12.3.10

Upaya Memaknai Tuhan

"Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri." (Keluaran 6:2)

Upaya memaknai Tuhan selalu saja ada dari masa ke masa. Bahkan kini, saat ruang bagi publikasi suatu karya lebih mudah dilakukan karena tersedianya berbagai blog atau situs jaringan-pertemanan sosial, saya menemukan banyak sekali puisi bertema Tuhan yang ditulis para penyair muda.

Ada yang menuliskan telah membunuh Tuhan, ada yang menyamakan Tuhan dengan sebuah benda. Ada juga yang tetap mengagungkan Tuhan sebagai sosok yang agung dan suci. Semuanya ini membuat saya berpikir: Kita mengenal Tuhan sebagai siapa? Atau justru sebagai apa?

Suatu ketika saya menemukan sebuah buku yang baik untuk menjadi pendamping pembacaan Taurat karya Nico Ter Linden, seorang penulis asal Belanda. Ia menyatakan pendapatnya yang relevan dengan apa yang saya pikirkan: "Pada dasarnya, Allah itu sungguh berbeda dari apa yang mereka khayalkan tentang Dia. Sekalipun demikian, dalam tiap keterbukaannya mereka percaya, bahwa suatu saat, bila mereka bertatapan muka dengan muka di balik tirai itu, akan nyata segala pemikiran, impian, dan khayalan mereka akan memberikan kehangatan."

Apa yang Nico tulis merupakan suatu penjabaran atas penulisan kitab Kejadian, kitab paling depan dalam iman Nasrani yang menjelaskan paling awal jati-diri Allah. Kiranya apa yang ia sampaikan itu menjadi pegangan untuk tak sembarangan memaknai Tuhan, mengingat bahwa Ia memang pantas diagungkan. Di zaman ini, saat materi dan kekuasaan dipuja-puja, orang dapat dengan mudah dan keliru -- bukan dengan hati yang terbuka -- memberi makna atas sesuatu yang tak kelihatan. (~s.n~)

Segala ucapan tentang yang di atas, dari bawah juga asalnya, itulah kenyataannya. (H.M. Kuitert)