31.12.08

"He was My Father"

Nonton lagi: Road to Perdition
Director: Sam Mendes
Release: 2002
Actors:
Tom Hanks: Michael Sullivan
Paul Newman: John Rooney
Daniel Craig: Connor Rooney
Jude Law: Harlem Maguire
Info on IMDb

This was the story about mafia. Everyone could have many interpretations about their life. The life maybe good for someone, or bad for another one. So, that was making the film started by these words, "There are many stories about Michael Sullivan" (Tom Hanks). His son has the same name. The story tells by the son.

Michael Sullivan has two boys, Michael and Peter. Michael is the older one, an ugly boy; Peter is a good and diligent one. Sometime Peter asked to Michael what are the jobs of his father. Michael doesn't know correctly what to say. He just explains that his father do the job from John Rooney (Paul Newman), the boss of mafia. The question makes him want to know what is the truly job of his father.

The conflict began at the funeral of Denny Mc Govern. His brother, Finn McGovern, after his speech, says statement that was making John Rooney angry. His statement look like reveals that John Rooney was the killer of his brother. To make this problem clear, John Rooney sent Connor Rooney (Daniel Craig), his son and Michael. Connor Rooney make a mistake: he kills Finn. He shouldn't do that because his father wants to keep Finn as friend.

There's one thing makes Connor Rooney jealous to Michael. It looks at the moment when Michael Sullivan and John Rooney playing piano together. The notes are simple and serene. This flick show that they were has a good relationship, like father and son. The relationship doesn't belong between John and Connor. It makes Connor want to kill Michael sometime, using his friend's help. Connor kills Michael's wife and Peter himself.

Michael Sullivan and his son, escaped from the plan of Connor to kill them. They go to Perdition. The road to Perdition became a great story for Michael Sullivan, Jr. Finally, he knows exactly what are his father jobs. One of them was rob the bank. He likes that.

Connor sent Harlem Maguire (Jude Law), a photographer to kill Michael. Jude Law has a good performance in this character. He plays a killer who has another job as a photographer. Before or while someone he kills going to die, he took a picture and published it on press.

The road to Perdition by this father and son shows us to understand about father-son relationship. They became closer. The son knows the father deeply than before. The other important message by this movie is vengeance. I remember what Hattori Hanzo said in Kill Bill (Volume 1): "Revenge is never a straight line. It's a forest, and like a forest it's easy to lose your way... To get lost... To forget where you came in." This was happen to Michael Sullivan.

Everyone have a memory about someone. Sullivan, Jr. has his own memory about his father. After his father death, people still asking what his opinion about his father. The life of Michael Sullivan maybe good for someone or bad for another one. But, Sullivan Jr. has one only answer: "He was my father." (~s.n~)

Sebelum Nisanmu Tertancap

: puisi tahun baru

sebelum nisanmu tertancap,
sudah kau perjuangkankah harap?
menjadi pribadi yang tak lemah semangat,
ketika hidup dan nyawa lambatlaun didekati karat?

sebelum nisanmu tertancap,
adakah hati yang selalu siap,
menjadikan impianmu bukan sekedar gembargembor,
tapi terus bersemayam di dada walau kau tak tersohor?

sebelum nisanmu tertancap,
sudah kauampunikah mereka yang silap,
yang kerap membuat dirimu jadi tak berdaya,
akibat dusta, maki, fitnah dan cela yang menusuk jiwa?

sebelum nisanmu tertancap,
pernahkah kemulianNya kautangkap?
kausimpankah di hatimu janjiNya dan perintahNya?
hingga kelak kau dapat yakin kembali dalam pelukanNya?

semarang-malang, 2008

26.12.08

Jumpa Penulis dan Bedah Buku

Mari datang beramai-ramai...

Acara jumpa penulis dan bedah buku teenlit Warrior - Sepatu untuk Sahabat karya Arie Saptaji. Sebuah teenlit yang lain daripada yang lain, yang mengangkat unsur budaya Jawa di dalamnya, seperti komentar berikut:
"Akhirnya ada juga teenlit yang berlatar belakang budaya Indonesia... yang saya beri label BRILIYAN."
(Sitta Karina, Penulis)

Perpustakaan Kota Malang
Minggu, 28 Desember 200811.00 s.d. selesai

Jangan lupa ya...Dijamin pasti seru dan asyik!

Dengarkan juga bedah buku ini di Mas FM
Sabtu, 27 Desember, 11.00-12.00

Diselenggarakan atas kerjasama:
Perpustakaan Kota Malang, Radio Mas FM, dan Forum Penulis Kota Malang (FPKM)

Persahabatan yang Terkoyak, Pengabdian yang Terkenang

Judul: The Kiterunner
Sutradara: Marc Forster
Skenario: David Benioff
Dari novel karya Khaled Hosseini
Aktor: Khalid Abdalla, Atossa Leoni, Shaun Toub, Homayoun Ershadi

Amir seorang anak pendiam yang tidak suka membela diri. Seorang pengalah, pemurung dan suka menulis cerita. Ayahnya, seorang yang berseberangan sikap dengannya, berkata tentangnya, “Seorang anak yang tidak membela dirinya sendiri, akan menjadi seorang pria yang tak membela apa pun.”

Beda dengan Hassan, sahabatnya. Hassan orang Hazara yang memiliki konflik dengan Afganistan. Orang Hazara, dalam film ini, menjadi budak bagi orang-orang Afganistan. Orang Hazara dianggap rendah oleh orang-orang Afganistan. Nah, Hassan dan ayahnya, sebenarnya budak Amir, tapi Hassan dan Amir berteman akrab bukan sebagai tuan dan budak. Ketika Hassan ulang tahun, Amir membacakan cerita untuknya. Mereka berdua suka sekali menonton film. The Magnificient Seven, yang dibintangi Charles Bronson, mereka tonton berulang-ulang.

Adegan yang indah terjadi setelah hari ulang tahun Hassan. Saat ulang tahun ia dibelikan ayah Amir sebuah layang-layang baru. Untuk layang-layang itu Hassan membuat benang gelasan bersama Amir.

Nah, layang-layang hadiah ulang tahun itu kemudian diterbangkan pada suatu turnamen layang-layang di musim dingin yang cerah di Kabul, Afganistan. Banyak layang-layang terbang di angkasa, salah satunya layang-layang Amir dan Hassan. Di saat ini adegan tertata apik nian. Hembusan angin yang tersuara saat layang-layang membelah udara, suara riuh-rendah sorak-sorai para penduduk yang menyaksikan layang-layang, dipadu dengan alunan musik yang rancak, membuat penonton pasti akan asyik mengikuti adegan turnamen ini.

Amir menerbangkan dan mengendalikan layang-layangnya, Hassan yang menjadi penggulung benangnya. Hassan yang sebenarnya lebih mahir, kali ini mengajari Amir mengadu layang-layang. Dua sahabat ini memutuskan benang empat layang-layang musuh. Musuh terakhir mereka, layang-layang milik Omar, telah menjadi pemenang atas dua belas layang-layang lainnya. Sorak sorai membahana menyambut kemenangan Hassan dan Amir.

Namun sayang, adegan berikutnya justru menyedihkan. Layang-layang Omar, yang dikejar oleh Hassan untuk diberikannya ke Amir hampir dirampas oleh tiga anak muda jahat. Ketiga anak muda ini membenci Hassan karena dia adalah orang Hazara; bahkan seseorang dari mereka, Assef namanya, menyodominya.

Kejadian sodomi itu disaksikan Amir; tapi ia hanya diam. Ia tidak melakukan apa pun untuk sahabatnya. Dari sinilah persahabatan yang mulai terbina indah mulai terkoyak. Amir sering menyalahkan dirinya, Hassan terpukul dengan kejadian itu. Keduanya jadi tak banyak bicara.

Kabul, Afganistan, telah dikuasai komunis Rusia. Ketika tentara-tentara Rusia mulai masuk ke Kabul, Amir dan ayahnya melarikan diri ke Amerika.

Tahun-tahun berlalu, Amir kemudian jadi seorang penulis sukses. Ia tinggal di Michigan, punya seorang istri yang cantik, anak mantan seorang jendral di Afganistan. Namun, berbarengan dengan tur bukunya, sebuah peristiwa dalam keluarganya menanti untuk diselesaikan. Hassan dan istrinya terbunuh, dan ia harus kembali ke Kabul, Afganistan, untuk menjemput Sohrab, anak Hassan yang jadi yatim-piatu.

Perjalanan pulang ke Kabul inilah yang akhirnya menelanjangi ketakutan-ketakutan yang selalu ada di benak Amir sejak kecil. Dari sini pula kebenaran-kebenaran penting tentang keluarganya, persahabatan dan kasih sayang mulai termaknai lebih jelas bagi dirinya.

Film yang amat menggugah solidaritas dan rasa kekeluargaan ini sangat baik tergarap di bagian awal dan akhir. Hanya, di bagian tengah, utamanya pada masa-masa setelah pernikahan Amir hingga kematian ayahnya, adegan-adegan serasa datar. Untunglah, konflik yang dibangun pada saat Amir berjuang menemukan Sohrab, kemudian membangkitkan minat menonton lagi. Kita akan terpesona dengan sebuah adegan saat Amir dengan amat khusyuk sedang sholat di sebuah masjid yang berkarpet indah.

Walaupun Hassan tak tampil sepanjang cerita, tapi ini sebenarnya film tentang Hassan. Hassan yang berani pada musuh-musuh Amir di masa kecil, setia mengabdi bersama ayahnya kepada keluarga Amir, pun selalu menjadi teman setia bagi Amir. Persahabatan mereka berdua sempat terkoyak, namun setelah kematian Hassan, Amir membenahinya dengan caranya. Persahabatan dan pengabdian, mirip benar keduanya, menyatu dalam diri seorang anak kecil yang wajahnya selalu tampil melas dan polos, Hassan. Dan, pada akhirnya, pengabdian-pengabdian Hassan-lah yang menyelamatkan Amir dari belenggu intimidasi di masa lalu.*** (~s.n~)

23.12.08

Cinta di Mata Seorang Pelacur

cinta adalah kentut busuk yang diterbangkan angin
baunya najis, membuat kau jadi ingin muntah
kala itu hasrat-gejolak hanya berisi paduan nafsu dan ingin
yang terbungkus dalam kata-kata asmara yang pongah

cinta adalah nafsu serakah nan buas-beringas
manusia jadi diledakkan oleh gairah yang panas
ia tak lagi kenal kasih sayang dan perhatian
yang ia inginkan semata-mata persetubuhan

cinta terserak-serak di sana-sini, di mana-mana
ia diucapkan, dihambarkan waktu, lalu menghilang
ia wujud derita-sengsara manusia yang hatinya luka
ia mencari gelap pada kisar terang-benderang

cinta membuat manusia yang memilikinya bagai babi
seruduk sana-sini tanpa hitung-hitung harga diri
dia yang mengaku mencinta penuh tipu daya dan manja
lalu rupanya tampak bagai seonggok sampah dicampur tinja

sidik nugroho, 2005-2008

19.12.08

Usia atau Bertanggung Jawab?

Life begins at forty. "Ah, yang benar saja!" Jawaban ini mungkin diberikan oleh sederetan tokoh berikut:

Isaac Newton. Ia memperkenalkan hukum gravitasi pada saat berusia 24 tahun.

Victor Hugo. Ia menulis kisah tragedi pertamanya saat berusia 15 tahun.

Blaise Pascal. Ia menulis semua karya besarnya antara umur 16 hingga 37 tahun.

Johannes Calvin. Ia bergabung dengan gerakan Reformasi saat berusia 21 tahun dan menulis karyanya yang terkenal, Instituo, saat berusia 27 tahun.

Charles Dickens. Ia terkenal sebagai salah satu penulis fiksi yang hebat; menuliskan novelnya Oliver Twist yang terkenal pada saat berusia 25 tahun.

Raphael melukis karya-karya besarnya hingga ia meninggal di usia 37 tahun.

Life begins at forty dijadikan semboyan hidup, mungkin salah satunya karena secara psikologis, usia empat puluh dianggap tolok ukur kedewasaan. Namun, kedewasaan dapat pula ditafsirkan dengan menilik sisi lain. Kedewasaan bukan hanya diukur dengan jumlah usia, tapi hidup yang bertanggung jawab.

Paling tidak, sederetan tokoh yang disebut di atas bisa dibilang bertanggung jawab atas talenta yang Tuhan berikan kepada mereka. Mereka tahu bahwa dengan semua yang sudah mereka miliki, mereka tak bisa tinggal diam. Mereka melakukan sesuatu, mereka berjuang untuk mendapatkan yang terbaik.

Nah, sudahkah Anda bersyukur, dan memberdayakan segenap yang Anda miliki saat ini dengan baik? Baik yang berusia sebelum 40, pas 40 atau 40 lebih, marilah kita semua bertanggung jawab untuk mengembangkan diri kita sebaik mungkin! (~s.n~)

6.12.08

Cincin yang Dibuang ke Laut

Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina. (Kidung Agung 8:7)

Seorang ibu berkisah kepada saya sebuah kisah cinta yang muram dan pilu. Seorang wanita, sebutlah namanya In, suatu ketika jatuh hati dengan seorang pelaut, sebutlah namanya Sam. Beberapa waktu berselang, cinta In ditanggapi Sam.

Janji terucap dari bibir Sam bahwa suatu saat ia akan kembali, hidup bersama dengan In. Mungkin, seperti sebuah lagu yang digubah Yovie Widianto, "Walau ke ujung dunia, pasti ku kan menunggu, meski ke tujuh samudra, pasti ku kan menanti," In menanti Sam. Dan sebagai bukti cinta, Sam memberikan sebuah cincin kepada In.

In mengelus-elus cincin itu setiap kali mengingat Sam. Namun sayang, di suatu hari ketika kapal Sam melabuh, In yang kangen padanya amat kaget ketika melihat Sam, di kamarnya sedang bermesraan dengan wanita lain. Tanpa banyak kata-kata, In keluar dari kapal, melepas cincinnya, dan membuangnya ke laut. Cinta In pupus, seperti cincin yang tenggelam di dasar laut. Apa yang terjadi dalam kehidupan In selanjutnya? Ia menjadi wanita penghibur di hotel-hotel besar, di beberapa kota di Kalimantan Barat.

Dari kisah nyata ini, dua pelajaran dapat kita petik. Pertama, dari Sam, janji manusia kadangkala tak selalu ditepati. Karenanya, jangan terlalu banyak berharap, selain jangan mudah berjanji. Kedua, dari In, kesedihan akibat dikhianati oleh seseorang tak sepantasnya membuat hidup kita berantakan -- menjadi tanpa harga. Selama kita masih bernafas, kita harus belajar tabah, karena orang dan keadaan selalu punya peluang untuk memahitkan hati kita. (~s.n~)

Ketidakhadiran ibarat angin bagi cinta. Ia mematikan cinta yang kecil, tetapi mengobarkan cinta yang besar. (Francois de la Rochefoucauld)

4.12.08

Awal Mula

Apa yang hendak kautulis, Tuan Malam? Kau punya apa kali ini?

Malam, bagiku adalah teman. Tuan Malam bukan penguasa malam. Aku melewati malam, dipanggil makhluk-makhluk malam sebagai "Tuan". Kadang cukup risih dipanggil Tuan, namun makhluk-makhluk malam sudah terlanjur terbiasa mengucap-ucapnya.

Angin malam menghembuskan nama Tuan Malam ke segenap penjuru. Diam-diam, makhluk-makhluk malam kian bertambah, malam demi malam, mendatangi Tuan Malam di atas atap sebuah istana yang hampir roboh, yang dulunya ditinggali raja-raja ternama.

Mereka datang padaku, berkumpul tiap malam. Dalam sebuah perkumpulan yang hening, selalu saja, akhirnya mereka berkata:

"Malam ini, berceritalah kepada kami, ya Tuan Malam. Berceritalah lagi."

Apa yang hendak kauceritakan, Tuan Malam? Kau punya cerita apa kali ini?