamanatkan  meneruskan pesan Kristus, sayangnya, mengulangi apa yang dilakukan oleh  orang-orang Farisi. Berbagai telaah teologis atas baptisan,  persepuluhan, iman, kesuksesan, dan hal-hal lain untuk melanggengkan  tradisi dan pengajaran gerejawi dibuat. Dan bila dijadikan buku,  ditumpuk, semua itu akan jadi jauh lebih tebal daripada Taurat  orang-orang Farisi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada akhirnya,  seperti yang saya sampaikan di bagian paling awal (bagian 1), semua hal  yang saya tulis ini berpulang pada saya. Saya sudah empat tahun tidak  bergereja secara tetap. Janganlah meminta saya untuk tidak bergereja  karena (mengutip sepenggal lirik lagu Sekolah Minggu): "Aku gereja, kau  pun gereja."&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya tidak sedang membahas gereja dalam  tataran individu -- bahwa tiap orang Nasrani adalah gereja itu sendiri  -- namun gereja sebagai suatu organisasi berikut tradisi dan pengajaran  yang dibangun di dalamnya. Semua itu telah membentuk kehidupan saya.  Saya pernah sangat membenci musik rock, antipati terhadap orang yang  merokok, memutuskan pacar saya -- semuanya karena tradisi dan pengajaran  yang dibangun gereja-gereja tertentu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seiring berjalannya  waktu dan perjalanan saya dari gereja ke gereja, sikap-sikap saya mulai  berubah. Saya belajar untuk lebih toleran, tanpa meninggalkan  pengajaran-pengajaran yang bagi saya lebih penting dan hakiki, terutama  yang disampaikan oleh Kristus sendiri dalam keempat Injil. Ya, catatan  ini memang menyoroti banyak kekurangan dalam gereja. Namun, percayalah,  di gereja pula saya belajar bagaimana memiliki kehidupan yang berarti.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ke  depan, saya ingin beribadah lagi dengan tetap di sebuah gereja. Saya  tahu, begitu banyak kekurangan akan saya temui di gereja mana pun yang  nantinya akan saya kunjungi dengan tetap, sebagaimana orang-orang  terdekat saya menemukan banyak kekurangan dalam diri saya. (*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Malang,  20-21 Mei 2011&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Catatan:&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tulisan sebelum  tulisan ini:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagian 1: http://tuanmalam.blogspot.com/2011/05/gereja-gereja-yang-membentuk-kehidupan.html&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagian 2: http://tuanmalam.blogspot.com/2011/05/gereja-gereja-yang-membentuk-kehidupan_12.html&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-4981837911017116173?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/4981837911017116173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=4981837911017116173' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4981837911017116173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4981837911017116173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2011/05/gereja-gereja-yang-membentuk-kehidupan_22.html' title='Gereja-gereja yang Membentuk Kehidupan Saya (3-habis)'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-1907621829534860275</id><published>2011-05-18T20:07:00.006+07:00</published><updated>2011-05-18T21:46:16.886+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Kasih Karunia dalam Sinema: Kisah-kisah yang Menyadarkan Berharganya Hidup Ini</title><content type='html'>Dum vita est, spes est.&lt;br /&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;~ Cicero ~&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ketika masih ada kehidupan, di situ pula masih ada harapan, demikian  Cicero pernah menulis suatu ketika. Salah satu harapan yang membuat  hidup kita terus berlangsung adalah keberadaan kasih karunia. Kasih  karunia, apakah itu? Kasih yang besar, yang dikaruniakan untuk  seseorang. Kasih karunia juga bisa disamakan dengan pengampunan,  penerimaan tanpa syarat, atau sebutlah pengorbanan tanpa pamrih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ketika kasih karunia dinyatakan, orang-orang akan terpesona dengan  kebaikan dan kemurahan yang terkandung di dalamnya. Orang-orang yang  menerima kasih karunia mengalami jamahan hati yang tak terlupakan.  Mereka pada umumnya merasa tidak layak untuk menerima sebuah kebaikan  yang begitu besar. Namun, kebaikan itu memang mereka perlukan demi  kelangsungan hidup mereka. Ada hati yang diubahkan ketika kasih karunia  diteteskan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Di masa depan, pada hati yang diubahkan itu, kasih karunia mendatangkan  suatu kenangan tersendiri, dan niat untuk menjalani kehidupan yang lebih  bermoral.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Nah, berikut saya mencatat beberapa film yang menyuarakan kasih karunia.  Daftar yang saya buat ini bisa ditambah oleh sidang pembaca, karena  pengalaman menonton tiap orang berbeda-beda. Selamat membaca. &lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;1. Schindler's List&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-OGUqMbAqm_o/TdPbVGa0ogI/AAAAAAAAAc8/w4kkYs8CKvE/s1600/asa1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 300px; height: 224px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-OGUqMbAqm_o/TdPbVGa0ogI/AAAAAAAAAc8/w4kkYs8CKvE/s320/asa1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608067116553249282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Schindler’s   List adalah film garapan Steven Spielberg yang menampilkan sosok   bernama Oskar Schindler (diperankan dengan memikat oleh Liam Neeson).   Lewat perusahaan yang didirikannya di masa lalu, Oskar telah   menyelamatkan beberapa generasi Yahudi yang kini terkenal dengan sebutan   Yahudi Schindler. Di luar perusahaan yang didirikannya, banyak orang   Yahudi yang mati sia-sia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Namun, inilah yang menarik.  Oskar bukan pahlawan. Oskar seorang  pebisnis. Ia menyelamatkan  orang-orang Yahudi itu dengan cara  mempekerjakan mereka. Pada saat itu,  menggunakan orang Yahudi sebagai  pekerja sangat murah karena di luar  perusahaan Schindler mereka harus  bekerja paksa. Kerja paksa yang  diterapkan semasa Nazi Jerman berkuasa  amat mengerikan: nyawa manusia  seolah tak ada artinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dan, Oskar pun bukan manusia suci  dan patriotik. Ia suka kumpul kebo  dan pesta-pesta. Bahkan, di akhir  hidupnya, pernikahannya gagal walau  ia sempat sadar dan bertobat dari  gaya hidupnya itu. Namun, di mata  sebagian besar orang Yahudi, ia tetap  pahlawan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;2. The Green Mile&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dapatkah  Anda membayangkan sebuah keadaan ini: Anda harus mati dengan  cara yang  mengerikan tanpa suatu alasan yang jelas? Film The Green Mile   menunjukkan pada kita tentang hal itu. Itulah yang harus dihadapi oleh   John Coffey, seorang tawanan berkulit hitam, yang didakwa bersalah   karena pembunuhan dua gadis kecil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sebenarnya, justru  dialah yang menjadi penyelamat dua gadis kecil itu.  Penyelamat didakwa  jadi pembunuh; pembunuh kerap dibebaskan. Bukankah  kita juga melihat di  televisi orang-orang yang berkuasa selalu luput  dari hukuman? John  Coffey rela mati karena dirinya merindukan damai.  Dia telah sesak  melihat kejahatan di dunia ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dari sinilah sebuah hal  penting terbentangkan: kedamaian membutuhkan  perjuangan. Kedamaian perlu  pengorbanan. Kedamaian tak datang dengan  sendirinya. Di dunia yang  penuh dengan nista dan dusta, kerapkali  keadilan muncul terbalik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;3. Amadeus&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Amadeus  adalah sebuah film yang mengisahkan kehidupan musisi terkenal  Mozart  setengah fiktif setengah nyata. Di sana ada sebuah pelajaran  berharga  tentang kecemburuan. Di sana ada Antonio Salieri, seorang  musisi yang  suatu ketika berdoa kepada Tuhan agar nama Tuhan kian  masyhur lewat  dirinya dan karya-karyanya. Ia ingin dicatat dalam  sejarah, tak  terlupakan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Namun doanya bagai dirampas oleh seorang  pemuda begajulan bernama  Mozart. Pemuda yang suka pesta-pora,  mengucapkan guyonan-guyonan  tentang seks secara berlebihan, tertawa  terbahak-bahak dengan sangat  renyah dan spontan, dan sulit untuk diajak  bicara serius. Popularitas  Mozart kian menanjak dengan  pertunjukan-pertunjukan yang dibuatnya,  hingga Salieri merasakan  keagungan Tuhan dalam karya pria yang ia  cemburui itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Akibat  cemburu, salib Kristus pun dibakarnya! Kesalehan hidupnya,   karya-karyanya yang ia garap dengan sepenuh daya, semuanya bagai   hancur-lebur. Film ini menampilkan sosok Salieri yang justru menjadi   lawan bagi kasih karunia: ia tidak bisa mengampuni Tuhan, Mozart, bahkan   dirinya sendiri. Budak kecemburuan ini pun lalu hidup dengan dendam --   wajahnya selalu muram dan senyumnya pahit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;4. Juno&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8W6_X6nJvuw/TdPbgnc7cyI/AAAAAAAAAdE/82ydQlFdpFw/s1600/asa2.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 265px; height: 292px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-8W6_X6nJvuw/TdPbgnc7cyI/AAAAAAAAAdE/82ydQlFdpFw/s320/asa2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608067314399015714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Juno,   gadis usia 15 tahun yang hamil karena "kecelakaan" suatu ketika  kembali  ke rumahnya. Hatinya sedang terguncang dan bimbang. Dia berkata  dalam  hatinya, "Aku baru sadar betapa aku menyukai rumah saat berada  di tempat  yang berbeda." Ia memetik sebuah bunga, kemudian memutarkan  mahkotanya  yang berwarna ungu di permukaan perutnya yang terus  membuncit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Adegan  dalam film Juno ini amat menyentuh. Di dalam kisah ini, Juno  harus  menanggung beban yang amat berat akibat bayi yang sedang  dikandungnya.  Beruntung dia, karena memiliki sebuah keluarga yang  sayang padanya.  Ayahnya sangat sayang padanya, kaya akan belas kasih  dan berpengertian  sangat dalam akan kondisi jiwa remaja putrinya yang  penuh rasa ingin  tahu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kehamilan di usia remaja kerap kali menjadi  persoalan bagi pasangan  muda-mudi, orang tua, bahkan segenap keluarga  dan teman-teman kedua  belah pihak. Tak sedikit orang menggugurkan  bayinya di masa kini,  menganggap bayi atau janin sekadar makhluk yang  bebas dibunuh seperti  binatang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;5. Les Miserables&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jean  Valjean adalah seorang pencuri. Suatu waktu ia meloloskan diri  dari  penjara. Karena tampangnya yang awut-awutan, tak ada orang yang  mau  menerimanya di rumah mereka, kecuali seorang pendeta. Pendeta itu   memberinya makan dan minum. Malamnya, ia malah mencuri beberapa   peralatan perak milik pendeta. Pendeta itu dipukulnya karena   memergokinya ketika mencuri. Ia lalu meninggalkan rumah pendeta itu   dengan barang curiannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pagi hari, polisi membawanya ke  rumah pendeta itu. Ketika ditanyai,  apakah Valjean mencuri peralatan  perak pendeta itu, pendeta itu malah  menyatakan bahwa ia memberikannya  kepada Valjean. Valjean tak jadi  dimasukkan penjara. Valjean  terheran-heran dengan kebaikan pendeta itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Tahun-tahun  berlalu. Valjean berubah, ia menjadi walikota. Suatu ketika  ia bertemu  dengan pelacur. Pelacur itu miskin dan punya seorang anak  yang masih  kecil bernama Cossette. Ketika pelacur itu meninggal, Jean  Valjean  membesarkan Cossette hingga dewasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Film ini diangkat dari  karya Victor Hugo yang amat terkenal. Di  dalamnya terdapat pesan  tentang kasih yang mengubahkan hati manusia.  Hati orang itu tentulah  Jean Valjean. Perjumpaannya dengan sang pendeta  telah mengubah hidupnya  selamanya: pencuri berubah menjadi walikota  yang berbelas kasih dan  dermawan. Kasih yang demikian besar pasti akan  menyebabkan perubahan hati  yang juga besar dalam diri seseorang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;6. The Elephant Man&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Film  tentang John Merrick berjudul Elephant Man atau Manusia Gajah   mengisahkan Manusia Gajah yang sudah cacat sejak lahir. Konon, ibunya   diserang oleh seorang gajah liar di Afrika saat mengandung John empat   bulan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Berdasarkan penelitian dr. Treves, ia mengalami  pembengkakan pada otak  bagian atas, pembengkokan pada tulang belakang,  pengendoran kulit dan  tumor menutupi 90% tubuhnya. Selain itu ia juga  menderita bronkitis  kronis. Sang dokter menangis kala menemuinya pertama  kali. Karena  perjuangan dr. Treves, akhirnya ia dapat tinggal di rumah  sakit.  Semula, Manusia Gajah oleh pemiliknya yang jahat, Bytes, dijadikan  tontonan karnaval demi mendapatkan uang. Ia sering  dipukuli dan  dicaci-maki.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Manusia Gajah adalah pribadi  yang unik. Ia bisa membaca dan menulis. Ia  romantis. Ia suka membaca  Alkitab dan buku doa. Bagian Alkitab  kesukaannya adalah Mazmur 23.  Setelah tinggal di rumah sakit, ia  dikenalkan kepada beberapa orang yang  bersikap baik kepadanya, seperti  pemilik rumah sakit, suster kepala dan  istri dr. Treves.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Menjelang akhir film John Merrick  berkata kepada dr. Treves: "Hidupku  berarti karena aku tahu, aku  dicintai." Nah, itulah kekuatan cinta.  Itulah pesan inti dari film ini.  Manusia, yang dulunya, disamakan  dengan binatang, dijadikan tontonan  umum dan dicaci maki, di tangan dr.  Treves menjadi pribadi yang  terhormat dan percaya diri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;7. Forrest Gump&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Hari Valentine identik dengan cokelat. Cokelat diberikan di mana dan   kapan saja pada momen ini. Orang yang tidak suka cokelat pun ada yang   diberi coklat. Silver Queen laris di mana-mana. Nah, tahukah Anda bahwa   di Amerika ada cokelat yang terbungkus dalam sebuah kotak dan berisi   beraneka rasa?&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ini saya ketahui dari film ini, bercerita  tentang seorang pemuda idiot  bernama Forrest Gump (diperankan dengan  memikat oleh Tom Hanks). Di  film ini dikisahkan tentang Forrest yang  suka makan cokelat. Dan, sosok  Forrest Gump yang ditampilkan idiot  memang menjadi wakil yang sempurna  bagi kasih karunia. Ya, kasih karunia  kerap dianggap sebagai tindakan  orang idiot di masa kini. Ia ditolak,  dicaci-maki, diabaikan, dan  dipinggirkan, namun tak pernah berubah setia  dan menyakiti.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ibunya pernah menyatakan: "Hidup bagai  sekotak cokelat, kau tidak  pernah tahu apa yang kau dapatkan." Apa yang  kau dapatkan, dalam  kalimat itu mengacu pada rasa cokelat itu. Kadang,  kasih karunia tampil  seperti kejutan. Tampaknya, semua cokelat dibungkus  dalam bungkus yang  sama, namun memiliki rasa yang berbeda-beda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Film  indah yang coba menguraikan takdir dan tujuan hidup ini pas benar  bila  dijadikan renungan kehidupan. Kita tidak dapat menebak apa yang  terjadi  di hari depan. Kita tidak tahu apa yang bakal kita hadapi dan  temui.  Kehidupan penuh misteri, penuh aneka rasa, bagai cokelat-cokelat   berbungkus sama yang tidak dapat ditebak rasanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;8. Amazing Grace dan Amistad&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Baik Amistad maupun Amazing Grace ingin menampilkan pesan betapa manusia   perlu diperlakukan setara satu sama lain. Ras dan segenap perbedaan   lahiriah lainnya bukanlah hal-hal yang pantas untuk dijadikan acuan   pembuatan hukum. Kasih karunia kerap berlawanan dengan hukum. "Mata   ganti mata, gigi ganti gigi," demikian hukum berujar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dalam  sebuah buku dikisahkan, orang-orang sering memanggilnya shrimp.  Kata ini  berarti udang secara harafiah, tapi juga bisa merupakan  cemoohan bagi  orang yang cebol, bungkuk, atau dianggap tak berarti.  Pria ini, William  Wilberforce namanya, walaupun berbadan kecil dan agak  timpang, untungnya  memiliki kecerdasan dan kefasihan bawaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Nama pria ini  amat dekat dengan penghapusan perbudakan. Perjuangannya  dikisahkan dalam  film Amazing Grace. Upaya pertamanya adalah mengajukan  12 mosi  penghapusan perdagangan budak ke parlemen tahun 1788, namun  ditolak. Ia  tidak tinggal diam, lalu mengajukan RUU pada tahun 1791 --  tetap  ditolak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dan itu berlanjut pada tahun-tahun lain: 1792,  1797, 1798, 1799, 1804  dan 1805. Rasanya, bila kita mencermati  angka-angka yang berjejer itu  -- jikalau seseorang tidak memiliki  kegigihan yang luar biasa, ia tidak  akan kuat untuk menghadapinya.  Hingga akhirnya, 1806, Parlemen Inggris  menghapuskan perdagangan budak  di seluruh Inggris. Ketika  mendengarnya, William menangis dengan  sukacita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Perjuangan panjang menghapus perbudakan juga  dikisahkan dalam Amistad.  Kalau perjuangan Wilberforce tadi di Inggris,  film yang ini berlatar  Amerika. Diperankan dengan bintang-bintang tenar  (yang paling eksentrik  adalah Anthony Hopkins sebagai John Quincy Adams,  mantan perdana  menteri Amerika), film ini menampilkan  kesewenang-wenangan yang  dilakukan bangsa kulit putih terhadap kaum  budak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;9. It's a Wonderful Life&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Delapan  ribu dolar Amerika untuk ukuran setengah abad lalu sangatlah  besar.  Nah, suatu ketika, seorang bankir kehilangan uang itu. Padahal,  delapan  ribu dolar itu adalah uang terakhir yang dimiliki bankir itu.  Jikalau  dalam waktu sekian jam ia tak dapat menunjukkan sisa terakhir  uang yang  dimilikinya, bank itu akan ditutup. Bankir itu, Robert Bailey  namanya,  kemudian ngamuk-ngamuk dan memutuskan ingin mati.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Penderitaan  Robert amat berat. Delapan ribu dolar yang raib itulah  puncaknya. Ia  sejak kecil selalu dirundung malang. Telinganya tuli  sebelah karena  menolong adiknya. Niatnya ingin menjadi petualang pupus  karena diminta  untuk melanjutkan bisnis ayahnya. Nah, ketika delapan  ribu dolar itu  hilang, adiknya yang pernah ia tolong di masa kecil,  sedang makan malam  dengan presiden karena ia berjasa besar dalam  perang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; It's  a Wonderful Life – salah satu film terbaik tentang pengucapan  syukur,  dengan sempurna memotret kehidupan seorang yang harus menjalani   kehidupan yang bukan diimpikannya. Pada akhirnya, Robert dibawa ke  alam  mimpi oleh seorang malaikat. Di sana ditunjukkan kepadanya hal-hal  yang  tidak bisa tidak ia syukuri: anak-anak, istri, dan  sahabat-sahabat yang  ia miliki. Robert pun mencabut keinginannya untuk  mati.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Di  bagian akhir film kita disuguhi adegan yang begitu manis:  orang-orang  sekota datang menyambut Robert yang tak jadi mati. Dan  untuk delapan  ribu dolar yang telah raib itu, orang-orang  berduyun-duyun membantu  Robert yang telah putus harapan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;10. Not One Less&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-U_mgg1VnlEw/TdPboXjarZI/AAAAAAAAAdM/vJbCyIsVRMo/s1600/asa3.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 300px; height: 198px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-U_mgg1VnlEw/TdPboXjarZI/AAAAAAAAAdM/vJbCyIsVRMo/s320/asa3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608067447570214290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seorang   murid masih kanak-kanak yang nakal, yang paling sering membuat onar,   suatu ketika melarikan diri dari kampung halamannya. Ia pergi ke kota   besar, hidup sebagai gelandangan, kemudian tak bisa pulang. Di desa,   para penduduk pada resah. Keresahan itu membuat si guru -- yang masih   remaja -- pergi ke kota untuk mencari murid yang hilang.Perjalanan  guru  ke kota amat melelahkan. Ia kurang makan, kadang jalan kaki, untuk   mencari murid nakalnya itu. Pencarian dilakukan karena kepadanya, guru   lain yang lebih senior, yang sedang memiliki tugas lain telah berpesan:   jangan ada satu pun yang hilang -- not one less.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Film Not  One Less besutan Zhang Yimou ini menggambarkan dengan indah  sukacita  seseorang yang didapatkan kembali setelah hilang sekian lama  dan  dicari-cari. Perjuangan guru mencari murid yang terhilang adalah  satu  gambaran terkuat tentang kasih karunia yang saya saksikan dalam  sebuah  film. Ketika mereka bertemu lagi, sungguh amat besar sukacita  itu! Si  murid dan guru berangkulan dalam perjalanan pulang. Mereka  menangis  bersama. Si murid berjanji, ada bunga untuk gurunya yang akan  ia  berikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;11. City Lights&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Bila  saya diminta untuk menyebut sebuah film yang paling tidak  menggurui  tentang cinta, dan paling sederhana, maka saya akan memilih  City Lights  yang dibuat dan dibintangi Charlie Chaplin. Ini film bisu,  hitam-putih,  tapi begitu membekas -- dan begitu penuh warna: lucu,  menyedihkan, dan  romantis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dalam film ini dikisahkan seorang gelandangan  (karakter favorit Charlie  Chaplin) yang iba dan jatuh hati pada seorang  gadis penjual bunga.  Gadis itu buta, si gelandangan membeli setangkai  bunganya. Dalam  kebutaannya, si gadis mengira kalau si gelandangan  adalah seorang pria  kaya-raya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Waktu terus berjalan, si  gelandangan mendapati kalau si gadis ternyata  tinggal dalam sebuah  kontrakan kecil yang menyedihkan. Ia juga tengah  kehabisan uang membayar  sewa rumah. Si gelandangan mencari berbagai  cara untuk menolong si  gadis. Akhirnya, lewat sebuah keberuntungan, ia  berhasil mendapatkan  uang, bukan hanya utuk sewa rumah, tapi juga  operasi mata. Si gadis kini  bisa melihat, ia tak lagi buta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Film ditutup dengan  adegan saat si gadis menyadari bahwa pria idamannya  bukan orang  kaya-raya seperti yang ia bayangkan. Menonton adegan itu,  saya  serta-merta teringat Amazing Grace, sebuah lagu lawas karya John  Newton.  Kasih yang besar, yang dilandasi ketulusan dan pengorbanan pada   akhirnya akan membuat mata hati kita dicelikkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ya,  ketika film itu berakhir, sebaris lirik Amazing Grace pun  terlantunkan  dalam hati saya: "I once was lost, but now I'm found; was  blind but now I  see." (Dulu saya tersesat, kini ditemukan; dulu buta  kini melihat.) ***&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sidik Nugroho, penyuka film&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-1907621829534860275?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/1907621829534860275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=1907621829534860275' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/1907621829534860275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/1907621829534860275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2011/05/kasih-karunia-dalam-sinema-kisah-kisah.html' title='Kasih Karunia dalam Sinema: Kisah-kisah yang Menyadarkan Berharganya Hidup Ini'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-OGUqMbAqm_o/TdPbVGa0ogI/AAAAAAAAAc8/w4kkYs8CKvE/s72-c/asa1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-2346066468945245184</id><published>2011-05-12T22:05:00.001+07:00</published><updated>2011-05-25T09:18:09.015+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gereja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Gereja-gereja yang Membentuk Kehidupan Saya (2)</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;4. GAP -- Masa-masa Kuliah di UM &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya  bergabung dengan Gereja Anugerah Pembaharuan (GAP) pada tahun 1999.  Saya meninggalkan GPdI Elohim yang ada di kota Batu karena jaraknya yang  terlalu jauh dari tempat tinggal saya di Malang, hampir 20 kilometer.  Namun, saya tetap berkunjung dan berhubungan dengan beberapa teman di  GPdI.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat-saat ini juga saya amat kagum dengan seorang  pendeta yang bernama Roberts Liardon. Ia menulis banyak buku, termasuk  beberapa buku yang berkaitan dengan biografi beberapa pendeta dari  kalangan Pentakosta. Semua buku Roberts Liardon yang diterjemahkan ke  bahasa Indonesia saya baca. Gara-gara membaca buku-bukunya, juga  beberapa buku-buku bertema sosial lain, tahun 1999 saya ikut UMPTN  (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) lagi, mengambil jurusan Pendidikan  Sejarah Universitas Negeri Malang. Saya diterima. Waktu itu saya yakin  benar dengan pilihan saya -- ada dua pilihan jurusan dalam tiap UMPTN,  tapi saya hanya memilih satu jurusan, yaitu Pendidikan Sejarah, dan  pilihan keduanya saya kosongkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kembali ke GAP. GAP  adalah gereja yang satu pergerakan (walaupun tidak satu denominasi)  dengan GKB Jubilee di Semarang. Keduanya adalah gereja yang mayoritas  jemaatnya kaum muda. GAP di Malang jauh beda dengan GKB Jubilee di  Semarang dalam soal jumlah jemaat. Waktu saya pertama kali ke sini,  gereja ini masih kecil, jemaatnya tidak lebih dari dua puluh orang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di  GAP saya banyak dibentuk untuk menjadi rendah hati dan belajar menjadi  perintis. Dengan beberapa teman saya mulai membuat warta gereja. Saya  dan beberapa teman juga merelakan buku dan kaset-kaset rohani yang kami  miliki untuk membuat perpustakaan kecil-kecilan. Lalu saya juga  membentuk tim musik yang kecil, namun sangat gaduh dan bersemangat. Di  GAP kami pindah-pindah tempat ibadah, menyewa gedung-gedung untuk  kebaktian. Hampir tiap Minggu saya dan beberapa teman mengangkuti  alat-alat musik dan sound-system. Tiada hari tanpa ke gereja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sama  seperti di GKB Jubilee, pengajaran di gereja ini juga radikal. Saya  sempat dekat dengan satu orang gadis di sana. Namun, karena tidak boleh  pacaran, lagi-lagi hubungan asmara saya harus kandas di tengah jalan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Awal  tahun 2002, saya merasa ada beberapa pengajaran yang tak saya setujui  di gereja ini. Bulan Februari 2002 saya menulis surat yang sifatnya  hampir resmi untuk teman-teman dan pemimpin di GAP. Dengan jelas saya  utarakan beberapa alasan pengunduran diri saya dari gereja ini, dan itu  semuanya tidak perlu dijadikan sebagai sumber konflik berkepanjangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya  tetap mengunjungi GAP beberapa kali setelah saya mundur dari sana. Saya  tetap berhubungan baik dengan semua anggota gereja di sana. Gereja ini  juga sempat berganti nama menjadi MSI (Morning Star Indonesia). Namun  sayang, saya mendapati kabar kalau beberapa tahun yang lalu -- kalau  tidak salah empat tahun yang lalu -- gereja ini sudah tutup. Saya  maklum, karena gereja ini adalah gereja kaum muda, banyak mahasiswanya.  Jemaatnya datang dan pergi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;5. Gereja Bethany -- Masa-masa Kuliah di UM dan Pasca Kuliah &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah  keluar dari GAP, saya diajak tetangga saya untuk ikut dalam doa pagi  yang diadakan Gereja Bethany Malang tiap jam 04.30 pagi. Seringkali saya  bangun lebih awal, maka saya pun berangkat duluan. Tetangga saya ini,  yang usianya jauh lebih tua daripada saya, juga suka mengajak saya  pelayanan ke mana-mana. Dia meminta saya bermain gitar dan berkhotbah di  kelompok-kelompok persekutuan keluarga (dinamakan Family Altar) tiap  hari Selasa. Beberapa kali saya juga diajak pelayanan bermain gitar di  ibadah-ibadah kematian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain tetangga saya, saya  mengenal dengan baik seorang fulltimer di Gereja Bethany. Dia seorang  pendoa. Mengetahui kesukaan saya berdoa jam 04.00 pagi, dia pun menawari  saya menjadi penjaga Menara Doa, menjaga sesi doa pukul 04.00 sampai  06.00 pagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menara Doa adalah kegiatan pelayanan doa di  Gereja Bethany. Tiap anggota jemaat boleh ambil bagian. Di Menara Doa  ada doa nonstop 24 jam sehari, dibagi dalam 12 sesi, satu sesi 2 jam.  Dari Senin sampai Jumat saya dijadwal untuk menjaga Menara Doa itu. Sesi  ini sangat sepi pengunjungnya. Saya lebih sering berdoa sendirian di  Menara Doa. Alasan mengapa saya suka berdoa jam 04.00 pagi ada dua.  Pertama adalah kisah hidup seorang pendeta yang bernama John Wesley,  pelopor pergerakan Metodis, dia selalu berdoa jam 4 pagi. Pendeta lain  yang juga suka berdoa pagi-pagi adalah George Muller yang dikenal  sebagai bapak bagi kaum yatim piatu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya senang sekali  berdoa di Menara Doa. Ada saat-saat ketika inspirasi datang begitu  deras. Saya menulis beberapa puisi karena senang dengan suasana pagi  yang hening. Namun, kenyataannya, saya tidak selalu berada di Menara Doa  yang berada di bagian paling belakang gereja. Saya diminta untuk  melayani di Dewasa Muda. Dan tak tanggung-tanggung, saya diminta untuk  menjadi ketua Dewasa Muda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya merasa umur saya lebih  muda daripada sebagian jemaat Dewasa Muda. Saya masih kuliah; saya  merasa belum pantas memimpin Dewasa Muda yang lebih berorientasi  menjangkau kaum profesi dan keluarga-keluarga muda di gereja. Namun,  pemimpin yang lama menyatakan saya orang yang tepat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak  lama setelah menjadi ketua Dewasa Muda, beberapa pemimpin kaum muda  gereja juga meminta saya menjadi ketua pengajaran untuk kaum muda. Dalam  hal pengajaran ini, saya bersemangat sekali. Saya punya banyak bahan  untuk diajarkan. Saya buat sendiri buku pengajarannya, dan saya beri  nama pengajaran itu Firm Foundations (F2). Saya sempat meluluskan  siswa-siswi F2 sebanyak dua angkatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;F2 berjalan cukup  antusias. Anak-anak murid di sana senang dengan pengajaran yang  diadakan. Namun, sebuah masalah muncul. Tapi bukan di F2. Dewasa Muda  yang saya pegang tak banyak mengalami perkembangan. Saya kehabisan akal  bagaimana membuat ibadah di Dewasa Muda bisa lebih menarik minat banyak  orang untuk datang. Akhirnya, gembala sidang memutuskan agar pelayanan  Pemuda dan Dewasa Muda digabung. Saat penggabungan, saya yang diminta  untuk jadi ketuanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terakhir, gembala sidang mengetahui  minat saya dalam dunia penulisan. Itu serta-merta membuatnya menjadikan  saya pimpinan redaksi tabloid internal gereja. Saya melepas pelayanan  saya di Pemuda dan Dewasa Muda yang sudah digabung tadi. Saya hanya  menjadi ketua atas gabungan itu dalam beberapa bulan. Namun, tabloid  yang dipercayakan pada saya itu hanya jadi satu edisi. Saya sudah  menyiapkan bahan untuk tiga edisi, namun tim yang direncanakan untuk  bekerja bersama saya tak kunjung terbentuk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semua ini saya  alami dalam waktu tiga tahun, dari tahun 2002 hingga 2005. Entah  berlebihan atau tidak, saya merasakan kalau begitu banyak hal yang saya  lakukan selama di gereja ini. Mau tak mau hal ini membuat kuliah saya  terbengkalai. Begitu tabloid itu semakin tidak jelas mau terbit lagi  atau tidak, saya mengambil keputusan untuk melayani sebagai guru Sekolah  Minggu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Guru Sekolah Minggu. Ya, itulah pelayanan  terakhir saya di gereja yang gedungnya besar ini. Saya merasa, di antara  semua pelayanan yang lain, menjadi guru Sekolah Minggu, menjadi gitaris  di kelompok-kelompok persekutuan yang kecil, dan menjadi pendoa di  Menara Doa, adalah tiga pelayanan yang paling saya sukai di gereja ini.  Saya bersyukur dan berterima kasih sudah diberi kepercayaan untuk semua  pelayanan di gereja ini. Namun, saya akui pelayanan saya untuk memimpin  tidak banyak yang berhasil.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin saya salah, namun --  saya juga tidak tengah membela diri -- kegagalan yang saya rasakan tak  semuanya karena ketidakmampuan saya untuk memimpin. Gereja yang  gedungnya besar ini memang lebih cenderung bergaya selebritas.  Kepemimpinan dan penggembalaan kurang dikembangkan dengan baik. Acara  demi acara gereja dibuat semewah mungkin dan seheboh mungkin, namun  penggembalaan dan pemberdayaan jemaat di dalam gereja kurang mendapat  perhatian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena itu, sejak menjadi guru Sekolah Minggu,  saya berhenti untuk semua kegiatan pelayanan yang berbau kepemimpinan  dan penggembalaan. Saya lebih suka duduk di bagian belakang gereja,  menerima apa yang Tuhan mau sampaikan dalam ibadah demi ibadah di gereja  ini lewat khotbah. Saya pun menata lagi kuliah saya yang terbengkalai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;6. GNS (Gereja Nomaden Suka-suka) -- Masa-masa Bekerja &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;25  Februari 2006, akhirnya saya lulus kuliah. Saya nyaris drop-out, karena  kuliah dari tahun 1999 -- 13 semester saya jalani. Saya tidak  menyalahkan gereja. Saya sendirilah yang salah, yang bersedia untuk  melakukan berbagai pelayanan -- juga bekerja sebagai guru les privat,  bahkan berjualan camilan sambil kuliah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setahun setelah  itu saya lebih banyak mengurung diri di kamar, menulis berbagai tulisan.  Saya tetap menjadi guru Sekolah Minggu, namun membatasi pelayanan saya.  Saya mulai memantapkan diri untuk memuliakan Tuhan lewat tulisan yang  saya buat dan menjadi seorang guru. Sampai suatu hari di bulan Februari  saya mendapat panggilan wawancara di Yayasan Pendidikan Jaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tanggal  20 Maret hingga 20 April 2007 saya dimagangkan oleh yayasan ini. Saya  menjadi guru magang di SD Pembangunan Jaya Bintaro, Tangerang. Saat  magang, tiap Minggu saya beribadah di sebuah gereja Katolik di Bintaro.  Gereja Katolik inilah yang kemudian mengubah berbagai paradigma saya  tentang gereja. Dulu, sama seperti beberapa orang Kristen lain, saya  sempat menganggap orang-orang Katolik kurang beriman. Kurang beriman --  dalam istilah yang kami pakai -- menunjuk pada kebiasaan mereka yang  tidak pernah membawa Alkitab kalau ke gereja (hanya membawa buku  pujian), dan tidak bisa merangkai kata-kata doa spontan secara lancar  karena hampir semua doa orang Katolik sudah dibuatkan dalam buku doa  yang dirilis gereja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat saya menyaksikan keheningan di  dalam gereja Katolik itu, saya merasakan kekhidmatan yang membuat saya  betah di sana. Saya merasa ibadah -- yang rata-rata hanya sejam --  berlangsung terlalu cepat. Di bangku -- yang selalu di bagian belakang  -- saya meresapi keagungan dan kasih Tuhan. Tidak ada orang yang saya  kenal, atau menyapa saya. Saya jadi lebih leluasa meresapi makna ibadah.  Saya menirukan membuat tanda salib dengan air suci, berdoa sambil  bertelut di depan bangku, dan merasakan damai yang besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya  awalnya berpikir, ah, damai ini hanya euforia, hanya suatu perasaan  sementara saja. Bukankah itu hal yang biasa -- suasana baru, ritual  baru, gedung baru, dan segala lainnya yang baru? Sesuatu yang baru bagi  saya, yang tidak saya temui dalam gereja-gereja sebelumnya yang  cenderung hingar-bingar dan ramai?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, walaupun itu  hanya euforia, saya juga punya anggapan dan kesimpulan lain. Mulai dari  saat itu, saya tidak lagi melihat gereja sebagai sesuatu yang harus  dibeda-bedakan. Saya pun mulai keranjingan menjelajah gereja demi  gereja. Pulang dari magang di Jakarta saya bertekad pergi ke  gereja-gereja. Gereja apa saja. Di Malang dan Sidoarjo saya pun  mengunjungi beberapa gereja GPdI, Gereja Baptis Indonesia, beberapa  Gereja Bethel Indonesia, Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), Gereja  Kristen Indonesia (GKI), GPIB (Gereja Protestan Indonesia bagian  Barat), juga Gereja Bala Keselamatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal-hal yang menarik  saya temukan ketika menghadiri ibadah dengan suasana yang berbeda-beda.  Saya jadi tahu, di tengah-tengah berbagai perbedaan itu, gereja-gereja  tetap hidup demi menjadi saksi Kristus, walau sayangnya banyak juga  gereja yang masih suka menyalahkan satu sama lain. Namun, saya tidak  pernah -- dan tidak akan pernah mau -- mencoba-coba menginjakkan kaki di  gereja yang beraliran sesat seperti Mormon atau Saksi Yehova.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Soalnya saya kuatir, kalau saya ke sana malah nantinya saya dijadikan gembala sidang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sidoarjo, Mei 2011&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bersambung:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;7. Pandangan Pribadi tentang Gereja-gereja&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-2346066468945245184?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/2346066468945245184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=2346066468945245184' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2346066468945245184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2346066468945245184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2011/05/gereja-gereja-yang-membentuk-kehidupan_12.html' title='Gereja-gereja yang Membentuk Kehidupan Saya (2)'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-8882611968853713214</id><published>2011-05-11T08:56:00.000+07:00</published><updated>2011-05-11T08:57:19.917+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gereja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Gereja-gereja yang Membentuk Kehidupan Saya</title><content type='html'>&lt;div class="isi_artikel"&gt;                         &lt;p&gt;Orang Kristen yang ideal tentunya memiliki  gereja yang dikunjunginya secara tetap Minggu demi Minggu. Namun, saya  bukan tipe yang ideal, setidaknya untuk beberapa tahun belakangan ini.  Sejak empat tahun lalu, saya pindah-pindah gereja terus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Beberapa hari lalu, di dalam bis Malang-Surabaya, saat saya merenungkan  lagi gereja-gereja itu, saya tergerak untuk membuat sebuah catatan yang  mengisahkan persinggahan saya dari gereja ke gereja. Banyak kenangan  yang sayang bila dilupakan begitu saja. Dan sayangnya, saya ini pelupa.  Akhirnya, lahirlah catatan ini. Catatan yang saya buat, pertama-tama  untuk saya sendiri, agar saya tidak melupakan gereja, salah satu tempat  di mana kasih dan kuasa Tuhan dinyatakan bagi umat-Nya — terlepas dari  segala kekurangan yang ada di dalamnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;strong&gt;1. GPKM — Masa-masa SMP&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya mulai merasa senang bergereja saat SMP. Bapak saya membelikan saya  beberapa buku cerita rohani, dan saya suka sekali membacanya. Saya ingin  mendengar lebih banyak cerita rohani di gereja. Sebelumnya, waktu SD,  saya sangat malas ke gereja. Salah satu penyebab kemalasan itu adalah  ejekan yang pernah saya dengar suatu ketika.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Waktu itu saya masih SD. Saya ke gereja, ke Sekolah Minggu, naik becak  sama abang saya. Begitu sampai di gereja, seorang anak mengejeki saya  terus. Dia bilang saya Si Hitam. Saya tidak berani melawan atau balas  mengejeknya. Dan karenanya, saya jadi tak mau lagi ke gereja, kecuali  bersama bapak atau ibu saya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Waktu SMP, saya bertemu dengan teman-teman gereja yang lebih baik di  Gereja Protestan Kristus Mulia (GPKM) di Singkawang, Kalimantan Barat.  Saya bahkan diangkat oleh salah satu guru Sekolah Minggu menjadi ketua  untuk kaum remaja. Saya menjadi gitaris di gereja, mengiringi  teman-teman saya tampil paduan suara hampir tiap ibadah Minggu. Beberapa  retreat atau camping yang diadakan di gereja membuat saya senang sekali  menjadi warga gereja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;strong&gt;2. GKII dan GKB Jubilee — Masa-masa SMA&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; 17 April 1997. Saya seorang remaja 17 tahun waktu itu. Hari itu saya  menyadari saya perlu pengampunan Tuhan setelah mengikuti sebuah acara  bertajuk &lt;em&gt;Hell’s Bells&lt;/em&gt;. Di dalam acara itu saya mendapat  penjelasan tentang beberapa musik rock yang diklaim oleh gereja  penyelenggara acara — GKB (Gereja Kristen Baithani) Jubilee — sebagai  musik-musik satanis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sebagai penyuka musik rock, saya merasa perlu diselamatkan. Di sebuah  ruangan kecil di Undip Tembalang, Semarang, saya sadar akan dosa-dosa  saya (namun bukan hanya dosa karena suka musik rock), berjanji mau hidup  bagi Tuhan. Walaupun suka nge-rock, saya bukan remaja bandel dan  urakan. Namun, saya sadar kebaikan dan kesalehan saya bukanlah jaminan  bahwa Tuhan menerima saya. Saya mengalami sebuah titik balik: saya  mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya dengan sepenuh  hati saya. Saya ingat lagu yang mengantar saya menuju kesadaran itu,  dinyanyikan David Meece:&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;em&gt;We are the reason, that He gave His life&lt;br /&gt;We are the reason, that He suffered and died&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya juga suka nge-band waktu itu. Sebenarnya, sejak SMP, sejak umur 14  tahun, saya sudah ikut festival band, dan masuk final dalam festival itu  walau tak meraih juara. Di festival-festival band selanjutnya, saya —  bersama grup band saya tentunya — berhasil meraih beberapa juara. Oleh  didikan yang diberikan para pemimpin di GKB Jubilee, saya diharuskan  untuk meninggalkan semua musik rock yang dulu amat saya sukai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Seorang pemimpin di gereja itu bersaksi bahwa kaset-kaset musik rock  yang dimilikinya dibakarnya semua. Ia meminta saya melakukan hal yang  sama. Namun saya bersikukuh bahwa tidak semua musik rock itu satanis.  Saya tidak mau membakar kaset-kaset saya. Saya setuju menyingkirkan  kaset-kaset saya yang berjumlah sekitar 50 buah. Kaset-kaset itu  kemudian saya jual — tapi lebih banyak yang saya berikan — ke  teman-teman saya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya juga diminta untuk meninggalkan GKII (Gereja Kristen Indonesia  Injili) di Semarang yang sebelumnya saya kunjungi tiap Minggu bersama  nenek saya. GKB Jubilee mengajarkan bahwa orang Kristen perlu memiliki  komitmen pada satu gereja. Saya tak serta-merta melakukannya karena  sudah terbiasa mendampingi nenek saya bergereja di GKII tiap Minggu jam 6  pagi. Saya makin sering mengikuti berbagai kegiatan di GKB Jubilee,  walau kadang masih menemani nenek ke GKII. Saya senang dengan semangat  anak-anak muda di GKB Jubilee. Di GKII para pemudanya kurang  bersemangat. Di GKB Jubilee saya dilatih menjalani kehidupan rohani yang  disiplin. Saya jadi rajin berdoa, menamatkan pembacaan Alkitab dari  Kejadian sampai Wahyu tak sampai setahun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Teman-teman saya di luar gereja heran dengan perubahan saya. Saya hanya  mau menyanyikan lagu rohani, dan hanya menjadi gitaris di gereja. Saya  sempat mengalami konflik yang besar dengan grup band saya karena ajaran  pemimpinnya yang mengharamkan musik rock. Apalagi waktu SMA saya  memiliki tiga grup band: satu band dengan teman sekampung (Flatus), satu  band dengan teman sekelas (Visioner), dan satu band bentukan guru  ekskul musik SMA (Neo-Six). Konflik terbesar saya alami dengan grup band  Visioner karena sayalah yang menggagas berdirinya grup band itu, namun  saya juga yang keluar pertama kali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Belakangan, saya merasa ajaran yang ada di gereja ini kelewat radikal,  walau radikalismenya bersifat internal dan bertujuan baik untuk warga  gereja. Ada juga ajaran radikal lainnya: warga gereja yang masih SMA  atau baru kuliah di semester awal tidak boleh berpacaran. Pacaran  benar-benar dilakukan bila sudah siap menikah. Waktu SMA saya sudah  punya pacar, dan saya pun patuh pada pimpinan saya. Dengan berat hati,  saya memutuskan hubungan dengan pacar saya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;strong&gt;3. GPdI Elohim — Masa-masa Kuliah di Brawijaya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Setelah tamat SMA, saya pindah ke Malang. Waktu SMA saya tinggal dengan  nenek saya di Semarang, sementara orang tua saya masih di Singkawang,  Kalimantan Barat. Setelah saya naik kelas 3 SMA, orang tua saya pindah  dari Kalimantan Barat ke Malang. Di Malang saya senang dengan  suasananya, jauh berbeda dengan Semarang yang panas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya dibelikan Honda CB 100 tahun 1978 oleh bapak saya. Harganya satu  juta lebih sedikit. Bapak saya sebenarnya ingin membelikan motor yang  lebih baru, namun saya bersikeras minta CB 100, karena sejak SMA saya  menyukai model motor itu. Sampai sekarang pun saya masih menyukainya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dengan CB 100 itu saya suka bepergian ke mana-mana kalau pulang kuliah.  Saya kuliah di Universitas Brawijaya Jurusan Ilmu Tanah Fakultas  Pertanian, hanya setahun, dari tahun 1998 sampai 1999. Cukup banyak  aktivitas perkuliahan yang berkaitan dengan pengamatan tanaman.  Gara-gara aktivitas ini saya suka melihati tanaman apa saja. Kesukaan  ini membuat saya sering pergi ke kota Batu, melihat kebun-kebun apel,  dan kadangkala mengajak petani-petani apel mengobrol seputar penyakit  tanaman atau kehidupan sehari-harinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Suatu ketika saya menemukan toko buku Kristen yang lumayan lengkap di  Batu, toko buku Imanuel. Di sebelahnya ternyata ada sebuah gereja, GPdI  (Gereja Pentakosta di Indonesia) Elohim.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya pun mencoba ikut dalam ibadah pemuda di situ. Saya mudah akrab  dengan beberapa teman. Bahkan saya seringkali tinggal di beberapa rumah  teman di Batu selama beberapa hari. Seringkali, dari hari Jumat sore  sampai Minggu siang saya ada di Batu, dan baru pulang ke Malang di hari  Minggu sore atau malam. Walaupun tidak sampai setahun di sini, banyak  kenangan yang menyenangkan dari gereja ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Di gereja ini saya memiliki seorang sahabat yang sangat gemuk, beratnya  hampir 130 kilogram. Suatu hari dia memberi saya hadiah sepasang sarung  tangan agar saya tidak kedinginan naik motor dari Malang ke Batu. Kami  berdua sering menaiki motor CB saya sampai Pujon, sebuah kecamatan yang  lebih tinggi dari kota Batu, kecamatan penghasil susu sapi terbanyak di  Jawa Timur. Di Pujon kami mengunjungi teman-teman gereja lainnya.  Beberapa orang heran dengan kekuatan motor CB saya itu, dinaiki dua  orang yang total beratnya hampir 200 kilo, masih kuat saja menanjak dan  meliuk-liuk.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sayangnya, sahabat saya yang baik ini meninggal di usia muda karena  diabetes. (Bersambung)&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Malang-Sidoarjo, Mei 2011&lt;/p&gt; &lt;p&gt; ***&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Rencananya akan saya sambung dengan cerita dan pembahasan:&lt;br /&gt;4. GAP — Masa-masa Kuliah di UM&lt;br /&gt;5. Gereja Bethany — Masa-masa Kuliah di UM dan Pasca Kuliah&lt;br /&gt;6. GNS (Gereja Nomaden Suka-suka) — Masa-masa Bekerja&lt;br /&gt;7. Pandangan Pribadi tentang Gereja-gereja&lt;/p&gt;                    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-8882611968853713214?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/8882611968853713214/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=8882611968853713214' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8882611968853713214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8882611968853713214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2011/05/gereja-gereja-yang-membentuk-kehidupan.html' title='Gereja-gereja yang Membentuk Kehidupan Saya'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-1840947955654888734</id><published>2011-05-09T15:32:00.000+07:00</published><updated>2011-05-09T15:34:01.148+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>kembali pada catatan itu</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;: catatan tentang j&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini aku kembali pada catatan lama&lt;br /&gt;yang tercipta di sebuah kamar kecil di kaki bukit&lt;br /&gt;tentang mentari yang biru, hujan yang jingga,&lt;br /&gt;dan udara yang selalu merah muda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dinding kamar yang lembab&lt;br /&gt;meja dan kursi yang reyot&lt;br /&gt;kabut dan gerimis yang tak kunjung sirna&lt;br /&gt;menjadi kawan-kawan yang melahirkannya&lt;br /&gt;: catatan itu, kenangan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kau, yang kucatat bersama jalinan kenangan&lt;br /&gt;kini kau menjauh, dan tak bisa lagi kugapai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun aku ingin melanjutkan catatan ini&lt;br /&gt;bersama secangkir kopi malam ini&lt;br /&gt;walau aku bimbang, hendak merangkai kisah apa lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin, tentang ini saja&lt;br /&gt;tentang hari-hari yang lebih lampau&lt;br /&gt;: hari-hari ketika aku belum mengenalmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sidoarjo, mei 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-1840947955654888734?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/1840947955654888734/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=1840947955654888734' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/1840947955654888734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/1840947955654888734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2011/05/kembali-pada-catatan-itu.html' title='kembali pada catatan itu'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-5863346656135972471</id><published>2011-04-28T14:42:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T14:43:01.458+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Kebobrokan yang Terselubung dalam Moralitas</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;Ketika Philip Yancey --  penulis terkenal itu -- masih kecil, ia mengenal seorang pria yang  mengesankan. Pria itu sering dipanggil Big Harold. Ia suka mengawasi  anak-anak yang riang gembira bermain di komidi putar. Ia juga meluangkan  waktu bermain catur bersama mereka. Namun, di balik sikap ramahnya, Big  Harold memiliki suatu sikap negatif yang parah: ia mudah menghakimi  orang lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia juga membenci orang kulit hitam -- sama  sekali tidak bisa toleran pada mereka. Ia mengkritik tajam segala  sesuatu yang amoral dalam pandangannya lewat surat-surat yang  ditulisnya. Ia berhasil menjadi seorang pendeta di sebuah gereja kecil  di Afrika. Namun, di balik surat dan khotbah-khotbahnya yang menyuarakan  moralitas, Big Harold ternyata menyimpan misteri lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia  melakukan &lt;em&gt;phone-sex&lt;/em&gt;, berlangganan majalah porno. Ia bahkan  menggunting beberapa bagian majalah porno itu, dan mengirimkan guntingan  itu kepada beberapa wanita, sambil menuliskan: "Ini yang akan kulakukan  padamu." Moralitas yang begitu kuat ia suarakan dalam khotbah dan  surat-suratnya ternyata tak pernah mengubah kondisi hatinya sendiri yang  bobrok.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Moralitas seperti ini adalah legalisme, lawan  dari anugerah. Orang yang terjebak dalam legalisme tahu hukum, tahu yang  baik dan buruk, selalu tampak adil dan bijaksana, namun menjadi pribadi  yang kaku dan gagal untuk mengupayakan hidup yang berkenan pada Allah.  Sebaliknya, orang yang hidup dalam anugerah mengakui ketidakberdayaan  dan ketidaksempurnaannya, tidak selalu tampak baik, namun selalu  berusaha berkenan pada Allah dengan cara mengoreksi diri. ***&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Homines  sumus, non dei. (Kita manusia yang lemah, bukan dewa.)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;~  Pepatah Latin ~&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-5863346656135972471?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/5863346656135972471/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=5863346656135972471' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5863346656135972471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5863346656135972471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2011/04/kebobrokan-yang-terselubung-dalam.html' title='Kebobrokan yang Terselubung dalam Moralitas'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-7010763199125033732</id><published>2011-04-19T21:49:00.005+07:00</published><updated>2011-04-21T10:54:08.919+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>Potret Kehidupan Si Manusia Lajang</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;Bagi saya, film &lt;em&gt;Up in the Air&lt;/em&gt; bukan sekedar drama komedi atau drama romantis biasa. Memang banyak bumbu romantika yang saya dapati dalam film ini. Namun, di sini saya melihat dengan utuh potret seseorang yang memutuskan hidup melajang, "menikahi" pekerjaannya yang terhitung langka. Manusia itu adalah Ryan Bingham (George Clooney) yang memilki pekerjaan sebagai tukang pecat karyawan di beberapa perusahaan besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya menduga, film ini sedikit-banyak berkaitan dengan krisis ekonomi  yang terjadi di Amerika beberapa tahun silam. Banyak tenaga kerja harus  dipecati oleh atasannya, karena atasannya bisa jadi sungkan melakukan  hal tersebut -- apalagi pada diri anak buahnya tidak ditemukan alasan  yang cukup kuat atau memadai untuk sebuah pemecatan. Akhirnya, jasa dari  perusahaan Ryan dipakai perusahaan-perusahaan itu. Ryan didelegasikan  pergi ke seantero Amerika, memecati karyawan-karyawan yang ditentukan  oleh perusahaan-perusahaan yang memakai jasanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menonton film ini saya jadi teringat seorang penulis yang mengarang buku &lt;em&gt;I Married Adventures&lt;/em&gt;. Saya lupa siapa namanya -- ia seorang wanita yang jatuh cinta pada petualangan di tempat-tempat terpencil. Saya juga teringat Rachel Carson dalam novel &lt;em&gt;The Highest Tide &lt;/em&gt;yang hidup melajang karena jatuh cinta setengah mati pada laut. Saya, bahkan sampai mengingat salah satu judul (kalau tidak judul film, mungkin judul buku) yang disebut Stephen King dalam memoarnya yaitu &lt;em&gt;I Married a Monster from Outer Space&lt;/em&gt; -- hahaha, kali ini saya sedang bercanda. (Tapi sungguhan, film atau buku yang disebut King itu benar-benar ada lho.)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Intinya, begitu banyak orang yang tidak memiliki alasan bagus mengapa mereka belum juga (mau) menikah, padahal segenap keberadaan dirinya sudah membuatnya layak menikah. Pada Ryan, saya menemukan alasan yang sangat bagus dan logis: dia hidup dari pesawat ke pesawat, hotel ke hotel, dan punya pengamatan yang jeli atas kehidupan pernikahan orang-orang di sekitarnya yang dinilainya lebih banyak gagal daripada berhasil. Saya jadi teringat sebuah cerpen Seno Gumira Ajidarma dalam buku kumpulan ceritanya. Di sana, seorang tokohnya berkata, "Perceraian ternyata sama indahnya dengan pernikahan itu sendiri."&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam beberapa kesempatan, Ryan menyampaikan ceramah yang unik berjudul &lt;em&gt;What's in Your Backpack?&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;Apa yang Ada dalam Ranselmu?)&lt;/em&gt;. Di ceramah-ceramahnya, secara garis besar Ryan mengemukakan pendapatnya yang lugas: sederhanakan hidupmu, tak perlu memasukkan banyak hal dalam hidupmu, tak perlu membebani hidupmu dengan apa pun. Bayangkanlah, bila hal-hal yang perlu Anda tangani hanya ada di dalam ransel yang Anda bawa pergi untuk berkelana ke mana-mana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bila film &lt;em&gt;Into the Wild&lt;/em&gt; -- atau bolehlah juga &lt;em&gt;127 Hours&lt;/em&gt; -- memotret dengan jeli keresahan anak muda yang mencari jati-diri lewat petualangan-petualangan yang ekstrem dan penuh gejolak -- meminjam istilah Bang Haji Rhoma -- "darah muda", &lt;em&gt;Up in the Air&lt;/em&gt; menyuguhkan kisah petualangan yang dilakukan seseorang sambil ia bekerja. Petualang yang ini berdasi, usianya sudah paruh baya, hidupnya sangat mewah, sosoknya begitu elegan dan percaya diri saat tampil di tiap kesempatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;img onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" style="width: 368px; height: 244px;" class="img" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/221931_10150163011943349_649108348_6695544_2499074_n.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Petualang ini, Ryan Bingham, pada akhirnya juga mendapati suatu kenyataan bahwa hidup sendiri terkadang meresahkan. Suatu ketika ia bertemu dengan Alex (Vera Farmiga) yang juga sering bepergian. Jalinan asmara antara dua insan &lt;em&gt;high-class&lt;/em&gt; pun terbuhulkan. Seperti film-film drama romantis yang lain ala Hollywood, asmara itu pun dengan mudah berakhir di ranjang, mengingatkan kita pada satu lagu dangdut yang masih &lt;em&gt;ngetren&lt;/em&gt;: &lt;em&gt;Cinta Satu Malam&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat bertemu dengan Alex, batin Ryan jadi kian sering bergulat: menentukan mana yang lebih baik antara terus menyendiri atau tetap melajang. Saat ini pula, seorang adiknya yang hendak menikah mengajukan permintaan yang ganjil pada Ryan:&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Potret adiknya yang sedang berangkulan dengan calon suaminya diperbesar, ditempel di sebuah karton. Ryan diminta untuk membawa potret yang besar itu sehingga tas bepergiannya tidak muat. Lalu, pada tempat-tempat terkenal di Amerika yang dikunjungi Ryan, Ryan diminta untuk memfoto potret besar itu -- dengan bantuan seseorang yang memegangkan potret itu tentunya -- dengan tempat-tempat terkenal itu menjadi &lt;em&gt;background&lt;/em&gt;-nya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di sinilah film ini mulai menyuguhkan sesuatu yang tampak kontradiktif dengan apa yang telah terbangun begitu mulus sejak awal. Ryan mulai terombang-ambing, mulai bimbang dengan apa yang seharusnya ia putuskan. Dalam sebuah adegan dikisahkan Ryan tiba-tiba meninggalkan ceramahnya yang unik itu tadi. Ia hendak menghampiri Alex, mengajaknya menikah. Tampak dari gelagatnya di adegan itu, ia hendak melepas pandangan-pandangannya selama ini yang eksentrik tentang kesederhanaan hidup, kebahagiaan, dan pernikahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, malangnya -- bisa juga justru &lt;em&gt;beruntungnya&lt;/em&gt; -- ia mendapati Alex sudah bersuami dan memiliki anak. Ya, hubungan mereka berdua yang hanya terjadi beberapa kali tak menyingkap jati-diri Alex yang sebenarnya. Setelah itu -- inilah yang membuat saya ragu Ryan merasa &lt;em&gt;malang&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;beruntung&lt;/em&gt; -- saya bingung melihat ekspresi Ryan: ia tampak sedih, namun juga tampak santai saja, setelah ia mendapati keadaan Alex yang telah menikah itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jason Reitman, sang sutradara, yang sebelumnya menggarap film &lt;em&gt;Juno&lt;/em&gt;, tampaknya berupaya menyuguhkan pandangan yang jernih atas keputusan yang ditetapkan seseorang setelah ia bergulat sekian lama. Ia tak buru-buru, dan terjebak pada generalisasi yang kaku: mengisahkan perubahan drastis pada diri seseorang untuk menerima apa yang telah berlaku secara umum di masyarakat -- dalam hal ini orang dewasa sebaiknya dan sewajarnya menikah -- seperti yang tampak pada film &lt;em&gt;My Big Fat Greek Weeding&lt;/em&gt;, misalnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti &lt;em&gt;Juno &lt;/em&gt;yang batinnya bergulat hebat ketika remaja 16 tahun ini harus mengandung bayi akibat sebuah hubungan seks iseng, &lt;em&gt;Up in the Air &lt;/em&gt;juga mengajak kita untuk memahami sosok Ryan yang unik, yang bahkan di usianya yang telah paruh baya dilanda kebimbangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kehidupan seseorang yang sudah mapan, sejahtera, dan juga sehat, di dalam anggapan masyarakat pada umumnya memang pantas diimbangi dengan pernikahan yang baik. Namun, sekali lagi saya nyatakan, Ryan memiliki banyak alasan yang bagus untuk bertahan hidup melajang dan bertualang sembari bekerja. Namun, pertanyaannya: sampai berapa lama alasan-alasan yang bagus itu bisa dipertahankan, ketika kesepian akibat kesendirian begitu susah ditepis?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hanya Tuhan yang tahu -- oh, apakah itu alasan yang bagus? Entahlah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sidoarjo, 18-19 April 2011&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sidik Nugroho, penikmat film&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Catatan: Saya juga sempat membuat ulasan atas film Juno. Silahkan mampir bila sudi dan sempat. Ini link-nya: &lt;a onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this)," href="http://tuanmalam.blogspot.com/2009/02/keceriaan-dan-kebimbangan-di-empat.html" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://tuanmalam.blogspot.com/2009/02/keceriaan-dan-kebimbangan-di-empat.html&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-7010763199125033732?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/7010763199125033732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=7010763199125033732' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/7010763199125033732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/7010763199125033732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2011/04/potret-hidup-si-manusia-lajang.html' title='Potret Kehidupan Si Manusia Lajang'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-8680392609297277152</id><published>2011-01-10T19:24:00.000+07:00</published><updated>2011-01-10T19:25:55.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>kisah remaja yang ditinggal ayahnya bunuh diri</title><content type='html'>7 januari 2011, iseng-iseng aku baca novel "after" karya francis  chalifour. bercerita tentang francis, remaja 17 tahun yang susah  menghapus kenangan tentang ayahnya yang meninggal bunuh diri. kubaca tak  sampai dua jam, namun meninggalkan kesan yang dalam.&lt;p&gt; &lt;/p&gt;﻿novel  tipis terbitan gpu ini dilabeli teenlit. sosok francis, tokoh utama  dalam novel ini, seorang remaja 17 tahun, digambarkan begitu hidup. aku  jadi teringat pada holden caulfield dalam novel "catcher in the rye"  karya sallinger. francis digambarkan sebagai remaja penurut dari luar,  namun suara batinnya penuh dengan pikiran yang konfrontatif, mirip  holden. novel dengan gaya pengisahan dari sudut pandang orang pertama  ini mengajak pembaca menyusuri ruang batin seorang remaja yang jiwanya  tengah merana.&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;bagi francis, kehilangan ayahnya membuat  hidupnya berantakan. apalagi ayahnya meninggal dengan cara bunuh diri.  ia kehabisan ide dan cara untuk menjelaskan kepada orang-orang di  sekitarnya -- perasaannya, kejadian bunuh diri itu, dan sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;novel  ini penuh dengan kisah berupa adegan-adegan pendek. adegan-demi-adegan  itu adalah berbagai kenangan francis pada mendiang ayahnya. sekilas aku  teringat pada novel "for one more day" karya mitch albom yang  mengisahkan hal yang mirip. bila mitch menggunakan mimpi dan berbagai  adegan surealis untuk menggambarkan kerinduan seorang anak pada ibunya  yang telah meninggal, maka francis dalam novel ini mengandalkan kenangan  yang dapat melintasi benak seorang remaja tentang mendiang ayahnya:  kenangan-kenangan itu dituturkan dengan lirih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;untunglah  francis memiliki adik laki-laki berusia 4 tahun yang polos bernama luc.  saat francis dihinggapi kesedihan yang panjang, luc membuatnya memandang  kehidupan dengan cara yang berbeda. ia belajar dari luc bahwa kehidupan  yang mereka alami masih panjang. dan berbagai tantangan serta  kemungkinan masih terus membentang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;inilah sebuah novel  remaja yang lain dari teenlit kebanyakan. walaupun bukan remaja lagi,  aku bersyukur bisa membacanya. aku terhitung jarang membaca novel-novel  teenlit. dari sekilas pengamatanku, teenlit lebih banyak mengurai cerita  tentang asmara dan kehidupan serba metropolis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"after"  juga mengisahkan sebuah bagian tentang asmara, saat francis bertemu  seorang gadis yang memiliki nasib mirip dengannya, kehilangan salah satu  orang tua. namun pada akhirnya asmara itu hanya bermuara pada  pertemanan biasa, walau francis sebenarnya berharap menjalin hubungan  yang lebih dari sekedar berteman. jadilah francis belajar untuk menata  hidupnya lagi bersama dukungan keluarga dan teman- teman dekatnya --  berusaha tegar, tabah, dan optimis menjalani hidupnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;kesimpulanku,  novel ini menyuguhkan satu sisi kehidupan yang berbeda -- satu sisi  yang jarang ditilik, namun tak jarang dialami banyak remaja masa kini.  dan satu hal yang asyik lainnya adalah profil pengarangnya: ia adalah  seorang guru kelas tujuh dan delapan di sebuah sekolah di kanada, dan  kini ia tengah melanjutkan pendidikannya dengan fokus penelitian  pengaruh kondisi hati remaja yang berduka terhadap prestasi belajar  mereka. ya, penulisnya sedang merangkai cerita yang tak jauh- jauh dari  dunianya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;img class="img" src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs765.ash1/165640_491432503348_649108348_5969039_6489741_a.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;after (luc dan aku), francis chalifour, penerjemah alexandra karina, gpu, 2007, 183 halaman&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;sidoarjo, 7 januari 2011&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-8680392609297277152?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/8680392609297277152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=8680392609297277152' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8680392609297277152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8680392609297277152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2011/01/kisah-remaja-yang-ditinggal-ayahnya.html' title='kisah remaja yang ditinggal ayahnya bunuh diri'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-8260266301672124170</id><published>2010-11-04T15:08:00.000+07:00</published><updated>2010-11-04T15:10:15.996+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kepenulisan'/><title type='text'>Daya Tahan Penulis Opini</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C04%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;Tony Widiastono, mantan redaktur opini harian Kompas, bercerita kalau suatu ketika ia mendapat kiriman e-mail dari seorang penulis yang gigih luar biasa. "Ini adalah tulisan saya yang ke-150," kata penulis itu. "Saya sudah mengirim 149 opini selama ini. Bila naskah ini pun tetap ditolak, saya tak akan pernah berhenti menulis." E-mail itu serta-merta membuat Pak Tony terpana. Ia pun membalas e-mail itu, menyertakan beberapa pengarahan yang penting untuk diperhatikan si penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kisah yang disampaikan Pak Tony dalam seminar Guru Menulis di Media Massa yang dihelat Kompas, Surya, dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) pada tanggal 31 Oktober 2010 lalu di gedung PDAM Surabaya. Dalam ceritanya, ada satu pengarahan yang diberikannya kepada penulis itu, yang penting untuk disimak bersama. Itu berkaitan dengan fokus penulis yang perlu diasah oleh setiap penulis pemula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Sunarko, Wakil Pimpinan Redaksi Surya, yang turut menjadi pemateri juga menegaskan kalau seorang penulis pemula perlu memiliki self-branding yang baik. Self-branding ini adalah proses yang terbentuk lewat proses yang cukup lama karena si penulis terus bertekun dan melakukan penelusuran yang mendalam atas suatu tema, atau bahkan sub-tema yang spesifik. "Semakin spesifik tema dan bahasan tulisan Anda, maka Anda akan menjadi penulis yang membangun self-branding yang baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dapat dilihat dengan para tokoh yang kemudian dikenal luas karena sering menulis tema yang sama seperti Effendi Ghazali (komunikasi-politik), J. Sumardianta (resensi buku), atau Samuel Mulia (parodi dan gaya hidup). Para penulis ini dikenal luas karena sejak awal telah membangun dunia atau bidang penulisan yang khusus. Begitulah para penulis dan karya-karyanya bisa sedemikian besar merebut hati para pembaca: mereka menelurkan dan mengurai gagasan yang unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, perlu diingat, bahwa tiap penulis pasti pernah mengalami kegagalan. Apalagi para penulis artikel opini, sebuah tulisan dengan usia pendek. Berbeda dengan karya yang tak harus memuat isi yang aktual seperti cerpen atau puisi, atau resensi buku yang mungkin masih bisa dibuat setelah setengah tahun bukunya terbit, opini adalah tulisan yang dibuat berdasarkan pengamatan atas situasi yang aktual dan masih hangat diperbincangkan. Bukan hanya aktual, opini tak jarang juga membutuhkan riset berupa pemikiran tokoh lain atau data-data pendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Pak Tony, Pak Sunarko, bahkan Ibu Endah Imawati (redaktur opini harian Surya) yang turut pula menjadi pemateri, bersaksi bahwa artikel opini yang dikirim ke desk redaktur bisa mencapai puluhan dalam sehari. Resiko tulisan ditolak tentunya tak terabaikan. Karena itu, para penulis opini perlu memiliki daya tahan yang lebih tinggi dibandingkan penulis cerpen dan puisi, misalnya. Cerpenis yang karyanya ditolak bisa mengirimkan karyanya ke koran atau majalah lain; sementara penulis opini yang karyanya ditolak, karyanya yang bersifat aktual itu akan basi bila dicobanya untuk dikirimkan ke media lain -- karena tema yang aktual mudah berganti dalam hitungan hari. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho&lt;br /&gt;Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo dan penulis lepas&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-8260266301672124170?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/8260266301672124170/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=8260266301672124170' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8260266301672124170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8260266301672124170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/11/daya-tahan-penulis-opini.html' title='Daya Tahan Penulis Opini'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-8052560553769207229</id><published>2010-11-01T07:59:00.003+07:00</published><updated>2010-11-01T08:05:14.836+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>Dua Refleksi Film (Catatan Lawas)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Men of Honor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara: George Tillman Jr.&lt;br /&gt;Pemain: Robert De Niro, Cuba Coding Jr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TM4R7PyV2lI/AAAAAAAAAbU/z8vhWTkzmzA/s1600/asa1.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 187px; height: 270px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TM4R7PyV2lI/AAAAAAAAAbU/z8vhWTkzmzA/s320/asa1.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534380701632551506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sulit melupakan akting dari Robert De Niro dan Cuba Gooding, Jr. dalam Men of Honor! Banyak adegan menyentuh dalam film ini yang tak terlupakan. Ini adalah film yang berangkat dari kisah nyata tentang penyelam-penyelam Angkatan Laut Amerika. Di dalam film ini Robert De Niro berperan sebagai Leslie William Sunday dan Cuba Gooding, Jr. sebagai Carl Brashear.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Billy (William) Sunday semula berkedudukan sebagai Master Chief. Beberapa kasus kekerasan yang dilakukannya membuat ia mendapatkan hukuman dan diturunkan pangkat. Ia bertemperamen keras dan liar. Ia suka berkelahi dengan istrinya yang cantik, Gwen (Charlize Theron). Sedangkan Carl Brashear adalah seorang pemuda kulit hitam tegar yang berpegang pada komitmennya untuk menjadi penyelam. Di film ini, ia selalu terlihat teguh dan tenang saat menghadapi segala perlakuan buruk yang diterimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa belajar tentang makna iman dari film ini. Iman berarti pantang menyerah! Dan, iman itulah yang dimiliki Carl Brashear sehingga ia pada akhirnya bisa menjadi penyelam. Untuk mencapai semua ini ia harus mengalami konfrontasi dengan rekan-rekan sependidikannya di Sekolah Selam (U.S. Navy Dive &amp;amp; Salvage School) di Bayonne, New Jersey, yang semua memusuhinya kecuali Snowhill (Michael Rapaport) yang gagap; karena saat itu tak ada satupun orang Negro yang memiliki kesempatan untuk menjadi penyelam! Ia juga harus sabar menghadapi Billy Sunday yang keras. Ia harus menghadapi Jo, gadis yang akhirnya dinikahinya karena kurang setuju bila Carl menjadi penyelam. Saat menempuh pendidikan selam, ia kehilangan ayah tercintanya yang berwibawa dan sangat dihormatinya. Pendeknya, ia mengalami 1001 halangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halangan terbesar yang dihadapi Carl untuk tetap menjadi penyelam adalah saat ia mengalami kecelakaan yang membuat kaki kirinya harus dipotong dan mengenakan kaki palsu. Ini terjadi setelah ia menjadi pahlawan karena menemukan hulu ledak seberat 50 megaton di lautan pesisir Spanyol. Karena kecelakaan ini, Kapten Hanks (David Conrad) menyatakan supaya ia beristirahat sebagai penyelam. Namun, ia tak mau dan bersikeras tetap menjadi penyelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekad ini harus dibayar dengan harga yang mahal! Di pengadilan, Carl diijinkan kembali menjadi penyelam hanya bila ia mampu berjalan sebanyak 12 langkah dengan mengenakan pakaian selam seberat 290 pon! Nah, inilah bagian yang paling menyentuh dalam film ini. Didampingi Billy, Carl akhirnya mampu menyelesaikan 12 langkahnya dengan gemilang! (Jangan lewatkan dialog menarik antara Carl dan Kapten Hanks serta pemberian hitungan 12 langkah oleh Billy yang diselingi teriakan-teriakan untuk memberi semangat kepada Carl!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun setelah kejadian ini, Carl akhirnya menjadi orang Negro pertama yang berpangkat Master Diver dalam Angkatan Laut Amerika. Ia membuat sejarah sebagai orang pertama yang diamputasi dan tetap bekerja sebagai penyelam yang bekerja penuh selama 9 tahun berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicaci maki, ditolak dan diperlakukan tidak adil telah menjadi bagian hidup Carl Brashear semasa ia memperjuangkan cita-citanya menjadi penyelam. Namun, ia bertahan dan tetap berpegang pada komitmen dan terus berjuang dengan gigih. Kira-kira apakah yang membuatnya berlaku demikian? A-S-N-F. Empat huruf yang diukir ayah Carl pada sebuah radio yang ia rakit sendiri. A Son Never Forgets (Seorang anak lelaki yang tidak akan terlupakan). Radio ini ia berikan kepada Carl saat ia meninggalkan keluarganya untuk menjadi penyelam. Saat itu ia berpesan supaya Carl jangan menjadi sama dengannya: petani miskin yang bekerja untuk orang lain dari Sonora, Kentucky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda? Apa tujuan hidup Anda dan sudahkah Anda berjuang keras mencapainya? Bila belum, baiklah kita belajar dari film ini agar di dalam mencapai tujuan hidup kita... tak akan menyerah! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sidik Nugroho, Malang, 12 Februari 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Awakenings&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara: Penny Marshall&lt;br /&gt;Pemain: Robert De Niro, Robin Williams, Julia Kavner&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hal-hal yang terindah dalam dunia ini tidak bisa dilihat atau disentuh, namun dirasakan dalam hati," demikianlah kata Helen Keller, seorang pengacara terkenal yang tuli dan juga buta. Hal yang sama berlaku dalam film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film Awakenings mengisahkan perjuangan seorang dokter bernama Malcolm Sayer (Robin Williams) di dalam menangani pasien yang mengalami gangguan syaraf akut (post-encephalitic). Penyakit ini membuat orang yang mengalaminya tidak bisa melakukan apa-apa dan harus dibantu oleh orang lain bila melakukan sesuatu. Kebanyakan, mereka yang menderitanya hanya bisa duduk diam di atas kursi roda. Gejalanya seperti penyakit Parkinson, namun lebih parah. Dalam pekerjaannya, Dr. Sayer dibantu dengan Eleanor Costello (Julia Kavner) yang setia. Ia bekerja di Chronic Hospital di Bronx.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari di musim panas tahun 1969 kejaiban terjadi. Seorang kimiawan datang ke Chronic Hospital dan di hadapan dokter-dokter di sana, ia mempresentasikan tentang kemungkinan kesembuhan akibat pemberian suatu ramuan kimia bernama L-Dopa. Ramuan ini akhirnya digunakan sebagai percobaan pada Leonard Lowe (Robert De Niro). Keesokan harinya, Leonard sembuh! Ia melakukan apa yang paling suka dilakukannya sejak kecil: menulis namanya, Leonard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian obat akhirnya diberikan kepada lima belas orang pasien, dan keajaiban terjadi: mereka semua sembuh! Mereka semua diajak berjalan-jalan dan bersenang-senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TM4SNcG4l_I/AAAAAAAAAbc/1OZyQLEK94o/s1600/asa+2.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 184px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TM4SNcG4l_I/AAAAAAAAAbc/1OZyQLEK94o/s320/asa+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534381014177585138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Satu peristiwa yang tidak kalah menarik adalah tumbuhnya cinta di dalam hati Leonard terhadap seorang gadis cantik bernama Paula (Penelope Ann Miller). Gadis ini dengan setia mengunjungi ayahnya dan membacakan kisah-kisah olahraga buat ayahnya yang mengalami sakit hampir serupa (karena sebelum sakit, ayahnya sangat menyukai olahraga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, inilah bagian yang paling menyentuh buat saya. Waktu itu, Paula hendak meninggalkan Leonard di rumah sakit karena jam kunjungan sudah berakhir. Kata-kata terakhir yang diucapkan Leonard kepadanya, "Ayahmu tahu. Ayahmu tahu kalau kau mengunjunginya." Lalu, Paula meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, pengaruh L-Dopa hanya berlangsung selama musim panas di tahun 1969. Setelah itu, mereka semua kembali dalam keadaan yang semula. Mereka semua hanya bisa duduk diam di atas kursi roda. Menyedihkan. Namun, memang demikian yang terjadi -- film ini berangkat dari kisah nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum film ini berakhir, Dr. Sayer menyampaikan pidatonya. Ia berkata bahwa, "Jiwa manusia lebih kuat dari pada obat manapun dan itulah yang harus dipelihara." (Human spirit is more powerful than any drugs and that was must be nursed.) Leonard telah mengatakan kepada Paula bahwa orang-orang yang sakit seperti ayahnya bisa merasakan kehadiran orang lain yang memberikan kasih sayang dan perhatian. Ketenangan jiwa atau hati manusia karena kasih dari orang lain di dalam kasus seperti ini lebih penting daripada obat. Helen Keller benar, yang terindah (bagi beberapa orang) mungkin tidak bisa dilihat dan disentuh, namun bisa dirasakan dalam hati. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sidik Nugroho, Malang, 25 Januari 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Saya sempat lupa pernah membuat catatan kecil atau refleksi atas dua film ini. Terima kasih buat Mas Arie Saptaji yang sudah sharing link-nya. Dulu, dua catatan ini dipublikasikan di website yang keren: www.geocities.com/denmasmarto. :-D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-8052560553769207229?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/8052560553769207229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=8052560553769207229' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8052560553769207229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8052560553769207229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/11/dua-refleksi-film-catatan-lawas.html' title='Dua Refleksi Film (Catatan Lawas)'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TM4R7PyV2lI/AAAAAAAAAbU/z8vhWTkzmzA/s72-c/asa1.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-9167064715701085718</id><published>2010-10-26T12:56:00.003+07:00</published><updated>2010-10-26T19:22:10.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>Tua-tua Keladi yang Tak Kunjung Tua</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TMbHs-By-vI/AAAAAAAAAbE/NziwpVLLZYg/s1600/reda.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 180px; height: 264px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TMbHs-By-vI/AAAAAAAAAbE/NziwpVLLZYg/s320/reda.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532328767649938162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Menjelang jam empat dini  hari, Frank Moses (Bruce Willis), seorang pensiunan CIA, terbangun dari  tidurnya. Seperti hari-hari lainnya, ia tampak kurang bersemangat  menjalani hari ini. Hidupnya agak berseri dengan kehadiran seorang  wanita yang belum pernah ia temui bernama Sarah Ross (Mary-Louise  Parker), seorang pegawai di kantor pensiunan. Selama beberapa waktu  mereka saling bicara lewat telepon untuk hal-hal yang pribadi, bukan  hanya soal kiriman uang pensiun.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di dini hari ini,  segerombolan orang tak dikenal menyerang rumahnya secara tiba-tiba. Tiga  orang menyusup diam-diam ke dalam rumahnya. Dengan tangkas Frank  mengalahkan mereka bertiga, bahkan para penyerang lain yang berada di  luar rumahnya. Strategi yang dipakai Frank dalam mengalahkan  musuh-musuhnya sungguh tak terduga -- salah satunya memanaskan beberapa  peluru senapan di atas panci penggorengan sehingga menimbulkan ledakan  seperti orang sedang berbaku-tembak. Ya, tembak-menembak terjadi begitu  bising di awal film ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rumah Frank yang berada di  Cleveland amburadul, nyaris runtuh total. Ia pun pergi ke Kansas, menuju  ke rumah Sarah. Sarah terkejut dengan kedatangan Frank yang tiba-tiba.  Frank bahkan menyatakan bahwa ia sedang diburu oleh orang-orang yang  berniat membunuhnya. Sarah kaget bukan kepalang, tak menduga pertemuan  pertamanya dengan Frank menjadi seperti ini. Tanpa penjelasan  panjang-lebar, Sarah kemudian "diculik" oleh Frank demi keamanan mereka  bersama. Frank membawa Sarah menemui beberapa teman lamanya untuk  menyingkap motif di balik penyerangan terhadap dirinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sampai di sini, &lt;em&gt;RED&lt;/em&gt;  menyuguhkan kisah yang sangat menghibur untuk diikuti. Walaupun memuat  berbagai kisah persekongkolan dari hasil rekaan, adegan demi adegan yang  ditampilkan lebih banyak menghibur daripada membebani penonton untuk  mengetahui siapa dalang di balik semua konflik ini. Persekongkolan yang  dibangun di film ini bahkan sampai melibatkan rencana pembunuhan wakil  presiden. Persekongkolan yang mengingatkan saya pada sebuah film lain, &lt;em&gt;Salt&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;  Aktor dan aktris yang berlaga di film ini juga menyuguhkan akting yang  apik. Selain Sarah, ada sederet tokoh lain yang berjuang menyelamatkan  Frank dari orang-orang yang memburunya. Ada Victoria (Helen Mirren) yang  begitu kalem namun sering juga beringas. Ada juga Joe (Morgan Freeman),  Marvin (John Malkovich), dan Ivan (Brian Cox) yang sering tampil kocak  dan tak terduga.&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tokoh-tokoh yang sudah tua ini (kecuali Sarah  Ross) bergabung menjadi sebuah tim yang harus berhadapan dengan seorang  agen CIA, William Cooper (Karl Urban). Anggota tim Frank ini adalah  teman-temannya di tahun 80-an dulu. William diperintahkan untuk memburu  Frank dan beberapa orang lain yang menjadi saksi peristiwa pembunuhan  massal di Guatemala pada tahun 1981 yang dilaporkan seorang wartawan &lt;em&gt;New York Times&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Film yang diadaptasi dari novel grafis ini membuat saya serta-merta teringat pada Danny Ocean dan timnya dalam tiga film &lt;em&gt;Ocean's Eleven&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Ocean’s Twelve&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;Ocean&lt;/em&gt;&lt;em&gt;'s Thirteen&lt;/em&gt;.  Kemiripan di antara keduanya adalah banyaknya adegan yang berisi  kejutan tak terduga ketika para jagoan beraksi mengecoh musuh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Film lain yang saya ingat adalah &lt;em&gt;Expendables&lt;/em&gt;  yang juga kurang-lebih bertema cerita sama. Para jagoan di kedua film  ini juga berlatar-belakang sama. Mereka adalah orang-orang yang sudah  tua – atau sedang beranjak tua -- yang terlambat menikah atau memang tak  bisa menikah karena tuntutan tugas. Tingkah-polah tim yang  beranggotakan orang-orang tua yang dibentuk Frank ini seolah-olah hendak  menggarisbawahi bahwa usia tua tak pernah menghalangi cinta untuk  tumbuh atau bersemi kembali. Dan usia tua juga tak pernah menjadi  halangan untuk bisa tampil kocak, liar, dan tak terduga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itulah  yang terjadi pada Frank, yang kepadanya judul film ini ditujukan: RED  (Retired: Extremely Dangerous). Walaupun sangat berbahaya dan liar,  Frank juga sosok yang romantis. Ia mendapati cintanya bersemi lagi  ketika menelepon Sarah berulang-ulang untuk menanyakan cek pensiunnya.  (Ia sengaja merobek beberapa cek pensiunnya agar bisa menelepon Sarah  lagi dan lagi.) Itu juga yang dialami Ivan dan Victoria -- cinta mereka  bersemi kembali ketika mereka terlibat dalam misi yang dihelat oleh  Frank ini.&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TMbH0R3TAjI/AAAAAAAAAbM/OAoAaxmpsw8/s1600/redb.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 178px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TMbH0R3TAjI/AAAAAAAAAbM/OAoAaxmpsw8/s320/redb.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532328893233693234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dan,  usia memang tak pernah menjadi penghalang bagi Marvin untuk (tetap)  menjadi seorang penembak yang jitu. Dalam sebuah adegan, ditampilkan  Marvin beradu tembak dengan seorang wanita yang memanggilnya Old Man.  Dongkol dengan panggilan itu, wanita yang menggunakan senjata yang lebih  canggih dan besar ditantangnya beradu tembak dengan sebuah pistol kecil  yang ia miliki. Ketika mereka sama-sama menembak, kedua peluru yang  ukurannya berbeda jauh bertemu di udara. "Duar!" Ledakan terjadi. Si  wanita itu terbakar, lalu lenyap terkena ledakan.&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebuah  film kadang memuat pesan dan kritikan tingkat tinggi, menantang pikiran  kita untuk menelusuri berbagai pelik dan kemelut yang terjadi atas suatu  masyarakat atau bangsa. Namun ada juga yang tampil tanpa ambisi politis  atau tendensi khusus lainnya, tak juga memuat berbagai sindiran dan  bersusah-payah merepresentasi keadaan masyarakat. Nah, &lt;em&gt;RED&lt;/em&gt;  adalah jenis yang kedua. Kita hanya perlu menyimaknya dengan duduk  rileks sambil sering tertawa dan menyadari: para tua-tua keladi di film  ini memang tak pernah ingin menjadi tua. (*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sidik Nugroho, penikmat film&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Judul film: RED&lt;br /&gt;Sutradara: Robert Schwentke&lt;br /&gt;Pemain: Bruce Willis, Mary-Louise Parker, Morgan Freeman, John Malkovich, Helen Mirren&lt;br /&gt;Skenario: Jon Hoeber dan Erich Hoeber (Berdasarkan novel grafis karya Warren Ellis dan Cully Hamner)&lt;br /&gt;Tahun rilis: 2010&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-9167064715701085718?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/9167064715701085718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=9167064715701085718' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/9167064715701085718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/9167064715701085718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/10/tua-tua-keladi-yang-tak-kunjung-tua.html' title='Tua-tua Keladi yang Tak Kunjung Tua'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TMbHs-By-vI/AAAAAAAAAbE/NziwpVLLZYg/s72-c/reda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-5588656280968502904</id><published>2010-10-18T16:30:00.007+07:00</published><updated>2010-10-21T11:49:36.335+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Rekam-Jejak Pengembaraan Buku 2008-2010</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TLwT__WQcbI/AAAAAAAAAZ0/wOnzyf4QtiY/s1600/asa.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 259px; height: 171px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TLwT__WQcbI/AAAAAAAAAZ0/wOnzyf4QtiY/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529316432561598898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sekitar awal tahun 2008, niat untuk mengulas sebuah buku mulai muncul dalam diri saya. Niat itu muncul karena sebelumnya saya suka membuat semacam catatan reflektif setelah menonton film. Ya, karena tak tahu banyak dengan hal-hal yang berhubungan dengan hal-hal teknis perfilman, sampai sekarang saya lebih suka menyebut catatan yang saya buat tentang film sebagai suatu refleksi berdasarkan film, bukan ulasan film. Melihat ulasan-ulasan di majalah film seperti Cinemags atau Movie Monthly saya yakin kalau catatan saya tentang film memang belum pas disebut ulasan film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pada saat berhadapan dengan buku, saya tak menemukan banyak hal teknis yang terlalu membebani saya untuk mengulasnya. Kebetulan, beberapa tahun silam saya juga pernah membeli buku karya Daniel Samad yang berjudul Dasar-dasar Meresensi Buku. Setelah menemukan buku ini (kalau tidak salah sekitar tahun 2005-2006), saya pernah meresensi dua buku yaitu Di Bawah Sinar Lampu Merkuri karya Slamat P. Sinambela dan Diciptakan Seperti Sebuah Tarian karya Arie Saptaji untuk saya pajang di situs gratisan Geocities (fasilitas dari Yahoo!). Namun, saya tak banyak menekuni resensi buku. Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menulis renungan atau refleksi berdasarkan film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seperti film, buku membuat saya lebih nyaman menyusun sebuah ulasan. Tantangan pertama datang dari guru menulis saya, Arie Saptaji. Dia bilang kalau saya sempat, buatlah sebuah resensi untuk sebuah bukunya, Warrior: Sepatu untuk Sahabat. Selama beberapa hari kemudian saya membaca buku itu, lalu meresensinya. Saya mencoba untuk mempublikasikan resensi itu di koran, tapi gagal dimuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan itu mendorong saya untuk meresensi buku lebih baik lagi. Saya akhirnya bertemu dengan tiga guru lain, para resensor, yaitu Nur Mursidi, Hernadi Tanzil, dan Iqbal Dawami. Saya membaca dan mempelajari resensi-resensi mereka di blog mereka masing-masing. Saya belajar bagaimana cara mengirimkan resensi yang baik ke koran. Saya juga belajar satu hal yang menyenangkan, yaitu bagaimana memohon kiriman buku ke penerbit untuk dikirimkan buat saya, agar saya tidak selalu membeli buku yang mau diresensi. Saya jadi lumayan sering dapat buku gratis -- asyik lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sejak awal tahun 2008 hingga Oktober 2010, inilah buku yang pernah saya buatkan resensi. Judul-judul di bawah ini tidak saya susun berdasarkan waktu pembuatan resensi, tapi secara acak. Bila berminat membaca, semua resensi ini dapat Anda temukan di blog saya, atau silahkan googling saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku Fiksi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Warrior, Sepatu untuk Sahabat - Arie Saptaji&lt;br /&gt;2. Novel Pangeran Diponegoro, Menggagas Ratu Adil - Remy Sylado&lt;br /&gt;3. Pria Cilik Merdeka - Terry Pratchett&lt;br /&gt;4. My Life as a Fake - Peter Carey&lt;br /&gt;5. Kembang Jepun - Remy Sylado&lt;br /&gt;6. Ma Yan - Sanie B. Kuncoro&lt;br /&gt;7. Gajah Sang Penyihir - Kate DiCamillo&lt;br /&gt;8. Tangan untuk Utik - Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;9. Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia - Agus Noor&lt;br /&gt;10. Garis Perempuan - Sanie B. Kuncoro&lt;br /&gt;11. Kumpulan Budak Setan - Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad&lt;br /&gt;12. Ciuman di Bawah Hujan - Lan Fang&lt;br /&gt;13. Teman Empat Musim - Ida Ahdiah&lt;br /&gt;14. Bob Marley - Kumpulan cerita Sriti.com&lt;br /&gt;15. Mata Keenam - Melody Carlson&lt;br /&gt;16. Guardians of Ga'Hoole (Diculik!) - Kathryn Lasky&lt;br /&gt;17. Olenka - Budi Darma&lt;br /&gt;18. Rani dan Tiga Harta Peri (Tinker Bell) - Kimberly Morris&lt;br /&gt;19. Demi Allah, Aku Jadi Teroris - Damien Dematra&lt;br /&gt;20. The Highest Tide - Jim Lynch&lt;br /&gt;21. Life of Pi - Yann Martel&lt;br /&gt;22. Sang Pencerah - Akmal Nasery Basral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku Nonfiksi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pacaran Asyik dan Cerdas - Arie Saptaji&lt;br /&gt;2. Simply Amazing - J. Sumardianta&lt;br /&gt;3. I Can (Not) Hear - Feby Indriani dan San C. Wirakusuma&lt;br /&gt;4. Cita-cita - Iqbal Dawami&lt;br /&gt;5. Dari Kepompong Menjadi Kupu-kupu - H.D. Iriyanto&lt;br /&gt;6. Peta 50 - Tempat Makan Makanan Favorit di Malang - Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;7. Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya - Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace&lt;br /&gt;8. Sukses Wirausaha Laundry di Rumah - Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;9. It's a Wonderful Life - Arie Saptaji&lt;br /&gt;10. Amira and Three Cups of Tea - Greg Mortenson&lt;br /&gt;11. Darah-Daging Sastra Indonesia - Damhuri Muhammad&lt;br /&gt;12. The Power of Creativity - Peng Kheng Sun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap buku memiliki kekhasan masing-masing. Ada buku yang begitu menyentuh seperti I Can (Not) Hear, It's a Wonderful Life, Teman Empat Musim atau Garis Perempuan. Ada buku yang tegang, imajinatif, dan membuat penasaran seperti Kumpulan Budak Setan, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia, Olenka, Tangan untuk Utik, atau Life of Pi. Ada yang begitu inspiratif seperti Cita-cita dan Amira and Three Cups of Tea. Ada yang begitu ringan seperti dua buku yang ditulis oleh Haryo Bagus Handoko. Ada juga yang lumayan berat dicerna dan menantang seperti Ciuman di Bawah Hujan, Darah-Daging Sastra Indonesia, atau Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya. Ada juga yang isinya campur-baur, namun tiap bagiannya memiliki keasyikan dan kenikmatan yang berbeda ketika dibaca seperti Bob Marley. Tidak bisa saya sebutkan semua kesan saya untuk semua buku di atas. Silahkan mampir ke resensi-resensi saya bila hendak tahu lebih jauh buku yang pernah saya ulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada enam buku, yaitu Keep Your Hand Moving karya Anwar Holid, The Ninth karya Ferenc Barnas, Beginning Theory karya Peter Barry, Bulan Celurit Api karya Benny Arnas, Musim yang Menggugurkan Daun karya Yetti A.Ka dan sebuah buku kumpulan puisi delapan penyair muda (disunting oleh Pringadi Abdi Surya) berjudul Teka-teki tentang Tubuh dan Kematian yang resensinya sudah saya buat, sedang saya buat, atau sedang saya rencanakan untuk diresensi sampai akhir Oktober. Buku yang sudah saya resensi belum bisa saya tampilkan secara online karena beberapa pertimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman ini, saya beranggapan kalau meresensi buku tak selalu mudah. Kadang melelahkan. Saya mengindahkan prinsip yang dimiliki oleh Hernadi Tanzil, guru saya itu. Ia berkata suatu waktu kepada saya saat kami chatting, "Saya tidak akan meresensi buku sebelum saya selesai membacanya." Buku yang tebalnya ratusan halaman, dibaca beberapa minggu, lalu dibuatkan resensinya, belum tentu dimuat koran. Membacanya saja kadang melalahkan bila kondisi pikiran dan tubuh lagi tak menentu. Belum lagi mendapat kenyataan kalau resensi itu ditolak. Tapi, itulah yang sering saya alami: resensi yang sudah saya buat di atas lebih banyak yang ditolak koran daripada yang dimuat. Mungkin analisis saya kurang tajam, atau bahasanya kurang mantap, atau apalah. Yang jelas dan pasti, keputusan memuat resensi ada di redaktur koran, dan mereka yang lebih tahu jawaban mengapa sebuah resensi layak dimuat atau ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terlepas dari semua penolakan yang pernah saya terima, saya menganggap meresensi buku sebagai pekerjaan yang mengasyikkan. Saya suka melakukannya di warung kopi. Ruang kamar kos saya kadang begitu tampak membosankan: empat tembok yang sama selalu saya hadapi. Di warkop ada suasana berbeda yang asyik buat meresensi buku. Nah, pekerjaan apa lagi yang dapat saya lakukan di warkop selain meresensi buku -- daripada tengak-tenguk seperti orang stres?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, satu hal yang terakhir, gara-gara saya suka meresensi buku-buku sastra sejak awal tahun ini, beberapa orang menjuluki saya esais, bahkan ada yang menyebut saya kritikus sastra. Duh, rasanya kok berat ya julukan itu? Jujur, saya tidak tahu apa beda esai, kritik, atau resensi. Identitas yang saya cantumkan di akhir resensi biasanya "Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo", atau "pembaca dan penikmat sastra Indonesia". Bagi saya, tulisan yang saya buat sebagai ulasan atas sebuah karya sedapat mungkin saya ulas dengan apreasiasi dan timbangan yang memadai. Bila ada wacana dan ilustrasi yang termuat di dalamnya (yang tampaknya menjadi salah satu syarat bagi esai atau kritik), saya menganggap itu sebagai selingan atau pemanis ulasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan depan, rencananya saya akan berhenti meresensi buku dulu. Saya ingin melakukan variasi sedikit. Seperti yang saya sebutkan, kadang melelahkan mencerna sebuah karya, mengapresiasinya, lalu menganalisisnya. Mungkin sampai bulan Maret 2011, saya berhenti sejenak mengulas buku, dan beralih mengerjakan karya-karya kreatif saya sendiri yang belum saya ketahui apa itu -- mungkin menulis cerpen, puisi, novel, atau buku, atau apalah yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah catatan ini dibuat. Kiranya dunia perbukuan dan sastra Indonesia selalu marak dengan ulasan dan apresiasi dari para pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang-Sidoarjo, 17-18 Oktober 2010&lt;br /&gt;Sidik Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-5588656280968502904?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/5588656280968502904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=5588656280968502904' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5588656280968502904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5588656280968502904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/10/rekam-jejak-pengembaraan-buku-2008-2010.html' title='Rekam-Jejak Pengembaraan Buku 2008-2010'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TLwT__WQcbI/AAAAAAAAAZ0/wOnzyf4QtiY/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-4695901461783458856</id><published>2010-10-16T12:00:00.003+07:00</published><updated>2010-10-16T12:05:10.161+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Potret Pengucapan Syukur yang Bersahaja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TLkyGT8TNgI/AAAAAAAAAZk/LTuC6t2zbEU/s1600/asa.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Judul buku: It's a Wonderful Life&lt;br /&gt;Penulis: Arie Saptaji&lt;br /&gt;Penerbit: Gloria Graffa&lt;br /&gt;Tebal: 184 halaman&lt;br /&gt;Cetakan pertama, 2010&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"&lt;em&gt;Les hommes sont tous condamnés à mort avec des sursis indéfinis.&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt;&lt;p&gt;~ Victor Hugo&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Semua orang telah dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan yang tidak ditentukan," demikian yang tertulis dalam buku klasik karya Victor Hugo, &lt;em&gt;Hari Terakhir Seorang Terpidana Mati&lt;/em&gt;. Hidup adalah kefanaan, dan tiap manusia tidak pernah tahu kapan menjemput ajalnya masing-masing. Sayangnya, tak jarang begitu banyak orang yang menyia-nyiakan hidupnya karena merasa mendapat banyak hal yang tidak pantas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kekecewaan, kehilangan dan segala kepahitan yang dialami seseorang bisa terjadi sedemikian parah. Tak jarang, segala hal tak baik tersebut membuat seseorang memutuskan mandek untuk meraih hal yang berharga dalam hidup ini, bahkan mengakhiri hidupnya. Lewat bukunya, Arie Saptaji ingin menunjukkan hal-hal yang semestinya membuat kita bersyukur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TLkyGT8TNgI/AAAAAAAAAZk/LTuC6t2zbEU/s1600/asa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 273px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TLkyGT8TNgI/AAAAAAAAAZk/LTuC6t2zbEU/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5528505101587789314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;"&lt;em&gt;It's a wonderful life&lt;/em&gt;," kata-kata yang menjadi judul buku ini sama persis dengan judul sebuah film klasik yang melegenda. Kisahnya tentang seorang bankir, George Bailey, yang hampir kehilangan segalanya karena hutang dan kealpaan asistennya. Semasa kecil ia juga mengalami kecelakaan yang membuat sebuah telinganya tuli. Di masa muda ia juga mengurungkan niat untuk menjelajah dunia karena ayahnya menghendaki ia meneruskan bisnis keluarga.&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, keluarga yang ia miliki adalah anugerah terbaiknya. Titik balik terbesar dalam hidupnya ia dapatkan ketika menyadari betapa istri, keempat anaknya dan orang-orang di sekelilingnya adalah anugerah-anugerah yang tak bisa ditukar dengan apa pun. Nah, seperti George Bailey yang tak luput dirundung malang, Arie Saptaji mengisahkan banyak hal yang pribadi dalam bukunya ini: hal-hal yang membuat hidupnya pantas disyukuri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam sebuah bagian, Arie mengisahkan Amadeus Aaron, anaknya yang meninggal hanya lima jam setelah ia lahir prematur. Dengan lugas dan tegar Arie menuliskan catatan dan renungannya tentang kepergian Amadeus yang mendadak dan tidak diharapkan siapa pun. "Sepanjang kebaktian penghiburan, saya hanya bisa menatap langit Yogya yang biru cerah bertabur serpihan awan putih," tulisnya dengan lirih dan indah. Di masa lalu, seorang penyair terkenal bernama J.E. Tatengkeng juga menuliskan puisi yang begitu lirih atas kepergian anaknya yang baru saja lahir:&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anak kami Tuhan berikan&lt;br /&gt;Anak kami Tuhan panggilkan&lt;br /&gt;Hati kami Tuhan hiburkan&lt;br /&gt;Nama Tuhan kami pujikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti itulah sebuah potret pengucapan syukur yang Arie suguhkan. Tulisannya membuat kita terpana dan merenung: betapa kehidupan dapat ditilik dari sisi yang lain. Tulisannya membuka mata batin yang tertutup oleh kedegilan hati, dan menjelaskan daya lihat kita yang kabur untuk memahami maksud dan rencana Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam bagian-bagian lain Arie mengisahkan dan mengajak pembaca merenungkan banyak hal seputar kehidupan sehari-hari dalam keluarga: hal-hal yang bersahaja dan terkesan remeh-temeh seperti bagaimana memilih tayangan yang baik di televisi, meluangkan waktu berjalan-jalan bersama anak-anak, mensyukuri berkat yang diberikan Tuhan dalam keluarga lewat pekerjaannya sebagai seorang penulis dan penerjemah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ibarat lagu, apa yang Arie tuliskan sama seperti yang pernah dinyanyikan Welyar Kauntu, "Bila Engkau tak besertaku, kami tak mau berjalan. Kuperlu Tuhan pimpin langkahku dengan kasih karunia-Mu." Nyanyian yang dikembangkan dari beberapa ayat di Keluaran 33 ini mewakili butir-butir renungan yang Arie sampaikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;SELAIN hal-hal di atas, Arie juga menceritakan sebuah kisah yang menggugah tentang pertemuannya dengan sahabatnya di dalam penjara. Sahabatnya ini adalah salah satu contoh kegigihan hidup yang nyata. Ia mengingatkan kita pada sosok Rubin Carter yang diperankan Denzel Washington dalam film &lt;em&gt;Hurricane&lt;/em&gt;. Di dalam penjara si sahabat ini tidak mandek dan bersedih hati. Ia malah suka menulis. Suatu hari ia menulis sebuah resensi atas buku &lt;em&gt;The Impact&lt;/em&gt; (karya Arie Saptaji juga) dan menjadi pemenang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada tiga hal lain dalam buku ini yang awalnya terasa agak melenceng dari bagian-bagian lain. Itu adalah bagian tentang Paskah, Natal, dan Kenaikan Kristus. Terasa agak melenceng, karena tiga bagian ini tak membahas hal-hal yang terjadi sehari-hari. Terutama pada bagian tentang Kenaikan Kristus, Arie menghadirkan bahasan yang agak teologis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, dengan menyertakan bagian-bagian ini, agaknya Arie hendak menggarisbawahi bahwa kelahiran, kematian-kebangkitan dan kenaikan Kristus adalah peristiwa-peristiwa yang penting. Dari ketiganya kita memperoleh alasan mengapa kita perlu senantiasa bersyukur dalam hidup dan yakin bahwa nantinya, setelah kita menjalani kehidupan yang fana ini, ada upah yang akan kita terima dalam kerajaan Allah dan kehidupan kekal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;BEGITULAH Arie Saptaji menyampaikan catatan-catatannya yang reflektif tentang kehidupan. Di antara dua puluh lebih buku lain yang sudah ia tulis, baru buku ini yang terasa begitu pribadi. Di dalamnya juga ada foto-foto pribadi yang disertakan: foto keluarga, foto pernikahan, foto ketika ia mengantar anaknya bersekolah, juga foto ketika ia menimang Amadeus Aaron, putranya yang telah tiada.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Lewat hidupmu yang hanya lima jam, engkau memperlihatkan betapa kasih Allah itu adalah gunung kekuatan kita. Kami akan meneruskan perjalanan. Di depan tak ayal masih akan ada badai," demikian beberapa bagian "surat perpisahan" yang Arie tuliskan untuk Amadeus Aaron.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Dum vita est, spes est.&lt;/em&gt; Ketika masih ada kehidupan, di situ pula masih ada harapan, demikian Cicero pernah menulis suatu ketika. (*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sidoarjo, 1-2 Oktober 2010&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-4695901461783458856?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/4695901461783458856/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=4695901461783458856' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4695901461783458856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4695901461783458856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/10/potret-pengucapan-syukur-yang-bersahaja.html' title='Potret Pengucapan Syukur yang Bersahaja'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TLkyGT8TNgI/AAAAAAAAAZk/LTuC6t2zbEU/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-812779907383836887</id><published>2010-10-01T09:11:00.004+07:00</published><updated>2010-10-01T09:21:31.794+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Fabel yang Digarap Penuh Kesungguhan</title><content type='html'>Judul Buku: Guardians of Ga’ Hoole (Diculik!)&lt;br /&gt;Penulis: Kathryn Lasky&lt;br /&gt;Penerjemah: T. Dewi Wulansari&lt;br /&gt;Tebal buku: 338 halaman&lt;br /&gt;Cetakan pertama, 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku telah menyelamatkan diriku&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dengan memberi kepercayaan kepada sayap-sayap muda.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terberkatilah mereka yang percaya,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mereka pasti terbang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;~ Doa kuno burung hantu, Diculik!, halaman 245&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILA kita memperhatikan buku-buku untuk anak dan remaja yang dijual di toko-toko buku besar, maka tampak jelas bahwa dongeng dan epik-fantasi cukup digandrungi akhir-akhir ini. Cerita-cerita tentang manusia yang hidup di negeri khayalan – atau pun di planet Bumi – dikisahkan dengan antusias oleh para pencerita. Namun, masih banyak kisah yang melulu menghadirkan makhluk-makhluk yang sama seperti peri, kurcaci, kuda sembrani, raksasa, dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, cerita-cerita tentang hewan atau fabel, tampaknya masih digarap kurang maksimal. Banyak penulis yang menghadirkan fabel dalam bentuk cerita bergambar atau kumpulan cerita pendek yang tipis-tipis. Ada juga cerita yang ditambahi dengan berbagai pesan moral secara tersurat, seakan-akan para pembaca tidak dapat memetik sendiri pesan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat bukunya Guardians of Ga’ Hoole – dalam edisi Indonesia diterjemahkan dengan judul Diculik! – Kathryn Lasky melakukan penelusuran yang total atas burung hantu: dari cara bertelurnya, perkembangan bentuk tubuhnya, jenis-jenis burung hantu, juga perilaku dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Lewat drama yang cukup menghentak sejak awal cerita, Kathryn menyuguhkan bacaan yang menarik disimak hingga tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di buku ini menghadirkan seorang burung hantu muda bernama Soren. Ia baru saja sangat gembira karena memiliki adik perempuan yang manis bernama Eglantine. Dia sangat menyukai nama itu. Ketika melihat adiknya lahir, betapa ia sayang padanya. Tak lama setelah kelahiran itu, kedua orang tua Soren memutuskan untuk pergi berburu, mencari makanan untuk persediaan di musim dingin yang akan segera tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soren mendadak terjatuh dari atas pohon ketika sedang berdiri di pinggir lubang sarangnya. Ia sedang mengintip keluar, menunggu kedatangan kedua orang tuanya yang sebenarnya masih lama tiba. Soren yang masih belum bisa berjalan di dahan apalagi terbang, meminta abangnya, Kludd, untuk menolongnya. Bukannya menolong, Kludd yang sinis malah menyalah-nyalahkannya dan menertawakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Soren diculik! Ia dibawa ke sebuah tempat bernama Sekolah untuk Burung Hantu Yatim Piatu. Di sekolah itu ia bertemu dengan Gylfie, seekor burung hantu perempuan yang selalu punya rasa ingin tahu. Persahabatan mereka terjalin begitu alami dan manis. Mereka berdua selalu saling mengingatkan bahwa saat itu pikiran mereka sedang dikacaukan oleh pimpinan sekolah yang jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah itu ada semacam penomoran dan penggantian nama yang membingungkan para burung hantu yang diculik dan ditawan. Nah, di sinilah cerita tentang kedua burung hantu ini jadi agak membingungkan. Selain karena terjemahan dalam edisi Indonesia dilakukan kurang luwes, pada bagian ini, konflik utama yang mau dijadikan fokus cerita agak bercabang-cabang. Bagian yang sebenarnya bisa tampil lebih menggigit, malah jadi terasa bertaring tumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada intinya, penculikan yang dilakukan terhadap Soren, Gylfie, dan bahkan ribuan anak burung hantu lainnya di sana, membuat mereka lupa akan jati-dirinya. Mereka dibuat bingung sehingga perlahan-lahan lupa bahwa mereka adalah makhluk-makhluk istimewa yang diciptakan untuk terbang tinggi di malam hari. Soren dan Gylfie menolak untuk melupakan diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bantuan Grimble, seekor burung hantu yang nyaris lupa-diri akibat dibingungkan, mereka berhasil terbang dan melarikan diri pada akhirnya. Mereka terbang bersama doa turun-temurun para burung hantu, seperti yang dikutip dalam pembukaan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM waktu dekat, film adaptasi atas buku ini juga akan ditayangkan di bioskop-bioskop di Indonesia dengan judul Legend of the Guardians: The Owls Of Ga' Hoole. Bila disimak di situs legendoftheguardians.warnerbros.com, visualisasi yang dibuat atas beberapa karakter dari buku ini sangat manis dan lucu. Film ini akan diangkat dari tiga buku awal yang dikarang oleh Kathryn Lasky: The Capture, The Journey dan The Rescue; sementara buku ini adalah terjemahan dari seri pertama, The Capture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, buku ini nantinya mungkin hanya akan teradaptasi menjadi sepertiga kisah dalam keseluruhan film, walau kita semua tentunya tahu, bahwa sebuah buku atau novel, ketika diadaptasi menjadi sebuah film, lebih cenderung menjadi lebih pendek akibat terjadinya beberapa pemangkasan. Berbeda dengan adaptasi atas novelet atau cerpen, yang justru terjadi sebaliknya. Apalagi buku ini terhitung tebal, nantinya mungkin akan banyak bagian yang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TKVFIN5dk_I/AAAAAAAAAY8/Q72ZlTEVBV8/s1600/asa.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 216px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TKVFIN5dk_I/AAAAAAAAAY8/Q72ZlTEVBV8/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522896525511726066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Terlepas dari bagaimana film itu nantinya hadir di hadapan para penyuka kisah fantasi, totalitas yang ditunjukkan Kathryn Lasky dalam penggarapan buku tentang kisah Soren dan kawan-kawannya ini sungguh besar. Dalam fantasticfiction.co.uk/l/kathryn-lasky dicatat, masih ada 16 judul lain yang menjadi sekuel buku pertama ini. Kathryn Lasky selama ini memang menghabiskan waktunya untuk mengamati perilaku dan morfologi burung hantu. Awalnya ia berencana menulis buku nonfiksi tentang burung hantu, namun kemudian menyadari bahwa tugas itu tidak mudah: burung hantu baru muncul di malam hari, dan mereka suka sekali bersembunyi. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho&lt;br /&gt;Malang, 25 September 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-812779907383836887?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/812779907383836887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=812779907383836887' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/812779907383836887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/812779907383836887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/10/fabel-yang-digarap-penuh-kesungguhan.html' title='Fabel yang Digarap Penuh Kesungguhan'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TKVFIN5dk_I/AAAAAAAAAY8/Q72ZlTEVBV8/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-7727837271060524052</id><published>2010-09-30T15:22:00.003+07:00</published><updated>2010-10-26T19:22:32.447+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>"keluarga tetaplah keluarga"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TKRJizYI8iI/AAAAAAAAAY0/EL8ON11Patg/s1600/asa.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 248px; height: 268px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TKRJizYI8iI/AAAAAAAAAY0/EL8ON11Patg/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522619905318908450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;: catatan kecil setelah menyaksikan aftershock.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"sudah banyak musibah yang kita alami. sudah banyak orang yang mati. baiklah kita tetap bersama." ~ aftershock&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;awalnya, aku merasa apes pergi ke bioskop sutos xxi di sby yang jaraknya 15 km dr rumah kosku: begitu sampai di sana, karcis utk film aftershock yang tayang jam 20.00 tinggal 1 biji, dan bangku itu ada di barisan paling depan, di bagian tengah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun, itulah bagianku. dan hingga film berakhir, aku tidak merasa menyesal pernah duduk di bangku depan menyaksikan film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setidaknya aku mencatat ada 4 hal yang membuatku beranggapan kalau aftershock pantas dapat 4 dari 4 bintang yang tersedia, atau 10 dari 10 bintang yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pertama adalah potret film ini yang tersaji begitu utuh atas kemalangan sebuah keluarga. negeri yang luluh-lantak, nyawa-nyawa yang habis melayang, dan kepedihan yang besar di china akibat gempa tektonik itu tak membuat para sineas kehilangan fokus untuk menyajikan banyak kisah atau banyak keluarga. ya, hanya satu keluarga yang disorot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah yang membuatku sadar: penderitaan sehebat apa pun yang terjadi di sebuah masyarakat atau bangsa, justru bisa dimaknai lebih dalam saat melihat satu keluarga yang mengalaminya, tidak secara keseluruhan memandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedua adalah solidaritas yang terbentuk dalam diri seseorang karena ia pernah mengalami hal yang sama. lewat film ini aku diingatkan dengan begitu banyak orang -- bahkan kadang juga terjadi pada diriku sendiri -- yang kulihat acuh dan tak ambil pusing dengan penderitaan orang lain. bila seseorang sudah pernah tergoncang begitu hebat, dan orang itu masih memiliki hati nurani yang lembut, maka ia akan tergerak untuk menjadi relawan dan penolong untuk meringankan orang lain yang terkena goncangan serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketiga adalah jalinan kasih di antara para tokohnya. tanpa terlalu banyak bumbu romantika yang kelewatan, film ini menghadirkan kisah kasih yang membumi. terutama, aku terkesima dengan kasih-sayang sepasang suami-istri tentara yang begitu besar terhadap seorang anak yatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terakhir adalah kasih ibu yang kadang disalahmengerti oleh anak-anaknya. di dalam aftershock aku dibuat terpana bagaimana seorang ibu tetap bertahan pada tradisi dan keyakinan yang dimilikinya, juga ketabahannya untuk menanggung penderitaan pasca gempa raksasa yang terjadi. pergulatan batin seorang ibu yang bimbang dan diliputi trauma benar-benar ditampilkan maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah sebuah film yang pantas menjadi teman refleksi bagi orang-orang yang pernah mengalami penderitaan akibat malapetaka atau kehilangan. aku tidak bisa membayangkan perasaan mereka yang selamat dari tsunami aceh -- atau mereka yang rumahnya terendam lumpur lapindo -- bila menonton film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah keluarga tercerai-berai akibat malapetaka. waktu terus berjalan, trauma akibat malapetaka susah dihapuskan... namun pada akhirnya, hasrat untuk kembali lagi bersama satu keluarga terus ada. kisah-kasih dalam keluarga dengan segala kenangan dan penderitaan yang ada di dalamnya adalah bahasa yang kurasa akan selalu indah untuk disimak. karena, seperti yang dinyatakan salah satu tokohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"keluarga tetaplah keluarga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sidoarjo, 29 sept 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-7727837271060524052?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/7727837271060524052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=7727837271060524052' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/7727837271060524052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/7727837271060524052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/09/keluarga-tetaplah-keluarga.html' title='&quot;keluarga tetaplah keluarga&quot;'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TKRJizYI8iI/AAAAAAAAAY0/EL8ON11Patg/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-2725671174343673017</id><published>2010-09-23T20:38:00.000+07:00</published><updated>2010-09-23T20:40:19.994+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Ratna Telah Pergi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tadi siang, pas nongkrong di warkop, aku dan beberapa yang turut nongkrong bersama di sana, terpana melihat seorang TKW yang habis digebuki dan diperkosa dalam sebuah siaran berita. Ia merintih dari atas ranjang. Lalu aku teringat renungan ini, yang pernah kubuat beberapa tahun silam, tentang seorang TKW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya." (Mazmur 116:15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;7 September 2008. Hari masih pagi, hampir jam tujuh. Hari itu Minggu, dan saya sedang menyetrika baju untuk pergi ke sebuah gereja yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya di Surabaya. Saya diundang teman saya untuk pergi ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyetrika, dengan jelas saya mendengar siaran televisi dari kamar teman kos saya. Berita menyebutkan seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang baru saja meninggal dunia. Namanya Ratna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari berita itu: tidak ada satu pun saudara Ratna yang mengantarkan kepergiannya saat ia sakit beberapa hari hingga menuju ke liang lahat. Hanya beberapa temannya seprofesi. Sejenak kegiatan menyetrika saya hentikan, dan merenung: betapa pedih hatinya ketika saat-saat menjelang kematiannya. Sebatang kara, menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu kemudian, saya mendengar kata-kata menarik dari seorang pendeta. Ia mengutipnya dari D.L. Moody, seorang pendeta kenamaan di masa lalu. Kurang-lebih Moody menyatakan, "Betapa banyak karangan bunga yang kita berikan bagi seseorang ketika ia meninggal. Betapa mulia kata-kata yang kita pujikan bagi orang-orang yang telah pergi. Dan kita lupa, bahkan enggan, untuk melakukan hal yang sama semasa mereka masih hidup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, Ratna kasus yang lain -- ia pergi sendiri. Nah, pernahkah kita berpikir tentang orang-orang terdekat kita yang suatu saat juga akan pergi? Ketika membayangkan mereka suatu saat tak lagi dapat membuka matanya, sebaiknyalah di saat ini kita membahagiakannya, dengan cara apa pun yang dapat kita lakukan. ***&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua penyakit berakar pada ketiadaan atau keringnya cinta." (Dr. Bernie Siegel) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-2725671174343673017?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/2725671174343673017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=2725671174343673017' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2725671174343673017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2725671174343673017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/09/ratna-telah-pergi.html' title='Ratna Telah Pergi'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-4839421779407216249</id><published>2010-08-31T14:48:00.002+07:00</published><updated>2010-08-31T14:50:55.190+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kepenulisan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tuan Malam'/><title type='text'>sedikit cerita proses kreatif membuat novel</title><content type='html'>awalnya, suatu malam aku iseng menggambar sebuah peta di kertas. peta  dari hasil imajinasiku sendiri. lalu aku beri nama kota, pegunungan,  hutan, sungai, dan lain-lain di peta itu. setengah jadi, peta itu  membuatku teringat pada sebuah naskah ceritaku yang baru kubuat 4 bab di  tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ceritaku itu berkisah tentang seorang tokoh bernama tuan malam. cerita  itu pun kutambahi dengan setting yang menggunakan peta itu. (awalnya,  blog-ku yang kubuat di tuanmalam.blogspot.com akan kuisi dengan  cuplikan-cuplikan dari novelku itu; kini blog itu malah berisi berbagai  tulisan campur-aduk.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;peta itu, yang kugarap pada september 2008, membuatku mulai menggarap  beberapa bab cerita lagi. namun penggarapan itu terhenti di tengah  jalan. laptopku sempat rusak beberapa bulan, dan beberapa pekerjaan lain  membuatku tidak konsentrasi mengerjakan novelku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bulan maret atau april 2009, aku bertemu dengan seorang cewek di smuk  cor jesu. waktu itu aku diminta mengisi materi jurnalistik. di situlah  aku mengenal angelia lionardi (orange skyline). di sma itu angelia  sering membuat ilustrasi untuk majalah sekolahnya. setelah kuceritakan  tentang novel yang tengah kubuat, ia sangat antusias ingin menggarap  ilustrasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angelia membuat semangat menulisku muncul lagi. selama beberapa bulan  akhirnya novel ini menjadi 12 bab. namun, karena di waktu-waktu ini aku  juga masih menggarap renungan, esai, cerpen, dan kadang meresensi buku,  fokus kepenulisanku mulai tak terarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau tak salah, menjelang akhir tahun 2009, novel itu tergarap 18 bab.  aku ada rencana merampungkan novel itu di bulan februari 2010, namun  lagi-lagi karena konsentrasiku menulis tidak fokus, akhirnya  tertunda-tunda lagi. (beberapa tulisanku di saat-saat ini bisa disimak  di blog tuanmalam.blogspot.com, ulasansastra.blogspot.com, dan  kajiansosialdanbudaya.blogspot.com.) sampai bulan april 2010, kalau  tidak salah, novel ini baru jadi 21 bab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suatu malam, kalau tak salah bulan mei 2010, angelia sms aku. dia  bertanya kapan novelku rampung. dia juga bercerita kalau adiknya yang  masih kelas 6 sd sangat menyukai ceritaku. nah, kesukaan adiknya pada  novelku inilah yang pada akhirnya membuatku sangat bersemangat  merampungkan novelku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah pulang liburan kenaikan kelas bulan juni lalu, kurampungkan  novel itu hingga mencapai 25 bab. jumlah halamannya ada 160, ketikan 1,5  spasi. angelia kemudian merampungkan ilustrasi yang kuminta untuk  dibuatkan di tiap bab. akhir juli, novel ini dan ilustrasi-ilustrasinya  benar-benar selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku sangat lega merampungkan ceritaku kali ini. ini adalah karya yang  kubuat dengan sangat serius dan hati-hati. ini kali kedua aku membuat  novel. aku mencetak naskahku beberapa kali demi memudahkan proses  editing (aku kadang masih membuat salah kalau mengedit naskah di depan  layar komputer). aku juga memberikan bayaran untuk ilustratorku karena  walaupun awalnya dia tidak minta bayaran, hasil kerjanya sungguh baik  dan pantas dihargai dengan sejumlah uang. aku juga sempat kehilangan  flashdisk yang sudah memuat 21 bab novel ini dan beberapa puluh  tulisanku yang lain (untungnya aku punya back-up-annya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku memeriksa keseluruhan naskahku berkali-kali di akhir juli, sehingga  tadi siang, saat naskahku ini kukirimkan ke penerbit lewat pos, aku  sudah lega karena bagiku sudah tidak ada lagi kesalahan tulis yang  kutemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pelajaran penting yang kupetik dari membuat novel kali ini adalah  kontinyuitas. melanjutkan novel setelah meninggalkannya beberapa bulan  benar-benar menguras energi. kita bisa lupa dengan apa yang sudah kita  tulis; kita bahkan mungkin kehilangan emosi atau semangat untuk  melanjutkan cerita lagi. untuk kontinyuitas itulah diperlukan totalitas  dan stamina yang mantap. menulis novel adalah pekerjaan yang tidak ada  satu orang pun yang menyuruh dan mengawasi. pekerjaan ini sepenuhnya  berbekal kebulatan tekad. menulis novel seperti menggeser kenyamanan,  menaklukkan diri sendiri, dan belajar hidup konsisten. makanya, stephen  king dalam "on writing" memberi saran agar para penulis novel hanya  boleh beristirahat sehari dalam seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah, pada akhirnya, aku berharap novel ini bisa diterbitkan. aku sudah  menyiapkan enam seri lanjutan dari novel ini. namun, kalau pun penerbit  tidak ada yang mau menerbitkan novelku, aku akan tetap menggarap  keseluruhan serial novelku tentang tuan malam yang ada di negeri  imajinasiku bernama harigia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suatu saat, cepat atau lambat, kuyakin akan ada penerbit yang tertarik  untuk menerbitkannya.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sidoarjo, 5 agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagi yang berminat, untuk melihat beberapa cuplikan novel, silahkan  mampir ke blog tuanmalam.blogspot.com, lalu klik label/kategori yang  berjudul "tuan malam" (&lt;a href="http://tuanmalam.blogspot.com/search/label/Tuan%20Malam" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this)," rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://tuanmalam.blogspot.com/search/label/Tuan%20Malam&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/THy0FMZ-EiI/AAAAAAAAAYE/aqfiCT4OSHE/s1600/asa.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 376px; height: 254px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/THy0FMZ-EiI/AAAAAAAAAYE/aqfiCT4OSHE/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511478045317141026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-4839421779407216249?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/4839421779407216249/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=4839421779407216249' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4839421779407216249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4839421779407216249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/08/sedikit-cerita-proses-kreatif-membuat.html' title='sedikit cerita proses kreatif membuat novel'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/THy0FMZ-EiI/AAAAAAAAAYE/aqfiCT4OSHE/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-2261544253964716802</id><published>2010-08-30T07:52:00.002+07:00</published><updated>2010-08-30T07:55:34.708+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Hati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>kali pertama mendengar yohanes menangis</title><content type='html'>"adikku, willy, meninggal hari ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/THsBJr6TVwI/AAAAAAAAAXs/e6rPDmTP308/s1600/asa1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 197px; height: 263px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/THsBJr6TVwI/AAAAAAAAAXs/e6rPDmTP308/s320/asa1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510999834935645954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;aku punya seorang teman baik. dia bernama yohanes. yohanes tak seperti  orang normal lainnya. dia memiliki sedikit gangguan kejiwaan. waktu bayi  ia kejang-kejang akibat panas tinggi. ibunya pernah cerita kepadaku  kalau gara-gara panas tinggi, sumsum tulang belakangnya disedot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yohanes adalah orang yang sangat rajin ke gereja. di gereja bethany di  malang, semua jadwal kebaktian minggu di gereja itu (sebanyak empat  kali) ia ikuti. dia pergi ke gereja sambil membawa helm, tapi berjalan  kaki. helmnya ia bawa buat jaga-jaga, barangkali ada yang mau memberinya  tumpangan waktu pergi atau pulang dari gereja. bukan hanya ibadah  minggu, tapi di hari-hari lain (kecuali hari senin) yohanes selalu ke  gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="caption"&gt;yohanes ferry purwonegoro, sahabatku, doyan banget sama  sms ke artis2 pake 9090. kalo gak salah, malam ini dia lagi sms ke  agnes monica. :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;aku mengenal yohanes sejak tahun 2005. saat  itu aku menjadi ketua dewasa muda di bethany, dan ketua pengajaran  untuk youth bethany. perkenalanku dengan yohanes begitu unik. dia  menunjukkan beberapa diktat teologi dari kampus saat (seminari alkitab  asia tenggara) waktu kenalan denganku; dan aku mengira kalau orang ini  rohaniwan awalnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak sampai dua jam setelah perkenalan itu aku segera tahu kalau orang  ini tidak seperti orang normal. dia bercerita kalau pacarnya bernama  agnes monica, omongannya melantur ke mana-mana, dan wajahnya selalu  nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami kemudian akrab karena rumahku berada di dekat gereja bethany. di  tahun 2005-2006, hampir tiap minggu yohanes tidur di rumahku kalau  pulang dari gereja. keesokan paginya ia kuantarkan pulang ke rumahnya.  kadang kalau aku tak sibuk kuliah atau menulis kuajak dia minum kopi  atau jalan-jalan lihat pemandangan di kota batu. yohanes sangat suka  dengan susu segar yang dijual di dekat alun-alun kota batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selama ia bersamaku di saat-saat ini, aku beberapa kali mengajarinya  lagi berhitung, dan menulis menggunakan spasi antar-kata. namun aku tak  pernah berhasil. yohanes, yang usianya lebih tua dua tahun dari aku, tak  pernah bisa berubah lebih baik motoriknya untuk memahami penjumlahan,  pengurangan, perkalian, juga memisah kata demi kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yohanes juga susah diajari logika. suatu hari handphone-nya ia jual  dengan harga murah karena uangnya dipakai untuk membeli dua botol oli  mesran yang sedang mengadakan undian berhadiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia juga mempunyai khayalan yang unik dan kelewatan. gara-gara layanan  sms artis dibuka di televisi lewat 9090 beberapa tahun silam, ia  keranjingan menggunakan handphone-ku untuk meng-sms arie wibowo, laudya  cintya bella, agnes monica, revalina temat, dll. dia meng-sms para artis  itu karena minta dikirimi duit 2 milyar atau bahkan 1 trilyun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena susah menjelaskan kalau artis mau membaca sms-nya, mengirimi duit  betulan buatnya, dan lain-lain dan sebagainya, aku biarkan saja kalau  waktu dia di rumahku mengetik-ngetik sendiri apa yang mau dimintanya  untuk para artis itu. ketikannya tidak kukirim ke 9090, tapi kusimpan  sebagai draft. jujur, aku kadang berbohong kepadanya karena kehabisan  akal untuk menjelaskan bahwa artis tak semudah itu mau memberi uang buat  orang asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/THsBXYd-vTI/AAAAAAAAAX0/SdPOzLBL1v0/s1600/asa2.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/THsBXYd-vTI/AAAAAAAAAX0/SdPOzLBL1v0/s320/asa2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511000070234750258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;tapi dia tetap ngeyel dan berkata kalau artis banyak duitnya, pasti mau  mengirimi dia duit. nah, akhirnya yang ketularan "edan" malah aku. suatu  kali aku malah sempat mengarang cerita kalau ari wibowo rumahnya  kebakaran; dan agnes monica kecurian. uang mereka ludes. uang yang  dipakai buat dikirim ke dia jadi batal. dia percaya pada ceritaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di balik semua kekurangannya, yohanes membuatku belajar tentang  pentingnya menepati janji. dia tidak pernah terlambat satu kali pun  untuk acara-acara yang sudah ia jadwalkan untuk dihadiri. ia juga selalu  ceria. bila ada di gereja ia selalu menyanyi penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah, hari ini, baru pertama kali aku mendengar yohanes menangis. siang  tadi ia mengabari kalau adiknya yang bernama willy telah meninggal  dunia. adiknya itu masih muda, usianya baru 20-an tahun. ia meninggal  karena tabrakan. tabrakan itu terjadi kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mendengar yohanes menangis, seketika leherku sesak. belum pernah aku  melihatnya atau mendengarnya menangis. paling banter selama ini ia hanya  cerita kalau ada orang-orang yang menggodai dia sampai keterlaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mendengar yohanes menangis membuatku berpikir bahwa manusia dengan  kekurangan seperti yohanes pun bisa merasakan arti sebuah kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam ini, aku berharap, yohanes dan keluarganya bisa ikhlas merelakan  kepergian adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sidoarjo, 6 agustus 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-2261544253964716802?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/2261544253964716802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=2261544253964716802' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2261544253964716802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2261544253964716802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/08/kali-pertama-mendengar-yohanes-menangis.html' title='kali pertama mendengar yohanes menangis'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/THsBJr6TVwI/AAAAAAAAAXs/e6rPDmTP308/s72-c/asa1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-8408709209795226936</id><published>2010-08-25T15:20:00.006+07:00</published><updated>2010-10-26T19:22:53.757+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>pertobatan seorang budak iblis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/THTTYqUFfzI/AAAAAAAAAXk/q1wq866nYi0/s1600/asa.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 220px; height: 272px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/THTTYqUFfzI/AAAAAAAAAXk/q1wq866nYi0/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5509260664809815858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ulasan film: solomon kane&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila anda sedang mencari tontonan yang menghibur sekaligus reflektif,  nah, solomon kane adalah salah satu pilihan yang pas. solomon kane  adalah sebuah film kepahlawanan yang dikemas dengan apik. solomon kane  adalah tokoh yang diciptakan oleh robert howard dalam sebuah novel  awalnya. kisahnya kemudian diadaptasi dalam bentuk komik, juga film ini.&lt;p&gt;ketika  remaja, solomon dituntut ayahnya untuk menjadi seorang biarawan. namun  ia menolak tuntutan itu. ia meninggalkan ayahnya; dan ayahnya  mengutuknya karena pembangkangan itu. sebelum ia meninggalkan ayahnya,  ia bahkan membuat terluka abangnya yang hendak memperkosa seorang  wanita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;demikianlah solomon kane menjadi petualang dan  pencari harta yang beringas. ia tumbuh-besar di berbagai tempat,  memimpin sekelompok pasukan yang berlaku sangat jahat terhadap  musuh-musuh mereka. ia bahkan menyebut dirinya iblis. tubuhnya penuh  tato dan sayatan. di punggungnya ada sebuah sayatan besar bekas luka  yang berbentuk salib.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;saya jadi teringat sebuah film lain,  constantine, yang dibintangi keanu reeves, saat menonton film ini. ada  kesamaan di antara keduanya: tentang bagaimana seseorang menjadi budak  setan karena tipu-muslihat, dan sebuah jalan yang harus ditempuh untuk  lepas dari perbudakan itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;suatu ketika solomon bertobat  dari dosa-dosanya. inilah yang menjadi adegan awal di film ini. solomon  tak berhasil mengalahkan seorang penyihir. ia terlempar dari sebuah  menara yang tinggi, lalu hidup membiara dengan sekelompok orang suci.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;pertobatan  solomon memakan waktu satu tahun. kita diajak untuk melihat begitu  drastis hidupnya berubah. ia jadi lebih pengalah, sabar, dan tampak  lebih kalem. namun, kehidupan lamanya terus membayanginya. tangannya  yang prigel membunuh dan lincah bermain pedang, kesukaannya berkelahi,  akhirnya menjadi bagian hidupnya lagi setelah ia bertemu dengan sebuah  keluarga yang malang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;di dalam keluarga ini ada seorang  gadis bernama meredith yang ditawan oleh orang-orang biadab yang terkena  pengaruh sihir. ayah, adik, dan abang meredith telah dibunuh dengan  kejam oleh orang-orang biadab itu. nah, perjuangan solomon untuk  mendapatkan meredith kembali, menjadi inti cerita ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kita  kemudian akan dihibur dengan adegan-adegan pertarungan yang seru dan  tak hiperbolis. film ini berupaya menghadirkan adegan-adegan pertarungan  dengan masuk akal -- tidak seperti film-film kungfu mandarin, misalnya,  yang di dalamnya ada tendangan seribu bayangan, atau gerakan  super-cepat lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;ada pula adegan-adegan horor yang  membuat merinding, terutama saat solomon harus berhadapan dengan  manusia-manusia yang wajahnya jadi mirip monster akibat terkena pengaruh  sihir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;beberapa dialog dan ekspresi para aktor di film  ini bahkan terkesan teatrikal. ada beberapa adegan yang sarat dengan  muatan rohani kristiani: adegan saat solomon berdoa di sebuah gereja tua  yang ujung-ujungnya menjadi sebuah pertempuran seru; atau adegan saat  solomon digantung di salib saat hujan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;bagian yang tak  terlupakan adalah pertarungan-pertarungan menjelang akhir cerita. di  sini sutradara mengolah adegan demi adegan dengan amat menggugah. salah  satunya adalah saat solomon harus berhadapan dengan sebuah monster mirip  robot dalam film transformers yang besarnya sekitar 10 kali ukuran  manusia dewasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dengan latar belakang amerika pada abad  ke-16, solomon kane adalah film yang layak ditonton -- tapi lebih baik  tidak ditonton bersama anak kecil. beberapa adegan di dalam film ini cukup  brutal, walau tak sebrutal film lain, yaitu expendables, yang kini di  indonesia tengah ramai digandrungi para pecinta film. penebusan atas  dosa, pengorbanan, dan pertobatan, adalah muatan yang begitu gamblang  disodorkan kepada penonton dalam solomon kane.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sidoarjo,  24-25 agustus 2010&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-8408709209795226936?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/8408709209795226936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=8408709209795226936' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8408709209795226936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8408709209795226936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/08/pertobatan-seroang-budak-iblis.html' title='pertobatan seorang budak iblis'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/THTTYqUFfzI/AAAAAAAAAXk/q1wq866nYi0/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-4453261225424848040</id><published>2010-08-16T07:39:00.000+07:00</published><updated>2010-08-16T07:40:46.910+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>mereka yang meninggal, dan renungan-renunganku</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di  rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup  memperhatikannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; - pengkhotbah 7:2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kehilangan kakak lelaki berarti kehilangan orang yang mestinya bisa  diajak berbagi pengalaman pada masa tua, yang mestinya membawa ipar  perempuan, keponakan laki-laki dan perempuan ke dalam keluarga,  orang-orang untuk meramaikan pohon kehidupanmu dan memberinya  cabang-cabang baru. kehilangan ayah berarti kehilangan orang yang  nasihat dan pertolongannya kaubutuhkan, yang menopangmu seperti batang  pohon menopang cabang-cabangnya. kehilangan ibu... yah... rasanya  seperti kehilangan matahari di atas sana. rasanya seperti kehilangan...  maaf, lebih baik tidak aku teruskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; - yann martel, life of pi, hlm 188&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejak dulu aku tak suka pesta-pesta. aku selalu menghindari keramaian  dan kemewahan di dalam suatu acara. aku hampir tak pernah merayakan  ultah, bahkan natal di gereja pun kadang ogah-ogahan kuikuti. terserah  bila ada yang menganggapku bukan kristen sejati. toh semua orang tahu,  kristus tidak lahir tanggal 25 desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah kejadian yang menjadi salah satu titik balik dalam hal ini adalah  ketika aku sering menjadi gitaris di gereja untuk ibadah pemakaman.  beberapa kali aku mendampingi pendetaku untuk mengantar jenazah ke  peristirahatan terakhir di yayasan gotong royong, dekat gereja bethany  di malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suatu hari kulihat peti mati yang sangat indah. peti mati itu, di salah  satu sisinya diukir dengan apik adegan perjamuan terakhir yang dulu  pertama kali dilukis leonardo da vinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat itu hatiku berbisik, "peti mati yang mahal, atau sebuah kehidupan  yang mahal, yang menjadi bagianmu?" pengalaman itu kutuangkan dalam  sebuah renungan pendek, bahwa kehidupan yang mahal adalah kehidupan yang  kita isi dengan kesetiaan pada panggilan allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah, kemarin, 14 agustus, aku pergi ke rumah temanku yang adiknya  meninggal. adik temanku ini meninggal karena tabrakan. saat tabrakan,  helmnya lepas dari kepalanya karena tak dikancing. ibu temanku begitu  menyesali peristiwa ini. "anak muda zaman sekarang. susaaahnya dikasih  tahu," katanya berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu mendengar ibu temanku bercerita, segera aku teringat di suatu  malam ketika aku nyaris mengalami hal serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu itu aku tengah mengajari seorang teman naik sepeda motor. dia  belum bisa sama sekali. dia menancap gas begitu laju sehingga aku yang  ada di belakang langsung mengerem sepeda motor itu. motor berputar  dengan cepat. seketika aku jatuh dan kepalaku menghantam tanah dengan  begitu keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untungnya aku memakai helm. aku tidak bisa membayangkan bila aku -- yang  saat itu tengah mengajarinaik motor -- melepas helmku. aku bergetar  mengenang kejadian ini. begitu cepat ia melintas di benakku,  mendatangkan trauma seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedua adalah berita yang jam 17.30 tadi baru saja kudengar dari guru dan  sahabatku. ayahnya meninggal. ayahnya itu berusia 80 tahun lebih.  selama ini selalu sehat walafiat, jarang sakit, bahkan masih kuat  melakukan berbagai kerja berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beberapa minggu yang lalu aku dikabari kalau ayah sahabatku itu sakit,  sempat diopname di rumah sakit. namun, pada akhirnya usia harus kalah  pada kefanaan hidup. dalam usianya yang cukup panjang, bapak temanku itu  kini berpulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mendengar berita ini aku merasa sedih, karena sahabatku ini mempunyai  pengalaman yang mirip denganku. saat ia dulu belajar menulis, ia  meminjam mesin ketik ayahnya. sementara aku, orang yang pertama kali  berbicara soal menulis adalah bapakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu itu ayahku berkata kepadaku kurang lebih demikian, "nug, cobalah  sekali-sekali kamu nulis. coba kirim ke koran atau majalah. bapak  lihat-lihat, kamu punya bakat menulis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingat, saat itu, aku sedang ada masalah kecil dengan bapakku. aku  malah menyanggah anggapannya. "untuk apa menulis segala? itu  membuang-buang waktu," kataku. aku ingat, aku menyatakan hal itu dengan  sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;minggu demi minggu berlalu, dan apa yang dikatakan ayahku selalu  terngiang-ngiang di benakku. suatu saat kucoba. tahun-tahun berlalu, dan  aku sampai sekarang masih belum bisa berhenti menulis. sampai sekarang,  aku selalu bersyukur bisa menulis sesuatu. bapakku juga kadang memberi  koreksi atas beberapa tulisanku, terutama renungan-renungan yang pernah  kutulis beberapa tahun lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam ini, aku tentu akan merenung panjang. kepergian dua orang -- satu  masih berusia dua puluhan dan satunya berusia delapan puluhan --  jelas-jelas menjadi bukti bahwa manusia tak tahu kapan maut menjemput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga keduanya tentram di alam baka; dan tentunya keluarga yang  ditinggalkan ikhlas, tabah, dan rela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun, dua peristiwa ini telah menghadirkan dalam benakku  kenangan-kenangan yang lain. kenangan akan pemeliharaan tuhan, kenangan  akan kepedulian seorang bapak. terpujilah tuhan, yang membuat hidup ini  indah karena ia menciptakan manusia dengan hati nurani yang bisa dipakai  buat merenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sidoarjo, 15 agustus 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-4453261225424848040?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/4453261225424848040/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=4453261225424848040' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4453261225424848040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4453261225424848040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/08/mereka-yang-meninggal-dan-renungan.html' title='mereka yang meninggal, dan renungan-renunganku'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-5555217934250538575</id><published>2010-08-11T08:10:00.000+07:00</published><updated>2010-08-11T08:11:02.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>kertas kado merah muda</title><content type='html'>aku suka melihat kertas kado yang lucu itu:&lt;br /&gt;bergambar bayi botak yang bibirnya nyengir&lt;br /&gt;badannya hanya terbungkus sehelai popok&lt;br /&gt;dalam berbagai posisi ia menjadi motif&lt;br /&gt;yang begitu riang-gembira dan tanpa beban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kubungkuskan dua buah buku cerita&lt;br /&gt;juga dua buah puzzle yang sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat mengamati bayi botak di kertas kado itu&lt;br /&gt;tiba-tiba kuingat kau di masa lalu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau mengajak sapi dan kambing bicara&lt;br /&gt;kau berdoa bagi pepaya agar ia cepat tumbuh-besar&lt;br /&gt;kau teriaki ikan-ikan kecil yang berenang di parit&lt;br /&gt;kau amati jalan kura-kura dengan mata berbinar&lt;br /&gt;kaulah itu, dua-tiga tahun yang lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rambutmu kini panjang walaupun tipis&lt;br /&gt;kau lancar bicara, pandai menari, dan suka tertawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nanti, ketika kertas kado itu kaurobek&lt;br /&gt;lalu kautemukan hadiahku di dalamnya&lt;br /&gt;semoga matamu berbinar menyambut hadiahku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: selamat ulang tahun, usiamu lima tahun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sidoarjo, sehari sebelum ramadhan 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-5555217934250538575?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/5555217934250538575/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=5555217934250538575' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5555217934250538575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5555217934250538575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/08/kertas-kado-merah-muda.html' title='kertas kado merah muda'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-5882847148082664973</id><published>2010-07-20T12:05:00.003+07:00</published><updated>2010-08-30T07:46:47.674+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Perayaan yang Megah atas Hidup, Petualangan, dan Ketuhanan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TEUu8R1rKPI/AAAAAAAAAXc/vS5fv3x5VDw/s1600/asa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 254px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TEUu8R1rKPI/AAAAAAAAAXc/vS5fv3x5VDw/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495850533391116530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;photo 2=""&gt;Judul buku: Life of Pi (Kisah Pi)&lt;br /&gt;Penulis: Yann Martel&lt;br /&gt;Penerjemah: Tanti Lesmana&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2004&lt;br /&gt;Tebal buku: 446 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tidak perlu khotbah mengguntur dari mimbar, tidak perlu segala macam cercaan dari gereja-gereja yang payah, tidak perlu tekanan dari rekan-rekan sebaya, cukup satu kitab suci menunggu untuk menyampaikan salam, lembut sekaligus ampuh, bagai kecupan gadis kecil di pipi." &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- Life of Pi, halaman 298&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piscine Molitor Patel. Nama yang unik itu disingkat dengan panggilan Pi. Dan novel ini adalah kisah hidupnya. Kisah hidupnya yang menggetarkan karena penuh gejolak, sekaligus mengharukan. Hidupnya penuh liku karena ia adalah seorang remaja yang sedang memasuki masa puber. Namun, ia merayakan pubertasnya dengan pencarian akan Tuhan. Bagi Pi, Tuhan adalah misteri yang senantiasa menggugah rasa ingin tahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yann Martel mengisahkan kehidupan Pi dengan narasi yang amat detil. Ia adalah seorang pencerita yang mengalir, tak terlalu terikat pada urutan waktu. Sebuah contoh, ada kisah saat Pi sedang berada di Montreal yang dikisahkannya lebih dulu daripada di Pondicherry -- padahal Montreal adalah saat-saat dewasa Pi, sementara Pondicherry adalah tempat Pi menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya. Hal ini tidak bisa dipandang sebagai kelemahan; kadangkala orang bernostalgia dengan melompat-lompati segala batasan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yann Martel juga seorang pencerita yang lucu. Ini terutama tampak di bagian-bagian awal cerita ini. Pertemuan Pi dengan beberapa guru spiritualnya adalah salah satunya. Nanti kita akan melihat bagaimana Pi bisa memiliki lebih dari satu keyakinan. Ia juga seorang yang realistis; ia mempertanyakan lagi romantika yang selama ini mungkin diperjuangkan para pecinta satwa: biarkan makhluk hidup bebas, biarkanlah mereka hidup dalam alam terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, binatang tak jauh beda dengan manusia yang selalu ingin rumah yang nyaman untuk ditinggali dan makanan yang terhidang tepat waktu. Dua hal ini, bila oleh seorang pemilihara hewan diperhatikan dengan baik akan membuat hewan-hewan akan tinggal lebih nyaman dalam peliharaan daripada dilepaskan di alam terbuka yang penuh dengan persaingan dan perkelahian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tentang Ketuhanan, dan Keberagamaan Pi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang pertama kali membuat kisah ini menjadi memiliki daya tarik adalah apa yang dinyatakan oleh seorang tokoh di dalamnya, yaitu Francis Adirubasamy, bahwa kisah yang akan diceritakannya ini akan "membuat orang percaya kepada Tuhan." Tuan Adirubasamy kemudian menghadirkan Pi sebagai tokoh ceritanya. Pi kemudian bercerita kepada si penulis, jadilah cerita ini sebagai sebuah kisah nostalgia dengan sudut pandang aku sebagai pencerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, sempat tersiar kabar bahwa novel ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Namun, kemudian beredar kabar bahwa Kisah Pi adalah novel fiktif. Walaupun fiktif, hal yang menarik untuk disimak adalah bagaimana Yann Martel membangun kisah ini sehingga menjadi benar-benar hidup -- sehingga tampak seperti betulan terjadi. Inilah yang tampaknya membuat ia akhirnya diganjar penghargaan Man Booker Prize untuk novelnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pi dikisahkan sebagai seorang anak remaja yang benar-benar haus akan siraman rohani. Di sebuah bagian, Yann Martel menggambarkan Pi sebagai seorang remaja yang "... suka lari ke mana-mana dan ingin tahu segala sesuatu" (halaman 60). Karena hal ini, Pi menganut tiga agama sekaligus karena memiliki pengalaman yang terhitung supranatural atas tiga agama tersebut. Ia memiliki keyakinan sebagai seorang Hindu karena terpesona dengan kisah-kisah para dewa-dewi yang ia yakini bersangkut-paut dengan segala yang terjadi dalam kosmos; ia terpesona dengan filsafat yang dimuat dalam ajaran-ajaran Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terpikat pada Kristus yang awalnya ia sangsikan mengapa mau mati di kayu salib demi menebus dosa manusia. Setelah bertanya-tanya, ia kemudian terpesona akan kasih Kristus itu. "Sebab kalau Allah di salib itu adalah Allah yang bersandiwara menampilkan tragedi manusia, maka Kasih Kristus menjadi Sandiwara Kristus belaka" (halaman 91). Dan ia pun memutuskan yakin bahwa apa yang Kristus lakukan bukan sekedar sandiwara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga tertarik pada cara-cara orang Islam mengadakan salat. Ia suka sekali membaca Qur'an, dan mendapati suatu keyakinan bulat bahwa Islam adalah ajaran perdamaian. "Aku berani mengatakan bahwa siapa pun yang telah belajar memahami Islam dan semangat yang terkandung di dalamnya, pasti akan mencintai ajaran ini. Islam agama yang indah, yang mengajarkan persaudaraan dan ketaatan" (halaman 101).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Pi terus gumuli akhirnya membuat ia tampil sebagai remaja yang berbeda dari remaja sebayanya. Suatu ketika tiga guru agamanya bertemu dan masing-masing dengan cara yang lucu berdebat tentang agama siapa yang paling benar. Ketiga guru ini saling menyindir dan mempertahankan bahwa agamanya yang paling benar. Justru Pi yang tampil sebagai pendamai, mencengangkan mereka bertiga dengan menyatakan ia akan memeluk ketiga keyakinan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pi suka sekali dengan hal-hal seputar ketuhanan, tapi ia juga mempunyai seorang guru yang tidak percaya pada Tuhan. Guru yang sangat dia kagumi itu bernama Mr. Kumar. Mr. Kumar yang gemuk dan berkaki kecil membuat Pi takjub karena memiliki berbagai penjelasan yang logis atas segala sesuatu yang terjadi dalam kebun binatang. Mereka membicarakan genetika, hal-hal tentang hewan, dan berbagai hal tentang sains lainnya saat Mr. Kumar berkunjung di kebun binatang milik ayah Pi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Petaka Terbesar dalam Hidup Pi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari 1976, pemerintahan Tamil Nadu digulingkan oleh Delhi. Saat itu terjadi pergolakan politik, dan Mrs Gandhi semakin menjadi-jadi kediktatorannya. Akibat hal ini, Santosh Patel, ayah Pi, berniat memindahkan semua hewan milik mereka menuju ke sebuah negeri lain: Kanada. Dari Madras kapal itu berlayar tanggal 21 Juni 1977, dan pada tanggal 2 Juli, kapal itu tenggelam di Samudera Pasifik. Apa penyebabnya, tak diceritakan. Kisah beranjak ke bagian dua, saat Pi terombang-ambing di Samudera Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah Yann Martel menunjukkan kehebatannya sebagai seorang pencerita. Ia dengan sangat tekun dan teliti mengisahkan apa saja yang terjadi pada Pi. Ia mengisahkan dengan detil bentuk sekoci Pi (ilustrasi yang ada di sampul depan berbeda jauh dengan penggambaran Yann Martel), perilaku hewan yang beserta dengan Pi, suasana di laut, perasaan yang terus berkecamuk dalam diri remaja Pi, juga kisah-kisahnya yang unik tentang cara-cara bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pi selamat dalam sebuah sekoci yang panjangnya delapan meter. Awalnya, seekor hyena, zebra, dan orang utan bernama Orange Juice beserta dengannya. Seekor hewan lain, seekor harimau Bengal seberat 225 kg, bernama Richard Parker, justru baru diketahui keberadaannya oleh Pi di bawah terpal sekoci setelah hewan-hewan yang lainnya satu per satu mati karena berkelahi dalam sekoci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Pi menaklukkan dan bisa hidup bersama harimau buas yang bisa memangsanya kapan saja menjadi bagian yang sangat menarik diikuti. Yann Martel tampak mempunyai pengetahuan yang luas dalam ilmu perilaku hewan. Ia menyebutkan, setidaknya tiga hal, yang membuat seekor harimau bernama Richard Parker dapat takluk pada manusia bernama Pi. Pertama adalah suara -- dalam hal ini Pi menggunakan peluit yang ia tiup keras-keras demi menunjukkan superioritasnya. Kedua adalah keberanian Pi untuk tahan beradu tatapan mata dengan Richard Parker sampai ia mennjukkan tatapan yang tak fokus pada mata Pi. Dan ketiga adalah bagaimana Pi mencoba masuk ke teritori yan dimiliki Richard Parker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ketiga terkisah amat menarik. Demi upayanya menerobos benteng berupa teritori yang dibangun si harimau, Pi seringkali berada di teritori hewan itu sambil membunyikan peluitnya. (Hewan sering menandai teritorinya dengan air seni dan kotorannya.) Pi bahkan suatu ketika iseng mengambil kotoran hewan itu karena tertarik pada bentuknya. Pi mendapati kotoran itu sangat keras, sekeras batu karang. Awalnya ia malah berencana hendak memakan kotoran itu, namun ia merasa kotoran itu lebih cocok dijadikan peluru senapan untuk berburu badak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memakan kotoran hewan adalah gagasan yang terlampau dilebih-lebihkan, tapi bila kita membayangkan bagaimana Pi terkatung-katung di tengah Samudera Pasifik selama tujuh bulan lebih, dan kemudian menyimak apa saja yang dimakannya, kita jadi tahu bahwa Yann Martel tak hanya sedang bercanda. Pi jadi terbiasa memakan ikan mentah, darah penyu, dan bahkan sempat memakan daging manusia. (Manusia yang ia makan dagingnya dikisahkan menjelang akhir kisah, saat Pi nyaris mati dan tidak lagi memiliki kekuatan untuk bertahan hidup. Tiba-tiba ada seorang manusia yang juga menggunakan sekoci muncul di sebelahnya, tapi kemudian dihabisi oleh Richard Parker. Daging manusia itu disantap oleh Richard Parker dan Pi, walau Pi hanya memakannya bebrapa cuil untuk bertahan dari kelaparannya.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan halaman digunakan Yann Martel untuk menggambarkan apa saja yang terjadi dalam hidup Pi saat ia berada di tengah lautan. Namun, membaca buku ini tak bisa disamakan dengan menonton film Cast Away yang dibintangi Tom Hanks -- bila Anda yang pernah menontonnya merasa ada kesamaan di dalamnya. Cast Away lebih banyak mengisahkan petualangan seorang pria tersesat di sebuah pulau; namun Kisah Pi sebagian besar terjadi di Samudera Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keseluruhan kisah di lautan mahaluas itu, setidaknya ada dua hal yang paling mengesankan dari Pi. Pertama adalah persahabatan yang terbentuk dalam diri Pi dan Richard Parker. Mulanya ia sangat ketakutan dengan Richard Parker. Bahkan sepanjang kebersamaan mereka, Pi selalu didera rasa takut. Ia kuatir kalau-kalau Richard Parker tiba-tiba mengoyak-ngoyak badannya sampai hancur -- bisa saja hal itu terjadi. Namun, hal itu tak terjadi -- bukan semata-mata karena dikarang-karang tidak terjadi -- karena Pi selalu belajar bagaimana memahami perilaku hewan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhirnya Pi selamat sampai di sebuah pantai di Meksiko, ia sedih kehilangan Richard Parker yang pergi begitu saja dari hidupnya. Richard Parker, yang selalu membuatnya waspada, akhirnya ia sadari sebagai sosok yang membuatnya bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah bagaimana Yann Martel mengaitkan masa remaja Pi yang sarat dengan pencarian akan Tuhan sebagai bagian yang turut menentukan kelangsungan hidup Pi saat terombang-ambing di tengah samudera. Ada saat-saat ketika Pi memandangi bintang-bintang di langit, kesepian, bersembahyang di dalam sekoci kecil yang berada di lautan mahaluas, yang membuat kita jadi merenung tentang keajaiban semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu bagian yang mengisahkan saat Pi mengalami kilat dan guruh yang terasa begitu dekat sehingga lautan yang berada di sekitarnya menjadi putih seketika. Saat itu hatinya takjub, namun merasa tidak berdaya. Saat-saat itu, kita jadi merasa kesia-siaan rasanya lebih pas untuk dijadikan sebagai makna bagi hidup yang dipertahankan. Saat-saat yang dramatis itu selalu membuat Pi mengenang Tuhan, merindukan kitab-kitab suci untuk dibaca seperti yang dikutip pada bagian di muka, bukannya membaca puluhan ribu kali buku panduan keselamatan yang ia temukan dalam sekoci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Saran Pembacaan dan Sedikit Perbandingan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada novel yang bisa dibaca dengan cepat; ada novel yang mesti dibaca dengan pelan. Kisah Pi adalah jenis kedua. Kita tidak bisa menikmati novel ini dengan membacanya tergesa-gesa. Jadi, jikalau Anda mengharapkan sebuah petualangan yang ingin Anda nikmati setiap detilnya, Kisah Pi pas buat Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Kisah Pi saya teringat pada The Highest Tide karya Jim Lynch. Setidaknya ada tiga hal yang mirip atas kedua novel ini. Pertama adalah kedua tokohnya sama-sama seorang remaja pria yang beranjak dewasa: Pi menyukai hal-hal yang berbau ketuhanan, sementara Miles dalam The Highest Tide lebih penasaran dengan binatang-binatang laut dan sesekali anatomi tubuh wanita. Kedua adalah keduanya sama-sama bercerita tentang laut: The Highest Tide lebih banyak membahas keindahan laut dan kisahnya sebagian besar ada di pantai, sementara Kisah Pi lebih banyak membahas tentang perjuangan dan petualangan Pi yang bertahan hidup di lautan mahaluas. Ketiga, kedua tokoh utamanya (dianggap) memiliki semacam kekuatan supernatural yang membuat mereka tampak ajaib bagi para pembaca: Pi, seperti yang disebut tadi, membuat orang percaya kepada Tuhan, sementara Miles nyaris dianggap sebagai dewa karena orang-orang menganggap alam sedang mengatakan sesuatu kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tampaknya kisah-kisah tentang laut dan petualangan di dalamnya selalu menggugah kesadaran kita betapa luasnya alam raya, dan betapa kecil arti dan keberdayaan kita saat menjadi salah satu penghuni di dalamnya. Bila dalam The Highest Tide kita dibuat takjub dengan berbagai narasi yang digunakan Jim Lynch untuk menggambarkan berbagai spesies laut, Yann Martel dalam Kisah Pi membuat kita tercengang akan berbagai kisah petualangannya yang penuh gejolak, yang dikisahkan dengan amat hati-hati. Nah, lewat novelnya ini, ia telah berupaya dengan semegah mungkin merayakan hidup, petualangan, dan ketuhanan dalam kisah seorang pria kecil bernama Pi.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho&lt;br /&gt;Malang-Sidoarjo, 17-19 Juli 2010&lt;/photo&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-5882847148082664973?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/5882847148082664973/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=5882847148082664973' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5882847148082664973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5882847148082664973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/07/perayaan-yang-megah-atas-hidup.html' title='Perayaan yang Megah atas Hidup, Petualangan, dan Ketuhanan'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TEUu8R1rKPI/AAAAAAAAAXc/vS5fv3x5VDw/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-7050371878987176076</id><published>2010-06-29T23:44:00.002+07:00</published><updated>2010-06-29T23:47:22.397+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Tak Selalu Menjadi Nomor Satu</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TCojhZEQCiI/AAAAAAAAAXU/OT8TMNXL2BU/s1600/Tuesday+with+Morrie+(1).jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 166px; FLOAT: left; HEIGHT: 250px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5488238152475740706" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TCojhZEQCiI/AAAAAAAAAXU/OT8TMNXL2BU/s320/Tuesday+with+Morrie+(1).jpg" /&gt;&lt;/a&gt;"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37) ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku yang memikat, mengajarkan tentang makna hidup, saya baca baru-baru ini. Judulnya Selasa Bersama Morrie. Mitch Albom, pengarang kisah nyata ini mengisahkan pertemuan-pertemuannya di beberapa hari Selasa dengan Morrie, mantan dosennya selama kuliah sebelum ia meninggal akibat Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Salah satu nasihat Morrie yang penting dalam salah satu Selasa pertemuan mereka adalah ketika ia menyatakan bahwa tak ada salahnya jikalau kita menjadi nomor dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering menyatakan diri sebagai lebih dari pemenang. Kita biasa berpikir kalau kita ditentukan menjadi nomor satu. Kita, orang Kristen, seolah-olah mengharamkan kekalahan. Anggapan ini ada salahnya. Perhatikanlah Alkitab. Ayat yang menyebut kita lebih dari orang yang menang itu disebabkan oleh Dia yang telah mengasihi kita. Kasih-Nya, bukan pencapaian kita, yang menjadikan kita lebih dari pemenang di hadapan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kancah dunia ini, sering kita kalah. Dunia ini kejam dan kerap tak adil memperlakukan siapa saja. Namun, itu tak semestinya membuat kita mengecilkan pengabdian kita. Morrie berkata: &lt;b&gt;"Abdikan dirimu untuk mencintai sesama, abdikan dirimu untuk masyarakat sekitar dan abdikan dirimu untuk menciptakan sesuatu yang mempunyai makna dan tujuan bagimu."&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita terus mengabdi dan memberikan yang terbaik, tapi dunia tak menjadikan kita nomor satu, tak apa-apa. Karena di dunia kita memang diciptakan untuk tak selalu menjadi nomor satu. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Pengabdian yang luar biasa tak selalu mendatangkan pengenangan yang luar biasa oleh dunia akan hidup seseorang."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Catatan tambahan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila aku disuruh memilih novel terbaik yang memuat tentang renungan yang paling subtil tentang hakikat hidup, aku memilih "Tuesdays with Morrie". Darinya aku belajar bahwa kita tak selalu harus menjadi nomor satu; kita tak selalu mendapatkan apa yang kita harapkan; kita menghargai dan menganggap penting hal-hal seperti keluarga, persahabatan, dan keseharian yang dijalani dengan bersahaja dan penuh dedikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu ngubek-ngubek IMDb, aku menemukan bahwa ternyata Morrie sudah diflmkan*. Semoga suatu saat aku mendapatkan film ini. Ada bagian yang menarik dalam cuplikan film ini, di menit ke 4:08 sampai 4:20 di sebuah video di Youtube**. Bagian ini mengisahkan kepergian Morrie yang telah menderita akibat penyakitnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I don't want you to die," kata Mitch. "We learn to love somebody, and they die or... we die... what's the point?" Mitch gamang menerima kenyataan Morrie akan pergi selamanya. Demikian pula yang kerap terjadi dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Link di IMDb: http://www.imdb.com/title/tt0207805&lt;br /&gt;**) Link di Youtube (salah satu scene): http://www.youtube.com/watch?v=YNCxfFA1PsM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-7050371878987176076?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/7050371878987176076/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=7050371878987176076' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/7050371878987176076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/7050371878987176076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/06/tak-selalu-menjadi-nomor-satu.html' title='Tak Selalu Menjadi Nomor Satu'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TCojhZEQCiI/AAAAAAAAAXU/OT8TMNXL2BU/s72-c/Tuesday+with+Morrie+(1).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-2056602680576183491</id><published>2010-06-11T12:07:00.001+07:00</published><updated>2010-06-11T12:09:40.430+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Keindahan Laut dan Dinamika Masa Puber</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TBHE_eky-9I/AAAAAAAAAW8/SxBInB_qi_A/s1600/asa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 166px; height: 248px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TBHE_eky-9I/AAAAAAAAAW8/SxBInB_qi_A/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481378816304806866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku: The Highest Tide (Pasang Laut)&lt;br /&gt;Penulis: Jim Lynch&lt;br /&gt;Penerjemah: Arif Subiyanto&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tebal: 328 halaman&lt;br /&gt;Cetakan pertama, tahun 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miles O'Malley seorang remaja berusia 13 tahun yang menderita insomnia berat. Ia sering menjelajah teluk di Puget Sound dengan kayaknya untuk mengisi malam-malamnya. Di malam hari ia menyaksikan keindahan laut dengan segala makhluk hidup yang hidup dan tumbuh di dalamnya. Ada remis, siput, bintang laut, dan berbagai makhluk laut lain yang menarik minatnya. Ia juga tergila-gila pada Rachel Carson, penulis buku Under the Sea, seorang ilmuwati yang memutuskan hidup melajang karena jatuh cinta kepada laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minatnya yang besar pada laut juga mendatangkan keuntungan bagi Miles. Beberapa tangkapannya laku dijual. Sampai suatu malam Miles mendapati seekor cumi-cumi raksasa terdampar di Puget Sound. Cumi-cumi raksasa itu telah mati, dan ia memang bukan hidup di perairan yang dangkal. Ia tentunya berasal dari suatu tempat yang jauh, dari laut atau samudera lain yang lebih dalam. Berita ini membuat Miles tenar. Namanya diliput oleh koran dan stasiun-stasiun televisi lokal. Dan yang membuat Miles kemudian disegani adalah pernyataannya atas kejadian itu: "Mungkin bumi ingin mengatakan sesuatu kepada kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga minggu setelah penemuan cumi-cumi raksasa itu, ia menemukan ragfish yang besar dan mirip binatang purba. Akibat hal ini ia semakin menjadi sasaran reporter dan wartawan. Namanya kemudian menjadi bahasan di berbagai surat kabar dan televisi, bahkan ada yang mulai menyembah-nyembahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Miles dalam novel ini diramu dengan indah leh Jim dengan menghadirkan beberapa tokoh lain yang sebaya. Jim Lynch yang jelas tampak memiliki wawasan yang luas tentang laut, tak terjebak menghadirkan novel yang melulu bersifat ensiklopedis. Ia memilih menghadirkan seorang remaja puber, Miles, yang mulai suka pada lawan jenis. Miles mempunyai sahabat bernama Kenny Phelps yang sangat tergila-gila dengan wanita. Miles juga mempunyai pujaan hati bernama Angela Rosemary Stagner atau sering dipanggil Angie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tokoh pendamping ini sangat jauh beda karakter dengan Miles. Miles tampak selalu serius dan penuh rasa ingin tahu; Phelps tak bisa serius dan selalu membicarakan organ-organ kelamin; sementara Angie seorang gadis yang urakan, kecanduan obat bius dan memiliki kelainan psikologis. Jadilah kisah ini tertutur kocak di banyak halamannya; namun Jim tetap ajeg menarasikan berbagai hal tentang laut sebagai menu utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasi-narasi yang dibangun Jim dalam lembar-lembar novel ini mewakili kemampuannya bercerita dengan lihai. Tak banyak orang yang mau tahu dengan laut, namun kehidupan di Puget Sound yang ia kisahkan amat merangsang setiap orang untuk ingin tahu lebih banyak tentang laut. Ia mengisahkan berbagai hal yang terjadi di laut dengan filmis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Miles dan Angie menyaksikan cumi-cumi kecil yang disebut cumi-cumi kupu-kupu menetaskan telur, misalnya, kita akan terpesona dengan narasi yang menggambarkan perubahan warna yang terjadi pada telur-telur itu dalam sekejap. Atau saat Miles mengayuh kayaknya malam-malam, lalu ia melihat berbagai binatang dan tumbuhan laut yang berwarna-warni di tengah kegelapan malam, kita serasa diajak untuk menghampiri misteri laut. Jim mengisahkan semua itu dengan sangat hati-hati. Ia mengajak kita melihat dari dekat seperti apa kehidupan di laut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan atas novel ini juga dilakukan dengan sangat teliti. Kita nyaris tak menemukan kesalahan tulis yang berarti. Terjemahan atas novel ini dibuat dengan pilihan diksi yang indah dan mudah dicerna. Di beberapa bagian malah ditambahkan catatan kaki untuk memperjelas apa yang sedang diterjemahkan -- contohnya seperti apa itu ragfish; apa itu kelainan bipolar yang diidap oleh Angie; dan masih banyak penjelasan lainnya. Penerjemah telah berhasil menghadirkan bacaan yang nyaman diikuti dalam bahasa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jim juga menambahkan bumbu cinta dan romantika dalam novel ini. Tentunya, hal-hal ini berkaitan dengan Miles dan Phelps yang sama-sama sedang bertumbuh menjadi remaja. Miles memiliki cinta yang hening dan tulus -- baginya cinta sejati kita miliki kalau kita mau mengorbankan apa saja untuk yang kita cintai meski kita tak mendapatkan balasan. Sementara Phelps beranggapan bahwa bila kita membawa seikat bunga untuk seseorang yang kita cintai, maka ia harus membuka bajunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya cinta, dua remaja ini, terutama Phelps, suka sekali membahas tentang organ-organ wanita dan seksualitas seperti g-spot, payudara, posisi persetubuhan, dan lain-lain. Namun, perlu dicatat bahwa semua itu disampaikan dengan penuh canda dan sebagai selingan; bukan seperti novel stensilan Nick Carter masa silam, misalnya, yang menjadikan itu sebagai menu sampingan yang porsinya juga besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamika psikologis yang terjadi di masa puber Miles dan Phelps, yang berkaitan dengan perkembangan rasa ingin tahu mereka atas seksualitas, terkisahkan begitu gamblang, bahkan terbilang cukup vulgar di beberapa bagian. Inilah yang tampaknya membuat Gramedia selaku penerbit memberikan label "novel dewasa" di sampul belakang novel ini, padahal The Highest Tide dibuat untuk dibaca remaja. Tak bisa dipungkiri, ini terjadi karena perbedaan kultur yang ada di negeri kita dengan Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kisah cinta dan hal-hal erotis, Jim juga mengisahkan tentang seorang peramal tua bernama Florence. Florence yang menjadi sahabat Miles suatu ketika membuat pernyataan yang detil tentang kapan akan terjadi pasang laut tertinggi. Ramalan inilah yang sebenarnya menjadi awal bagi terbentuknya konflik utama di novel ini -- selain beberapa konflik kecil lainnya. Miles mengucapkan ramalan Florence setelah ia semakin populer. Saat itu ia sedang diundang untuk berbicara tentang hal-hal yang ia ketahui tentang laut. Ia bahkan diundang dalam acara-acara yang digagas beberapa profesor kelautan, bahkan menjadi sosok yang disembah-sembah oleh sebuah kelompok pemujaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Miles, sosok remaja yang tinggi badannya susah bertambah, tak berdaya untuk menyatakan cinta kepada Angie, merasa diri tak tampan dan penuh kekurangan, pada akhirnya menjadi sosok yang akan disukai para pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak orang atau remaja seperti Miles. Hingga kini kehidupan di laut rasanya tak banyak mengundang rasa ingin tahu banyak orang. Mungkin penyebab utamanya adalah karena kita sendiri bukan spesies-spesies yang menjadikan laut sebagai habitat. Namun tak dapat dipungkiri bahwa dua pertiga bagian bumi ini ditutupi air laut dan begitu banyak asal-muasal kehidupan yang berasal dari laut. Keragaman spesies di laut jumlahnya jauh lebih tinggi daripada di darat atau di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa ingin tahu yang mendalam atas sesuatu yang masih menyimpan banyak misteri tampaknya menjadi obsesi terdalam Jim untuk menulis kisah tentang laut. Setelah membaca novel ini kita akan sepakat dengan pernyataan Rachel Carson, seseorang yang telah mendedikasikan hidupnya buat laut: "Kalau Anda temukan puisi dalam buku-buku tulisanku, itu bukan karena aku sengaja menulis puisi, tapi karena tak seorang pun mampu menulis dengan jujur tentang lautan, tanpa menorehkan puisi." (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho&lt;br /&gt;Sidoarjo, 10 Juni 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resensi lain oleh Wawan Eko Yulianto bisa dibaca &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=400281672770&amp;amp;h=e29ca6e61b5345e3414903ea54d80e71&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwawanekoyulianto.multiply.com%2Freviews%2Fitem%2F13" target="_blank" title="http://wawanekoyulianto.multiply.com/reviews/item/13"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-2056602680576183491?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/2056602680576183491/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=2056602680576183491' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2056602680576183491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2056602680576183491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/06/keindahan-laut-dan-dinamika-masa-puber.html' title='Keindahan Laut dan Dinamika Masa Puber'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/TBHE_eky-9I/AAAAAAAAAW8/SxBInB_qi_A/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-4262634928501178316</id><published>2010-05-05T07:09:00.001+07:00</published><updated>2010-05-05T07:10:55.794+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Balas Budi Seorang Pecinta Alam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S-C3cMGEBPI/AAAAAAAAAWE/GjQhS-_e9VI/s1600/asas.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 204px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S-C3cMGEBPI/AAAAAAAAAWE/GjQhS-_e9VI/s320/asas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467571642538657010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sidik Nugroho*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Amira and Three of Cups of Tea&lt;br /&gt;Penulis: Greg Mortenson dan David Oliver Relin&lt;br /&gt;Penyadur: Sarah Thomson&lt;br /&gt;Penerjemah: Ingrid Nimpoeno&lt;br /&gt;Penyunting: Emi Kusmiati&lt;br /&gt;Penerbit: Qanita&lt;br /&gt;Tebal: 250 halaman&lt;br /&gt;Cetakan pertama, November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Perlu ada upaya melihat,&lt;br /&gt;upaya melihat dengan menjungkirbalikkan segala makna yang sudah ada,&lt;br /&gt;untuk sampai pada yang tak dikenal,&lt;br /&gt;hidup sejati yang berada di tempat lain&lt;br /&gt;~ Arthur Rimbaud, penyair Prancis (1854-1891)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Arthur Rimbaud, penyair yang suka berkelana itu, rasanya tepat benar mewakili jiwa petualang seorang pria bernama Greg Mortenson ketika suatu hari ia memandangi anak-anak di sebuah pedalaman Pakistan menulis dengan ranting di tanah. Saat itu mereka tengah belajar dan menuntut ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa jauh kondisi yang dilihatnya itu dengan negeri dari mana ia berasal, Amerika. Niatnya pun bulat: ia ingin membangun sekolah bagi anak-anak itu. Selain karena kejadian itu, hal ini juga disebabkan karena ia telah ditolong oleh seorang Pakistan ketika hampir mati di Gunung Korakoram di Pegunungan Himalaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Greg sedang tersesat dan nyaris binasa. Penolongnya itu bernama Haji Ali. Di rumah Haji Ali di Korphe, sebuah desa di sana, Greg dirawat hingga pulih. Suatu ketika, oleh Haji Ali ia diberi tiga cangkir teh yang melambangkan penerimaan, persaudaran dan ikatan sehidup-semati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit rintangan yang ditemui Greg untuk mewujudkan niat balas budinya membangun sekolah pertamanya di Pakistan, sampai akhirnya ia mendapat bantuan dana dari seorang pengusaha Prancis yang kaya bernama Jean Hornie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Greg Mortenson yang ditulis ulang (disadur) oleh Sarah Thomson dalam buku ini ditujukan bagi pembaca muda. Buku aslinya yang jauh lebih tebal, Three Cups of Tea, yang ditulis oleh Greg sendiri bersama seorang rekan bernama David Oliver Relin, telah rilis pertama kali pada Januari 2007 (diterbitkan Penguin) dan menjadi sebuah buku laris yang diterjemahkan berbagai bahasa. Kisahnya yang dramatis dan penuh dedikasi membangun sekolah tanpa menguatirkan kondisi politik yang sedang penuh gejolak di masa itu, perbedaan agama, dan berbagai tantangan lain akan selalu dikenang banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarah Thomson menyadur buku asli itu menjadi lebih ringkas, mengisahkan hidup Greg dari sudut pandang orang ketiga. Ia pun menyertakan wawancara dengan Amira, putri Greg yang kini berusia 14 tahun. Dalam wawancara itu dikisahkan bagaimana Amira memandang sosok ayahnya, dan apa-apa saja yang ia lakukan untuk membantu ayahnya membangun lebih banyak lagi sekolah: Ia menyanyi pada beberapa kesempatan, ikut ayahnya presentasi, dan membantu ayahnya mengumpulkan banyak recehan -- programnya dinamai Pennies for Peace -- untuk dijadikan salah satu sumber dana bagi misi Greg membangun sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kelebihan utama yang didapatkan oleh sidang pembaca (muda) ketika membaca versi buku ini. Kita dapat mengenal sosok Greg dari kacamata Amira, anaknya, yang disampaikan oleh penulis dalam sebuah bab khusus. Lewat bab inilah para pembaca (muda) dapat memahami lebih realistis -- bukan dari kacamata dan pemikiran Greg -- bahwa tugas dan panggilan yang dilakukan dalam hidup Greg Mortenson adalah tugas yang bahaya sekaligus penuh tantangan dan maknawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah-daerah yang ia dirikan sekolah di Pakistan -- dan kemudian Afghanistan -- tak jauh dari tempat-tempat tinggal dan keliaran para Taliban yang radikal. Namun, Greg yakin radikalisme yang keliru dapat diubah lewat pendidikan. Seorang anak yang hidupnya dipenuhi dengan pengetahuan dan kebijaksanaan, saat besar nanti dapat hidup dengan bijak, dan menyongsong hari depan dengan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang juga dilengkapi foto-foto berwarna ini tepat dibaca oleh para guru, pemerhati pendidikan, bahkan para pecinta alam yang kerap mencari jati-diri. Golongan terakhir, rasanya memang membutuhkan buku ini, yang dapat memberikan pencerahan dan pemaknaan yang menjadi sisi lain suatu pengembaraan atau petualangan. Greg sendiri adalah seorang yang sangat terpengaruh oleh para pecinta alam yang menginspirasi hidupnya. Salah satunya Edmund Hillary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku hanya pendaki gunung bersemangat dengan kemampuan biasa yang mau bekerja cukup keras, serta punya imajinasi dan tekad yang diperlukan. Aku hanya orang biasa. Medialah yang mencoba mengubahku menjadi sesosok pahlawan. Tapi, aku telah belajar banyak selama bertahun-tahun. Selama kau tak mempercayai banyak omong kosong tentang dirimu sendiri, kau tidak akan terlalu dirugikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata di atas diucapkan Edmund Hillary, penakluk pertama Mount Everest, puncak tertinggi di Pegunungan Himalaya, pada tanggal 13 September 1995. Greg mendengarnya secara langsung ketika kata-kata itu diucapkan. Kata-kata itu terus membakar semangatnya, terus membuat hidupnya bergairah untuk menaklukkan alam yang keras seraya membuat perubahan dengan mendirikan sekolah-sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Greg membangun sekolahnya, Amira menyanyi dan giat mengajak banyak pihak mengumpulkan recehan, buku ini serasa mengajak kita untuk berbuat sesuatu bagi sesama. Ada kesan yang kuat, yang menyentuh nurani kita untuk memiliki sebuah pengabdian atau perbuatan bagi sesama -- terutama bagi mereka yang diabaikan dan kurang beruntung. Lewat buku ini kita disadarkan bahwa hidup bukan hanya sebuah perjalanan menjadi dewasa, mendapat kerja, mendapat istri, mempunyai anak, mencari nafkah, lalu mati. Ada sesuatu yang dapat kita lakukan, lebih daripada semua itu. Inilah yang tampaknya menjadi kekuatan buku ini, yang masih jarang dimiliki oleh buku-buku motivatif atau inspiratif lainnya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo dan pemerhati pendidikan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-4262634928501178316?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/4262634928501178316/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=4262634928501178316' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4262634928501178316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4262634928501178316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/05/balas-budi-seorang-pecinta-alam.html' title='Balas Budi Seorang Pecinta Alam'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S-C3cMGEBPI/AAAAAAAAAWE/GjQhS-_e9VI/s72-c/asas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-7025306594357037348</id><published>2010-04-17T09:37:00.005+07:00</published><updated>2010-04-17T09:43:29.623+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Kembali pada Pria Itu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S8kgBs49GUI/AAAAAAAAAV0/dhbfZoDk-1U/s1600/asa.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 191px; height: 158px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S8kgBs49GUI/AAAAAAAAAV0/dhbfZoDk-1U/s320/asa.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460931236765440322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: 'Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,' dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku." (Mazmur 32:5) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu sedang menghadap para petugas penjara. Mereka menanyakan apakah hukumannya telah membuatnya sadar akan kejahatannya. Ia tidak segera menjawab "ya" atau "tidak". Ia malah berkata kurang lebih demikian, "Dulu aku hanyalah seorang anak muda yang tak punya banyak pertimbangan dan melakukan sebuah kesalahan besar. Andaikan aku dapat kembali pada pria itu dan mengatakan agar dia tidak melakukannya. Namun aku tak bisa...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu kemudian mendapatkan imbalan stempel bertuliskan "approved". Ya, pembebasan bersyaratnya disetujui!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu bernama Ellis "Red" Redding. Diperankan oleh aktor ternama Morgan Freeman, pria dalam film The Shawshank Redemption itu menyadarkan saya tentang pentingnya untuk menjadi bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Red telah mendekam puluhan tahun di penjara. Penjara sebagai institusi yang menghadirkan suasana statis mampu menghasilkan perenungan yang dinyatakannya. Namun, walaupun tak terpenjara seperti Red, pernahkah Anda berandai-andai untuk kembali menjadi muda? Pernahkah Anda mengingat sebuah kesalahan yang teramat konyol dan terlampau memalukan, dan rasanya berharap itu tidak pernah terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pernah, sadarilah anugerah Allah. Anugerah itu memampukan kita menyadari keadaan ini: kesalahan kita di masa lalu tak lantas membuat hidup kita jadi berantakan di masa kini. Dalam anugerah-Nya Ia memberi pengampunan kepada kita. Anugerah itu membebaskan. Anugerah Allah itu membuat kita percaya diri. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Tak ada perbuatan yang begitu baik untuk membuat Allah lebih mengasihi kita; tidak ada kesalahan yang begitu parah yang membuat Ia menutup pintu bagi kita."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-7025306594357037348?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/7025306594357037348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=7025306594357037348' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/7025306594357037348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/7025306594357037348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/04/kembali-pada-pria-itu.html' title='Kembali pada Pria Itu'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S8kgBs49GUI/AAAAAAAAAV0/dhbfZoDk-1U/s72-c/asa.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-6762657568925864048</id><published>2010-03-12T14:26:00.002+07:00</published><updated>2010-03-12T14:36:29.752+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Upaya Memaknai Tuhan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri." (Keluaran 6:2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya memaknai Tuhan selalu saja ada dari masa ke masa. Bahkan kini, saat ruang bagi publikasi suatu karya lebih mudah dilakukan karena tersedianya berbagai blog atau situs jaringan-pertemanan sosial, saya menemukan banyak sekali puisi bertema Tuhan yang ditulis para penyair muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menuliskan telah membunuh Tuhan, ada yang menyamakan Tuhan dengan sebuah benda. Ada juga yang tetap mengagungkan Tuhan sebagai sosok yang agung dan suci. Semuanya ini membuat saya berpikir: Kita mengenal Tuhan sebagai siapa? Atau justru sebagai apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika saya menemukan sebuah buku yang baik untuk menjadi pendamping pembacaan Taurat karya Nico Ter Linden, seorang penulis asal Belanda. Ia menyatakan pendapatnya yang relevan dengan apa yang saya pikirkan: "Pada dasarnya, Allah itu sungguh berbeda dari apa yang mereka khayalkan tentang Dia. Sekalipun demikian, dalam tiap keterbukaannya mereka percaya, bahwa suatu saat, bila mereka bertatapan muka dengan muka di balik tirai itu, akan nyata segala pemikiran, impian, dan khayalan mereka akan memberikan kehangatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Nico tulis merupakan suatu penjabaran atas penulisan kitab Kejadian, kitab paling depan dalam iman Nasrani yang menjelaskan paling awal jati-diri Allah. Kiranya apa yang ia sampaikan itu menjadi pegangan untuk tak sembarangan memaknai Tuhan, mengingat bahwa Ia memang pantas diagungkan. Di zaman ini, saat materi dan kekuasaan dipuja-puja, orang dapat dengan mudah dan keliru -- bukan dengan hati yang terbuka -- memberi makna atas sesuatu yang tak kelihatan. (~s.n~)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Segala ucapan tentang yang di atas, dari bawah juga asalnya, itulah kenyataannya. (H.M. Kuitert)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-6762657568925864048?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/6762657568925864048/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=6762657568925864048' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/6762657568925864048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/6762657568925864048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/03/upaya-memaknai-tuhan.html' title='Upaya Memaknai Tuhan'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-700025881507681678</id><published>2010-02-24T07:01:00.000+07:00</published><updated>2010-02-24T07:02:10.890+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>dik, maukah kau?</title><content type='html'>dik, maukah kau&lt;br /&gt;menikmati senja terindah?&lt;br /&gt;sebuah gunung harus kita taklukkan&lt;br /&gt;belukar dan ilalang akan kita terjang&lt;br /&gt;pendakian jarang istirahat akan kita adakan&lt;br /&gt;hingga puncak gunung itu tergapai&lt;br /&gt;dan matamu yang lelah-teduh&lt;br /&gt;tentunya akan berubah indah&lt;br /&gt;membaur dengan senyummu&lt;br /&gt;dan ujar-ujarmu yang riang dan manja&lt;br /&gt;: senja, oh, senja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dik, maukah kau&lt;br /&gt;menikmati senja terindah lagi?&lt;br /&gt;sebuah hutan akan kita terabas&lt;br /&gt;menuju pantai perawan itu&lt;br /&gt;di tepi pulau kita yang sunyi&lt;br /&gt;yang mungkin dihuni binatang buas&lt;br /&gt;tak ada turis di sana&lt;br /&gt;tak ada warkop dan persewaan pakaian renang&lt;br /&gt;namun kau harus memikul kayu bakar&lt;br /&gt;dan aku membawa perlengkapan tenda&lt;br /&gt;berat dik? tak masalah, katamu&lt;br /&gt;hingga peluh yang ada di keningmu kelak kuhapus&lt;br /&gt;dan matamu kembali bersinar&lt;br /&gt;bibirmu kembali bergetar&lt;br /&gt;: senja, oh, senja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dik, maukah kau&lt;br /&gt;menikmati senja terindah...&lt;br /&gt;lagi?&lt;br /&gt;tolong buatkan aku secangkir teh&lt;br /&gt;maka nanti akan kukisahkan kepadamu&lt;br /&gt;sebentuk kisah yang mengantarmu menjelang malam&lt;br /&gt;tanpa pernah melupakan&lt;br /&gt;: senja kali ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malang-sidoarjo, dalam bis, menjelang senja&lt;br /&gt;21.02.2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-700025881507681678?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/700025881507681678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=700025881507681678' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/700025881507681678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/700025881507681678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/02/dik-maukah-kau.html' title='dik, maukah kau?'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-245188143672281069</id><published>2010-02-13T19:44:00.001+07:00</published><updated>2010-02-13T19:59:21.770+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penjiplakan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Resensiku Dijiplak di Surabaya Post</title><content type='html'>Mungkin ini pengalamanku paling apes sejauh ini dalam hal meresensi buku. Seorang redaktur koran memintaku meresensi buku Mendongkel Yesus dari TahtaNya. Aku mau minta ke penerbitnya takut kelamaan. Aku beli di Surabaya, kubaca dua minggu, kubuat resensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah resensi itu kukirim, redaktur tersebut menganggap tulisanku masih kurang apik dan maknyus. Akhirnya kuubah sampai dua kali. Kukirimkan tiga versi tulisanku, tapi masih belum layak muat. Bagiku tak masalah dengan keputusan itu. Tiap editor atau redaktur punya selera. Tapi masalah lain datang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, kutemukan berita ini waktu aku mau cari bahan nulis renungan. Kaget aku: serasa membaca tulisanku sendiri! Tulisan ini dimuat di Surabaya Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini linknya: &lt;a href="http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&amp;amp;act=view&amp;amp;id=40d670477ea432dea2ee336c54d03a9b&amp;amp;jenis=d41d8cd98f00b204e9800998ecf8427e" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;&lt;span&gt;http://www.surabayapost.co&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.id/?mnu=berita&amp;amp;act=view&amp;amp;i&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;d=40d670477ea432dea2ee336c&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;54d03a9b&amp;amp;jenis=d41d8cd98f0&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;0b204e9800998ecf8427e&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukutipkan sekalian resensinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjernihkan Pengeruhan Iman Kristen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya&lt;br /&gt;Penulis: Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace&lt;br /&gt;Penerjemah: Helda Siahaan&lt;br /&gt;Tebal: 285 halaman, 2009&lt;br /&gt;Peresensi: Supriyanto&lt;br /&gt;(Peminat buku keagamaan tinggal di Surabaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kelahiran Yesus, sebuah nubuat tersabadakan. Seorang tua bernama Simeon menubuatkan Yesus akan selalu menjadi titik perbantahan. Takhta-Nya sebagai Mesias selalu digoyang dan diserang. Dan tak salah, jika belakangan kita akan terus melihat guncangan dan serangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di berbagai kampus di seluruh dunia, dikaji tentang bagaimana takhta Yesus terus digoyang. Yang mutakhir, dikembangkan sebuah konsep pengajaran baru yang bertolak belakang dengan Kristianitas. Yesusanitas atau Jesusanity sebuah pengajaran yang tak mendudukkan Yesus sebagai Juruselamat. Secara konseptual Yesusanitas merupakan ideologi untuk menempatkan Yesus sebagai tokoh politik radikal, atau guru yang agung dan hebat, dan menolak posisi Yesus sebagai Kristus, atau Mesias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel dan film Da Vinci Code laris-manis di masyarakat global. Serangan atas iman Kristen dilancarkan dengan gencar dan banyaknya buku yang mengguncang iman Kristen seolah menjawab nubuat Simeon. Berbagi buku dan film itu pun diakui oleh para kreatornya didasarkan atas hasil riset mendalam. Hal ini tak pelak menjadikan seseorang terdorong menjadi penganut Yesusanitas. Konsep ini semakin menyedot perhatian publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua penulis buku Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya dengan judul asli Dethroning Jesus, Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace, mencoba melakukan klasifikasi beberapa klaim seputar Yesus ”yang lain.” Mereka melakukan pemilhan dalam enam bagian. Klaim pertama adalah tentang kitab-kitab dalam Perjanjian Baru (PB) yang dianggap dirusak oleh para penyalin hingga tak terpulihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim tersebut dimotori buku karya Bart Ehrman berjudul Misquoting Jesus. Buku bernada provokasi ini menjadikan orang pesimis akan kondisi naskah-naskah yang menjadi acuan penulisan Injil, dengan mengisyaratkan tak adanya naskah asli yang menjadi sumber atau acuan penulisan Injil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim kedua dan ketiga terkait eksistensi berbagai Injil dari kelompok Gnostik rahasia, seperti Injil Yudas dan Injil Tomas. Berbagai kelomopk Gnostik memberi penekanan berlebihan mengenai wahyu ilahi rahasia terhadap orang-orang tertentu saja. Injil Yudas disebut-sebut menjadi kitab bagi versi Kristianitas alternatif di abad-abad pertama Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus tersebut, Bart Ehrman berkomentar di sini Injil Yudas menjungkirbalikkan Kristianitas. Yudas yang dianggap pemberontak karena mengkhianati Yesus dalam Kristianitas, justru menjadi pembuka jalan bagi penyaliban. Intinya, justru karena "pengkhianatan" Yudas, Yesus bisa mati tersalib. Dengan tersalibnya Yesus maka dibukalah penyelamatan bagi umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim yang keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap hanya bermuatan sosial dan politik. Klaim ini muncul dengan adanya buku karya Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week tentang minggu terakhir Yesus sebelum disalib. Saat itu Yesus ada di Yerusalem. Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai muda. Ia mengucapkan sesuatu tentang pajak dan kekaisaran, berhadapan dengan mahkamah agama Yahudi, hingga mati disalib dengan tuduhan pemberontakan. Semuanya tampak memuat hal berbau politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan. Ia kemudian menitikberatkan gagasannya pada rencana Yesus untuk membangun sebuah dinasti Yahudi bersama Yakobus, Petrus dan Yohanes. Sebuah rencana yang kemudian gagal karena tampilnya Paulus yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam PB dan meletakkan dasar bagi Kristianitas lewat ajaran-ajarannya tentang Yesus Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim keenam, berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel membuat film dokumenter tentang ini. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak. Istri, anak, dan beberapa saudara Yesus dimakamkan selokasi dengan Yesus. Namun, hasil uji DNA telah menyatakan bahwa antara makam Yesus dan sebuah makam di situ—yaitu makam Mariamne, yang diduga adalah Maria ibu Yesus—tidak memiliki hubungan darah. Selain itu, nama Yesus cukup populer pada masa itu. Josephus, seorang ahli sejarah menyebut ada 10 orang bernama Yesus saat Yesus Kristus hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini tepat dibaca oleh semua kalangan yang mengikuti maraknya perdebatan seputar iman Kristen belakangan ini, yang membenturkan logika dan keyakinan atas Yesus yang selama ini dikenal dari doktrin gerejawi. Buku ini mencoba menawarkan pemikiran kritis atas klaim-klaim itu. Buku ini menjadi semacam apologetika yang dikemas dengan meramu beragam wacana seputar perdebatan iman Kristiani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; *******&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan resensiku Versi Pertama: &lt;a href="http://tuanmalam.blogspot.com/2009/04/yesusanitas-dan-kristianitas-dalam.html" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;&lt;span&gt;http://tuanmalam.blogspot.&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;com/2009/04/yesusanitas-da&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;n-kristianitas-dalam.html&lt;/a&gt; dan Versi Ketiga:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sidiknugroho?v=app_2347471856&amp;amp;ref=profile#%21/note.php?note_id=128128037770" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;&lt;span&gt;http://www.facebook.com/si&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;diknugroho?v=app_234747185&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;6&amp;amp;ref=profile#!/note.php?n&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;ote_id=128128037770&lt;/a&gt;. Yang kedua lupa kusimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukutipkan ya: Versi Pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesusanitas dan Kristianitas dalam Sebuah Buku Apologetika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya&lt;br /&gt;Penulis: Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace&lt;br /&gt;Penerjemah: Helda Siahaan&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia&lt;br /&gt;Tebal: 285 halaman&lt;br /&gt;Cetakan pertama, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesusanitas -- apakah itu? Diterjemahkan dari bahasa Inggris Jesusanity, Yesusanitas adalah suatu ideologi yang sedang diajarkan di berbagai perguruan tentang kedudukan dan identitas Yesus sebagai tokoh politik radikal, atau guru yang agung dan hebat. Dalam Yesusanitas, posisi Yesus sebagai Kristus, atau Mesias, tidak diakui. Karenanya, Yesusanitas bertolak belakang dengan Kristianitas, pengajaran yang menjunjung tinggi kedudukan Yesus sebagai Juruselamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesusanitas muncul, kemudian kian merebak, karena adanya beberapa klaim seputar Yesus "yang lain", yang semakin menyedot perhatian publik. Dua penulis buku ini, Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace, memilah klaim-klaim tersebut dalam enam bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim pertama adalah tentang kitab-kitab dalam Perjanjian Baru yang dianggap telah sangat dirusak oleh para penyalin hingga tak terpulihkan. Klaim ini dimotori oleh buku karya Bart Ehrman berjudul Misquoting Jesus. Buku yang ditulis dengan gaya amat provokatif ini membuat orang pesimis akan kondisi naskah-naskah yang menjadi acuan penulisan Injil. Ehrman membuat pernyataan-pernyataan yang mengisyaratkan ketiadaan naskah asli yang menjadi sumber atau acuan penulisan Injil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, dibandingkan dengan berbagai jenis manuskrip lain berbahasa Latin dan Yunani yang ditemukan, Perjanjian Baru memiliki jumlah manuskrip yang sangat jauh lebih banyak. Dalam kurun waktu 50 tahun (100-150 M) saja, ada 5700 manuskrip Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani, lebih dari 10.000 manuskrip berbahasa Latin, lebih dari 1 juta kutipan bapa gereja, dan belum termasuk sumber-sumber tertulis lain. Klaim Ehrman, kemudian menjadi begitu memukau, sekaligus meragukan, utamanya karena ia cenderung untuk berfokus pada perubahan-perubahan drastis dalam sejarah teks -- yang jumlahnya hanya segelintir. Perubahan-perubahan ini semestinya diperlakukan memadai dengan menakarnya ulang lewat kritik teks yang diupayakan menyeluruh dan terpadu dari sumber-sumber yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim kedua adalah keberadaan Injil-Injil Gnostik rahasia, seperti Injil Yudas yang disebut-sebut menjadi kitab bagi versi Kristianitas alternatif di abad-abad pertama Masehi. Aliran Gnostik memberi penekanan berlebihan mengenai wahyu ilahi rahasia terhadap orang-orang tertentu saja. Dalam kasus ini, lagi-lagi ada Bart Ehrman juga yang berkomentar di sini bahwa Injil Yudas menjungkirbalikkan Kristianitas yang sejati: Yudas yang dianggap pemberontak dalam Kristianitas, justru menjadi pembuka jalan bagi penyaliban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim kedua ini lemah kedudukannya mengingat manuskrip Injil Yudas diindasikan ditulis pada akhir abad ketiga, dan naskah aslinya diperkirakan ditulis abad kedua. Jadi, jelas di sini bahwa Yudas bukan penulisnya. Ia mati menggantung diri tak lama setelah Yesus disalib. Jadi, semua yang ada di sini hanya rekaan: Yudas fiktif dan Yesus fiktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim ketiga datang dari Injil Gnostik lain, yaitu Injil Tomas. Dalam Injil yang hanya memuat 114 pernyataan Yesus ini, Tomas menampilkan Yesus sebagai seorang guru. Ia tidak melakukan mukjizat, tidak memenuhi nubuat apa pun, dan tidak melakukan penebusan dosa. Injil Tomas menekankan pengetahuan, namun mengabaikan iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap intinya bermuatan sosial dan politik. Klaim ini muncul dengan adanya buku karya Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week tentang minggu terakhir Yesus sebelum disalib. Saat itu Yesus ada di Yerusalem. Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai muda. Ia menyucikan Bait Allah dengan cara yang radikal, mengucapkan sesuatu tentang pajak dan kekaisaran, berhadapan dengan mahkamah agama Yahudi, hingga mati disalib dengan tuduhan pemberontakan. Semuanya tampak memuat hal-hal berbau politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borg dan Crossan kemudian menganalogikan secara politis sejarah Yesus dengan kondisi Amerika saat ini. Yesus dianggap politisi unggul yang "dibunuh karena impian-Nya", dan kemudian dibenarkan oleh Tuhan. Dalam Kristianitas, Yesus tidak melakukan semuanya karena bertujuan politis. Ia tak sekedar memenuhi impian-Nya, tapi kehendak Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan. Ia kemudian menitikberatkan gagasannya pada rencana Yesus untuk membangun sebuah dinasti Yahudi bersama Yakobus, Petrus dan Yohanes. Sebuah rencana yang kemudian gagal karena tampilnya Paulus yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam Perjanjian Baru dan meletakkan dasar bagi Kristianitas lewat ajaran-ajarannya tentang Yesus Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak di sini bahwa Tabor berusaha mempertahankan ke-Yahudi-an Yesus dengan mengabaikan Paulus, seorang rasul -- yang justru "sangat Yahudi" -- yang menyebarkan berita Injil ke bangsa-bangsa bukan Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim keenam datang dari berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel bahkan sudah membuat film dokumenter tentang ini dengan James Tabor sebagai penasihat sejarah utama. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak. Istri, anak, dan beberapa saudara Yesus dimakamkan selokasi dengan Yesus. Namun, hasil uji DNA telah menyatakan bahwa antara makam Yesus dan sebuah makam di situ -- yaitu makam Mariamne, yang diduga adalah Maria ibu Yesus atau Maria Magdalena -- tidak memiliki hubungan darah. Selain itu, nama Yesus cukup populer pada masa itu. Josephus, seorang ahli sejarah menyebut ada 10 orang bernama Yesus saat Yesus Kristus hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim-klaim di atas menantang logika dan keyakinan kita atas keabsahan jati-diri Yesus yang selama ini dikenal dari Alkitab atau doktrin gerejawi. Buku apologetika yang dikemas dengan meracik sumber-sumber sejarah terpilih dan wacana-wacana terkini ini layak untuk dijadikan pegangan yang standar dan bersifat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku ini (asli: Dethroning Jesus), tepat benar untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi -- dan kemungkinan besar akan terus terjadi -- sesuai sebuah nubuat di masa silam: bahwa Yesus Kristus akan selalu menjadi biang perbantahan. Takhta-Nya sebagai Mesias selalu digoyang dan diserang. Kristianitas, kini tak sekedar memuat ibadah dan pengagungan, namun tampaknya juga mencakup upaya menelusuri dan memetik hikmah dari beraneka perbantahan itu. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho,&lt;br /&gt;Peminat sejarah gereja, alumnus jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang, guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, punya blog di &lt;a href="http://tuanmalam.blogspot.com/" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;&lt;span&gt;http://tuanmalam.blogspot.&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; ********&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukutipkan Versi Kedua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus Kristus atau Yesus Saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: Mendongkel Yesus dari Takhta-Nya&lt;br /&gt;Penulis: Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace&lt;br /&gt;Penerjemah: Helda Siahaan&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia&lt;br /&gt;Tebal: 285 halaman&lt;br /&gt;Cetakan pertama, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah film dikisahkan Yesus ingin tidak mati disalib. Ia berandai-andai memiliki keluarga, hidup bahagia sebagai manusia biasa. Kehidupannya "yang lain" ini ada dalam sebuah film bertajuk The Last Temptation arahan sutradara Martin Scorsese yang sempat memicu kontroversi. Namun, film Scorsese itu bisa dikatakan tak terlalu telak -- bahkan bisa dikatakan tak bermaksud -- menyerang iman Kristen, karena Yesus yang digambarkan dalam film itu hanya Yesus yang berandai-andai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini, ada juga buku -- yang kemudian juga difilmkan -- yang membuat banyak orang tertohok. Sejak novel dan film Da Vinci Code laris-manis di masyarakat global, serangan atas iman Kristen dilancarkan dengan gencar dan bertubi-tubi dengan adanya buku-buku yang menggoncang iman. Buku-buku dan film-film yang diakui oleh para kreatornya didasarkan atas hasil riset mendalam, bukan lagi berandai-andai, yang cukup menyerang keutuhan teologi Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teologi Kristen mengajarkan bahwa Yesus, yang populer juga dengan nama Isa, adalah Yesus Kristus. Kristus menunjukkan eksistensi Yesus yang bukan hanya seorang nabi. Kata Kristus berarti "yang diurapi oleh Allah" atau Mesias. Kata ini menekankan penjelasan penting dalam teologi Kristen bahwa ia adalah juruselamat yang diutus oleh Tuhan untuk menebus dosa-dosa manusia. Bahkan, ia adalah Tuhan yang mewujud jadi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sulitnya peran dan kedudukan Yesus dicerna akal sehat manusia -- ia disebut seratus persen Tuhan dan seratus persen manusia -- maka beraneka perdebatan tentangnya berkembang sepanjang sejarah. Perdebatan, juga klaim, yang menimbulkan aneka penafsiran, akhirnya dapat bermuara pada sebuah ideologi yang disebut Yesusanitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesusanitas -- apakah itu? Diterjemahkan dari bahasa Inggris Jesusanity, Yesusanitas adalah suatu ideologi yang sedang diajarkan di berbagai perguruan tentang kedudukan dan identitas Yesus sebagai tokoh politik radikal, atau guru yang agung dan hebat. Dalam Yesusanitas, posisi Yesus sebagai Kristus, atau Mesias, tidak diakui. Karenanya, Yesusanitas berseberangan dengan Kristianitas, pengajaran yang menjunjung tinggi kedudukan Yesus sebagai Juruselamat dalam agama Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesusanitas muncul, kemudian kian merebak, karena adanya beberapa klaim seputar Yesus "yang lain", yang semakin menyedot perhatian publik. Dua penulis buku ini, Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace, memilah klaim-klaim tersebut dalam enam bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim pertama hingga kelima dalam buku ini disimpulkan Bock dan Wallace dari buku-buku yang menyanggah keabsahan dan keakuratan jati-diri Yesus. Pertama, tentang kitab-kitab dalam Perjanjian Baru yang dianggap telah sangat dirusak oleh para penyalin hingga tak terpulihkan. Klaim ini dimotori oleh buku karya Bart Ehrman berjudul Misquoting Jesus. Klaim kedua dan ketiga adalah keberadaan Injil-Injil Gnostik rahasia, seperti Injil Yudas dan Injil Tomas. Klaim keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap hanya bermuatan sosial dan politik, seperti yang diuraikan Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week. Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan dan dianggapnya berniat mendirikan suatu dinasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim keenam cukup menghebohkan karena datang dari berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel bahkan sudah membuat film dokumenter tentang ini dengan James Tabor sebagai penasihat sejarah utama. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim-klaim di atas menantang logika dan keyakinan umat Kristen atas keabsahan jati-diri Yesus yang selama ini dikenal dari Alkitab atau doktrin gerejawi. Buku ini mencoba menawarkan pemikiran kritis atas klaim-klaim itu. Buku apologetika yang dikemas dengan meracik berbagai wacana terkini seputar perdebatan iman Kristiani ini layak untuk dijadikan pegangan yang standar dan bersifat umum. Bukan hanya bagi umat Kristen, buku ini juga tepat dibaca oleh semua kalangan yang mengikuti maraknya perdebatan seputar iman Kristen belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini secara garis besar membela iman Kristen. Kehadiran buku-buku yang disebut dalam enam klaim di atas -- juga film dari Discovery Channel yang tadi telah disebut -- mau tak mau dapat menimbulkan efek yang luas bagi umat Kristen. Sudah barang tentu, semua klaim ini bisa membuat banyak umat Kristen sangsi atas keabsahan iman yang selama ini mereka anut. Perlu ada sebuah buku, dari teolog yang berkompeten dalam menangkal serangan-serangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darell L. Bock adalah seorang yang tepat; ia tercatat sebagai penulis buku laris Breaking the Da Vinci Code. Ia juga menjadi kontributor di ChristianityToday.com, sebuah situs yang sangat aktif dalam membahas isu-isu yang berkembang seputar kekristenan di masa kini. Rekannya, Daniel B. Wallace, adalah penulis yang produktif, seorang ahli-kritik teks Perjanjian Baru. Kedua penulis ini adalah profesor di Dallas Theological Seminary di Texas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, status mereka sebagai profesor tak membuat pembaca awam mengerutkan dahi. Bahasa yang dipergunakan dalam buku ini cenderung populer, dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia cukup nyaman diikuti. Gramedia Pustaka Utama sebagai penerbit yang menerbitkan beberapa buku terjemahan yang telah disebut dalam klaim-klaim di atas tadi, mengambil tindakan jitu menerbitkan buku terjemahan ini pula. Ini menjadi sebuah keputusan yang tampak berimbang, sekaligus market-oriented: dari penerbit yang sama, keluar buku yang saling bertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertentangan demi pertentangan yang terjadi seputar iman Kristen rasanya terus akan berlanjut. Yesus yang tertulis dalam Injil dan disembah orang Kristen selalu berpeluang untuk ditentang kedudukannya sebagai Yesus Kristus. Bagi para penentang dia bukanlah Yesus Kristus; dia hanya Yesus, tak lebih dari itu. Nah, setelah pertentangan demi pertentangan itu terjadi, juga demi bersiaga sebelum pertentangan-pertentangan lain muncul, buku ini patut dijadikan pegangan. Buku ini, pada akhirnya mengajak pembaca merenung sebuah hal yang penting: Kristianitas, kini tak sekedar memuat ibadah dan pengagungan, namun tampaknya juga mencakup upaya menelusuri dan memetik hikmah dari berbagai pertentangan itu. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Sidik Nugroho, alumnus jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang, guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, dan peminat sejarah gereja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; ********&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan menemukan penjiplakan? Ini kukutipkan beberapa bagian yang nyaris mirip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim yang keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap hanya bermuatan sosial dan politik. Klaim ini muncul dengan adanya buku karya Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week tentang minggu terakhir Yesus sebelum disalib. Saat itu Yesus ada di Yerusalem. Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai muda. Ia mengucapkan sesuatu tentang pajak dan kekaisaran, berhadapan dengan mahkamah agama Yahudi, hingga mati disalib dengan tuduhan pemberontakan. Semuanya tampak memuat hal berbau politik. (Versi Penjiplak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim keempat adalah ajaran Yesus yang dianggap intinya bermuatan sosial dan politik. Klaim ini muncul dengan adanya buku karya Marcus Borg dan John Dominic Crossan berjudul The Last Week tentang minggu terakhir Yesus sebelum disalib. Saat itu Yesus ada di Yerusalem. Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai muda. Ia menyucikan Bait Allah dengan cara yang radikal, mengucapkan sesuatu tentang pajak dan kekaisaran, berhadapan dengan mahkamah agama Yahudi, hingga mati disalib dengan tuduhan pemberontakan. Semuanya tampak memuat hal-hal berbau politik. (Versi Sidik Nugroho)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan. Ia kemudian menitikberatkan gagasannya pada rencana Yesus untuk membangun sebuah dinasti Yahudi bersama Yakobus, Petrus dan Yohanes. Sebuah rencana yang kemudian gagal karena tampilnya Paulus yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam PB dan meletakkan dasar bagi Kristianitas lewat ajaran-ajarannya tentang Yesus Kristus. (Versi Penjiplak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim kelima datang dari buku The Dynasty of Jesus karya James Tabor. Dalam buku ini Tabor menolak keadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan. Ia kemudian menitikberatkan gagasannya pada rencana Yesus untuk membangun sebuah dinasti Yahudi bersama Yakobus, Petrus dan Yohanes. Sebuah rencana yang kemudian gagal karena tampilnya Paulus yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam Perjanjian Baru dan meletakkan dasar bagi Kristianitas lewat ajaran-ajarannya tentang Yesus Kristus. (Versi Sidik Nugroho)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus tersebut, Bart Ehrman berkomentar di sini Injil Yudas menjungkirbalikkan Kristianitas. Yudas yang dianggap pemberontak karena mengkhianati Yesus dalam Kristianitas, justru menjadi pembuka jalan bagi penyaliban. Intinya, justru karena "pengkhianatan" Yudas, Yesus bisa mati tersalib. Dengan tersalibnya Yesus maka dibukalah penyelamatan bagi umat manusia. (Versi Penjiplak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus ini, lagi-lagi ada Bart Ehrman juga yang berkomentar di sini bahwa Injil Yudas menjungkirbalikkan Kristianitas yang sejati: Yudas yang dianggap pemberontak dalam Kristianitas, justru menjadi pembuka jalan bagi penyaliban. (Versi Sidik Nugroho)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim keenam, berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel membuat film dokumenter tentang ini. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak. Istri, anak, dan beberapa saudara Yesus dimakamkan selokasi dengan Yesus. Namun, hasil uji DNA telah menyatakan bahwa antara makam Yesus dan sebuah makam di situ—yaitu makam Mariamne, yang diduga adalah Maria ibu Yesus—tidak memiliki hubungan darah. Selain itu, nama Yesus cukup populer pada masa itu. Josephus, seorang ahli sejarah menyebut ada 10 orang bernama Yesus saat Yesus Kristus hidup.(Versi Penjiplak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim keenam datang dari berita seputar penemuan makam Yesus. Discovery Channel bahkan sudah membuat film dokumenter tentang ini dengan James Tabor sebagai penasihat sejarah utama. Klaim ini menunjuk beberapa makam yang diklaim sebagai makam Yesus dan keluarganya. Yesus dalam klaim ini beristri dan beranak. Istri, anak, dan beberapa saudara Yesus dimakamkan selokasi dengan Yesus. Namun, hasil uji DNA telah menyatakan bahwa antara makam Yesus dan sebuah makam di situ -- yaitu makam Mariamne, yang diduga adalah Maria ibu Yesus atau Maria Magdalena -- tidak memiliki hubungan darah. Selain itu, nama Yesus cukup populer pada masa itu. Josephus, seorang ahli sejarah menyebut ada 10 orang bernama Yesus saat Yesus Kristus hidup. (Versi Sidik Nugroho)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; *******&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELAJARAN BERHARGA: Jangan asal memasang resensi Anda di notes atau blog! Semoga kita semua para peresensi tetap semangat. Tetap tersenyum juga. Hihihi...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-245188143672281069?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/245188143672281069/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=245188143672281069' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/245188143672281069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/245188143672281069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/02/resensiku-dijiplak-di-surabaya-post.html' title='Resensiku Dijiplak di Surabaya Post'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-440527484524815049</id><published>2010-02-11T10:51:00.016+07:00</published><updated>2010-10-26T19:23:09.070+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>10 film paling romantis versiku</title><content type='html'>beberapa teman dan saudaraku tahu kalau aku tidak suka merayakan valentine. bahkan bukan hanya valentine, natal saja aku malas ke gereja. alasannya sederhana: valentine, natal, juga termasuk ulang tahun, bukanlah hari-hari yang harus kuperingati atau kurayakan. namun aku tetap mengucapkan selamat natal bila natal tiba. begitu juga selamat ulang tahun kepada teman dekat atau saudara -- kalau pas ingat. nah, kalau "selamat hari valentine" jarang sekali kuucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka, kubuatlah daftar ini, menjadi perwakilan ucapan selamatku. sebelum menyimak, ingin kuceritakan dulu kalau aku digelari "sinemaholik" oleh arie saptaji, guruku, pada tahun 2004. sejak tahun 2003 aku suka sekali nonton film. dalam kurun waktu 2003-2006, bila dirata-rata, dalam seminggu aku bisa nonton 2-3 buah film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mulai tahun 2007 kegiatan nonton ini agak berkurang karena aku mulai bekerja tetap sebagai seorang guru. tapi aku masih menyempatkan diri nonton, paling tidak 2-3 film -- kali ini bukan seminggu, tapi -- sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah, film-film yang pernah kutonton tadi masih membekas dalam ingatan. kini aku menyusun 10 buah film yang menurutku paling romantis. kriterianya apa? tidak ada kriteria khusus, aku mengandalkan ingatanku akan adegan-adegan yang kuanggap romantis, atau alur yang bagiku terkisah dengan manis. pada masing-masing film, aku akan memberi sedikit keterangan mengapa film ini kuanggap romantis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga daftar ini bermanfaat, terutama bagi pembaca yang hendak mencari tontonan bersama orang yang dikasihi atau samwan spesial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;peringkat 10: scent of a woman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;al pacino berakting mantap di film ini. judul film ini mungkin seolah-olah mengisyaratkan ada seorang wanita yang bau tubuhnya membangkitkan suatu nuansa atau romantika. tidak, film ini lebih banyak berkisah tentang terciptanya persahabatan dua pria beda generasi, dan satu di antara mereka bisa mengenal parfum yang dikenakan tiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam rangkaian kejadian yang mempererat persahabatan itulah kita diajak menyadari bahwa kehidupan ini akan bermakna bila memiliki cinta buat seseorang. dan adegan yang tak terlupakan adalah: tango di sebuah restoran yang sepi pada suatu pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;peringkat 9: nicholas nickleby&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inti dari film ini adalah pesan ayah nicholas nickleby pada waktu ia masih kecil: "suatu waktu, kau akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku dalam mengasihimu. dan perjalanan yang paling penting dalam hidupmu adalah menemukannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;peringkat 8: life is beautiful&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;roberto benigni, perannya di film ini begitu spontan dan lucu. luar biasa. kondisi politik (era nazi jerman) yang menjadi latar sejarah film ini mampu menghadirkan pemahaman mendalam akan perih dan muramnya kehidupan yang harus dijalani tiap orang pada masa itu. dan itu justru ditanggapi dengan guyonan, dengan sangat santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tidak pernah lupa adegan ketika ayah dan anak dalam film ini dibawa ke kamp konsentrasi. si anak yang ketakutan mendapati ayahnya menjadi penerjemah tentara jerman yang menyampaikan pengumuman. ayahnya, demi menghilangkan rasa takut si anak, pura-pura tahu bahasa jerman, lalu menerjemahkan pengumuman itu dengan sangat lucu. aku tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. dan sesaat aku lupa: aku sedang menyaksikan sebuah film yang berkisah tentang kekejaman perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya, hidup ini indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;peringkat 7: cinderella man&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;petinju yang menyayangi keluarganya, yang meyakinkan keluarganya bahwa ia mampu menghadapi badai krisis depresi besar di amerika, dialah cinderella man itu. film yang menggugah semangat hidup dan mengasihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tidak akan lupa adegan ketika sang petinju berkata kepada anak bungsunya di meja makan bahwa semalam ia bermimpi mendapatkan makanan yang lezat; sebabnya si anak masih lapar, dan di meja tinggal sisa makanan untuk ayahnya. anak bungsu itu pun senang mendapat kabar kalau sang ayah sudah kenyang gara-gara mimpi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;peringkat 6: moulin rouge&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagu-lagu yang ada di film ini sungguh indah. asmara dirayakan dengan manis juga penuh gairah. adegan-adegannya memang dirancang untuk merayakan berbagai nuansa romantika dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;peringkat 5: baran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;film yang tak berupaya memberi penjelasan alur lewat dialog, namun menjelaskan banyak hal kepada penontonnya arti pengorbanan dan cinta. yap, cinta dalam film ini tak hadir lewat puisi, bunga, atau coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pesan penting yang kutangkap: memang, cinta tak hanya diam, namun cinta dapat dinyatakan lewat tindakan yang nyata -- situasi dan kondisi khusus yang membuatnya jadi tampil demikian. sekalipun bibir ini tak bergerak, tak bersuara, tindakan kita pada akhirnya akan berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;peringkat 4: up&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kukutipkan renunganku saja: "film kartun ini mengetuk naluri kita untuk senantiasa mengasihi. kenangan akan orang yang dikasihi, dipadu dengan memori akan kebersamaan dengannya yang membuat kita tahu apa isi hati terdalamnya, ternyata membuat hidup ini amat bermakna. ya, kebersamaan kita dengan seseorang, yang menyatukan mimpi-mimpi kita dengannya, akan menjadi hal yang paling membentuk kehidupan kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;peringkat 3: it's a wonderful life&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila kau pernah kecewa, menganggap hidup ini tidak adil, tontonlah film ini. aku menyukai istri george bailey dalam film ini. dia bisa menjadi perwujudan anugerah tuhan. ketika george tak jadi melanglang buana, istrinyalah yang setia mendampingi hidupnya. dan ketika hidupnya hancur-lebur, istrinya pula yang mengambil inisiatif menyelamatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;peringkat 2: eternal sunshine of the spotless mind&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;film ini lebih tepat ditujukan untuk siapa saja yang pernah kecewa karena cinta, dan masih sulit menghapus kenangan manis-getir itu di masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk yang satu ini, aku mengutip arie saptaji saja: "kenangan kita akan orang lain rupanya baru separuh cerita. percuma kalau kita menghapuskannya secara sepihak karena masih ada kenangan orang lain akan kita. percuma -- karena orang itu bisa menyembunyikan anda ke sudut-sudut kenangannya, ke tempat-tempat yang belum pernah anda kunjungi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;peringkat 1: city lights&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S3OJGWcdAII/AAAAAAAAATk/PIlwYQ1ulvA/s1600-h/asa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 221px; height: 221px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S3OJGWcdAII/AAAAAAAAATk/PIlwYQ1ulvA/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436839917363462274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;chaplin di nomor satu. tak kuragukan meletakkannya di sini. sebuah film bisu dengan teknologi sederhana, dirilis tahun 1931, kupilih bukan karena supaya kelihatan "wah", namun lebih pada alasan bahwa film ini, dalam kebisuannya, justru serasa berbicara kuat sekali tentang arti cinta yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;renungannya adalah: pernahkah kita memiliki -- atau menyaksikan -- sebuah hati yang penuh tekad untuk berjuang atas nama cinta? perjuangan itu dilakukan dengan tujuan utama agar orang tersebut menerima sesuatu yang terbaik bagi hidupnya, bukan semata-mata menjadi wujud keinginan kita untuk memiliki orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah perjuangan cinta seperti itulah -- yang disertai pengorbanan dan ketulusan -- yang akan menyingkirkan kebutaan hati-nurani kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin ada yang bertanya: kalau aku memilih film apa untuk kutonton akhir minggu ini? sejujurnya, tidak satu pun dari yang kusebut di atas akan kutonton lagi. kalau ada waktu luang akhir minggu ini, aku lebih penasaran nonton lagi sebuah film lain. judulnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;drag me to hell!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sidoarjo, 9-10 februari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-440527484524815049?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/440527484524815049/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=440527484524815049' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/440527484524815049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/440527484524815049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/02/10-film-paling-romantis-versiku.html' title='10 film paling romantis versiku'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S3OJGWcdAII/AAAAAAAAATk/PIlwYQ1ulvA/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-2432331992627102679</id><published>2010-02-10T09:27:00.002+07:00</published><updated>2010-02-10T09:30:21.299+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asmara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Setia, atau Sekedar Tergila-gila?</title><content type='html'>&lt;i&gt;"Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong." (Amsal 19:22) &lt;/i&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filipi 2:12-18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun sepasang insan ini berpacaran dengan mesra sebelum menikah. Saya menjadi saksi bagaimana keduanya menjalin hubungan dengan dedikasi, komitmen, dan loyalitas yang luar biasa. Banyak orang yang meramalkan keduanya akan langgeng hingga tua dan keriput. Namun, pernikahan mereka hanya seusia pacaran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun pacaran, tiga tahun pernikahan. Enam tahun kebersamaan berakhir dengan perceraian. Awal yang penuh kesan, oh, akhir yang menyedihkan. Romantika bertabur bunga di sepanjang jalan kenangan, oh, sirna di sidang pengadilan yang muram!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini keduanya mengambil jalan hidupnya masing-masing. Pasangan romantis itu tinggal kenangan di mata keluarga, sahabat dan rekan-rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita jatuh cinta pada seseorang, maka hidup ini serasa penuh bunga. Senyuman termanis si dia senantiasa terkenang. Belaian tangan dan aneka percakapan menjadi lamunan-lamunan menjelang mimpi. Kita tergila-gila oleh kehadiran seseorang -- oleh asmara. Asmara -- hasrat bercinta yang menderu-deru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kesetiaan tak ada sangkut-pautnya dengan asmara. Asmara bicara soal rasa, kesetiaan bicara soal keputusan. Di saat-saat hubungan asmara kering, tak berdaya-gugah tinggi dalam meningkatkan semangat hidup, serta serasa menemui jalan buntu, kita dituntut untuk setia. Bahkan tak jarang kita dituntut setia tanpa alasan yang cukup kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bila kita bertahan, niscaya, pada akhirnya kita melihat, bahwa kesetiaan akan mendatangkan buah yang manis bagi sebuah hubungan cinta. Tetaplah mencinta, dan tetaplah setia. (~s.n~)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Setia adalah sebuah pilihan dan keputusan untuk bertahan ketika orang atau sesuatu yang ada di dalam hidup ini rasanya lebih pantas untuk ditinggalkan."&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-2432331992627102679?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/2432331992627102679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=2432331992627102679' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2432331992627102679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2432331992627102679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/02/setia-atau-sekedar-tergila-gila.html' title='Setia, atau Sekedar Tergila-gila?'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-6622335688814593365</id><published>2010-02-03T06:57:00.000+07:00</published><updated>2010-02-03T06:58:09.775+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>delapan tahun yang lalu</title><content type='html'>jakarta dilanda banjir besar delapan tahun lalu pada bulan januari. sebulan kemudian, aku lupa tanggalnya, aku membuat cerpen berjudul "surat kakakku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cerpen pertamaku itu kubuat di rumah kecil di jalan tembaga yang kutinggali dengan keluargaku dulu. seorang sahabatku, albert alexander namanya, menyebut rumah itu "pondok tembaga".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cerpenku kutulis menggunakan komputer tua yang dimiliki abangku. aku melantai ketika mengetik di depan monitor komputer, sambil membayangkan dua orang kakak-beradik yang kehilangan orang tua mereka karena banjir. entah kenapa, bayangan itu tiba-tiba membuat aku menangis. aku menangis sambil mengarang ceritaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu pengalaman yang aneh buatku: aku menangisi imajinasiku sendiri! namun, aku merasa lega sekali merampungkan cerpenku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejak hari itu aku belajar juga menulis artikel dan renungan-renungan pendek. beberapa artikel yang kubuat diminta seorang teman dipasang di mading jurusan di mana aku kuliah. wah, betapa senang aku mendapati kenyataan masih sedikit teman seangkatan-sejurusan yang mau menulis. aku bahkan bebas menempelkan sendiri tulisanku di mading itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah, suatu ketika aku menempelkan sendiri sebuah tulisanku yang berjudul "kasih, komitmen dan kematian". judul itu ternyata cukup kuat menyapa para pembaca. dua minggu setelah tulisanku itu kutempel, seorang teman yang aku ingat betul namanya (dwi harya andihamsyah) menempelkan tulisannya yang berisi balasan atas tulisanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat-saat itu aku merasa seperti martin luther yang menempelkan 95 dalil teologinya di pintu gereja wittenberg. uh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu terus berlalu, suatu hari di bulan september 2002 ada kabar yang aku terima kalau kampusku mengadakan lomba menulis dalam rangka merayakan bulan bahasa. setengah iseng kuikutkan cerpen "surat kakakku" yang kukarang tujuh bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah, pada suatu hari di bulan november 2002, seorang temanku yang lain, yang masih kuingat juga namanya (fety latifatul) menepuk pundakku. ia menyuruhku melihat papan pengumuman di fakultas. kutanyakan ada apa, dia bilang lihat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oh la la... ternyata aku menjadi pemenang ketiga dalam lomba penulisan cerpen di kampusku! betapa senang aku mendapat uang 75ribu dan sebuah sertifikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengalaman itu membuat aku yang sejak sma tidak pernah suka menulis, makin keranjingan menulis. kebutuhanku akan bacaan yang bisa kujadikan acuan dalam menulis semakin besar jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demi membeli buku, koran, majalah, dan sesekali menonton film, aku bekerja sebagai guru les privat, menitipkan jualan telur puyuh matang ke beberapa warung stmj (tiap plastik kuisi lima butir) dan teratur menulis cerpen atau artikel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di saat-saat itu aku sering menulis cerpen di dapur rumahku, karena rumah kecil tempat tinggal keluargaku diisi banyak saudaraku. kamar-kamar penuh sesak. aku memasang sebuah papan dengan bantuan dua siku besi untuk menulis. aku membuat sebuah lemari yang menempel di dinding dari beberapa papan bekas untuk meletakkan buku-buku yang kubeli. beberapa cerpenku yang kubuat dari dapur rumahku sempat nyangkut di majalah-majalah anak muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sayangnya, semua kegiatan ini membuat kuliahku jadi molor. belum lagi pelayanan di gereja yang cukup banyak, membuatku makin kesulitan membagi waktu. dan pelayanan yang kupegang seringkali tak sederhana. dalam rentang tahun 1997 hingga 2006 aku lebih sering diminta jadi ketua atau sebutlah pemimpin (ketua pengajaran pemuda, ketua tim musik, gembala kelompok sel, ketua perpustakaan, ketua pemuda, pimpinan redaksi tabloid internal gereja, bahkan ketua dewasa muda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun, semua kesibukan pelayanan ini anehnya tak pernah membuat minatku pada dunia tulis-menulis turun. selalu saja ada yang kutulis. tulisanku makin banyak dan banyak. kalau sekarang kau masuk ke kamar kosku, aku bisa menunjukkan tumpukan naskah dengan tinggi sekitar 20 cm yang semuanya pernah ditolak. gara-gara membaca "bag of bones"-nya stephen king, aku masih menyimpan naskah-naskahku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada naskah cerpen, artikel, novelet, novel, dan puisi dalam tumpukan itu. belum lagi yang tak kubuatkan versi print-out-nya, yang nempel di hard-disk laptop tuaku. atau bahkan yang sudah tidak bisa lagi dibuka karena kusimpan dalam bentuk cd dan cd-nya sudah tergores.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kadang aku sendiri heran mengapa aku masih menulis hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejak aku bekerja sebagai guru pada tahun 2007, aku tidak lagi terlibat dalam pelayanan di gereja. sekolah di mana aku bekerja sekarang memiliki agenda dan acara yang cukup padat -- maklum sekolah swasta. para guru bekerja dari jam 7 pagi hingga 4 sore, kecuali guru honor. seorang teman pernah terheran-heran kok masih sempat saja aku menulis; apalagi mengingat tulisan-tulisan yang kubuat selama ini lebih banyak gagal terpublikasikan di media cetak atau dibukukan, sehingga otomatis tak banyak mendatangkan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun, aku sudah terlanjur menyukai tulis-menulis. aku akan terus menulis. mungkin penyebab utamanya: pengalaman delapan tahun lalu itu, ketika aku pertama kali menuliskan cerpenku di pondok tembaga sambil melantai, tak akan pernah terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sidoarjo, 2.2.2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-6622335688814593365?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/6622335688814593365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=6622335688814593365' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/6622335688814593365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/6622335688814593365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/02/delapan-tahun-yang-lalu.html' title='delapan tahun yang lalu'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-4293847475337825119</id><published>2010-01-26T10:57:00.002+07:00</published><updated>2010-01-26T10:59:28.952+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Demi Masa Depan Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S15oV2dC4fI/AAAAAAAAATc/5MRRz48Od-0/s1600-h/asa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 262px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S15oV2dC4fI/AAAAAAAAATc/5MRRz48Od-0/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430892925259276786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku: I Can (Not) Hear&lt;br /&gt;Penulis: Feby Indirani dan San C. Wirakusuma&lt;br /&gt;Editor: Christian C. Simamora&lt;br /&gt;Penerbit: Gagas Media&lt;br /&gt;Tebal: 352 halaman&lt;br /&gt;Cetakan pertama, Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki seorang anak yang normal secara fisik dan psikis, kemungkinan (besar) tak akan mendatangkan banyak masalah, terutama dalam mengajaknya berkomunikasi, belajar, bahkan bermain. Para orang tua tinggal menentukan suatu pola pembelajaran dan pendidikan yang tepat, maka kemungkinan (besar) anak itu akan baik-baik saja. Sebuah keluarga yang bahagia pun terbentuklah. Namun, berbeda dengan Sansan, panggilan akrab San C. Wirakusuma. Ia memiliki anak yang tuli karena sebuah serangan virus. Anaknya itu bernama Gwen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh keterangan Dokter Goh yang ada di Queen Mary Hospital Hongkong, penyebab ketulian Gwen adalah sebuah virus bernama CMV (cytomegalovirus). Begitu mendapatkan kabar ini, maka Sansan dengan segenap daya-upayanya mencari kesembuhan. Ia dan suaminya telah mencoba berbagai pengobatan alternatif, berdoa memohon kesembuhan, menghadapi seorang dokter yang ketus, mengurusi tugas-tugas rumah tangga yang berat dan anak yang susah diajak berkomunikasi dan mengerti. Namun kesembuhan tetap tak terjadi pada Gwen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 17 bulan, akhirnya Gwen dipasangi cochlear implant, sebuah alat bantu pendengaran yang canggih, yang membuatnya kian mahir berkomunikasi. Namun, tantangan tak berhenti di situ. Gwen perlu banyak berlatih memperhatikan, mendengarkan dan berbicara. Sebelum itu, beberapa alat bantu pendengaran telah dipasang, namun hasilnya tidak maksimal. Upaya mendatangkan kesembuhan bagi Gwen pada akhirnya membuat Sansan mengambil keputusan membawa Gwen ke Australia, berpisah dari suaminya, membesarkan anak itu seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah-kisah bagaimana Sansan mendidik putrinya ini dihadirkan cukup menyentuh oleh kedua penulis. Tidak diceritakan sekilas proses kreatif penulisannya: apakah buku ini ditulis dengan cara Sansan menuturkannya kepada Febi Indirani, atau mereka menuliskannya bersama-sama. Namun, tanggal, kejadian, ekspresi orang-orang, cuaca dan situasi di hampir semua kejadian yang ada di buku ini terkisahkan dengan cukup detil dan menarik. Pembaca dibawa untuk masuk dalam kehidupan keluarga Sansan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah-kisah Sansan dan Gwen akan menginspirasi para pembaca, utamanya para guru Sekolah Luar Biasa, para pendidik, dan para ibu tentunya. Kisah ini sudah cukup baik tergarap dari awal hingga akhir, namun sayang dalam beberapa halaman masih tampak beberapa kesalahan penulisan berupa tanda baca dan ejaan. Editor dan penulis kiranya dapat memperhatikan dan memperbaiki kesalahan-kesalahan ini bila nantinya buku ini dicetak ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang berkaitan dengan dunia kedokteran, pendidikan, atau psikologi tak banyak dikisahkan dengan detil dalam buku ini. Porsi terbesar adalah penggambaran kondisi sebuah keluarga yang memiliki anak yang "tak sama" seperti anak yang lain. Dari sinilah buku ini memiliki keunikannya tersendiri. Kita diajak untuk menghayati dan belajar bagaimana mendidik seorang anak yang tak bisa mendengar; juga memahami perasaan ibu yang melahirkan dan membesarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya ketika suatu hari Gwen diundang pada pesta ulang tahun temannya bernama Aaron. Waktu itu Gwen masih menggunakan alat bantu pendengaran yang lebih sederhana daripada cochlear implant. Oleh terapisnya yang bernama Ivy, Sansan diminta untuk selalu mengenakan alat itu pada Gwen. Namun, karena alat itu tentunya akan mengundang berbagai reaksi dan pertanyaan dari orang di sekitar Gwen, Sansan tak memasangkan alat tersebut di pesta ulang tahun Aaron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana pesta yang riuh dan penuh keriangan tak dinikmati oleh Gwen yang tak bisa mendengarkan apa-apa. Sansan tidak memasangkan alat bantu pedengarannya karena ingin Gwen tampak seperti anak normal lainnya. Namun, keinginan ini justru membuat Gwen tampak tak seperti anak lain: Gwen tidak menikmati pesta yang sedang berlangsung, sementara mereka yang lain bergembira ria. Sansan mengalami dilema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, pergulatan batin seorang ibu dikisahkan dengan baik dalam buku ini. Demi cintanya kepada si anak, Sansan mengambil lagi kuliah S2 jurusan Special Education, sebuah jurusan yang banyak mempelajari tentang pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Saat-saat ia membesarkan anaknya sendirian sambil kuliah, ia mengenang: "Masa-masa itu saya harus benar-benar disiplin, membagi waktu antara kuliah, mengerjakan tugas-tugas makalah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan mengurus serta melatih Gwen."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lugas Sansan juga menguraikan argumen-argumennya yang penting tentang perlakuan yang harus kita berikan kepada tiap anak agar memperoleh kesempatan yang sama untuk bertumbuh-kembang menjadi pribadi yang seutuhnya. Anak-anak adalah anugerah Tuhan, dan para orang tua yang berbahagia adalah mereka yang menghargai anugerah itu dengan berjerih lelah mendatangkan kebahagiaan dan masa depan yang indah bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 8-9 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho&lt;br /&gt;Guru anak-anak SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resensi ini dimuat di koran Jawa Pos, 24 Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-4293847475337825119?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/4293847475337825119/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=4293847475337825119' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4293847475337825119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4293847475337825119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/01/demi-masa-depan-anak.html' title='Demi Masa Depan Anak'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S15oV2dC4fI/AAAAAAAAATc/5MRRz48Od-0/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-307514472546915887</id><published>2010-01-21T18:24:00.000+07:00</published><updated>2010-01-21T18:25:29.548+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>anak itu dan kripik tempenya</title><content type='html'>"kula kelas gangsal, pak."&lt;br /&gt;demikian ia menjawabku ketika kutanya&lt;br /&gt;ia masih sekolah apa tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rambutnya klimis&lt;br /&gt;senyumnya selalu tipis&lt;br /&gt;dengan sepeda mini yang ia kayuh&lt;br /&gt;santai ia membuat malu&lt;br /&gt;para bajingan yang korup&lt;br /&gt;yang menghiasi&lt;br /&gt;lembar-lembar koran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akan kutunggu kripik tempemu&lt;br /&gt;nikmat, mungkin buatan ayahmu&lt;br /&gt;titip salam buatnya&lt;br /&gt;ingin kuyakinkan dia&lt;br /&gt;bahwa hidupnya bermartabat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memiliki anak sepertimu&lt;br /&gt;yang tak pernah malu&lt;br /&gt;menitipkan kripik tempe&lt;br /&gt;di warkop itu buatku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kriuk kriuk, renyah sekali&lt;br /&gt;ah, teman kecilku&lt;br /&gt;segeralah datang lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kopi, koran, buku&lt;br /&gt;dan lagu-lagu dangdut&lt;br /&gt;yang selalu sertaiku&lt;br /&gt;di warkop itu&lt;br /&gt;kurang asoi tanpa&lt;br /&gt;kripik tempemu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepulang dari warkop cak min, 20 jan 2010;&lt;br /&gt;di warkop melihat kripik tempe yg tgl 1 bungkus&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-307514472546915887?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/307514472546915887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=307514472546915887' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/307514472546915887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/307514472546915887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/01/anak-itu-dan-kripik-tempenya.html' title='anak itu dan kripik tempenya'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-2840230623794772909</id><published>2010-01-19T17:26:00.001+07:00</published><updated>2010-01-19T17:26:50.537+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>aku tadi merokok, tuhan</title><content type='html'>aku tadi merokok, tuhan&lt;br /&gt;kata seorang teman gerejaku itu dosa&lt;br /&gt;itu merusak bait allah&lt;br /&gt;tapi teman gerejaku itu hobi makan anjing dan babi&lt;br /&gt;sampai kolesterolnya tinggi sekali&lt;br /&gt;masuk rumah sakit karenanya&lt;br /&gt;jadi, bait allahnya rusak sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tadi merokok, tuhan&lt;br /&gt;tapi tidak kecanduan kok&lt;br /&gt;hanya mengisapnya sesekali&lt;br /&gt;ditemani buku yang indah sekali&lt;br /&gt;sehingga malam mingguku yang sepi&lt;br /&gt;jadi sedikit berseri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tadi merokok, tuhan&lt;br /&gt;dan waktu merokok ingin minum bir&lt;br /&gt;kata temanku itu juga dosa&lt;br /&gt;padahal aku tidak mabuk&lt;br /&gt;bahkan tidak pernah mabuk&lt;br /&gt;hanya ingin menghangatkan badan&lt;br /&gt;pada malam di kota malang yang sejuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tadi merokok, tuhan&lt;br /&gt;dan mendengarkan musik rock&lt;br /&gt;temanku bilang lagi-lagi itu dosa&lt;br /&gt;padahal musik itu membangkitkan semangat&lt;br /&gt;dan mengusir kepedihan hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tadi merokok, tuhan&lt;br /&gt;bolehkah aku besok tetap ke gereja?&lt;br /&gt;aku takut diusir temanku&lt;br /&gt;yang gendutnya mirip babi itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kalau aku diusir&lt;br /&gt;ya tidak apa-apalah, tuhan&lt;br /&gt;mungkin aku akan ke warkop lagi&lt;br /&gt;nyumet rokok, membuka firmanmu&lt;br /&gt;dan merenungkannya&lt;br /&gt;bersama iringan musik rock&lt;br /&gt;dan ditemani sekaleng bir dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malang, 16 januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-2840230623794772909?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/2840230623794772909/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=2840230623794772909' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2840230623794772909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2840230623794772909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/01/aku-tadi-merokok-tuhan.html' title='aku tadi merokok, tuhan'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-3863092931869069121</id><published>2010-01-16T11:40:00.009+07:00</published><updated>2010-10-26T19:23:24.121+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>Sejarah yang Amburadul, Dunia Anak, dan Persahabatan yang Indah</title><content type='html'>&lt;i&gt;Sebuah resensi dan refleksi film berjudul The Boy in the Striped Pyjamas. Sinopsis, aktor, dan data-data film lainnya bisa dicek di &lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0914798" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;&lt;span&gt;http://www.imdb.com/title/&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;tt0914798&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;MUNGKIN hanya sedikit film yang berani menampilkan kemuraman hampir di sepanjang jalan cerita. Seperti film ini, The Boy in the Striped Pyjamas. Film ini menghadirkan tokoh anak-anak -- anak-anak yang indentik dengan kebahagiaan dan kemerdekaan. Film ini juga menghadirkan dialog dan adegan-adegan yang hampir secara keseluruhan bisa dipahami oleh anak-anak. Sejauh ini saya berpendapat bahwa sebuah cerita untuk anak-anak tak baik bila dikisahkan terlalu muram; namun di sisi lain film ini rasanya cukup beralasan untuk ditampilkan begitu muram mengingat latar belakang sejarahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh utama dalam film ini adalah Bruno, seorang anak laki-laki usia delapan tahun, putra dari seorang komandan tentara Nazi Jerman. Seperti anak-anak lain, Bruno menyukai keceriaan dan kegembiraan. Suatu ketika ia harus pindah karena ayahnya dipindahtugaskan. Rumah baru mereka tampak terpencil, jauh dari keramaian. Dan tak jauh dari rumah baru itu, ada sebuah kamp konsentrasi untuk orang-orang Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah barunya Bruno merasakan kesepian yang mendalam. Kakaknya, Gretel, yang mulai beranjak remaja, memiliki dunia yang lain, dunia yang mulai bertabur asmara. Bruno tak begitu cocok dengan kakaknya itu. Bruno tidak punya teman, bahkan sekolah pun tak ada di dekat rumahnya. Ia diajar oleh seorang guru tua yang mengenakan sepeda engkol, yang datang dua kali seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok guru Bruno ini sangat kaku dan picik. Mata pelajaran yang berulang-ulang diajarkannya adalah Sejarah. Sejarah dan Sejarah. Sejarah kehebatan orang Jerman. Sejarah orang Yahudi yang semuanya merupakan bangsa terkutuk. Sejarah yang menjadi abdi penguasa untuk kelanggengan sebuah rezim dan kediktatoran Hitler. Sejarah yang amburadul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Sejarah ini, bandingkanlah sejenak dengan profesor tua yang ada dalam sebuah cerita Narnia -- begitu kontras. Dalam Sang Singa, Penyihir dan Lemari Ajaib dikisahkan seorang profesor tua yang lebih dari satu kali menanyakan kepada Peter, Edmund, Lucy dan Susan: Apakah yang diajarkan sekolah masa kini untuk anak-anak? Begitu terbuka pemikiran profesor tua itu, mengharapkan anak-anak mendapatkan sebuah pendidikan-pengajaran yang pantas bagi dirinya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Bruno ini lambat laun menanamkan keraguan pada diri Bruno tentang orang-orang Yahudi. Padahal, karena kesepian yang mendera dirinya, ia memiliki seorang sahabat Yahudi! Ya, dengan nekat ia melanggar perintah orang tuanya untuk tak melewati batas-batas tertentu di rumah mereka. Dari pelanggaran itu, ia pun bertemu dengan Shmuel, seorang anak Yahudi berkepala botak, menggunakan baju dan celana bergaris-garis mirip piyama, bergigi ompong, namun begitu ia sayangi, di kamp konsentrasi dekat rumah barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S1FDd9E6pfI/AAAAAAAAATU/iLKbGB6RzmU/s1600-h/boy-in-stripped-pyjama.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 370px; height: 265px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S1FDd9E6pfI/AAAAAAAAATU/iLKbGB6RzmU/s320/boy-in-stripped-pyjama.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427193207848609266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Shmuel si Yahudi suka makan. Hampir setiap hari Bruno si Jerman mengunjungi sahabat barunya itu. Bruno membawakan baginya cokelat, kue, dan sandwich dari rumah. Shmuel selalu lapar. Ia tiap hari harus bekerja keras bersama para tawanan di kamp konsentrasi. Hari demi hari Bruno mengunjunginya, dan ikatan persahabatan yang indah pun terbentuklah di antara mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, persahabatan ini dibatasi sebuah terali kawat yang tajam dengan tinggi sekitar dua meter. Mereka tak bisa berangkulan atau berkejar-kejaran. Bruno membawakan bola untuk bermain voli, raket badminton, dan papan catur agar mereka berdua bisa main bersama. Namun bermain voli dan badminton akan membahayakan keduanya, karena kamp konsentrasi tempat Shmuel tinggal dijaga ketat: Ada anak yang kedapatan bermain, nyawa mereka bisa melayang. Mereka berdua pun hanya bisa bermain catur menggunakan koin-koin plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah adegan yang memilukan namun juga mengundang tawa: Papan catur yang hanya bisa diletakkan di luar terali kawat, membuat Shmuel tak bisa meraih koin-koin plastik itu. Ia hanya menunjuk-nunjuk, dan Bruno yang menggerakkan koin-koin Shmuel seperti yang ditunjukkan kepadanya. Beberapa kali Bruno salah menggerakkan koin-koin itu, Shmuel tertawa-tawa lepas. Shmuel yang bergigi ompong, kotor, dan tentunya bau, kini sedang tertawa-tawa riang dengan Bruno, anak seorang komandan yang selalu tampil rapi dan tampan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kita mungkin akan tertawa sejenak, pun sambil merenungkan: Betapa masa kanak-kanak adalah masa bermain, masa yang akan selalu tepat diisi dengan persahabatan yang ceria. Sejarah dengan segala kepalsuan dan kepentingannya tak dapat merenggut masa-masa ini. Anak-anak diciptakan untuk menikmati hidup, bukan merenung dengan kaku, disuapi ideologi yang tidak asyik, apalagi bermuram durja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak dalam film ini mengingatkan saya pada sebuah film lain, Schindler's List, yang juga berlatar masa Nazi Jerman. Ya, gadis kecil berbaju merah di film itu! Di sekujur film yang tertampil sepia, hanya satu warna yang cukup "menyilaukan": merah menyala. Gadis kecil yang tersesat di antara serangkaian pembantaian, mencari-cari, bersembunyi. Ia pun kemudian lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga film ini berakhir, saya masih sangsi apakah film ini pas diputar untuk anak-anak. Persahabatan antara Shmuel dan Bruno terjalin begitu manis hingga akhir cerita. Porsi terbesar dalam film ini bahkan tentang Bruno, bukan tentang Nazi Jerman dan penyiksaan terhadap orang-orang Yahudi. Semua anak-anak akan memahami cerita persahabatan yang indah ini. Namun, karena jalan ceritanya yang muram, para pendamping -- baik guru atau orang tua -- harus menjelaskan latar belakang masa dan peristiwa besar dalam sejarah yang terjadi di balik film ini. Karena tanpa pendampingan kita, film ini akan menyisakan memori yang terlalu pilu untuk dikenang. Walaupun adegan dalam film tidak bisa dicium, namun asap yang mengepul dari sebuah gedung tinggi di kamp konsentrasi, yang mengganggu benak Bruno selama berhari-hari karena baunya tercium olehnya dengan begitu menyesakkan, dapat menyisakan memori yang kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, di film ini ada sebuah penggambaran yang cukup traumatik, yaitu holocaust, pembunuhan massal atas orang-orang Yahudi di sebuah kamar besar yang disemprot dengan gas. Elie Wiesel, seorang survivor holocaust (orang yang selamat dari pengalaman holosaust), dan pemenang hadiah Nobel, menyimpulkan pengalamannya: "Orang yang pada mulanya adalah seorang manusia menjadi tawanan dan tawanan itu menjadi nomor dan nomor itu menjadi abu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan abu itu mendatangkan bau. Bau itu kemudian menebarkan kemuraman sepanjang cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, inilah film yang muram, namun tetap perlu dan penting untuk ditonton bagi Anda yang menghargai dinamika persahabatan, dan indahnya kenangan-kenangan di masa kecil dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho&lt;br /&gt;Malang, 15-16 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN: Terima kasih untuk Ibu Rini (Anggraini D. Natali) yang telah meminjamkan film ini buatku. Terima kasih buat Denmas Marto (Arie Saptaji) yang pernah menyampaikan kutipan Elie Wiesel dalam situs Geocities-nya dulu (Kelompok 1).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-3863092931869069121?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/3863092931869069121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=3863092931869069121' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/3863092931869069121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/3863092931869069121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/01/sebuah-resensi-dan-refleksi-film.html' title='Sejarah yang Amburadul, Dunia Anak, dan Persahabatan yang Indah'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/S1FDd9E6pfI/AAAAAAAAATU/iLKbGB6RzmU/s72-c/boy-in-stripped-pyjama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-8773077196738724664</id><published>2010-01-15T10:47:00.002+07:00</published><updated>2010-01-15T10:50:39.335+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Kepergian Penjaga Rumah</title><content type='html'>"... Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel." (Mazmur 121:3-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazmur 121&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjing adik saya itu, di suatu pagi mengeluarkan darah terus-menerus dari lehernya. Jalannya tertatih-tatih dan ia tampak lemas. Beberapa hari kemudian kondisinya makin parah. Ia tak bisa berjalan dan hanya diam berbaring. Suaranya pun lemah sekali. Tak sampai seminggu berlalu, ia pun mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, penyebab kematian itu baru diketahui setelah ia mati. Ketika lehernya dibedah agak dalam oleh seorang kawan adik saya, ternyata ada sebuah peluru senapan angin yang bersarang di sana. Seorang saudara yang tinggal bersama adik saya menangis tersedu-sedu melepas kematian anjing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Sekadau, pedalaman Kalimantan Barat, keberadaan seekor anjing cukup berarti untuk menjaga keamanan di kawasan sekitar rumah adik saya. Di sana sepi sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepergian seekor hewan yang kita andalkan dan sayangi, dapat membekaskan kesedihan yang begitu dalam. Apakah Anda pernah kehilangan seseorang yang begitu Anda percayai, sayangi, dan andalkan? Kita menaruh harapan dan cinta buat mereka, namun dengan kuasa dan ijin-Nya Ia mengambil mereka dari hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang membuat kita semestinya belajar bahwa tak ada yang kekal di dunia ini. Apa pun yang kita andalkan dan harapkan dapat berganti, berubah, dan bahkan lenyap. Kita bahkan dituntut oleh-Nya untuk tidak percaya dan hidup bagi diri kita sendiri. Kita ditentukan untuk senantiasa bersandar pada Allah, yang telah berjanji menyertai kita hingga kesudahan zaman; juga yang walaupun langit dan bumi berlalu, firman-Nya akan tinggal tetap. (~s.n~)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua orang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Tuhan tidak pernah pergi, asal kita mau dan sadar untuk selalu datang kepada-Nya."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-8773077196738724664?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/8773077196738724664/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=8773077196738724664' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8773077196738724664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8773077196738724664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/01/kepergian-penjaga-rumah_15.html' title='Kepergian Penjaga Rumah'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-2985028602386491199</id><published>2010-01-14T09:09:00.000+07:00</published><updated>2010-01-14T09:10:38.573+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Kematian Pemain Organ</title><content type='html'>"Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya..." (Pengkhotbah 7:8)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filipi 3:1b-16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemain organ di sebuah gereja Katolik di Malang itu telah melayani sekian puluh tahun di gerejanya. Ia terkenal saleh dan bergaya hidup sederhana. Banyak orang mengenalnya sebagai pribadi yang santun dan bersahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika ia mengalami serangan jantung. Saat itu ia sedang bermain organ. Beberapa mata yang menyaksikan momen itu melihatnya sedang sesak nafas, dan perlahan-lahan menggeliat, menundukkan kepala, dan akhirnya suasana ibadah kacau sejenak akibat kepalanya menghantam tuts-tuts organ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit, dan dalam perjalanan menuju ke sana, ia pergi untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepergian ini membuat segenap keluarganya panik. Anaknya yang masih TK terpaksa dibawa ke Batu, ke rumah saudaranya, agar tidak histeris melihat kepergian ayahnya. Begitu cepat dan serba tiba-tiba kepergian ini terjadi. Kesedihan menjalar cepat di seluruh keluarga, juga jemaat yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir hidup yang tak tahu kapan kita jelang, sudahkah kita sering memikirkannya? Beberapa orang bahkan tak pernah berpikir tentang kematian. Mari kita waspada. Kedapatan setia ketika nyawa kita diambil adalah suatu hal yang penting untuk senantiasa ada di benak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir hidup yang memuliakan Allah mungkin tak harus dalam suasana yang tampaknya rohani, seperti bermain organ di gereja. Tuhan ingin apa pun yang kita perbuat didasari dengan niat untuk memuliakan-Nya. Karena, seperti kata Paulus, "... hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan." (~s.n~)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-2985028602386491199?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/2985028602386491199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=2985028602386491199' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2985028602386491199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2985028602386491199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/01/kematian-pemain-organ.html' title='Kematian Pemain Organ'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-5883999602275504819</id><published>2010-01-12T06:56:00.001+07:00</published><updated>2010-01-12T06:56:41.452+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Kesombongan yang Tersamar</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian." (Amsal 29:23)   &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah persekutuan doa, ada beberapa jemaat yang datang beribadah menggunakan mobil-mobil bagus. Ada juga beberapa yang datang dengan mobil usang. Seorang dari mereka yang datang dengan mobil usang selalu saja memarkir mobilnya jauh-jauh. Seseorang bertanya kepadanya, "Mengapa mobil Anda selalu diparkir jauh-jauh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nada bicara merendah ia menjawab, "Ah... mobil saya kan jelek. Nanti kalau saya sudah punya mobil bagus, saya akan parkir bersama yang lainnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas, apa yang ia sampaikan menyiratkan pernyataan yang wajar. Namun, kalau ditelisik lebih dalam, ini adalah sebuah pernyataan yang berawal dari kesombongan. Sebabnya, orang itu merasa keberadaan dirinya belum cukup layak untuk bersanding dengan orang-orang lain sekomunitasnya. Bila saat itu ia mendapatkan dirinya berkeberadaan terbalik, yaitu lebih hebat dari orang lain, bisa jadi ia akan mencari cara untuk menujukkan bahwa dirinya berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara, hati-hatilah dengan slogan atau ajakan "berani tampil beda". Di satu sisi itu memancing agar tiap orang menyadari keunikannya, bersyukur dan memuliakan Allah atas apa yang Allah anugerahkan khusus bagi dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, di sisi lain, itu juga dapat menjadi suatu jerat yang membuat kita narsis -- selalu menganggap diri lebih baik atau lebih hebat daripada yang lain. Dan, ketika suatu hari kita menemukan kenyataan bahwa diri kita tidak lebih baik dan lebih hebat, kita pun berusaha untuk tetap tampil beda dengan melakukan mirip yang dilakukan pria yang memarkir mobilnya jauh-jauh itu tadi. (~s.n~)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kata-kata hikmat: Menjadi apa adanya kerapkali jauh lebih penting daripada berusaha menjadi segalanya.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-5883999602275504819?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/5883999602275504819/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=5883999602275504819' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5883999602275504819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5883999602275504819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/01/kesombongan-yang-tersamar.html' title='Kesombongan yang Tersamar'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-2863741358155694936</id><published>2010-01-11T10:45:00.001+07:00</published><updated>2010-01-11T10:45:46.660+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>catatan porong 2</title><content type='html'>untuk wawan eko yulianto dan denmas marto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini tak tersisa panas dan sengat&lt;br /&gt;namun hujan penuh deru dan hawa yang bikin menggigil&lt;br /&gt;mereka membawa cerita masa lalu&lt;br /&gt;ketika hujan yang mesra mengguyuri atap rumah&lt;br /&gt;dan menghadirkan lelap atau mimpi malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini lumpur berbaur dengan air hujan&lt;br /&gt;mengalir melalui celah-celah tanggul di tepian jalan&lt;br /&gt;pada aliran-aliran itu, aku kini mencari-cari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah mimpi yang masih tersisa di sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;porong-sda, 10 jan 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-2863741358155694936?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/2863741358155694936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=2863741358155694936' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2863741358155694936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2863741358155694936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/01/catatan-porong-2.html' title='catatan porong 2'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-523585700785874982</id><published>2010-01-07T08:47:00.000+07:00</published><updated>2010-01-07T08:50:15.829+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>rumah kecil</title><content type='html'>di dalam rumah kecil kita&lt;br /&gt;ya kekasih&lt;br /&gt;selalu ada roti yang segar&lt;br /&gt;dan air yang tak pernah berhenti memancar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di rumah kecil kita&lt;br /&gt;ya kekasih&lt;br /&gt;ada bunga bakung yang indah&lt;br /&gt;dan burung pipit&lt;br /&gt;yang selalu mampir usir kuatir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di rumah kecil kita&lt;br /&gt;ya kekasih&lt;br /&gt;sayangnya tak ada bantal untukmu&lt;br /&gt;atau kasur empuk penghalau lelah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudahlah kawan&lt;br /&gt;katamu ya kekasih&lt;br /&gt;biar aku melipat-lipat rumah ini&lt;br /&gt;menyelipkannya dalam hatimu&lt;br /&gt;dalam relung hatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sn, sidoarjo, 040110, stlh ibdh pghbrn&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-523585700785874982?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/523585700785874982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=523585700785874982' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/523585700785874982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/523585700785874982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2010/01/rumah-kecil.html' title='rumah kecil'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-4592833595353368907</id><published>2009-12-25T12:43:00.004+07:00</published><updated>2009-12-27T10:16:30.379+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perbukuan'/><title type='text'>Bulan Penuh Buku dan Catatan Seputar Buku-bukuku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SzRRKbWUM1I/AAAAAAAAATM/xrIXWTsHtO0/s1600-h/books.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 238px; height: 245px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SzRRKbWUM1I/AAAAAAAAATM/xrIXWTsHtO0/s320/books.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419045491215446866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Bulan Penuh Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Desember 2009 bagiku adalah sebuah bulan penuh buku. Di awal dan tengah bulan Desember 2009 aku menemukan tiga buah buku bagus:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tangan untuk Utik karya Bamby Cahyadi,&lt;br /&gt;2. I Can (Not) Hear karya Feby Indirani dan San Wirakusuma, dan&lt;br /&gt;3. Amira and Three Cups of Tea karya Greg Mortenson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, tak dinyana, di Yogyakarta, aku bertemu dengan Iqbal Dawami, seorang peresensi buku yang memberiku empat buah buku yang ia terima dari penerbit:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kamus Khazar karya Milorad Pavic,&lt;br /&gt;5. Yesus Sang Anak Manusia karya Kahlil Gibran,&lt;br /&gt;6. Band yang Dilupakan Waktu - Biografi Guns N Roses karya Paul Stenning, dan&lt;br /&gt;7. Jembatan yang Terbakar karya John Flanagan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Iqbal Dawami juga aku dikenalkan ke Mas Imam dari Penerbit Bentang yang memberiku dua buku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Perahu Kertas karya Dee, dan&lt;br /&gt;9. Ramayana Mahabarata karya R.K. Narayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam buku yang kudapat di Yogya itu tak semua kubawa pulang. Perahu Kertas dan Kamus Khazar kuberikan ke Arie Saptaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Malang dari Yogya, aku penasaran dengan foto Fiya Hentihu tentang buku Soe Hok-gie, juga tulisan Pak Tanzil tentang buku yang sama -- dua-duanya di Facebook. Kubeli buku itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Soe Hok-gie... Sekali Lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil jalan-jalan di Toga Mas setelah membeli buku Hok-gie, akhirnya kudapat sebuah buku lain yang kunantikan sejak awal bulan Desember:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hingga malam Natal tahun ini, aku telah mendapatkan 11 buah buku. Jumlah yang cukup banyak bagiku. Gara-gara kejadian ini, aku hendak cerita sedikit tentang hal-ihlwal buku-buku yang kupunya dan dunia perbukuanku. Sumonggo dilanjut membaca, kalau dirasa perlu dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Resensi Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Iqbal Dawami, Nur Mursidi, dan Hernadi Tanzil, menurutku adalah orang-orang yang beruntung karena sering mendapat buku gratis dari penerbit. Aku terhitung jarang. Sejak resensiku atas buku Ma Yan karya Sanie B. Kuncoro dimuat Jawa Pos pada tanggal 22 Maret lalu, aku hanya mendapat satu buku gratis yang dikirim langsung oleh penerbitnya: Mata Keenam, terbitan Gloria Graffa. Aku sudah meminta kiriman buku gratis dari beberapa penerbit, beberapa membalas dan berjanji mengirim. Tapi, ah... manusia kan banyak yang suka lupa. Biasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, puji Tuhan, resensiku atas buku Mata Keenam nongol di koran Sinar Harapan. Sebelumnya, di Sinar Harapan juga, resensiku atas buku karya Arie Saptaji yang berjudul Pacaran Asyik dan Cerdas yang nongol duluan. Jadi, begitulah perjalananku meresensi buku sepanjang tahun ini. Ada belasan resensi buku yang kubuat, namun baru tiga buah yang menjebol koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin sering aku menulis resensi, semakin terasa manfaatnya bagiku, dan juga bagi penulis buku yang kita resensi -- bila ia membaca resensi itu. Menulis resensi bukan semata-mata agar dimuat koran, dan lalu mendapat uang. Ini adalah suatu upaya mengapresiasi secara wajar sebuah karya dengan memberikan pujian, kritik, masukan dan berbagai sudut pandang; sekaligus melatih-mengasah kemampuan menulis, utamanya dalam menganalisa suatu karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dua bulan terakhir ini (Desember 2009 dan Januari 2010), aku berencana meresensi empat buah buku saja:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tangan untuk Utik karya Bamby Cahyadi,&lt;br /&gt;2. I Can (Not) Hear karya Feby Indirani dan San Wirakusuma,&lt;br /&gt;3. Amira and Three Cups of Tea karya Greg Mortenson, dan&lt;br /&gt;4. Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com yang dieditori P. Chusnato Sukiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sepanjang Desember pekerjaan di sekolah tempat aku mengajar sangat banyak (Ujian Akhir Semester, pengolahan nilai dan pembagian rapot, dan persiapan acara Natal), hanya satu dari empat buku yang hendak kuresensi tadi yang baru sempat kubaca -- itu pun belum tuntas: I Can (Not) Hear.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Koleksi Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Sejak dulu, aku merasa bukan seorang kolektor. Aku masih ingat ketika ada di sebuah gereja yang kecil dan tidak punya banyak buku pengajaran dan bacaan. Gereja Anugerah Pembaharuan namanya. Waktu itu aku masih kuliah. Tanpa pikir panjang, kusumbang semua buku dan kaset rohani yang kumiliki untuk gereja yang melas dan mungil itu. Buku yang kusumbangkan lebih dari empat puluh buah dan kaset yang kusumbangkan lebih dari dua puluh buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, buku dan kaset-kaset itu kubeli dari hasil pekerjaanku yang kujalani sambil kuliah. Waktu itu aku bekerja memberi les privat, jualan telur puyuh matang ke beberapa warung kopi, dan sesekali menulis cerpen (beberapa tulisanku nyantol di majalah-majalah keren dan gaul seperti GFresh!, Sahabat Pena dan AnekaYess!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku bekerja, hal yang sama terulangi lagi. Aku memiliki bujet 100 sampai 150 ribu per bulan untuk membeli buku. Buku-buku yang kubeli sejak kuliah, ditambah dengan yang kudapat saat bekerja, membuat lemari bukuku yang ada di Malang tidak cukup lagi. Akhirnya beberapa buku kubawa ke Sidoarjo, ke tempat kosku. Teman-teman kos pada heran ketika suatu waktu aku pindah kos dengan sebuah angkot yang penuh berisi barang. Di antara barang-barang itu, yang terbanyak adalah buku. Ada sekitar dua ratus buku yang aku bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hal ini, lemari yang disediakan ibu kos untuk menaruh pakaian, malah jadi lemari buku. Pakaianku beberapa kugantung di dinding pakai hanger dan paku. Bulan demi bulan berlalu, lemariku itu makin penuh dengan buku yang kubeli. Buku pun bertumpuk-tumpuk di lantai kamar kosku. Sampai akhirnya aku membuat keputusan menyumbangkan lebih dari tiga puluh bukuku untuk sekolah tempat aku mengajar, dan memberikan beberapa buku kepada beberapa teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, tidak semua buku yang kubeli kubaca sampai tuntas. Aku pembaca yang malas, bukan pembaca yang tekun. Kalau kuperkirakan, hanya sekitar 70 persen buku yang sudah kubeli yang kubaca tuntas. Kerap kali, aku memutuskan membeli buku -- termasuk yang kemudian lalai kubaca setelah kumiliki -- dengan alasan utama: takut kehabisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ketika melihat lagi buku-buku yang bertumpuk di samping mejaku, aku merenung lagi: perlukah sebenarnya mengoleksi buku? Ini kutanyakan karena buku kadang dapat memberikan sebuah kenangan tersendiri. Contohnya, aku tidak akan lupa ketika membaca dengan penuh penghayatan serial Lord of the Rings hingga tak sadar subuh sudah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada kalanya aku juga merasa bersalah kalau mendiamkan sebuah buku yang kuanggap bagus hanya tegak tak bergerak dalam lemariku -- sementara ada teman yang kutahu benar memerlukannya. Dan kadang, ada pula cerita lain: teman yang meminjam bukuku menghilangkannya. Kurasa, cukup banyak masalah bisa datang ketika kita berniat mengoleksi buku, namun juga mempunyai banyak teman yang suka membaca (dan meminjam) buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, hingga akhir tahun ini, aku pun masih belum kepikiran membuat sebuah perpustakaan kecil untukku sendiri suatu ketika. Aku bukan perawat buku yang baik. Bila kurasa aku tidak memerlukan lagi sebuah buku, ya kuberikan saja kepada orang yang kuanggap akan menyukai buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mungkin, insya Allah, suatu hari nanti, perpustakaan kecil itu kubangun. Dengan sepenuh cinta... hihihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wrekso, Malam Natal 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-4592833595353368907?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/4592833595353368907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=4592833595353368907' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4592833595353368907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4592833595353368907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/12/bulan-penuh-buku-dan-catatan-seputar.html' title='Bulan Penuh Buku dan Catatan Seputar Buku-bukuku'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SzRRKbWUM1I/AAAAAAAAATM/xrIXWTsHtO0/s72-c/books.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-7907170560396506445</id><published>2009-12-24T09:43:00.001+07:00</published><updated>2009-12-24T09:45:19.397+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Satu Oktaf Keselamatan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." (Lukas 2:14)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca: Lukas 2:8-20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah nada-nada dalam lagu Joy to the World. Nada-nadanya hanya dalam kisaran satu oktaf tangga nada mayor. Ya, seuntai nada-nada yang jumlahnya hanya delapan, namun tergarap begitu indah, menjadi sebuah nyanyian yang dinyanyikan sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini hendak menegaskan bahwa sukacita telah lahir dan didatangkan oleh Allah ke dalam dunia. Penebusan Tuhan berlaku atas umat-Nya. Kegelapan menyingkir; sorak kemenangan pun kekhidmatan dikobarkan oleh koor malaikat dalam hati beberapa gembala yang menjadi saksi kelahiran-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena begitu sederhana, lagu ini mudah dimainkan. Karena begitu sederhana, lagu ini mudah dihapalkan. Karena begitu bersemangat, lagu ini disukai dan dinyanyikan dengan gegap-gempita. Dan karena begitu indah, lagu ini tak mudah dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini tampaknya hendak menjadi representasi karya keselamatan Kristus. Kristus lahir dengan cara yang begitu sederhana. Ia tumbuh dengan cara yang sederhana, dalam keluarga yang sederhana pula. Namun, semangat dan gelora ilahi yang ada dalam diri-Nya begitu besar sepanjang hidup-Nya. Ia taat pada Tuhan, sehingga lewat penebusan-Nya, lahirlah kemenangan yang gilang-gemilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Natal kali ini, ketika menyanyikan lagu ini, mari kita syukuri satu oktaf kemenangan yang Ia telah berikan kepada kita. Satu oktaf nada -- bukan terlalu banyak nada -- yang sederhana, namun begitu besar maknanya, begitu indah lantunannya, dan begitu gempita syair dan iramanya, dalam menggugah hati kita untuk bergirang lagi bagi-Nya! (~s.n~)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Bila Yesus datang, kegelapan menyingkir." (Pahatan pada dinding sebuah istana di Skotlandia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SzLVkj6OCzI/AAAAAAAAATE/HQBeEcMXleI/s1600-h/joyto.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 355px; height: 340px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SzLVkj6OCzI/AAAAAAAAATE/HQBeEcMXleI/s320/joyto.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418628125771565874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-7907170560396506445?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/7907170560396506445/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=7907170560396506445' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/7907170560396506445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/7907170560396506445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/12/satu-oktaf-keselamatan.html' title='Satu Oktaf Keselamatan'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SzLVkj6OCzI/AAAAAAAAATE/HQBeEcMXleI/s72-c/joyto.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-5203799380422057963</id><published>2009-12-20T10:56:00.001+07:00</published><updated>2009-12-20T10:56:29.084+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>simpang tiga</title><content type='html'>jalan remang&lt;br /&gt;kesunyian&lt;br /&gt;menjalarkan resah&lt;br /&gt;di benak dan kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kaki langit ini&lt;br /&gt;kueja lagi&lt;br /&gt;segala...&lt;br /&gt;jejak-langkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sidoarjo, 19.12.2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-5203799380422057963?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/5203799380422057963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=5203799380422057963' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5203799380422057963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5203799380422057963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/12/simpang-tiga.html' title='simpang tiga'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-4201475877914112699</id><published>2009-12-15T16:57:00.002+07:00</published><updated>2009-12-15T16:59:50.574+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Selamat Ulang Tahun! Usiamu Tiga Tahun!</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah." (Lukas 18:16)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SyddxVipcAI/AAAAAAAAAS8/5U38yAMkYFU/s1600-h/billwillsonkids.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 270px; height: 196px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SyddxVipcAI/AAAAAAAAAS8/5U38yAMkYFU/s320/billwillsonkids.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415400179113750530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bill Wilson, pendeta dari Gereja Metro itu suatu ketika pernah mendapat sebuah kartu ulang tahun. Kartu itu tampaknya diambil dari sebuah tong sampah, digosok-gosok oleh seorang anak biar tampak bersih, dan kemudian diberikan kepada Bill. Anak kecil itu, sama seperti anak-anak lain yang dilayani Bill, adalah anak-anak miskin yang berada di Brooklyn. Perceraian, bunuh diri, narkotika, dan berbagai tindakan kriminal lainnya sudah sangat biasa di wilayah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menerimanya, Bill kaget. Di kartu itu ada tulisan: "Selamat Ulang Tahun, Usiamu Tiga Tahun!" Bill nyatanya tak berusia tiga tahun. Namun, ia terkesan dengan pemberian itu. Pemberian yang tulus, dan membuatnya selalu suka berada di tengah anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus mengingatkan kita agar mengasihi anak-anak. Ia membiarkan anak-anak datang mendekat kepada-Nya dalam sebuah kisah di Injil. Ia tak menghalang-halangi mereka datang untuk bercengkerama dengan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari anak-anak kita belajar tentang ketulusan dan kepercayaan. Ya, anak-anak begitu tulus -- walau memiliki kelemahan terbesar sebagai pribadi-pribadi yang egois. Bahkan, dari mereka kadang kita bisa belajar untuk sabar menunggu sebuah jawaban dan penggenapan sebuah janji. Tuhan menghendaki kita menghampiri-Nya sebagai seorang anak kecil. Anak kecil, dalam pengertian di mana kita memiliki hati yang selaras dengan perkataan dan perbuatan -- apa adanya. Tanpa kepalsuan. Anak kecil, yang juga senantiasa haus dan lapar untuk menerima sesuatu yang baru dan berarti bagi hidup ini. (~s.n~)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-4201475877914112699?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/4201475877914112699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=4201475877914112699' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4201475877914112699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4201475877914112699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/12/selamat-ulang-tahun-usiamu-tiga-tahun.html' title='Selamat Ulang Tahun! Usiamu Tiga Tahun!'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SyddxVipcAI/AAAAAAAAAS8/5U38yAMkYFU/s72-c/billwillsonkids.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-5480587346365755536</id><published>2009-12-13T17:53:00.010+07:00</published><updated>2010-10-26T19:23:41.425+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>Perang di Mata Anak-anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SyTIFONnjjI/AAAAAAAAASs/AgTdhCoH9Gw/s1600-h/asa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 390px; height: 283px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SyTIFONnjjI/AAAAAAAAASs/AgTdhCoH9Gw/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414672644046294578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: Lakposhtha parvaz mikonand (Turtles Can Fly)&lt;br /&gt;Sutradara dan Skenario: Bahman Ghobadi&lt;br /&gt;Aktor: Soran Ebrahim, Avaz Latif, Saddam Hossein Feysal, Hiresh Feysal Rahman, Abdol Rahman Karim, Ajil Zibari&lt;br /&gt;Tahun: 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengira sedang menyewa sebuah film anak-anak yang lucu. Judulnya menarik: Turtles Can Fly. Ketika menontonnya, segera saya menyukai Satellite, tokoh utama di film ini yang sangat ceriwis, penuh semangat, dan ambisius. Dan ketika menyimaknya terus, karakter Satellite yang terkesan kocak itu sangat kontras dengan apa yang hendak disampaikan film ini. Film ini menampilkan simbol-simbol kedukaan yang dalam dan pedih tentang negeri yang tak luput dirundung perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turtles Can Fly adalah sebuah film asal Irak yang berusaha memotret kehidupan anak-anak yang menjadi pengungsi pada masa Saddam Husein ditangkap. Kisahnya fiktif, namun berdaya-gugah luar biasa. Kisahnya berpangkal pada seorang anak yang dijuluki Satellite oleh orang-orang di sekitarnya, yang sehari-harinya bekerja sebagai pengumpul ranjau. Ia dijuluki demikian karena tampak mahir pada hal-hal yang berhubungan dengan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranjau-ranjau yang dikumpulkan di tempat tinggal anak itu -- yakni di sebuah tempat pengungsian -- sangatlah banyak. Hampir tiap hari Satellite mengerahkan puluhan anak untuk bekerja memungut ranjau-ranjau itu. Ranjau-ranjau itu sangat berbahaya. Bila diinjak bisa meledak -- bisa bikin kaki lumpuh atau buntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah bagian yang menarik dari film ini adalah kisah tentang kehadiran seorang anak kecil yang belum genap berusia tiga tahun. Ia datang bersama dua kakak-beradik. Seorang dari mereka adalah lelaki kecil yang tak punya dua tangan. Yang seorang lain adalah wanita, adik laki-laki buntung itu; ia selalu memasang wajah muram. Sementara anak kecil ini bukan siapa-siapa mereka berdua. Mereka menemukannya sedang merintih perih waktu pasukan Amerika sedang membombardir sebuah perumahan penduduk Irak. Oleh kemurahan hati kedua kakak-beradik itu, akhirnya si anak kecil turut dibawa ke mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SyTIP3jFOAI/AAAAAAAAAS0/WIu6bJq_u1o/s1600-h/asas.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 247px; height: 254px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SyTIP3jFOAI/AAAAAAAAAS0/WIu6bJq_u1o/s320/asas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414672826940864514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu ketika si anak kecil terjebak di antara beberapa ranjau di sekitarnya. Adegan yang menegangkan pun disuguhkan: Satellite akan menolong anak itu. Ia berteriak-teriak memohon anak itu agar tak bergerak sedikit pun, karena sebuah ranjau yang ada di dekatnya dapat menghabisi nyawanya, satu kali saja ia salah injak. Saat ia berteriak-teriak, beberapa anak yang lain pun menangis pilu. Ranjau yang membahayakan itu, ya, sekali lagi, salah terinjak sedikit saja, meledaklah dia. Dan... darrr! Ranjau itu meledak, lalu menghantam kaki Satellite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak sebenarnya menakuti perang, walau mungkin mereka suka menonton film perang. Turtles Can Fly menyingkapkan dengan telak bagaimana sebuah perang mengubah kehidupan jiwa anak-anak. Penulis naskah (sekaligus sutradara) film ini patut diacungi jempol. Film ini menghadirkan berbagai adegan lucu, yang, namun, di balik semua kelucuan itu tersimpanlah duka yang mendalam akibat kehilangan, kelaparan, dendam dan peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satellite yang menyukai Amerika dengan segala atributnya (ia suka sekali berbahasa Amerika, bergaya seperti orang Amerika, dan menyukai tokoh-tokoh film Amerika) suatu ketika harus melepas segala junjungannya terhadap Amerika ketika intervensi Amerika terhadap kondisi politik di Irak semakin besar. Patung Saddam akhirnya ditumbangkan, dan seorang sahabatnya membawakan bagi Satellite sebuah kaki Saddam yang patah. Sahabatnya itu berkata kalau kaki itu akan mahal bila dijual. Satellite memandang wajah sahabatnya dengan aneh. Ya, ia sendiri baru saja nyaris kehilangan kakinya akibat ledakan ranjau!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ini film berlatar suasana dan waktu perang, maka tentu ada kematian di dalamnya. Satellite pada akhirnya harus merelakan hatinya tercabik-cabik ketika melihat beberapa kematian yang mengerikan dalam hidupnya. Emosi yang terpantik dalam benak saya ketika melihat film ini, membuat saya mengingat sebuah film lain yang berjudul Mean Creek, yang mengisahkan tentang beberapa anak remaja yang pada akhirnya harus menemukan sebuah kenyataan pedih ketika mereka dihadapkan pada sebuah kematian teman mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunas-tunas muda, jiwa yang selalu ingin merdeka, yang direnggut oleh maut dari kehidupan ini akibat kebengisan para penguasa, itulah salah satu dampak terburuk sebuah perang. Masa yang seharusnya dilalui dengan keceriaan berganti dengan kemuraman. Anak-anak akan tetap menjadi anak-anak, di mana pun mereka berada di dunia ini. Dan inilah wajah anak-anak yang harapannya bisa pupus seketika akibat berbagai ranjau bernama peperangan. Tawa mereka akan jadi sebuah kenangan yang paling dirindukan di seantero negeri, menjadi inspirasi bagi nyanyian-nyanyian perdamaian, dan kiranya menghantui mimpi-mimpi para penguasa haus darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jadi apa makna judul Turtles Can Fly? Jikalau kura-kura dapat terbang di dalam air, melihat matahari ketika mereka ingin menyembul ke permukaan, maka -- duhai para penguasa! -- para anak-anak ini tak bisa selamanya ditenggelamkan dalam danau berdarah akibat ranjau yang selalu terpasang dan senjata yang selalu terangkat! Turunkan senjata, buang semua ranjau, dan biarkan kami -- para anak-anak -- ini terbang, seperti kura-kura menyambut mentari pengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, kira-kira, mungkin begitu maksud judul film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho&lt;br /&gt;13 Desember 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-5480587346365755536?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/5480587346365755536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=5480587346365755536' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5480587346365755536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5480587346365755536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/12/perang-di-mata-anak-anak.html' title='Perang di Mata Anak-anak'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SyTIFONnjjI/AAAAAAAAASs/AgTdhCoH9Gw/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-2720742664844768989</id><published>2009-12-11T06:46:00.001+07:00</published><updated>2009-12-11T06:48:50.854+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Kerudung untuk Cucuku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SyGIvfzUWLI/AAAAAAAAASk/1B4a3doxkxw/s1600-h/asa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 228px; height: 171px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SyGIvfzUWLI/AAAAAAAAASk/1B4a3doxkxw/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413758576648018098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebenarnya aku berharap mati di Mekah. Tapi, di sinilah aku berada: di bandara Juanda. Ya, aku kembali ke tanah airku! Dari bandara Juanda aku menuju ke Malang, kotaku. Sebenarnya, bisa dikata, tidak ada lagi yang kurindukan di kota Malang. Istriku telah tiada, anak-anakku telah berpencaran ke luar kota. Hari-hariku kerap dirundung sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di Malang, aku beruntung memiliki seorang cucu yang sangat sayang padaku. Ia tinggal denganku. Usianya baru 9 tahun, namun ia sangat lemah-lembut dan murah hati. Ayahnya, yang adalah anakku, bekerja di Sidoarjo. Ia seminggu sekali baru pulang ke Malang. Istrinya, ibu cucuku itu, telah meninggal tiga tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap sore aku mengantar cucuku ke masjid dekat rumah. Ia suka sekali mengaji. Sebenarnya bisa saja ia berangkat dengan kawan-kawannya berjalan kaki, namun aku suka melihat bibirnya komat-kamit menyuarakan ayat-ayat suci Qur'an dari teras masjid. Daripada aku menonton tivi di rumah yang menyiarkan berita dan acara pembikin pusing, aku memutuskan untuk menemani cucuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku amat menyesal begitu mendapat keputusan ada dua koperku yang tidak diikutkan dalam bagasi pesawat yang membawaku pulang dari Mekah. Ya, sebabnya aku telah kelebihan muatan. Di antara semua barang yang termuat di salah satu koper itu, aku paling menyesal tak membawa sebuah kerudung untuk cucuku: kerudung berwarna biru muda, dengan renda-renda putih dan ungu berbentuk bunga yang cantik di sepanjang tepiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berangkat ke Mekah, aku berjanji membawa oleh-oleh hanya untuk satu orang saja. Aku telah berjanji membawakan kerudung dari Mekah untuk cucuku. Matanya berbinar demi mendengar kata-kata "kerudung dari Mekah". Tampaknya, tiga kata itu ajaib benar baginya. Suatu ketika ia berkata padaku, "Kek, kata guru ngajiku, ada kemuliaan di Mekah; ada rasa haus dan lapar akan Allah di sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku manggut-manggut, mengiyakan apa yang ia katakan. "Kemuliaan", "rasa haus dan lapar", tampaknya menjadi kata-kata yang benar-benar menawan benak cucu kecilku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aduh... sayang sekali! Cucuku itu..., ah, kerudung untuknya itu, tertinggal! Aku begitu susah mengusir gelisah yang menaungi batinku di hari-hari yang kulewati di tanah air ini setelah kembali dari Mekah. Kerudung terbaik yang kupilihkan untuknya, bagaimana ya nasibnya kini? Aku sering menyesali: Kenapa tidak kumasukkan saja kerudung itu dalam tas yang selalu kutenteng ke mana-mana? Kenapa ia kusatukan dengan air zam-zam, kurma, dan beberapa oleh-oleh lain yang tidak penting di koper itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah! Kenapa aku makin pikun? Kenapa aku begitu bodoh... kenapa aku makin tua? Hatiku didera pilu ketika melihat cemberut di wajah cucuku selama beberapa hari karena kealpaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekah yang kurindukan menjadi pelabuhan terakhirku tak kesampaian. Aku didaulat oleh Allah untuk kembali ke tanah air. Dan harapan terbesarku kembali lagi di sini dari sana hanyalah melihat cucuku itu berkerudung dengan kerudung bawaanku. Harapan itu pupus. Mungkin, aku orang tua yang picik. Namun inilah aku, dan itulah harapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cucuku tertidur pulas malam ini. Ia sudah tak pernah cemberut lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, ayah cucuku itu, baru saja datang dari Sidoarjo. Ia kuatir dengan kondisi kesehatanku. "Besok kita ke dokter ya, Pak. Sudah tiga minggu sejak pulang dari tanah suci, kalau aku di sini, Bapak kelihatannya jarang tidur kalau malam, dan terus-menerus batuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam menanggapi usulnya. Aku berdehem kecil, berupaya menghilangkan kegamangan yang kurasa merambat di udara sekitar kami duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudahlah, Pak. Kerudung untuk Tanti tidak usah dipikirkan lagi. Dia sudah tidak mempersoalkannya kok. Bapak bisa membelikan kerudung yang...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ehhhmmm... ehhhmmm...!" Kusuarakan batukku dengan keras. Anakku tahu, kalau sudah begitu, tandanya aku tak mau mendengar apa pun yang ia katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, aduh, batukku ini, makin lama kok makin keras sih? Aku rasa aku harus berhenti bercerita sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allahu akbar... Allahu akbar...." Suara adzan menggema dengan nyaring dan khidmat. Aku memasang telinga untuk suara-suara lain yang mungkin terdengar di sekelilingku. Aku membuka mataku perlahan-lahan. Oh, tak ada orang di sini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allahu akbar... Allahu akbar...." Lho, ternyata, aku sedang mendengar suaraku sendiri! Aku sedang menggemakan adzan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku kini berada di dalam ruangan masjid yang selalu kutandangi tiap sore. Masjid yang sepi. Tak ada seorang pun di sana, kecuali aku. Aku melanjutkan mengumandangkan adzan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian aku mendengar sebuah suara langkah kaki ketika adzan usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cucuku! Ia memakai kerudung biru muda itu! "Tanti... cucuku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa melangkah menggapai dirinya yang kini sedang hendak duduk lalu membuka Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanti..., Tan...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun bersujud, memohon kepada Allah agar diperkenankan menjamah dan memeluk cucuku itu. Ia terus mengaji, mengucapkan dan melantunkan ayat-ayat suci dengan suara mungilnya yang bening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai, ia menutup Qur'an itu, lalu memandangi lukisan Ka'bah yang ada di salah satu dinding masjid. "Allahu akbar. Rasa haus dan lapar akan Allah, dan kemuliaan, semoga kakek selalu memilikinya, ya Allah...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang kini sedang bersujud sambil mencoba merangkak, mulai terbujur kaku. Beberapa kejap, sekali lagi kulihat lukisan Ka'bah yang megah itu. Dengan cara yang sulit kujelaskan, aku masuk ke dalam lukisan itu. Dan kemudian...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: Aku ditakdirkan untuk berhenti bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 10 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Kubuat cerita ini setelah mengingat sebuah berita di Jawa Pos sekitar seminggu lalu tentang beberapa barang bawaan jamaah haji yang harus ditinggal di Mekah karena overload ketika kembali ke tanah air.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-2720742664844768989?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/2720742664844768989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=2720742664844768989' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2720742664844768989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/2720742664844768989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/12/kerudung-untuk-cucuku.html' title='Kerudung untuk Cucuku'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SyGIvfzUWLI/AAAAAAAAASk/1B4a3doxkxw/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-3528724722140678430</id><published>2009-12-09T18:44:00.002+07:00</published><updated>2009-12-09T18:54:51.494+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Menerjemahkan dengan Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Sx-OLV7fSmI/AAAAAAAAASc/KCAyvyMTmwo/s1600-h/santi.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 190px; height: 212px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Sx-OLV7fSmI/AAAAAAAAASc/KCAyvyMTmwo/s320/santi.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413201602638989922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Wanita itu, bahkan mungkin kita semua, tentunya bisa putus harapan ketika dokter memberi vonis: dalam tubuh ada kanker paru-paru stadium IIIB, dan usia hidup tinggal 4-6 bulan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vonis itu merupakan hasil dari apa yang dialami wanita itu sejak awal Agustus 2004, bahkan sebelumnya. Di awal Agustus 2004, ia sedang mandi ketika merasakan sakit di bagian dada. Di hari-hari berikutnya ia menjalani serangkaian pemeriksaan medis yang bikin nyali ciut: semua bukti medis tampak memupuskan harapannya untuk terus bertahan hidup. Namun, ia tak kehilangan iman. Ia terus menaruh harapan pada Tuhan, berdoa dan mengharapkan mukjizat. Saat ia mengalami penyakit ini, baik buku dan film serial Harry Potter sedang meraup sukses di banyak negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu bulan berlalu, sepertiga rambutnya ambrol. Namun, tak lama setelah itu, mukjizat terjadi: ia disembuhkan Tuhan dengan cara ajaib. Wanita itu, Listiana Srisanti namanya, telah mengalami pertolongan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Listiana yang menerjemahkan serial Harry Potter dan beberapa buku terbitan Gramedia, memang dikenal sebagai salah satu penerjemah yang terbaik. Bahkan, ketika Memoar Seorang Geisha karya Arthur Golden diterjemahkan oleh Listiana, Arswendo Atmowiloto menyatakan: "... terjemahan Listiana jauh lebih menyentuh daripada buku aslinya. Mungkin Listiana mampu menghayati roh perempuan yang rapuh secara utuh ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita pernah membaca buku Geisha itu (cetakan pertama tahun 2002), dengan lirih diuraikan penderitaan jiwa seorang wanita yang tak berdaya akibat didera berbagai kesengsaraan hidup. Sebuah keadaan yang tampaknya juga mewakili kondisi jiwa-raga Listiana sebelum ia mengalami sakit yang mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang manusia yang rapuh dengan penyakit mengerikan, telah melakukan sesuatu yang tak dilakukan manusia-manusia yang merasa dirinya normal atau bahkan superior. Listiana menerjemahkan dengan hatinya, sehingga apa yang ia lakukan juga menjamah hati orang lain. Ia terus berkarya, namun tetap menjiwai apa yang ia lakukan dengan kepasrahan penuh pada Yang Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ketidakberdayaan dan keterbatasan, acapkali kekuatan Ilahi yang lebih besar menolong kita untuk bisa melakukan sesuatu yang menjadi bagian atau pekerjaan kita. Dan, jikalau kita tetap bertekun, niscaya semua yang kita lakukan berakhir dan berbuah indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho&lt;br /&gt;Sidoarjo, 9 Desember 2009&lt;br /&gt;Catatan: Matur nuwun untuk Pak Sumardianta atas kisah Listiana Srisanti dalam bukunya yang berjudul Simply Amazing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-3528724722140678430?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/3528724722140678430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=3528724722140678430' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/3528724722140678430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/3528724722140678430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/12/menerjemahkan-dengan-hati.html' title='Menerjemahkan dengan Hati'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Sx-OLV7fSmI/AAAAAAAAASc/KCAyvyMTmwo/s72-c/santi.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-1589570686683163392</id><published>2009-12-08T06:28:00.001+07:00</published><updated>2009-12-08T06:28:50.847+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>terima kasih, telah menganggap hidupku tak penting</title><content type='html'>&lt;i&gt;: dua fragmen pengabaian&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terima kasih, karena kau membuatku sadar&lt;br /&gt;hidup ini tak sekedar mengejar mimpi&lt;br /&gt;namun juga menakar arti caci-maki&lt;br /&gt;dalam menyejatikan jati-diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terima kasih, karena dalam tiap doamu&lt;br /&gt;aku tak pernah kausebut dan kauingat&lt;br /&gt;walau aku pernah memintamu sesekali bersyafaat&lt;br /&gt;kaulupakan aku... aku tak melintas-lewat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terima kasih, karena kau selalu diam saja&lt;br /&gt;dan menganggap sepi semua kemurahanku&lt;br /&gt;kau tahu bahwa itu semua tak penting bagimu&lt;br /&gt;dan bahwa hidupmu akan jauh lebih berwarna tanpaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terima kasih, karena kau menyadarkanku pada kuasa waktu&lt;br /&gt;yang mengurai makna derai tawa dan tangisku yang bising&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kususur jejak-langkah yang sebelumnya hening&lt;br /&gt;dan kini aku bersyukur, seraya sedikit merinding&lt;br /&gt;: terima kasih, telah menganggap hidupku tak penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu kulihat sebidang tanah di bumi terkoyak malam ini&lt;br /&gt;dari sana muncul wajah-wajah buas hitam dan merah&lt;br /&gt;mata membara, badan penuh luka, dan seringai amarah&lt;br /&gt;menyatu dalam sosok-sosok tanpa raga yang tampak gerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mengenal satu orang di antara mereka&lt;br /&gt;: ada di buku sejarah! ada di buku pelajaran!&lt;br /&gt;terkenal pekikannya, singa muda julukannya&lt;br /&gt;dan ia kini membariskan para wajah: "maju jalan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;para wajah menghentakkan kaki dengan seragam&lt;br /&gt;langkah mereka terayun cepat, makin cepat, dan terbang!&lt;br /&gt;di sebuah istana di pusat kota mereka berada sekarang&lt;br /&gt;kunantikan apa yang akan dilakukan mereka dalam berang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"jikalau mereka yang hidup lupa memperjuangkan keadilan,&lt;br /&gt;biarlah kami yang sudah mati bangkit menentang kesewenangan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demi tuhan, ngeri namun bergairah kudengar sorak dan riuh&lt;br /&gt;yang membahana, kisruh, bising dan menggemuruh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terima kasih, telah menganggap hidupku tak penting&lt;br /&gt;tapi kini, aku tak lagi hanya menyusur jejak-langkah yang hening&lt;br /&gt;aku pun memadu bising bersama sederetan wajah gerah&lt;br /&gt;: "sialan kau penguasa! becuslah sedikit menangani resah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sidoarjo, 7 desember 2009, menjelang tengah malam&lt;br /&gt;catatan: awalnya ingin membuat puisi ini diiringi lagunya afgan: "terima kasih cinta" -- tapi kok gak pas. nah, akhirnya, puisi ini lahir ditemani lagunya metallica: "sad but true" -- pas banget.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-1589570686683163392?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/1589570686683163392/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=1589570686683163392' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/1589570686683163392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/1589570686683163392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/12/terima-kasih-telah-menganggap-hidupku.html' title='terima kasih, telah menganggap hidupku tak penting'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-5851830496435489091</id><published>2009-12-03T06:45:00.002+07:00</published><updated>2009-12-03T06:48:14.908+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Gajah, Pengharapan, dan Keyakinan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Sxb8bFQOQlI/AAAAAAAAASU/qekIA7YRtXI/s1600-h/asa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 169px; height: 252px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Sxb8bFQOQlI/AAAAAAAAASU/qekIA7YRtXI/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410789544529117778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku: Gajah Sang Penyihir (The Magician's Elephant)&lt;br /&gt;Penulis: Kate DiCamillo&lt;br /&gt;Ilustrasi: Yoko Tanaka&lt;br /&gt;Penerjemah: Dini Pandia&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Cetakan: September, 2009&lt;br /&gt;Tebal buku: 148 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter Augustus Duchene adalah pria kecil yang malang. Dibesarkan di sebuah apartemen kumuh oleh Vilna Lutz, seorang mantan tentara tua yang suka membentak-bentak dan menyuruh-nyuruh, hidupnya terkesan muram. Sampai suatu ketika ia melihat seorang peramal, dan tertarik membayarkan satu florit untuk mendengar apa kata peramal itu. Padahal, seharusnya ia memakai satu florit itu untuk membeli ikan dan roti, seperti yang disuruhkan Vilna kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peramal itu, oleh Peter ditanyai sebuah hal yang paling meresahkan batinnya: apakah adiknya yang bernama Adele masih hidup? Jawaban yang diberikan sang peramal mengagetkannya: Adele masih hidup. Dan untuk menjumpai Adele, si peramal berkata: "Kau harus mengikuti gajahnya... gajah betina itu akan membawamu ke sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan dalam diri Peter tersulut. Ia gembira, sekaligus bimbang dan bingung. Bagaimana tidak? Seekor gajah akan membawanya kepada Adele? Yang benar saja --gajah dari mana? Selain itu, Vilna Lutz tua yang sakit-sakitan itu, yang mengaku sebagai sahabat ayah Peter, menyatakan bahwa ramalan itu palsu. Sejak Peter hidup dengannya, Vilna telah menjejalkan kisah hidupnya yang lain: bahwa ayah Peter dulu adalah tentara yang hebat seperti dirinya, dan ia tak punya saudara lagi. Peter bahkan dilatih tiap hari dengan pelajaran seputar ketentaraan agar dapat menjadi tentara yang baik suatu ketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dengan cara yang ajaib, gajah itu benar-benar muncul, meresahkan segenap penduduk kota Baltese. Datangnya tak terduga pada sebuah acara yang digelar seorang penyihir. Penyihir itu, awalnya hendak membuat kejutan dengan menghadirkan hanya sebuket bunga lili dengan kemampuan sihirnya. Tak dinyana, ketika sihirnya ia mainkan, dari atas atap gedung opera seekor gajah yang besarnya bukan kepalang turun di tengah-tengah hadirin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gajah itu membuat remuk kaki seorang bangsawan bernama Madam LaVaughn. Ia harus duduk di kursi roda karena kecelakaan itu. Berita kedatangan gajah pun menyebar di seantero kota Baltese. Peter pun mendengarnya -- harapannya menemukan titik terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bantuan seorang polisi berbadan kecil bernama Leo Mattiene yang murah hati, seorang tukang batu pemberani yang suka tertawa sendiri bernama Bartok Whynn, Madam La Vaughn dan pelayannya yang bernama Hans Ickman, maka pencarian Peter akan Adele pun menjadi kisah yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang digarap Kate DiCamillo ini agak berbeda dari beberapa bukunya yang sebelumnya. Sebelum ini ia telah menulis beberapa cerita anak (yang juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Gramedia): The Tiger Rising, The Miraculous Journey of Edward Toulane, Because of Winn Dixie dan The Tale of Desperaux. Dua yang terakhir disebut sudah difilmkan. Bedanya adalah, baru ini Kate DiCamillo mengangkat hal berbau sihir dalam ceritanya. Ya, tetap juga ada kesamaan: tokoh berupa binatang tetap tampil sebagai tokoh dominan dalam bukunya kali ini. Namun, kisah-kisah di buku-bukunya yang sudah-sudah lebih banyak dibumbui dengan tema persahabatan, keluarga, atau kepahlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun tema yang digarap oleh Kate selalu menarik diikuti hingga tuntas, termasuk yang dilakukannya kali ini. Ini tak lain karena ia adalah seorang penulis yang berdedikasi penuh untuk menulis cerita anak-anak. Dalam sebuah wawancara ia mengaku menulis dua halaman dari hari Senin sampai Jumat sebelum bekerja di toko buku. Tulisan-tulisannya senantiasa tertutur rapi dan tak menjemukan. Ia pernah mendapatkan Newbery Medal, sebuah penghargaan untuk buku cerita anak-anak terbaik untuk bukunya The Tale of Desperaux.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku The Magician's Elephant merangkum kecerdasan Kate DiCamillo bercerita: runut, imajinatif, dan kaya akan frasa yang disebutkan beberapa kali untuk membentuk imajinasi pembaca agar menyelami situasi yang sedang terjadi di kota Baltese. Baltese adalah sebuah kota yang tak ada di belahan dunia mana pun -- sebuah negeri antah-berantah. Dalam sebuah wawancara lain, Kate menyebutkan setelah ia selesai menggarap bukunya ini, ia menonton sebuah film yang berlatar kota Bruges di Belgia. Ia menyatakan kota itu, Bruges, mirip dengan Baltese yang ia ciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melukiskan Baltese, juga para tokoh, dan situasi penting yang terjadi di sepanjang cerita, beruntunglah Kate mendapatkan Yoko Tanaka. Yoko, walau hanya mengandalkan nuansa hitam-putih dalam membuat ilustrasi, mampu mewakili imajinasi yang awalnya ada pada Kate. Gambar-gambar yang dibuatnya hampir semuanya terkesan muram. Ini mewakili situasi kota Baltese yang selalu mendung, namun tak kunjung disiram salju atau hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ilustrasi yang menarik adalah gambar yang dibuat Yoko ketika melukiskan sebuah kamar Rumah Yatim-Piatu Susteran Cahaya Abadi (halaman 56). Kamar tidur itu berlangit-langit tinggi dan artistik. Di sana ada 14 tempat tidur yang semuanya ditiduri oleh anak-anak yang sedang lelap, kecuali sebuah tempat tidur. Seorang gadis kecil terjaga di tempat tidur itu, duduk di tepi tempat tidurnya. Rambutnya yang dikepang dua dengan lucu, membuat kita yang mengamatinya ingin memeluknya. Dialah Adele, adik Peter yang di suatu malam resah tak bisa tidur akibat mimpi yang baru saja dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi Adele hadir dalam tidurnya, bagai membawa harapan yang ada di benak Peter, abangnya, untuk bertemu dengannya. Namun, Adele yang masih belum genap tujuh tahun dan tidak tahu dengan lengkap jati-dirinya hanya bisa meraba-raba apakah mimpi itu akan mengubah hidupnya. Ia hanya tahu bahwa mimpi itu aneh, namun menyenangkan dan membahagiakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, akan bertemukah dua kakak beradik ini nantinya? Ke manakah gajah itu nantinya akan dibawa? Buku ini terlalu bagus untuk Anda lewatkan, bila Anda menyukai imajinasi yang sering melintasi benak anak-anak kecil. Yang jelas, Peter dikisahkan tak setengah-setengah berjuang menemukan Adele. Walau tak pernah dilihatnya, Peter menyayangi adiknya itu sepenuh hatinya. Perjuangan Peter ini, pada akhirnya membidikkan pertanyaan yang membongkar kesejatian pengharapan dan keyakinan kita akan sesuatu hal yang hendak kita gapai: Sudah sungguh-sungguhkah kita mengejarnya sejauh ini? ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho, guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo yang menyukai cerita anak-anak&lt;br /&gt;Malang, 30 November 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-5851830496435489091?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/5851830496435489091/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=5851830496435489091' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5851830496435489091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5851830496435489091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/12/judul-buku-gajah-sang-penyihir.html' title='Gajah, Pengharapan, dan Keyakinan'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Sxb8bFQOQlI/AAAAAAAAASU/qekIA7YRtXI/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-8086583648366238160</id><published>2009-12-01T19:25:00.007+07:00</published><updated>2010-10-26T19:24:05.336+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>Hidup Enggan, Mati Enggak Nolak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SxULvdt2uBI/AAAAAAAAASE/wkL0ityNrLY/s1600/sea+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 181px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SxULvdt2uBI/AAAAAAAAASE/wkL0ityNrLY/s320/sea+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410243437414234130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;: Sebuah refleksi berdasarkan film, bukan resensi film&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: The Sea Inside (Mar adentro)&lt;br /&gt;Sutradara dan Penulis Skenario: Alejandro Amenábar&lt;br /&gt;Aktor: Javier Bardem, Belén Rueda, Lola Dueñas&lt;br /&gt;Asal/Tahun: Spanyol, 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feby Indirani, seorang teman saya, menulis sebuah review film yang menarik di Multiply. Sebuah film tentang kehidupan dan kematian. Di akhir review-nya yang bernas itu ia menyatakan mungkin akan jatuh hati kepada tokoh utama di film itu. Sebab utamanya karena Ramon, tokoh itu, memiliki kearifan dan selera humor yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Review itu kemudian membuat saya mencari-cari film itu untuk mengisi waktu luang di akhir minggu yang sering saya lalui sendirian. Saya sedang perlu film yang menghadirkan renungan yang subtil. Dan saya merasa, mungkin ini filmnya. Saya benar-benar penasaran dengan sosok Ramon: Seorang pria yang lumpuh, namun disukai banyak wanita. Bagaimana bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramon Sampedra, mantan pelaut yang sudah berkeliling dunia sejak berusia 19 tahun, suatu ketika mengalami kecelakaan yang bisa dibilang memilukan, sekaligus menggelikan. Bagaimana tidak, sebagai seorang pelaut yang tentunya berpengalaman menerka kedalaman pantai, ia bisa saja menghindari kecelakaan itu. Namun, inilah yang justru terjadi: ia terjun bebas dari sebuah gundukan tanah yang cukup tinggi di tepi pantai, padahal pantai itu tak cukup dalam; kepalanya membentur dasar pantai dengan cukup kuat, lehernya patah seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 28 tahun setelah kecelakaan itu ia menghabiskan waktu berbaring di tempat tidur, mendengarkan siaran radio, menonton televisi, dan menulis dengan menggunakan mulut. Ia tampak murah senyum dan rileks menjalani hidup, walau akhirnya ia bosan dengan apa yang dihadapinya. Ia kemudian mengajukan diri untuk disuntik mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajuan ini membawanya bertemu dengan Julia, seorang pengacara yang memiliki sakit lumpuh di kaki. Berbeda dengan Ramon yang selalu tampil penuh senyum di tiap kesempatan, Julia adalah sosok yang muram. Pertemuannya dengan Ramon mengubah hidupnya. Ia mendapatkan penghiburan dalam beban yang menghimpit hidupnya. Upayanya berjuang sebagai pengacara yang hendak memperjuangkan pengajuan Ramon disuntik mati jadi setengah-setengah. Ia lebih menyukai kebersamaannya dengan Ramon, daripada harus berjuang secara hukum agar Ramon bisa disuntik mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Ramon perjuangkan akhirnya mendapat perhatian media. Televisi meliput kabar tentang dirinya. Seorang wanita lain, Rosa namanya, yang tinggal tak jauh dari rumah Ramon, datang menjenguknya. Rosa seorang ibu dua anak yang telah ditinggal suaminya, bekerja sebagai seorang penyiar radio. Seperti Julia, Rosa merasa aman dekat Ramon. Hadiah pertamanya buat Ramon adalah sebuah lagu romantis yang diputarnya lewat radio ketika ia sedang membawakan acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julia dan Rosa selalu datang dalam kehidupan Ramon. Bahkan, konon, ada lima atau enam wanita yang memberi perhatian khusus buat Ramon dalam kehidupan Ramon yang sebenarnya. Di film ini, mereka disederhanakan menjadi dua. Dari setiap pembicaraan Ramon dengan mereka, juga dengan keluarganya, Ramon tetap kukuh dengan niatnya: disuntik mati. Ramon menganggap hidup adalah hak, bukan kewajiban. Keluarganya sangat menentang hal ini, terutama abangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi lain yang sebenarnya tak dapat dipungkiri Ramon adalah keberadaan harapan dalam hati kecilnya -- harapan untuk sembuh. Harapan itulah yang kemudian membuatnya berimajinasi dengan indah. Dalam film ini, ditunjukkan paling tidak dua kali, harapan Ramon yang akan disukai para penonton. Pertama adalah ketika Ramon mengimajinasi dirinya bisa terbang. Ia membayangkan dirinya keluar dari jendela kamarnya, terbang dengan laju melintasi perbukitan yang hijau di sekitar rumahnya. Dan mengakhirinya di pantai, sambil menyaksikan debur ombak dan merasakan angin laut menerpa tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah harapannya bercinta dengan Julia. Dalam suatu kunjungan Julia, Ramon menyatakan ia menyukai bau air laut yang kadang sampai ke kamarnya. Selain itu ia juga menyukai -- bahkan selalu mengingat -- parfum yang dipakai Julia. Julia kesengsem mendengarnya; dan ia bertanya apa saja yang Ramon akan lakukan seandainya Ramon tidak sakit dan Julia ada di sisinya. Ramon dengan lembut menyatakan apa-apa saja yang akan dilakukannya. Dan itu membuat Julia mabuk kepayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SxUL4tqBJpI/AAAAAAAAASM/wBj5RHWzGUE/s1600/the_sea_inside.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 263px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SxUL4tqBJpI/AAAAAAAAASM/wBj5RHWzGUE/s320/the_sea_inside.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410243596311930514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tapi Ramon tak bisa terbang; dan ia tak bisa bercinta sepenuhnya dengan wanita. Karena itulah, saat atau kenangan yang paling sering melintasi benaknya adalah saat kepalanya membentur dasar pantai 28 tahun lalu itu. Ia berharap tak ada orang yang menyelamatkannya lagi. Ia berharap terbenam di dasar lautan dan menghadap Sang Khalik. Harapan itulah yang menjadi pemupus harapannya yang lain untuk terus hidup. Ramon menjadi sosok yang hidup dalam keputusasaan, namun bukan dengan semboyan "hidup enggan, mati tak mau". Ia lebih memilih "hidup enggan, mati enggak nolak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika merenungkan ketahanan dan kesabaran hidup Ramon selama 28 tahun, saya jadi teringat sebuah film lain yang sudah saya tonton berulang-ulang. Sebuah film tentang harapan juga -- harapan untuk bebas dan merdeka. Shawshank Redemption judulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shawshank Redemption mengisahkan kehidupan para napi kelas berat di penjara Shawshank. Dua orang napi, Red dan Andy, bersahabat dalam film ini. Red pernah menyatakan kalau Andy jangan berharap bebas. Andy merasa harus terus berharap, apalagi mengingat sebuah fakta bahwa ia ada di Shawshank karena sebuah kesalahan: Andy bukan pembunuh istrinya, sementara ia didakwa atas tuduhan membunuh istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andy yang memupuk harapannya selama bertahun-tahun mendapatkan buah yang adil. "Harapan adalah sesuatu yang baik, bahkan mungkin sesuatu yang terbaik. Dan segala sesuatu yang baik tidak akan pernah punah," katanya di dalam sebuah surat kepada Red.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andy adalah sebuah tokoh fiktif, ciptaan Stephen King. Sementara Ramon adalah tokoh yang nyata. Andy dan Ramon sama-sama terbelenggu -- satu oleh penjara, satu oleh kelumpuhan. Dua-duanya juga sama-sama menyukai pantai. Menjelang akhir kedua film itu, dikisahkan Andy menyukai pantai di daerah Zihuatanejo di Mexico, sementara Ramon menyukai pantai di daerah Boiro, Galicia, di Spanyol. Pantai-pantai yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Sea Inside telah berhasil mendatangkan perenungan yang penting akan hakikat hidup. Sosok Ramon yang selalu tampil begitu santai sebenarnya merupakan gambaran jiwa yang berani. Ia tak tampil seperti, misalnya, William Wallace dalam Braveheart yang selalu bertempik-sorak, namun keyakinannya bahwa hidup adalah sebuah hak yang berharga begitu kuat terpancar dari wajah dan ekspresinya. Itulah yang membuatnya disukai orang-orang, terutama para wanita yang menawarkan diri untuk menemani dia dan mendengarkan apa saja darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita tidak sepakat dengannya bahwa penderitaan yang terlampau berat harus diakhiri dengan kematian sebelum waktunya atau bunuh diri. Namun, Ramon memiliki banyak alasan yang cukup kuat -- logis dan manusiawi, tidak mengada-ada -- untuk melakukannya. Dan itulah yang menjadi cermin bagi kita yang tak lumpuh seperti Ramon saat ini: Berapa banyak alasan yang cukup kuat bagi kita untuk terus bertahan dan melanjutkan hidup ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho&lt;br /&gt;Malang, 30 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Review oleh Feby Indirani bisa dilihat di &lt;a href="http://bukuterbuka.multiply.com/reviews/item/11"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-8086583648366238160?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/8086583648366238160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=8086583648366238160' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8086583648366238160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8086583648366238160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/12/hidup-enggan-mati-enggak-nolak.html' title='Hidup Enggan, Mati Enggak Nolak'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SxULvdt2uBI/AAAAAAAAASE/wkL0ityNrLY/s72-c/sea+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-6698762691646722682</id><published>2009-11-26T14:46:00.009+07:00</published><updated>2009-11-27T16:59:48.869+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Ketika Irman Maju ke Depan</title><content type='html'>Sinta maju ke depan kelas, memainkan pianikanya dengan baik sekali. Lagu Apuse ia selesaikan dengan tuntas. Nilainya seratus. Kemudian ia menyanyi. Lagunya Garuda Pancasila. Suaranya merdu dan bening. Seisi kelas terpana mendengarnya. Kelas yang tadi lemas, kini senyap beberapa kejap -- dibius kemerduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinta telah membuat perbedaan pada ujian praktek Kesenian hari ini. Tepukan tangan terdengar riuh rancak ketika ia selesai menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Sinta maju, ada Ina, Adi, Anton, Abduh dan Yohanes. Permainan pianika mereka ada yang baik, ada yang buruk. Nyanyian mereka ada yang sumbang, ada yang merdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah giliran Irman. Ia berada pada urutan absen ke-11 dari 25 anak, namun memilih diuji terakhir. Ia berkata semalam tak bisa tidur. "Ibuku sakit keras, Bu Trisya," katanya padaku dengan lirih. Ia adalah anak yang telapak tangannya selalu berkeringat ketika berpikir. Ia mudah sekali mengantuk. Ia susah berkonsentrasi untuk sesuatu yang dikerjakannya. Ia pergi ke kantin sendirian setiap istirahat. Ia jarang tersenyum, kecuali padaku -- senyumnya pun tipis sekali. Ia membiarkan ejekan beberapa teman yang suka mengatainya penakut dan banci. Sesekali kulihat matanya merah menahan tangis. Namun demikian, ia tak banyak bicara; tak pernah juga mengadu ketidakadilan yang tampaknya sering mendera jiwanya. Dan kudengar-dengar, ibunya sendirian membesarkan Irman. Pekerjaannya tidak jelas, walau uang sekolahnya tak pernah terlambat dibayar. Kata orang-orang, ibunya bekerja di luar kota. Ia tinggal bersama pembantunya di dekat sekolahku di Sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika nama Irman kupanggil, aku segera mengingat saat sebulan lalu ketika ia maju untuk bernyanyi. Begitu kecil suaranya, namun tak tega aku membentaknya untuk menyaringkan suaranya setelah memintanya berkali-kali agar bernyanyi lebih keras. Ia memandang ke arah langit-langit kelas ketika bernyanyi. Ia menuntaskan lagu Garuda Pancasila tanpa ada satu pun nada sumbang terkeluarkan. Namun, pada waktu itu, ia mendiamkan seluruh kelas dengan cara yang jauh lebih hebat daripada yang dilakukan Sinta barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, aku tak sabar melihatnya memainkan pianika dan bernyanyi. Ketika ia maju, aku melihat beberapa tetes air jatuh dari tangan kanannya yang sedang tidak memegang pianika. Aku tertunduk seketika setelah melihat tetesan-tetesan itu. Betapa ia terlihat seperti orang tua -- lemah, ringkih, dan tanpa daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian memasangkan tangan kirinya pada bagian bawah pianikanya. Dipasangkan peniupnya, lalu hendak ditiupnya pianika itu. Aku memandang bibir dan jarinya bergantian selama beberapa detik, menunggunya meniup pianika itu. Ia melirik sebentar ke arahku, aku mengangguk. Ditiupnya pianika itu, akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kesalahan sama sekali. Sempurna. Seisi kelas bahkan bertepuk tangan demi mendengar nada-nada itu tersuarakan. Sementara di depan kelas, pianika Irman dan lantai di sekitar ia berdiri penuh tetesan keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagian yang kuharapkan menjadi bagian terbaik belum tiba. Aku menunggu Irman memperdengarkan suara merdunya -- dengan lebih lantang -- kali ini. Aku memintanya mengambil nafas beberapa saat sebelum ia bernyanyi. Aku membesarkan hatinya dengan menyatakan suaranya bagus dan merdu. Seisi kelas bahkan kini sabar menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Irman sudah siap mengangkat suara untuk bernyanyi, tiba-tiba, dari jendela kelas aku melihat seseorang yang kukenal datang menuju kelasku. Pembantu Irman yang datang. Dari kejauhan tampak matanya sembab. Ada apa gerangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu Irman ada di rumah sakit, Bu Trisya," katanya kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan kini dia sedang...." Ia tak melanjutkan apa yang hendak dikatakannya. Ia memohon ijin kepadaku agar membawa Irman ke rumah sakit. Irman tiba-tiba menangis. Isakannya pelan, namun air matanya deras mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melepas kepergian keduanya tanpa banyak bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu ujian praktek telah berlalu. Irman tak lagi menjadi muridku. Ia datang di awal semester ini, dan menghilang menjelang akhir semester ini. Ia menghilang begitu cepat -- seperti hawa sejuk yang buru-buru pergi di Sidoarjo ketika pagi beranjak siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya telah menghadap Sang Khalik ketika Irman maju ke depan kelas untuk bernyanyi, atau mungkin sebelum memainkan pianika, atau mungkin juga sebelum ia dipanggil maju ke depan kelas. Seorang pria telah berlaku kejam pada ibunya di malam sebelum Irman diuji bernyanyi dan memainkan pianika. Seorang pria yang jadi pelanggannya. Ibu Irman, yang ternyata bekerja sebagai wanita penghibur di Tretes, sedang tidak sehat, namun memaksa diri tetap bekerja malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir tahun akan segera datang. Ujian akhir semester akan segera digelar. Irman masih menyisakan jejak yang dapat kutelusuri. Aku berharap dapat menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho&lt;br /&gt;Sidoarjo, satu hari setelah Hari Guru 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-6698762691646722682?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/6698762691646722682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=6698762691646722682' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/6698762691646722682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/6698762691646722682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/11/ketika-irman-maju-ke-depan.html' title='Ketika Irman Maju ke Depan'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-8714196295346051019</id><published>2009-11-23T07:54:00.001+07:00</published><updated>2009-11-23T07:56:21.894+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>sidoarjo</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;untuk cak oke, wong krembung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;embun tak hanya menyisakan uap samar,&lt;br /&gt;ketika diambung hangat cahaya mentari di pagi kelam,&lt;br /&gt;di sekuntum atau hanya sekelopak bunga merah muda.&lt;br /&gt;namun di segenap penjuru kota&lt;br /&gt;: jejak mereka berupa kabut putih menggantung di angkasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;uh la la... pemandangan beda, cak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di pagi yang belum jangkep ini,&lt;br /&gt;terasa air di bak mandi lebih hangat&lt;br /&gt;mengena kaki yang telah terhembus angin beberapa menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wajah-wajah sumringah mencari nafkah&lt;br /&gt;bagai lupa pada segala kesah&lt;br /&gt;akibat debu dan panas yang bikin gerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... and i think to myself, what a wonderful world,"&lt;br /&gt;kunyanyikan kali ini; padahal biasanya,&lt;br /&gt;kunyanyikan lagu malaysia itu&lt;br /&gt;: "suci dalam debu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sidoarjo, 23.11.2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;isuk-isuk, sak durunge budal kerjo&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-8714196295346051019?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/8714196295346051019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=8714196295346051019' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8714196295346051019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/8714196295346051019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/11/sidoarjo.html' title='sidoarjo'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-1908165686815784377</id><published>2009-11-19T06:43:00.001+07:00</published><updated>2009-11-19T06:46:11.911+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asmara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Waktu: Sang Penguji Cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SwSHJ7CprNI/AAAAAAAAAR8/R_YmmzxHETQ/s1600/asa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 208px; height: 204px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SwSHJ7CprNI/AAAAAAAAAR8/R_YmmzxHETQ/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405594057288821970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di suatu pulau kecil, Cinta tinggal bersama-sama dengan Kesedihan, Kekayaan, Kebahagiaan dan Kecantikan. Suatu hari ada banjir besar datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan lewat, dan Cinta dibiarkannya dengan alasan perahunya sudah penuh harta benda. Kebahagiaan lewat, juga menaiki sebuah perahu. Namun, teriakan minta tolong Cinta tak didengarnya -- saking bahagianya ia menemukan perahu. Kecantikan kemudian lewat. Tatkala dilihatnya Cinta yang basah kuyup dan kotor, ia tak peduli. Terakhir, lewatlah Kesedihan. Ketika melihat Cinta, ia menyatakan dirinya sedang terlalu sedih atas banjir yang sedang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta sendirian -- tanpa teman. Saat pulau itu hampir tenggelam total, lewatlah sebuah perahu. Cinta dibawanya serta... diselamatkannya. Ternyata, pendayung perahu itu bernama Waktu. Mengapa Cinta diselamatkan Waktu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab, hanya Waktu yang tahu seberapa besar nilai sebuah Cinta," kata seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"L'uomo misura il tempo e il tempo misura l'oumo," kata sebuah pepatah Italia. Manusia mengukur waktu dan waktu mengukur manusia. Demikian pula keberadaan cinta dalam diri seseorang -- hanya waktu yang bisa mengukurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara, dalam dunia yang serba instan seperti sekarang ini, kita semakin gamang menerka sebuah cinta yang asli. Banyak kejahatan dilakukan atas nama cinta. Banyak bukti diminta demi meyakinkan sebuah keberadaan cinta. Tanpa kesetiaan dan komitmen cinta kerap diumbar demi memuaskan nafsu. Namun, pada akhirnya, hanya cinta yang disertai ketulusan yang akan tetap bertahan ketika waktu mengujinya. (~s.n~)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Cinta yang asli tahan uji; sementara yang palsu tak mampu menahan diri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Catatan: Terima kasih untuk Iqbal Dawami yang sudah menghadirkan ilustrasi menarik tentang cinta dan waktu dalam bukunya berjudul Cita-cita. Terima kasih untuk Pak Johannes Sumardianta yang telah menampilkan adagium Italia yang kukutip. Kubuat renungan ini untuk Blessing, dan Wahyu Indah, seorang anggota FPKM (Forum Penulis Kota Malang) yang akan segera mengakhiri masa lajangnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-1908165686815784377?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/1908165686815784377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=1908165686815784377' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/1908165686815784377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/1908165686815784377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/11/waktu-sang-penguji-cinta.html' title='Waktu: Sang Penguji Cinta'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SwSHJ7CprNI/AAAAAAAAAR8/R_YmmzxHETQ/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-3700903660861758255</id><published>2009-11-14T10:36:00.001+07:00</published><updated>2009-11-14T10:38:04.617+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asmara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Petualangan Karena Kenangan Itu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Sv4mA4Zv-uI/AAAAAAAAAR0/JpAnY8kr1Fc/s1600-h/asa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 253px; height: 221px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Sv4mA4Zv-uI/AAAAAAAAAR0/JpAnY8kr1Fc/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403798399473416930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;"Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka." (Pengkhotbah 4:9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang insan sejak kecil membangun kebersamaan hingga salah satu dari mereka meninggal. Di masa-masa mereka hidup bersama setelah menikah, kesahajaan dan kesetiaan mewarnai hari-hari hidup mereka. Namun sayang, mereka tak mempunyai seorang putra. Si pria yang telah tua, suatu hari, karena kesepian yang mengusik hidupnya, akhirnya memutuskan berpetualang dengan cara yang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengikatkan ribuan balon gas pada rumahnya. Rumahnya terangkat dan petualangan ke belahan dunia lain pun bermula. Bekal dan pemantik niat si pria berpetualang adalah sebuah buku diari peninggalan istrinya. Di sana terdapat sebuah gambar air terjun yang sangat ia harapkan untuk dikunjunginya suatu ketika. Harapan yang gagal -- si istri telah meninggal duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, si pria tua berhasil sampai ke air terjun itu. Air terjun yang jauh dari tempat tinggalnya. Sebuah air terjun yang indah. Sebuah air terjun yang berhasil ia capai karena ia tak mau melupakan impian orang yang paling ia kasihi -- yang telah lama menjadi impiannya juga. Walau istrinya telah tiada, ia jelajah dunia untuk menyatakan kasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film kartun berjudul Up ini mengetuk naluri kita untuk senantiasa mengasihi. Kenangan akan orang yang dikasihi, dipadu dengan memori akan kebersamaan dengannya yang membuat kita tahu apa isi hati terdalamnya, ternyata membuat hidup ini amat bermakna. Ya, kebersamaan kita dengan seseorang, yang menyatukan mimpi-mimpi kita dengannya, akan menjadi hal yang paling membentuk kehidupan kita. (~s.n~)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca resensi yang indah dari film Up &lt;a href="http://ariesaptaji.blogspot.com/2009/07/petualangan-itu-bernama-pernikahan.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;a href="http://ariesaptaji.blogspot.com/2009/07/petualangan-itu-bernama-pernikahan.html" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this)," target="_blank" rel="nofollow"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-3700903660861758255?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/3700903660861758255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=3700903660861758255' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/3700903660861758255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/3700903660861758255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/11/petualangan-karena-kenangan-itu.html' title='Petualangan Karena Kenangan Itu'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Sv4mA4Zv-uI/AAAAAAAAAR0/JpAnY8kr1Fc/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-3518636354192998368</id><published>2009-11-12T06:44:00.000+07:00</published><updated>2009-11-12T06:49:17.484+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Yang Diharapkan Ketika Kembali</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SvtNaNe4hwI/AAAAAAAAARs/400jaWzDNV4/s1600-h/asa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 139px; height: 195px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SvtNaNe4hwI/AAAAAAAAARs/400jaWzDNV4/s320/asa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402997290652174082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hampir tiap akhir pekan saya pulang ke Malang sejak dua setengah tahun lalu. Saya bekerja di Sidoarjo, sementara kedua orang tua saya tinggal di Malang. Ada saat-saat yang selalu saya tunggu setiap akhir pekan ketika kembali bertemu dengan keluarga. Saat-saat ketika saya dan orang tua saling bercerita di meja makan tentang kehidupan kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, saat-saat ketika seorang keponakan saya yang masih balita dulu selalu menyambut saya ketika mendengar bunyi pagar rumah dibuka. Dia akan berlari keluar, menyerukan nama saya, lalu minta digendong. Dia senang kalau saya ajak melihati kambing-domba dan beberapa ikan di kolam yang ada di dekat sawah di sekitar perumahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap orang yang baru tiba dari bepergian jauh selalu mengharapkan seseorang menunggunya di stasiun atau bandara. Setiap orang ingin menceritakan kisahnya dan membagi kepedihan hati atau sukacitanya dengan keluarganya, yang menunggunya untuk pulang," kata seorang yang bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu memang benar. Itulah yang membuktikan bahwa manusia tak dapat hidup sendiri. Manusia mengharapkan adanya orang lain ketika ia kembali dari suatu tempat. Ketika kita menutup diri untuk diterima orang lain, sesungguhnya tindakan ini akan mengecilkan arti diri kita yang sesungguhnya. Jurang yang dalam berupa prinsip atau tujuan hidup memang dapat menjadi pemisah sebuah relasi. Namun, kita tetap dapat dikasihi, meskipun kadang orang yang mengasihi kita tak selalu sejalan-sepikiran dengan kita. (~s.n~)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-3518636354192998368?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/3518636354192998368/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=3518636354192998368' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/3518636354192998368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/3518636354192998368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/11/yang-diharapkan-ketika-kembali.html' title='Yang Diharapkan Ketika Kembali'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SvtNaNe4hwI/AAAAAAAAARs/400jaWzDNV4/s72-c/asa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-6744932494803273281</id><published>2009-11-09T20:05:00.005+07:00</published><updated>2009-11-10T06:22:27.198+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Kepahlawanan Maximilian Kolbe</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SvgT6zKIRUI/AAAAAAAAARk/wHy9URxwc6U/s1600-h/KOLBE.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 163px; height: 242px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SvgT6zKIRUI/AAAAAAAAARk/wHy9URxwc6U/s320/KOLBE.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402089653916943682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:13)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;Bila Anda pernah membolak-balik buku sejarah, atau menonton film "Schindler's List", "Life is Beautiful", atau "Anne Frank", Anda mungkin akan tahu bagaimana situasi pada zaman Nazi berkuasa. Serba muram, tanpa harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria yang menganggap dirinya sebagai "Penerus Tugas-tugas Martin Luther yang Belum Selesai" dan menebarkan ajaran bahwa semua orang Yahudi itu perlu dibasmi karena merekalah bangsa yang membunuh Yesus, tampil menguasai dunia. Adolf Hitler namanya. Kamp-kamp konsentrasi dibangun. Kamp-kamp untuk menampung mereka yang suatu saat akan dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juli 1941, seorang tahanan perang menghilang dari Auschwitz, sebuah kamp konsentrasi Nazi bagi orang Yahudi di sebelah selatan Polandia. Para Nazi berang. Jika dalam waktu 24 jam tahanan itu tak ditemukan, 10 orang dari 600 orang di sana akan secara acak dipilih untuk dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu tiba. Seorang mantan serdadu akan turut dibunuh. Francis Gajowniczek namanya. Ketika menerima hukuman itu, Gajowniczek berteriak, "Oh anak-anakku, istriku yang malang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keributan lalu muncul. Seorang pria yang dikenal suka membagi makanannya, ringkih, dan suka membimbing orang lain mengucapkan doa pengakuan dosa tampil ke depan. Ya, dia seorang imam Katolik. Dia berkata, "Saya ingin menggantikan tempat salah satu dari para tahanan ini." Dia menunjuk kepada Gajowniczek. "Yang itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu bernama Maximilian Kolbe. Ia seorang pria yang terbiasa hidup menderita sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maximilian Kolbe dan 9 tahanan itu lalu dibawa ke sel bawah tanah, di sebuah blok. Di sana mereka disiksa dengan tidak diberi makan dan pakaian yang layak. Hingga dua minggu, hanya empat dari sepuluh orang yang bertahan hidup. Dan Pastor Kolbe meninggal terakhir, di hari ke-15, setelah disuntik mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maximilian Kolbe, pria asal Polandia yang ringkih namun cerdas itu telah menggenapkan ajaran Kristus tentang kasih. Seorang pahlawan yang tak berjuang dengan senjata, namun menyerahkan dirinya sebagai pengganti orang lain. Mungkin, beberapa orang menganggap perbuatannya adalah tindakan putus-asa. Tidak. Dia tidak berputus-asa, namun hidup dengan penuh harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia telah menentang Nazi lewat tulisan-tulisannya di Ksatria Immakulata, sebuah majalah yang dipimpinnya, yang telah terbit puluhan ribu eksemplar. Majalah itu merupakan produk dari sebuah gerakan yang dipimpinnya bernama Milisi Maria Immakulata. Gerakan ini lebih banyak memfokuskan perhatian kepada keimanan dan perubahan sosial. Sebuah gerakan yang bagi sebagian rohaniwan Katolik disayangkan untuk dipilih Kolbe, karena bisa saja ia memiliki karir cemerlang -- mengingat ia sudah mendapat gelar doktor filosofi di usia 21 tahun, dan kemudian gelar doktor teologi di usia 22 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak ditangkap oleh Nazi pada tanggal 17 Februari 1941 karena telah dicap sebagai penentang paham Nazi, ia sering mengalami siksaan berat. Bersama 320 tahanan ia dijejalkan dalam sebuah gerbong yang panas ketika ditangkap. Suatu hari ia terantuk dan jatuh ketika sedang memikul kayu. Ia harus dirawat dan hanya mendapat jatah makanan setengah dari biasanya. Jatah setengah itu pun masih sering dibaginya lagi untuk beberapa tahanan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang kepahlawanan, kasih, dan segenap hidupnya, seorang pria lain akhirnya menggelarinya Santo pada tanggal 10 Oktober 1982. Ia digelari "Santo Pelindung dari Abad Kesulitan Kita". Pria yang menggelarinya adalah Paus Yohanes Paulus II, yang semasa hidupnya juga merasakan panggilan Allah ketika Nazi mengobrak-abrik Polandia, negerinya, pada tahun 1939. Dalam sebuah film berjudul "Karol, a Man who Became Pope", diceritakan dengan indah panggilan yang menjamah hati Karol Wojtyla, sehingga ia akhirnya menjadi Paus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekejaman rasialis telah membangkitkan para pahlawan. Sebagian pahlawan bersenjata, namun sebagian tak bersenjata. Yang terakhir berjuang dengan keberanian yang lebih besar -- walau kerap tidak populer dan tampak kurang maskulin. Maximilian Kolbe adalah satu di antaranya. Tentang hidupnya, Paus Yohanes Paulus II berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berjuta-juta orang telah dikorbankan oleh kesombongan dari kekuasaan dan kegilaan dari rasialisme. Tetapi di tengah-tengah kegelapan tersebut bersinarlah tokoh Maximilian Kolbe. Di atas ruang kematian yang besar tersebut melayang-layanglah firman kehidupan-Nya yang ilahi dan kekal: kasih yang penuh penebusan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho, 9 November 2009&lt;br /&gt;Dari beberapa sumber&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-6744932494803273281?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/6744932494803273281/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=6744932494803273281' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/6744932494803273281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/6744932494803273281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/11/kepahlawanan-maximilian-kolbe.html' title='Kepahlawanan Maximilian Kolbe'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SvgT6zKIRUI/AAAAAAAAARk/wHy9URxwc6U/s72-c/KOLBE.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-4165966107660391890</id><published>2009-11-04T10:04:00.004+07:00</published><updated>2009-11-04T10:10:36.662+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Anak'/><title type='text'>Dua Baju untuk Boneka Jessica</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SvDv2ITdjAI/AAAAAAAAARc/M1DV918PWKo/s1600-h/jess.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 163px; height: 217px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SvDv2ITdjAI/AAAAAAAAARc/M1DV918PWKo/s320/jess.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400079666438310914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Pengantar: Cerpen anak ini pertama-tama ditulis untuk Jessica Lestari, keponakanku, saat dia berusia hampir tiga tahun dan mulai lancar bicara. Ke mana-mana Jessica selalu membawa sebuah boneka Teddy warna putih yang ia beri nama Pepeng. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JESSICA ulang tahun! Kini dia berusia tiga tahun! Sebagai hadiah ulang tahunnya, aku memberikan sebuah boneka Teddy Bear yang agak besar. Betapa ia senang dengan pemberian itu. Setiap hari ia tidur sambil memeluk boneka itu. Aku dan ibu senang sekali bila melihatnya tertidur pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu setelah ulang tahunnya, aku, Ibu dan Jessica pergi ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan kami. Ketika kami mampir ke toko pakaian, Jessica memperhatikan sebuah baju kecil untuk bayi yang dipajang di etalase toko itu. Ia tak mengatakan apa-apa. Ibu membelikan Jessica beberapa pakaian baru untuk di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak...," kata Jessica ketika ia mau tidur di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa, Dik?" kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bonekaku kelihatannya kalau malam kedinginan. Kacian ya.... Mau tidak Kakak belikan baju untuknya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh tahulah aku mengapa tadi siang ia memperhatikan baju itu. Aku berpikir sejenak. Ya, anak kecil memang pikirannya kadang-kadang tak bisa ditebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boneka kan benda mati, Jessica. Boneka tidak bisa kedinginan," kataku menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Jessica berkilah. "Manucia caja bica kedinginan, apalagi boneka!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjelaskan juga kepadanya bahwa boneka tak mempunyai nyawa dan perasaan, tapi ia tetap berkilah. Akhirnya, ia tidur juga, walaupun dengan wajah agak merengut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, kotaku, memang dingin, apalagi di awal musim hujan seperti sekarang. Jessica baru saja sembuh dari sakit. Salah satu penyebab sakitnya juga hawa dingin di kota ini. Jessica tampaknya tak ingin bonekanya sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bangun di pagi hari Jessica merengut. Ibu juga telah mengetahui kalau Jessica ingin bonekanya dipasangi baju. Tapi, ibu mengatakan kalau belum sempat pergi ke pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku menjadi guru di sebuah SD swasta. Ayahku kerja di luar kota, seminggu sekali baru pulang ke Malang. Aku sendiri sudah sekolah kelas 5 SD sekarang. Bila kami semua pergi, Jessica diasuh oleh nenekku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti ibu belikan baju yang cocok buat adikmu ya," kata Ibu pagi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benelan? Nanti Jeci tunggu lho...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, pasti ibu belikan. Biar tidak kedinginan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aciiik.... Bonekaku cayang... jangan cakit ya.... Kakak akan celalu melindungimu," kata Jessica kepada boneka itu sambil memeluknya dan membawanya ke mana-mana. Ia selalu menganggap boneka itu adiknya. Aku dan ibu berpandangan sambil tersenyum melihat tingkah Jessica.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ibu kembali ke rumah, ternyata ibu lupa membelikan baju untuk boneka Jessica. Ibu pulang agak terlambat karena rapat. Setelah rapat, ia lupa ke pasar! Jessica menangis tersedu-sedu. Kasihan sekali, dia kecewa. Tapi untunglah ia segera mengantuk, dan kemudian tidur. Sore harinya ibu tak sempat membelikan baju kecil itu untuk Jessica karena arisan. Ibu merasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang, ibu minta maaf ya. Besok pasti ibu belikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benelan? Jangan lupa lagi lho.... Nanti kacian bonekanya nangic."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, pasti ibu belikan, Nak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Jessica tidur dengan riang setelah sebelumnya ia berkata, "Dik, becok kamu gak kedinginan lagi. Malam ini tidul dengan tenang ya...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA pulang sekolah, aku mendapati Jessica sedang memotong-motong kain lap yang ada di dapur seorang diri. Nenek sedang memasak di dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa ini, Dik?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk bikin baju Teddy," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jessica dari tadi mengguntingi lap itu. Tadi nenek sudah mencegahnya, tapi dia selalu melawan," kata Nenek. "Dia takut mamanya lupa lagi; terus nanti malam bonekanya kedinginan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir sejenak. Dan... aku dapat ide!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak dulu punya kain yang tidak terpakai lho. Kainnya berwarna-warni. Ini kan kainnya jelek kalau untuk Teddy. Nanti Teddy kasihan karena bau kainnya enggak sedap."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maca cih? Mana kainnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada di lemari. Yuk kita lihat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Jessica berbinar-binar ketika kain itu kutunjukkan kepadanya. Berwarna biru, merah dan hijau dengan garis-garis oranye. Ada juga gambar hati merah muda bertaburan acak di seluruh kain. Kain itu dulu akan kupakai untuk membuat celana pendek, tapi tidak jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waaah, kita buat baju Teddy pakai kain ini? Wiiih, baguc cekaleee. Yuk kita buat!" katanya penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan kita yang buat, kan ada Pak Sodik yang bisa menjahit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh iya, ya.... Kita ke cana yuk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu aku dan Jessica membawa Teddy dan kain itu ke Pak Sodik, tukang jahit yang tinggal dekat perumahan kami. Kami berdua berjalan kaki. Kugandeng tangan adikku itu dengan sepenuh rasa sayang. Untunglah Pak Sodik cukup sabar sehingga ia mau saja ketika diminta membuatkan baju untuk boneka Jessica.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti malam paling sudah jadi. Datanglah ke sini. Ongkosnya lima ribu saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lalu pulang. Ketika sampai di rumah, ibu juga datang dari sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu... Bu... tadi aku cama kakak menjahit baju untuk adik!" katanya riang menyambut ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh ya? Ini ibu juga membawa sebuah baju kecil untuk adikmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana, Bu?" tanya Jessica tak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ibuku menunjukkan sebuah baju kecil yang berwarna merah muda dan biru. Dan, aku ingat, itulah baju yang dipandangi Jessica ketika beberapa hari lalu kami pergi ke pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohhh, ini kan baju yang aku lihat dulu! Baguc cekaaaleee!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dan aku berpandangan sambil tersenyum. Ah, ternyata ibu juga tahu kalau waktu itu Jessica melihati baju itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telima kacih, Bu! Telima kacih!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, berarti adik kita ini sekarang punya dua baju. Nanti kalau salah satu bajunya kotor harus diganti dengan yang lain. Ingat itu, Jessi?" kata ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jessica tak menjawab apa-apa, hanya mengangguk dengan wajah senang. Ia lalu masuk ke kamar dan berteriak, "Hole!" berulang-ulang. Ia gembira sekali. Ibu dan aku hanya geleng-geleng kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Jessica menyanyikan lagu yang ia karang sendiri: "Betapa cenang hatiku, adikku punya dua baju."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidik Nugroho, Malang, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-4165966107660391890?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/4165966107660391890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=4165966107660391890' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4165966107660391890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4165966107660391890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/11/dua-baju-untuk-boneka-jessica.html' title='Dua Baju untuk Boneka Jessica'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SvDv2ITdjAI/AAAAAAAAARc/M1DV918PWKo/s72-c/jess.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-4197547890333150006</id><published>2009-11-01T23:09:00.016+07:00</published><updated>2009-11-02T06:33:09.656+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Ke Pujon, ke Selorejo</title><content type='html'>&lt;b&gt;Pujon, Kecamatan 1000 Sapi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti perjalananku ke Jembatan Suramadu dua minggu lalu, kali ini aku memang telah membuat rencana jauh-jauh hari sebelum pergi ke Pujon. Awalnya aku berencana ke Pujon dan Coban Rondo, sebuah tempat wisata air terjun, namun urung karena aku ingin sekali melihat sawah-sawah yang ada di Ngantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 10 pagi aku berangkat dari Malang. Perjalanan ke Pujon yang melintasi kota Batu kutempuh sekitar sejam. Jarak Malang-Batu 17 kilometer, sementara Batu-Pujon sekitar 6 kilometer. Sebenarnya bisa lebih cepat dari sejam; ini karena sebelum ke Pujon aku mampir dulu di sebuah warung di Payung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Payung adalah nama kompleks warung tenda permanen yang ada di sepanjang jalan Kota Batu bagian atas hingga mendekati Pujon. Beberapa warung di sini kebanyakan membuat betah pengunjungnya karena dari sini tampak pemandangan Kota Batu. Banyak orang pacaran di sini kalau malam Minggu. Di warung ini aku menggunakan kekerku melihat motor dan mobil yang berjalan dari Batu menuju Pujon yang berliuk-liuk dan mendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pemandangan yang menarik ketika aku berada di Payung: Beberapa pria muda sepertiku mengendarai sepeda gunung di sepanjang jalan di Payung. Gear yang memutar rantai sepeda mereka disetel pada yang paling kecil, untuk memudahkan genjotan-genjotan mereka. Aku salut pada semangat dan kekuatan mereka. Mengingatkanku pada Forrest Gump yang suka lari-lari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama satu jam berikutnya aku berkeliling di wilayah Pujon. Pujon adalah sebuah kecamatan yang 75% penduduknya bermatapencarian sebagai peternak sapi perah. Selain peternakan, Pujon juga sebuah daerah pertanian. Banyak orang menanam kopi di Pujon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su2zYzLWWVI/AAAAAAAAAQk/ujDV5XrO70Q/s1600-h/pujon+2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 283px; height: 212px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su2zYzLWWVI/AAAAAAAAAQk/ujDV5XrO70Q/s320/pujon+2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399168766923135314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika hendak mengunjungi kantor pusat koperasi susu, aku dikabari kalau para karyawan dan pimpinannya sedang ada acara syukuran pada hari ini. Aku akhirnya berbincang-bincang dengan Pak Bambang, satpam yang menjaga sebuah kantor unit (cabang) koperasi susu di Pujon. Selain satpam, dia juga seorang peternak sapi perah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bambang bercerita kalau dalam sehari bisa didapatkan 100 ton susu perah dari seluruh penduduk Pujon yang dijual ke koperasi. Koperasi kemudian menjual susu itu ke Nestle. Penduduk menyetor susu dua kali sehari: jam 6 pagi dan jam 4 sore. Seekor sapi perah yang sehat dapat menghasilkan 15 liter susu sehari, sementara harga susu per liter yang dibeli koperasi adalah Rp.3000,oo. Namun, keuntungan sekitar Rp.45.000,oo per hari untuk seekor sapi itu belum dipotong biaya perawatan dan makanan sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bulan-bulan tertentu (biasanya di awal tahun) juga ada musim perah. Pada saat ini produksi susu biasanya meningkat agak drastis. Selain musim ini, para peternak mendapatkan perahan yang cukup banyak ketika sapi yang mereka miliki baru melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su2zjslbOzI/AAAAAAAAAQs/ts1ZdPWMw7c/s1600-h/pujon+1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 203px; height: 157px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su2zjslbOzI/AAAAAAAAAQs/ts1ZdPWMw7c/s320/pujon+1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399168954132020018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Begitulah cerita-cerita tentang susu dan sapi dari Pak Bambang, seorang satpam yang tampak bijak, ramah dan senang bicara. Pak Bambang kemudian memberitahuku kalau tak jauh dari kantornya ada sebuah kandang besar yang dihuni banyak sapi. Kandang itu milik koperasi. Namun aku tak berhasil melihat kandang itu karena dikunci. Orang-orang yang menjaga kandang itu turut diundang acara syukuran yang diadakan koperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutancap gas sepeda motorku menuju Ngantang, yang berjarak sekitar 14 kilometer dari Pujon. Ya, di Ngantang-lah Waduk Selorejo itu berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Selorejo, Waduk di Lahan yang Subur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai setengah jam dari Pujon, aku sampai di Ngantang. Sama seperti di Pujon, udara di sini terasa sejuk. Aku tak langsung menuju ke Selorejo, namun berkendara satu kilometer lebih jauh, menuju sebuah warung persinggahan di Desa Sidorejo yang berpemandangan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di warung persinggahan ini aku ngopi sejenak. Aku ngopi di Warung Bu Renggo. Dari warung-warung persinggahan di sini, kita dapat melihat hampir seluruh bagian Waduk Selorejo dan lahan pertanian yang sangat luas. Hijau dan subur. Lahan pertanian ini, hampir seluruhnya ditanami padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su2zvBpMQZI/AAAAAAAAAQ0/2GN93xELTBo/s1600-h/selorejo+5.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 297px; height: 194px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su2zvBpMQZI/AAAAAAAAAQ0/2GN93xELTBo/s320/selorejo+5.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399169148763521426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Waduk Selorejo terbagi menjadi dua bagian besar. Keduanya tapi tetap menyatu dengan adanya sebuah bagian waduk mirip sungai. Waduk ini dibangun pada tahun 1963, dengan memanfaatkan sumber air dan sungai-sungai lebar yang mengalir di wilayah Pujon dan Ngantang. Sungai-sungai lebar itu oleh penduduk setempat dinamai "konto". Tujuh tahun kemudian, pada tahun 1970, bendungan yang menghadang aliran air dari sebuah konto terbesar jadi. Perlu waktu dua bulan untuk mengairi wilayah Waduk Selorejo di seberang bendungan agar tertutup air. Waduk ini memiliki luas sekitar 640 hektar. Di musim kemarau, luas itu dapat berkurang karena air menguap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat tidur hampir sejam di warung Bu Renggo. Di sana ada tikar lesehan disediakan. Padahal habis ngopi, kok ngantuk ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bangun tidur, aku memutar arah, menuju ke Waduk Selorejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su21R6sXlsI/AAAAAAAAARU/2zGudww_sSw/s1600-h/selorejo+1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 279px; height: 209px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su21R6sXlsI/AAAAAAAAARU/2zGudww_sSw/s320/selorejo+1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399170847704848066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Waduk Selorejo tampak agak sepi Sabtu ini. Kali ini, yang lebih banyak berkunjung adalah bapak-ibu dari beberapa rombongan yang tidak aku kenal. Bapak-ibu ini tampak senang, terutama mereka yang habis berkeliling waduk naik perahu motor. Bila menggunakan perahu dayung, daya tampung maksimalnya tiga sampai empat orang. Perahu motor bisa menampung selusinan orang. Namun, selain bapak-ibu itu, dalam kunjunganku beberapa kali ke sini, selalu ada saja para muda-mudi yang pacaran -- ya, kali ini pun ada. Aku mengeker mereka yang lagi asyik pacaran. Kelihatannya mesra sekali, pacaran di pinggir waduk. Asyik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang juga mengasyikkan adalah ketenangan dan keheningan air di waduk ini. Nyaris tak ada gelombang di sini, kecuali bila sebuah perahu motor lewat. Aku sempat mengarang beberapa baris puisi untuk mengenang keheningan ini, namun puisi itu rasanya kurang kuat. Kutinggalkan saja akhirnya. Kurang asyik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su2z-CkMk6I/AAAAAAAAAQ8/l5XyKuEppbY/s1600-h/selorejo+4.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su2z-CkMk6I/AAAAAAAAAQ8/l5XyKuEppbY/s320/selorejo+4.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399169406709044130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di sekitar waduk ini banyak orang berjualan ikan bakar dan goreng. Ikan-ikan ini sebagian besar didapat dari memancing di Waduk Selorejo. Di waduk ini tersedia ikan nila, mujaer, tombro, wader, dan udang yang kecil-kecil. Dalam sehari bisa didapatkan 5 kuintal ikan dari Waduk Selorejo. Para nelayan di sini menangkap ikan menggunakan jaring yang lebar dan perahu dayung. "Ikan-ikan di sini tak pernah habis," kata seorang bapak yang berjualan minuman dan topi. "Orang-orang di pasar Ngantang kadang sampai nolak-nolak kalau ditawari ikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hari masih siang, akhirnya aku tidur lagi di Waduk Selorejo. Aku mencari lokasi tidur di sebuah tempat yang agak sepi, di dekat cottage-cottage, di bagian timur lokasi wisata, dengan tujuan agar nantinya dapat mengambil gambar yang mantap kala mentari turun di barat. Cottage, atau rumah menginap di pinggir waduk ini, tampak anggun. Harga sewanya berkisar antara 400 ribu sampai 750 ribu per hari-malam. Perjalanan menuju ke sana melewati sebuah jembatan gantung yang cukup panjang, sekitar 50-60 meter. Jembatan gantung itu, bila dilewati, akan bergoyang-goyang. Ketika aku melintasinya, ada beberapa cewek yang juga lewat. Mereka teriak-teriak. "Wah, ndeso tenan," canda batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su20MY8-rjI/AAAAAAAAARE/0abPLWqPyyc/s1600-h/selorejo+3.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su20MY8-rjI/AAAAAAAAARE/0abPLWqPyyc/s320/selorejo+3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399169653236739634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari hampir sore ketika aku terbangun. Sayang, cuaca mendung. Aku hanya berhasil membuat beberapa gambar yang bagus. Hujan bahkan sempat turun sebelum waktu salat azhar. Ketika senja hampir usai, beberapa nelayan datang dengan perahu dayung mereka di sekitar tempat aku tadi berbaring dan tidur. Para nelayan inilah yang paling sering kukeker. Mereka tampak sabar sekali mencari ikan. Bersamaan dengan kedatangan para nelayan, hujan pun datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah hujan tidak lama mengguyur wilayah Ngantang. Hanya setengah jam. Saat hujan turun aku sempat kesal karena tak mendapatkan beberapa foto yang bagus. Padahal aku sudah menunggu momen itu. Ya, ini karena kameraku kamera lama. Foto bisa jadi bagus, kalau cuaca pun bagus. Tapi, tak apalah. Aku tetap bersyukur dengan apa yang kudapatkan pada perjalanan kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su21Fx7hKcI/AAAAAAAAARM/0hHPqLf4ggA/s1600-h/selorejo+2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 281px; height: 211px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su21Fx7hKcI/AAAAAAAAARM/0hHPqLf4ggA/s320/selorejo+2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399170639194040770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebelum pulang ke Malang, aku mampir lagi ke warung persinggahan di Sidorejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hawa masih dingin, aku memesan segelas kopi lagi. Kali ini, aku tak lagi mengambil foto, hanya memandangi Waduk Selorejo dan sawah-sawah hijau yang perlahan-lahan gelap. Hanya beberapa lampu menyala, karena hanya sedikit rumah di sekitar Waduk Selorejo. Aku menikmati kopiku santai-santai hingga akhirnya kekelaman menjalari segenap angkasa yang terbentang di depan sepasang mataku -- kali ini tanpa keker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sidik Nugroho&lt;br /&gt;Selorejo-Malang-Sidoarjo, 31 Oktober-1 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;Catatan: Foto bisa di-klik untuk melihat gambar dengan lebih lega. Enjoy!&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-4197547890333150006?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/4197547890333150006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=4197547890333150006' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4197547890333150006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/4197547890333150006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/11/ke-pujon-ke-selorejo.html' title='Ke Pujon, ke Selorejo'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Su2zYzLWWVI/AAAAAAAAAQk/ujDV5XrO70Q/s72-c/pujon+2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-5635717888068397315</id><published>2009-10-30T06:33:00.002+07:00</published><updated>2009-10-30T06:35:32.653+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wirausaha'/><title type='text'>Panduan Lengkap Memulai Bisnis Laundry</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SuomoRJxqPI/AAAAAAAAAQc/CO6RVZ8valQ/s1600-h/as.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 151px; height: 222px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SuomoRJxqPI/AAAAAAAAAQc/CO6RVZ8valQ/s320/as.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398169576597989618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku: Sukses Wirausaha Laundry di Rumah&lt;br /&gt;Penulis: Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tebal: xi + 138 halaman&lt;br /&gt;Cetakan pertama, September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Oktober 2009 ditandai dengan maraknya pemberitaan seputar penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) seantero Nusantara. Tak ayal, pemberitaan ini memancing ratusan ribu, bahkan jutaan orang, untuk berlomba-lomba mengejar status CPNS. Sebuah pola hidup yang bagi kebanyakan orang aman -- bahkan identik nyaman -- melekat pada status ini. Namun, berapa banyak orang yang nantinya gagal dalam ujian itu? Kita semua tahu: sangat banyak. Persaingan begitu ketat; sebuah posisi atau kebutuhan jabatan bisa diperebutkan oleh ratusan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tiap orang sebenarnya diberi daya-kreatif agar mampu menghasilkan sesuatu. Dengan imajinasi, kreatifitas, dan kompetensi-kompetensi lainnya, setiap orang dapat berdaya-guna dan berhasil-guna menghidupi hidupnya. Tentunya, hal ini didukung pula dengan rangkaian sumber-daya yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang diuraikan dengan gamblang di bagian awal buku karya Haryo Bagus Handoko ini (dalam bab 1). Buku ini menyingkap dengan jitu di bagian awalnya: bahwa sebuah bisnis -- yang dulu tampaknya dimiliki segelintir orang berduit -- dapat dilakukan dengan manajemen sederhana dan modal kecil. Ya, bisnis laundry kini bertebaran di mana-mana. Semua orang, dengan modal yang tak terlalu besar, dapat memulai bisnis ini, dan berpeluang menemukan suatu kesuksesan finansial dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko adalah penulis telaten. Ia adalah pencatat yang detil sekaligus fotografer yang andal. Dalam bukunya ini ia tak hanya bicara serangkaian kiat atau suntikan motivasi yang penuh buih. Bahasanya lugas, pun deskripsi dan pembahasannya senantiasa menuju poin-poin yang memang patut diberi perhatian oleh sidang pembaca. Ia dengan lihai dan wajar menyampaikan hal-hal yang memang perlu dilakukan dalam mengemas sebuah paket usaha bernama laundry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini dibagi menjadi sembilan bab. Setelah bab pertama yang mencelikkan sidang pembaca tentang kemungkinan besar peraihan sukses dari bisnis ini, Haryo kemudian mengurai dengan apik bagaimana dan apa saja persiapan yang perlu dilakukan dalam memulai sebuah usaha laundry; pengelolaan usaha ini; dan kemudian detil pengoperasian usaha ini. Hingga di sini, bahasan yang disampaikan Haryo berbaur dengan beberapa motivasi yang kerap tersirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dua bagian berikutnya, Haryo mulai membahas hal yang bersifat teknis dan operasional. Ini berkaitan dengan bagaimana kita menangani bermacam noda yang ada pada sebuah pakaian -- atau produk selain pakaian yang dapat ditangani dengan usaha laundry. Kemudian, dengan gamblang pula ia menguraikan bentuk dan pola administrasi (pembukuan) yang bisa dilakukan dalam usaha laundry. Di dua poin inilah tampak benar kelebihan buku ini: penjabarannya tak hanya motivatif nan inspiratif, namun memuat beragam deskripsi yang perlu dan vital. Haryo bahkan menuliskan beberapa software yang dapat diunduh dari internet untuk kepentingan administratif perusahaan laundry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berhenti sampai di situ, Haryo menambahkan beberapa bahasan seputar upaya-upaya memperbesar usaha. Dengan teliti dan amat deskriptif ia menguraikan apa saja yang dapat pembaca lakukan agar bisnis ini dapat berkembang dan meluas wilayah pemasarannya. Dan demi menguatkan pembahasannya, Haryo mengusung beberapa kisah inspiratif tentang beberapa wirausahawan laundry yang dapat ditelusuri jejaknya. Kisah-kisah ini tertutur jujur -- mereka yang dikisahkan semuanya memiliki alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian akhir, Haryo menutup bukunya dengan melampirkan analisis usaha yang akan jadi panutan utama bagi para pemula bisnis ini. Dengan lugas ia menyampaikan tentang peran modal, biaya operasional, payback period (waktu pengembalian modal), hingga penghitungan rugi-laba. Semua ini merupakan rangkaian langkah taktis sekaligus teknis bagi pembaca yang memang berniat menekuni bidang usaha ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini terhitung lengkap sebagai sebuah acuan bagi para usahawan yang tertarik menekuni bisnis laundry. Bahkan, buku ini tampak seperti sebuah buku teks. Kita dapat saja membacanya dari awal sampai akhir seperti membaca novel; namun mengingat bentuk pembahasannya yang memuat beraneka poin taktis dan teknis, tak dapat dielakkan: buku ini perlu dibuka lagi -- dan lagi -- oleh para pebisnis laundry yang mengharapkan kemajuan dan perkembangan usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang menjadi kelemahan buku ini adalah desain dan lay-out-nya. Gambar di sampul depan buku ini tampak kurang ceria dan kurang menarik. Terlalu minimalis: hanya memuat empat baris judul, gambar setumpuk pakaian di dalam sebuah keranjang, dan nama penulis. Selain itu, foto-foto yang ada di halaman-halaman buku ini, beberapa di antaranya tampil kurang maksimal karena pengecilan yang agak berlebihan. Seharusnya, foto-foto di dalam buku ini bisa menjadi ilustrasi yang lebih hidup bila ditampilkan lebih proporsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kelemahan itu, buku ini sangat patut dikoleksi oleh para wirausahawan muda. Bisnis laundry, dalam pembahasan yang ada di buku ini, tampak menjanjikan prospek bagus. Seperti yang telah disampaikan di bagian depan tulisan ini, banyak orang mungkin akan pupus harapan ketika tidak lolos CPNS -- atau tidak diterima setelah melamar kerja di sebuah perusahaan impian. Tak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru. Tak ada salahnya pula mencoba usaha laundry. Ya, karena buku petunjuknya kini sudah tersedia bagi Anda semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, Kamis Kliwon (ngeri nggak!?), 29 Oktober 2009, 21.00-22.30&lt;br /&gt;Sidik Nugroho (Pria yang belum punya modal -- padahal pengen -- bikin bisnis laundry.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-5635717888068397315?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/5635717888068397315/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=5635717888068397315' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5635717888068397315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5635717888068397315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/10/panduan-lengkap-memulai-bisnis-laundry.html' title='Panduan Lengkap Memulai Bisnis Laundry'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SuomoRJxqPI/AAAAAAAAAQc/CO6RVZ8valQ/s72-c/as.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-7063916712008395561</id><published>2009-10-26T23:05:00.002+07:00</published><updated>2009-10-26T23:08:28.775+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Terserah pada Allah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SuXJAdzrAeI/AAAAAAAAAQU/3_wSOZWQtHE/s1600-h/alkemis.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 170px; height: 250px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SuXJAdzrAeI/AAAAAAAAAQU/3_wSOZWQtHE/s320/alkemis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396940738311946722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;"... aku melupakan apa yang ada di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapanku." (Filipi 3:13)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perikop: Filipi 3:1b-16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulo Coelho, dalam bukunya Sang Alkemis, menyingkap dengan cara yang indah bagaimana seorang pengelana mewujudkan takdirnya. Pengelana ini dikisahkan melintasi padang gurun untuk mencari harta karun yang ia lihat dalam mimpinya. Harta karun itu, dalam mimpinya berada di bawah piramida-piramida di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai Mesir ia harus melintasi sebuah gurun luas yang penuh tantangan. Di awal perjalanannya melintasi gurun, si pemandu unta yang memimpin rombongan berkata, "Begitu kau menginjakkan kaki di padang pasir, kau tak bisa mundur lagi. Dan kalau kau tak bisa mundur lagi, kau hanya perlu memikirkan cara terbaik untuk maju terus. Selebihnya terserah pada Allah, termasuk bahaya yang mengintai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau kita belum pernah menempuh sebuah tantangan untuk mewujudkan apa yang kita yakini sebagai tujuan kita, kata-kata si pemandu unta rasanya tak berkekuatan. Namun, bagi Anda yang telah berkali-kali gagal dalam mewujudkan sebuah impian namun tetap berjuang, kata-kata itu rasanya amat bermakna. Hidup ini tak indah kalau kita tak pernah bertemu dengan kegagalan, jalan buntu atau penderitaan. Rasanya seperti menonton film atau membaca cerita tanpa konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kini bagi Anda yang yakin akan tujuan Anda dan tak hendak mengubahnya, mari maju terus! Tuhan lebih suka kita berani melangkah walaupun salah, daripada menunggu terlalu lama dan tak berbuat apa-apa. Dan Tuhan pun akan menyingkap jalan yang harus ditempuh, selama kita memperjuangkan sesuatu dengan hati dan niat yang tulus. (sn)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-7063916712008395561?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/7063916712008395561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=7063916712008395561' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/7063916712008395561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/7063916712008395561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/10/terserah-pada-allah.html' title='Terserah pada Allah'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SuXJAdzrAeI/AAAAAAAAAQU/3_wSOZWQtHE/s72-c/alkemis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-5100389046094365514</id><published>2009-10-24T08:11:00.002+07:00</published><updated>2009-10-28T21:37:54.005+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Catatan Kepala Tiga</title><content type='html'>"Tiga puluh tahun yang lalu, Mamah sangat kesakitan ketika melahirkan kamu. Tapi Tuhan selalu menjagamu, melindungimu, dan memberkatimu. Sukses ya anakku, dalam segala hal di hidupmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sms dari ibuku yang kupanggil Mamah pagi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh tahun lalu ibuku melahirkan aku dengan sangat menderita. Aku tidak lahir selama tiga hari di rumah sakit; padahal selama tiga hari itu, ibuku telah kesakitan. Aku akhirnya lahir dengan bantuan sedot. Dulu, dokter kuatir kalau bayi yang lahir disedot bisa mengalami gangguan otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, aku tidak demikian. Aku sehat-sehat saja sekarang. Aku baik-baik saja hingga kini. Puji Tuhan. Kalau pun ada orang yang menganggap otakku kurang waras, kupastikan dia sedang sakit hati padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih, Tuhan, kau telah membawaku masuk dan mengenal dunia. Kubalas sms ibuku: "Terima kasih, Mah. Doa dan restu ibu sepanjang jalan, hidup indah tak terkatakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, hingga tadi malam, aku lupa kalau hari ini aku ultah. Dengan beberapa teman, semalam aku karaoke-an di sebuah tempat karaoke. Pulang dari tempat karaoke, seorang teman mampir ke tempat kosku. Setelah dia pulang, dan ketika aku merenung seorang diri di depan kos sambil menyaksikan lampu merkuri di depan kos -- aku baru sadar: besok (hari ini) aku sudah kepala tiga. Ya, usiaku genap tiga puluh kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, tak ada yang istimewa dengan sebuah ulang tahun. Aku lebih memilih orang tidak tahu kapan ulang tahunku. Sebabnya aku terhitung jarang mengikuti atau mengadakan acara-acara ulang tahun. Paling-paling, di keluargaku, kalau ada yang ulang tahun, kami doa bersama; atau membuat beberapa nasi bungkus untuk dibagikan ke gelandangan di Pasar Besar Kota Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kali ini aku sudah kepala tiga. Momen ini -- kalau dipikir-pikir -- rasanya penting juga bagi hidupku. Penting, sehingga pagi ini aku mengambil sedikit waktu untuk merefleksikan apa saja yang harus kuperbuat untuk masa depanku selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa menuliskan dengan detil apa yang kuharapkan terjadi di masa depanku. Namun, bertolak dari apa yang kualami di masa kini, tampaknya aku akan tetap menggeluti dunia pendidikan dan penulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pendidikan. Mendidik seorang anak begitu berat, bagiku. Tugas seorang guru beda dengan dosen. Dosen lebih banyak mengajar, guru lebih banyak mendidik. Dalam mendidik anak, begitu banyak suka-duka yang telah kujalani selama ini. Ada anak yang hampir di tiap pagi minta digendong kalau bertemu denganku; ada juga anak yang kelakuannya selalu bikin aku kesal karena tak pernah mau taat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bikin aku bertahan dalam mendidik adalah pengenanganku akan beberapa guru dalam hidupku di masa lalu. Guru-guru yang telah mengubah jalan hidupku. Tanpa mereka, aku tak akan pernah menjadi seperti yang sekarang. Dan mungkin, aku juga ditentukan seperti beberapa guruku di masa lalu itu -- bagi anak-anak yang sekarang harus kudidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang dunia kepenulisan, hanya satu alasan yang membuat aku bertahan: aku tak bisa tak menulis. Sebagai seorang muda yang sangat rindu bisa beraktualisasi, aku seperti penulis-penulis muda lainnya: rajin berkarya, rajin pula berusaha mempublikasikan karya-karyaku. Sejauh ini aku telah menulis sebuah buku yang sudah terbit dan beberapa renungan yang terbit bulanan. Ada pula beberapa tulisanku yang nyangkut di koran dan majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang belum terpublikasikan masih banyak. Ada dua buah novel, tiga buah novelet, puluhan cerpen, puluhan artikel/opini, puluhan resensi, bahkan ratusan puisi yang hampir semuanya pernah ditolak untuk diterbitkan oleh penerbit buku, koran, atau majalah. Semua ini dapat membuatku menemukan puluhan alasan mengapa aku harus berhenti menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, aku tetap bertahan pada alasan "aku tak bisa tak menulis" ketika merenungi lagi bahwa kegagalan publikasi yang kubuat semata-mata hanyalah kepanjangan dari dua hal: itu semua adalah ujian dan pembelajaran. Aku diuji untuk sabar; aku membelajari diri untuk berkarya lebih baik, juga membelajari diri untuk menemukan cara lain dalam mempublikasikan karya-karyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ulang tahun! Haha, aku sudah kepala tiga. Orang bilang aku harus segera cari pacar. Cari istri tepatnya. Aku sepakat, walau kadang kurang bersemangat menjalaninya. Ya, pe-er ini memang harus kuanggap penting, kalau aku tak mau melakukan apa yang dulu pernah ingin kulakukan: menjadi biarawan. Ya, selama beberapa tahun, aku sempat juga ingin jadi biarawan -- mereka kelihatan keren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, yang terakhir, entah belum atau sudah mendapat istri, sepuluh, dua puluh, bahkan beberapa puluh tahun dari sekarang, tampaknya aku akan tetap menjadi seorang guru dan penulis -- di mana pun aku berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enjoying life, loving peace, and rock and roll -- always!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 24 Oktober 2009, 06.30-07.15&lt;br /&gt;Sidik Nugroho&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-5100389046094365514?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/5100389046094365514/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=5100389046094365514' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5100389046094365514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/5100389046094365514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/10/catatan-kepala-tiga.html' title='Catatan Kepala Tiga'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-6864479255329003760</id><published>2009-10-21T16:05:00.001+07:00</published><updated>2009-10-21T16:08:44.773+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Dua Renungan tentang Bapak</title><content type='html'>Di hari ultah bapakku ke-59, kuposting dua renungan ini. Mengenang kasih dan pengabdiannya, serasa dua renungan ini masih tak sebanding. Renungan ini, satu tentang bapakku, satunya lagi tentang bapak orang lain. Hiduplah pengabdian dan semangat para bapak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menggarap Ketikan Bapak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, waktu kuliah saya sering diminta ayah saya untuk mengetik beberapa data. Waktu itu saya ingat, tidak banyak mata kuliah yang saya ambil, sehingga saya masih memiliki beberapa waktu luang. Data-data itu sebagian besar merupakan luas, lokasi, atau pembagian tanah yang dimiliki oleh orang-orang di beberapa kecamatan di Blitar. Saat itu ayah saya bekerja di Badan Pertanahan Nasional di Blitar, dan sering bertugas melakukan pengukuran tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata kepada saya, "Sebenarnya semua ketikan ini bisa saja dikerjakan oleh staf bapak di kantor. Tapi bapak menugaskanmu supaya uang yang bapak berikan untuk mengupah staf itu, bapak berikan buatmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula saya sempat berpikir bapak saya pelit -- memberi uang setelah saya melakukan sesuatu dulu. Saya pernah menjalani tugas itu dengan gerutuan. Ketikan-ketikan itu bukan naskah biasa seperti mengarang cerita. Banyak data, angka, nama orang, dan desa yang tidak boleh diketik salah. Bahkan, sempat suatu ketika saya hampir tak mau lagi mengetik. Namun, seiring berjalannya waktu saya sadar, bapak saya telah melakukan suatu cara yang sangat benar dalam mendidikkan sebuah prinsip yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip itu berkaitan dengan dua hal. Pertama, saya sudah semakin dewasa -- sudah harus tahu bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini. Kedua, saya diajarinya untuk bekerja profesional -- ketikan harus tergarap sesempurna mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kini, saya tidak pernah melupakan saat-saat itu. Saat-saat menyenangkan ketika saya dapat membeli sesuatu dari hasil kerja keras sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menyukakan Bapak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak bebal adalah bencana bagi ayahnya..." (Amsal 19:13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria berusia hampir kepala empat turun dari sepeda motor, mengangkat sebuah kardus yang berisi beberapa mi instan, aneka kopi-susu instan, gula, dan beberapa bungkus rokok. Hari sudah siang, matahari bersinar terik sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah warung kopi saya berada siang itu. Saya menyaksikan pria itu -- yang adalah anak dari pemilik warung kopi itu -- dengan kagum dan desah panjang. Perasaan saya lebih tersentuh ketika ayahnya berbisik kepada saya, "Kadang aku kasihan melihat anakku itu. Dia hanya dapat waktu istirahat sebentar, tapi selalu membantuku kulakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama saya mengenal Mbah No, pemilik warung kopi itu. Usianya sudah 64, ke mana-mana masih pakai sepeda genjot. Syukurlah, anaknya itu begitu pengertian dengan teratur membantunya. Saya berkata dengan bahasa Jawa halus, "Kau berhasil, Mbah. Kau berhasil mendidiknya." Mbah No menatap saya dengan mata merah ketika saya mengucapkannya. Ia lalu mengangguk-angguk kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Mbah No yang sudah bekerja dan berkeluarga, di dalam kesibukannya tetap masih mau membantu bapaknya. Dari bapak dan anak ini saya merenung dalam-dalam kasih-sayang yang terbina antara bapak dan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indah bila memiliki anak-anak yang pengertian kepada bapaknya. Anak yang tahu apa yang bapaknya perlukan, dan dengan kerelaannya menyukakan hati bapaknya. Mungkin kita, para pembaca, bukanlah anak-anak yang demikian. Kalau benar adanya, mari kita berbenah: yuk menjadi anak yang menyukakan hati bapak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sidik Nugroho, Oktober 2009&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-6864479255329003760?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/6864479255329003760/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=6864479255329003760' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/6864479255329003760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/6864479255329003760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/10/dua-renungan-tentang-bapak.html' title='Dua Renungan tentang Bapak'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-6111473679987667135</id><published>2009-10-18T19:52:00.014+07:00</published><updated>2009-10-19T11:08:35.827+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Suramadu, W.R. Supratman, dan Refleksi Romantika dan Imajinasi</title><content type='html'>Sabtu siang, 17 Oktober 2009, setelah lelah menggarap dua buah naskah seharian, aku akhirnya tertidur. Paginya, sebenarnya ada rencana pulang ke Malang, namun karena banyaknya tugas yang harus kukerjakan di Sidoarjo, rencana itu urung. Jam tiga sore, ketika bangun, aku merasa harus pergi ke suatu tempat. Aku ingin pergi sendirian -- mencari inspirasi. Aku tidak tahu mau ke mana. Namun, di dalam tas kecil yang kucangklong, kubawa kamera digitalku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukendarai terus motorku, sampai akhirnya terlintas pikiran itu: Suramadu! Ya, ke jembatan Suramadu, ke Madura. Kelihatannya asyik juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Surabaya-Madura P.P.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghubungi temanku yang punya rumah dan keluarga di Madura. Ah, dia lagi sibuk mau malam mingguan di Surabaya ternyata. Padahal aku ingin sekali menjelajah Madura, terutama melihat orang-orang yang tidur pakai alas pasir itu. Salahku memang, mendadak mengabarinya. Keinginan itu batal. Aku memutuskan jalan terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Kenjeran yang kulalui sebelum jembatan Suramadu ramai sekali. Setelah membayar karcis tol 3000 rupiah, aku takjub melihat panjangnya jembatan itu. Panjaaang sekali. Jembatan tol itu dibagi dua bagian. Bagian timur untuk pelintas dari Madura; bagian selatan untuk pelintas dari Surabaya. Masing-masing bagian jalan dibagi lagi: para pengendara sepeda motor diberi bagian khusus di bagian tepi. Ketika melintas di atasnya, angin cukup kuat menerpa badanku. Di sebelah kiri dan kananku membentang Selat Madura yang kali ini berlangit muram. Cuaca tidak sedang mendung, namun awan putih pekat menggantung di sebelah barat dan timur jembatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/StsQT8K9xdI/AAAAAAAAAP8/xV3xs_aPn7c/s1600-h/4.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393922913461978578" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 240px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/StsQT8K9xdI/AAAAAAAAAP8/xV3xs_aPn7c/s320/4.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sampailah aku pada gundukan tertinggi di jembatan itu. Di gundukan itu ada tiang-tiang tinggi yang dibangun. Tiang-tiang itu tampak gagah dan dari jauh kelihatan bagai menara. Ketika melintasinya, banyak orang yang melambatkan laju sepeda motornya, mengamat-amati panorama dan keadaan sekeliling. Di bagian inilah banyak orang yang menghentikan kendaraannya barang sesaat untuk berfoto-ria. Termasuk aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madura akhirnya sampai. Tanah di sana tampak gersang. Lahan berpasir putih kecokelatan di sepanjang tepi jalan menuju Bangkalan (kota yang berada sekitar tujuh kilometer dari ujung pulau), dipenuhi banyak tenda temporer yang menyediakan beraneka jualan. Aku mampir beli pulsa. Kukabari beberapa teman aku ada di Madura. Mereka kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui jembatan ini, sambil minum es di sebuah warung, aku jadi teringat pada jembatan-jembatan bernama hubungan yang pernah kubangun di masa lalu. Tak jarang beberapa hubungan itu kandas karena sulit sekali menyatukan berbagai perbedaan, walau ada pula jembatan berupa hubungan persahabatan yang hingga kini kujalani dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula jembatan yang pernah kubangun dengan begitu indah. Di sepanjang tepi jembatan kupasang lampu merkuri dan lampu hias penuh warna. Sebuah jembatan bernama romantika yang sayangnya harus terputus akibat berbagai tantangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jembatan Suramadu yang menyatukan dua pulau telah dibangun dengan biaya besar, perencanaan besar, dan pemikiran-pemikiran besar. Ketika mengaitkannya dengan hidupku, sambil mengingat dan merenungkan apa yang dikatakan teman, keluarga dan sahabat-sahabatku, aku merasa masih tertinggal jauh. Aku masih belum banyak berdaya-juang dan berpengorbanan untuk membangun sebuah jembatan yang kokoh: Jembatan dengan bahan dasar kasih-sayang, komitmen, dan dedikasi yang tulus untuk seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggu senja tiba di Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/StsQsQczHrI/AAAAAAAAAQE/N7GRyq1MzPc/s1600-h/3.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393923331222347442" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 222px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/StsQsQczHrI/AAAAAAAAAQE/N7GRyq1MzPc/s320/3.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Namun, senja di langit Pulau Garam ini tak bagus. Sunset-nya kurang ciamik kali ini. Ah, sudahlah, tidak apa-apa, yang penting aku sudah ke Madura. Dan jembatan ini telah memberiku sebuah ilham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Makam W.R. Supratman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai lagi di Surabaya, di Jalan Kenjeran, aku melihat sebuah tulisan di tepi jalan: makam W.R. Supratman. Aku pernah melihat makam ini ketika ke Kenjeran beberapa bulan lalu. Waktu itu aku ingin sekali ke sini. Nah, kesempatan itu tiba!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria di pinggir jalan memberitahu bahwa juru kunci makam ini ada di belakang makam. Rumahnya kutuju, lalu aku pun diantarnya masuk ke dalam makam. Di makam ini, ada tiga bangunan yang penting: makam itu sendiri, patung W.R. Supratman yang sedang memainkan biola, dan monumen yang memuat sejarah singkat hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian di monumen yang membuat aku tertarik adalah kisah yang menyebutkan bahwa W.R. Supratman, selain sebagai musisi jazz yang berbakat di zamannya, juga pernah menjadi wartawan di surat kabar Kaoem Moeda. Wah, dia suka menulis juga ternyata. Bagian lain yang penting adalah cerita yang menyebutkan kalau lagu yang diciptakannya seringkali mengundang amukan orang Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari desas-desus yang menyatakan Indonesia Raya adalah lagu jiplakan, W.R. Supratman yang mati muda ini, dalam kisah hidupnya yang dituturkan dengan singkat di monumen batu di situ, bagiku adalah sosok yang imajinatif. Dan imajinasinya ia gunakan untuk sesuatu yang mewakili visi bangsa Indonesia ketika itu. Imajinasinya adalah imajinasi yang bervisi. Visi dalam imajinasinya merupakan representasi dan akumulasi hasrat hidup orang banyak: Indonesia merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya ia selalu dikenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/StsQ7IRDHaI/AAAAAAAAAQM/7d5fl8nZRHk/s1600-h/5.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393923586723618210" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 256px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/StsQ7IRDHaI/AAAAAAAAAQM/7d5fl8nZRHk/s320/5.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika dia meninggal di usia muda, Indonesia belum merdeka; baru 7 tahun setelah itu. Namun, sebelum meninggal ia berkata: "Saya toh sudah beramal, berjuang dengan caraku, berjuang dengan biolaku. Saya yakin Indonesia pasti merdeka." Akhirnya, pejuang yang menyatakan diri berjuang dengan biolanya itu, kini pun memiliki makam yang agak unik: ruang untuk menabur bunga di makamnya dibentuk mirip biola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah malam. Sudah hampir jam delapan. Aku pulang ke Sidoarjo, dan menuliskan kisah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menuliskannya, aku berpikir: Mungkin, di akhir-minggu lainnya, aku ingin membuat catatan seperti ini lagi. Mungkin sebulan sekali atau dua kali. Rasanya, di sekitarku masih banyak tempat yang menarik untuk ditulis. Ada museum, panti asuhan, candi, dan tempat-tempat lainnya -- tempat-tempat yang dapat melahirkan refleksi yang indah dan wajar, tidak perlu mengada-ada. Sayangnya, banyak orang hanya bersemangat menuliskan cerita liburannya ke Eropa, daripada menceritakan kunjungannya ke candi atau museum yang ada di dekat rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arthur Rimbaud, penyair dan petualang itu pernah bilang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Perlu ada upaya melihat,&lt;br /&gt;upaya melihat dengan menjungkirbalikkan segala makna yang sudah ada,&lt;br /&gt;untuk sampai pada yang tak dikenal,&lt;br /&gt;hidup sejati yang berada di tempat lain...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan selalu ada "tempat lain" untuk memaknai hidup. Ya, kadangkala, tempat itu dekat kok dengan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sidoarjo, 17-18 Oktober 2009&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-6111473679987667135?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/6111473679987667135/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=6111473679987667135' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/6111473679987667135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/6111473679987667135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/10/suramadu-wr-supratman-dan-refleksi.html' title='Suramadu, W.R. Supratman, dan Refleksi Romantika dan Imajinasi'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/StsQT8K9xdI/AAAAAAAAAP8/xV3xs_aPn7c/s72-c/4.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-6479526678631197865</id><published>2009-10-16T06:54:00.003+07:00</published><updated>2009-10-17T15:01:39.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Apa yang Perlu Dipermasalahkan?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Ste3RVosjsI/AAAAAAAAAPs/zwdO7ZNYMhk/s1600-h/robinson+crusoe.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 158px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Ste3RVosjsI/AAAAAAAAAPs/zwdO7ZNYMhk/s320/robinson+crusoe.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392980587292954306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;"TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya." (Mazmur 34:19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazmur 30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daniel Defoe disebut-sebut sebagai novelis yang mewakili zamannya ketika menuliskan Robinson Crusoe. Robinson, tokoh utama dalam novel itu adalah seorang pria berprinsip kuat, petualang sejati, dan berapi-api. Karakternya yang kuat itu tercipta akibat sebuah titik balik dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terdampar di sebuah pulau suatu waktu setelah kapalnya meledak. Ia tak punya banyak barang lagi. Tak berdaya. Suatu pagi ia membuka Alkitab dan menemukan ayat: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membacanya, ia merenung: "Jika Allah tidak meninggalkan saya... apa yang perlu dipermasalahkan, meski seluruh dunia meninggalkan saya...?" Ia melanjutkan renungannya dengan suatu tindakan: dia menyukuri apa yang dia hadapi. Dia melanjutkan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita berada pada suatu masa ketika kita merasa bagai terdampar di sebuah pulau keterasingan? Kala itu semua terasa muram, tak ada lagi yang peduli akan apa yang kita temui dan perubahan nasib kita. Saat itulah sebenarnya kita perlu menyadari adanya sebuah penyertaan abadi yang tak pernah surut adanya: penyertaan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup penuh ketidakpastian yang tak bisa dihindari siapa pun. Ketika pada akhirnya pengharapan kita yang sudah disatukan dengan kebulatan tekad untuk berjuang, dipadu pula dengan segenap upaya yang gigih menembus sebuah tantangan serasa tetap menemukan jalan buntu, maka kita berhak akan adanya wujud nyata dari penyertaan Tuhan yang abadi itu: sebuah mukjizat. (~s.n~)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kegigihan, pada akhirnya akan tetap lebih dikenang daripada keengganan, walau kita tidak men.dapatkan apa yang kita harapkan."&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8187093974291492292-6479526678631197865?l=tuanmalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tuanmalam.blogspot.com/feeds/6479526678631197865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8187093974291492292&amp;postID=6479526678631197865' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/6479526678631197865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8187093974291492292/posts/default/6479526678631197865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tuanmalam.blogspot.com/2009/10/apa-yang-perlu-dipermasalahkan.html' title='Apa yang Perlu Dipermasalahkan?'/><author><name>Sidik Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02264997734145140257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/SWyY3zHDGQI/AAAAAAAAAD4/PZCitKD-8Ms/S220/becak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/Ste3RVosjsI/AAAAAAAAAPs/zwdO7ZNYMhk/s72-c/robinson+crusoe.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8187093974291492292.post-2857904643628137633</id><published>2009-10-13T19:43:00.001+07:00</published><updated>2009-10-13T19:45:56.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Hidup ini Seperti Novel</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/StR2QrC6FlI/AAAAAAAAAPk/02hryhu4wEU/s1600-h/asa.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392064682674230866" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 222px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_BzCEKmPq8EE/StR2QrC6FlI/AAAAAAAAAPk/02hryhu4wEU/s320/asa.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Pria muda yang baru saja berusia 17 tahun itu hampir berha
